IMG-LOGO
Seni Budaya
MUNAS-KONBES NU 2017

Rudat, Tarian Sambut Prajurit Pulang Perang

Kamis 23 November 2017 5:30 WIB
Rudat, Tarian Sambut Prajurit Pulang Perang
Apa jadinya bila pencak silat digabung gerakan tarian Saman, beriring hadrah, ditampilkan dalam waktu bersamaan? 

Indah dan ritmis. Itulah yang tersaji saat acara Khitanan Massal NU Care-LAZISNU di Pesantren Darul Hikmah, Kota Mataram, Rabu (22/11).

Adalah Sanggar Sopo Angen yang menampilkan sajian indah dan ritmis melalui seni tari dan musik tradisional khas Lombok, Rudat.

Delapan penari kompak melakukan gerakan menendang, memukul, kuda-kuda dan gerakan silat lainnya. Namun, gerakan tersebut tidaklah cepat-cepat dilakukan seperti pada pertarungan dengan ilmu silat yang sebenarnya, karena mereka harus menyesuaikan musik dari enam orang penabuh yang mengiringi.

Seni tari rudat, demikian nama tarian dan musik yang dipertunjukkan itu.

“Rudat gabungan hadrah, saman, dan silat khas Lombok,” kata pimpinan dan sekaligus pelatih Sanggar Sopo Angen, Johan Pribadi.

Para penari mengenakan kostum khas, yakni baju dan celana warna hitam beraksesoris rimbe-rimbe berwarna keemasan pada bagian luar kaki. Selain itu penari dilengkapi kain selempang bapang. 

Sementara kepala ditutup dengan sorban warna putih dan tarbus (peci) warna merah. Tak lupa kacamata juga dipakaikan untuk menambah kegagahan para penari yang melukiskan sebagai para prajurit.

Di Lombok, seni tari rudat bermula pada zaman masuknya peradaban Islam. Tarian menggambarkan kebahagiaan para prajurit yang menang usai berperang.

“Tarian juga sebagai penyambut pulangnya tentara Islam usai berperang, disambut dengan gegap gempita,” kata Johan lagi.

Tari rudat amat lekat dengan budaya Islam, seperti pemakaian rebana sebagai salah satu alat musiknya. Juga lagu-lagu yang ditampilkan semacam shalawat atau pepujian kepada Nabi. 

“Ada yang bilang rudat ini asal katanya dari raudah yang berarti taman surga,” Johan menambahkan.

Tetapi, kekinian jenis lagu yang ditampilkan tidak sebatas lagu-lagu islami saja. Itu tergantung pementasan dilakukan dalam acara apa. Setelah usai ijab qabul dalam sesi nyongkolan—arak-arakan pengantin tradisional suku Sasak, acara resmi pemerintahan, dan hari besar Islam, adalah momen ditampilkannya tari rudat. 

“Kadang kami membawakan lagu-lagu dangdut lama kayak lagu-lagunya A Rafik dan Rhoma Irama,” tutur Johan yang aktif dalam grupnya sejak 2013. 

Mengenai penabuh dan instrumen yang digunakan, Johan menyebut penabuh jidor 1 orang, tar (rebana) 1-4 orang, seruling satu orang.

“Sekarang karena zaman modern kadang melibatkan pemain keyboard kalau di pentas tertentu,”  ujar pemuda berbadan besar itu.

Satu Hati
Untuk menyiapkan pentas hari itu, Sopo Angen berlatih sehari sebelumnya. Terapi mereka juga melakukan latihan rutin seminggu dua kali, yaitu hari Sabtu dan Ahad.

Menurut Johan tidak semua orang bisa menjadi penari rudat. Meski gerakannya terlihat mudah, biasanya yang bisa menjadi penari rudat adalah orang-orang yang memiliki bakat atau garis keturunan yang juga penari rudat. Untuk Sanggar Sopo Angen sendiri, para penari berasal dari satu desa.

“Penari kami warga sekitar (sanggar). Tidak tahu bagaimana sejarahnya melatih orang dari kampung lain susah. Tarian rudat juga susah dilakukan orang yag belum terlatih,” Johan menjelaskan.

Para penari yang Johan ajak hari itu, bervariasi umurnya. Ada yang masih SD, ada yang sudah duduk di bangku SMA.

“Anggota sanggar ada yang sudah bekerja. Hari ini banyak yunior yang ikut menari,” kata Johan yang belum lama ini menampilkan sanggarnya menyambut tamu dari BKKBN di kantor Provinsi. 

Mengenai nama sanggar, Johan menjelaskan Sopo Angen artinya satu hati.

“One heart. Semangat yang ingin ditampilkan dalam tarian kami adalah satu hati,” kata Johan.

Semangat satu hati itu tergambar juga dari penuturan salah satu penarinya, Ardian. Siswa kelas 3 SMP 1 Labu Api itu bergabung dalam sanggar sejak masuk SMP atau sekitar dua tahun lalu.

“Awalnya ingin mengembangkan kesenian, ya tertarik kalau lihat tari rudat,” ujarnya.

Bagi Ardian kesusahannya adalah pada saat latihan harus menjaga kekompakan.

“Harus kompak dan disiplin,” katanya.

Sejauh ini, Ardian ikut pentas rata-rata tiga kali dalam sebulan.

Ada pula Diandri Martinus yang sudah bergabung selama enam tahun, tepatnya sejak kelas 1 SD.

“Kesusahannya kalau melakukan gerakan pencak,” kata siswa kelas 2 SMP yang bercita-cita menjadi ustad.

Sama dengan Ardian, Diandri juga ingin terus mengembangkan tari rudat. (Kendi Setiawan)

Sabtu 24 Juni 2017 0:4 WIB
Inilah 11 Fakta Menarik Seputar Perayaan Idul Fitri di Indonesia
Inilah 11 Fakta Menarik Seputar Perayaan Idul Fitri di Indonesia
Foto: Ilustrasi

Oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun
Peringatan Hari Raya Idul Fitri begitu dinanti-nantikan oleh jutaan Muslim di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Bahkan, umat  Islam di Nusantara ini dalam menyambut hari kemenangan setelah sebulan puasa, begitu berbunga-bunga, tak seperti umat lain di berbagai penjuru dunia. Dalam menyambut Idul Fitri kali ini, berikut kami sajikan sembilan fakta menarik seputar “keriuhan” Idul Fitri di Indonesia, yang tak ingin “biasa-biasa” saja.

Pertama, arus mudik. Arus mudik ini adalah arus orang-orang yang pulang dari kota-kota besar menuju kampung halaman atau tempat asalnya. Jutaan orang tenggelam di terminal, stasiun, bandara, dan khususnya di jalan raya. Mulai dari H-7 Idul Fitri, arus kendaraan biasanya padat merayap, dan tak sedikit memakan korban. Mereka rela dan mau berjuang dalam kemacetan demi untuk bertemu keluarga. Arus seperti ini akan terjadi lagi ketika mereka kembali ke kota untuk melanjutkan mimpi dan meraih asa.

Kedua, takbiran. Di malam Idul Fitri, takbiran–atau melantunkan takbir berulang-ulang–adalah hal yang paling romantis dan menakjubkan. Suara lantunan takbiran inilah yang membuat orang tak kuasa berada di luar kampungnya, atau tak bersama keluarga. Kadang, takbiran diadakan keliling kampung dengan oncor dan alat musik tradisional. Dengan iringan tabuhan bedug yang khas, takbiran di malam Idul Fitri begitu mengharukan, dan mampu menderaikan air mata. Bagi yang ada di tanah perantauan, bersiap-siaplah untuk tersayat hatinya dan berlinang air matanya mendengar lantunan kebesaran ini: Allâhu akbarullâhu akbarullâhu akbar; Lâ ilâha illallâh wallâhu akbar, Allâhu akbar walillâhilhamdu...dan selanjutnya.

Ketiga, ziarah kubur. Sudah menjadi watak dan tradisi Muslim Nusantara untuk tak melupakan leluhurnya. Menjelang Idul Fitri, mereka berbondong-bondong menuju ke makam orang-orang yang merupakan asal-usulnya. Mereka tak melupakan sejarah. Di hari-hari ini, pedagang bunga laku keras, omzet berlipat-lipat dari biasanya. Di depan makam leluhurnya, mereka merapalkan ayat-ayat suci dan doa kepada orang-orang yang dicintainya agar senantiasa dalam naungan-Nya, dilanjutkan tabur bunga, sebagai ganti pelepah kurma basah yang disebut dalam salah satu hadits nabi untuk mengurangi siksa kubur.

Keempat, suara petasan. Petasan ini juga disebut mercon atau long di beberapa daerah. Ada yang terbuat dari kertas, ada juga dari karbit, atau bambu (bumbung). Suaranya seperti bom atau meriam. Di tahun 90-an, di mana petasan masih bebas, semarak Idul Fitri begitu terasa. Gelegar dan gemuruh suara bersahut-sahutan di mana-mana. Sayang, seiring larangan dari otoritas karena “efek sampingnya” yang membahayakan, petasan kini jarang terdengar. Lebih disayangkan lagi, petasan dilarang tetapi tidak untuk produk-produk tertentu seperti kembang api, yang sepertinya produk impor. Di hari Idul Fitri, suara petasan di Indonesia adalah sebuah tradisi, sejarah dan legenda yang sungguh sayang untuk dilewatkan.

Kelima, THR. Kepanjangannya adalah Tunjangan Hari Raya. THR biasanya diberikan oleh pengusaha kepada buruh, politisi kepada konstituennya, pejabat kepada bawahannya, atau pimpinan kepada para pendukungnya. THR bisa berupa uang, sembako, atau hal-hal lain yang sekiranya menunjukkan simpati dan cinta untuk menghadapi hari bahagia. Terkhusus bagi anak-anak, THR berupa salam tempel. Hal inilah yang membuat orang berduyun-duyun menukarkan uang receh, untuk diberikan kepada anak-anak kecil yang tak kenal lelah silaturrahmi ke sana-sini merajut tali persaudaraan.

Keenam, sidang itsbat. Sidang itsbat adalah sidang penetapan awal Syawwal. Hal ini menarik karena di Indonesia seringkali berbeda-beda dalam penetapannya dan terkerucut pada dua organisasi massa Islam: NU dan Muhammadiyah. Perbedaannya adalah karena keduanya relatif beda dalam memakai standar penetapannya: NU cenderung menggunakan metode melihat bulan (ru’yatul hilal) sedang Muhammadiyah menggunakan perhitungan (hisab). Tak ayal, kadang Idul Fitri di Indonesia terjadi dua kali, bahkan lebih jika dengan ormas Islam kecil lain, kadang pula serentak. Meski demikian, patut disyukuri karena di bawah akar rumput tetap akur, tak ada bentrokan. Jika bersama alhamdulillah, jika beda juga alhamdulillah, karena umat Islam Indonesia unik: beridul fitri dua hari. Mana ada yang lain?

Ketujuh, pakaian baru. Baju baru alhamdulillah, dipakai di hari raya, tak punya pun tak apa-apa, masih ada baju yang lama. Itulah lirik lagu yang dinyanyikan oleh Dhea Ananda dan ngehits di era 90-an. Memang, setelah berpuasa selama sebulan, dosa-dosa kepada Tuhan diampuni dosanya, bagi yang melakukannya dengan takwa. Untuk itu, menyambut hari baru, alangkah eloknya shalat Id dengan pakaian baru, sebagai persembahan kepada Sang Pencipta. Meski demikian, hal ini tak diharuskan karena hakikatnya Idul Fitri bukanlah bagi orang yang berbaju baru, tetapi bagi orang yang ketaatannya kepada Allah kian bertambah. So, jika tak beli pakaian baru, toh masih ada stok lama.

Kedelapan, ketupat opor. Tak lengkap bicara tradisi dan budaya Indonesia tanpa bicara kuliner. Untuk urusan teknologi, kita (masih) kalah dengan Jepang dan Cina. Tapi tidak untuk urusan makanan. Di sini, semua makanan ada, termasuk tradisi di Hari Fitri, yaitu ketupat dan opor ayam. Ketupat adalah nasi lembut yang dimasak menggunakan janur kuning. Sedangkan opor ayam adalah masakan ayam dengan santan, bumbu dan rempah-rempah khas yang kaya rasa sehingga maknyus di lidah. Bagi sebagian Muslim tanah air, tak lengkap melewatkan Idul Fitri tanpa kehadiran ketupat dan opor ayam terhidang di meja makan.

Kesembilan, halal bihalal. Nah, inilah acara yang sangat penting. Dalam doktrin Islam, meski Tuhan Maha Pemaaf dan mengobral maaf-Nya kepada hamba yang taat, tetapi tidak untuk dosa kepada sesama. Juga, karena semakin pesatnya arus urbanisasi, perpindahan penduduk dari desa ke kota, tak memungkinkan untuk sowan, sungkem, dan meminta maaf kepada saudara, teman dan kerabat secara intens. Untuk itu, Walisongo jauh-jauh hari membuat tradisi silaturrahmi untuk maaf-memaafkan ini. Di era Presiden Soekarno–atas usulan organisator NU yaitu KH Abdul Wahab Chasbullah–halal bihalal ini terlebagakan sebagai sebuah term dan tradisi, yang juga diselenggarakan oleh negara.

Kesepuluh, pertanyaan misterius. Suasana Idul Fitri–atau banyak yang menyebut Hari Lebaran–adalah suasana kehangatan kumpul keluarga. Dalam forum itu, berbagai hal dibicarakan, mulai dari bertanya kabar, pekerjaan sampai hal-hal sepele. Bagi anak yang sudah berumur–baik cowok maupun cewek, apalagi yang jomblo–harus siap-siap berbesar hati menghadapi pertanyaan aneh dan sulit. Berdasarkan Lembaga Survey Asal-asalan (LSA), ada satu pertanyaan yang paling sulit dan misterius bagi para kawula muda, yaitu: “kapan kawin?”

Kesebelas, “Merampok”. Khusus yang terakhir ini, dapat dikatakan tradisi bukan tradisi. Pada umumnya, setelah setahun merantau di kota, mereka pulang ke kampung halaman membawa oleh-oleh dari kota berupa pakaian, makanan atau hal-hal lain sebagai hadiah kepada orang tua dan saudara-saudaranya. Ini juga sebagai cinta dan identitas bahwa mereka benar-benar bekerja di kota. Meskipun demikian, kata pepatah tak dapat dipungkiri: kasih ibu sepanjang jalan, sedangkan kasih anak sepanjang penggalan. Ketika sang anak hendak balik ke kota, orang tua membalasnya dengan bekal aneka macam: dari berkarung beras, makanan, sayuran, jajanan, sampai tanaman. Seakan anak tak mudik, tapi merampok orang tua!


*) Santri, tinggal di Purworejo.

Senin 27 Juni 2016 19:30 WIB
Gita Danaya Luncurkan Album Religi
Gita Danaya Luncurkan Album Religi
Jakarta, NU Online
Keinginan Gita Danaya untuk mengeluarkan album religi akhirnya terwujud. Setelah merampungkan tugasnya sebagai anggota DPR, ia kembali meningkatkan eksistensinya di belantika musik Indonesia.

"Alhamdulillah akhirnya mini album religi saya bisa selesai bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Sejak dulu saya ingin sekali nyanyi sambil dakwah juga,” ucap Gita Danaya saat peluncuran albumnya di Auditorium Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia, Rawamangun, Jakarta Pusat, Ahad (26/6) petang.

Mini album bertajuk "Ampunanmu" itu terdiri dari enam lagu, yaitu; Ampunanmu, Sanjunganku, Bila Ajal Tiba, Marhaban Ya Ramadhan, Berkah Ayah Bunda, dan Dirikan Sholat.

Menurut perempuan kelahiran Garut 10 Oktober 1985 ini, lagu-lagu religi yang ada dalam albumnya cukup komplit. Selain Ampunanmu sebagai hitz, lagu berjudul Sanjunganku dinilai sebagai ungkapan memohon syafaat (pertolongan) kepada Nabi Muhammad Saw.

“Lagu Sanjunganku ini bersholawat kepada Rasulullah. Sebab kita ini butuh syafaatnya,” kata penyanyi jebolan salah satu ajang pencarian bakat ini.

Album religi Ampunanmuini dikerjakan bersama musisi Hendri Lamiri, Arif Iskandar, Din Dika, dan H. Ihwan AS,  yang tak lain adalah suaminya.

“Kang  Haji (H Ihwan AS) menciptakan lima lagu di album ini. Padahal sebelumnya nggak kepikiran, tapi saya mikir kenapa nggak Kang Haji aja. Kan dia ini basiknya orang pesantren, kenapa nggak,” ujar Gita perihal peran suaminya.

Proses kreatif pembuatan album ini digarap cukup singkat. Setelah materi lagu terkumpul sekitar dua minggu, proses rekaman juga tidak butuh waktu lama. “Sekitar sebulan untuk merampungkan seluruhnya,” ungkap Gita. 

“Semoga lagu-lagu ini bisa dinikmati dan berharap masyarakat senang karena ini album religi yang kentaldengan ajaran Islam,” tutup Gita. (Zunus)

Ahad 24 April 2016 6:24 WIB
Kalam-kalam Langit, Keluhuran Al-Qur'an dan Elegi Kisah Cinta
Kalam-kalam Langit, Keluhuran Al-Qur'an dan Elegi Kisah Cinta
Oleh Syamsul Badri Islamy
Ada rasa sentimental saat menonton Kalam-kalam Langit. Setidaknya itu terasa ketika film bercerita tentang kehidupan pesantren. Termasuk elegi percintaan yang epic; muda-mudi yang saling berkirim surat. Bagian itu dikisahkan dengan pas dan ‘nyata’, tanpa ada kesan dibuat-buat sebagaimana ‘sinetron Islami’ yang justru akhirnya menjemukan.

Kalam-kalam Langit bertutur tentang niat, sesuatu yang ‘abstrak’ dan subjektif. Tentang Ja’far (Dimas Seto) yang mempunyai bakat di bidang tilawatil Qur’an dan memiliki kesempatan untuk mengikuti MTQ. Bakatnya terpantau sejak kecil, saat ia menjuarai MTQ tingkat madrasah. Tak heran sebetulnya, sebab ibunya dulu juga seorang qari’ah.

Namun, keahlian Ja’far di bidang seni baca Al-Qur'an ini terhenti karena ketidaksetujuan ayahnya yang melarang ia mengikuti pelbagai perlombaan. Alasannya, ia khawatir Ja’far akan terjebak pada niat yang salah. “Jangan menjual ayat suci hanya untuk mencari keuntungan atau popularitas,” kata ayah Ja’far yang diperankan Mathias Muchus. Saat itu, ibunya sakit-sakitan dan tak lama kemudian meninggal.

Lulus SD, Ja’far melanjutkan pendidikannya ke pesantren. Bersama dengan Nisa (Elyzia Mulachela), sahabat baiknya sejak kecil. Nisa tak hanya baik sebagai teman, ia juga sahabat yang andal dalam menghafalkan Qur’an. Di pesantren, Ja’far tetap berteman dengan Nisa. Tetapi kehadiran Azizah, putri Kiai Humaidi, sang pemimpin pesantren, di keseharian mereka membuat Nisa cemburu.

Ya, Nisa telah menyimpan rasa kepada Ja’far terutama sejak di pesantren. Alih-alih memahami perasaan Nisa, Ja’far justru meminta Nisa untuk menyampaikan surat cintanya kepada Azizah—tentu saja, karena cemburu, surat tersebut tak pernah ia sampaikan. Sementara, di sisi lain Azizah telah diincar oleh Syathori (Ibnu Jamil).

Bahkan di pesantren sekalipun, setidaknya dalam Kalam-kalam Langit, selalu ada ‘antagonis’ (yang kehadirnnya dengan atau tanpa sebab berkait dengan kebutuhan cerita). Bentuk dan skalanya variatif; mulai dari kecurangan dalam MTQ, hingga kasus pacaran, keluar dari pesantren tanpa izin, merokok, ghozob yang, diakui atau tidak, sering pula terjadi di pesantren.

Syathori, dalam visualisasi cambang yang lebat dan celak hitam yang mengitari matanya, nyalang berikrar ingin kembali mewakili Pesantren Al Amin dalam perlombaan MTQ. Selain terobsesi menjadi juara, ia punya motif lain: ingin mendapatkan Azizah. Motif itulah yang kiranya menjadi kekhawatiran ayah Ja’far.

Maka dalam satu adegan, orang tua Ja’far berpesan kepada putranya, "bacalah Qur’an atas nama Tuhanmu. Menata niat seperti itulah yang justru digambarkan menjadi kesulitan terbesar seorang qari’." Bahkan sampai saat itu, Ja’far masih terus belajar untuk memposisikan bacaan Qur’an-nya sebagai ‘dakwah’. Sementara Syathori telah tergelincir pada niatan yang salah.

Dan, antagonis selalu licik. Ja’far yang telah dipilih Kiai Humaidi untuk mewakili Al Amin, setelah sebelumnya dikuatkan KH Said Aqil Siradj, "Membaca Qur’an dengan suara yang enak dan merdu adalah bagian dari dakwah"—justru difitnah oleh Syathori dengan tuduhan yang sebetulnya ia lakukan sendiri.

Saat itu Ja’far pulang dan bolos belajar qira’ah kepada Kiai Humaidi lantaran ayahnya sakit dan harus segera dioperasi. Ia butuh uang untuk operasi. Nisa mendapat pinjaman dari Syathori dengan syarat Ja’far harus mengundurkan diri dari MTQ. Tanpa diduga, mentah-mentah ayahnya menolak bantuan itu. “Sejak kapan kamu bisa dibeli,” kata ayah Ja’far. “Kamu harus takut sama Gusti Allah.”

Maka Ja’far kembali ke pesantren dan mengembalikan uang pemberian Syathori dan mengikuti MTQ. Sayang, menjelang pengumuman, ada kabar bahwa ayah Ja’far meninggal. Ada keharuan yang menyeruak di benak dalam potongan-potongan adegan bagian ini. Tentang pertanyaan; apa lagi yang kau cari, yang bisa kau berikan dan banggakan kepada orang tua, bila mengaji saja tak bisa atau tak pernah?

Dan lantunan Ar-Rahman yang bertalu-talu membasahi jiwa yang kering kerontang. Menimbulkan getaran-getaran yang patut disyukuri, bahwa hati kita masih bisa lumer dan tersentuh dan tidak membantu saat dibacakan Kalam-Kalam Langit. Film ini sungguh nostalgia, bagi orang-orang yang telah lama meletakkan Qur’an di daftar bacaan terakhir setelah koran dan media sosial.

Perjalanan ‘sufistik’ Ja’far cukup panjang, hingga muncul pertanyaan pada diri sendiri: “Apakah ini jalanku menuju-Mu, atau hanya nafsu kemenangan?” Tapi ia selalu diingatkan pesan almarhum ayahnya, bacalah (hanya) atas nama Tuhanmu, dan untuk ibumu. Kesulitan menata niat bahkan bisa kita rasakan ketika perhelatan MTQ tingkat nasional...

Azizah menerima lamaran Syathori—hal yang cukup menyesakkan sebetulnya. Dan saat itu, ia meminta bertemu dengan Ja’far hanya untuk memintanya mengundurkan diri dari perlombaan. Suaminya, kata Azizah, sangat terobsesi menjadi juara. “Kalau kamu tidak mau melakukannya, lakukanlah demi aku,” kata Azizah.

Kalimat itu memberikan kita pelajaran: kita mesti memilih jodoh yang baik. Sebab, seperti halnya kebaikan, keburukan pun menular. Saat final, Ja’far mengedarkan pandangan ke seluruh hadirin. Kita merasakan betapa emosionalnya momen itu. Di depan Azizah, Ja’far bisa saja berkeinginan membuktikan bahwa ia lebih baik daripada Syathori.

Cerita berakhir dengan kemenangan. Ja’far mempersembahkan piala juara MTQ ke pusaran ibunya. Kemudian muncullah Nisa, yang terkesan buru-buru berujar: “Aku mencari imamku.”—terlampau menyederhanakan cerita. Ja’far memang tidak mendapat apa yang ia inginkan (Azizah), tetapi yang ia memperoleh apa yang ia butuhkan: Nisa. 

Penulis adalah Ketua LTN PCNU Kota Bekasi

IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG