IMG-LOGO
Nasional

Presiden Harapkan Kemaslahatan Islam Nusantara untuk Indonesia dan Dunia

Sabtu 18 November 2017 11:1 WIB
Bagikan:
Presiden Harapkan Kemaslahatan Islam Nusantara untuk Indonesia dan Dunia
Jakarta, NU Online
Saat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meluncurkan lima aplikasi yang terdiri atas Aplikasi NU Mobile, Televisi NU Channel, Data Center, Arab Pegon, dan Mobil Halal Investigasi di halaman Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (17/11) tidak terlihat Presiden Republik Indonesia (RI) H Joko WIdodo hadir dan duduk di kursi tamu.

Seusai sambuatan Kiai Said Aqil Siroj, Jokowi menampakkan diri bukan secara fisik, melainkan melalui video yang ditampilkan di layar panggung acara. Melalui layar digital yang berada di panggung, Jokowi menyampaikan ucapan selamat atas peluncuran aplikasi tersebut.

“Selamat atas peluncuran aplikasi NU Mobile dan Televisi NU Channel,” kata Jokowi.

Melalui layar digital itu pula, pria kelahiran Surakarta ini pun mengajak hadirin untuk mendukung digital NU.

“Mari dukung digital Nahdlatul Ulama,” ajak pria yang pernah menjabat Gubernur DKI Jakarta (2012-2014) ini.

Ia menaruh harapan, peluncuran aplikasi ini dapat membawa kebaikan untuk Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya.

“Semoga khazanah dan pengetahuan Islam Nusantara akan membawa rahmat dan kesejahteraan untuk Indonesia dan dunia,” harapnya.

Hadir pada peluncuran aplikasi ini Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Wakil Ketua Umum (Waketum) PBNU H Mochammad Maksum Machfoedz, Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Menkominfo RI) Rudiantara, Staf Kepresidenan Teten Masduki, Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani, Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud, Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faisal Zaini, Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra, dan lain-lain. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Bagikan:
Sabtu 18 November 2017 23:59 WIB
Ali Ahmad Ba-Katsir, Ulama Nusantara Pelopor Sastra Drama Arab
Ali Ahmad Ba-Katsir, Ulama Nusantara Pelopor Sastra Drama Arab
Tangerang Selatan, NU Online
Direktur Islam Nusantara Center (INC) A Ginanjar Sya’ban, diantara ulama Nusantara yang memiliki kontribusi besar dalam peradaban Islam namun kurang dikenal adalah Ali Ahmad Ba-Katsir. Ia merupakan putra Nusantara asal Surabaya yang memiliki karir yang gemilang di Kairo pada paruh pertama abad kedua puluh. Ia lahir pada 1910 dan wafat pada 1969.

“Beliau dicacat dalam seluruh dunia kesusasteraan Arab modern sebagai Raid Al Misrihiyah Al Arabiyah atau pelopor sastra drama Arab di Arab,” kata Ginanjar di Sekretariat INC di Tangerang Selatan, Sabtu (18/11).

Bapak Ba-Katsir adalah orang Yaman, sementara Ibunya adalah orang Jawa. Saat kecil, Ba-Katsir pergi ke Mesir untuk belajar. Selama di Mesir, ia menggeluti dan menekuni dunia sastra. Usai menamatkan studinya, Ba-Katsir tidak pulang ke Indonesia lagi. Ia berkiprah di Mesir sampai dinaturalisasi oleh Pemerintah Mesir.

“Dikasih kewarganegaraan Mesir oleh Raja Fuad dan dipatenkan sebagai sastrawan besar Mesir,” terangnya.

“Semua sastra Arab modern dengan turunannya itu muncul di Mesir. Walaupun yang menjadi pelopor sastra modern bukan orang Mesir asli, tetapi orang Surabaya,” tambahnya.

Ba-Katsir banyak menulis karya sastra seperti novel, puisi, dan drama. Dari Diantara karya Ali Ahmad Ba-Katsir adalah Al Tsair Al Ahmar, Salamah Al Qis, Siratu Syuja’, Wa Islamah, Al Faris Al Jamil, Lailah Al Nahr, dan Audah Al Musytaq. 

“Beberapa karyanya bahkan difilmkan. Salamah Al Qis dan Wa Islamah itu difilmkan,” tukasnya. (Muchlishon Rochmat)
Sabtu 18 November 2017 23:0 WIB
Proses Masuknya Islam di Tataran Sunda, Seperti Apa?
Proses Masuknya Islam di Tataran Sunda, Seperti Apa?
Tangerang Selatan, NU Online
Proses Islamisasi di wilayah Jawa, termasuk Sunda, bisa digolongkan ke dalam tiga skema. Pertama, menaklukkan kerajaan non-Islam. Kesultanan Islam Cirebon dan Banten yang memiliki kekuatan ekonomi dan militer bergerak dari pesisir utara Jawa ke wilayah selatan. Mereka menaklukkan dan menguasai wilayah pedalaman yang masyarakatnya belum beragama Islam.

Demikian dikatakan Aditia Gunawan saat menjadi pembicara diskusi mingguan di Islam Nusantara Center (INC) Ciputat Tangerang, Sabtu (18/11). 

Kedua, mengisi jabatan birokrasi lokal dan ritual di kesultanan. Biasanya ulama pendatang yang memainkan peranan ini. Mereka masuk dan menjadi bagian dari kerajaan yang ada.

“Yang ketiga, guru-guru sufi sejak abad ketujuh belas bergerak ke wilayah-wilayah pedalaman Jawa,” kata Aditia.
Menurut Aditia, guru-guru sufi inilah yang bisa menyebarkan Islam hingga ke pedalaman. Mereka cukup diterima dengan baik oleh masyarakat setempat karena menyebarkan Islam dengan berkompromi dengan budaya lokal. Guru-guru sufi tersebut juga memiliki kekuatan-kekuatan adikodrati.

“Mereka juga mengubah pertapaan dan biara-biara Hindu Buddha menjadi sekolah-sekolah Islam,” paparnya.
Dia menjelaskan, masyarakat pedalaman Sunda bukan bukan hanya menjalankan syariat agama Islam saja, mereka juga masih mempraktikkan kearifan lokal seperti mantra-mantra untuk penyembuhan.

“Jampi-jampi itu kan sarana penyembuhan tapi dia ada ajaran Islamnya, ada juga penyesuaian terhadap ajaran sebelumnya, ajaran pra Islam,” terangnya.

Menurut dia, penyebar ajaran Islam itu juga menjadi solusi atas kesehatan masyarakat karena mereka bisa menyembuhkan penyakit-penyakit yang diderita oleh masyarakat setempat.

Meski demikian, tidak semua masyarakat Sunda menerima dengan lapang dada datangnya Islam. Ada sekelompok masyarakat yang bersikap keras terhadap penyebaran Islam di Tataran Sunda. 

“Misalnya oposisi yang masih merindukan ajaran-ajaran lama. Ada teks yang menyebutkan bahwa Islam itu sebagai prahara,” urainya. 

“Misalnya di teks Carita Parahyangan itu pengarangnya lebih memposisikan diri sebagai yang kecewa terhadap datangnya Islam,” tambahnya.

Sementara itu, Penulis Buku Masterpiece Islam Nusantara Zainul Milal Bizawie menerangkan, tidak ada perbedaan yang cukup mencolok antara proses Islamisasi di Sunda dan wilayah Jawa lainnya. Pendekatan-pendekatan yang dipakai oleh para dai dalam menyebarkan Islam pun hampir sama yaitu akulturasi budaya, nikah dengan masyarakat setempat, dan lainnya.

“Hanya sisi budayanya saja yang berbeda sehingga tampilannya pun berbeda-beda,” tuturnya. (Muchlishon Rochmat)
Sabtu 18 November 2017 19:0 WIB
Abdul Wahhab Asyi, Ulama Nusantara Pendiri Koran Swasta Pertama di Arab Saudi
Abdul Wahhab Asyi, Ulama Nusantara Pendiri Koran Swasta Pertama di Arab Saudi
Tangerang Selatan, NU Online
Abdul Wahhab Asyi lahir pada 1905 di Dar al-Asyi atau Rumah Aceh yang terletak di distrik al-Syamiyyah di Makkah. Ia merupakan ulama Nusantara yang menjadi salah satu pelopor daripada kesusastraan modern Arab Saudi. Ia juga menjadi pelopor sastra jurnalistik Arab modern.

Demikian disampaikan Direktur Islam Nusantara Center (INC) A Ginanjar Sya’ban saat menjadi narasumber dalam acara diskusi mingguan di Sekretariat INC Tangerang Selatan, Sabtu (18/11).

Menurut Ginanjar, Abdul Wahhab Asyi ini memiliki banyak kontribusi dalam peradaban Islam modern. Pertama, mendirikan koran swasta pertama kali di Arab Saudi pada tahun 1931. Ia memberi nama surat kabarnya tersebut Shaut Al-Hijaz. Ia juga tercatat sebagai pemimpin redaksi pertama surat kabar tersebut.

“Karena koran Ulumul Quro itu yang mendirikan pemerintah. Tetapi koran swasta pertama kali didirikan oleh Abdul Wahhab Asyi ini,” jelasnya.

Kedua, mendirikan persatuan sastra Arab Saudi. Kiprah Abdul Wahhab Asyi di dunia jurnalistik semakin gemilang. Lalu ia mendirikan Al-Nadi Al-Adabi Al-Su’udi atau Persatuan Sastra Arab Saudi.  

“Jadi yang mengenalkan sastra prosa, cerita pendek, novel itu Abdul Wahhab Asyi. Medianya apa? Shaut Al-Hijaz. Perkumpulannya apa? Al-Nadi Al-Adabi Al-Su’udi,” tuturnya.

"Pelopor sastra Arabia itu pelopornya orang kita, orang Aceh," tegasnya.

Di antara karya Abdul Wahhab Asyi adalah: Diwan Syauq wa Syauq (kumpulan puisi), Fath Makkah (sejarah), Hal Al-Hurub Dharurah min Dharuriyyat Al-Basyar (ulasan sosial-politik). Adapun kumpulan antologi puisinya termuat dalam buku Al-Adab Al-Hijizi, Al-Mausu’ah Al-Adabiyyah, dan Wahy Al-Shahra. (Muchlishon Rochmat)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG