IMG-LOGO
Daerah

Salah Asuh Sebabkan Fenomena Mahasiswa Radikal

Rabu 8 November 2017 11:0 WIB
Bagikan:
Salah Asuh Sebabkan Fenomena Mahasiswa Radikal
Wakil Rektor Universitas Lampung Aom Karomani
Bandarlampung, NU Online
Wakil Ketua Tanfidziyyah PWNU Lampung yang juga Wakil Rektor Universitas Lampung Aom Karomani mengatakan, angka persentasi mahasiswa yang ikut dalam gerakan radikal di perguruan tinggi di Indonesia masih cukup tinggi.

Menurutnya hal tersebut disebabkan salah asuh yang sudah sejak lama terjadi.

"Saya kira itu bukan persoalan siapa pemimpin perguruan tingginya tapi terjadi salah asuh sedemikian lama dan baru sekarang kita sadari fenomena itu," katanya, Selasa (7/11).

Aom mengungkapkan hal tersebut menanggapi adanya permasalahan masih banyaknya kader dan simpatisan HTI di kampus-kampus yang sampai saat ini belum sadar dan dengan diam-diam terus menyebarkan ideologi khilafah.

Ia menilai harus ada upaya konkrit dan sistematis sekaligus solusi dari fenomena ini dalam rangka mengembalikan para mahasiswa tersebut ke jalan yang benar, baik dari sisi kelembagaan masing-masing perguruan tinggi maupun stake holder terkait.

Mahasiswa serta pelajar, tambah Aom, merupakan sasaran empuk kelompok-kelompok intoleran dan radikal dalam rangka  menyusupkan ideologi radikal. Hal itu karena di usia-usia inilah para mahasiswa dan pelajar tengah mencari bentuk jati diri dan masih labil kejiwaannya.

"Yang perlu diperhatikan oleh semua pihak terutama pada masa peralihan dari SLTA ke perguruan tinggi," ujarnya.

Ia juga menyorot pembelajaran pendidikan agama di sekolah menengah dan perguruan tinggi belum mampu menjawab permasalahan bangsa. Perombakan kurikulum pendidikan agama, terutama dalam
kehidupan beragama yang beriringan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, menurutnya perlu dilakukan lagi.

Kurikulum Pendidikan Agama harus mampu menanamkan nilai-nilai agama secara kontekstual kepada para mahasiswa dan pelajar. 

"Harusnya belajar ilmu agama tidak dilakukan secara tekstualis. Harus melihat konteks dan realitas yang muncul ditengah-tengah masyarakat," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan).

Bagikan:
Rabu 8 November 2017 22:33 WIB
Angkat Tema Pembiasaan Berwudhu, Siswi SD Ta’mirul Raih Juara MAPSI Jateng
Angkat Tema Pembiasaan Berwudhu, Siswi SD Ta’mirul Raih Juara MAPSI Jateng
Solo, NU Online
Adinda Rafi Az-Zahra siswi SD Ta’mirul Islam Surakarta berhasil menyumbangkan trofi juara untuk kontingen Kota Surakarta dalam Lomba Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Seni Islami (MAPSI) ke-20 tahun 2017 tingkat Provinsi Jawa Tengah di Kabupaten Sukoharjo, Sabtu-Ahad (4-5/11).

Dalam cabang LKTI tersebut, Adinda mengangkat topik tentang pembiasaan wudhu yang dilakukan di Sekolahnya.

“Dengan mengangkat topik sederhana tentang kegiatan pembentukan karakter islami, yakni pembiasaan wudhu di sekolah, alhamdulillah, kami meraih prestasi sebagai juara pertama LKTI di lomba MAPSI provinsi tahun ini,” terang kepala SD Ta’mirul Islam Aris Paryanto.

Selain dari cabang LKTI, SD Ta’mirul juga berhasil meraih satu torfi dari cabang kewirausahaan. Melalui karya dengan membuat minuman tradisional wedang rempah, Hawwa Iftinan Karimah Ningtyas menjadI juara ketiga.

Ditambahkan Aris, pada lomba MAPSI kali ini SD Ta’mirul mengirimkan delapan cabang lomba dalam ajang ini. Delapan cabang lomba yang sebelumnya menjadi yang terbaik di tingkat kota tersebut adalah cabang lomba rebana, kewirausahaan, khat, cerita islami putri, khitobah putra, khitobah putri, LKTI, dan tilawah.

Sementara itu, Koordinator Lomba SD Ta’mirul Islam Surakarta, Rio Aditya Danang C, yang ditemui setelah acara pengumuman dan pelepasan MAPSI mengemukakan bahwa timnya sudah berusaha maksimal dan dengan meraih dua medali adalah hasil yang terbaik.

“Tentunya di level provinsi ini tingkat persaingan semakin ketat, untuk itu, di MAPSI tahun mendatang, kami harus mempersiapkan diri secara lebih baik lagi,” tutup Rio. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Rabu 8 November 2017 17:30 WIB
Dosen STAINU Temanggung Wajib Ikuti Pendidikan Kader Penggerak NU
Dosen STAINU Temanggung Wajib Ikuti Pendidikan Kader Penggerak NU
Ketua PCNU Temanggung, KH Muhammad Furqon
Temanggung, NU Online
Tahun 2018 mendatang Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Temanggung menargetkan semua dosen STAINU Temanggung mengikuti Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU). Pada PKPNU PCNU Temanggung yang diagendakan Januari 2018, semua dosen STAINU Temanggung diwajibkan mengikutinya.

"Semua dosen STAINU Temanggung besok 10-11 Januari 2018 wajib mengikuti PKPNU. Bagi yang sudah nanti bisa jadi panitia. Karena nanti rencananya yang dari PCNU juga saya ikutkan dengan total maksimal 50 peserta," ujar KH. Muhammad Furqon (Gus Furqon) Ketua PCNU Temanggung di rumahnya Desa Prapak, Kranggan, Temanggung, Selasa (7/10).

Menurut Gus Furqon, dosen dengan berlatarbelakang pendidikan apa saja, baik yang sudah maksimal maupun menjadi kader kultural di NU, wajib mengikut PKPNU untuk menjadi kader NU yang paripurna.

"PKP ini adalah pengkaderan paripurna di NU. Dan ini bisa jadi syarat pengurus PB," lanjutnya.

Pihaknya mengaku telah berkoordinasi dengan jajaran PCNU dan BP3TNU Temanggung untuk menyiapkan PKPNU tersebut.

Dijelaskannya, PKPNU menjadi pola pendidikan yang sangat menarik bagi akademisi, guru, dan aktivis NU. 

"Dalam PKPNU itu di dalamnya juga (diajarkan) termasuk ada pembelajaran untuk mengajar khususnya karakter," tegas dia.

Pembelajaran karakter termasyk cara menangani anak nakal. 

"Maksudnya ada anak-anak kalau itu diatasi kader NU yang sudah ikut PKPNU, maka nanti insyallah nakalnya hilang," jelasnya.
PKPNU atersebut dilaksanakan dua hari dua malam. 

"Semua peserta wajib menginap dan nggak boleh pulang. Karena nanti juga kami dari tanfidziyah dan Rais Syuriah PCNU akan mengawalnya langsung. Dalam waktu 24 jam, peserta hanya diberi waktu istirahat kurang lebih hanya 4 jam," tegas dia.

Menariknya lagi, yang menjadi trainer atau pematerinya berasal dari instruktur pusat. 

"Ini nanti instruksturnya langsung dari pusat. Jadi agar dosen-dosen kafah ber-NU dan memperkuat pendidikan tinggi di NU," terangnya.

Pihaknya berharap, inisiatif PCNU Temanggung itu memberikan motivasi bagi kampus NU yang lain untuk mengkafahkan dosen-dosennya dengan mengikuti PKPNU. Ke depan, PKPNU di Temanggung juga ditagetkan dilaksanakan sampai MWCNU dan Pengurus Ranting NU. (Ibda/Kendi Setiawan).

Rabu 8 November 2017 16:30 WIB
Pesantren WALI Rintis Kerja Sama Literasi dengan Pusat Perbukuan Mesir
Pesantren WALI Rintis Kerja Sama Literasi dengan Pusat Perbukuan Mesir
Salatiga, NU Online
Akses terhadap kitab-kitab klasik berbahasa Arab masih minim di kalangan santri pesantren. Dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional, Pondok Pesantren WALI mencoba membuka akses tersebut dengan menjalin kerjasama dengan negara-negara Timur Tengah, salah satunya Mesir.

Upaya ini dimulai dengan penyediaan akses pendidikan untuk belajar membaca dan memahami literatur Keislaman berbahasa Arab. Pada Selasa, 31 Oktober 2017 lalu, Direktur Lembaga Pusat Perbukuan Umum Mesir, yang juga Mantan Menteri Pendidikan Tinggi dan Kebudayaan Mesir, Syarif Al-Jayyar meresmikan Madrasah Diniyah Internasional (MDI) WALI. 

Pengasuh Pondok Pesantren WALI, yang membawahi MDI WALI, KH Anis Maftuhin mengatakan, MDI WALI ini adalah lembaga pendidikan keislaman pertama di Indonesia yang menjadikan pembelajaran literasi sebagai nafas seluruh materi dan kurikulumnya.

"Keberadaan MDI WALI ini menjadi titik awal bagi anak-anak kita untuk mempelajari kunci awal mengakses kitab-kitab rujukan berbahasa Arab," kata Anis, Selasa (7/11) .

Pembeda MDI WALI dengan lembaga pendidikan lain adalah keberanian menerapkan cara lain dalam mempelajari Bahasa Arab. MDI WALI mengaplikasikan Metode Tamyiz, sebuah formula untuk mempercepat para santri bisa membaca, menerjemahkan, dan memahami kitab-kitab berbahasa Arab.

Syarif Al-Jayyar menyambut baik upaya MDI WALI mencetak generasi muda di Indonesia yang mahir berbahasa Arab. Generasi muda Indonesia merupakan masa depan peradaban dunia. Karena Indonesia punya tradisi dan budaya yang luhur dan telah berabad-abad umurnya.

"Penguasaan Bahasa Arab sejak dini menjadi isu strategis karena bahasa ini bahasa agama kita dan salah satu bahasa penting dalam pergaulan internasional," kata Syarif.

Apalagi, menurut Syarif, MDI WALI menerapkan terobosan dalam pengajaran Bahasa Arab. Pengajaran bahasa untuk kalangan non-Arab tentu berbeda dengan upaya serupa untuk orang-orang yang berbahasa ibu Bahasa Arab. Karena itu, inovasi MDI wali ini perlu disebarluaskan. (Red: Kendi Setiawan)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG