Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Tur Museum Belanda, Kenalkan Santri Sejarah Bangsa

Tur Museum Belanda, Kenalkan Santri Sejarah Bangsa
Arnhem, NU Online
Pengurus Cabang Istimewa Nahlatul Ulama (PINU) Belanda memprakarsai Tur Museum dan Diskusi Kebangsaan di Museum Bronbeek Arnhem, Sabtu (28/10) akhir pekan lalu. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa baik Master maupun PhD di berbagai universitas terbaik di Belanda serta masyarakat umum untuk menilik kembali sejarah di Museum yang memiliki nama lengkap Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger Bronbeek.

Acara diikuti oleh kurang lebih 40 orang, dimulai dengan menyanyikan Indonesia Raya dan pembacaan Ikrar Sumpah Pemuda. Acara berlangsung menarik karena Bronbeek Museum merupakan satu-satunya museum di Belanda yang mengupas lengkap tentang sejarah kolonialisasi Belanda di Indonesia. 

Diskusi kebangsaan yang dipandu oleh Ibnu Fikri (PhD candidate Antropologi VU Amsterdam), membahas beberapa hal diantaranya, Indonesia memperoleh kemerdekaan dari Belanda dengan cara sendiri, dengan proses perjuangan yang tidak mudah dari para pahlawan kita. Menurut Fikri, kemerdekaan dengan cara ini berbeda karakteristik dengan kemerdekaan negara lain yang diperoleh dengan cara 'diberikan'. Ditegaskan kembali bahwa santri memiliki peranan penting dalam kemerdekaan Indonesia. 

Tur Museum dipandu Yus Boersma, volunteer di museum tersebut yang juga kader PCINU Belanda. Yus menjelaskan berbagai ekshibisi dan koleksi spesial Broenbeek. Peserta dibawa mengelilingi museum dan diajak mengupas sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia pada masa lalu.

Museum ini memiliki koleksi benda yang sangat lengkap berikut tata ruang dengan alur yang berhasil membawa peserta tur menelisik lorong waktu berimajinasi betapa perihnya perjuangan Indonesia di masa lalu. Setiap benda diberi keterangan dalam bahasa Belanda dan Inggris. Lebih dari sekedar cerita di balik kemerdekaan 17 Agustus, ada banyak kisah yang diceritakan di tiap koleksi yang dipamerkan. 

Sebagai contoh, diceritakan masa kekejaman Daendels, yang terkenal dengan proyek pembangunannya yaitu pembuatan jalan dari Pantai Anyer hingga Panarukan sejauh kurang lebih 1000 km. Tujuan Daendels membangun jalan ini adalah mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris. Lalu, ia mencoba merealisasikannya dengan mewajibkan semua penguasa pribumi lokal untuk memobilisasi rakyat dengan target pembuatan jalan sekian kilometer. Apabila gagal, maka ancamannya adalah dibunuh, termasuk para pekerjanya.

Pada masa itu, tidak hanya banyak korban jiwa yang menjadi 'tumbal'nya, namun juga menimbulkan rasa trauma yang luar biasa bagi penduduk lokal. Korban yang meninggal digantung di pepohonan di pinggir jalan sehingga disaksikan banyak warga sekitar. 
 
Mengenai sistem tanam paksa, sistem yang dilakukan karena Belanda terancam kebangkrutan. Pada saat itu, dibangun perkebunan besar-besaran, terutama komoditas tebu, karet (untuk bahan ban), kopi, dan tarum (nila). Sistem ini ditetapkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830 yang mengharuskan setiap desa menyisihkan 20% tanahnya untuk ditanami komoditas-komoditas yang telah disebutkan tadi.

Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja selama 75 hari setiap tahun (20% dari 365 Hari) pada perkebunan milik pemerintah belanda. Kerja pada sistem ini dianggap sebagai pengganti pajak bagi rakyat. Beberapa tanaman khususnya tebu menyerap air dan nutrisi yang besar dari dalam tanah, sehingga pembukaan lahan dilakukan di lahan-lahan yang subur. Dampaknya, lahan-lahan tersebut lama kelamaan menjadi tidak subur lagi karena semua air dan nutrisi tanah sudah dimanfaatkan habis oleh si tebu. Hal ini cukup berpengaruh pada kondisi tanah saat itu, dan masa ini di beberapa tempat. Konon katanya, keuntungan dari sistem tanam paksa ini memberikan menyumbang sebesar 30% pendapatan total negara Belanda saat itu. 

Dikisahkan pula cerita tentang masa paling kelam bagi rakyat Belanda yaitu “masa bersiap” yang berlangsung dari Oktober 1945 hingga Mei 1947. Masa ini ditandai dengan terjadinya kekacauan dan banyak perampokan massal. Sejak tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, pada 1 Maret 1942, yang diikuti dengan menyerahnya Pemerintah Hindia Belanda tanpa syarat kepada Jepang berdasarkan Perjanjian Kalijati, pada 8 Maret 1942, Indonesia secara resmi dijajah oleh Jepang.

Bagi orang-orang Belanda dan keturunannya, pendudukan tentara Jepang di Indonesia merupakan bencana yang sangat besar. Ribuan orang Belanda dimasukkan ke dalam kamp-kamp dan tentara-tentaranya disiksa dan dibunuh.Tiga tahun setelah menjajah Indonesia, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada tahun 1945 setelah dibom atom Amerika Serikat.

Kabar menyerahnya Jepang ini tentu disambut gembira oleh warga Belanda, dan para keturunannya. Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama karena rakyat Indonesia segera bangkit dan memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, yang diwakili oleh Soekarno-Hatta. Persenjataan tentara Jepang pun dilucuti oleh para pemuda. 

Dari serangkaian tur yang telah diikuti, harus diakui bahwa Belanda telah bersikap lebih terbuka terhadap masa lalunya di Indonesia, terutama dalam sisi kekejaman kolonialisme. Cukup menarik untuk mengetahui bahwa Belanda cukup adil dalam menyajikan sejarah Indonesia. Sangat memilukan dan menyayat hati ketika melihat kronologi penjajahan Indonesia ditampilkan di Museum Bronbeek, dan lebih menyakitkan lagi, beberapa pihak dari bangsa Indonesia sendiri mengambil "persenan" dari bisnis orang-orang Belanda sembari memeras darah dan keringat rakyat jelata. 

Menurut koordinator acara Raushan Fikr Muthahari, acara ini menegaskan kembali betapa pentingnya memahami sejarah, dan pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan di masa lampau. Belajar sejarah dengan "adil dan berimbang", setidaknya membuat kita dapat belajar tentang betapa mengerikannya kolonialisme dan jangan sampai kita sendiri bersikap kembali sebagai "kumpeni-kumpeni" baru kepada orang-orang di sekeliling kita.

“Terutama bagi para diaspora dan pelajar Indonesia di luar negeri yang nantinya akan kembali membangun tanah air, mari belajar sebanyak-banyaknya hal dari sini (mengambil sisi baiknya) untuk Indonesia” demikian pesan yang disampaikan oleh Ikrom Mustofa, aktivis PCI NU yang terlibat aktif dalam penyelenggaran acara ini. 

Mengutip Kiai Said Aqil Siradj, banyak bangsa yang tidak bisa menjaga tanah airnya akhirnya hilang dari sejarah, seperti yang dialami bangsa Kurdi.

Man laisa lahu ardlun laisa lahu tarikh, waman laisa lahu tarikh laisa lahu dzakirah; barangsiapa tidak memiliki tanah air, tidak memiliki sejarah dan barangsiapa tidak memiliki sejarah tidak akan dikenang.

Kesan mendalam terhadap acara ini dirasakan Lisana Shidqin Aliyya, salah satu peserta tur.

“Jangan sampai kita kehilangan sejarah dan diatas semua sejarah yang terdokumentasikan maupun tidak, sudah sepatutnya generasi bangsa ini menghaturkan penghormatan (ta'dzim) kepada para syuhada sholihin, para pejuang yang dengan pendirian bulat telah mempertahankan kemerdekaan dan membela kedaulatannya dengan segenap kekuatan” pungkas mahasiswa Master Nutrition Science di Wageningen University Belanda. (Red: Kendi Setiawan)
Posisi Bawah | Youtube NU Online