IMG-LOGO
Nasional

Mohammad Nuh Paparkan Langkah-langkah Majukan Wakaf Indonesia

Sabtu 2 Desember 2017 6:15 WIB
Bagikan:
Mohammad Nuh Paparkan Langkah-langkah Majukan Wakaf Indonesia
Jakarta, NU Online
Ketua Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI), Mohammad Nuh mengatakan untuk memajukan wakaf nasional, langkah pertama yang akan dilakukan adalah pemetaan potensi wakaf.

“Lalu menetapkan langkah-langkah untuk mentransformasikannya menjadi kekuatan riil,” demikian Nuh tak lama setelah penetapannya sebagai Ketua Pelaksana BWI, Rabu (29/11) di Jakarta.


Pria yang juga Ketua PBNU itu menegaskan BWI akan memperbesar input wakaf dan memperkuat dalam tata tata kelolanya. Dalam melaksanakan kerja-kerja wakaf di BWI, ia menekankan akan mengedepankan kebersamaan dan menjauhi pertengkaran.

"Karena dengan kebersamaan kita bisa kuat, tetapi dengan pertengkaran kita akan kehilangan tiga hal, yaitu keberkahan, energi, dan kesempatan,” Nuh menambahkan.

Pihaknya berkeyakinan jika transformasi potensi wakaf menjadi kekuatan riil berhasil dilakukan bersama para nazhir, dampaknya akan sangat besar untuk mengangkat marwah Islam dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di berbagai bidang.

Sebelunnya ia menegaskan dengan terpilihnya anggota BWI, harus ditunaikan dengan kinerja sebaik-baiknya.

"Untuk memajukan wakaf nasional sehingga wakaf bisa berkontribusi lebih besar untuk kesejahteraan masyarakat, bangsa, dan negara," tandasnya. (Kendi Setiawan)

Bagikan:
Sabtu 2 Desember 2017 15:0 WIB
Pembangunan Nasional Harus Seiring dengan Penguatan Pancasila
Pembangunan Nasional Harus Seiring dengan Penguatan Pancasila
Wakil Sekretaris PCNU Jember Moch. Eksan
Bondowoso, NU Online
Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember Moch. Eksan menegaskan pentingnya pengelola negara mengamalkan Pancasila secara konsekuen. Sebab, tanpa penguatan Pancasila, proses pembangunan negara ini tidak akan berhasil maksimal. 

"Kalau membangun negara, jangan lupa membangun kesadaran masyarakat tentang Pancasila sebagai sumber nilai dalam berbangsa. Jika tidak, maka cita-cita reformasi hanya menjadi mimpi," ujarnya saat  menjadi narasumber dalam Latihan Kader HMI II Cabang Persiapan Bondowoso-Situbondo, di aula Kodim Bondowoso, Jumat (1/12).

Menurutnya, era reformasi yang pernah dielu-elukan  sebagai era kebangkitan bangsa menuju Indonesia modern, berkemajuan dengan kesejahteraan yang berkeadilan, ternyata masih jauh panggang dari api. 

Memang, katanya, empat kali Pemilu pasca reformasi dan pemilihan langsung presiden dan kepala daerah, telah membentuk postur kebijakan publik dan alokasi anggaran yang semakin pro-rakyat dan mengarah pada perwujudan  kesejahteraan yang seutuhnya. “Namun sayangnya, hal tersebut  belum menunjukkan tanda-tanda keberhasilan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang maksimal,” lanjut Eksan.

Ironi Negara Besar

Ketidakberhasilan tersebut ditandai dengan tetap bercokolnya  IPM (Indeks Pembangunan Manusia), daya saing, dan indeks kesejahteraan rakyat Indonesia di bawah tiga negara lain di kawasan ASEAN. Indonesia “istiqamah” berada di bawah Singapura, Thailand, dan Malaysia. 

Padahal, katanya, dalam segala hal, potensi Indonesia lebih besar dari tiga negara tersebut. Terutama dari segi geografis dan demografis, luas wilayah Indonesia 53 persen dari luas wilayah ASEAN dan penduduk Indonesia 43 persen dari jumlah penduduk di kawasan ASEAN ini.

“Potensi begitu besar ini, belum dapat mendongkrak posisi Indonesia dalam konstelasi global sebagai negara besar yang diharapkan menjadi macan ASEAN,” jelasnya.

Persoalannya,  sejak 1998 sampai sekarang, proses pembangunan nasional dilakukan tanpa disertai pembangunan ideologi negara. Alih-alih dibangun, menurut Eksan, Pancasila malah diserang habis-habisan oleh ideologi kanan maupun ideologi kiri. Pemerintah dan rakyat seolah membiarkan proses "mutilasi ideologis" terhadap Pancasila tanpa pembelaan sedikit pun. Ini terjadi lantaran takut dicap tidak reformis dan antek Orde Baru yang menggunakan Pancasila sebagai alat hegemoni kekuasaan.

Kegagalan Orde Baru dalam menghadirkan kondisi politik yang demokratis, serta kondisi ekonomi yang berkeadilan, bukanlah salah Pancasila. Namun  kesalahan rezim dalam menerapkan Pancasila secara murni dan konsekuen. "Pendek kata, kalau mau merawat Indonesia, maka wajib merawat Pancasila," ujar  mantan Dosen STAIN Jember itu. (Aryudi A Razaq/Mahbib)

Sabtu 2 Desember 2017 14:43 WIB
Respon Cepat, Banser Bergerak Bantu Korban Banjir dan Longsor di Pacitan
Respon Cepat, Banser Bergerak Bantu Korban Banjir dan Longsor di Pacitan
Pacitan, NU Online
Bencana banjir dan tanah longsor yang menimpa Kabupaten Pacitan pada 28 November 2017 mendapat respon cepat dari Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Sebagai wujud kepedulian atas penderitaan sesama, Banser Tanggap Bencana atau Bagana segera memberikan bantuan untuk para korban.

Kepala Satuan Koordinasi Wilayah (Kasatkorwil) Banser Jawa Timur HM Syafiq Syauqi mengatakan, aparat kepolisian, TNI, relawan bencana, dan Banser ikut serta bergerak membantu evakuasi warga terdampak bencana Pacitan.

“Sejak terjadi longsor, Banser Tanggap Bencana (Bagana) dan Ansor Pacitan sebanyak 75 personel sudah bergerak dan tersebar di semua titik lokasi bencana,” kata Syafiq, Sabtu (2/12).

"Jumat sore personel tambahan juga telah berangkat dengan membawa peralatan dan dua truk bantuan untuk korban bencana, siang ini tim Banser Husada/kesehatan (Basada) akan berangkat ke Pacitan guna men-support tenaga medis di posko-posko yang ada," terangnya pada wartawan.

Menurut Komandan Banser Jatim ini, bersama aparat setempat dan relawan lain, Banser melakukan koordinasi serta pembagian tugas. “Di antaranya membantu mengatur lalu lintas, mengevakusi korban, serta membantu mendirikan posko dan pos pengungsian,” jelasnya. 

"Kami siagakan tim khusus Banser di sekitar Pacitan (Ponorogo, Magetan, Trenggalek, Ngawi dan Tulungagung) untuk selalu stand-by  untuk siap sedia bila sewaktu-waktu diperlukan untuk mensupport pasukan di Pacitan dan daerah lain," ujarnya.

Jumlah korban banjir, berdasarkan keterangan Komandan Tanggap Darurat Bencana Pacitan, Letkol Kav Aristoteles Hengkeng Nusa Lawitang, meningkat. Hingga Jumat (1/12), data korban banjir  yang disebabkan oleh Siklon Tropis Cempaka ini dan longsor  di Pacitan bertambah menjadi 25 orang.

Memasuki hari keempat, 10 korban belum ditemukan. Ke-25 korban tersebut, terdiri dari enam korban banjir dan 19 korban tanah longsor. Sedangkan, korban yang sudah ditemukan mencapai 15 orang, lima korban banjir dan 10 korban tanah longsor.

Proses pencarian terkendala kondisi alam yang tak mendukung, termasuk medan dan jaringan komunikasi yang masih terputus. Akses menuju lokasi yang tidak dapat diakses oleh alat berat juga menyebabkan pencarian dilakukan secara manual menggunakan cangkul dan menyemprotkan air. (Red: Mahbib)

Sabtu 2 Desember 2017 14:35 WIB
Peserta Kirab Pemuda 2017 Bersama Masyarakat Kedungcangkring Lakukan Bakti Sosial
Peserta Kirab Pemuda 2017 Bersama Masyarakat Kedungcangkring Lakukan Bakti Sosial
Sidoarjo, NU Online
Anggota Kirab Pemuda 2017 zona Timur yang sudah tiba di Sidoarjo hari Sabtu (2/12) melakukan bakti sosial di Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, Sidiarjo, Jawa Timur. Para peserta kirab berbaur dengan masyarakat untuk melalukan bakti sosial dengan menanam pohon dan bersih-bersih lingkungan.

Sebelum melakukan bersih-bersih lingkungan, para peserta kirab bersama pelajar SMP dan SMA Avisena, Kedungcangkring melakukan upacara terlebih di halaman sekolah Avisena. Dari Kemenpora mewakili Menpora Imam Nahrawi yang tidak bisa hadir karena mendampingi Presiden Jokowi Widodo di Jakarta diwakili oleh Asisten Deputi Bidang Peningkatan IPTEK dan IMTAQ Esa Sukmawijaya.

Pada sambutannya Esa menyampaikan terima kaaih kepada seluruh masyarakat dan jajaran pejabat daerah mulai dari Kecamatan, Kepala Desa hingga pihak sekolah yang sudah ikut membantu suksesnya acara Kirab Pemuda 2017. "Saya senang ada di sini untuk mewakili Pak Menteri yang hari ini menyampaikan permintaan maafnya tidak bisa hadir karena mendampingi Presiden Joko Widodo di Jakarta. Terima kasih kepada semua komponen yang ada di desa Kedungcangkring ini untul membantu pelaksanaan Kirab Pemuda 2017," katanya. 

"Para peserta kirab ini nantinya akan bersama siswa dan suswi serta seluruh masyarakat Kedungcangkring untuk bersih-bersih di lingkungan ini. Ini menunjukkan peserta Kirab Pemuda memiliki kontribusi kepada maayarakat baik di sini dan seluruh daerah-daerah yang mereka singgahi," tambah Esa. 

Acara seremonial sendiri ditandai dengan penanaman pohon di halaman sekolah Avisena. (Red-Zulfa) 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG