IMG-LOGO
Trending Now:
Nasional

Permudah Tuntunan Shalat, LTM PBNU Gandeng Me Creative Luncurkan Aplikasi iShalat

Selasa 7 November 2017 17:4 WIB
Bagikan:
Permudah Tuntunan Shalat, LTM PBNU Gandeng Me Creative Luncurkan Aplikasi iShalat
Jakarta, NU Online
Lembaga Takmir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM PBNU) bekerja sama dengan Me Creative me-Launching Mobile Application iShalat 30 Augmented Reality di lantai delapan, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (7/11).

Ketua LTM PBNU H Mansyur Syaerozi saat menyampaikan sambutan menjelaskan tentang proses lahirnya program aplikasi iShalat ini.

Menurutnya, akhir-akhir ini LTM PBNU sedang memasyarakatkan diri, termasuk dengan cara melakukan pelatihan shalat sempurna. Pelaksanaan shalat sempurna dinilai kurang berhasil khususnya karena kekurangan pelatih.

Bersamaan dengan pekerjaan rumah tentang kurangnya pelatih, perusahaan aplikasi Me Creative meminta kerja sama untuk mensukseskan program pelatihan shalat sempurna.

Sementara Direktur Utama Me Creative Erwin Yudistira mengatakan, era di tengah perkembangan teknologi informasi saat ini, kita dituntut untuk bijak, kreatif dan inovatif. Dari persoalan itu, Me Creative berkeinginan untuk melakukan sesuatu.

Icon pada aplikasi itu bernama Acil. Menurut Erwin, Acil merupakan simbol santri. Oleh karena itu, ia berharap agar karakter Acil bisa membuat anak-anak bisa mengenal NU dan beribadah sejak dini.

Ia pun mengaku, kerja sama ini sulit terwujud tanpa NU. "Kami akan menjaga kerja sama ini dengan sebaik-baiknya," tutupnya.

Aplikasi iShalat ini berisi tentang tuntunan shalat. Mulai dari belajar wudlu, shalat, menghafal doa-doa, dan surat-surat pendek. Aplikasi ini bisa di-download gratis di Play Store dan App Store.

Hadir pada peluncuran aplikasi iShalat ini, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghoni, Ketua PBNU Aizzudin Abdurrahman, Bendahara Umum PBNU H Ing Bina Suhendra, dan lain-lain. (Husni Sahal/Alhafiz K)
Bagikan:
Selasa 7 November 2017 21:0 WIB
Lansia Yayasan Pusaka Terima Bantuan NU Care-LAZISNU
Lansia Yayasan Pusaka Terima Bantuan NU Care-LAZISNU
Jakarta, NU Online
NU Care-LAZISNU, menyerahkan bantuan berupa 500 kilogram beras kepada ibu-ibu lanjut usia (Lansia) di Yayasan Pusaka 45 Jakarta Utara, Selasa (7/11).

Yayasan Pusaka 45 saat ini beranggotakan 50 Lansia dan berdiri sejak tahun 1993. Yayasan tersebut bernaung di bawah Forum Komunikasi Pusat Santunan Keluarga (FK Pusaka) DKI Jakarta yang diketuai oleh Hj. Lies Haryoso, ibunda dari musisi Iwan Fals. Di DKI Jakarta terdapat 150 Pusaka.

FK Pusaka sendiri adalah lembaga non panti; wadah komunikasi, koordinasi, konsultasi bagi para lansia. Di FK Pusaka 45 juga terdapat majelis taklim Al Hidayah.

Ketua Yayasan Pusaka 45 Hj. Fatimah (72) menjelaskan, Lansia di Pusaka 45 Jakarta Utara berasal dari empat RW di Kelurahan Papanggo, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

“Yayasan menampung nggak lebih dari lima puluh Lansia. Karena kalau lebih, mungkin kami para pengurus yang nggak sanggup. Pengurusnya cuma sembilan. Sudah tua-tua lagi. Ada yang muda, masih kuat, di bagian Humas,” jelas Hj. Fatimah.

Pendiri Yayasan Pusaka 45 itu juga menuturkan sebelum tahun 2015 ada subsidi untuk para Lansia dari pemerintah. Sejak 2015 sampai saat ini, kata Hj. Fatimah, sudah tidak ada subsidi lagi.

“Para Lansia kurang mampu. Dulu ada subsidi untuk Lansia. Dari tahun 2015 udah nggak ada lagi. Padahal bisa buat kebutuhan makanan pokok. Ya, kami emang nggak cuma santuni makan saja. Ada senam, cek kesehatan sebulan sekali, dan pengajian juga,” tutur Hj. Fatimah, yang juga pengajar di majelis taklim Al Hidayah.

Bendahara Yayasan Pusaka 45 Rukilah (62) mengungkapkan, dana yang dimiliki dan dikelola oleh pengurus berasal dari jamaah majelis taklim Al Hidayah.

Donatur dari jamaah majelis taklim yang menyumbang sesuai keihklaasan dan kemampuan mereka.

Rukilah mengungkapkan pihaknya merasa senang atas bantuan NU Care-LAZISNU.

"Kami senang ada bantuan dari NU. Terima kasih, kami sudah diperhatikan. Bantuan ini pertama kali datang dari ormas; baru NU yang membantu,” ungkap Rukilah.

Pengurus Pusaka 45 menamakan diri sebagai insan sosial yang berjuangmencari amal dan memanfaatkan usia yang ada.

Lillahi ta'ala. Kami semua tidak ada yang digaji. Niatnya ibadah. Memanfaatkan umur yang ada,” ujar Rukilah yang diiyakan Hj. Fatimah, dan Hj. Murdiah (70) yang juga turut mendirikan Yayasan Pusaka 45.

Sementara itu, Manajer Penyaluran dan Pendayagunaan NU Care-LAZISNU Slamet Tuhari, mengharapkan bantuan tersebut bisa bermanfaat bagi ibu-ibu Lansia di Jakarta Utara, yang memang kurang mampu.

“Sesuai survei, mereka (Lansia, Red.) kurang mampu secara ekonomi. Dan sudah tidak dapat subsidi lagi dari pemerintah sejak beberapa tahun yang lalu. Maka itu, kami NU Care, membantu,” ungkap Slamet. (Wahyu Noerhadi/Kendi Setiawan)

Selasa 7 November 2017 19:15 WIB
MK Kabulkan Gugatan Penganut Aliran Kepercayaan
MK Kabulkan Gugatan Penganut Aliran Kepercayaan
Foto © Antara
Jakarta, NU Online
Amar putusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan seluruh permohonan uji materi Pasal 61 ayat (1) dan Pasal 64 ayat (1) UU Administrasi Kependudukan yang diajukan oleh empat orang warga negara Indonesia yang menganut aliran kepercayaan.

"Amar putusan mengadili, mengabulkan permohonan para Pemohon untuk seluruhnya," kata Ketua Majelis Hakim Konstitusi Arief Hidayat ketika membacakan amar putusan Mahkamah di Gedung MK Jakarta, Selasa.

Dalam putusan tersebut Mahkamah menyatakan kata "agama" dalam pasal a quo bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak termasuk "kepercayaan".

"Memerintahkan pemuatan Putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya," ujar Arief sebelum mengetuk palu hakim.

Sebelumnya para Pemohon yaitu Nggay Mehang Tana, Pagar Demanra Sirait, Arnol Purba, dan Carlim mendalilkan bahwa pasal a quo bertentangan dengan prinsip negara hukum dan asas kesamaan warga negara di hadapan hukum. 

Dalam permohonannya para Pemohon mendalilkan bahwa KK dan KTP elektronik memuat elemen keterangan agama di dalamnya, namun khusus bagi penganut kepercayaan kolom agama tersebut dikosongkan, sehingga dinilai bertentangan dengan Pasal 1 ayat (3), Pasal 27 ayat (1), dan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. 

Terkait dengan dalil para Pemohon tersebut, Mahkamah berpendapat keberadaan pasal a quo bertujuan untuk mewujudkan tertib administrasi kependudukan dengan terbangunnya pusat data kependudukan secara nasional yang valid.

"Upaya melakukan tertib administrasi kependudukan sebagaimana dimaksud pada pasal a quo sama sekali tidak boleh mengurangi hak-hak warga negara dimaksud termasuk hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan," ujar Hakim Konstitusi Saldi Isra ketika membacakan pertimbangan Mahkamah.

Mahkamah menegaskan bahwa penganut aliran kepercayaan juga harus tetap dilayani dan dicatat dalam pusat data kependudukan.

"Hal tersebut semata-mata penegasan tentang kewajiban negara untuk memberikan pelayanan kepada setiap warga negara sesuai dengan data yang tercantum dalam database kependudukan yang memang merupakan tugas dan kewajiban negara," tambah Saldi.

Oleh sebab itu Mahkamah menilai dalil Pemohon yang menyatakan bahwa kata "agama" dalam pasal-pasal a quo beralasan menurut hukum.

"Karena hal ini bertentangan dengan prinsip atau gagasan negara hukum, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945, sepanjang tidak dimaknai termasuk kepercayaan'," kata Saldi. (Antara/Mahbib)
Selasa 7 November 2017 16:31 WIB
Kiai Said Apresiasi Peluncuran Aplikasi iShalat
Kiai Said Apresiasi Peluncuran Aplikasi iShalat
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengaku senang dengan peluncuran aplikasi iShalat 30 augmented reality. Menurutnya, ini menunjukkan kalau NU tidak gagap teknologi. NU mampu menjawab tantangan zaman.

"Apakah NU mampu atau tidak menggunakan teknologi. Kita jawab, kita mampu. Untuk dakwah, untuk agama, untuk ibadah, untuk pendidikan," kata Kiai Said saat memberikan sambutan pada acara peluncuran aplikasi iShalat 30 Augmented Reality di lantai delapan, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (6/11).

Ia mengingatkan, teknologi merupakan sarana yang bisa mengandung dampak positif dan negatif.

"Mudah mudahan mari kita perbanyak kandungan positifnya. Sangat bermanfaat (aplikasi iShalat ini) Masyaallah," kata Kiai Said senang.

Menurutnya, keberadaan aplikasi ini mempermudah dan efektif untuk orang-orang yang mau melakukan pelatihan shalat. "(Teknologi) ini sudah tingkat tinggi ini," katanya.

Kiai kelahiran Kempek ini pun meminta nahdliyin agar tak ketinggalan teknologi. "Ini merupakan tantangan teknologi digital ini," kata Kiai Said.

Hadir pada acara peluncuran aplikasi iShalat 30 augmented reality ini, Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghoni, Ketua PBNU Aizzudin Abdurrahman, Bendahara Umum H Ing Bina Suhendra, Ketua LTM PBNU KH Mansyur Syaerozi, dan lain-lain. (Husni Sahal/Alhafiz K)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG