IMG-LOGO
Wawancara

Standar Penyelenggaraan dan Kualitas Liga Santri Meningkat

Sabtu 28 Oktober 2017 19:1 WIB
Bagikan:
Standar Penyelenggaraan dan Kualitas Liga Santri Meningkat
Seri Nasional atau putaran final Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 hanya menyisakan partai puncak atau Grand Final yang akan berslangsung di Gerlora Bandung Lautan Api (GBLA) kota Bandung, pada Ahad (29/10. Kedua tim yang lolos adalah Darul Huda (Jawa Timur) dan Darul Hikmah (Jawa Barat).

LSN tahun ini diikuti sekitar 22 ribu santri dari seluruh Indonesia. Mereka berasal dari 1046 pesantren. Dari tahun ke tahun, sejak liga kaum sarungan ini pertama bergulir, pada 2015, dari sisi keiikutsertaan, terus meningkat. Bahkan di beberapa daerah yang memiliki pesantren melimpah, sampai harus membuat sub regional.

Untuk mengetahui bagaimana penyelenggaraan LSN 2017 ini, Abdullah Alawi dan Ahmad Makki berhasil mewawancarai Direktur Pertandingan dan Kompetisi LSN M. Kusnaeni. Berikut petikannya: 

Bagaimana gambaran Liga Santri Nusantara tahun ini?

Dari sisi kompetisinya, tahun ini persaingannya lebih ketat, tim lebih serius mempersiapkan diri. Kesenjangan kualitas itu terlihat lebih tipis. Banyak pertandingan yang hasilnya seimbang. Beda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana tim-tim dari Jawa jauh dominan. Kalau sekarang kita lihat pertandingan-pertandingannya tipis. Ada yang memang menang besar karena memang timnya dari Kalimantan ini relatif baru, sepertinya kaget, wah kok persaingannya bagus-bagus. Itu yang pertama, persaingan lebih ketat. 

Kedua, standar-standar penyelenggaraan lebih baik. Tidak ada pertandingan yang terpaksa harus pakai rompi misalnya. Tim sudah siap dengan seragamnya, lebih siap dengan persiapan timnya, kaos kakinya udah kelihatan rapi, ada beberapa tim yang sudah menggunakan sponsor. Itu artinya dari segi penyelenggaraan pertandingan sudah menunjukkan kesiapan tim-tim peserta mengikuti seri nasional. Mungkin dari sisi screening juga kami perketat tahun ini. Harus diakui ada beberapa tim yang harus dicoret pemainnya karena memperketat screeningnya itu. Mungkin bisa jadi pembelajaran bagi tim-tim tiap tahun mereka harus siap ke seri nasional dengan screening yang ketat.

Karena apa itu? 

Ada yang secara formal tidak memenuhi syarat sebagai Liga Santri, misalnya dari segi batasan usia, kelengkapan dokumen.

Kelengkapan dokumen itu bagaimana?

Kan harus membuktikan mana kartu santrinya, mana ijazahnya, mana akta kelahirannya, mana kartu keluarganya. Kalau itu semua tidak bisa dilengkapi, terpaksa kami coret, atau data-data yang konsisten, kalau yang satu A, yang lain B, bagi kami meragukan, labih baik kami meninggalkan yang meragukan, begitu kan filosofinya, kami lakukan dalam upaya untuk memperketat peserta Seri Nasional. 

Tapi mungkin untuk secara keseluruhannya kami masih belum puas tingkat pelaksanaan di daerah, terus terang saja. Standar-standar ingin diterapkan itu belum seluruhnya yang diimplementasikan di Seri Regional, banyak persolannya ya, dari mulai keterbatasan sumber daya finansial, prasarana lapangan di daerahnya, ada juga keterbatasan panitia pelaksana di daerah. 

Kalau persoalannya itu, kami berharap pengalaman Liga Santri tiga tahun, kami harapkan up grade, tapi kaau keterbatasannya dari segi sarana, kami mau bilang apa. Kami hanya menyarankan tahun depan cari tempat yang lebih baik, misalnya di Lampung kita masih sulit menemukan venue untukl Liga Santri. Kemarin kan terkahir kick off-nya masih bukan stadion, tapi di lapangan terbuka. 

Nah, persoalan itu merata enggak di setiap daerah?

Tidak. Hanya beberapa daerah seperti di Nusa Tenggara itu tidak semua daerah memilik stadion sehingga beberapa pertandingan di tingkat region itu digelar di lapangan yang belum standar liga Santri. Mudah-mudahan ke depan terus ditingkatkan. Panitia di daerah harus berkreasi, berimprovisasi dan meningkatkan komunikasi dengan stakeholder di daerah. Kemudian kami juga berharap di daerah juga lebih banyak lagi pesertanya. Tahun ini kan meningkat hampir dua kali lipat. 

Nah, tahun depan kami berharap di daerah-daerah yang sekarang belum memenuhi target peserta, tahun depan harus lebih baik lagi, seperti region Maluku, Papua. Region Maluku dan Papua itu harusnya kan digabung bisa 32, tapi faktanya belum juga. Ada lagi Region Sulawesi Tenggara yang dibuat satu Region sendiri dengan harapan peserta lebih banyak, ternyata malah tidak terlalu banyak, bahkan tidak masuk Seri Nasional. Ini akan menjadi bahan evaluasi tahun yang akan datang untuk penetapan region karena kami juga terus melihat perkembangan faktual di lapangan pembagian region itu bukan sesuatu yang mati, tapi berkembang, yang pasti kami berharap peserta dari Jawa ini makin berimbang dengan luar Jawa. Itu pendekatannya ke depan. 

Sejauh ini yang menjadi persoalan selain infrastruktur, apa juga kualitas pemain? 

Dua-duanya. 

Kualitas level pemain dan permainan jika dibandingkan dengan liga lain yang seusia bagaimana?

Kalau secara keseuluruhan usia segini kan dekat dengan usianya Liga Suratin, dekat dengan usianya liga U-19; ya memang terus terang sebagian tim ini masih cukup jauh. Secara keseluruhan tim ini kalau dibandingkan dengan tim Suratin, masih sedikit di bawah, makanya saya bilang, perkembangan dari tahun ke tahun progresnya ada, tapi belum maksimal, tapi kalau dibandingkan dengan tahun kemarin sudah jauh meningkat, yang penting buat kami kan bukan ada di mana saat ini, tapi apakah lebih baik dibanding tahun kemarin. 

Jadi, kami berusaha tidak melihat yang lain dulu. Kami progres aja dulu kualitasnya. Pada suatu titik nanti, sesudah kelima, keenem, ketujuh, level pesertanya, pemainnya sudah bisa mendekati tim-tim mereka yang seusia, yang betul-betul merupakan pemain yang bermain di klub yang serius. 

Kalau klub pesantren ini kan bisa dibilang klub ekstrakulikuler, kegiatan di pondok, sebetulnya itu. Tapi itu ternyata berdampak positif karena dari sisi manfaat, adanya santri-santri yang gemar bermain bola, semangat persatuan di kalangan santri menjadi meningkat karena mereka kan pada akhirnya sama-sama hadir untuk mendukung timnya. Ada semangat kolektivitas yang terbentuk sebetulnya. Mungkin selama ini di pondok, kesempatan bertemu itu jarang momen-momen seperti ini, mungkin haul, tapi dengan adanya Liga Santri semangat kolektivitas mereka terbentuk, disatukan, itu saya pikir sangat positif dan k depannya, mudah-mudahan bukan sekadar semangat kolektivitasnya, tapi semangat untuk meningkatkan prestasi, kemampuannya.


Tags:
Bagikan:
Rabu 25 Oktober 2017 7:0 WIB
‘Hadrah Kiai’: Ulama Nusantara dalam Syair Kontemporer
‘Hadrah Kiai’: Ulama Nusantara dalam Syair Kontemporer
Perkembangan dunia sastra di pesantren kian hari semakin menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Kiprah santri dalam dunia sastra pun tak bisa dipandang remeh. Terbukti, menjelang peringatan Hari Santri Nasional 2017, sebuah buku puisi terbitan Ganding Pustaka Yogyakarta berjudul "Hadrah Kiai" karya Raedu Basha, seorang santri kelahiran Sumenep Madura, 3 Juni 1988, berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Buku Puisi Pilihan dalam Anugerah Hari Puisi Indonesia 2017 (HPI 2017).

Ajang penghargaan tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia pada Rabu, 4 Oktober 2017, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Kontributor NU Online berkesempatan melakukan wawancara singkat dengan Raedu Basha terkait buku puisinya dan prestasi yang telah diraihnya tersebut.

Bisa diceritakan secara singkat latar belakang anda khususnya awal mula anda berkenalan dengan dunia sastra atau puisi ini?

Saya suka sastra sejak kecil dan benar-benar menyukainya ketika nyantri di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Di pesantren yang diasuh almaghfurlah Kiai Ahmad Basyir Abdullah Sajjad ini iklim literasinya cukup kuat dan saya menempa diri dalam tradisi diskusi sastra dan membaca buku di luar teks pelajaran, ini tren saat saya nyantri dulu. Di Annuqayah, saya belajar menulis kepada Ra Faizi, Ra Zamiel, dan pada karya para senior Annuqayah, seperti Jamal D Rahman, Aryadi Mellas, M Idhavi F, Muhammad Al-Fayyadl, dan lain-lain. Tapi tak lepas dari tradisi keluarga saya sendiri juga mempengaruhi saya sampai sekarang, almarhum kakek dan almarhum ayah setiap hari meluangkan waktu untuk muthala’ah, menerjemah atau mengarang sampai akhir hayat.

Terkait buku Hadrah Kiai ini, seperti apa gambaran singkatnya?

Buku berisi puisi-puisi tematik kiai-kiai Nusantara. Puisi-puisi yang ada di Hadrah Kiai terdiri dari dua bagian, Hadrah Arwah dan Hadrah Hayah, terdiri dari puisi tentang atau untuk ulama lintas generasi, lintas mazhab bahkan lintas ormas baik yang sudah wafat maupun yang masih berjuang hingga hari ini. Secuil sudah ada di sinopsis bukunya dan beberapa endorser yang diunggah di internet.

Bentuk puisinya?

Gaya cerita atau gaya ucap yang berbeda-beda, kadang sedih, bahagia, haru, kadang pula lucu menggelitik, nyentrik. Ini terjadi karena puisi-puisi dalam Hadrah Kiai ditulis dengan sikon dan pendekatan yang berbeda-beda. Sebenarnya saya hendak mengonsepnya sebagai manakib, di mana tradisi manakib merupakan khazanah sastra pesantren yang mandeg, tapi saya kemudian menyadari siapa saya ini dibandingkan siapa pengarang Manakib al-Jailani, siapa pengarang Jami' Karamatil Auliya', dan sebagainya. Maqam spiritual mereka yang bikin saya gentar untuk menganggap manakib. Akhirnya saya kembali kepada posisi habitat saya sendiri, saya cuma etnografer secara akademik dan santri secara kultur. Sudah, itu saja.

Kalau tentang judulnya, mengapa "Hadrah"?

Kalau anda membaca etnografi dan mencari di mana munculnya musik hadrah, maka anda akan menemukan nama kampung bahkan nama desa saya. Jadi bagi orang kampung saya, hadrah bisa sangat luas maknanya karena telah mengalami banyak peristiwa dan pemaknaan. Hadrah bisa dimaknai sebagai bentuk menghadirkan sosok mulia dan dihormati, bisa sebagai genre musik dan alat musik, bisa sebagai tawasul misalnya ila hadratin bisa sebagai “ke hadirat” bahkan bisa sebagai sebuah ritus yang lain. hadrah karena sangat akrab dengan kehidupan saya sejak kecil. Kalau boleh cerita, kakek saya sendiri termasuk komponis lirik hadrah dan punya diwan syair hadrah, sanad beliau kepada Ahmad bin Ta’lab (Raja Hadrah Indonesia). Lalu mengapa saya milih judul hadrah? Sebab saya ingin meng-hadrah-kan para ulama Nusantara supaya generasi Islam pada khususnya tidak ahistoris dan publik luas bisa mengenal kiprah dan sejarah ke-Indonesia-an.

Untuk puisi-puisi dalam buku Hadrah Kiai ini sejak kapan mulai ditulis?

Mulanya saya menulis puisi bertema kiai pada 2006, ketika saya kelas 2 Madrasah Aliyah, tapi inisiatif untuk fokus pada topik ini sejak 2014, tepatnya pada saat proposal tesis saya yang bertopik kiai ditolak. Saya kemudian menumpahkannya ke puisi dan saya sangat menikmatinya sampai hari ini. Saya pun mencoba kirimkan ke media massa, perlombaan, dan alhamdulillah, keramat kiai itu benar-benar saya rasakan.

Bisa diceritakan juga bagaimana proses dan mengapa buku ini bisa meraih penghargaan Buku Pilihan HPI 2017?

Saya tahu Hari Puisi Indonesia adalah penghargaan tahunan di TIM bagi penyair lintas generasi, setiap penerbit atau penulis melakukan submit terbitannya. Tim penilainya Prof. Dr. Abdul Hadi WM, Soetardji Calzoum Bahri, dan Prof. Maman S Mahayana. Buku saya baru selesai cetak waktu itu, langsung submit dan berkompetisi dengan ratusan buku. Saya tak menyangka akan dapat penghargaan, namun ada dugaan menang, sebab selama ini belum ada karya serupa, baik sebagai sastra maupun etnografi.

Bagi anda, apa makna penghargaan dari HPI 2017 dan makna buku ini sendiri bagi anda, pesantren, maupun lingkungan yang lebih luas?

Pertanyaan yang berat, heehe. Tentang penghargaan, ini penghargaan untuk para Kiai bukan untuk saya, untuk sastra pesantren tentu saja, untuk dinamika bidang etnografi juga. Sedangkan makna buku ini bagi saya adalah jalan pengabdian sebagai santri dan antropolog. Puisi hari ini mulai mendapatkan tempat di tengah masyarakat kendati sebagian masih menggap tempat penyair salon. Padahal menurut Rendra, puisi harus dekat dengan masyarakat. Saya berharap, kelak, nama, ruang, simbol dan bunyi dalam Hadrah Kiai akan menjadi monumen ingatan.

Pesan-pesan anda berkaitan dengan Hadrah Kiai?

Saya terkesan pesan seorang sahabat, bahwa problematika ke-Indonesia-an jawabannya ada dalam ke-Indonesia-an juga, tak perlu mencari sosok panutan ke seberang lautan.

Lalu harapan anda pribadi secara umum kedepannya?

Dalam disiplin keilmuan, pertama, berharap kalangan santri harus lebih serius mengawal tradisi, al-muhafadhah dan al-akhdu harus benar-benar dipandang sejajar. Kedua, sastra harus dipandang sebagai pengetahuan yang ilmiah sebagaimana ulama salaf menempatkan sastra sebagai metode keilmuan. Ketiga, di bidang antropologi kita krisis metode. Keempat, pembaca sastra harus lebih terbuka melihat berbagai tema yang ditawarkan karya sastra. Adapun harapan saya setelah ini, lahirnya diskusi tentang keberagamaan, kebinnekaan, rahmat antar sesama manusia, sehingga terjadi kehidupan ber-Indonesia yang ikhlas mengabdi untuk bangsa dan negara. Saya kadang miris melihat banyaknya orang tidak kenal sejarah bangsanya, menyebut Walisongo tidak ada, Gajah Mada adalah Gaj Ahmada, Pancasila thaghut, sampai dengan umat muslim tak segan meneriaki ulamanya kafir dan berbagai ketidaknyamanan. Bukankah hari ini bangsa kita sedang resah perihal ini?


(Muhammad Uwais Sidhi Weiss/Red: Mahbib)

Selasa 24 Oktober 2017 14:0 WIB
Kelestarian Arab Pegon Memprihatinkan
Kelestarian Arab Pegon Memprihatinkan
Ahmad Baso.
Arab pegon, Arab Melayu, atau Huruf Jawi merupakan simbol dari keilmuan pesantren. Di dalam sejarahnya, Arab Pegon merupakan sarana untuk transfer ilmu, terutama di kalangan pesantren. Bahkan di wilayah-wilayah Melayu seperti Pattani, Riau, Malaysia, dan Brunei, dokumen-dokumen kenegaraan, kisah-kisah, dan lainnya ditulis menggunakan aksara Arab Pegon.

Chambert-Loir, seorang ahli perpusatakaan dari Perancis, memperkirakan bahwa karya yang ditulis menggunakan Arab Pegon ada sekitar empat ribu buah naskah. Ismail Husain menyebutkan ada lima ribu buah naskah Arab Pegon. 

Sementara, Russel Jones memperkirakan ada sepuluh ribu buah naskah. Naskah-nashkah tersebut tersebar di 28 negara: Afrika Selatan, Amerika, Austria, Australia, Belanda, Belgia, Brunei, Ceko-Slovakia, Denmark, Hongaria, India, Indonesia, Inggris, Irlandia, Italia, Jerman, Malaysia, Mesir, Norwegia, Polandia, Prancis, Rusia, Singapura, Spanyol, Srilanka, Swedia, Swiss, dan Thailand.

Konferensi bahasa yang diselenggarakan tahun lima puluhan di Singapura mengukuhkah kedudukan dan penggunaan aksara romawi. Sejak saat ini, peran aksara Arab Pegon menjadi tergantikan. Semua penerbit koran, majalah, dan buku dengan terpaksa mengganti aksara Arab pegon dengan huruf Romawi. 

Untuk memperluas wawasan tentang Arab Pegon dan tradisi keilmuan pesantren, Jurnalis NU Online A. Muchlishon Rochmat mewawancarai Ahmad Baso, seorang ahli naskah dan penulis buku-buku tentang pesantren. Berikut petikannya:

Di Acara Ijtima’ Ulama Nusantara ke-2 di Malaysia 2007 lalu, KH Maimoen Zubair bahwa kelestarian Arab Pegon pada tahap kritis dan mulai ditingalkan. Apakah betul eksistensi Arab Pegon saat ini seperti itu?

Memang sekarang eksistensi Arab Pegon memprihatinkan karena di pesantren atau madrasah tidak ada lagi sebuah keharusan untuk kembali mempelajari naskah-naskah nusantara, termasuk yang menggunakan aksara pegon. Sekarang Arab Pegon mulai terancam punah pembelajaran naskah pegon.

Pembelajaran menggunakan aksara Arab Pegon hanya berdasarkan inisiatif daripada pesantren dan madrasah. Dan itupun tidak banyak. Kalau pun ada pembelajaran pegon, itu hanya terbatas pada kebutuhan santri seperti memakai kitab fasolatannya Mbah Asnawi. Ada juga yang membaca tafsir Ibriz nya KH Bisri Mustofa, namun tidak masif. Artinya hanya pesantren tertentu saja yang mempelajari itu.

Banyak sarjana luar negeri yang belajar pegon untuk mengakses ilmu-ilmu kita, tetapi kita sudah melupakan ilmu-ilmu kita sendiri. Pegon menjadi perantara untuk mengakses ilmu-ilmu kita ditulis para pendahulu kita di Nusantara. 

Pegon bisa menjadi pintu masuk ke dunia keilmuan nusantara, bukan hanya keilmuan Islam saja tetapi juga ilmu-ilmu umum. Itu ditulis dalam aksara pegon. Dulu, misalnya orang Tionghoa menulis sejarah atau cerita rakyat dengan aksara pegon.

Tapi kan ada stigma kalau aksara pegon itu ‘simbol kemunduran’?  

Iya, ada yang menyebut kalau pegon itu kemunduran, ketertinggalan, dan kolot. Tapi masalah-masalah kebangsaan sekarang tidak cukup bisa diselesaikan dengan membaca produk-produk dari Barat, karena orang harus membaca lagi kearifan lokal dan khazanah kenusantaraan. Mereka baru sadar. Seharusnya kesadaran tersebut harus diimplementasikan dengan meningkatkan pembelajaran Arab Pegon.  
  
Di Sumatera, Palembang, dan Aceh sudah mulai ada kesadaran untuk mengkaji kembali naskah-naskah Melayu yang ditulis dalam aksara Jawi-Arab tapi bahasa Melayu. Di Jawa juga seharusnya juga sudah sudah saatnya ada perhatian seperti itu.  

Untuk melestarikan Arab Pegon berarti harus mengkajinya kembali? Bagaimana caranya?

Saya sering sampaikan kepada Kementrian Agama bahwa aksara pegon adalah salah satu pintu menuju ilmunya Islam Nusantara. Pembelajaran aksara pegon bisa dimasukkan ke dalam kurikulum madrasah ataupun pesantren. Kemenag memiliki kewenangan akan hal itu. 

Sekarang sudah saatnya untuk mengajak kembali ngaji kitab pegon agar anak-anak muda kita paham tentang warisan tradisi keilmuan dan peradaban ulama Nusantara dulu. Memang sampai sekarang, di dalam kurikulum juga tidak ada pelajaran mempelajari Arab Pegon.

Kalau tidak ada perhatian dari atas, pesantren atau pengurus-pengurus NU seharusnya mengajarkan pegon lewat program-program ekstrakurikuler sekolah. Cuma belum ada kampanye yang masif. 

Salah satu agenda Hari Santri Nusantara seharusnya melakukan kampanye untuk mainstreaming atau pengarusutamaan Arap Pegon. Sehingga dampak yang ditimbulkannya lebih besar dan masif. 

Di pesantren dan madrasah sendiri kan juga jarang sekali yang menggunakan kitab Arab Pegon untuk bahan kajiannya. Kebanyakan pesantren menggunakan ‘Kitab Arab Murni’ atau kitab kuning.

Sebetulnya Kemenag sudah memberikan batasan-batasan cakupan keilmuan apa saja yang harus dipelajari oleh santri. Ada target dan ujiannya. Praktik, kiai-kiai kita memikirkan kebutuhan praktisnya terlebih dahulu karena standar itu. Standarisasi itu yang sebetulnya merusak.

Untuk mengenal sejarah, identitasm dan jatidiri kita itu tidak hanya cukup ngaji kitab kuning, justru kitab pegon itu yang memberikan kita cara panduan bagaimana suara kita diperdengarkan pas ngaji kitab kuning. Santri ngaji kitab kuning dan mencatatnya menggunakan pegon. Dan mereka melakukan sosialisasi ilmu dengan mengarang kitab pegon yang merupakan penjelasa dan syarah dari kitab kuning. 

Itulah pentingnya pegon. Yakni agar kita tahu bagaimana umat Islam dan ulama Nusantara ini memberikan syarah atau penjelasannya terhadap kitab-kitab kuning. Misalnya Syekh Kholil Bangkalan menulis kitab tafsir dengan aksara pegon. Kalau kita tidak bisa mengakses kitab tersebut, maka kita tidak akan tahu bagaimana Syekh Kholil menafsirankan Al-Qur’an. 

Meski tidak sekolah dasar, tetapi orang tua kita dulu biasa menggunakan aksara pegon untuk surat menyurat. Sekarang, generasi saat ini sudah tidak tahu lagi soal pegon. 

Ada yang mengusulkan untuk melakukan standarisasi Arab Pegon. Bagaimana tanggapan anda?

Standarisasi boleh-boleh saja untuk konteks kekinian, tetapi tidak bisa dijadikan acuan untuk membaca naskah-naskah lama. Standarisasi boleh saja untuk dijadikan pegangan santri menulis di masa depan. Untuk membaca naskah lama, itu tidak bisa. Untuk membaca naskah lama maka harus sering-sering ngaji pegon.

Konferensi Bahasa tahun 50-an di Singapura mengukuhkan aksara Romawi dan ‘menghapus’ aksara pegon yang sudah berkembang. Tradisi keilmuan kita juga diserbu oleh sistem pengetahuan Barat dengan standar ilmiahnya. Bagaimana seharusnya kita menghadapi itu?

Kita pelajari saja aksara-aksara dan sistem mereka, namun mestinya kita tidak terpengaruh oleh mereka. Misalnya Thailand, Jepang, dan China. Mereka tetap mempertahankan aksara mereka, tetapi juga mempelajari sistem keilmuan Barat. Mereka bangsa maju tetapi tidak kiku dengan serbuan budaya modern dan tetap menjaga aksaranya. Baik Thailand, Jepang, ataupun China sangat getol mengampanyekan bahwa aksara mereka adalah warisan nasional.

Israel bekerja keras untuk menemukan kembali aksaranya yang hilang ribuan tahun yang lalu. Mereka mengerahkan ilmuan-ilmuan mereka untuk membangkitkan dan mengkaji kembali aksara Ibrani. Aksara yang sudah punah mereka bangkitkan lagi, sementa kita membuat aksara pegon mati dan membunuhnya di saat itu masih dipakai oleh bangsa kita. Sementara teks-teks kita diangkut oleh Kompeni ke Belanda.

Jadi tidak ada hubungannya antara serbuan modernisasi dengan aksara. Justru dengan aksara itu kita bisa menjaga jatidir dan identitas kita.  

Akhir-akhir ini marak musabaqah kitab kuning dengan tujuan untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren atau NU. Pendapat anda seperti apa?

Kalau mau menjaga tradisi keilmuan NU kan tidak hanya kitab kuning, ada kitab Pegon, Jawi, dan yang lainnya. Banyak kiai-kiai kita yang menjaga tradisi NU dengan mengamalkan pegon. Hadratussyekh Hasyim Asy’ari saja menulis dengan aksara pegon. 

Mengapa kitab-kitab pegon tidak dijadikan kitab untuk musabaqah. Misalnya musabaqah ngaji kitab-kitabnya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Kitab-kitabnya beliau kan ada yang berbahasa Arab dan ada yang pegon. Selain itu juga mengkaji kitab tafsir pegonnya Syaikhona Kholil Bangkalan. Kalau ada medium musaqabah, minat santri untuk mengkaji kembali lebih tinggi.  

Dulu ulama dikenal karena karyanya yang banyak, sekarang ulama yang dikenal masyarakat adalah mereka yang sering tampil di media dan bisa menggalang banyak massa. Apakah ini sebuah degradasi atau memang zamannya sudah berubah?

Masyarakat kita butuhnya sesuatu yang serba cepat ala makanan fast food. Fast food itu tidak bergizi dan itu bukan dari tradisi kita. Kuliner kita bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga bergizi bagi tubuh. 

Kecenderungan mubaligh saat ini adalah model fast food. Kalaupun ada mubaligh kita yang seperti syukur, tetapi jangan mengabaikan untuk menjaga tradisi keilmuan kita. Banyak ceramah-ceramah yang ada di televisi, namun itu apakah bergizi atau tidak. Dan itu bisa dinilai dari tingkat kealiman yang berceramah. 

Kalau yang dipentingkan adalah ceramah-ceramah yang mengedepankan kemasan, maka tradisi keilmuan kita akan habis dalam jangka beberapa puluh tahun ke depan. Ceramah-ceramah agama di televisi itu hanya mengenyangkan sesaat bagi mereka yang haus dan lapar spiritual. Tetapi kita harus melakukan yang lebih dari itu, bagaimana kita memberikan ceramah yang mengenyangkan, bergizi, dan tidak hanya kemasan saja.
Kamis 12 Oktober 2017 5:1 WIB
NU Harus Proaktif Dekati Generasi Milenial
NU Harus Proaktif Dekati Generasi Milenial
Saat ini, kurang lebih tiga puluh empat persen dari jumlah penduduk Indonesia adalah generasi milenial. Iya, generasi yang lahir di antara tahun 1981 hingga 2000. Dengan demikian, generasi milenial adalah mereka yang berusia 15 sampai 35 tahun. Generasi yang berada pada masa produktivitas yang tinggi. Dengan jumlah yang sedemikan besar, generasi milenial inilah yang mempengaruhi wajah daripada Indonesia.

Di dalam bukunya yang berjudul Generation M: Generasi Muda Muslim dan Cara Mereka Membentuk Dunia, Shelina Janmohammed menuliskan beberapa contoh generasi muslim milenial di negara-negara Barat. Mereka berpendidikan tinggi, memiliki karir yang cemerlang, berhijab (bagi perempuan), fashionable, gaul, cerdas, dan modern. Mereka juga cinta perdamaian dan mengecam keras terorisme.

Lantas, bagaimana dengan generasi muslim milenial di Indonesia? Seperti apakah karakter mereka? Bagaimana pandangan keagamaan mereka? Apa yang seharusnya dilakukan NU untuk merangkul mereka? 

Untuk menjawab itu, jurnalis NU Online A Muchlishon Rochmat mewawancarai Hasanuddin Ali, CEO Alvara Research Center dan juga penulis buku Millenial Nusantara. Berikut hasil wawancaranya:

Bagaimana dengan sebaran generasi Muslim milenial?

Generasi ini paling banyak ada di kota daripada di desa. Secara sebaran penduduk, penduduk kota lebih banyak daripada penduduk desa. Sehingga kalau kita lihat, generasi ini akan sangat mewarnai segala aspek di perkotaan. Karena kebanyakan berada di kota, maka muslim milenial ini sangat modern.

Seperti apa karakter dari generasi Muslim milenial ini?

Generasi ini mengkonsumsi internet paling banyak jika dibandingkan dengan generasi-generasi yang lainnya seperti generasi baby boomers dan generasi x, maka pola pikir generasi milenial ini sangat berbeda. Mereka mendapatkan banyak informasi dari internet dan hal itu membentuk karakter mereka. 

Karakter generasi ini itu ada tiga. Pertama kreatif. Pola pikir mereka itu penuh dengan ide dan gagasan. Hal ini dibuktikan dengan maraknya start-up. Kedua, confident. Mereka tidak hanya kreatif saja tetapi juga berani dan percaya diri untuk mengeksekusi ide-ide tersebut. Ketiga, connected. Terhubung antara satu dengan yang lainnya, baik di dunia nyata maupun maya. 

Maka dari itu, pola pikir milenial ini sangat terbuka, lebih individualis, dan lebih tertarik kepada sesuatu yang baru.

Soal keagamaan, mereka ini cenderung kemana?

Muslim milenial hidup di tempat yang tidak komunal karena berada di kota. Ini menjadi tantangan berat bagi NU yang amaliyahnya bertumpu pada komunitas yang komunal agraris. Sehingga praktik-praktik kegamaan yang sifatnya komunal akan mulai ditinggalkan oleh generasi ini karena faktor waktu, kesempatan, dan lainnya. 

Kehidupan di kota adalah beragam dan multikultur. Sehingga pertarungan wacana keagamaan lebih terbuka. Kota adalah pasar terbuka bagi semua aliran keagamaan dan ideologi. Sehingga wajah Muslim milenial itu tidak monolitik. Sekarang, muslim milenial NU itu bisa tidak mewarnai di kota. Kalau tidak bisa, maka mereka yang akan mewarnainya. 

Apakah ada survei tentang hal ini, pak?

Hasil survei kita yang terbaru menunjukkan bahwa ritual keagamaan di kota itu masih relatif ritual Nahdliyin. Namun hanya sebatas ritual saja, sedangkan pola pikir dan pandangan keagamaannya berbeda dengan NU. 

Ada tantangan bagi NU di sana?

Iya, ada beberapa tantangan yang dihadapi NU terhadap generasi muslim milenial ini. Pertama, menyelaraskan antara perilaku keagamaan dengan pandangan kebangsaan. Mereka amaliyahnya NU, tetapi pandangan kebangsaannya tidak sama dengan NU. Ini yang menjadi tantangan.

Kedua, tantangan ekonomi. Generasi milenial ini adalah usia produktif, maka perhatian terhadap ekonomi jauh lebih tinggi. Apakah NU mampu memfasilitasi mereka untuk mendapatkan keamanan dari sisi ekonomi. Seperti melakukan pelatihan-pelatihan ekonomi untuk generasi milenial atau memberikan akses pekerjaan kepada mereka. Jika mereka sudah mendapatkan keamanan ekonomi, maka mereka akan bisa menjadi NU yang sesungguhnya.

Ketiga, tantangan sosial. Generasi ini memiliki sifat yang individualis, maka dari itu susah untuk mengumpulkan mereka dalam suatu acara. Oleh karena itu, seharusnya NU lebih banyak hadir di komunitas-komunitas mereka. Jangan mengumpulkan mereka berdasarkan geografi, tetapi berbasis komunitas. Seperti komunitas pecinta potografi, ibu-ibu arisan, dan lainnya 

Jadi apa yang seharusnya dilakukan NU untuk merangkul mereka?

Organisasi seperti NU harus mendekat kepada mereka, jangan harap mereka yang akan mendekat kepada NU. Jadi, NU yang proaktif mendekat ke mereka. Misalkan kenapa NU tidak membuat acara tahlil, maulid nabi, istighotsah, dan lainnya di mall. Poinnya adalah kita harus proaktif mendekat kepada mereka. 

Termasuk aktif di media sosial?

Iya, termasuk aktif di media sosial. Media sosial dan internet adalah panggung terbuka. Semua ideologi dan pemikiran bisa masuk di sana dan tidak ada yang bisa melarangnya. Kalau NU tidak hadir di media sosial, maka wajah Islam yang tampak adalah wajah Islam model mereka. 

Lalu, apa yang seharusnya dilakukan NU untuk merangkul mereka?

Pertama, dakwah dengan menggunakan bahasa mereka. Generasi ini sangat aktif membicarakan tiga hal yaitu musik dan film, olahraga, dan IT (internet, sosial media, dan lainnya). Untuk mendekati generasi milenial ini sebaiknya menggunakan bahasa-bahasa mereka. Bahasa olahraga, bahasa musik, bahasa film, dan bahasa internet. Jangan berbicara soal politik terus menerus karena itu tidak akan masuk ke mereka. Meskipun kita bicara soal agama, tetapi bungkusnya adalah tiga hal itu. 

Kedua, generasi ini tidak suka diindoktrinasi. Mereka lebih suka jenis komunikasi yang dua arah seperti diskusi dan dialog. Tentu saja dengan menggunakan ustad atau kiai yang seumuran dengan mereka. Maka dari itu, sebaiknya NU mengorbitkan ustad-ustad muda. Secara keilmuan NU mendalam, tetapi kurang diorbitkan dan dikemas dengan bagus. 

Ketiga, aktif di media sosial. Teman-teman di NU harus aktif di media sosial. Kalau menulis status lima kali sehari, mbok ya satu atau dua status tersebut tentang amaliyah NU. Jangan semua status berisi tentang narsisme. Mungkin NU bisa menginisiasi gerakan satu status setiap hari tentang NU. Generasi milenial ini tidak suka yang bertele-tele, mereka lebih suka yang visual maka dibuatlah video-video pendek. 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG