IMG-LOGO
Nasional

Mohammad Nuh Nahkodai Badan Wakaf Indonesia

Kamis 30 November 2017 10:30 WIB
Bagikan:
Mohammad Nuh Nahkodai Badan Wakaf Indonesia
Jakarta, NU Online
Dalam rapat pleno pertama Badan Wakaf Indonesia (BWI) Selasa (29/11), mantan Menteri Komunikasi dan Informasi Mohammad Nuh terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Badan Pelaksana BWI, menggantikan Slamet Riyanto.

Dengan pengalamannya sebagai Menteri Komunikasi dan Informasi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Rektor Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, ia dinilai paling layak untuk menjadi ketua.


Dalam sambutannya sebagai ketua baru, Mohammad Nuh menyampaikan beberapa hal. Menurutnya potensi wakaf luar biasa besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam berbagai bidang dan mendukung perekonomian nasional.

"Namun, kita tidak boleh hanya berhenti sampai potensi. Tugas pengurus BWI yang baru adalah mentransformasi potensi itu menjadi kekuatan riil," ujarnya.. 
 
Ia mengibaratkan apabila kita mempunyai sebuah danau yang luas dan debit airnya jutaan meter kubik, itu adalah suatu potensi yang sangat besar.

Tetapi jika air sebanyak itu tidak dialirkan untuk menggerakkan turbin, maka tidak akan menjadi energi listrik yang bisa menerangi kehidupan.

"Demikian juga wakaf jika masih berupa potensi," tandas Nuh.

Nuh juga mengatakan tidak semua orang bisa mendapat kesempatan untuk berkhidmat di dunia wakaf. Amanat yang sekarang diterima, sebagai anggota BWI, harus ditunaikan dengan kinerja sebaik-baiknya.

"Untuk memajukan wakaf nasional sehingga wakaf bisa berkontribusi lebih besar untuk kesejahteraan masyarakat, bangsa, dan negara," tandasnya. (Red: Kendi Setiawan)
Bagikan:
Kamis 30 November 2017 22:55 WIB
Menpora Harap KOPRI jadi Wadah Mencetak Kader Hebat di Indonesia
Menpora Harap KOPRI jadi Wadah Mencetak Kader Hebat di Indonesia
Jakarta, NU Online
Menpora Imam Nahrawi menghadiri Harlah ke-50 Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Puteri (KOPRI PB PMII) di Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Kamis  (30/11) malam. Hadir dalam Harlah tersebut pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII ) KH. Nuril Huda, Ketua Umum PB PMII Agus Herlambang dan  Ketua Umum PB KOPRI Septi Rahmawati.

"Saya bersyukur kepada Allah, hari ini KOPRI genap berusia 50 tahun. Usia yang cukup matang dimana sudah melewati proses panjang, baik  proses menyenangkan maupun menyedihkan.  Dengan usia 50 tahun ini, KOPRI sudah mengantarkan  kader-kadernya sebagai pemimpin hebat di Indonesia ini. Karenanya, saya ucapkan selamat dan sukses, semoga  Harlah ke 50 tahun ini selalu di cintai oleh seluruh lapisan masyarakat," ucap Menpora.

Ia melanjutkan, perjuangan KOPRI ke depan masih cukup panjang. Karena itu, jadikan KOPRI dan organisasi pemuda yang lain sebagai wahana pendidikan dan pelatihan sekaligus gemblengan bagi calon-calon generasi masa depan. “Bukankah ke depan generasi melenial itu adalah kalian semua. Kalianlah sebagai aktivis yang akan mengawal dan menentukan masa depan bangsa ini ke depan,”  ujarnya.     

Menpora berpesan kepada KOPRI untuk terus berkarya. “Di Harlah 50 tahun KOPRI, berbuatlah yang terbaik, tunjukan karya-karya kreatif kalian. Karena  ke depan Indonesia butuh 20 juta wirausahawan muda. Sekarang kita mempunyai  wirausahawan sekitar 2 juta, masih ada 18 juta lagi calon-calon wirausahawan muda yang akan datang.  Di kongres yang akan datang kiranya semua potensi kreatif harus ditampilkan dan tentu pemerintah akan selalu memberikan dukungan,”  tutur Menpora. (Red-Zunus)
Kamis 30 November 2017 22:1 WIB
Perkuat Kearifan Lokal Jelang Pilkada Serentak 2018
Perkuat Kearifan Lokal Jelang Pilkada Serentak 2018
Ilustrasi (kompasiana).
Jakarta, NU Online
Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa mengatakan Konferensi Nasional Kearifan Lokal 2017 penting dalam situasi bangsa Indonesia menghadapi Pilkada serentak tahun 2018. Solusi atas radikalisme, konflik sosial, eksklusivitas kelompok dan golongan, terorisme dan yang baru-baru ini terjadi adalah penyanderaan warga Indonesia oleh oleh kelompok bersenjata di Timika.

"Alhamdulillah berkat perjuangan TNI, Polri, dan rakyat Papua yang setia mencintai NKRI, maka semuanya dapat diselesaikan tanpa korban jiwa," papar Khofifah, Rabu (29/11) di Jakarta.

Ini semua, lanjutnya, terjadi berkat semangat kesetiaan seluruh bangsa menjaga  NKRI agar terus tegak dalam harmoni. Tentunya hal ini  tidak terlepas dari peran  kearifan lokal sebagai patron keberagaman yang saat ini masih hidup, berkembang dan berlaku hampir di semua daerah, misalnya setelah sandera dibebaskan dengan aman dan selamat maka ada upacara bakar batu sebagai tanda syukur.

Seperti diketahui, keberagaman Indonesia tampak pada 300 kelompok etnis, 1340 suku, 6 agama besar, puluhan aliran kepercayaan, yang semuanya menyebar pada 17.000 pulau di seluruh wilayah. 

"Keragaman ini jika dikelola dengan baik, maka identitas ke-Indonesiaan akan makin kental yaitu identitas kebangsaan yang bersumber dari kebhinekaan, diikat oleh Pancasila," tegas Khofifah.

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat mengatakan dalam Konferensi Nasional Kearifan Lokal dihasilkan sejumlah rekomendasi penting untuk memperkuat fungsi kearifan lokal. 

"Pertama adalah memperkuat regulasi tingkat nasional tentang kearifan lokal. Kemudian memasukkan kurikulum kearifan lokal dalam materi Muatan Lokal dimulai PAUD, TK, SD sampai perguruan tinggi baik formal maupun non formal, tidak hanya materi pengenalan bahasa daerah, tetapi penguatan faham keberagaman dalam.bingkai Pancasila," paparnya. 

Rekomendasi berikutnya adalah segera bersinergi dengan kementerian terkait khususnya Kementerian Desa dalam memperkuat kearifan lokal/adat dalam pembangunan desa. 

"Kita juga akan optimalkan dan mobilisasi Tenaga Pelopor Perdamaian sampai tingkat desa atau kelurahan untuk memperkuat peran dan fungsi kearifan lokal," kata Harry. 

Konferensi Nasional Kearifan Lokal 2017 diikuti 400 orang dari 34 provinsi, 340 unsur masyarakat yang terdiri dari tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh adat, lembaga keagamaan (NU, Muhammadiyah, PGI, KWI, Walubi, PKBI, Matakin), kepolisian, TNI, BIN Daerah, serta Dinas Sosial provinsi/kota/kabupaten. (Fathoni)
Kamis 30 November 2017 20:30 WIB
Muslimat NU Tumbuhkan Wirausaha di Desa Tertinggal
Muslimat NU Tumbuhkan Wirausaha di Desa Tertinggal
Jakarta, NU Online
Minat yang kuat dan antusias peserta untuk menghasilkan produk lokal unggulan desa mengemuka pada kegiatan Workshop Pengelolaan Prukades (Produk Unggulan Kawasan Perdesaan) Daerah Tertinggal yang digelar oleh PP Muslimat NU di Semarang, Jawa Tengah pada 25-29 November 2017.

“Peserta sangat antusias sekali,” ujar Ketua II Pimpinan Pusat Muslimat NU Nyai Hj Nurhayati Said Aqil Siroj saat dihubungi NU Online, Kamis (30/11) di Jakarta.

Untuk Workshop Prukades di Semarang ini, Muslimat NU bekerja sama dengan Kemendes PDTT RI dan Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Semarang-Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) RI memanfaatkan ikan bandeng sebagai bahan dasar untuk diolah menjadi produk unggulan perdesaan.

“Masyarakat perdesaan khususnya warga NU banyak bergerak di bidang petani dan nelayan sehingga produk unggulan yang digarap memanfaatkan hasil pertanian dan laut,” jelas Nyai Said. 

Beberapa peserta ada yang sudah berwirausaha tingkat rumahan dan ada pula yang menjadi organizer bagi desa sekitar untuh hasil olahan ikan. Choiriyah dari Sampang Madura misalnya, telah memproduksi bandeng presto yang dipasarkan di lingkungan tempat tinggalnya. 

Selain itu, Hj Maryam yang juga Ketua Muslimat NU Lombok Timur, NTB  telah beberapa tahun mengkoordinir desa di Kabupaten Lombok Timur untuk memproduksi terasi dan pangan olahan ikan. 

Namun menurut Nyai Said, terdapat problem yang  terungkap  pada  kegiatan yang diikuti oleh 6 kabupaten (Pandeglang-Banten, Musi Rawas-Sumatera Selatan, Bangkalan-Jawa Timur, Sumenep-Jawa Timur, Lombok Timur-NTB, Timor Tengah Selatan-NTT) tersebut.

“Persoalan hasil produksi yang tidak tahan lama, kekurangan peralatan modern, pengemasan atau packaging, dan pemasaran yang belum maksimal,” jelasnya.

Walau demikian, sambung Nyai Said, sejumlah kader Muslimat NU dan perempuan binaan Prukades sudah ada yang mampu mengemas produknya dengan menarik. Bahkan sudah memasarkannya di level internasional.

“Seperti di Bengkulu, mereka menciptakan produk dari olahan ikan seperi bakso dan abon ikan. Mereka juga memproduksi minuman ringan dari bahan dasar jahe merah dan sirup terong Belanda. Mereka memasarkannya hingga ke Malaysia,” papar Nyai Said.

Dia menerangkan, produk unggulan yang diolah dari hasil pertanian tidak kalah menariknya. Seperti dari bahan dasar singkong dijadikan berbagai macam produk seperti kripik.

“Kita kemas secara bagus dan menarik sehingga kita percaya diri memasarkan di toko swalayan,” tandasnya. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG