IMG-LOGO
Trending Now:
Pesantren

Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, Perkuat Santri Zaman Milenial

Senin 13 November 2017 22:4 WIB
Bagikan:
Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, Perkuat Santri Zaman Milenial
Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta kampus 3.
Berjuang dalam mendakwahkan Islam yang ramah bagi semua dan penguatan paham Ahlussunnah wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama (NU) di tanah Pasundan menjadi visi KH Abun Bunyamin Purwakarta, Jawa Barat lewat pendidikan pesantren yang mengintegrasikan ilmu umum dan ilmu agama berdasarkan kitab kuning karya ulama-ulama klasik.

Kiai Abun yang juga murid KH Ilyas Ruhiyat Cipasung, Rais Aam PBNU 1994-1999 mewakafkan seluruh perjuangannya untuk menegakkan dakwah NU, salah satunya lewat Pondok Pesantren Al-Muhajirin yang pertama kali didirikannya pada 1993. Saat ini, pesantren dengan visi bilingual (bahas Arab dan Inggris) telah berdiri menjadi tiga kampus yang tersebar di Purwakarta.

Pada Jumat dan Sabtu (10-11 November 2017) lalu, pesantren Kiai Abun menjadi tuan rumah perhelatan Bahtsul Masail Pra-Musayawarah Nasional dan Konferensi Besar NU. Kegiatan bertajuk Mencari Jalan Keluar Kesenjangan Ekonomi dan Radikalisme Agama ini dinilai dengan visi pesantren Kiai Abun yang yang menekankan kemandirian ekonomi dan menangkal paham-paham radikal di Jawa Barat, khususnya di Purwakarta.

“Sesuai perjuangan guru dan kiai-kiai saya, saya wakafkan diri saya dan pesantren untuk perjuangan NU. Setidaknya dengan kegiatan Pra-Munas dan Konbes digelar di sini, pesantren saya bermanfaat bagi perjuangan NU,” ungkap Rais PCNU Purwakarta ini saat menutup perhelatan Pra-Munas, Sabtu (11/11/2017).

Saat ini, pesantren yang dipimpinnya itu mempunyai sekitar 4500 santri. Bahkan salah satu dari tiga pesantrennya tersebut menjadi lembaga pendidikan Islam favorit di Purwakarta. Visi bilingual pesantren yang menekankan santri mahir bahasa Arab dan bahasa Inggris agar mereka mampu menyesuaikan kondisi dan tantangan zaman milenial.

Profil pesantren

Al-Muhajirin Islamic Boarding School adalah lembaga pendidikan Islam yang telah berdiri sejak tahun 1993. Pembelajaran dilakukan dengan mengintegrasikan kurikulum pesantren berbasis kitab kuning dan bahasa dengan kurikulum sekolah berbasis standar nasional.

Semua santri diwajibkan tinggal di asrama dengan program pembinaan berupa pembiasaan shalat berjamaah, shalat dhuha, puasa sunah, dzikir pagi dan sore, kajian kitab kuning, percakapan bahasa Arab dan Inggris, tahsin dan tahfidz Al-Qur’an.

Berbicara tentang Pondok Pesantren Al-Muhajirin yang memiliki motto Berpikir Dinamis, Berakhlak Salaf. Berakidah Ahli Sunah wal Jamaah, dan memiliki visi Terwujudnya komunitas umat yang sholeh, cerdas, terampil, dan mandiri serta misi untuk mencetak mukmin sholihin. imam al-muttaqin, dan ulama al-amilin tentu tidak lepas dari sejarah.

Nama Al-Muhajirin diberikan, karena pembangunan pondok pesantren ini merupakan kelanjutan dari pembangunan masjid jami yang bertempat di komplek Perumahan Oesman Singawinata yang diberi nama Al-Muhajirin. Dalam pembangunan masjid itu KH Abun Bunyamin sebagai ketua panitia merangkap Ketua RW 11 Kelurahan Nagrikaler pada waktu itu.

Sebagai Pengurus Yayasan Al-Wathon, KH Abun Bunyamin bersama sejumlah tokoh lainnya berencana membeli sebidang tanah seluas 3.100 meter persegi. kemudian dibentuk panitia penerimaan wakaf yang diketuai Bambang Sutaryono yang kemudian bertugas mencari dana dan bisa membangun gedung TKA/TPA berlantai dua.

Bulan Mei 1991. panitia membuat brosur penerimaan santri baru sekaligus anak yatim dan anak tidak mampu, dari hasil penyebaran brosur tersebut terdaftar santri sebanyak IS orang yang berasal dari Purwakarta. Sumedang, Karawang, dan Subang.

Karena yang mendaftar kebanyakan anak-anak dari keluarga tidak mampu, maka untuk kebutuhan biaya makan anak-anak tersebut sebagian ditanggung para donatur.

Pada bulan Juli 1992 kemudian mendirikan Madrasah Tsanawiyah serta pembangunan Pondok Pesantren Al-Muhajirin di Jalan Veteran Gang Kenanga 11 Kebon Kolot Purwakarta melalui panitia pembangunan yang dipimpin Afif Anwari berserta teman-temannya. Santri pada saat itu. bertambah menjadi 52 orang.

Sedangkan untuk pengajaran kitab yang dimulai sejak sore (Ashar). Maghrib, dan Subuh ditangani langsung oleh KH Abun Bunyamin. Pada tanggal 7 Februari 1993 bertepatan dengan 15 Syaban 1413 H diresmikan bangunan Pondok Pesantren Al-Muhajirin yang baru oleh Bupati Purwakarta H Soedarna TM dan seluruh santri dari Jalan Veteran 163 ke Gang Kenanga II.

Kiai Abun ditemani oleh Drs Sofyan Sulaeman dan Ustadz Ade Rosyidin guru kitab salaf alumni Pesantren Miftahul Huda Manonjaya waktu peresmian Pondok Pesantren Al-Muhajirin. Karena waktu itu KH Khoer Affandi (Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya) dan KH AF Gojali dari Bandung memberikan ceramah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Juli 1994 santri bertambah menjadi 82 orang. Namun demikian para pengajar Pesantren Al-Muhajirin itu sampai tahun 1995 belum menginap di pesantren, sehingga setiap malam setelah santri tidur pukul 22.00 WIB para pembimbingnya pulang ke rumah yang berlokasi di Jalan Veteran 155 dan kembali lagi pukul 04.00 WIB untuk membangunkan para santri yang pada saat itu lokasi pesantren masih berbentuk kebun yang penuh dengan ilalang, pohon bambu, dan pohon rambutan.

Dari tahun ke tahun Pesantren Al-Muhajirin dapat berkembang walaupun banyak tantangan dimana sampai saat ini telah memiliki 4500 orang santri dari mulai Play Group, TKA, TPA/MDA, SD Plus, MTs, SMP, MA. SMA, dan STAI dengan guru dan pegawai mencapai 450 orang dan santri yang mondok 1500 orang santri lebih termasuk anak yatim dan yang tidak mampu.

Selain sistem pendidikan berbasis salaf yang diterapkan oleh pesantren sebagai metode pembelajaran, pondok pesantren Al-Muhajirin juga berusaha mengembangkan pendidikan berbasis pengembangan kreativitas, intelektualitas, spiritualitas, dan bakat minat santri.

Pendidikan ini bertujuan untuk mengembangkan dan memperluas khazanah santri dalam menggali ilmu pengetahuan. Sampai saat ini, pondok pesantren Al-Muhajirin telah berhasil membudidayakan kemampuan tersebut untuk kepentingan banyak pihak.

Tentunya, pendidikan ini tidak serta merta menjadi tujuan utama dalam proses belajar mengajar di pondok pesantren Al-Muhajirin. Meskipun pendidikan ini termasuk bagian dari usaha pondok pesantren Al-Muhajirin dalam mengembangkan visi misinya, namun pendidikan salaf (pengajian kitab kuning) tetap menjadi prioritas utama bagi santri pondok pesantren Al-Muhajirin.

Sampai saat ini, pondok pesantren Al-Muhajirin terus berusaha semaksimal mungkin untuk mengembangkan khazanah keilmuan, baik keilmuan agama maupun keilmuan umum. (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Sabtu 11 November 2017 14:15 WIB
Mengenal Pesantren Darul Hikmah Kota Mataram
Mengenal Pesantren Darul Hikmah Kota Mataram
Mataram, NU Online
Pondok Pesantren Darul Hikmah merupakah salah satu institusi dan lembaga pendidikan berbasis dakwah dan lembagaa sosial masyarakat di kota Maataram, yang jaraknya 1 kilometer dari pusat pemerintah Kota Mataram.


Keberadaannya, sebagai pusat dakwah dan pengembangan pendidikan, sosial sudah berkontribusi baik di tengah kehidupan masyarakat.

Pesantren Darul Hikmah didirikan oleh Almarhum TGH Mahmud Aminullah pada tahun 1994 di lingkungan Karang Genteng Pagutan, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Pesantren ini berdiri atas dasar kepedulian untuk mengembangkan risalah Islamiyah, serta atas dasar desakan dan kebutuhan memperbaiki ahklak kehidupan masyarakat sekitar.

Tujuannya adalah untuk mempertinggi dan memperluas cakrwala dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan mealui dakwah Islamiyah.

Seiring perjalanan waktu, pasca wafatnya pendiri yaitu TGH Mahmud Aminullah, pesantren dipimpin oleh TGH Abdul Hamid, yang merupakan putra TGH Mahmud Aminullah. Pesantren terus berkomitmen memajukan pendidikan dalam bidang pendidikan formal  SMP dan SMA, serta pendidikan non formal (diniyah).


Pesantren Darul Hikmah, selain mengelola juga mengembangkan lembaga majelis taklim pengajian dan Jam’iyah Ahluluttariqah Qadiriyah Wanaqsabandiyah Mu’tabarah di berbagai wilayah baik di Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur. (Red: Kendi Setiawan)


Rabu 8 November 2017 14:46 WIB
Nurul Islam Sekarbela, Pesantren Aswaja Termuda di Kota Mataram
Nurul Islam Sekarbela, Pesantren Aswaja Termuda di Kota Mataram
Hj Wartiah, Pimpinan Pesantren Nurul Islam Kota Mataram
Mataram, NU Online
Pulau Lombok yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat terkenal dengan sebutan 'Pulau Seribu Masjid'. Sebutan ini tidaklah berlebihan mengingat populasi penduduk di pulau pedas ini hampir 90 persen memeluk agama Islam yang taat. Tak heran nuansa Islami juga sangat terasa di pulau yang dikenal juga dengan sebutan 'Sunda Kecil' tersebut.

Pusat pendidikan Islam tersebar hampir di seluruh pelosok di pulau yang populasi penduduknya mencapai tiga juta jiwa ini. Pondok pesantren tempat menggembleng akhlak dan meningkatkan pengetahuan agama hampir terdapat di setiap pelosok pulau kecil ini, tidak terkecuali di Kota Mataram.
 
Sebagai ibu kota provinsi dengan populasi penduduk yang heterogen dengan pemeluk agama yang beraneka ragam, juga tidak meninggalkan ciri khas Pulau Lombok yang Islami. Beberapa pondok pesantren berdiri dan istiqamah memberikan pelajaran agama serta menggembleng akhlak generasi muda, sehingga kelak menjadi insan yang mempunyai pengetahuan luas di bidang agama serta ilmu akademis formal lainnya.

Salah satu pondok pesantren yang cukup terkenal dan disegani adalah Pondok Pesantren Nurul Islam yang terletak di Jalan Swasembada No. 120, Kekalik, Sekarbela, Mataram, Nusa Tengara Barat. Pesantren yang didirikan pada Juli 2014 menjadikannya pesantren termuda di Mataram.

Meskipun terbilang sebagai pesantren termuda di Kota Mataram, namun popularitas pesantren yang dipimpin oleh Hj. Wartiah ini cukup disegani. Betapa tidak? Para pengasuh pesantren ini merupakan ustad yang memiliki pengetahuan di bidang agama yang mumpuni. Sebut saja Ustad Fathoni, Ustad H Tahkim, Ustadz H. Fakhrurrozi, Ustadz H. Siswadi, Ustadz Zulkifli,Ustadz Damanhuri, dan Ustad H. Ubaidillah.

Pesantren Nurul Islam merupakan pesantren yang berafiliasi dengan NU, sehingga menjadi salah satu pesantren berpaham Aswaja annahdliyah yang ada di Kota Mataram. Pimpinan pesantren, Hj. Wartiah menjelaskan Pesantren Nurul Islam tidak hanya fokus pada pengembangan nilai-nilai Islam, tetapi juga proses pembelajaran yangdisesuaikan (ekuivalen) dengan perkembangan zaman. Dengan demikian pesantren ini juga merupakan pesantren modern yang ada di Kota Mataram.

“Kami tidak hanya fokus pengembangan dan peningkatan nilai-nilai kesilaman, namun kami juga mengembangkan keterampilan-keterampilan untuk membekali santri dan santriwati di kehidupan dunia mereka kelak,” papar Hj. Wartiah, Rabu (8/11).

Kehidupan pesantren juga membekali santri supaya memiliki pedoman hidup berdasarkan syariah Islam, Ahlusunnah Wal Jamaah Annahdliyah.

Dalam Konbes Munas NU 2017 mendatang, pesantren Nurul Islam dipercaya sebagai salah satu lokasi pelaksanaan beberapa kegiatan. Sejumlah persiapan untuk mendukung dan menyukseskan agenda Nasional tersebut terus dikebut. Pesantren Nurul Islam bahkan telah menyediakan 15 kamar sebagai tempat menginap peserta Konbes dan Munas. 

Selain menyiapkan akomodasi, Pesantren Nurul Islam juga menyediakan ruang sekretariat, penyediaan toilet yang berstandar, hingga ruang media center bagi jurnalis yang melakukan peliputan. 

Agenda yang akan digelar di Pesantren Nurul Islam adalah sidang Komisi Organisasi. 

Selain Pesantren Nurul Islam pesantren lainnya yang menjadi lokasi acara adalah Pesantren Darul Falah dengan agenda Sidang Bas'ul Masail, Pesantren Darul Qur'an dengan agenda sidang Komisi Rekomendasi, Pesantren Al Halimy dengan agenda sidang Program Kerja, dan Pesantren Darul Hikmah sebagai posko panitia pusat. Ada pun Sekretariat PWNU diproyeksikan sebagai tempat registrasi seluruh peserta.

Pesantren Nurul Islam sendiri mendapat jatah peserta sebanyak 99 orang, keamanan 25 orang dan sisanya dari santri yang ada di pesantren Nurul Islam. (Red: Kendi Setiawan)

Jumat 27 Oktober 2017 19:1 WIB
Nurul Jadid Paiton Perkuat Jejaring Perguruan Tinggi Berbasis Pesantren
Nurul Jadid Paiton Perkuat Jejaring Perguruan Tinggi Berbasis Pesantren
Probolinggo, NU Online
Dalam rangka memperkuat kelembagaan melalui jejaring perguruan tinggi berbasis pesantren dibawah naungan LPTNU, Institut Agama Islam (IAI) Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo menerima kunjungan dari Institut Dirosat Islamiyah Al-Amin Prenduan Kabupaten Sumenep, Kamis (26/10) di Aula Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton.

Kegiatan silaturrahim ini bertujuan untuk semakin memupuk kerja sama antar lembaga perguruan tinggi yang berada dibawah naungan Nahdlatul Ulama' (NU) dan berbasis pesantren di Indonesia.

Rektor IAI Nurul Jadid Paiton KH Abdul Hamid Wahid menyampaikan bahwa untuk membangun hubungan yang baik, bukan kata-kata verbal saja akan tetapi substansi dari jalinan kerjasama dalam membangun ukhuwah jami'iyah.

“Islam itu bisa maju karena jejaring yang kuat antar institusi ataupun kelembagaan,” katanya.

KH Mubarok, selaku Rektor Institut Dirosat Islamiyah Al-Amin Prenduan Sumenep mengungkapkan bahwa tujuan silaturrahim ini tiada lain adalah untuk silaturrahim guna membangun jejaring yang kuat antar pesantren yang memiliki kultur dan karakteristik yang sama. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG