IMG-LOGO
Trending Now:
Nasional

Korban Bencana Alam di 4 Wilayah Memerlukan Bantuan

Kamis 30 November 2017 13:30 WIB
Bagikan:
Korban Bencana Alam di 4 Wilayah Memerlukan Bantuan
Jakarta, NU Online
Indonesia tengah dilanda musibah. Beberapa daerah diterpa bencana alam; banjir bandang, tanah longsor, tanah gerak, puting beliung, serta erupsi gunung berapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, (perubahan) cuaca ekstrem telah menyebabkan bencana di 28 kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali.

Daerah Istimewa Yogyakarta
Selama beberapa terakhir, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diguyur hujan dan menyebabkan bencana banjir serta tanah longsor di 114 titik di 5 kabupaten/kota, yakni di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Bantul, Gunung Kidul, dan Kulonprogo. Lima orang dinyatakan meninggal dunia, lainnya luka-luka. Hingga saat ini ribuan warga DIY terdampak bencana tinggal di pengungsian. Sejak Rabu (29/11), Pemda DIY menetapkan status siaga darurat bencana.

Pacitan
Sedikitnya 11 orang dinyatakan meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor yang terjadi di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Sulitnya akses dan curah hujan yang tinggi membuat tim evakuasi sulit turun ke lokasi. Hujan dengan debit yang tinggi sejak Senin (27/11) dan adanya tanggul yang jebol menyebabkan bencana tak terhindari.

Gunung Agung, Bali
Mengutip data BNPB, akibat letusan Gunung Agung, Bali menyebabkan jumlah pengungsi mencapai 59.820 jiwa. Mereka tersebar di 238 titik pengungsian. Warga di 22 desa harus keluar dari radius berbahaya sejauh 8-10 kilometer. Para pengungsi terancam awan panas, aliran lava, guguran batu, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat. Ancaman itu sangat berbahaya dan mematikan. 

Lombok Timur
Banjir bandang, terjadi pada Sabtu (18/11) pukul 17.30 WITA. Permukiman dan lahan pertanian digenangi banjir. Kondisi ini melanda 15 Desa di 4 Kecamatan (Lombok Timur, Keruak, Jerowaru, dan Kecamatan Sakra). Banjar bandang ini menyebabkan 2 orang meninggal dunia, 367 bangunan porak poranda. Total 2280 warga terdampak langsung bencana banjir bandang di Lombok Timur.

NU Care-LAZISNU pada Senin (20/11) malam, menjelang Munas dan Konbes NU terjun langsung ke lokasi bencana dan menyerahkan bantuan berupa sembako kepada warga terdampak. Hal itu merupakan program rescue atau tanggap bencana yang dilakukan oleh NU Care-LAZISNU, untuk kemudian dilanjutkan ke tahap recovery yakni membangun kembali beberapa rumah warga tidak mampu. 


Salah satu bantuan diberikan kepada Nenek Munah (80 tahun) yang hidup sebatang kara dan kini rumahnya raib dilahap banjir.


NU Care-LAZISNU terus mengajak masyarakat yang peduli bencana tersebut untuk menyalurkan bantuan kepada warga terdampak melalui NU Care-LAZISNU Program Siaga Bencana.

Bantuan berupa uang tunai dapat dikirimkan melalui rekening BRI: 0335.01.000.735.303; atau BNI: 010.857.6.48; atau BCA: 0680.1926.77. Semua rekening atas nama Yayasan LAZISNU.

Info dan konfirmasi donasi, dengan menyerahkan struk/bukti transfer ke nomor WA 0813 9892 6900 (Call Center NU Care-LAZISNU). Format konfirmasi *Nama* (spasi) *Alamat* (spasi) *Donasi* (nama daerah/lokasi bencana: *Yogyakarta, Pacitan, Gunung Agung, Lombok Timur*).

Mari bergerak bersama untuk bencana yang melanda Indonesia. (Red: Kendi Setiawan)
Bagikan:
Kamis 30 November 2017 22:55 WIB
Menpora Harap KOPRI jadi Wadah Mencetak Kader Hebat di Indonesia
Menpora Harap KOPRI jadi Wadah Mencetak Kader Hebat di Indonesia
Jakarta, NU Online
Menpora Imam Nahrawi menghadiri Harlah ke-50 Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Puteri (KOPRI PB PMII) di Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Kamis  (30/11) malam. Hadir dalam Harlah tersebut pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII ) KH. Nuril Huda, Ketua Umum PB PMII Agus Herlambang dan  Ketua Umum PB KOPRI Septi Rahmawati.

"Saya bersyukur kepada Allah, hari ini KOPRI genap berusia 50 tahun. Usia yang cukup matang dimana sudah melewati proses panjang, baik  proses menyenangkan maupun menyedihkan.  Dengan usia 50 tahun ini, KOPRI sudah mengantarkan  kader-kadernya sebagai pemimpin hebat di Indonesia ini. Karenanya, saya ucapkan selamat dan sukses, semoga  Harlah ke 50 tahun ini selalu di cintai oleh seluruh lapisan masyarakat," ucap Menpora.

Ia melanjutkan, perjuangan KOPRI ke depan masih cukup panjang. Karena itu, jadikan KOPRI dan organisasi pemuda yang lain sebagai wahana pendidikan dan pelatihan sekaligus gemblengan bagi calon-calon generasi masa depan. “Bukankah ke depan generasi melenial itu adalah kalian semua. Kalianlah sebagai aktivis yang akan mengawal dan menentukan masa depan bangsa ini ke depan,”  ujarnya.     

Menpora berpesan kepada KOPRI untuk terus berkarya. “Di Harlah 50 tahun KOPRI, berbuatlah yang terbaik, tunjukan karya-karya kreatif kalian. Karena  ke depan Indonesia butuh 20 juta wirausahawan muda. Sekarang kita mempunyai  wirausahawan sekitar 2 juta, masih ada 18 juta lagi calon-calon wirausahawan muda yang akan datang.  Di kongres yang akan datang kiranya semua potensi kreatif harus ditampilkan dan tentu pemerintah akan selalu memberikan dukungan,”  tutur Menpora. (Red-Zunus)
Kamis 30 November 2017 22:1 WIB
Perkuat Kearifan Lokal Jelang Pilkada Serentak 2018
Perkuat Kearifan Lokal Jelang Pilkada Serentak 2018
Ilustrasi (kompasiana).
Jakarta, NU Online
Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa mengatakan Konferensi Nasional Kearifan Lokal 2017 penting dalam situasi bangsa Indonesia menghadapi Pilkada serentak tahun 2018. Solusi atas radikalisme, konflik sosial, eksklusivitas kelompok dan golongan, terorisme dan yang baru-baru ini terjadi adalah penyanderaan warga Indonesia oleh oleh kelompok bersenjata di Timika.

"Alhamdulillah berkat perjuangan TNI, Polri, dan rakyat Papua yang setia mencintai NKRI, maka semuanya dapat diselesaikan tanpa korban jiwa," papar Khofifah, Rabu (29/11) di Jakarta.

Ini semua, lanjutnya, terjadi berkat semangat kesetiaan seluruh bangsa menjaga  NKRI agar terus tegak dalam harmoni. Tentunya hal ini  tidak terlepas dari peran  kearifan lokal sebagai patron keberagaman yang saat ini masih hidup, berkembang dan berlaku hampir di semua daerah, misalnya setelah sandera dibebaskan dengan aman dan selamat maka ada upacara bakar batu sebagai tanda syukur.

Seperti diketahui, keberagaman Indonesia tampak pada 300 kelompok etnis, 1340 suku, 6 agama besar, puluhan aliran kepercayaan, yang semuanya menyebar pada 17.000 pulau di seluruh wilayah. 

"Keragaman ini jika dikelola dengan baik, maka identitas ke-Indonesiaan akan makin kental yaitu identitas kebangsaan yang bersumber dari kebhinekaan, diikat oleh Pancasila," tegas Khofifah.

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat mengatakan dalam Konferensi Nasional Kearifan Lokal dihasilkan sejumlah rekomendasi penting untuk memperkuat fungsi kearifan lokal. 

"Pertama adalah memperkuat regulasi tingkat nasional tentang kearifan lokal. Kemudian memasukkan kurikulum kearifan lokal dalam materi Muatan Lokal dimulai PAUD, TK, SD sampai perguruan tinggi baik formal maupun non formal, tidak hanya materi pengenalan bahasa daerah, tetapi penguatan faham keberagaman dalam.bingkai Pancasila," paparnya. 

Rekomendasi berikutnya adalah segera bersinergi dengan kementerian terkait khususnya Kementerian Desa dalam memperkuat kearifan lokal/adat dalam pembangunan desa. 

"Kita juga akan optimalkan dan mobilisasi Tenaga Pelopor Perdamaian sampai tingkat desa atau kelurahan untuk memperkuat peran dan fungsi kearifan lokal," kata Harry. 

Konferensi Nasional Kearifan Lokal 2017 diikuti 400 orang dari 34 provinsi, 340 unsur masyarakat yang terdiri dari tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh adat, lembaga keagamaan (NU, Muhammadiyah, PGI, KWI, Walubi, PKBI, Matakin), kepolisian, TNI, BIN Daerah, serta Dinas Sosial provinsi/kota/kabupaten. (Fathoni)
Kamis 30 November 2017 20:30 WIB
Muslimat NU Tumbuhkan Wirausaha di Desa Tertinggal
Muslimat NU Tumbuhkan Wirausaha di Desa Tertinggal
Jakarta, NU Online
Minat yang kuat dan antusias peserta untuk menghasilkan produk lokal unggulan desa mengemuka pada kegiatan Workshop Pengelolaan Prukades (Produk Unggulan Kawasan Perdesaan) Daerah Tertinggal yang digelar oleh PP Muslimat NU di Semarang, Jawa Tengah pada 25-29 November 2017.

“Peserta sangat antusias sekali,” ujar Ketua II Pimpinan Pusat Muslimat NU Nyai Hj Nurhayati Said Aqil Siroj saat dihubungi NU Online, Kamis (30/11) di Jakarta.

Untuk Workshop Prukades di Semarang ini, Muslimat NU bekerja sama dengan Kemendes PDTT RI dan Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Semarang-Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) RI memanfaatkan ikan bandeng sebagai bahan dasar untuk diolah menjadi produk unggulan perdesaan.

“Masyarakat perdesaan khususnya warga NU banyak bergerak di bidang petani dan nelayan sehingga produk unggulan yang digarap memanfaatkan hasil pertanian dan laut,” jelas Nyai Said. 

Beberapa peserta ada yang sudah berwirausaha tingkat rumahan dan ada pula yang menjadi organizer bagi desa sekitar untuh hasil olahan ikan. Choiriyah dari Sampang Madura misalnya, telah memproduksi bandeng presto yang dipasarkan di lingkungan tempat tinggalnya. 

Selain itu, Hj Maryam yang juga Ketua Muslimat NU Lombok Timur, NTB  telah beberapa tahun mengkoordinir desa di Kabupaten Lombok Timur untuk memproduksi terasi dan pangan olahan ikan. 

Namun menurut Nyai Said, terdapat problem yang  terungkap  pada  kegiatan yang diikuti oleh 6 kabupaten (Pandeglang-Banten, Musi Rawas-Sumatera Selatan, Bangkalan-Jawa Timur, Sumenep-Jawa Timur, Lombok Timur-NTB, Timor Tengah Selatan-NTT) tersebut.

“Persoalan hasil produksi yang tidak tahan lama, kekurangan peralatan modern, pengemasan atau packaging, dan pemasaran yang belum maksimal,” jelasnya.

Walau demikian, sambung Nyai Said, sejumlah kader Muslimat NU dan perempuan binaan Prukades sudah ada yang mampu mengemas produknya dengan menarik. Bahkan sudah memasarkannya di level internasional.

“Seperti di Bengkulu, mereka menciptakan produk dari olahan ikan seperi bakso dan abon ikan. Mereka juga memproduksi minuman ringan dari bahan dasar jahe merah dan sirup terong Belanda. Mereka memasarkannya hingga ke Malaysia,” papar Nyai Said.

Dia menerangkan, produk unggulan yang diolah dari hasil pertanian tidak kalah menariknya. Seperti dari bahan dasar singkong dijadikan berbagai macam produk seperti kripik.

“Kita kemas secara bagus dan menarik sehingga kita percaya diri memasarkan di toko swalayan,” tandasnya. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG