IMG-LOGO
Daerah

Alfikr, Majalah Universitas Nurul Jadid Paiton Juarai Kompetisi Pendidikan Islam

Jumat 24 November 2017 4:30 WIB
Bagikan:
Alfikr, Majalah Universitas Nurul Jadid Paiton Juarai Kompetisi Pendidikan Islam
Jakarta, NU Online
Lembaga Penerbitan Mahasiswa (LPM) Alfikr Universitas Nurul Jadid (UNUJA) Paiton Probolinggo berhasil terpilih sebagai Juara I Kompetisi Majalah Mahasiswa Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) se-Indonesia kategori Media Platform yang diselenggarakan oleh  Kementerian Agama melalui Direktorat PTKI Ditjen Pendidikan Islam, Kamis (23/11/).

Tidak hanya kategori Media Platform, salah satu kru LPM ALFIKR UNUJA juga menyabet tiga juara I kategori Karya Jurnalistik, yaitu M. Arwin Juara I penulisan Feature, Zainul Hasan R. Juara I Cover/Layout/Tata, dan Sholehuddin Juara I Kartun Opini.

Terdapat 2 kategori dalam Kompetisi Majalah Mahasiswa PTKI ini. Pertama, kategori Media Platform yang terdiri dari Media Cetak dan Media Online.

Kedua, kategori Karya Jurnalistik, diantaranya: In Depth News, Feuture, Opini, Foto Jurnalistik, Cover/Layout/Tata Wajah, Kartun Opini.

Sebelumnya para peserta telah melakukan dua tahap penilaian mulai dari seleksi dokumen majalah yang dikirimkan mulai tanggal 25 Oktober sampai 12 November, dan penilaian tahap kedua melalui persentasi dan wawancara.

Kompetisi yang digelar di Hotel Santika BSD City Serpong Tangerang Selatan selama tiga hari ini diikuti oleh 55 mahasiswa dan 25 finalis media kampus yang berasal dari pelbagai Perguruan Tinggi Islam se-Indonesia dengan kategori kompetisi yang berbeda.

Abdul Hamid Wahid, Rektor UNUJA Paiton Probolinggo mengaku  senang mendengar kabar prestasi mahasiswanya.

"Sangat senang dan bersyukur, Ini adalah bagian dari kado terindah bagi UNUJA yang baru saja diresmikan menjadi Universitas," ungkapnya saat dikonfirmasi melalui saluran telepon 

Lebih lanjut Hamid mengharapkan Alfikr dapat terus menjadi informasi alternatif masyarakat yang Kritis dan Moderat di tengah banyaknya informasi hoaks, penyebar kebencian, dan radikalisme. (Hasanudirn Tiro/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Jumat 24 November 2017 21:30 WIB
Mahasiswi STAINU Temanggung Juara I Lomba Lari Pra-Peparprov Jateng 2017
Mahasiswi STAINU Temanggung Juara I Lomba Lari Pra-Peparprov Jateng 2017
Yosita (tengah)
Surakarta, NU Online
Dari ratusan atlet yang berasal dari 30 kabupaten/kota se Jawa Tengah, Yosita Bella Noveliasari mahasiswi semester 1 Prodi PAI Jurusan Tarbiyah STAINU Temanggung berhasil menyabet Juara 1 dalam Pekan Paralimpik Provinsi (Peparprov) Jateng 2017 yang diselenggarakan pada Kamis-Sabtu, 23-25 November 2017.

Dari perlombaan itu, Yosita pada Jumat (24/11)berhasil menyabet Juara 1 cabang olahraga atletik lari.

Ia menceritakan sempat terkendala lantaran harus melepas kerudung karena sudah menjadi ketentuan panitia. Namun, sebelumnya ia meminta izin teman-teman sekelas dan meminta doa agar menjadi juara dan akhirnya semua itu terkabul.

Sesuai data yang disampaikan Priyono Ketua Panitia, sampai Rabu (22/11), ada sekitar 410 atlet dan oficial. Mereka berdatangan ke Asrama Haji Donohudan sebagai tempat penginapan bersama. Kemudian bertanding sesuai cabang olahraganya.

Tiga cabang olahraga yang dilombakan atau dipertandingkan pada kualifikasi menuju Peparprov Jateng III/2018 yakni atletik yang dilombakan di Stadion Sriwedari; bulu tangkis di GOR Sinar Kasih Solo; dan tenis meja di Gedung Pengkot Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) kawasan Manahan.

Usai juara, para atlet di cabang masing-masing akan maju ke ajang Paperprov Jateng 2018 mendatang.

"Alhamdulillah bisa menjadi juara, tapi sebenarnya saya juga malu. Berkat teman-teman, dan doa para dosen, saya bisa mewakili STAINU Temanggung juga dalam ajang perlombaan kali ini," kata Yosita.

Sementara itu, Fadloli dosen penggagas Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Olahraga STAINU Temanggung merespons positif prestasi itu.

"Tentunya kita harus bangga mempunyai mahasiswa yang di luar dugaan ternyata mampu mengharumkan nama STAINU Temanggung lewat prestasi olahraga," katanya.

Semoga ke depan, lanjut dia, lebih banyak lagi mahasiswa kita yang mampu berprestasi di luar sampai tingkat nasional lewat jalur UKM Olahraga di kampus kita. 

Menurut dia, minggu depan juga akan dilaunching secara resmi UKM Olahraga STAINU Temanggung sebagai UKM baru yang menjadi wadah pengembangan bakat olahraga mahasiswa maupun mahasiswa. (Ibda/Kendi Setiawan).
Jumat 24 November 2017 18:40 WIB
Benarkah Ki Hadjar Dewantara dan RA Kartini adalah Santri?
Benarkah Ki Hadjar Dewantara dan RA Kartini adalah Santri?
Temanggung, NU Online
Ki Hadjar Dewantara selama ini hanya dikenal sebagai Pahlawan Nasional dan Bapak Pendidikan Nasional. Padahal, Raden Mas Suwardi Suryaningrat merupakan salah satu di antara ribuan santri di Nusantara yang berkiprah banyak dalam dunia pendidikan.

"Suwardi Suryaningrat atau kita kenal Ki Hadjar Dewantara adalah santri tulen. Beliau adalah hafiz dan santri tulen yang menjadi Pahlawan Nasional dan Bapak Pendidikan Nasional," beber KH. Muhammad Furqon (Gus Furqon) Ketua PCNU Temanggung dalam acara pembinaan guru madrasah di lingkungan MWC Ma'arif Kecamatan Gemawang, Temanggung, Kamis (23/11).

Seperti diketahui, Ki Hadjar Dewantara saat kecil dikirim keluarganya mondok di sejumlah pesantren. Salah satu guru ngaji Ki Hajar Dewantara yaitu Kiai Sulaiman Zainuddin Abdurrahman, pengasuh pesantren di Kalasan Prambanan.

Salah satu santri Kiai Zainuddin adalah Suwardi Suryaningrat yang kemudian menjadi tokoh pendidikan nasional. Ki Hadjar belajar Al Quran hingga mahir membaca dan memahami isinya dari Kiai Sulaiman bahkan Ki Hadjar juga hafiz 30 juz Al Wuran.

Untuk itu, Gus Furqon berharap semua guru NU bisa meneladani kiprah dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara.

"Sebab, perjuangannya bagi kemajuan pendidikan formal ternyata juga diilhami dari tempaan kehidupan di pesantren," ungkapnya.

Ada perempuan yang juga santri, kata Gus Furqon. Ia lahir di Jepara, yakni Raden Ajeng Kartini.

"Beliau gelisah karena perempuan saat itu tidak mendapat kesempatan belajar dan nyantri. Lalu ia nyantri di Semarang kepada KH. Soleh Darat yang juga gurun darui Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari pendiri Nahdlatul Ulama dan KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan ulama-ulama lain," beber kiai muda tersebut.

Kita tidak tahu, katanya, bahwa sebenarnya berkat usulan Kartini-lah, Mbah Soleh Darat menulis kitab Tafsir Faidul Qulran Bi'ilmil Qur'an.

"Itu-lah peran Kartini yang tidak banyak diketahui publik," lanjut dia.

Selain sosok Ki Hadjar dan Kartini, Gus Furqon dalam kesempatan itu banyak menyinggung pula nasab keilmuwan santri dari KH. Hasyim Asyari sampai ke Rasulullah SAW.

"Pendidikan formal di NU tidak boleh hanya menerapkan konsep tarbiyah, namun harus menerapkan konsep takdib, dan ta'lim," tegasnya.

Gus Furqon berharap, santri sekarang harus melek literasi taqrib dan jangan sampai tidak mengenal NU.

"Kalau guru NU tidak mengenal NU pasti akan menjadi benalu bagi NU itu sendiri," tegasnya.

Kegiatan yang mengusung tema Mewujudkan Tanggungjawab Guru pada Madrasah untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan dengan Landasan Aussunah Waljamaah ini dihadiri puluhan guru dan kepala sekolah dari jenjang MI, MTs dan MA di lingkungan LP Ma'arif Gemawang, Temanggung.

Selain Gus Furqon, acara yang digelar di aula MA. Ma'arif NU Gemawang itu juga diisi oleh H. Miftakhul Hadi, Ketua LP Ma'arif Temanggung dan Hamidulloh Ibda dosen PGMI STAINU Temanggung. (Fadloli/Kendi Setiawan).
Jumat 24 November 2017 18:15 WIB
Berkhidmah, Cara Ulama Terdahulu Mengabdi kepada Guru
Berkhidmah, Cara Ulama Terdahulu Mengabdi kepada Guru
Pati, NU Online
Batas usia dinamis dan kreatif seseorang adalah pada usia 40 tahun. Hendaknya sebelum usia itu orang mempergunakannya untuk berkhidmah (mengabdi).  Nabi pun begitu dulu.

Demikianlah yang disampaikan KH Abdul Qoyyum Mansur, pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Lasem Rembang saat mengisi kajian dalam rangka memperingati Haul KH Mahfudz Salam dan KH MA Sahal Mahfufz. Acara tersebutdiselenggarakan oleh Perguruan Islam Matholi'ul Falah di komplek Madrasah Matholi'ul Falah Kajen Margoyoso Pati, Kamis (23/11).
 
"Nabi dulu berkhidmah kepada Siti Khodijah dengan menjadi rekan bisnisnya, sebelum akhirnya diangkat menjadi rosul usia  40 tahun. Karena sebelum usia tersebut tahun adalah masa yang penuh nikmat," kata Kiai Qoyyum.

Ia mengutip Al-Qur'an surat Al-Naml ayat 19, jikalau hendaknya sesorang dalam hidupnya harus berkhidmah Robbi auzi'nii an asykuro ni'matakalattii an'amta 'alayya wa 'alaa waalidayya wa an a'mala soolihan tardhoohu wa adkhilnii birohmatika fii 'ibadikash soolihiin.

Ayat tersebut mengandung arti, "Ya Allah, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan untuk (selalu) mengerjakan amal soleh yang Engkau ridhai, serta masukkan aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh."
 
Kiai dan intelektual muda ini juga menjelaskan bahwa ulama-ulama terdahulu juga melakukan khidmah.

"Mbah Mahfudz, Mbah Sahal dan Mbah Dullah Salam dulu juga melakukan khidmah saat masih nyantri dan sesudahnya. Beliau-bekiau berkhidmah terhadap guru-guru dan masyarakat," paparnya.
 
Menurut kiai asal Lasem tersebut, berkhidmah juga sesuai dengan apa yang dilakukan oleh para sahabat Nabi. Dulu Ibnu Mas'ud melakukan khidmah terhadap Nabi Muhammad SAw. Nabi menghampiri Ibnu Mas'ud yang kala itu pekerjaannya menggembala kambing.

Nabi meminta susu perah kambing, namun Ibnu Mas'ud mengatakan bila kambing itu milik orang lain. Nabi pun meminta Ibnu Ma'ud untuk menyerahkan kambing yang belum kawin untuk diusap. Hingga akhirnya, karena mukjizat Nabi, kambing tersebut keluar susunya.

"Susu yang keluar dari mukjizat hukumnya legal. Berbeda lagi kalau itu adalah sebuah keajaiban. Maka hukumnya tidak legal," papar Gus Qoyyum

Berdasarkan kisah Ibnu Abbas ketika itu masih kecil juga berkhidmah terhadap Nabi dengan mengambilkan air ketika qodil hajat. Setelah itu nabi mendoakan Ibnu Abbas: Ya Allah, Faqqihhu fiddin, ya Allah pandaikanlah dia (Ibnu Abbas) dalam urusan agama.

Kisah ini merupakan teori dasar seorang murid berkhidmah terhadap gurunya.

"Beda dengan orang zaman sekarang, minta doa tanpa berkhidmah dulu. Yang ada minta doa langsung minta selfi," jelas putra Kiai Mansur ini sambil terkekeh.
 
Berkhidmah ada tiga macam caranya. Pertama berkhidmah bin nafs (dengan fisik atau tenaga). Ini banyak dilakukan santri di pondok pesantren. Biasanya santri ikut di ndalem (kediaman) kiai untuk membantu-bantu pekerjaan rumah tangga kiai.

Berkhidmah kedua kedua bil mal (dengan harta). Dulu banyak sekali kiai-kiai yang memondokkan orang yang bukan siapa-siapanya (tidak ada hubungan saudara). Ini seperti yang dilakukan Mbah Kiai Kholil dulu (menantu Mbah Dullah Salam Kajen).

"Yang terakhir yakni biddu'a (dengan doa). Hendaknya ketika akan melakukan khidmah macam terakhir ini, melakukan khidmah jenis yang pertama atau yang kedua terlebih dahulu," sarannya.
 
Selain itu ada pula yang berkhidmat dengan tabarukan (mencari berkah).

"Tabarukan dengan tempat majelis para ulama. Kholid bin Walid dulu tabarukan dengan menyimpan rambut nabi," pungkas Gus Qoyyum. (Ahmad Solkan/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG