IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Saatnya Kita Perluas Akses pada Kelompok Difabel

Jumat 17 November 2017 18:40 WIB
Bagikan:
Saatnya Kita Perluas Akses pada Kelompok Difabel
Ilustrasi (via news.de)
Kelompok difabel merupakan mereka yang tidak memiliki kesempurnaan anggota tubuh. Ketidaksempurnaan yang ada pada diri mereka bukanlah sebuah keinginan. Hal tersebut terjadi di luar kemampuan untuk menghindarinya. Ada yang terjadi sejak lahir, ada pula yang karena faktor kecelakaan atau karena penyakit yang dialami saat dewasa. Ketika kejadian tersebut menimpa mereka, terutama yang sebelumnya menjalani kehidupan normal, lazimnya penderita akan mengalami beban fisik bahkan mental yang luar biasa. 

Sejauh ini tempat-tempat publik belum memberikan akses yang memadai untuk mereka. Akibatnya, mobilitas mereka sangat terbatas. Sebagian telah menyediakan fasilitas khusus seperti di bus Transjakarta yang menyediakan kursi khusus untuk mereka. Sayangnya akses untuk mencapai bus Transjakarta masih sangat susah karena untuk mencapai halte atau di haltenya sendiri sarana yang ramah bagi difabel belum memadai. Otomatis, fasilitas yang tersedia tersebut dimanfaatkan oleh siapa saja, penumpang yang berebutan mencari tempat duduk saat angkutan dalam kondisi penuh ketika pulang kerja. 

Hal yang sama juga terjadi di taman-taman kota. Memang ada jalan khusus bagi mereka, karena kesulitan kelompok difabel untuk naik tangga. Tapi, untuk mencapai akses ke taman kota ini sendiri juga merupakan masalah besar. Akibatnya, kelompok difabel menjadi tereksklusi dari kehidupan sosial masyarakat. Sebagian besar dari mereka tidak bisa mengekspresikan pikirannya secara luas kepada publik. Potensi besar yang mereka miliki juga tidak bisa tereksplorasi dengan baik karena keterbatasan aksesnya. 

Demikian pula, akses mereka ke tempat ibadah, seperti masjid dan mushalla juga belum memadai. Belum ada tempat wudhu yang dikhususkan untuk mereka, masjid yang biasa posisinya lebih tinggi dari tanah tidak menyediakan jalur khusus untuk mereka. Juga tidak tersedia shaf paling depan bagi mereka saat shalat berjamaah, padahal dalil-dalil agama menyatakan bahwa jamaah yang ada di barisan paling depan memperolah pahala yang paling besar. Al-Qur’an, hadits, dan buku-buku rujukaan keislaman dalam versi braile yang bisa diakses oleh orang yang memiliki masalah penglihatan juga sangat kurang. 

Masyarakat sesungguhnya memiliki empati yang sangat besar untuk membantu mereka dengan membukakan pintu, menuntun mereka di jalanan atau hal-hal lainnya. Tetapi pendekatan tersebut tidak membuat mereka mandiri karena tergantung pada belas kasihan pihak lain. Situasi yang ideal adalah bagaimana mereka bisa mengakses ke tempat-tempat publik tanpa perlu bantuan orang lain. 

Yang lebih mengenaskan lagi, karena sikap adanya sikap kasihan dari masyarakat tersebut, ada orang, bahkan dari pihak keluarga yang mengeksploitasi mereka menjadi peminta-peminta di jalanan. 

Dalam kultur Islam di Nusantara, orang-orang difabel diarahkan untuk menghafal Qur’an. Toh itu sesuatu yang baik. Tetapi tidak semua orang memiliki kecenderungan yang sama untuk menjadi penghafal Qur’an. Jika dipaksakan, ini akan menjadi penderitaan yang semakin berlipat-lipat, penderitaan fisik dan mental akibat pemaksaan yang mereka alami.

Jika memiliki akses yang memadai, kelompok difabel juga memiliki kesempatan untuk memberi kontribusi yang besar bagi masyarakat. Salah satu perawi hadits yang difabel adalah Hafsh bin Umar al-Basri. Selain itu, ia juga ahli dalam bidang ilmu waris, astronomi, puisi, dan sejarah Arab kuno. Di lingkungan NU sendiri, Gus Dur juga dalam beberapa tahun menjelang akhir hayatnya juga menghadapi masalah penglihatan, tetapi beliau mampu memberikan kontribusi luar biasa kepada bangsa Indonesia, bahkan jauh lebih besar daripada orang-orang pada umumnya. Sayangnya banyak orang difabel tetapi potensi yang mereka miliki tidak bisa tereksplorasi karena keterbatasan aksesnya. 

Untuk memberi kesadaran lebih guna memperhatikan akses bagi kelompok difabel, Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2017 ini membahas tema fiqih disabilitas. Diharapkan dengan pembahasan ini, muncul kesadaran lebih besar dari umat Islam untuk memperhatikan kepentingan mereka.

Sejauh ini, pembelaan publik terhadap masalah ini hanya sayup-sayup. Sosialisasi bahwa kelompok difabel membutuhkan akses yang lebih memadai akan dipahami secara lebih luas. Diharapkan juga ada kebijakan yang lebih mengakomodasi kebutuhan kelompok ini. Sejarah telah membuktikan, sekalipun mereka memiliki sejumlah keterbatasan, banyak kontribusi yang diberikan. Jangan sampai potensi mereka terabaikan. (Ahmad Mukafi Niam)

Tags:
Bagikan:
Kamis 9 November 2017 15:22 WIB
50 Tahun Palestina Berjuang untuk Kemerdekaan
50 Tahun Palestina Berjuang untuk Kemerdekaan
Ilustrasi (© Reuters)
Tahun ini, sudah lima puluh tahun wilayah Palestina diduduki oleh Israel. Hidup yang sebelumnya berlangsung dengan tenang, berubah menjadi petaka ketika ancaman terus datang setiap harinya, saat rumah milik mereka dengan tiba-tiba kejatuhan bom, pengawasan dan halangan untuk memasuki area-area tertentu oleh tentara Israel, dan sulitnya memperolah kebutuhan dasar hidup.

Paradaban Palestina bisa dikatakan hancur. Sekolah-sekolah yang mengajarkan ilmu pengetahuan bagi generasi muda dihancurkan oleh bom-bom yang memiliki daya rusak tinggi. Sumber daya lain seperti guru yang kompeten, buku, dan sarana belajar lainnya sangat minim. Kesempatan untuk belajar menjadi sangat terbatas. Penduduk Palestina hanya bisa berpikir bagaimana bisa bertahan hidup dalam kondisi yang sangat menekan.

Saat Palestina mengalami keruntuhan dan perderitaan tiada tara. Sementara Israel kini menjadi salah satu bangsa yang paling maju di dunia. Yang menguasai berbagai teknologi paling tinggi. Perguruan tinggi dan lembaga-lembaga risetnya menghasilkan temuan-temuan paling baru untuk menunjang keamanan dan kebutuhan mereka. Sayangnya, apa yang dicapai tersebut menimbulkan ongkos yang sangat besar bagi penduduk Palestina berupa wilayah yang ambil dan penindasan yang mereka lakukan. 

Sebuah kemajuan yang dihasilkan dengan menindas dan mengeksploitasi pihal lain bukanlah sebuah kemajuan yang layak diapresiasi. Inilah kolonialisme yang juga pernah dialami oleh Bangsa Indonesia yang hasil-hasil alamnya diangkut ke Eropa. Penduduk di wilayah Nusantara dengan sengaja dibiarkan terus bodoh dan lemah agar tidak bisa melakukan perlawanan terhadap penjajah. Para pemimpinnya dipecah belah sehingga mudah diadu domba dan tidak mampu menyatukan kekuatan yang terserak. Apa yang dialami oleh Palestina kini, adalah strategi klasik dari pada kolonialis.

Dalam kondisi apa pun, perlawanan harus tetap digelorakan, beragam strategi dan taktik harus dijalankan untuk mencapai tujuan. Tetapi juga tidak bisa melakukan sesuatu secara membabi buta sehingga malah menghancurkan apa yang sudah ada. Perjuangan membutuhkan banyak syarat untuk berhasil, berupa kegigihan, kecerdikan, persatuan, dan syarat-syarat lain yang tak mudah, tetapi harus dijalani.

Perjuangan-perjuangan fisik bersenjata dengan melakukan perlawanan terhadap aparat keamanan Israel, sejauh ini hanya menghasilkan kekalahan dan kerusakan yang lebih besar di pihak Palestina. Sejauh ini, strategi yang cukup berhasil adalah dengan pendekatan diplomasi. Kini semakin banyak pengakuan internasional atas Palestina seperti oleh UNESCO dan PBB.

Sejumlah negara di Eropa, yang sebelumnya mendukung Israel, kini berubah sikap ketika banyak nilai-nilai kemanusiaan yang dihancurkan oleh Israel. Sejumlah kalangan menggelar kampanye boikot produk-produk Israel yang dihasilkan di daerah pendudukan. Bagi banyak warga Eropa dan negara-negara maju lainnya, nilai-nilai kemanusiaan adalah sesuatu yang sangat mendasar, tidak peduli apa pun latar belakang sosial dan agama, harus dihormati. Diplomasi internasional inilah yang harus terus diperkuat karena terbukti telah memberi hasil yang cukup signifikan dalam perjuangan Palestina.

Kesadaran bahwa perjuangan tidak bisa dilakukan sendirian juga mulai muncul dengan adanya kesepakatan antara kelompok Fatah dan Hamas. Ada banyak perbedaan antarkelompok, tetapi yang harus ditekankan adalah dengan melihat sisi-sisi yang sama dari berbagai kelompok tersebut, bukan malah menekankan perbedaannya. Ada kepentingan lebih besar yang harus jadi prioritas daripada kepentingan sempit masing-masing kelompok.

Solusi dua negara, yaitu Palestina dan Israel, dengan batas wilayah sebelum pendudukan pada 1967 adalah hal yang paling rasional yang harus diperjuangkan untuk menghasilkan perdamaian antar kedua belah pihak yang bersengketa. Meniadakan salah satunya, baik Palestina atau Israel sebagaimana ide dari kelompok garis keras, tak akan menemukan solusi.

Persoalan yang terjadi di Palestina telah menimbulkan persoalan baru bukan hanya di negara-negara Muslim. Berbagai kekerasan yang dilakukan oleh kelompok radikal di berbagai belahan dunia diinspirasi sebagai perlawanan terhadap negara-negara pendukung Israel dengan menghancurkan target dan aset-aset yang mereka miliki.

Kelompok politik tertentu juga menjadikan isu Palestina sebagai alat untuk menarik simpati dan dukungan dari publik. Simbol-simbol Pelestina dijadikan atribut sebagai ide pemersatu yang bisa menjadi sarana memperoleh dukungan politik dan kekuasaan yang ingin mereka raih. 

Dengan situasi seperti ini, maka persoalan Palestina adalah persoalan bersama, bangsa-bangsa di dunia, bukan hanya sekadar persoalan umat Islam atau sekadar bangsa Palestina. Penyelesaian yang baik di pada akar persoalannya, yaitu dukungan penuh terhadap kemerdekaan Pelestina dan upaya rekonstruksi berbagai kerusakan yang selama ini terjadi, akan menyelesaikan berbagai persoalan turunan yang kini terus menyebar ke seluruh penjuru dunia. (Ahmad Mukafi Niam)

Ahad 5 November 2017 17:0 WIB
Mengembangkan Dakwah melalui Seni
Mengembangkan Dakwah melalui Seni
Sharla Martiza (The Voice Kids Indonesia).
Lagu Assalamu’alaika ya Rasulallah yang dinyanyikan oleh Sharla Martiza dalam ajang reality show di sebuah TV swasta menjadi viral. Cuplikan lagu yang diunggah di Youtube ditonton oleh lebih dari 4.8 juta. Repost oleh Maher Zain, menuai tayangan lebih dari 500 ribu berbagai akun media sosial me-repost lagu yang dinyanyikan oleh remaja dengan suara merdu dari Jombang itu.

Sesungguhnya dakwah melalui seni memiliki potensi untuk meraih perhatian dari masyarakat. Selama ini, dakwah melalui ceramah-ceramah di panggung sangat dominan. Kelompok tertentu bahkan menyampaikannya aksinya di panggung dengan retorika-retorika yang sangat keras dengan menyatakan bahwa praktik-praktik keagamaan yang dilakukan oleh orang di luar komunitasnya dianggap bidah dan sesat. 

Seni merupakan sebuah bahasa universal yang bisa dipahami oleh siapa saja. Seni menghasilkan jiwa-jiwa yang lembut. Dakwah yang dilakukan dengan kelembutan akan menghasilkan sikap keberagamaan yang lembut dan santun. Sayangnya potensi besar untuk berdakwah melalui seni ini kurang mendapat perhatian. Bahkan, bagi sebagian Muslim konservatif, seni cenderung dijauhi karena dianggap agak dekat dengan dunia kemaksiatan dan kehidupan bebas ala seniman.  Akibatnya seni menjadi media sekuler yang diproduksi untuk tujuan-tujuan komersial yang isinya asal disukai publik. Soal apakah kontennya mendidik atau  tidak, bukan menjadi urusan bagi produsennya. Konten di TV dan internet sebagai sumber hiburan, sangat minim dengan hal-hal yang sifatnya religius yang dapat menghibur masyarakat sekaligus mendekatkan diri kepada Allah. 

Secara alamiah, komunitas NU telah menjalankan dakwah melalui seni, seperti dilakukan oleh Habib Syech yang menggelar shalawatan ke berbagai penjuru Indonesia. Grup-grup shalawat lokal yang terinspirasi oleh keberadaan Habib Syech juga tumbuh di berbagai daerah. Kombinasi pertunjukan seni dan orasi juga sudah banyak dilakukan untuk menarik jamaah agar mau berkunjung ke lokasi pengajian. 

Pasar seni religi yang besar ini juga mendapat perhatian dari kelompok-kelompok band pop seperti yang dilakukan oleh Ungu, Wali, Bimbo, Haddad Alwi, dan lainnya. Mereka biasanya melansir lagu-lagu terbarunya menjelang Ramadhan tiba, ketika masyarakat semakin dekat dengan hal-hal yang religius. Ini sah-sah saja secara bisnis, dan ada pesan-pesan bagus yang bisa didapatkan oleh para penikmatnya. 

Di lingkungan NU, upaya memperkuat seni dilakukan dengan pembentukan kembali Lesbumi NU pada muktamar ke-31 NU tahun 2004 setelah vakum cukup lama karena kebijakan politik Orba. Pada muktamar ke-33 tahun 2015, salah satu amanatnya adalah pembentukan Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari). Seni hadrah atau sebagian dikenal dengan nama terbangan adalah seni yang populer di lingkungan pesantren. 

Salah satu ciri seni adalah kreatifitas. Mereka selalu menciptakan sesuatu yang baru atau mengubah yang ada dengan aransemen yang baru. Kita bisa amati bahwa selera musik tiap generasi juga berbeda beda. Ada saat Rhoma Irama dan Iwan Fals mencapai puncak karirnya, tapi tiap generasi memiliki idola sendiri-sendiri, dengan gaya yang dibawa masing-masing orang. Musik yang hidup di lingkungan pesantren, sudah tentu harus terus memunculkan kreatifitasnya untuk menghasilkan sesuatu yang segar, yang kekinian, yang dapat masuk ke generasi kini. Jika tidak, maka daya jangkauannya terbatas pada komunitas yang ada atau generasi-generasi tua saja. Generasi muda, kebutuhannya akan seni akan dipenuhi oleh siapa saja, yang dapat memenuhi selera mereka. Kita tidak bisa hanya mengumpat bahwa anak-anak muda semakin tidak bermoral. 

Kini, para seniman adalah idola para generasi muda. Mendekati mereka dengan gampang adalah dengan bermusik. Bagi kalangan yang lebih berumur, hidup pun menjadi semakin keras dengan sengitnya bersaingan. Seni dan musik bisa menjadi alat untuk sejenak melupakan berbagai persoalan hidup. Tapi untuk bisa sukses, tak cukup sekedar berkreasi, melainkan butuh keseriusan untuk menghasilkan  sebuah karya yang orisinil dan indah. (Ahmad Mukafi Niam)

Sabtu 28 Oktober 2017 21:30 WIB
Santri Era Digital: Konsumen atau Produsen?
Santri Era Digital: Konsumen atau Produsen?
Ilustrasi (googleplus)
Peringatan hari santri yang berlangsung pada 22 Oktober lalu berlangsung dengan sangat meriah. Sejumlah acara seperti pembacaan satu miliar shalawat Nariyah, pawai, diskusi, seminar, dan lainnya menunjukkan kegembiraan kalangan santri atas pengakuan peran yang mereka lakukan selama ini dari pemerintah dan masyarakat. Santri telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan hingga kini terus berkiprah mempertahankan eksistensi negeri ini. Santri juga telah membentuk corak Islam Indonesia yang mampu menyerap nilai-nilai lokal, membuktikan bahwa Islam tidak harus berwajah Arab, dengan tetap menjaga nilai-nilai universal Islam.

Kini, dunia berkembang dengan demikian cepat. Banyak temuan-temuan baru yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia. Perkembangan teknologi baru juga mengalami perkembangan sedemikian cepat. Sepuluh tahun lalu, tingkat kecanggihan HP baru pada tahap bisa melakukan panggilan, mengirim SMS, atau MMS. Kini, jika kita memiliki telepon dengan kapasitas terbatas seperti itu, maka akan dianggap sangat kuno. Telepon cerdas kini sudah bisa mengakses internet dengan cepat, memiliki sejumlah aplikasi canggih yang bisa digunakan untuk beragam kebutuhan. Sepuluh tahun ke depan, teknologi akan semakin canggih. Mungkin saja jauh dari bayangan kita saat ini. Semua perkembangan teknologi ini juga menyentuh kehidupan kalangan santri dan pesantren.

Teknologi telah banyak mengubah kehidupan kita. Mengingat semakin banyak kemudahan yang kita dapatkan dari teknologi, kita menjadi demikian tergantung padanya. Jika ketinggalan HP cerdas di rumah, akan ada sesuatu yang hilang karena banyak fungsi yang terkandung di dalamnya. Di samping fungsi positif yang terdapat di dalam teknologi ini, ada dampak negatif yang harus diperhatikan seperti pornografi dan hiburan-hiburan yang tanpa terasa menghabiskan waktu produktif kita. Media sosial juga menimbulkan kegaduhan-kegaduhan di masyarakat di luar ruang interaksi antarwarga dan kontrol yang lebih baik terhadap pemerintah.

Teknologi juga telah menghilangkan sejumlah pekerjaan yang dahulunya dilakukan secara manual oleh otot manusia. Tenaga pengamanan kini berkurang karena adanya CCTV, buruh-buruh pabrik digantikan dengan otomatisasi mesin. Perdagangan online juga terus meningkat, menggerus bisnis yang sebelumnya dikerjakan secara konvensional. Kemunculan aplikasi baru yang dibuat oleh orang-orang kreatif bisa dengan cepat meruntuhkan bisnis lama yang sudah mapan selama bertahun-tahun sebagaimana yang terjadi dalam bisnis transportasi yang masa depannya suram setelah kemunculannya aplikasi taksi online. Akan semakin banyak pekerjaan hilang karena kemunculan teknologi-teknologi baru ini. 

Di sisi lain hilangnya pekerjaan lama, muncul kesempatan-kesempatan baru dalam bidang teknologi seperti web developer, analis data, programmer, ahli jaringan, buzzer, brand ambassador, dan sejumlah profesi lainnya yang terkait dengan teknologi. 

Medan dakwah kini juga berubah drastis, Jika sebelumnya para dai hanya mengandalkan sarana dakwah dari panggung ke panggung atau dari majelis ke majelis lainnya, kini dakwah bisa disiarkan secara real time ke seluruh dunia dengan sejumlah aplikasi media sosial. Materi ceramah kini bisa disimpan di Youtube yang kemudian bisa diputar ulang oleh siapa saja dan dari mana saja, asal ada akses internet. Dai-dai yang sebelumnya tidak dikenal, dengan kemampuan retorikanya dan penguasaan media sosial yang baik mampu melambungkan namanya di jagat maya. Dai-dai yang masih menjalankan dakwah secara konvensional, tak mampu mengangkat namanya pada level yang lebih luas. Hanya menjadi dai-dai lokal yang hanya dikenal masyarakat setempat. 

Bagaimana kaum santri mempersiapkan diri dalam perubahan teknologi yang sedemikian cepat ini dan mengubah tatanan lama yang sebelumnya telah mapan? Saat pekerjaan-pekerjaan lama hilang digantikan dengan teknologi, apakah santri memiliki kesiapan kapasitas untuk menekuni pakerjaan baru? Bahkan, dalam ranah dakwah keagamaan yang sangat mereka kuasai pun, muncul figur-figur baru yang mensyiarkan ajaran yang tak senafas dengan keyakinan yang mereka pelajari di pesantren karena penguasaan mereka dalam dunia information, communication, dan technology (ICT).

Lembaga-lembaga pendidikan milik NU, mau tidak mau harus menyiapkan santri atau anak didiknya untuk menghadapi perubahan besar ini. Atau jika tidak, mereka hanya akan menjadi konsumen dan pasar dari produk dan jasa yang dibuat pihak lain. Bahkan, dalam ranah dakwah pun, umat yang selama ini kita rawat bisa-bisa terambil oleh kelompok lain yang mampu menggunakan teknologi dengan lebih baik. Di tengah tantangan di era digital ini, para santri dihadapkan pada pertanyaan, apakah mereka hanya akan menjadi konsumen atau sekaligus produsen? Tak mudah untuk menjawab pertanyaan besar ini. (Ahmad Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG