IMG-LOGO
Trending Now:
Pesantren

Ini Cara Santri Darul Falah Ngalap Berkah di Forum Munas NU 2017

Senin 27 November 2017 8:3 WIB
Bagikan:
Ini Cara Santri Darul Falah Ngalap Berkah di Forum Munas NU 2017
Mataram, NU Online
Waktu telah menunjukkan pukul 00.30 dini hari. Noval Rizaldi, santri Pondok Darul Falah Mataram masih terlihat bersemangat merapikan sandal-sandal peserta Munas-Konbes NU 2017 yang keluar masuk ruangan. Ia merupakan salah satu dari puluhan santri yang ditunjuk sebagai panitia lokal selama Munas berlangsung.

Sejak dimulainya Munas, Noval berpindah-pindah tugas sesuai arahan ketua panitia. Mulai dari bagian merapikan kamar inap, perlengkapan, konsumsi dan pengarah tamu.

Menariknya, ada pembagian tugas kepanitiaan yang khusus mengurusi sandal peserta. Bagian khusus yang unik ini bersiaga di ruang-ruang pertemuan, dan di lantai-lantai yang berbatas suci.

Sandal-sandal akan dirapikan dan dibalik sehingga peserta yang akan keluar langsung dengan nyaman memakainya. Panitia yang bertugas di bagian ini stand by selama 24 jam karena lalu lalang peserta yang terus bergerak.

Noval yang sudah lima tahun mondok di pesantren ini merasa bangga dan senang karena ia bisa menjadi bagian dari perhelatan nasional NU. Terlebih yang dilayani para ulama.

Ia juga menjelaskan bahwa dirinya tidak mengerti kapan tugas merapikan sandal malam itu akan diganti oleh panitia yang lain hingga jam berapa.

"Kalau tidak ada yang ganti, ya harus siap sampai pagi pak," ujar santri berusia 17 tahun ini.

Sebagai santri, Noval tidak menolak setiap tugas yang diperintahkan. Ia sama sekali tidak mengharap apa-apa.

"Saya bersemangat pak, karena saya ingin dapat berkah," ujarnya.

Peserta Munas-Konbes NU 2017 sendiri tidak sedikit membalik sandalnya sendiri agar tidak terlalu menyulitkan santri yang bertugas.

Munas-Konbes NU 2017 ini dilaksanakan di Lombok NTB sejak tanggal 23 November. Selain Pondok Darul Falah, peserta juga ditempatkan di Pondok Pesantren Darul Qur'an, dan Pondok Pesantren Nurul Islam. (Abraham Iboy/Alhafiz K)

Bagikan:
Sabtu 25 November 2017 11:2 WIB
Pesantren Al-Muayyad Gelar Siberkreasi
Pesantren Al-Muayyad Gelar Siberkreasi
Surakarta, NU Online
Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta menggelar kegiatan bertajuk “Siberkreasi Goes to Pesantren”, Kamis (23/11). Kegiatan yang dihelat di kompleks pondok tersebut menghadirkan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara.

Panitia acara Ferry Indar Ardiansyah menerangkan ada tiga agenda besar pada kegiatan Siberkreasi ini. “Pertama, diskusi kiat syiar online via blog dan media sosial kerjasama antara Al-Muayyad dengan AIS, yang berisikan strategi optimalisasi pemanfaatan media sosial untuk syiar Islam,” terang Ferry.

Agenda kedua adalah workshop UMKM goes online untuk pengembangan UMKM baik masyarakat maupun alumni pondok Al-Muayyad. “Terakhir ada dialog Netizen Asik dengan menghadirkan Menkominfo Rudiantara,” imbuhnya.

Ditambahkan Ferry kegiatan ini juga diharapkan dapat mengedukasi masyarakat dan komunitas, khususnya dalam menggunakan internet dan media sosial.

Dalam acara dialog dengan santri Menkominfo Rudiantara mengajak santri untuk menggunakan internet dengan positif, dan juga harus berkreasi yang baik.

"Soal pemakaian gawai di pesantren diperbolehkan tentu mengikuti aturan disiplin ketika di dalam pondok," kata Rudiantara.

Kegiatan Siberkreasi dimulai sejak pagi, dan berakhir hingga sore. Acara ini diikuti santri Al-Muayyad dan para pemilik UMKM. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Jumat 24 November 2017 23:31 WIB
Mengenal Darul Qur’an Bengkel, Tempat Penutupan Munas-Konbes NU
Mengenal Darul Qur’an Bengkel, Tempat Penutupan Munas-Konbes NU
Yayasan Darul Qur’an berada di desa Bengkel, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Pesantren tersebut akan menjadi tempat penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama  dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama, Sabtu (2/11). Rencananya penutupan akan dihadiri Wakil Presiden H. Jusuf Kalla.

Pesantren itu resmi didirikan sebagai yayasan oleh TGH Shaleh Hambali pada tahun 1955. Berarti baru sekitar dua tahun ia menjabat Rais Syuriyah PWNU NTB. Sementara praktik belajar-mengajar, pesantren itu telah berlangsung sejak lama, dari tahun 1930. 

Pada tahun 1930, Tuan Guru Bengkel baru pulang belajar dari Timur Tengah. Ia memulai berdakwah dengan pengajian umum kepada masyarakat setiap Rabu. Lama-kelamaan pengajiannya ramai dikunjungi masyarakat umum. Tak hanya itu, anak-anak mulai nyantri. Maka mulailah pengajian muallimin setiap pagi. 

Selama tahun 1930-an, santri-santri berdatangan dari seluruh kabupaten di Nusa Tenggara Barat. Juga dari Bali dan Nusa Tenggara Timur.  

Melihat perkembangan itu, Tuan Guru Bengkel membuka lembaga pendidikan formal Madrasah Ibtida’yah (MI) di tahun 1955. 

Angkatan pertama santrinya itu termasuk almarhum TGH Mansur Abas, ayahnya TGH. Acmad Taqiuddin Mansur (ketua PWNU NTB sekarang), termasuk TGH Taqi juga nyantri di situ.

Tokoh-tokoh NU di Lombok saat ini, rata-rata pernah berguru ke Tuan Guru Bengkel, di antaranya TGH Lalu Turmudzi Badrudin, pengasuh pondok pesantren Qomarul Huda Bagu, Lombok Tengah. Saat ini dia merupakan salah seorang Mustasyar PBNU. 

Yayasan Darul Qur’an pernah mengalami kemunduruan, tapi bisa diatasi para pelanjutnya. Pada perkembangan selanjutnya, Yayasan Darul Qur’an membuka lembaga formal seperti MTs, MA, SMK Juruan Komputer dan Otomutif. Di bidang nonformal seperti tahfidzul Qur’an. 

Setiap tahun, lembaga pendidikan tersebut menerima siswa rata-rata 3 kelas. Jumlah keseluruhan terdapat 1.100 an murid. Padahal SMP Negeri dan SMA negeri ada di dekat pesantren itu, tapi masyarakat masih mempercayai Darul Qur’an sebagai tempat anaknya menimba ilmu.

Kepercayaan masyarakat terhadap pesantren Darul Qur’an karena di yayasan tersebut masih tetap mengajari anak-anak dengan pelajaran Ahlussuna wal Jamaah ala NU. (Abdullah Alawi, disarikan dari berbagai sumber) 


Senin 13 November 2017 22:4 WIB
Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, Perkuat Santri Zaman Milenial
Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, Perkuat Santri Zaman Milenial
Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta kampus 3.
Berjuang dalam mendakwahkan Islam yang ramah bagi semua dan penguatan paham Ahlussunnah wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama (NU) di tanah Pasundan menjadi visi KH Abun Bunyamin Purwakarta, Jawa Barat lewat pendidikan pesantren yang mengintegrasikan ilmu umum dan ilmu agama berdasarkan kitab kuning karya ulama-ulama klasik.

Kiai Abun yang juga murid KH Ilyas Ruhiyat Cipasung, Rais Aam PBNU 1994-1999 mewakafkan seluruh perjuangannya untuk menegakkan dakwah NU, salah satunya lewat Pondok Pesantren Al-Muhajirin yang pertama kali didirikannya pada 1993. Saat ini, pesantren dengan visi bilingual (bahas Arab dan Inggris) telah berdiri menjadi tiga kampus yang tersebar di Purwakarta.

Pada Jumat dan Sabtu (10-11 November 2017) lalu, pesantren Kiai Abun menjadi tuan rumah perhelatan Bahtsul Masail Pra-Musayawarah Nasional dan Konferensi Besar NU. Kegiatan bertajuk Mencari Jalan Keluar Kesenjangan Ekonomi dan Radikalisme Agama ini dinilai dengan visi pesantren Kiai Abun yang yang menekankan kemandirian ekonomi dan menangkal paham-paham radikal di Jawa Barat, khususnya di Purwakarta.

“Sesuai perjuangan guru dan kiai-kiai saya, saya wakafkan diri saya dan pesantren untuk perjuangan NU. Setidaknya dengan kegiatan Pra-Munas dan Konbes digelar di sini, pesantren saya bermanfaat bagi perjuangan NU,” ungkap Rais PCNU Purwakarta ini saat menutup perhelatan Pra-Munas, Sabtu (11/11/2017).

Saat ini, pesantren yang dipimpinnya itu mempunyai sekitar 4500 santri. Bahkan salah satu dari tiga pesantrennya tersebut menjadi lembaga pendidikan Islam favorit di Purwakarta. Visi bilingual pesantren yang menekankan santri mahir bahasa Arab dan bahasa Inggris agar mereka mampu menyesuaikan kondisi dan tantangan zaman milenial.

Profil pesantren

Al-Muhajirin Islamic Boarding School adalah lembaga pendidikan Islam yang telah berdiri sejak tahun 1993. Pembelajaran dilakukan dengan mengintegrasikan kurikulum pesantren berbasis kitab kuning dan bahasa dengan kurikulum sekolah berbasis standar nasional.

Semua santri diwajibkan tinggal di asrama dengan program pembinaan berupa pembiasaan shalat berjamaah, shalat dhuha, puasa sunah, dzikir pagi dan sore, kajian kitab kuning, percakapan bahasa Arab dan Inggris, tahsin dan tahfidz Al-Qur’an.

Berbicara tentang Pondok Pesantren Al-Muhajirin yang memiliki motto Berpikir Dinamis, Berakhlak Salaf. Berakidah Ahli Sunah wal Jamaah, dan memiliki visi Terwujudnya komunitas umat yang sholeh, cerdas, terampil, dan mandiri serta misi untuk mencetak mukmin sholihin. imam al-muttaqin, dan ulama al-amilin tentu tidak lepas dari sejarah.

Nama Al-Muhajirin diberikan, karena pembangunan pondok pesantren ini merupakan kelanjutan dari pembangunan masjid jami yang bertempat di komplek Perumahan Oesman Singawinata yang diberi nama Al-Muhajirin. Dalam pembangunan masjid itu KH Abun Bunyamin sebagai ketua panitia merangkap Ketua RW 11 Kelurahan Nagrikaler pada waktu itu.

Sebagai Pengurus Yayasan Al-Wathon, KH Abun Bunyamin bersama sejumlah tokoh lainnya berencana membeli sebidang tanah seluas 3.100 meter persegi. kemudian dibentuk panitia penerimaan wakaf yang diketuai Bambang Sutaryono yang kemudian bertugas mencari dana dan bisa membangun gedung TKA/TPA berlantai dua.

Bulan Mei 1991. panitia membuat brosur penerimaan santri baru sekaligus anak yatim dan anak tidak mampu, dari hasil penyebaran brosur tersebut terdaftar santri sebanyak IS orang yang berasal dari Purwakarta. Sumedang, Karawang, dan Subang.

Karena yang mendaftar kebanyakan anak-anak dari keluarga tidak mampu, maka untuk kebutuhan biaya makan anak-anak tersebut sebagian ditanggung para donatur.

Pada bulan Juli 1992 kemudian mendirikan Madrasah Tsanawiyah serta pembangunan Pondok Pesantren Al-Muhajirin di Jalan Veteran Gang Kenanga 11 Kebon Kolot Purwakarta melalui panitia pembangunan yang dipimpin Afif Anwari berserta teman-temannya. Santri pada saat itu. bertambah menjadi 52 orang.

Sedangkan untuk pengajaran kitab yang dimulai sejak sore (Ashar). Maghrib, dan Subuh ditangani langsung oleh KH Abun Bunyamin. Pada tanggal 7 Februari 1993 bertepatan dengan 15 Syaban 1413 H diresmikan bangunan Pondok Pesantren Al-Muhajirin yang baru oleh Bupati Purwakarta H Soedarna TM dan seluruh santri dari Jalan Veteran 163 ke Gang Kenanga II.

Kiai Abun ditemani oleh Drs Sofyan Sulaeman dan Ustadz Ade Rosyidin guru kitab salaf alumni Pesantren Miftahul Huda Manonjaya waktu peresmian Pondok Pesantren Al-Muhajirin. Karena waktu itu KH Khoer Affandi (Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya) dan KH AF Gojali dari Bandung memberikan ceramah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Juli 1994 santri bertambah menjadi 82 orang. Namun demikian para pengajar Pesantren Al-Muhajirin itu sampai tahun 1995 belum menginap di pesantren, sehingga setiap malam setelah santri tidur pukul 22.00 WIB para pembimbingnya pulang ke rumah yang berlokasi di Jalan Veteran 155 dan kembali lagi pukul 04.00 WIB untuk membangunkan para santri yang pada saat itu lokasi pesantren masih berbentuk kebun yang penuh dengan ilalang, pohon bambu, dan pohon rambutan.

Dari tahun ke tahun Pesantren Al-Muhajirin dapat berkembang walaupun banyak tantangan dimana sampai saat ini telah memiliki 4500 orang santri dari mulai Play Group, TKA, TPA/MDA, SD Plus, MTs, SMP, MA. SMA, dan STAI dengan guru dan pegawai mencapai 450 orang dan santri yang mondok 1500 orang santri lebih termasuk anak yatim dan yang tidak mampu.

Selain sistem pendidikan berbasis salaf yang diterapkan oleh pesantren sebagai metode pembelajaran, pondok pesantren Al-Muhajirin juga berusaha mengembangkan pendidikan berbasis pengembangan kreativitas, intelektualitas, spiritualitas, dan bakat minat santri.

Pendidikan ini bertujuan untuk mengembangkan dan memperluas khazanah santri dalam menggali ilmu pengetahuan. Sampai saat ini, pondok pesantren Al-Muhajirin telah berhasil membudidayakan kemampuan tersebut untuk kepentingan banyak pihak.

Tentunya, pendidikan ini tidak serta merta menjadi tujuan utama dalam proses belajar mengajar di pondok pesantren Al-Muhajirin. Meskipun pendidikan ini termasuk bagian dari usaha pondok pesantren Al-Muhajirin dalam mengembangkan visi misinya, namun pendidikan salaf (pengajian kitab kuning) tetap menjadi prioritas utama bagi santri pondok pesantren Al-Muhajirin.

Sampai saat ini, pondok pesantren Al-Muhajirin terus berusaha semaksimal mungkin untuk mengembangkan khazanah keilmuan, baik keilmuan agama maupun keilmuan umum. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG