IMG-LOGO
Wawancara

Tasawuf, Oase Spiritualitas di Zaman Modern

Selasa 31 Oktober 2017 10:33 WIB
Bagikan:
Tasawuf, Oase Spiritualitas di Zaman Modern
KH Ali M. Abdillah.
Di era modern seperti saat ini, manusia seringkali terbius akan godaan-godaan dunia dan acapkali abai akan kehidupan akhirat dan Tuhan semesta alam. Hedonisme, konsumerisme, dan materialisme adalah deretan ‘penyakit dunia’ yang menggerogoti nilai-nilai spiritualitas manusia. Sehingga manusia hanya mementingkan sesuatu yang tampak lahiriah saja. Batiniahnya terkikis. Kesadaran akan nilai-nilai spiritualitas berada pada titik nadir –bahkan minus.

Tak hanya itu. Terorisme dan radikalisme atas nama agama juga terus bertransformasi. Mereka berdalih melakukan itu karena membela dan ingin menegakkan Islam secara kaffah. Biasanya, mereka berpedoman kepada ‘fikih saja’ yang menilai segala sesuatunya hitam-putih, halal-haram, dan cenderung hanya dua sisi.

Tasawuf bisa menjadi sumber akan nilai-nilai spiritualitas seseorang yang terkikis habis itu. Tasawuf membekali seseorang bahwa segala sesuatunya harus dilakukan hanya karena dan untuk Allah saja. Bukan yang lain. Dengan bertasawuf, hati seseorang juga akan menjadi lembut dan penuh akan cinta. Sehingga tidak sampai menyalah-nyalahkan, mengkafir-kafirkan, dan bahkan membunuh yang liyan. Belajar tasawuf bisa menjadi oase di zaman yang tandus seperti zaman modern ini.

Namun, yang menjadi soal selanjutnya adalah ada yang menilai sesat tasawuf. Bahkan, tasawuf dianggap sebuah bid’ah karena hal itu tidak ada pada zaman Nabi Muhammad. Umumnya, mereka yang berpendapat seperti ini hanya berpegang pada ‘fikih saja.’

Bukan kan ajaran agama yang disampaikan Nabi Muhammad mencakup tiga dimensi: Iman, Islam, dan Ihsan. Dimensi Iman melahirkan ilmu kalam atau teologi. Dimensi Islam melahirkan ilmu fikih atau syariat. Sedangkan Dimensi Ihsan melahirkan ilmu tasawuf. Ketiganya saling terkait. Bukan untuk dipertentangkan.

Untuk mengurai lebih lanjut, Jurnalis NU Online Ahmad Muchlishon Rochmat mewawancarai Ketua Lajnah Muwasholah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) dan Ketua Mahasiswa Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta KH Ali M. Abdillah. Berikut wawancaranya:

Ada yang menilai Tasawuf itu sesat dan bid’ah karena pada zaman Nabi Muhammad tidak ada. Bagaimana tanggapan Anda?

Istilah tasawuf dan tarekat itu muncul pada abad kedua atau ketiga Hijriyah. Memang pada zaman Nabi Muhammad dua istilah ini belum ada. Namun, rujukan ajaran tarekat dan tasawuf itu adalah Al-Qur’an dan hadis. Bahkan, Rasulullah adalah teladan dalam bertasawuf.

Al-Qur’an menyatakan di dalam Surat Al-A’la:14-15 bahwa sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya dengan berdzikir kepada Allah secara kontinuitas. Demikian juga yang ada dalam Surat As-Syams ayat sembilan. 

Apa saja yang dicontohkan Rasulullah dalam bertasawuf?

Rasulullah sendiri juga mencontohkan praktif-praktik bertasawuf. Sejak usia dua puluh lima hingga empat puluh tahun, Rasulullah sudah ‘tidak melakukan aktifitas duniawi.’ Masih namun tidak seperti sebelum nikah. Khadijah sebagai seorang istri yang kaya –dan mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah- selalu mendukung apa yang dilakukan oleh Rasulullah, termasuk saat menyendiri di Gua Hira. Dalam tasawuf ini disebut sebagai proses takhalli yakni menyucikan diri dari jiwa-jiwa yang buruk.

Dipilihnya Gua Hira oleh Rasulullah untuk menyendiri meski perjalanan ke sana sangat terjal menunjukkan bahwa Rasulullah memiliki semangat yang tinggi. Di Gua Hira ini, Rasulullah bermunajah atau riyadlah-mujahadah kepada Allah dalam bahasa tasawunya. Riyadlahnya adalah dengan mengurangi makan dan dengan selalu mengingat kepada Tuhan. Sehingga pada usia empat puluh tahun, diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul. Serta menjadi seorang yang bisa mengendalikan hawa dan nafsunya.

Ini menjadi acuan bagi orang yang bertasawuf. Rasulullah sendiri memberikan contoh. Beliau orang yang suci dan maksum, namun proses untuk mencapai penyucian itu beliau mempraktikkan secara nyata. Hal ini dilakukan agar umatnya tahu bahwa untuk mencapai tahapan itu harus dibarengi dengan riyadlah dan mujahadah.  

Itukan proses takhalli yang dialami Rasulullah, di Tasawuf sendiri kan ada istilah tahalli dan tajalli. Tahalli adalah proses merasakan kenikmatan proses ilmu yang sudah dirasakan setelah hawa nafsu bisa dikendalikan. Pada periode Mekkah, Rasulullah mengalami fase tahalli ini. Meski ia dilempari batu, kotoran, dan dicaci maki, namun ia tetap sabar. Di dalam proses tahalli, seseorang akan memilikim jiwa yang bersih dan memandang segala sesuatunya itu digerakkan oleh Allah.

Sedangkan, pada periode Madinah Rasulullah istilahnya mencapai pada tahapan tajalli. Yakni secara ruhani Rasulullah senantiasa ingat kepada Allah namun beliau melengkapinya dengan aspek syariat. Jika diMekkah belum ada syariat dan dominan pada hakikat, maka di Madinah hakikatnya sebagai rahasia pribadi dan syariat sebagai ‘bungkusnya.’ Itulah simbol takhalli, tahalli, dan tajalli yang dicontohkan oleh Rasulullah. Itu dasar bertasawuf.

Dalam konteks era modern seperti saat ini. Apa urgensi dari tasawuf?

Kehidupan terus berkembang, namun aspek kejiwaan masih tetap sama. Dari dulu hingga saat ini, nafsu ammarah dan lawwamah masih tetap sama. Hanya model dan rupanya yang berbeda.

Penyakit orang modern adalah hedonisme. Mereka hidup berfoya-foya, lupa kepada Allah dan lupa mengembalikan rezeki dari Allah. Lalu, konsumerisme yaitu memiliki uang dan belanja terus, tapi untuk zakat, infak, dan sedekah susah sekali. Selanjutnya adalah materialisme. Yakni semuanya dihitung memakai materi.

Penyakit-penyakit ini hanya bisa disembuhkan dengan praktik tasawuf dan tarekat. Ini adalah penyakit-penyakit jiwa yang dikuasai oleh ammarah dan lawwamah. Lalu, agar tidak terjebak kepada hedonisme, konsumerisme, dan meterialisme maka belajar tasawuf sehingga menjadi orang yang zuhud dan wara.

Tapi zuhud dan wara’ kan selalu diidentikkan dengan menjauhi dan membenci dunia. Pengertian zuhud dan wara dalam dunia modern tidak seperti dulu. Dalam kehidupan modern, boleh memiliki jabatan tinggi tapi jabatan tersebut dianggap sebagai amanah Allah dan tidak memasukannya ke dalam hati. Pun, memiliki harta yang melimpah silahkan, namun itu jangan dimasukkan ke dalam hati. Ketika harta dan jabatan diambil oleh Allah, ia tidak ada beban karena itu memang titipan dari Allah.

Orang yang mengamalkan tasawuf itu memiliki ketenangan batin yang luar biasa. Dia memiliki rasa tidak memiliki. Kalau orang modern bisa mengamalkan nilai-nilai tasawuf, maka akan terbangun kesalehan sosial dan kepedulian terhadap sesama. 

Bagaimana dengan persoalan terorisme dan radikalisme seperti dewasa ini. Apakah tidak ada nilai-nilai tasawuf di dalam diri para pelaku karena mereka hanya fokus pada syariat saja misalnya?

Penyakit terorisme berawal dari pemahaman agama Islam yang fiqih-oriented. Pemahaman orang yang hanya fikih saja itu membuatnya mudah menjadi radikal karena di fiqih itu hitam-putih. Maka salah satu cara untuk mencerabut akar radikalisme dari diri seseorang adalah dengan belajar fiqih yang diimbangi dengan tasawuf dan praktik tarekat. Dengan belajar tasawuf, ia akan merasakan kesejukan batiniahnya.

Awal mula terorisme adalah ada marah, dendam, benci, dan emosi yang membara terhadap yang lain. Menurut tasawuf, ini adalah penyakit batiniah yang harus dihilangkan. Tasawuf adalah oase bagi orang-orang modern yang terjebak pada hedonisme, konsumerisme, materialisme, dan radikalisme. 

Orang yang bertasawuf dan kemudian bertarekat biasanya adalah mereka yang sudah sepuh. Apakah memang ada batasan-batasan umur tertentu sehingga generasi muda ‘tidak diperkenankan ikut’?

Itu bisa diamati dari aspek sejarah. Belanda menjajah Indonesia selama tiga setengah abad, namun Belanda tidak bisa menguasai seluruh wilayah Nusantara. Lalu, kemudian Belanda menunjuk Snouck Hurgonje untuk mempelajari seluk beluk Islam untuk menaklukkan Nusantara yang memang mayoritas beragama Islam. Ia mempelajari kitab-kitab ulama Nusantara.

Kemudian ditemukan bahwa penyebab Indonesia tidak bisa ditaklukkan adalah ajaran tasawuf dan tarekat. Sebab jika seseorang sudah terkena ilmu tasawuf dan tarekat, maka yang ditakuti hanyalah Allah. Mereka yang bertasawuf dan bertarekat tidak akan bersedia menjadi pion-pion Belanda.

Kemudian, Snouck Hurgonje bekerjasama dengan ulama dan menciptakan imaje bahwa ajaran hakikat adalah sesat dan kitab-kitab tasawuf dibawa ke Belanda. Akhirnya, semakin jauh masyarakat Indonesia dengan ilmu hakikat. Hal itu bisa dilihat pada abad delapan belas hingga dua puluh bahwa tasawuf dan tarekat hanya dipraktikkan oleh orang-orang tua.

Lalu, bagaimana dengan abad saat ini?

Di abad dua puluh satu ini semangat untuk bertasawuf itu sudah mulai tumbuh. Di kalangan kaum muda, tasawuf mulai bangkit. Begitupun di kalangan intelektual. Bahkan juga sudah terbentuk komunitas-komunitas tasawuf, baik di dalam maupun luar negeri. Di Eropa dan Amerika ada Ibnu Arabi Society. Komunitas penggiat tasawuf. Di Indonesia, ada Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) yang menaungi tarekat-tarekat muktabarah.

Bahkan, JATMAN memiliki organisasi regenrasi di tingkat mahasiswa yakni Mahasiswa Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (MATAN). Organisasi ini sudah tersebar di seluruh kampus besar di Nusantara. Mereka yang ikut adalah mahasiswa muda yang memiliki ketertarikan dengan dunia batiniah atau sufisme.

Ini menunjukkan meski berada dalam tekanan, tarekat tetap eksis karena orang bertarekat akan semakin yakin dengan keimanannya dan dekat dengan Allah. 
Tags:
Bagikan:
Ahad 29 Oktober 2017 18:2 WIB
Bung Kus: Liga Santri Harus Ikut Kompetisi di Liga Tiga
Bung Kus: Liga Santri Harus Ikut Kompetisi di Liga Tiga
Dari segi permainan, taktik pelatih, sejauh ini ada yang menarik tidak, ada yang mengejutkan penampilannya?

Justru kalau mengejutkan sih enggak, saya sering kaget melihat permainan tim-tim yang berasal dari daerah tertentu yang selama ini tidak anggap daerah bola, tapi di Liga Santri ternyata pemainnya bagus-bagus. 

Misalkan?

Misalkan DDI Kaballangan. Selama ini siapa yang kenal DDI Kaballangan, ternyata mainnya bagus. Kalau misalnya dari Bandung, dari Surabaya, wajarlah. Dari Sragen juga ada Persi Sragen, tapi tiba-tiba dari Kaballangan, ternyata bagus. Terus dari Muaro Jambi, orang kan enggak kenal, tapi timnya bagus. Paiton, orang tahunya Pembangkit Listrik Tenaga Uap, ternyata mainnya bagus. Nurul Jadid itu bagus. 

Saya kira seperti Kaballangan ini menyiapkan tim? 

Tahun kemarin mereka sudah ikut, juara Seri Regional, tahun ini masuk lagi. Jadi, kelihatan tim yang selama ini konsisten mempersiapkan diri di eskul atau ada program sekolah bolanya, biasanya hasilnya kelihatan. Dari segi permainan pun mereka sedikit lebih baik. Ashidiqiyah itu di Jakarta kan punya lapangan sendiri, punya SSB sendiri. Kaballangan juga sama. Walisongo juga sama. 

Ada yang menarik nih, Nuris juara pertama 2015, Nur Iman juara pertama 2016. Mereka selalu tersingkir. Kenapa? 

Saya bilang tadi, standar kualitas tim ini masih naik turun. Nah, sekarang dengan adanya liga santri berkelanjutan, mulai ada tim-tim yang membentuk SSB, lapangan sendiri, nanti ada tim-tim yang ajeg dan tim naik turun. Yang ajeg itu akan ada. Seperti Walisongo, model Ashidiqiyah, itu akan ajeg prestasinya. Kalau ini terus dikondosikan dan dipertahankan di Liga Santri ini; kalau sekarang ini kan baru tiga tahun, orang masih menakar, ini bisa panjang atau enggak. 

Jadi, kadang-kadang tim ini tahun ini juara, tahun depan enggak, karena memang kita belum punya lapisan-lapisan pemain. Generasi tahun ini bagus, generasi di bawahnya belum tentu ada. Makanya tahun ini bisa juara, tahun depan ambruk. Nur Iman, juara tahun lalu, tahun ini ambruk karena pemainnya udah beda. Liga Santri masih sesuatu yang sekarang belum menjadi semacam program rutin. Mungkin sesudah tiga dan empat tahun ini, pesantren mempersiapkan itu. 

Untuk tahun ini ada yang sudah kelihatan menonjol seperti tahun kemarin yang membuktikan kualitas Rafli?

Belumlah kelihatan. Kita tidak bisa semuanya datangi pertandingan di region. Sulit. Ya yang saya bisa katakan dari region yang saya kunjungi  level permainnanya sekarang tidak terlalu jauh. Saya nonton di Trenggalek, di Cirebon, di Maluku, di Lampung, levelnya dekat-dekat. Makanya pertandingan hari ini tipis-tipis, 1-1, 2-2, ada yang menang 4-1 memang, ada yang menang 7-0, itu kan kasus khusus, tapi selebihnya berimbang. 

LSN ini proyeksinya bagaimana, misalnya 10 tahun ke depan? 

Kalau dari obrolan kami, saya kan kebetulan kan bukan pengurus RMINU,  kebetulan tenaga profesional untuk mengelola kompetisinya. Dari wacana yang kami diskusikan, harus ada badan hukum yang secara formal liga ini, sekaligus badan itu menjadi anggota PSSI supaya pemain-pemain, alumnus liga ini bisa menjadi bagian badan hukum anggota PSSI ini berkompetisi di liga yang level lebih tinggi, misalnya alumnus liga ini bisa mengikuti liga tiga, liga dua, kalau lebih bagus lagi, ke liga satu, atau di liga tiga tetap di situ, tapi pemainnya bisa kemana saja. 

Kalau saya sih menganggap liga santri ini pabrik penghasil pemain, tapi tetap kita harus punya iconnya di kompetisi, misalnya Santri FC ikut di liga tiga. Santri mana sajalah, mau di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, ikut liga tiga, pemain-pemain alumnus liga santri ikut kompetisi itu. Hasilnya, bahwa mereka diambil di liga dua atau satu. Jadi memanfaatkan hasil kompetisi ini, pemainnya yang berkembang di kompetisi lain dengan pemain yang lain. 

Kalau kita mau evaluasi, dengan kondisi sekarang, kira-kira berapa tahun Liga Santri ini bisa mapan?

Tiga atau empat tahun lagi. Semakin kita konssiten menyelenggarakan liga ini, konsistensi jadwalnya, regulasinya, standar pelaksanaanya, tata kelolanya, akan semakin serius pesantren menyiapkannya tahun depan. Jadi, awal-awalnya kan mereka, oh begini, tahun kedua lebih banyak. Tahun ketiga semakin banyak. Tahun depan, kalau ini lancar sampai final, sukses dari segi tata kelola dan penyelenggaraan, dan publikasi, tahun depan akan lebih hits. Ini kan masih dikemas publikasinya publikasinya, masih perlu dikemas imaginenya, pencitraannya tentang kompetisi ini, masih perlu dikemas cara membuat event ini lebih meriah, lebih menarik, bukan sekadar selesai, tapi juga membekas, berkesan untuk masyarakat Bandung. Oh, kemarin ada Liga Santri ini. 

Ada pemantau talent scouting, tahun ini ada Robby Darwis, ada Ade Abdullah bekas Persi, Bandung Raya, PSIM juga. Hari ini ke sini, Siliwangi. Ada Udin Rafiudin, bekas Bandung Raya, hari pertama Udin di Arcamanik. 

Tanggung jawab apa? 

Mereka mendata pemain-pemain berbakat, dari pelatihnya Persis Solo, masih melatih Persis Solo kita undang ke sini untuk melihat dan mendata pemain-pemain yang potensial. Pemain itu kelebihannya apa, kekurangannya apa. Nanti pemain-pemain itu yang akan kita bawa ke Tim Nasional. Ini kan kelompoknya dekat dengan timnya Indra Sjafri ya. Rafli kan prosesnya begitu. Muncul 18 pemain tahun lalu. Dipakai enggaknya urusan tim nasional. Tapi kalau tim nasional perlu data pemain, kita punya databasenya. Ada 22 ribu data pemain ini yang kta bisa jaring dari kompetisi ini. Nanti yang terbaiknya, seratus besarnya, yang kita jaring ini, kita bawa ke PSSI. Nih pemainnya. Tahun ini ada 22 ribu pemain dari 1046 tim. Pemainnya kan rata-rata 20 orang. Jadi 22 ribu lebih. 

Jadwal yang ketat bagaimana?

Karena memang kompetisi ini budgetnya, finansialnya masih kurang. Idealnya main, tiga hari lagi main. 

Biaya klub bagimana? 

Diserahkan kepada mereka, kita subsidi aja.   

Sabtu 28 Oktober 2017 19:1 WIB
Standar Penyelenggaraan dan Kualitas Liga Santri Meningkat
Standar Penyelenggaraan dan Kualitas Liga Santri Meningkat
Seri Nasional atau putaran final Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 hanya menyisakan partai puncak atau Grand Final yang akan berslangsung di Gerlora Bandung Lautan Api (GBLA) kota Bandung, pada Ahad (29/10. Kedua tim yang lolos adalah Darul Huda (Jawa Timur) dan Darul Hikmah (Jawa Barat).

LSN tahun ini diikuti sekitar 22 ribu santri dari seluruh Indonesia. Mereka berasal dari 1046 pesantren. Dari tahun ke tahun, sejak liga kaum sarungan ini pertama bergulir, pada 2015, dari sisi keiikutsertaan, terus meningkat. Bahkan di beberapa daerah yang memiliki pesantren melimpah, sampai harus membuat sub regional.

Untuk mengetahui bagaimana penyelenggaraan LSN 2017 ini, Abdullah Alawi dan Ahmad Makki berhasil mewawancarai Direktur Pertandingan dan Kompetisi LSN M. Kusnaeni. Berikut petikannya: 

Bagaimana gambaran Liga Santri Nusantara tahun ini?

Dari sisi kompetisinya, tahun ini persaingannya lebih ketat, tim lebih serius mempersiapkan diri. Kesenjangan kualitas itu terlihat lebih tipis. Banyak pertandingan yang hasilnya seimbang. Beda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana tim-tim dari Jawa jauh dominan. Kalau sekarang kita lihat pertandingan-pertandingannya tipis. Ada yang memang menang besar karena memang timnya dari Kalimantan ini relatif baru, sepertinya kaget, wah kok persaingannya bagus-bagus. Itu yang pertama, persaingan lebih ketat. 

Kedua, standar-standar penyelenggaraan lebih baik. Tidak ada pertandingan yang terpaksa harus pakai rompi misalnya. Tim sudah siap dengan seragamnya, lebih siap dengan persiapan timnya, kaos kakinya udah kelihatan rapi, ada beberapa tim yang sudah menggunakan sponsor. Itu artinya dari segi penyelenggaraan pertandingan sudah menunjukkan kesiapan tim-tim peserta mengikuti seri nasional. Mungkin dari sisi screening juga kami perketat tahun ini. Harus diakui ada beberapa tim yang harus dicoret pemainnya karena memperketat screeningnya itu. Mungkin bisa jadi pembelajaran bagi tim-tim tiap tahun mereka harus siap ke seri nasional dengan screening yang ketat.

Karena apa itu? 

Ada yang secara formal tidak memenuhi syarat sebagai Liga Santri, misalnya dari segi batasan usia, kelengkapan dokumen.

Kelengkapan dokumen itu bagaimana?

Kan harus membuktikan mana kartu santrinya, mana ijazahnya, mana akta kelahirannya, mana kartu keluarganya. Kalau itu semua tidak bisa dilengkapi, terpaksa kami coret, atau data-data yang konsisten, kalau yang satu A, yang lain B, bagi kami meragukan, labih baik kami meninggalkan yang meragukan, begitu kan filosofinya, kami lakukan dalam upaya untuk memperketat peserta Seri Nasional. 

Tapi mungkin untuk secara keseluruhannya kami masih belum puas tingkat pelaksanaan di daerah, terus terang saja. Standar-standar ingin diterapkan itu belum seluruhnya yang diimplementasikan di Seri Regional, banyak persolannya ya, dari mulai keterbatasan sumber daya finansial, prasarana lapangan di daerahnya, ada juga keterbatasan panitia pelaksana di daerah. 

Kalau persoalannya itu, kami berharap pengalaman Liga Santri tiga tahun, kami harapkan up grade, tapi kaau keterbatasannya dari segi sarana, kami mau bilang apa. Kami hanya menyarankan tahun depan cari tempat yang lebih baik, misalnya di Lampung kita masih sulit menemukan venue untukl Liga Santri. Kemarin kan terkahir kick off-nya masih bukan stadion, tapi di lapangan terbuka. 

Nah, persoalan itu merata enggak di setiap daerah?

Tidak. Hanya beberapa daerah seperti di Nusa Tenggara itu tidak semua daerah memilik stadion sehingga beberapa pertandingan di tingkat region itu digelar di lapangan yang belum standar liga Santri. Mudah-mudahan ke depan terus ditingkatkan. Panitia di daerah harus berkreasi, berimprovisasi dan meningkatkan komunikasi dengan stakeholder di daerah. Kemudian kami juga berharap di daerah juga lebih banyak lagi pesertanya. Tahun ini kan meningkat hampir dua kali lipat. 

Nah, tahun depan kami berharap di daerah-daerah yang sekarang belum memenuhi target peserta, tahun depan harus lebih baik lagi, seperti region Maluku, Papua. Region Maluku dan Papua itu harusnya kan digabung bisa 32, tapi faktanya belum juga. Ada lagi Region Sulawesi Tenggara yang dibuat satu Region sendiri dengan harapan peserta lebih banyak, ternyata malah tidak terlalu banyak, bahkan tidak masuk Seri Nasional. Ini akan menjadi bahan evaluasi tahun yang akan datang untuk penetapan region karena kami juga terus melihat perkembangan faktual di lapangan pembagian region itu bukan sesuatu yang mati, tapi berkembang, yang pasti kami berharap peserta dari Jawa ini makin berimbang dengan luar Jawa. Itu pendekatannya ke depan. 

Sejauh ini yang menjadi persoalan selain infrastruktur, apa juga kualitas pemain? 

Dua-duanya. 

Kualitas level pemain dan permainan jika dibandingkan dengan liga lain yang seusia bagaimana?

Kalau secara keseuluruhan usia segini kan dekat dengan usianya Liga Suratin, dekat dengan usianya liga U-19; ya memang terus terang sebagian tim ini masih cukup jauh. Secara keseluruhan tim ini kalau dibandingkan dengan tim Suratin, masih sedikit di bawah, makanya saya bilang, perkembangan dari tahun ke tahun progresnya ada, tapi belum maksimal, tapi kalau dibandingkan dengan tahun kemarin sudah jauh meningkat, yang penting buat kami kan bukan ada di mana saat ini, tapi apakah lebih baik dibanding tahun kemarin. 

Jadi, kami berusaha tidak melihat yang lain dulu. Kami progres aja dulu kualitasnya. Pada suatu titik nanti, sesudah kelima, keenem, ketujuh, level pesertanya, pemainnya sudah bisa mendekati tim-tim mereka yang seusia, yang betul-betul merupakan pemain yang bermain di klub yang serius. 

Kalau klub pesantren ini kan bisa dibilang klub ekstrakulikuler, kegiatan di pondok, sebetulnya itu. Tapi itu ternyata berdampak positif karena dari sisi manfaat, adanya santri-santri yang gemar bermain bola, semangat persatuan di kalangan santri menjadi meningkat karena mereka kan pada akhirnya sama-sama hadir untuk mendukung timnya. Ada semangat kolektivitas yang terbentuk sebetulnya. Mungkin selama ini di pondok, kesempatan bertemu itu jarang momen-momen seperti ini, mungkin haul, tapi dengan adanya Liga Santri semangat kolektivitas mereka terbentuk, disatukan, itu saya pikir sangat positif dan k depannya, mudah-mudahan bukan sekadar semangat kolektivitasnya, tapi semangat untuk meningkatkan prestasi, kemampuannya.


Rabu 25 Oktober 2017 7:0 WIB
‘Hadrah Kiai’: Ulama Nusantara dalam Syair Kontemporer
‘Hadrah Kiai’: Ulama Nusantara dalam Syair Kontemporer
Perkembangan dunia sastra di pesantren kian hari semakin menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Kiprah santri dalam dunia sastra pun tak bisa dipandang remeh. Terbukti, menjelang peringatan Hari Santri Nasional 2017, sebuah buku puisi terbitan Ganding Pustaka Yogyakarta berjudul "Hadrah Kiai" karya Raedu Basha, seorang santri kelahiran Sumenep Madura, 3 Juni 1988, berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Buku Puisi Pilihan dalam Anugerah Hari Puisi Indonesia 2017 (HPI 2017).

Ajang penghargaan tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia pada Rabu, 4 Oktober 2017, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Kontributor NU Online berkesempatan melakukan wawancara singkat dengan Raedu Basha terkait buku puisinya dan prestasi yang telah diraihnya tersebut.

Bisa diceritakan secara singkat latar belakang anda khususnya awal mula anda berkenalan dengan dunia sastra atau puisi ini?

Saya suka sastra sejak kecil dan benar-benar menyukainya ketika nyantri di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Di pesantren yang diasuh almaghfurlah Kiai Ahmad Basyir Abdullah Sajjad ini iklim literasinya cukup kuat dan saya menempa diri dalam tradisi diskusi sastra dan membaca buku di luar teks pelajaran, ini tren saat saya nyantri dulu. Di Annuqayah, saya belajar menulis kepada Ra Faizi, Ra Zamiel, dan pada karya para senior Annuqayah, seperti Jamal D Rahman, Aryadi Mellas, M Idhavi F, Muhammad Al-Fayyadl, dan lain-lain. Tapi tak lepas dari tradisi keluarga saya sendiri juga mempengaruhi saya sampai sekarang, almarhum kakek dan almarhum ayah setiap hari meluangkan waktu untuk muthala’ah, menerjemah atau mengarang sampai akhir hayat.

Terkait buku Hadrah Kiai ini, seperti apa gambaran singkatnya?

Buku berisi puisi-puisi tematik kiai-kiai Nusantara. Puisi-puisi yang ada di Hadrah Kiai terdiri dari dua bagian, Hadrah Arwah dan Hadrah Hayah, terdiri dari puisi tentang atau untuk ulama lintas generasi, lintas mazhab bahkan lintas ormas baik yang sudah wafat maupun yang masih berjuang hingga hari ini. Secuil sudah ada di sinopsis bukunya dan beberapa endorser yang diunggah di internet.

Bentuk puisinya?

Gaya cerita atau gaya ucap yang berbeda-beda, kadang sedih, bahagia, haru, kadang pula lucu menggelitik, nyentrik. Ini terjadi karena puisi-puisi dalam Hadrah Kiai ditulis dengan sikon dan pendekatan yang berbeda-beda. Sebenarnya saya hendak mengonsepnya sebagai manakib, di mana tradisi manakib merupakan khazanah sastra pesantren yang mandeg, tapi saya kemudian menyadari siapa saya ini dibandingkan siapa pengarang Manakib al-Jailani, siapa pengarang Jami' Karamatil Auliya', dan sebagainya. Maqam spiritual mereka yang bikin saya gentar untuk menganggap manakib. Akhirnya saya kembali kepada posisi habitat saya sendiri, saya cuma etnografer secara akademik dan santri secara kultur. Sudah, itu saja.

Kalau tentang judulnya, mengapa "Hadrah"?

Kalau anda membaca etnografi dan mencari di mana munculnya musik hadrah, maka anda akan menemukan nama kampung bahkan nama desa saya. Jadi bagi orang kampung saya, hadrah bisa sangat luas maknanya karena telah mengalami banyak peristiwa dan pemaknaan. Hadrah bisa dimaknai sebagai bentuk menghadirkan sosok mulia dan dihormati, bisa sebagai genre musik dan alat musik, bisa sebagai tawasul misalnya ila hadratin bisa sebagai “ke hadirat” bahkan bisa sebagai sebuah ritus yang lain. hadrah karena sangat akrab dengan kehidupan saya sejak kecil. Kalau boleh cerita, kakek saya sendiri termasuk komponis lirik hadrah dan punya diwan syair hadrah, sanad beliau kepada Ahmad bin Ta’lab (Raja Hadrah Indonesia). Lalu mengapa saya milih judul hadrah? Sebab saya ingin meng-hadrah-kan para ulama Nusantara supaya generasi Islam pada khususnya tidak ahistoris dan publik luas bisa mengenal kiprah dan sejarah ke-Indonesia-an.

Untuk puisi-puisi dalam buku Hadrah Kiai ini sejak kapan mulai ditulis?

Mulanya saya menulis puisi bertema kiai pada 2006, ketika saya kelas 2 Madrasah Aliyah, tapi inisiatif untuk fokus pada topik ini sejak 2014, tepatnya pada saat proposal tesis saya yang bertopik kiai ditolak. Saya kemudian menumpahkannya ke puisi dan saya sangat menikmatinya sampai hari ini. Saya pun mencoba kirimkan ke media massa, perlombaan, dan alhamdulillah, keramat kiai itu benar-benar saya rasakan.

Bisa diceritakan juga bagaimana proses dan mengapa buku ini bisa meraih penghargaan Buku Pilihan HPI 2017?

Saya tahu Hari Puisi Indonesia adalah penghargaan tahunan di TIM bagi penyair lintas generasi, setiap penerbit atau penulis melakukan submit terbitannya. Tim penilainya Prof. Dr. Abdul Hadi WM, Soetardji Calzoum Bahri, dan Prof. Maman S Mahayana. Buku saya baru selesai cetak waktu itu, langsung submit dan berkompetisi dengan ratusan buku. Saya tak menyangka akan dapat penghargaan, namun ada dugaan menang, sebab selama ini belum ada karya serupa, baik sebagai sastra maupun etnografi.

Bagi anda, apa makna penghargaan dari HPI 2017 dan makna buku ini sendiri bagi anda, pesantren, maupun lingkungan yang lebih luas?

Pertanyaan yang berat, heehe. Tentang penghargaan, ini penghargaan untuk para Kiai bukan untuk saya, untuk sastra pesantren tentu saja, untuk dinamika bidang etnografi juga. Sedangkan makna buku ini bagi saya adalah jalan pengabdian sebagai santri dan antropolog. Puisi hari ini mulai mendapatkan tempat di tengah masyarakat kendati sebagian masih menggap tempat penyair salon. Padahal menurut Rendra, puisi harus dekat dengan masyarakat. Saya berharap, kelak, nama, ruang, simbol dan bunyi dalam Hadrah Kiai akan menjadi monumen ingatan.

Pesan-pesan anda berkaitan dengan Hadrah Kiai?

Saya terkesan pesan seorang sahabat, bahwa problematika ke-Indonesia-an jawabannya ada dalam ke-Indonesia-an juga, tak perlu mencari sosok panutan ke seberang lautan.

Lalu harapan anda pribadi secara umum kedepannya?

Dalam disiplin keilmuan, pertama, berharap kalangan santri harus lebih serius mengawal tradisi, al-muhafadhah dan al-akhdu harus benar-benar dipandang sejajar. Kedua, sastra harus dipandang sebagai pengetahuan yang ilmiah sebagaimana ulama salaf menempatkan sastra sebagai metode keilmuan. Ketiga, di bidang antropologi kita krisis metode. Keempat, pembaca sastra harus lebih terbuka melihat berbagai tema yang ditawarkan karya sastra. Adapun harapan saya setelah ini, lahirnya diskusi tentang keberagamaan, kebinnekaan, rahmat antar sesama manusia, sehingga terjadi kehidupan ber-Indonesia yang ikhlas mengabdi untuk bangsa dan negara. Saya kadang miris melihat banyaknya orang tidak kenal sejarah bangsanya, menyebut Walisongo tidak ada, Gajah Mada adalah Gaj Ahmada, Pancasila thaghut, sampai dengan umat muslim tak segan meneriaki ulamanya kafir dan berbagai ketidaknyamanan. Bukankah hari ini bangsa kita sedang resah perihal ini?


(Muhammad Uwais Sidhi Weiss/Red: Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG