IMG-LOGO
Nasional

Menag: Muslim yang Baik Jadi Warga Negara yang Baik

Rabu 22 November 2017 4:9 WIB
Bagikan:
Menag: Muslim yang Baik Jadi Warga Negara yang Baik
Lukman Hakim Saifuddin (kemenag.go.id)
Tangerang Selatan, NU Online
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menilai Muslim yang baik akan menjadi warga negara yang baik pula. Menurutnya, membela dan mempertahankan Tanah Air adalah bagian dari upaya menegakkan agama.

Hal ini disampaikan Menag saat menjadi pembicara kunci pada Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) di Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (21/11).

Menurut Menag, Tanah Air adalah tempat warga bangsa menjalankan ajaran agama. Karenanya, relasi antara hubungan antara identitas keagamaan dan identitas kewarganegaraan tidak sepatutnya dipertentangkan.

“Membela Tanah Air dan menjaga keutuhannya merupakan kewajiban agama. Seorang Muslim yang baik pasti menjadi warga negara yang baik," tegas Lukman sebagaimana rilis yang diterima NU Online.

Namun demikian, kontestasi politik, terutama dalam pemilihan umum, kata Menag, tidak jarang memunculkan masalah politik identitas primordial. Sebagian masyarakat menilai identitas primordial  seperti suku, agama, dan ras, masih memainkan peranan penting dalam politik. Dampaknya,  masyarakat terpecah dan kadang sampai muncul konflik-konflik sosial yang tidak perlu. 

"Perlu didiskusikan hubungan antara identitas keagamaan dengan identitas kewarganegaraan dalam konteks negara-bangsa," tutur Menag. 

Islam dalam sejarahnya memiliki pengalaman panjang dalam mengelola hubungan antara identitas keagamaan dan identitas kewarganegaraan. Kisah sukses itu bermula dari Piagam Madinah yang mengakui hak-hak kewarganegaraan bagi seluruh komponen masyarakat Madinah, terlepas dari perbedaan agama, suku dan ras.

Dengan tegas dinyatakan, “anna al-yahûd Ummah, wal muslimîn ummah” (orang Yahudi dan Muslim adalah umat dalam ikatan identitas agama masing-masing), tetapi pada saat yang sama, “annal muslimiina wal yahuuda ummah” (kaum Muslim dan Yahudi adalah satu ummah yang diikat oleh kesamaan sebagai warga negara). 

"Prinsipnya jelas, seperti kata Rasulullah, ‘lahum mâ lanâ wa `alayhim mâ `alayna’ (mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kita)," tegas Menag.

Konsep hampir serupa, kata Menag, dibuat para pendiri bangsa yang terdiri dari berbagai komponen masyarakat ini. Mereka bersepakat menetapkan Pancasila sebagai dasar dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan prinsip “Bhinneka Tunggal Ika”, dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

"Keragaman adalah keniscayaan dalam hidup, yang diciptakan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk disinergikan sehingga menghasilkan kekuatan dan kemajuan," tandasnya.

AICIS 2017 menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain: Syed Farid Alatas (National University of Singapore), Ronald A Lukens Bull (University of North Florida), Imtiyaz Yusuf (Mahidol University Thailand), Lisolette Abid (Vienna University, Austria), dan Livia Holden (Oxford University UK)

AICIS dihadiri pimpinan, guru besar, dosen dan peneliti di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Ada 25 narasumber utama (dalam dan luar negeri) dan 332 pemakalah yang akan mempresentasikan hasil kajian dan penelitiannya. (Red: Mahbib)

Bagikan:
Rabu 22 November 2017 23:30 WIB
Jelang Pembukaan Munas-Konbes NU, Jokowi Menginap di Mataram
Jelang Pembukaan Munas-Konbes NU, Jokowi Menginap di Mataram
Jakarta, NU Online
Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2017 akan dibuka Presiden Joko Widodo pada Kamis, 23 November 2017.  Rabu (22/11) malam, Jokowi tiba di Pulau Lombok dan menginap di sebuah hotel di Kota Mataram.

Ia beserta rombongan yang mendarat di Bandara Internasional Lombok sekitar pukul 19.00 WITA itu disambut Gubernur TGH M Zainuddin Majdi beserta pejabat setempat.

Ketua Umum PBNU juga mengonfirmasi kedatangan Presiden ketika memberikan pidato sambutan pada Malam Ramah Tamah Pemerintah Kota Mataram dengan Peserta Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2017, Rabu malam. Ia mengaku bersyukur perhelatan akbar ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat.

Munas dan Konbes NU akan dibuka Presiden Jokowi di Islamic Center, Kota Mataram. Forum tertinggi setalah Muktamar NU ini akan berlangsung pada 23-25 Novmeber 2017. Setelah prosesi pembukaan, peserta akan terbagi menjadi lima siding komisi yang tersebar di pesantren, antara lain di Pesantren Nurul Islam (Mataram), Pesantren Darul Fallah, Pesantren Darul Hikmah, Pesantren Darul Qur'an, dan Pesantren al-Halimy (Lombok Barat).

Perhelatan yang mengusung tema Memperkokoh Nilai Kebangsaan Melalui Gerakan Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi Warga ini dihadiri ribuan orang, termasuk peserta resmi forum ini yang terdiri dari jajaran pengurus PBNU, ratusan delegasi dari 34 Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), serta 31 badan otonom dan lembaga NU. Turut diundang pula para petinggi lintas partai politik, pimpinan ormas Islam, pejabat tinggi negara, peneliti, dan duta besar negara-negara sahabat. (Mahbib)

Rabu 22 November 2017 23:1 WIB
Revolusi Mental, Pilihan Dan Sikap Banser yang Patut Dicontoh
Revolusi Mental, Pilihan Dan Sikap Banser yang Patut Dicontoh
Jakarta, NU Online 
Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas, di Jakarta, Rabu (22/11) menyebut, revolusi mental sudah dilakukan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) sejak lama.

"Banser berperan dalam perjuangan hingga udara kemerdekaan bisa dinikmati masyarakat bangsa Indonesia," kata pria karib disebut Gus Yaqut itu.

Ia menyebut, Banser telah dan selalu mendedikasikan diri untuk bangsa tanpa mengharapkan imbalan apapun. Cikal-bakal Banser ialah laskar Hizbullah dan Fisabilillah. 

Dua pasukan santri bentukan kiai-kiai Nahdlatul Ulama (NU) itu terlibat dalam pertempuran Surabaya yang dikenang sebagai Hari Pahlawan setiap 10 November.

Lebih dari 6.000 ribu dari kedua laskar mengorbankan jiwa raga untuk  mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Hal tersebut ialah fakta sejarah peranan Banser untuk Indonesia tanpa pernah mengharap imbalan hingga gaji demi negara tercinta.

"Itu pembuktian sahabat punya mental baja. Mental yang tidak bisa dikalahkan siapa pun. Dan itulah revolusi mental yang sudah dilakukan Banser jauh-jauh hari. Orang bisa belajar revolusi mental dari Banser," demikian Gus Yaqut. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)


Rabu 22 November 2017 22:30 WIB
MUNAS-KONBES NU 2017
Rais 'Aam: Pesantren Harus Go Internasional
Rais 'Aam: Pesantren Harus Go Internasional
Mataram, NU Online
Rais 'Aam PBNU KH Ma'ruf Amin mendorong kaum pesantren untuk semakin percaya diri berperan tak hanya di level nasional tapi juga internasional. Menurutnya, dunia khususnya negara-negara Eropa kini sedang tertarik dengan karakter keberislaman di Nusantara. 

Ia menyampaikan hal itu pada acara Malam Ramah Tamah Pemerintah Kota Mataram dengan Peserta Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2017, Rabu (22/11) malam.

Sebelumnya Kiai Ma'ruf bercerita tentang tamunya dari salah satu negara di Eropa yang mengaku penasaran dengan Islam Nusantara. Tamunya ini bahkan di kemudian hari membuat film tentang pesantren dan berjanji bakal diputar di seluruh negara di Eropa.

Orang-orang Barat, kata Kiai Ma'ruf sesungguhnya tidak keberatan dengan haditsnya umat Islam di tengah-tengah mereka. "Tapi mereka pengennya Islam yang ada di sana adalah Islam yang seperti Nahdlatul Ulama," tambahnya.

Ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini berpendapat, di antara faktor diterimanya Islam Nusantara oleh dunia adalah karakternya yang moderat dan toleran di tengah bangsa yang plural.

"Saya menyebutnya layyinah, santun. Banyak yang salah paham, bahwa NU itu lemah. Bukan. Yang benar adalah santun. Cara berdakwahnya tidak memaksa, harus suka rela," ujarnya.

"Jadi santri harus go internasional," ucapnya kemudian.

Ia mengatakan, pengamat luar negeri yang mencermati pesantren percaya bahwa Islam di Indonesia adalah pemimpin masa depan dunia. Apalagi, tambahnya, sesuai dengan gambar logonya NU didirikan memang untuk berkiprah dalam sekala dunia.

Hadir dalam kesempatan tersebut Wali Kota Mataram TGH Ahyar Abduh, Wakil Rais 'Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Imam Besar Masjid Istiqlal yang Mustasyar PBNU KH Nasaruddin Umar, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan para pejabat tingkat kecamatan dan kelurahan di Kota Mataram. (Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG