IMG-LOGO
Trending Now:
Internasional

Lima Fakta Menarik Tentang Populasi Muslim di Eropa

Sabtu 2 Desember 2017 10:0 WIB
Bagikan:
Lima Fakta Menarik Tentang Populasi Muslim di Eropa
Jakarta, NU Online
Muslim adalah minoritas di benua Eropa. Populasinya hanya sekitar 4,9 persen dari jumlah penduduk Eropa. Namun di beberapa negara seperti Perancis dan Swedia, persebaran populasi Muslim cukup tinggi. Bahkan jumlah Muslim di negara-negara Eropa diperkirakan akan meningkat dua kali lipat -bahkan lebih- selama beberapa dekade ke depan.

Pergeseran demografi ini telah menyebabkan pergolakan politik dan sosial di negara-negara Eropa, terutama setelah kedatangan jutaan pencari suaka baru yang notabenenya kebanyakan adalah Muslim. Pada pemilihan umum di Perancis dan Jerman, imigran Muslim menjadi isu utama.  

Berdasarkan hasil survei lembaga internasional, Pew Research Center, berikut adalah lima fakta menarik tentang populasi Muslim di benua biru.

Pertama, Perancis dan Jerman adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di Eropa. Sampai dengan pertengahan tahun 2016, ada 5,7 juta Muslim di Perancis atau 8,8 persen dari populasi dan 5 juta Muslim di Jerman atau 6,1 persen dari jumlah populasi. Sementara Siprus adalah negara Eropa dimana persebaran Muslim begitu besar, jumlahnya 300 ribu atau 25,4 persen dari total populasi.  

Kedua, populasi Muslim di Eropa terus meningkat. Dari pertengahan 2010 sampai pertengahan 2016, jumlah Muslim di Eropa meningkat satu persen yakni dari 3,8 persen menjadi 4,9 persen atau 19,5 juta jiwa menjadi 25,8 juta. Bahkan, pada tahun 2050 populasi Muslim diperkirakan akan meningkat dua kali lipat menjadi 11,2 persen atau lebih tergantung pada seberapa banyak migrasi yang diizinkan masuk ke Eropa. Kalau seandainya arus migrasi Muslim ke Eropa terhenti, populasi Muslim di Eropa tetap akan meningkat menjadi 7,4 persen mengingat jumlah pemuda dan tingkat kesuburan yang tinggi dari Muslim Eropa saat ini.

Ketiga, usia warga Muslim di Eropa jauh lebih muda dan memiliki lebih banyak anak daripada orang Eropa lainnya. Usia rata-rata Muslim di seluruh negara Eropa adalah 30,4, sementara orang Eropa lainnya adalah 43,8. Artinya, usia warga Muslim lebih muda tiga belas tahun daripada rata-rata usia warga Eropa. Lima puluh persen dari total populasi Muslim Eropa adalah berusia di bawah tiga puluh tahun. Sementara penduduk Eropa lainnya yang berusia di bawah tiga puluh tahun hanya tiga puluh dua persen saja. Selain itu, umat Islam perempuan di Eropa rata-rata memiliki 2,6 anak. Satu persen lebih tinggi daripada perempuan Eropa lainnya yang hanya 1,6 persen. 

Keempat, migrasi merupakan faktor terbesar yang mendorong pertumbuhan populasi Muslim di Eropa, terutama antara pertengahan 2010 sampai pertengahan 2016. Diperkirakan 2,5 juta Muslim datang ke Eropa untuk bekerja, studi, dan lainnya –selain untuk mencari suaka. Sekitar 1,3 juta menerima atau diharapkan menerima status pengungsi dan membiarkan mereka tinggal di Eropa. Kelahiran adalah faktor sekunder daripada pertumbuhan Muslim di Eropa. Ada 2,9 juta lebih kelahiran daripada kematian pada periode ini. 

Terakhir, pandangan terhadap Muslim sangat bervariasi di seluruh negara-negara Eropa. Pandangan yang dimaksud di sini adalah pandangan tentang umat Islam terkait dengan ideologi. Pandangan negatif terhadap Muslim berlaku di Eropa Timur dan Selatan. Namun, mayoritas responden di Inggris, Perancis, Jerman, Swedia, dan Belanda memiliki persepsi yang baik terhadap Muslim. (Muchlishon Rochmat)
Bagikan:
Sabtu 2 Desember 2017 13:38 WIB
Dampingi Atlet Perempuan, Pria Pelatih Ini Diharuskan Kenakan Jilbab
Dampingi Atlet Perempuan, Pria Pelatih Ini Diharuskan Kenakan Jilbab
Dubai, NU Online
Sebuah kelaziman bila jilbab dikenakan oleh kaum perempuan. Namun bagaimana bila kain penutup kepala itu dipakai oleh pria? Hal ini benar-benar terjadi di Iran. Seorang pria mengenakan jilbab, bukan karena ia waria atau sedang berakting, melainkan tuntutan profesi.

Somprach Phonchoo, nama pelatih asal Thailand itu, diwajibkan memakai jilbab ketika harus mendampingi tim kabbadi asuhannya di arena pertandingan khusus perempuan di Kejuaraan Kabaddi Asia. 

Radio Farda, seperti dikutip pula Al Arabiya Jumat (1/12), mengatakan bahwa keputusan tersebut diambil karena di Iran pria tidak diperbolehkan memasuki arena olahraga wanita.

Somprach Phonchoo dalam sebuah wawancara dengan Radio Farda mengonfirmasi bahwa dia diminta mengenakan jilbab agar diperblehkan masuk.


Namun, kepala federasi Kabaddi Iran Mohammad Reza Maghasoudlou memberi penjelasan lain. "Seorang fotografer telah memberi jilbab kepada orang Thailand itu agar bisa memasuki arena dan berfoto," jelasnya kepada kantor berita ISNA.

"Itu adalah tindakan nakal dan niatnya adalah untuk menjatuhkan nama baik pelaksanaan pertandingan ini," tambah Maghasoudlou.

Kejuaraan Kabaddi Asia diadakan di kota utara Gorgan, Iran, antara 22-27 November.

Tim wanita Iran absen di final setelah kalah dari Korea Selatan di semifinal. Pada pertandingan terakhir, India mengalahkan Pakistan dan menjadi juara. (Red: Mahbib)

Sabtu 2 Desember 2017 7:34 WIB
Kunjungi Bangladesh, Paus Fransiskus Bela Muslim Rohingya
Kunjungi Bangladesh, Paus Fransiskus Bela Muslim Rohingya
Paus Fransiskus (© Reuters)
Dhaka, NU Online
Paus Fransiskus memberikan dukungan moral kepada Muslim Rohingnya yang mengungsi dari Negara Bagian Rakhine ke Bangladesh. Ia mendesak dunia internasional untuk memberikan perhatian lebih kepada para korban kekerasan militer ini. Demikian dilaporkan Reuters.

Dukungan tersebut ia sampaikan saat mengunjungi Muslim Rohingya di Bangladesh, Jumat kemarin. Sebelumnya ia datang ke Myanmar dan menemui pimpinannya Aung San Suu Kyi dan Jendral Senior Min Aung Hlaing. Jika di Myanmar sang paus menghindari kata "Rohingya" lantaran tabu bagi pemerintah dan mayoritas warga setempat, maka di Bangladesh Paus Fransiskus mulai menyapa pengungsi dengan kata itu.


Pertemuan dengan para pengungsi Rohingya berlangsung pada pertemuan damai antaragama pada hari pertamanya di Bangladesh. Dalam kesempatan itu, Fransiskus mendengarkan curhatan para pengungsi bahwa desa-desa merekadibakar, anggota mereka dibunuh, dan perempuan diperkosa.

Paus menyerukan tindakan tegas untuk menyelesaikan persoalan politik yang menjadi akar krisis pengungsi Rohingya. Ia juga mendesak negara-negara lain untuk membantu pemerintah Bangladesh dalam mengatasi permasalahan ini.

Tahun dari Vatikan, Paus dua kali membela nama Rohingya. Ia pernah mengatakan bahwa "Orang-orang Rohingya telah disiksa, dibunuh, hanya karena mereka ingin menjalankan budaya dan kepercayaan Muslim mereka."

Sebuah laporan yang dikeluarkan kantor hak asasi manusia PBB menyatakan, serangan terhadap Rohingya di Myanmar menunjukkan adanya strategi untuk menanamkan ketakutan dan trauma yang meluas dan mencegah mereka untuk kembali ke rumah mereka. (Red: Mahbib)

Kamis 30 November 2017 12:30 WIB
Pemuda 35 Negara Kunjungi Banyuwangi Pelajari Trik Hadapi Persaingan Global
Pemuda 35 Negara Kunjungi Banyuwangi Pelajari Trik Hadapi Persaingan Global
Banyuwangi, NU Online
Terhitung 250 pemuda dari 35 negara menghadiri Youth Involvement Forum (YIF) yang diinisiasi oleh Indonesia Youth Forum, 24-27 November 2017 di Banyuwangi, Jawa Timur. Mereka duduk bersama dan bertukar ide serta gagasan inovatif sekaligus mengenali khazanah seni-budaya daerah di tempat yang dikenal dengan Sunrise of Java ini.

Salah satu narasumber pada agenda ini ialah Moh. Bruri Triyono, selaku Tim Satgas Revitalisasi Pendidikan Vokasi Kemendikbud. Ia mengungkapkan, pendidikan vokasi yang mengusung konsep link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan, Ketenagakerjaan dan Industri diharapkan mampu menghasilkan tenaga kerja yang terampil sesuai kebutuhan dunia industri saat ini. Hal ini diyakini mampu meningkatkan produktifitas dan daya saing nasional.

“Konsep link and match menjadi solusi atas persaingan global yang semakin ketat. Untuk mewujudkan hal tersebut, komunikasi dan koordinasi di semua lini harus lebih diintensifkan. Karena hal ini menyangkut daya saing SDM yang inheren dengan harga diri bangsa. Dan pesantren harus melihat itu sebagai satu ghirah (semangat) zaman,” tambah Bruri.

Di sisi lain, Wariki Sutikno selaku Direktur Politik dan Komunikasi Kementerian PPN Bappenas menuturkan SMK komunitas sebagai salah satu instrumen penting dalam pendidikan vokasi mencoba menjembatani antara pesantren dan pendidikan vokasi untuk menjawab tantangan zaman now dan pertanyaan besar kebutuhan future jobs. Konteksnya jelas, santri dituntut menguasai dinamika zaman yang kian canggih dan kompetitif di masa mendatang. Dengan demikian, pesantren mampu bergerak maju mengikuti pergerakan zaman.

“Kolaborasi antara SDM, Kelembagaan dan Teknologi perlu diutamakan. Agar narasi besar yang sedang bersama kita bangun mengenai pendidikan vokasi mampu menjawab SDM yg memiliki kompetensi yang kompetitif,” tandas Wariki.

Muhammad Abdul Idris yang merupakan Founder Indonesia Youth Forum mengungkapkan bahwa softskill dan hardskill juga penting untuk dipelajari para santri agar mampu bersaing di era millenial. 

“Santri harus siap bersaing di zaman now dengan tidak melupakan zaman old. Santri harus bisa menjawab tantangan zaman dengan tekat, kepercayaan diri dan bekal skill yang sudah diajarkan dan diperoleh dari pesantrennya masing masing.” ungkap Idris.

Karena revitalisasi pendidikan vokasi tidak sebatas mengupgrade kualitas daya saing SDM saja, akan tetapi kemampuan menggerakkan partisipasi aktif masyarakat agar mampu menjadikan kebudayaan, destinasi pariwisata, kreatifitas yang berbasis local wisdom menjadi produk yang kompetitif.

"Agar revitalisasi pendidikan vokasi mampu melibatkan semua pihak.” tambah Idris.

Di sisi lain, political will pemerintah dan industri juga harus jelas keberpihakannya. Banyak alumni pesantren yang memiliki kompetensi bagus dan terampil. Pemerintah bersama industri harus lebar membuka mata tentang skill santri yang mumpuni, tidak pilih kasih dan diberikan akses legalitas (sertifikasi) kompetensi.” tutup Idris.

Agenda Youth Involvement Forum secara resmi ditutup Senin (27/11) ini dengan sebelumnya diakhiri oleh Tour de Pesantren di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng pada Ahad (26/11) malam. (Red: Kendi Setiawan)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG