IMG-LOGO
Puisi

Sepakbola

Ahad 29 Oktober 2017 13:0 WIB
Bagikan:
Sepakbola
Oleh Acep Zamzam Noor

Di usianya yang ke-45, lelaki itu menuliskan sejumlah kata
Pada secarik kertas, yang tergantung bimbang
Di rangkaian kembang. “Aku merindukanmu
Seperti merindukan Inne Ratu, dulu
Ketika seluruh langit masih biru"

Saat itu hampir senja, keloneng becak di simpang tiga
Lampu redup sekitar pos ronda, dan sebuah beringin tua
Runtuh di halaman TK. Lelaki itu memandang ke mulut gang
Ke deretan rumah dan madrasah, hingga sebuah kelokan
Yang telah menyembunyikan seseorang

Di usianya yang ke-45, kata-kata yang pernah dirangkainya
Terus bergema di rongga dada, memukul-mukul iga
Di antara batuk dan asma. “Aku mencintaimu
Seperti mencintai Inne Ratu, dulu
Ketika merasa tak ada masalah dengan waktu”

Waktu adalah gelanggang olahraga, nampaknya:
Banyak lapangan, banyak permainan, tapi selalu berujung
Pada kalah dan menang. Kemudian lelaki itu berjalan, sendiri
Ke arah stadion, melewati jalan yang remang
Ia bermain sepakbola melawan sepi

Bagikan:
Ahad 15 Oktober 2017 12:1 WIB
Pak Mahbub Djunaidi itu ...
Pak Mahbub Djunaidi itu ...
Oleh Beben Jazz

Jazzer dalam politik
Jazzer dalam organisasi
Jazzer dalam menulis
Jazzer dalam kehidupan
Jazzer dalam spiritual
namun sebagai manusia, beliau humanis, realistis, penuh kasih sayang, humoris

Punya visi jauh ke depan, selalu bisa melihat sesuatu yang orang lain tidak liat

Berani mengemukakan pendapat, kendati berbeda dengan penguasa

Punya pendirian kuat, dan berani ambil sikap atas
pendiriannya Tersebut.

Almarhum mahbub djunaidi, 
Manusia jazz yang otentik, tak tergantikan, pecinta seni. 
Menjalani hidup sesuai karakter dirinya yang khas.

Penulis adalah musisi jazz, menggawangi Komunitas Jazz Kemayoran (KJK)

Sabtu 14 Oktober 2017 12:0 WIB
Maafkan Kami Rohingya
Maafkan Kami Rohingya
Oleh HM. Nasruddin Anshoriy Ch 

Jika puisi ini hanya mampu menjeritkan luka

Seperti fosil purba
Kujadikan prasasti semua kekecewaan ini atas namamu
Saat detak arloji hanya menambah kelu jiwaku 
Ketika lembar kalender begitu cepat berlalu 
Hanya doa-doa renta yang kukirimkan padamu

Matinya kemanusiaan 
Genosida yang merayakan pesta
Menjadi desing dan hujan peluru di rongga dadaku 
Rohingya telah menjeritkan ajalnya 
Tanpa kain kafan dan tanpa pusara

Maafkan kami Rohingya 
Jika doa berkarat ini hanya tercekat di tenggorokan saja

Bukankah cinta dan kemesraan akan menaburkan kilau cahaya?

Kubungkus tragedi kemanusiaan ini dengan kata-kata dan fatwa yang telah mampus

Sebab wajah Rohingya telah begitu penuh dengan sayatan luka
Dan dunia hanya bisa diam atau tertawa dengan luka-lukamu ini

Maafkan kami Rohingya 

2017 


Doa untuk Pengungsi Rohingya 

Dengan terus menyebut 99 nama indahMu
Dengan selalu memuji dan memuja keagunganMu
Hari ini kuhaturkan haru-biru dalam doaku

Tuhanku
Mata batinku berkaca-kaca menyaksikan petaka ini
Nestapa saudaraku bangsa Rohingya yang terusir atau diusir dari negerinya
Menjadi pengungsi untuk menghindari perang dan kezaliman
Meninggalkan tanah airnya untuk mencari suaka dan rasa damai

Rohingya adalah manusia
Tapi kedurjanaan telah merendahkan martabatnya
Diburu dengan desing peluru
Dianiaya dengan segala jenis senjata

Tuhanku 
Hari ini telah kusaksikan kemanusiaan yang dihinakan
Kemanusiaan yang dikremus atas nama kekejian
Justru oleh manusia sebangsa dan setanah airnya

Dunia sudah seharusnya terjaga dari teror dan horor memilukan ini
Umat manusia dimana pun berada harus terusik dengan ulah tangan-tangan kotor ini
Saat rasa kemanusiaan telah dinistakan
Mimpi buruk harus diakhiri

Tuhanku 
Lidahku kelu mengucap salam dan rindu
Terapung di kelopak mataku nasib para pengungsi Rohingya itu
Perempuan renta dan bayi tanpa dosa
Harus tersapu badai saat berlari dari negerinya

Bukankah agama tidak mengajarkan kekerasan dan tipu-daya?
Bukankah agama hanya mengajarkan kebajikan dan kasih-sayang pada sesama walau berbeda etnis dan agamanya?

Kucium daging terbakar dari negeri Myanmar 
Kemanusiaan yang memar oleh agama yang ingkar
Kenapa api kesumat dan nyala dendam harus berkobar?

Takbirku membiru di pucuk lidahku
Takbirku membiru dalam dadaku
Meratapi kedegilan dan kegilaan ini
Myanmar terus mencakari nalar dan getar keimananku

Tuhanku 
Tancapkan kuku keadilanMu
Mekarkan wangi bunga pada bumi Myanmar 
Taburkan biji tasbih dan kedamaian pada bangsa Rohingya 
Rasa damai dan kemerdekaan yang sejatinya
Amin

2017

Penulis biasa dipanggil Gus Nas mulai menulis puisi sejak masih SMP pada tahun 1979. Tahun 1983, puisinya yang mengritik Orde Baru sempat membuat heboh Indonesia dan melibatkan Emha Ainun Nadjib, HB. Jassin, Mochtar Lubis, WS. Rendra dan Sapardi Djoko Damono menulis komentarnya di berbagai koran nasional. Tahun 1984 mendirikan Lingkaran Sastra Pesantren dan Teater Sakral di Pesantren Tebuireng, Jombang. Pada tahun itu pula tulisannya berupa puisi, esai dan kolom mulai menghiasi halaman berbagai koran dan majalah nasional, seperti Horison, Prisma, Kompas, Sinar Harapan dll.

Tahun 1987 menjadi Pembicara di Forum Puisi Indonesia di TIM dan Pembicara di Third’s South East Asian Writers Conference di National University of Singapore. Tahun 1991 puisinya berjudul Midnight Man terpilih sebagai puisi terbaik dalam New Voice of Asia dan dimuat di Majalah Solidarity, Philippines. Tahun 1995 meraih penghargaan sebagai penulis puisi terbaik versi pemirsa dalam rangka 50 Tahun Indonesia Merdeka yang diselenggarakan oleh ANTV dan Harian Republika.

Menulis sejumlah buku, antara lain berjudul Berjuang Dari Pinggir (LP3ES Jakarta), Kearifan Lingkungan Budaya Jawa (Obor Indonesia), Strategi Kebudayaan (Unibraw Press Malang), Bangsa Gagal (LKiS). Pernah menjadi peneliti sosial-budaya di LP3ES, P3M, dan peneliti lepas di LIPI. Menjadi konsultan manajemen. Menjadi Produser sejumlah film bersama Deddy Mizwar.

Sejak tahun 2004 memilih tinggal di puncak gunung yang dikepung oleh hutan jati di kawasan Pegunungan Sewu di Selatan makam Raja-Raja Jawa di Imogiri sebagai Pengasuh Pesan Trend Budaya Ilmu Giri. Tahun 2008 menggagas dan mendeklarasikan berdirinya Desa Kebangsaan di kawasan Pegunungan Sewu bersama sejumlah tokoh nasional. Tahun 2013 menjadi Pembicara Kunci pada World Culture Forum yang diselenggarakan Kemendikbud dan UNESCO di Bali.

 

Jumat 1 September 2017 3:30 WIB
Puisi Gus Mus: Di Arafah
Puisi Gus Mus: Di Arafah
KH Ahmad Mustofa Bisri.
Di Arafah

Terlentang aku seenaknya dalam pelukan bukit-bukit batu bertenda langit biru

Seorang anak, entah berkebangsaan apa mengikuti arah mataku 

Dan dalam isyarat bertanya-tanya
Kapan Tuhan turun?

Aku tersenyum
Setan mengira dapat mengendarai matahari
Mengusik khusukku

Apa tak melihat ratusan ribu hati yang putih menggetarkan bibir, melepas dzikir

Menjagaku jutaan miliar malaikat menyiramkan berkat
Kulihat diriku terapung-apung dalam nikmat

Dan sang anak, entah berkebangsaan apa
Seperti melihat arak-arakan karnaval
Menari-nari dengan riangnya

Terlentang aku, satu di antara tumpukan debu dosa
Yang mencoba menindih 

Akankah kiranya bertahan dari banjir air mata penyesalan missal ini

Gunung-gunung batu, menirukan tasbih kami
Pasir-pasir menghitung wirid kami

Dan si anak, yang aku tak tahu berkebangsaan apa tertidur di pangkuanku
Pulas sekali

Arafah, 1415 H
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG