::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

‘Jangan Sampai Orang Tua Salah Sekolahkan Anak’

Jumat, 03 November 2017 17:30 Daerah

Bagikan

‘Jangan Sampai Orang Tua Salah Sekolahkan Anak’
Tangerang Selatan, NU Online
Di kota-kota besar, sekolah modern dengan label Islam semakin menjamur. Fasilitas yang lengkap, mengadopsi kurikulum internasional, dan bahasa pengantarnya bahasa Arab dan Inggris (bilingual) adalah sederet karakteristik sekolah modern dengan label Islam tersebut. Hal ini menjadi peluang bagi meraka yang fokus kepada dunia pendidikan. Bukan hanya peluang bisnis, tetapi juga peluang untuk menyebarkan ideologi Islam ‘ala kelompok mereka masing-masing.’ 

Guru Agama Islam Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mumtaza Islamic School Ali Mudatsir mengatakan, orang tua jangan sampai salah memasukkan anaknya ke sekolah yang berlabel Islam, namun di dalamnya diajarkan paham-paham keislaman yang esktrim baik kanan –konservatif fundamentalis- ataupu kiri –liberal. Ia berpendapat, banyak sekolah dengan label Islam namun bukan perpaham Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) yang memiliki karakter moderat, toleran, dan menghargai budaya lokal.

“Jangan sampai orang tua itu salah memasukkan anaknya ke sekolah yang membawa simbol agama, namun di dalam kesehariannya yang diajarkan Islam yang tidak selaras dengan kebangsaan dan tanah air kita,” kata Ali di Pondok Cabe Tangerang Selatan, Jumat (3/11).

Menurut Ali, dengan sekolah di sekolah modern dengan label Islam orang tua berharap anaknya akan menjadi anak yang shaleh, baik, dan tahu akan Islam secara lebih mendalam. Jika anak tersebut sudah bisa baca Al-Qur’an dan tahu Islam, biasanya orang tua yang awam belajar Islam kepada anaknya tersebut. 

Mumtaza, sekolah Islam modern dengan paham Aswaja

Ali menjelaskan, Mumtaza dirancang sebagai sekolah Islam yang modern, namun demikian otentisitas keilmuannya –terutama ilmu-ilmu keislaman- jelas dan bersanad. Seperti cara membaca Al-Qur’an yang menggunakan metode Yanbu’ KH Arwani Kudus. 

Alumni UIN Syarif Hidayatullah itu menegaskan, paham keagamaan yang menjadi rujukan Mumtaza Islamic School Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Ia membantah tuduhan-tuduhan bahwa Mumtaza memiliki paham Syi’ah, Salafi-Wahabi, atau paham-paham lainnya yang Islamnya tidak sejalan dengan kebangsaan.

Setiap bulan, setiap guru diwajibkan untuk mengikuti majelis pengajian istigatsah. Hal ini sebagai upaya untuk menyelaraskan pandangan keislaman masing-masing guru yang memiliki latar belakang yang berbeda. 

“Ada dari UGM, UI, ITS. Tetapi frame nya tetap sama. Keislamannya tidak boleh menyimpang dari Ahlussunnah wal Jamaah,” jelasnya. (Muchlishon Rochmat)