::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Capres BEM Unej Janji Hadang Gerakan Radikalisme di Kampus

Rabu, 01 November 2017 23:12 Daerah

Bagikan

Capres BEM Unej Janji Hadang Gerakan Radikalisme di Kampus
Jember, NU Online
Pemilu Raya Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Jember (Unej) yang akan dihelat tanggal 2 November 2017 mendatang memunculkan fenomena baru. Muncul calon pasangan presiden dan wakil presiden dari kalangan santri, yaitu pasangan nomor urut 1 atas nama Agus W dan Ahmad Muzayin.

Agus adalah santri dari sebuah pesantren di Madura. Sementara Muzayin adalah santri Pondok Pesantren Genggong, Kraksan, Probolinggo.

Keduanya akan bersaing dengan sejumlah pasangan lain untuk memperebutkan suara sekitar 32.000 mahasiswa Unej. Itulah pemilihan Presiden  BEM pertama dengan melibatkan seluruh mahasiswa Unej. Sistem pemilihannya pun melalui e-vote.

Dalam kampanye belum lama ini, Agus mengaku gelisah dengan kecenderungan mahasiswa yang terjebak pada dunia apatisme dan menyepelekan perannya dalam  membangun bangsa. Yang cukup ironi, katanya, bibit-bibit penolak ideologi negara (Pancasila) juga sudah muncul di kalangan  mahasiswa. Tentu gerakan yang bersumbu pada radikalisme itu harus dilawan dengan berbagai cara. Sebab jika tidak, maka lama kelamaan kampus akan menjadi persemaian subur bagi tumbuhnya kelompok intoleran yang ujung-ujungnya berbahaya bagi tegaknya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

"Mereka harus kita bimbing agar kembali ke jalan yang benar, tentu saja dengan cara yang bijaksana," urai mahasiswa Fakultas Fisip Unej itu.

Mahasiswa Fakultas Hukum Unej Davin Djojoastro menyatakan bahwa visi pasangan Agus-Muzayin seirama dengan kebanyakan visi mahasiswa Unej, bahkan masyarakat. Sebab, memerangi gerakan radikalisme memang menjadi arus besar keinginan bangsa Indonesia.

"Kalau melihat statmen Kapolres Jember, bahwa salah satu kampus di Jember sudah terdeteksi adanya mahasiswa, bahkan dosen yang terindikasi ikut gerakan radikal, tentu kita harus waspada," jelas alumni Pondok Pesantren Tarbiatut Thalabah, Lamongan itu. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)