IMG-LOGO
Daerah

Muwasaun Niam Pimpin PMII Jepara 2017-2018

Jumat 3 November 2017 0:3 WIB
Bagikan:
Muwasaun Niam Pimpin PMII Jepara 2017-2018
Jepara, NU Online
Muwasaun Niam, mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum Unisnu Jepara terpilih menjadi ketua PMII Cabang Jepara periode 2017-2018. Dalam Konferensi Cabang (Konfercab) ke-19 yang dilaksanakan di Gedung NU, Jalan Pemuda No. 51 Jepara, Sabtu-Ahad (28-29/10) ada juga calon yang lain yaitu Abdullah Nur Rohim dari fakultas Tarbiyah dan Keguruan dan Ahmad Feri yang juga dari fakultas yang sama. 

Niam diberikan amanat dengan perolehan 9 suara dari 16 suara yang sah. Sedangkan kandidat lain Abdulllah memperoleh 7 suara. 

Perlu diketahui penyelenggaraan Konfercab ke-19 tiap rayon memiliki 3 hak suara penuh dan satu komisariat yang memiliki 3 suara. Hal ini berbeda dengan tahun 2016 bahwa tiap rayon memiliki 5 suara penuh dan komisariat hanya 5 suara. 

“Terimakasih atas terpilihnya saya sebagai mandataris terpilih PC PMII Jepara. Saya berharap semua tataran rayon hingga cabang bisa kompak untuk mengawal pemerintah daerah Jepara,” ujarnya. 

Dia membeberkan langkah perdana yang akan dilakukannya ialah melakukan pembentukan kepengurusan PC PMII Jepara Tahun 2017-2018. 

“Setelah terbentuk, langkah selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan pengawasan secara all out hajat demokrasi Jawa Tengah 2018 Pilgub dan tentunya melakukan pengadvokasian terhadap kebijakan pemerintah Jepara,” imbuhnya. 

Sebelum Konfercab, panitia menyelenggarakan seminar kemandirian ekonomi yang diselenggarakan di Gedung DPRD Kabupaten Jepara. 

Dalam acara tersebut dihadiri puluhan kader PMII Jepara sekaligus menyaksikan debat kandidat calon peserta konferensi cabang Jepara. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)
Bagikan:
Jumat 3 November 2017 22:3 WIB
Segarkan Paham Aswaja, MWC NU Pagerbarang Istiqamah Gelar Lailatul Ijtima
Segarkan Paham Aswaja, MWC NU Pagerbarang Istiqamah Gelar Lailatul Ijtima
Tegal, NU Online
Untuk menjaga dan menanamkan nilai-nilai Ahlussunnah Wal jamaah (Aswaja), Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal menggelar rutin acara Lailatul Ijtima.

Ketua MWC NU Pagerbarang Ustadz Abdul Ghony Al-Khafidz menjelaskan, pertemuan lailatul ijtima itu diisi dengan berbagai acara, di antaranya, shalat Isya berjamaah, istighatsah, dan tahlil.

"Momen lailatul ijtima sebagai sarana silaturrahim dan untuk menyampaikan program-program NU di antaranya Program Pembangunan Gedung NU, dakwah dan konsolidasi pengurus untuk memperkuat organisasi," kata Ustadz Ghony saat lailatul ijtima di Masjid Jami Baitul Muttaqin, Desa Surokidul, Kecamatan Pagerbarang.

Hadir dalam acara itu pengurus Majlis Wakil Cabang (MWC), pengurus ranting NU setempat, dan kurang lebih 150 jamaah.

Menurut Abdul Ghony, dalam lailatul ijtima juga dilangsungkan dialog dan evaluasi program-program MWCNU.

"Lailatul ijtima digelar setiap malam Ahad pahing secara bergilir di ranting se-Kecamatan Pagerbarang," ujarnya.

Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Pagerbarang KH Muhtadi mengemukakan, warga nahdliyin harus tahu tentang Aqidah Aswaja salah satunya dengan kegiatan lailatul ijtima ini. "Semoga kita selalu istiqamah menggelar lailatul ijtima," pungkasnya. (Hasan/Alhafiz K)
Jumat 3 November 2017 20:0 WIB
Bukan Hanya Keislaman, Mumtaza Juga Kuatkan Wawasan Global
Bukan Hanya Keislaman, Mumtaza Juga Kuatkan Wawasan Global
Tangerang Selatan, NU Online
Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mumtaza Islamic School Khalimi mengatakan, banyak sekolah yang hanya mengedepankan wawasan keislaman saja atau yang hanya kuat pada wawasan globalnya. Namun, sekolah yang kuat dua-duanya tidaklah banyak.  

“Kita ingin kuat di wawasan keagamaannya tapi kita juga harus kuat di wawasan globalnya,” kata Khalimi di Pondok Cabe Tangerang Selatan, Jumat (3/11).

Ia menjelaskan, kurikulum yang diterapkan Mumtaza adalah hasil perpaduan daripada kurikulum internasional Cambridge, kurikulum agama, dan kurikulum tahfidz (menghapal Al-Qur’an). Inilah yang membedakan Mumtaza dengan sekolah-sekolah lainnya.

“Sekolah yang menggunakan kurikulum internasional, tapi tahfidznya kita munculkan juga,” ucapnya.   

Sebagaimana yang tercantum dalam kurikulum, lulusan MI Mumtaza diharapkan memiliki hafalan enam juz; kelas satu juz tiga puluh, sedangkan kelas dua sampai kelas enam menghafal juz satu hingga lima. Meski tidak semuanya memenuhi target, namun upaya maksimal untuk mewujudkan target tersebut terus dilakukan.

“Setiap selesai Salat Dzuhur kita murojaah. Di pagi hari kita tasmi’ dan murojaah hafalan. Sebelum pulang pun kita upayakan
untuk murojaah,” urai alumni Pendidikan Bahasa Inggris UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Selain itu, siswa-siswi Mumtaza juga dibekali dengan keilmuan Islam lainnya seperti Bahasa Arab, Nahwu, Sorof, dan lainnya. Ini sebagai upaya untuk memperkuat wawasan keislaman mereka.

Sedangkan kemampuan globalnya ditunjukkan dengan kemampuan bahasa Inggris dan ilmu-ilmu eksakta. Di Mumtaza, bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris dan Arab. Semua pelajaran kecuali pelajaran agama harus disampaikan dengan dua bahasa tersebut.  

Happy Week, ajang eksplorasi bakat siswa

Khalimi menjelaskan, Happy Week adalah ajang untuk menggali bakat dan keahlian serta mengeksplorasi kecerdasan siswa-siswi. Untuk kategori seni ada tari tradisional, paduan suara, dekorasi seni, dan menggambar. Sedangkan untuk kategori akademik ada lomba mengeja kata Bahasa Inggris (spelling bee), membaca berita, dan percobaan sains (science experiment).  

“Di sisi agama kita angkat juga. Ada lomba tahfidz Al-Qur’an dan cerdas cermat islami,” ujarnya.

Selain itu, acara ini juga diharapkan sebagai ajang untuk mencai bakat siswa. Siswa-siswi yang juara dan berbakat akan terus dilatih dan diikutkan ke dalam kompetisi yang lebih tinggi lagi untuk mewakili sekolah.

Sementara, Ketua Pelaksana Happy Week, M Roiyani mengatakan, ini merupakan merupakan acara tahunan dan sudah diumumkan jauh-jauh hari. Karena itu, siswa-siswi sudah siap untuk mengikutinya.

“Siswa wajib mengikuti lomba, tapi dibatasi maksimal tiga kategori lomba. Semuanya ikut lomba,” kata dia.

Tahun ini, Happy Week dilaksanakan kemarin dan hari ini, 2-3 November. (Muchlishon Rochmat)  

Jumat 3 November 2017 17:30 WIB
‘Jangan Sampai Orang Tua Salah Sekolahkan Anak’
‘Jangan Sampai Orang Tua Salah Sekolahkan Anak’
Tangerang Selatan, NU Online
Di kota-kota besar, sekolah modern dengan label Islam semakin menjamur. Fasilitas yang lengkap, mengadopsi kurikulum internasional, dan bahasa pengantarnya bahasa Arab dan Inggris (bilingual) adalah sederet karakteristik sekolah modern dengan label Islam tersebut. Hal ini menjadi peluang bagi meraka yang fokus kepada dunia pendidikan. Bukan hanya peluang bisnis, tetapi juga peluang untuk menyebarkan ideologi Islam ‘ala kelompok mereka masing-masing.’ 

Guru Agama Islam Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mumtaza Islamic School Ali Mudatsir mengatakan, orang tua jangan sampai salah memasukkan anaknya ke sekolah yang berlabel Islam, namun di dalamnya diajarkan paham-paham keislaman yang esktrim baik kanan –konservatif fundamentalis- ataupu kiri –liberal. Ia berpendapat, banyak sekolah dengan label Islam namun bukan perpaham Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) yang memiliki karakter moderat, toleran, dan menghargai budaya lokal.

“Jangan sampai orang tua itu salah memasukkan anaknya ke sekolah yang membawa simbol agama, namun di dalam kesehariannya yang diajarkan Islam yang tidak selaras dengan kebangsaan dan tanah air kita,” kata Ali di Pondok Cabe Tangerang Selatan, Jumat (3/11).

Menurut Ali, dengan sekolah di sekolah modern dengan label Islam orang tua berharap anaknya akan menjadi anak yang shaleh, baik, dan tahu akan Islam secara lebih mendalam. Jika anak tersebut sudah bisa baca Al-Qur’an dan tahu Islam, biasanya orang tua yang awam belajar Islam kepada anaknya tersebut. 

Mumtaza, sekolah Islam modern dengan paham Aswaja

Ali menjelaskan, Mumtaza dirancang sebagai sekolah Islam yang modern, namun demikian otentisitas keilmuannya –terutama ilmu-ilmu keislaman- jelas dan bersanad. Seperti cara membaca Al-Qur’an yang menggunakan metode Yanbu’ KH Arwani Kudus. 

Alumni UIN Syarif Hidayatullah itu menegaskan, paham keagamaan yang menjadi rujukan Mumtaza Islamic School Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Ia membantah tuduhan-tuduhan bahwa Mumtaza memiliki paham Syi’ah, Salafi-Wahabi, atau paham-paham lainnya yang Islamnya tidak sejalan dengan kebangsaan.

Setiap bulan, setiap guru diwajibkan untuk mengikuti majelis pengajian istigatsah. Hal ini sebagai upaya untuk menyelaraskan pandangan keislaman masing-masing guru yang memiliki latar belakang yang berbeda. 

“Ada dari UGM, UI, ITS. Tetapi frame nya tetap sama. Keislamannya tidak boleh menyimpang dari Ahlussunnah wal Jamaah,” jelasnya. (Muchlishon Rochmat)       

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG