IMG-LOGO
Wawancara

Tuan Guru Bengkel dan NU NTB

Sabtu 25 November 2017 3:8 WIB
Bagikan:
Tuan Guru Bengkel dan NU NTB
Tokoh-tokoh NU Nusa Tenggara Barat dalam cerita lisan menyebutkan bahwa Rais Syuriyah PWNU NTB pertama adalah Tuan Guru Shaleh Hambali (Tun Guru Bengkel). Dia memulai aktif pada 1953. Dengan demikian, NU di NTB ada jauh setelah NU berdiri.  

Jika melihat sejarah NU secara nasional, waktu itu adalah moment politis karena NU menjadi partai setelah Muktamar Palembang tahun 1952. 

Namun, ternyata, NU pada tahun 1953 adalah kelanjutan dari NU dari periode-periode sebelumnya. Karena pada tahun 1934 sudah ada anggota NU. Bahkan ada sebuah organisasi keulamaan Ahlussunah wal-Jama’ah yang bermigrasi menjadi pengurus-pengurus NU. 

Untuk mengetahui hal itu, Abdullah Alawi dari NU Online mewawancarai Adi Fadli, penulis biografi Tuan Guru Sholeh Hambali Bengkel.

Kenapa beliau dikatakan Rais Syuriyah pertama, padahal NU di Lombok telah ada sejak tahun 1934-1935? 

Ada dua buku tentang itu, yang ditulis Tuan Guru Taqi, yang kecil. Tuan Guru Taqi itu menyebut tahun 1935, di Sumbawa 1934, sementara tahun 1953 itu kelanjutan sejarah NU, itu yang besar. Tahun 1953 itu adalah momentum disahkannya sebagai Pengurus Wilayah NTB. Sebelumnya cabang NU Lombok, karena dulu (1935) Kiai Muhammad Dahlan yang diutus dari Jawa Timur untuk membuka cabang di Ampenan. 

Dulu, awal-awalnya PUIL (Persatuan Ulama Islam Lombok) ada juga yang bilang PIL (Persatuan Islam Lombok), itu konsul NU Lombok. Nah, kemudian berubah menjadi Cabang NU Lombok. Nah, setelah itu, tahun 1953, disahkan sebagai Pengurus Wilayah. Nah, wilayah itulah yang dianggap secara resminya itu, barulah Rais Syuriyahnya yang TGH Muhammad Shaleh Hambali. 

Nanti dibaca di buku saya, saya mengusahkan memperiodisasai dari tahun 1934, Rais Syuriyahnya Ahmad Al-Kaf, Mustofa Basri. Lalu tahun 1953 barulah TGH Shaleh dan Ahsid Muzhar, itu ada dasarnya SK-SK-nya. Itu berdasarkan kopian SK yang terarsif di sini. 

Dari 1934 sampai sebelum 1953, kenapa Tuan Guru Bengkel belum masuk NU? 

Kalau kita hitung, dia pulang ke Lombok 1916 (setelah belajar di Mekkah), NU muncul setelah sepuluh tahun kemudian. Ada pergerakan Nahdlatul Wathan KH Wahab Hasbullah sebelum berdirinya NU. Pasti dia (Tuan Guru Bengkel) tahu. Tapi dia mungkin ke sininya itu belum sampai secara resmilah (mengikuti NU). Nah, pergerakan yang dekat dengan pelabuhan, dekat dengan pasar, sehingga di Ampenan (berkembang) pergerakannya, kampung Melayu, Arab di sini itu, saya tidak tahu dengan pasti. 

Pada 1953, hanya dia yang punya otoritas keulamaan bagi orang NU. Ketika resmi ini, tak ada perdebatan menetapkan dia (sebagai Rais Syuriyah) sampai akhir hayatnya, tahun 1968.

Kenapa dia mau ikut di organisasi NU?

Menurut penuturan Tuan Guru Bagu, TGH Turmudzi Badarudin, penuturannya itu, kalau kamu masuk NU, kamu bisa lewati laut. Itu sederhannya. 

Penjelasannya bagaimana? 

Jadi, pandangannya, wawasannya nanti lebih luas. Kalau masuk organisasi lokal, ya cuma di sini. 

Itu secara eksplisit, ada mana implisitnya? 

Kalau melewati laut akan memiliki cakrawala luas, karena NU itu besar, tidak lokal. Kamu masuk NU, kamu akan bermanfaat luas, di situlah kontribusi nasionalnya. Saya temukan banyak data tertulis misalkan seperti apa siapa dia ikuti muktamar NU, belum saya temukan, walaupun dalam tutur lisan, murid-muridnya katakan, dia ikut, wajib ikut, dan dari Tuan Guru Bagu, terutama, dia mengatakan, dia tetap ikut. 

Apakah ada, misalnya pertemuan fenomenal antara Tuan Guru Bengkel dengan tokoh NU nasional, misalnya dengan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari atau yang lainnya?  

Kalau dengan Mbah Hasyim, tidak saya temukan. Tapi selain itu, banyak, malah mereka yang datang, KH Wahab Hasbullah, Saifuddin Zuhri, Idham Chalid, AH Nasution (tokoh tentara), mereka datang sendiri, dan bukan sehari mereka datang, nginep, mingguan. Itu penuturan dari Tuan Guru Bagu. KH Wahab Hasbullah seminggu di Bengkel. 

Bahkan, saya dengar Kiai Bisri Mustofa, ayahnya Gus Mus pernah sebulan di situ? 

Benar itu. Begitulah kekutannya. Cuma itu belum tertulis ya, masih secara lisan.

Salah seorang yang datang adalah Bung Karno dan Bung Hatta meski berbeda waktu. Khusus pertemuan dengan Bung Karno, mengapa Tuan Guru Bengkel  begitu yakin Bung Karno akan datang ke pesantrennya? 

Entahlah. Dia punya pengawal dlahir dan batin kan. Pengawal secara lahiriah manusia dan jin. Setahu saya dari manuskrip, jinnya itu, dia memerintahkan jinnya itu berkirim surat ke Jakarta, dan itu yang bawa itu jin, yang menyampaikannya ke sana. Di manuskripnya ada. Dari keyakinan itulah, dan dari basyirah dan karomahnya, dia yakin Soekarno akan mampir. Saya tidak tulis itu karena tidak ilmiah kan. Sehingga ketika datang, tertulis sepanduk, papan, gambar kedatangannya Bung Karno, di mobil Soekarno, sore waktunya datang. 

Apa betul, pengawalnya Bung Karno udah lewat 1 km? 

Betul itu. Atau mungkin juga setengah kilo. Berhenti langsung Soekarno. Mobilnya disuruh berhenti. Santri berjajar plus anak yatim. Dia tulis di plakatnya itu, waammal yatima fala taqhar, wa aammas saila fala tanhar, itu di plakat. Plakatnya masih ada, saya simpan. 

Apa betul dia punya sekretaris atau semacam tim penulis? 

Betul itu. 

Bagaimana dia bisa tercipta jadi penulis dan produktif? 

Dia punya kekuatan tradisi di Mekkah yang terbiasa mensyarah, menerjemahkan dari kitab-kitab kecil. Sehingga ketika dia melihat kondisi masyarakat masih buta sekali, masa penjajahan, dia ciptakanlah itu. Dan itu yang pertama kali kitab tahun 1935, itu yang pertama yang saya dapatkan, entah yang sebelumnnya, tidak tahu saya. Karena kekuatan di beliau itu ada katibnya yang menulis. Dan beliau menulis itu, biasanya malam. Suruh bangun sekretarisnya, santrinya, kemudian dia diktekan. Dan itu pasti setelah shalat dan dia berwudulu, termasuk katib, menggunakan tinta celup.

Pondok pesantren beliau, Darul Qur’an, saat ini masih berlangsung?

Iya, tapi formal saja. 

Bagikan:
Rabu 8 November 2017 12:0 WIB
Menerka Lika-Liku Reformasi Arab Saudi
Menerka Lika-Liku Reformasi Arab Saudi
Pada 21 Juni 2017 Muhammad bin Salman diangkat menjadi putera mahkota.Usianya masih sangat muda, 32 tahun. Ini menjadi sejarah baru bagi Negara Kerajaan Arab Saudi. Biasanya posisi putera mahkota diisi oleh pangeran yang sudah berusia senja. 

Setelah menjabat sebagai putera mahkota, Muhammad bin Salman langsung ‘tancap gas.’ Ia membuat kebijakan-kebijakan yang reformis, radikal, dan ‘melawan arus’ di dalam segala sektor. Mulai dari birokrasi hingga paham keagamaan. Yang terbaru dan membuat heboh dunia adalah ditangkapnya sebelas pangeran, empat menteri aktif, dan puluhan mantan menteri pada Sabtu lalu (4/11). 

Sebelumnya, Muhammad bin Salman juga menegaskan akan mengembangkan Islam moderat di Arab Saudi, memperbolehkan wanita untuk menyetir mobil sendiri, dan memperbolehkan wanita untuk menonton pertandingan sepak bola dan masuk bioskop.

Di sektor birokrasi, Muhammad bin Salman juga berupaya untuk menciptakan sistem good government. Muhammad bin Salman yang juga Ketua Nazaha, lembaga anti korupsi Arab Saudi, memerintahkan untuk menangkap puluhan elit Arab Saudi tersebut dengan tuduhan korupsi. Ini disinyalir sebagai upaya Muhammad bin Salman untuk memberantas praktik-praktik korupsi yang terjadi di pemerintahan Arab Saudi yang selama ini memang tidak terjamah dan menjadikan hukum di atas segalanya. 

Hal itu dilakukan untuk menyukseskan Visi Saudi 2030 menjadi agenda besar Arab Saudi. Target dari ‘proyek’ ini diantaranya melepaskan ketergantungan pada minyak tahun 2020, meningkatkan ekspor non-minyak 50 persen, menurunkan pengangguran dari 11,6 persen menjadi 7 persen, meningkatkan kontribusi sektor swasta dari 40 persen menjadi 65 persen, dan meningkatkan partisipasi wanita di ruang-ruang publik dari 20 persen menjadi 35 persen.

Untuk mengetahui tentang apa yang sedang terjadi dan direncanakan oleh Arab Saudi lebih mendalam, Jurnalis NU Online A Muchlishon Rochmat berkesempatan mewawancarai Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (UI) Abdul Mutaali. Berikut petikan wawancaranya:


Arab Saudi ingin kembali ke Islam moderat sebagaimana yang disampaikan oleh Putera Mahkota Muhammad bin Salman di Riyadh beberapa waktu lalu. Bagaimana tanggapan anda soal ini?

Pidato Muhammad bin Salman di Riyadh beberapa waktu lalu bahwasanya Saudi tidak akan memberikan tempat bagi gerakan ekstremis, radikalis, dan teroris. Saudi hanya akan memberikan tempat bagi yang moderat. 

Saya kira pidato ini bukan hanya keinginan Muhammad bin Salman, tetapi juga dikaitkan dengan Visi Saudi 2030. Kata Muhammmad bin Salam, selama ini hukum Saudi hanya tiga yaitu Al-Qur’an, hadis, dan minyak. Dengan misi 2030, Saudi dari negara minyak menjadi negara industri. Industri itu terkait dengan investasi dan adanya inverstor. Investor mau ke Arab Saudi kalau ada jaminan keamanan, toleransi, dan keberagaman. Oleh karena itu, ada reformasi paham keagamaan.

Ketika mendengar pidatonya Muhammad bin Salman, kelompok Wahabisme agak cukup kaget. Tapi kalau kita merujuk guru-guru utama Wahabi seperti Bin Baz dan Utsaimin di akhir hayatnya cenderung agak moderat. Mereka menerima dzikir berjamaah, tidak mudah menyalahkan yang lain, diakomodasi putera Sayyid Maliki menjadi dewan penasehat raja. Artinya, ada pakem keagamaan yang sudah mulai mencair. 

Tetapi ada ulama moderat Saudi, Salman Al-Audah dan kelompoknya, yang juga ditangkap karena men-twit agar masyarakat Saudi dan Qatar mendapatkan perdamaian. Jadi sebetulnya, Islam moderat seperti apa yang hendak diwujudkan sang putera mahkota?

Saya kira tujuannya dua yaitu bukan hanya membangun image bahwa Saudi bukan eksportir ekstremisme, radikalisme, dan terorisme, tetapi juga membangun Visi Saudi 2030. Dia cari orang, dia bangun lembaga keulamaan yang kondusif dan yang ramah lingkungan dengan visi Saudi.  

Jadi bukan hanya ulama yang moderat, tetapi juga ulama yang paham dengan Visi Saudi 2030. Dalam kerangka itu, itulah Islam yang hendak dibangun. Islam yang maju dan modern. 250 ribu hektar NEOM, megaproyek Saudi yang dibangun mulai Jedah hingga Riyadh bukan hanya diperlukan kekuatan finansial, tetapi juga kelegaan hati bagaimana investasi industri mungkin tidak idealis islami seperti sekarang seperti laki dan perempuan dipisah. Akan terjadi dinamisasi keagamaan yang cukup cair. Jika ada ulama moderat yang dituduh, saya kira bukan karena radikalnya tetapi ulama tersebut belum bisa berakselerasi dengan visi Saudi 2030.

Apakah bisa dikatakan kalau bendungan sudah mulai Wahabi jebol dengan ini?

Kalau dibilang jebol sih tidak, tetapi sudah banyak bolong-bolong. Intinya adalah moderat dan modern. Ini yang sedang dibangun Muhammad bin Salman. 

Apa saja yang sudah dilakukan Muhammad bin Salman?

Sampai saat ini, Muhammad bin Salman sudah membuat lima karya. Pertama, agresi militer ke Yaman. Kedua, penggantian kalender dari Hijriyah ke Masehi. Ulama Saudi marah, lalu bisa dipahamkan. Kenapa? karena kalender Hijriyah itu waktunya lebih pendek. Artinya karyawan lebih cepat mendapat gaji sedangkan kondisi ekonomi lagi kronis. Ketiga, pemutusan diplomatik dengan Qatar. Keempat, wanita dibolehkan mengemudi mobil. Kelima, sebagai ketua lembaga anti korupsi Muhammad bin Salman menangkap sebelas pangeran, empat menteri aktif, dan puluhan mantan menteri. 

Dari sudut penindakan pemberantasan korupsi, ini adalah sesuatu yang harus diapresiasi. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa uang kerajaan dan uang rakyat itu beda-beda tipis. Tidak ada peraturan yang secara jelas mengatur segregasi antara dua sistem keuangan itu sehingga para pangeran memiliki interpretasi tersendiri soal keuangan kerajaan.

Namun, kenapa ‘pemisahan sistem keuangan’ baru dilakukan saat ini?

Ekonomi Saudi sedang sangat kronis. Jadi diperlukan ketentuan dan tata aturan yang jelas. Ini uang negara, ini uang rakyat. Ini yang boleh digunakan, ini yang tidak. Pertama, Muhammad bin Salman ingin menerapkan good government. Karena untuk menjadi industri, maka diperlukan tata kelola yang baik.  

Kedua, selama ini pangeran berada di atas hukum. Sekarang, semua sama di mata hukum. Muhammad bin Salam memberikan pesan bahwa semuanya harus tunduk kepada hukum. Karena untuk menjadi industri, maka panglimanya adalah hukum bukan keluarga. 

Apakah anda melihat bahwa dibalik penangkapan elit Saudi oleh Muhammad bin Salam ada muatan politisnya? Dan bagaimana dinamika politik Saudi ke depan?

Saya memandang memang agak sulit gebrakan Muhammad bin Salman sebagai ketua lembaga anti korupsi terlepas dari motif politis. Dimana motif politisnya. Pertama, biasanya raja-raja Saudi itu diangkat pada usia sunset atau senja. Sekarang, putera mahkota usianya dua puluh tiga tahun. Akan terjadi gejolak yang luar biasa di keluarga kerajaan. 

Dia ingin unjuk kekuatan di hadapan keluarganya, masyarakat Saudi, dan dunia internasional. Muhammad bin Salman ingin berkata bahwa jangan lihat usia saya. Saya bisa menangkap Alwaleed bin Talal dan Mit’ab bin Abdullah. Keduanya bukan orang sembarangan. Alwaleed adalah orang terkaya di kerajaan. Sedangkan, Mit’ab adalah ketua garda nasional. Kalau di Indonesia, Mit’ab itu Panglima TNI yang merangkap Menhan. Artinya, kapan pun dia ingin melakukan kudeta itu mudah.   

Kedua, jika Raja Salman mangkat, Muhammad bin Salman akan jadi raja. Namun, di saat yang bersamaan pamannya masih ada. Saudi akan masuk sejarah baru, bukan anak yang memimpin tetapi cucu. Ini akan melahirkan dinamika yang luar biasa. 
Ketika, terjadi de-Abdullahi-sasi. Seluruh keturuan Abdullah dihabisi. Ada tiga orang yaitu Mit’ab, Turki, dan Iyas bin Abdullah. Abdullah menjadi bendera koalisi keluarga non-Sudairi. Biasanya yang menjadi raja adalah anak-anak yang berasal dari ibu Sudairi. Abdullah itu bukan berasal dari Sudairi. Abdullah menjadi tempat berkumpulnya koalisi non-Sudairi. 

Dengan demikian, Muhammad bin Salman berupaya untuk mengamankan posisi.

Saya baru membaca berita yang dikeluarkan oleh kantor berita Rusia bahwa Mit’ab bin Abdullah akan melakukan kudeta. Mungkin isu yang dijual ke publik adalah tindak pidana korupsi tetapi apa yang terjadi di internal adalah kudeta. 
Dalam sistem monarki, kudeta itu sesuatu yang lazim. Karena oposisi itu tidak mungkin karena tidak memiliki ruang. Jadi musuh terbesar seorang raja adalah keluarganya. Mungkin yang paling aman dijual keluar adalah tindak pidana korupsi.

Lalu, mengapa itu dilakukan?

Langah politis selanjutnya adalah 70 persen warga Saudi adalah generasi milenial. 50 persen dari generasi milenial tersebut adalah mahasiswa magister dan doktoral di Eropa dan Amerika jurusan filsafat. Tahun ini mereka akan pulang. Sedangkan di saat yang sama, kondisi ekonomi Saudi sedang kronis. Namanya filosof; kalau tidak bisa memberi kami makan, biar kami yang jadi raja.  Maka dari itu, diperlukan sosok pemimpin yang berani dan muda. Jadi langkah politis ini adalah gebrakan yang luar biasa.  

Soal waktu penangkapan, mengapa itu dilakukan pada 4 November? Apakah ada pesan khusus atau seperti apa?

Ada pengaruhnya dalam geopolitik internasional. Mengapa pilihan waktunya Sabtu 4 November, kenapa bukan Jumat atau Minggu saja. Penangkapan sebelas pangeran, empat menteri, dan puluhan mantan menteri pada Sabtu malam itu bersamaan ketika Iran sedang merayakan tiga puluh delapan tahun pengambil alihan Kedubes Amerika di Iran. 

Artinya, berbicara Timur Tengah itu berbicara soal pengaruh. Siapa yang paling berpengaruh. Tahun delapan puluhan perang Irak-Iran berbicara siapa yang paling berpengaruh. Tahun sembilan puluhan ada perang Teluk. Siapa yang paling berpengaruh Arab Saudi Kuwait atau Irak. Saat ini, Timur Tengah bisa dikata yang berpengaruh itu tiga negara saja yaitu Iran dengan sekutunya, Arab Saudi dengan sekutunya, Qatar dan Turki. 

Jadi penangkapan 4 November itu sudah hasil istikhoroh. Kenapa 4 November? Karena 4 November 1979 terjadi Revolusi Islam Iran dan merebut Kedubes Amerika di Teheran. Pada saat yang sama, Saudi melakukan reformasi birokrasi radikal. Dunia internasional, khususnya dunia Islam sedang dijamu; mau lihat yang mana Arab Saudi atau Iran. Di pemberitaan, Saudi yang paling ramai. Dalam hal ini Saudi berhasil membuat media internasional memberitakannya daripada Iran.

Apakah yang dilakukan Saudi juga ada hubungannya dengan mundurnya Perdana Menteri Lebanon, Saad Hariri, yang terjadi pada 4 November?

Geopolitik selanjutnya adalah mundurnya Hariri. Yang menarik, setelah mundur Hariri berada di Riyadh. Kita tahu Lebanon memiliki sistem kenegaraan yang cukup unik. Perdana Menteri harus dari Islam, Presidennya Kristen, Ketua DPR nya harus dari Syiah. Perdana menteri lebih banyak mengambil ruang di Lebanon. Dan sulit ditepis bahwa Hariri adalah kawan dekat atau bisa dibilang muridnya Saudi. 

Dalam kondisi ini, tanpa Saudi di Lebanon coba lihat. Terjadi disintegritas dan instabilitas. Jadi sekali mendayung, tiga pulau terlampaui. Satu tindak pidana korupsi, kedua Lebanon, dan yang ketiga Iran. 

Ada tudingan bahwa lembaga anti korupsi, Nazaha, hanya dijadikan alat untuk menghabisi orang yang dianggap membahayakan kekuasaan Muhammad bin Salam dan Raja Salman?

Memang sulit ditepis kalau ini langkah politis. Namun untuk menciptakan good government maka harus ada tata kelola yang modern terkait keuangan. Penangkapan sebelas pangeran dan seterusnya itu dilakukan beberapa bulan setelah Saudi menandatangi kucuran dana dari IMF. Cukup ironis, negara minyak dengan cadangan 220 miliar barel sampai pinjam uang ke IMF, lemabag ribawi terbesar di dunia.

Artinya, Arab Saudi dengan rezim Salman tidak bisa mengendalikan gurita bisnis para pangeran. Kalau saja terjadi persuasi atau komunikasi yang baik antara klan Salman dengan pangeran-pangeran yang kaya itu, saya kira Saudi tidak perlu pinjam uang ke IMF. 

Saudi mencanangkan Visi 2030. Menurut anda, apakah ini akan berhasil? Dan apa saja hambatan dan tantangannya?

Saya kira dalam pertarungan ini Muhammad bin Salman akan memenangkan game ini dengan syarat dia melakukan persuasi kepada lembaga ulama. Karena ulama adalah pilar kedua di Arab Saudi. Kita tahu Arab Saudi bisa menjadi negara merdeka itu ketika berkoalisi dengan ulama.

Namun, ulama yang seperti apa? lembaga seperti apa? artinya harus ada reformasi di tingkat ulama. Islam yang lebih inklusif, Islam yang modern, Islam yang paham statistika. Kalau saya mengutip Muhammad bin Salman: Saudi itu bukan sekedar ayat, tapi implementasi ayat, dan strategi ayat. Karena Saudi hanya berbicara ini dalilnya, bagaimana implementasi dalil itu. Itu yang penting. 

Reformasi radikal, megaproyek NEOM, dan Visi Saudi 2030 akan berhasil dengan syarat. Pertama, reformasi pemikiran di lembaga ulama Arab Saudi. Kedua, good government. Semua masyarakat, khususnya keluarga kerajaan tidak ada yang kebal hukum. Ketiga, masih menjalin hubungan intensif dengan Paman Sam. 

Tetapi juga ada masalah dengan ulama, kalau Muhammad bin Salman sampai gagal melakukan komunikasi dengan ulama, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi koalisi yang dahsyat antara kubu non-Sudairi dengan lembaga ulama. Kalau ini terjadi, Saudi hanya sejarah saja.
Kamis 2 November 2017 16:0 WIB
Pendudukan Israel atas Palestina, Sampai Kapan?
Pendudukan Israel atas Palestina, Sampai Kapan?
Hingga tahun 2017 ini pendudukan Israel atas Palestina sudah berlangsung selama lima puluh tahun. Pelanggaran demi pelanggaran terus dilakukan oleh Israel. Warga Palestina dipersekusi, diusir, bahkan dibunuh. Semua aktifitas warga Palestina diawasi oleh Israel hingga detik ini. Semuanya diatur oleh Israel: suplai air, makanan, dan kebutuhan lainnya. Bahkan untuk pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya pun warga Palestina harus mengantongi izin dari Israel.

Dunia internasional mengecam dan mengutuk apa yang dilakukan Israel. Meski demikian, Israel sepertinya tidak menghiraukannya. Ia terus saja melakukan ‘kejahatan kemanusiaan’ dan perampokan hak asasi manusia warga Palestina.
Perhatian dan dukungan dunia untuk Palestina seolah tak pernah surut. Palestina memiliki wilayah yang sangat strategis: pusat tiga agama Abrahamik (Islam, Kristen, dan Yahudi), pusat wisata dunia, dan pusat peradaban dunia. Selain itu, konflik Palestina-Israel bukan hanya soal agama, tetapi juga kemanusiaan.

Ada banyak negara yang mengecam Israel dan mendukung Palestina. Indonesia adalah salah satunya. Sikap Indonesia tegas terhadap Israel. Yaitu menutup hubungan diplomasi dengan Israel selama Palestina belum merdeka. 

Namun yang menjadi pertanyaan adalah sampai kapan konflik Palestina-Israel akan berakhir? Untuk menciptakan perdamaian di sana harus dimulai mana? Dan apakah yang sudah dilakukan Indonesia untuk Palestina sudah cukup? 

Untuk menjawab itu, Jurnalis NU Online A Muchlishon Rochmat berkesempatan mewawancarai Direktur Sekolah Kajian Ilmu Stratejik dan Global Universitas Indonesia (UI) Muhammad Luthfi Zuhdi.

Hingga hari ini, konflik Palestina dan Israel masih berlarut-larut dan tidak kunjung usai. Apa sebetulnya penyebab konflik Palestina dan Israel?

Ada banyak faktor. Pertama, Israel sendiri memiliki ambisi untuk menjadi negara besar di situ. Selalu merasa tidak cukup dengan tanah yang mereka miliki. Israel bukan hanya mencaplok wilayah Palestina, tetapi juga mencaplok negara-negara di sekitarnya. Bahkan, pendudukan Israel seharusnya sampai Madinah dan Irak. 

Kedua, negara-negara besar belum memiliki minat untuk mendukung Negara Palestina yang merdeka. Kunci-kunci hubungan internasional yang ada di muka bumi ini adalah negara-negara besar. Pengakuan mereka sangat menentukan di PBB. Kalau mereka tidak menyetujui, maka Negara Palestina tidak akan berdiri. 

Israel seringkali melanggar kesepakatan-kesepakatan internasional, namun sepertinya Israel tidak mendapat hukuman. Bagaimana itu?

Banyak orang yang melakukan protes, tetapi itu seperti orang yang teriak di gurun pasir. Apapun protes yang ditujukan kepada Israel, tetapi Israel terus jalan terus. Dan Israel didukung oleh negara-negara besar, khususnya Amerika. Sehingga protes tersebut tidak membuahkan hasil apapun. 

Selama negara-negara besar tidak memiliki iktikad untuk memberikan hak kemerdekaan kepada Palestina, maka Negara Palestina tidak akan pernah terwujud karena hak veto dikuasai oleh negara-negara besar.
 
Bagaimana Anda membaca situasi dan kondisi Palestina kini terutama setelah Fatah dan Hamas berdamai?

Saya menghimbau agar mereka belajar Indonesia. Bagaimana berdemokrasi, bagaimana menyikapi perbedaan pendapat. Timur Tengah tidak terbiasa dengan demokrasi. Katakan mereka berdemokrasi, pemilihan umum di Mesir. Ketika menang, mereka mengambil seluruhnya. Lalu, kemudian ada upaya untuk saling menghilangkan posisi orang lain. Ini bahaya kalau itu yang terjadi. 

Kalau misalnya mereka melakukan pemilihan umum. Kemudian satu kelompok Hamas menang, lalu ia meniadakan yang lain dengan tidak memberikan posisi mesti akan terjadi sebuah konflik yang lebih besar lagi. Jadi harus dibagi posisinya. Yang menang jangan mengambil semuanya, tetapi harus berbagi kepada yang lain. Seperti di Indonesia bahwa yang menang tidak mengambil semuanya.  

Hingga saat ini Indonesia tetap konsisten mendukung dan membantu Palestina –baik dalam tataran diplomasi ataupun bantuan logistik, kesehatan, dan pendidikan- serta menentang Israel. Menurut Anda, apakah yang dilakukan Indonesia sudah cukup?

Untuk ukuran tertentu sudah cukup baik, tetapi artinya bukan cukup. Namun Pemerintah Indonesia perlu didorong terus. Indonesia tidak boleh berhenti di tempat. Indonesia harus jalan terus. Apa yang sudah dilakukan hingga saat ini sudah bagus, meskipun harus dilakukan peningkatan-peningkatan. Seperti pelatihan capacity building terhadap warga Palestina. Ini sudah bagus tetapi harus ditingkatkan. Sehingga ketika mereka merdeka nanti mereka siap untuk bekerja.

Jika dibandingkan dengan negara lain, Indonesia adalah negara yang tidak menyukai hal-hal provokatif. Indonesia tidak suka ngomong kesana kemari. Tetapi terus konsisten mendukung Palestina. Ini dirasakan oleh pejabat Palestina sendiri dan mereka menganggap Indonesia sebagai negara yang paling konsisten mendukungnya baik di lapangan maupun di dunia diplomatik serta dalam perjanjian-perjanjian. 

Kalau belum cukup, apa lagi yang seharusnya dilakukan Indonesia?

Pertanyaan saya apakah Indoensia sudah waktunya untuk mencoba masuk ke wilayah yang lebih dalam bagaimana terlibat dalam menciptakan perdamaian di Timur Tengah tersebut. Namun itu tidak mudah karena masalah Palestina itu seperti blackhole, apapun yang masuk hilang di situ.  Indonesia harus hati-hati dalam hal ini. 

Namun demikian, Indonesia memiliki pengalaman untuk mendamaikan beberapa negara seperti Kambodia dan Filipina Selatan. Bahkan mendamaikan konflik yang ada di Indonesia sendiri. Kita berhasil menyelesaikan konflik di Ambon, Poso, dan Aceh. Tidak banyak yang memiliki pengalaman ini sebagaimana yang Indonesia miliki. Dengan modal itu, Indonesia diharapkan bisa memberikan masukan kepada mereka.

Apakah Indonesia terkena dampak langsung dari konflik Palestina-Israel itu?

Dalam hal-hal tertentu ada. Indonesia sudah seharusnya mendukung Palestina. Pertama, di dalam konstitusi kita bahwa Indonesia anti penjajahan. Kedua, sejarah membuktikan bahwa orang yang pertama mengakui dan mendukung kemerdekaan Indonesia adalah Palestina. Ketiga, ini adalah bukan hanya masalah agama saja, tetapi juga masalah kemanusiaan. 

Kalau Indonesia kurang mendukung Palestina, maka ini dijadikan sebagai alat politik oleh oposisi untuk menjatuhkan pemerintahan. Atau paling tidak memojokkan pemerintah karena kurang mendukung Palestina. Artinya, ini bisa menjadi isu politik. Itu dampak langsungnya bagi Indonesia.

Sedangkan dampak lainnya adalah ada puluhan ribu orang Indonesia yang berkunjung ke Yerussalem. Menurut perhitungan yang saya baca, lebih dari enam puluh ribu orang Indonesia pergi ke Yerussalem setiap tahunnya. Ini berdampak langsung kepada ekonomi pariwisata Israel. Semakin banyak yang datang ke Yerussalem, maka semakin banyak yang didapat Israel. 

Kalau dampak ekonomi Israel kepada Indonesia?

Mungkin tentang perdagangan yang jumlahnya belum tahu persis karena itu tidak terbuka. Produk-produk Israel sendiri masuk ke Indonesia bisa melalui negara ketiga. Seperti produk Indonesia dulu saat diekspor ke Amerika dan Eropa juga melalui Singapura. Banyak produk Israel yang bagus dan unggul seperti alat-alat pertanian. Indonesia sebagai negara pertanian tidak bisa lepas dari itu. 

Selasa 31 Oktober 2017 10:33 WIB
Tasawuf, Oase Spiritualitas di Zaman Modern
Tasawuf, Oase Spiritualitas di Zaman Modern
KH Ali M. Abdillah.
Di era modern seperti saat ini, manusia seringkali terbius akan godaan-godaan dunia dan acapkali abai akan kehidupan akhirat dan Tuhan semesta alam. Hedonisme, konsumerisme, dan materialisme adalah deretan ‘penyakit dunia’ yang menggerogoti nilai-nilai spiritualitas manusia. Sehingga manusia hanya mementingkan sesuatu yang tampak lahiriah saja. Batiniahnya terkikis. Kesadaran akan nilai-nilai spiritualitas berada pada titik nadir –bahkan minus.

Tak hanya itu. Terorisme dan radikalisme atas nama agama juga terus bertransformasi. Mereka berdalih melakukan itu karena membela dan ingin menegakkan Islam secara kaffah. Biasanya, mereka berpedoman kepada ‘fikih saja’ yang menilai segala sesuatunya hitam-putih, halal-haram, dan cenderung hanya dua sisi.

Tasawuf bisa menjadi sumber akan nilai-nilai spiritualitas seseorang yang terkikis habis itu. Tasawuf membekali seseorang bahwa segala sesuatunya harus dilakukan hanya karena dan untuk Allah saja. Bukan yang lain. Dengan bertasawuf, hati seseorang juga akan menjadi lembut dan penuh akan cinta. Sehingga tidak sampai menyalah-nyalahkan, mengkafir-kafirkan, dan bahkan membunuh yang liyan. Belajar tasawuf bisa menjadi oase di zaman yang tandus seperti zaman modern ini.

Namun, yang menjadi soal selanjutnya adalah ada yang menilai sesat tasawuf. Bahkan, tasawuf dianggap sebuah bid’ah karena hal itu tidak ada pada zaman Nabi Muhammad. Umumnya, mereka yang berpendapat seperti ini hanya berpegang pada ‘fikih saja.’

Bukan kan ajaran agama yang disampaikan Nabi Muhammad mencakup tiga dimensi: Iman, Islam, dan Ihsan. Dimensi Iman melahirkan ilmu kalam atau teologi. Dimensi Islam melahirkan ilmu fikih atau syariat. Sedangkan Dimensi Ihsan melahirkan ilmu tasawuf. Ketiganya saling terkait. Bukan untuk dipertentangkan.

Untuk mengurai lebih lanjut, Jurnalis NU Online Ahmad Muchlishon Rochmat mewawancarai Ketua Lajnah Muwasholah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) dan Ketua Mahasiswa Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta KH Ali M. Abdillah. Berikut wawancaranya:

Ada yang menilai Tasawuf itu sesat dan bid’ah karena pada zaman Nabi Muhammad tidak ada. Bagaimana tanggapan Anda?

Istilah tasawuf dan tarekat itu muncul pada abad kedua atau ketiga Hijriyah. Memang pada zaman Nabi Muhammad dua istilah ini belum ada. Namun, rujukan ajaran tarekat dan tasawuf itu adalah Al-Qur’an dan hadis. Bahkan, Rasulullah adalah teladan dalam bertasawuf.

Al-Qur’an menyatakan di dalam Surat Al-A’la:14-15 bahwa sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya dengan berdzikir kepada Allah secara kontinuitas. Demikian juga yang ada dalam Surat As-Syams ayat sembilan. 

Apa saja yang dicontohkan Rasulullah dalam bertasawuf?

Rasulullah sendiri juga mencontohkan praktif-praktik bertasawuf. Sejak usia dua puluh lima hingga empat puluh tahun, Rasulullah sudah ‘tidak melakukan aktifitas duniawi.’ Masih namun tidak seperti sebelum nikah. Khadijah sebagai seorang istri yang kaya –dan mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah- selalu mendukung apa yang dilakukan oleh Rasulullah, termasuk saat menyendiri di Gua Hira. Dalam tasawuf ini disebut sebagai proses takhalli yakni menyucikan diri dari jiwa-jiwa yang buruk.

Dipilihnya Gua Hira oleh Rasulullah untuk menyendiri meski perjalanan ke sana sangat terjal menunjukkan bahwa Rasulullah memiliki semangat yang tinggi. Di Gua Hira ini, Rasulullah bermunajah atau riyadlah-mujahadah kepada Allah dalam bahasa tasawunya. Riyadlahnya adalah dengan mengurangi makan dan dengan selalu mengingat kepada Tuhan. Sehingga pada usia empat puluh tahun, diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul. Serta menjadi seorang yang bisa mengendalikan hawa dan nafsunya.

Ini menjadi acuan bagi orang yang bertasawuf. Rasulullah sendiri memberikan contoh. Beliau orang yang suci dan maksum, namun proses untuk mencapai penyucian itu beliau mempraktikkan secara nyata. Hal ini dilakukan agar umatnya tahu bahwa untuk mencapai tahapan itu harus dibarengi dengan riyadlah dan mujahadah.  

Itukan proses takhalli yang dialami Rasulullah, di Tasawuf sendiri kan ada istilah tahalli dan tajalli. Tahalli adalah proses merasakan kenikmatan proses ilmu yang sudah dirasakan setelah hawa nafsu bisa dikendalikan. Pada periode Mekkah, Rasulullah mengalami fase tahalli ini. Meski ia dilempari batu, kotoran, dan dicaci maki, namun ia tetap sabar. Di dalam proses tahalli, seseorang akan memilikim jiwa yang bersih dan memandang segala sesuatunya itu digerakkan oleh Allah.

Sedangkan, pada periode Madinah Rasulullah istilahnya mencapai pada tahapan tajalli. Yakni secara ruhani Rasulullah senantiasa ingat kepada Allah namun beliau melengkapinya dengan aspek syariat. Jika diMekkah belum ada syariat dan dominan pada hakikat, maka di Madinah hakikatnya sebagai rahasia pribadi dan syariat sebagai ‘bungkusnya.’ Itulah simbol takhalli, tahalli, dan tajalli yang dicontohkan oleh Rasulullah. Itu dasar bertasawuf.

Dalam konteks era modern seperti saat ini. Apa urgensi dari tasawuf?

Kehidupan terus berkembang, namun aspek kejiwaan masih tetap sama. Dari dulu hingga saat ini, nafsu ammarah dan lawwamah masih tetap sama. Hanya model dan rupanya yang berbeda.

Penyakit orang modern adalah hedonisme. Mereka hidup berfoya-foya, lupa kepada Allah dan lupa mengembalikan rezeki dari Allah. Lalu, konsumerisme yaitu memiliki uang dan belanja terus, tapi untuk zakat, infak, dan sedekah susah sekali. Selanjutnya adalah materialisme. Yakni semuanya dihitung memakai materi.

Penyakit-penyakit ini hanya bisa disembuhkan dengan praktik tasawuf dan tarekat. Ini adalah penyakit-penyakit jiwa yang dikuasai oleh ammarah dan lawwamah. Lalu, agar tidak terjebak kepada hedonisme, konsumerisme, dan meterialisme maka belajar tasawuf sehingga menjadi orang yang zuhud dan wara.

Tapi zuhud dan wara’ kan selalu diidentikkan dengan menjauhi dan membenci dunia. Pengertian zuhud dan wara dalam dunia modern tidak seperti dulu. Dalam kehidupan modern, boleh memiliki jabatan tinggi tapi jabatan tersebut dianggap sebagai amanah Allah dan tidak memasukannya ke dalam hati. Pun, memiliki harta yang melimpah silahkan, namun itu jangan dimasukkan ke dalam hati. Ketika harta dan jabatan diambil oleh Allah, ia tidak ada beban karena itu memang titipan dari Allah.

Orang yang mengamalkan tasawuf itu memiliki ketenangan batin yang luar biasa. Dia memiliki rasa tidak memiliki. Kalau orang modern bisa mengamalkan nilai-nilai tasawuf, maka akan terbangun kesalehan sosial dan kepedulian terhadap sesama. 

Bagaimana dengan persoalan terorisme dan radikalisme seperti dewasa ini. Apakah tidak ada nilai-nilai tasawuf di dalam diri para pelaku karena mereka hanya fokus pada syariat saja misalnya?

Penyakit terorisme berawal dari pemahaman agama Islam yang fiqih-oriented. Pemahaman orang yang hanya fikih saja itu membuatnya mudah menjadi radikal karena di fiqih itu hitam-putih. Maka salah satu cara untuk mencerabut akar radikalisme dari diri seseorang adalah dengan belajar fiqih yang diimbangi dengan tasawuf dan praktik tarekat. Dengan belajar tasawuf, ia akan merasakan kesejukan batiniahnya.

Awal mula terorisme adalah ada marah, dendam, benci, dan emosi yang membara terhadap yang lain. Menurut tasawuf, ini adalah penyakit batiniah yang harus dihilangkan. Tasawuf adalah oase bagi orang-orang modern yang terjebak pada hedonisme, konsumerisme, materialisme, dan radikalisme. 

Orang yang bertasawuf dan kemudian bertarekat biasanya adalah mereka yang sudah sepuh. Apakah memang ada batasan-batasan umur tertentu sehingga generasi muda ‘tidak diperkenankan ikut’?

Itu bisa diamati dari aspek sejarah. Belanda menjajah Indonesia selama tiga setengah abad, namun Belanda tidak bisa menguasai seluruh wilayah Nusantara. Lalu, kemudian Belanda menunjuk Snouck Hurgonje untuk mempelajari seluk beluk Islam untuk menaklukkan Nusantara yang memang mayoritas beragama Islam. Ia mempelajari kitab-kitab ulama Nusantara.

Kemudian ditemukan bahwa penyebab Indonesia tidak bisa ditaklukkan adalah ajaran tasawuf dan tarekat. Sebab jika seseorang sudah terkena ilmu tasawuf dan tarekat, maka yang ditakuti hanyalah Allah. Mereka yang bertasawuf dan bertarekat tidak akan bersedia menjadi pion-pion Belanda.

Kemudian, Snouck Hurgonje bekerjasama dengan ulama dan menciptakan imaje bahwa ajaran hakikat adalah sesat dan kitab-kitab tasawuf dibawa ke Belanda. Akhirnya, semakin jauh masyarakat Indonesia dengan ilmu hakikat. Hal itu bisa dilihat pada abad delapan belas hingga dua puluh bahwa tasawuf dan tarekat hanya dipraktikkan oleh orang-orang tua.

Lalu, bagaimana dengan abad saat ini?

Di abad dua puluh satu ini semangat untuk bertasawuf itu sudah mulai tumbuh. Di kalangan kaum muda, tasawuf mulai bangkit. Begitupun di kalangan intelektual. Bahkan juga sudah terbentuk komunitas-komunitas tasawuf, baik di dalam maupun luar negeri. Di Eropa dan Amerika ada Ibnu Arabi Society. Komunitas penggiat tasawuf. Di Indonesia, ada Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) yang menaungi tarekat-tarekat muktabarah.

Bahkan, JATMAN memiliki organisasi regenrasi di tingkat mahasiswa yakni Mahasiswa Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (MATAN). Organisasi ini sudah tersebar di seluruh kampus besar di Nusantara. Mereka yang ikut adalah mahasiswa muda yang memiliki ketertarikan dengan dunia batiniah atau sufisme.

Ini menunjukkan meski berada dalam tekanan, tarekat tetap eksis karena orang bertarekat akan semakin yakin dengan keimanannya dan dekat dengan Allah. 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG