IMG-LOGO
Wawancara

LAZISNU Sragen, Kemandirian, dan Gerakan Koin NU

Senin 4 Desember 2017 13:4 WIB
Bagikan:
LAZISNU Sragen, Kemandirian, dan Gerakan Koin NU
Sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia dan bersifat struktural, Nahdlatul Ulama (NU) mempunyai banyak program dan agenda yang harus dijalankan. Sementara upaya perwujudan program harus membutuhkan uang. Selama ini, NU dalam menjalankan program-programnya lebih banyak mengandalkan pihak luar. Sementara NU memiliki warga dengan jumlah yang banyak. Hal itu potensial jika bisa dikelola dengan baik.

Berangkat dari persoalan tersebut, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Sragen, Jawa Tengah melalui Pengurus Cabang NU Care-Lazisnu Kabupaten Sragen mulai beraksi pada akhir 2015 dengan melakukan Gerakan Koin NU Nusantara Menuju NU Mandiri dalam bentuk kotak yang ditaruh di rumah-rumah warga. Tujuannya tidak lain adalah mewujudkan kemandirian pada tubuh NU sehingga program-program NU berjalan lancar dan kemandirian pun tergapai.

Untuk mengetahui awal mula perintisan sampai perkembangan Gerakan Koin NU ini, Wartawan NU Online Husni Sahal berhasil menemui dan mewawancari Ketua PCNU Sragen Ma'ruf Islamuddin dan Ketua NU Care-Lazisnu Kabupaten Sragen Shuranto di Pesantren Darul Qur'an, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (25/11), di sela-sela perhelatan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2017 di Nusa Tenggara Barat.

Bagaimana awal mula merintis Gerakan Koin NU?
Kita punya ide. Setelah punya ide, kita coba di tingkat MWC (Majelis Wakil Cabang) dan ternyata berhasil. Keberhasilan kami membuat NU dari daerah-daerah lain seperti NU Tulungagung tertarik dan mereka studi banding ke NU Sragen.

Berarti dari PCNU, MWCNU hingga PRNU di Kabupaten Sragen melakukan gerakan Koin NU?
Oh, ya, semua. Dari tingkat PCNU, MWCNU sampai Ranting NU melakukan. Secara profesional ada Undang-Undang Zakat, pengelolaan sepenuhnya ke LAZISNU. Kita sudah membentuk unit pelayanan zakat, infaq, sedekah untuk LAZISNU di tingkat MWC dan juga unit pelayanan zakat, infaq, dan sedekah LAZISNU di tingkat ranting. Pelaksanaannya sendiri dilakukan oleh ibu-ibu karena yang sabar mengurusi itu ibu-ibu. Jadi kami melibatkan badan otonom terutama Muslimat dan Fatayat NU.

Pada awal-awal merintis, apakah ada kendala atau tantangan?
Ada. Itu wajar. Setiap ada aksi pasti ada reaksi. Begitu juga masyarakat ada yang setuju dan ada juga yang tidak setuju. Yang tidak setuju biasanya karena sistemnya dianggap ribet,  karena ada pencatatan. Yang jelas persoalan utamanya pada pola pikir, tapi alhamdulillah bisa diatasi.

Bagaimana cara pengurus LAZISNU Sragen agar mendapatkan dukungan sekaligus keikutsertaan masyarakat pada gerakan koin itu?
Kita buat sistem yang menarik. Di antaranya kami suruh meminta mereka yang akan mengisi koin di kotak untuk niat. Mereka punya hajat apa. Misalanya ada yang niatnya “Ya Allah melalui infaq ini semoga bisa naik haji.”

Terus, kalau dulu itu kita tahu kotak infaq itu risih, tapi kalau sekarang tidak, masyarakat yang antusias. “Aku kok tidak dapat kotak, bagaimana ini, minta ke siapa ini.” Masyarakat senang. Kalau sudah senang pasti mau apalagi karena transparansi keuangannya luar biasa.

Kotak sebagai tempat koin sendiri sekarang sudah ada berapa?
41 ribu kotak, tetapi belum keseluruhan, masih ada yang belum mendapatkan. Kotak ini tidak diberikan tapi permintaan masyarakat sendiri. Karena kalau dikasih nanti, mereka terkesan terpaksa. Kita akan mengubah itu. Kalau mereka minta, berarti atas kesadaran mereka sendiri. Bahkan sekarang berkembang, satu rumah bisa terdapat lebih dari satu kotak. Suami satu kotak, istri satu kotak, anak juga satu kotak. Ini yang menarik.

Terus mereka kalau minta kotak untuk ditaruh di rumah masing-masing, tidak ke PCNU atau MWCNU, tetapi ke ranting masing-masing karena ada sistem, ada kodenya.

Sekarang Gerakan Koin NU berjalan hampir dua tahun dengan kotak sebanyak 41 ribu. Kalau boleh tahu, omsetnya sudah berapa?
Sekitar Rp. 5.200.000.000 (lima miliar dua ratus juta). Kita tidak bisa meremehkan yang kecil karena dari yang kecil bisa menjadi besar.

Hasil dari Koin NU itu disalurkan ke mana dan atau untuk apa?
Hasilnya untuk membangun gedung NU, untuk pendidikan, beasiswa anak-anak Ma’arif NU yang kurang mampu, untuk fakir miskin, dan yatim-piatu, seperti waktu Hari Santri kemarin kami santunan 1000 santri dhuafa. Bahkan dari koin itu kami punya mobil satu bus untuk dijadikan jasa. Kami mempunyai jasa travel. Sekarang baru punya satu bus. Untuk menutupi saat ada orang yang butuh jasa travel, kami bekerja sama dengan pihak yang punya mobil bus dulu.

Apa harapan atas kesuksesan Gerakan Koin NU ini?
Yang jelas kami berharap, mudah-mudahan NU di daerah-daerah lain bisa meniru gerakan seperti kami agar bisa mandiri.

Kalau pemerintah daerah sendiri mendukung Gerakan Koin NU apa tidak?
Pemda (Pemerintah Daerah) men-support. Untuk Sragen itu satu-satunya Pemda yang memiliki Unit Pelayanan Terpadu Pengentasan Kemisikinan (UPTPK.) Nah, LAZISNU Sragen diajak sinergi untuk 2018 oleh pemerintah daerah Sragen, nanti tahun 2018 ada Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), pada bedah rumah itu LAZISNU kontribusi di situ, nanti diumumkan dananya dari LAZISNU, dan pelaksanaannya nanti dari pemerintah daerah. Itu wujud sinergi kita dengan pemerintah daerah.

Bagikan:
Sabtu 25 November 2017 3:8 WIB
Tuan Guru Bengkel dan NU NTB
Tuan Guru Bengkel dan NU NTB
Tokoh-tokoh NU Nusa Tenggara Barat dalam cerita lisan menyebutkan bahwa Rais Syuriyah PWNU NTB pertama adalah Tuan Guru Shaleh Hambali (Tun Guru Bengkel). Dia memulai aktif pada 1953. Dengan demikian, NU di NTB ada jauh setelah NU berdiri.  

Jika melihat sejarah NU secara nasional, waktu itu adalah moment politis karena NU menjadi partai setelah Muktamar Palembang tahun 1952. 

Namun, ternyata, NU pada tahun 1953 adalah kelanjutan dari NU dari periode-periode sebelumnya. Karena pada tahun 1934 sudah ada anggota NU. Bahkan ada sebuah organisasi keulamaan Ahlussunah wal-Jama’ah yang bermigrasi menjadi pengurus-pengurus NU. 

Untuk mengetahui hal itu, Abdullah Alawi dari NU Online mewawancarai Adi Fadli, penulis biografi Tuan Guru Sholeh Hambali Bengkel.

Kenapa beliau dikatakan Rais Syuriyah pertama, padahal NU di Lombok telah ada sejak tahun 1934-1935? 

Ada dua buku tentang itu, yang ditulis Tuan Guru Taqi, yang kecil. Tuan Guru Taqi itu menyebut tahun 1935, di Sumbawa 1934, sementara tahun 1953 itu kelanjutan sejarah NU, itu yang besar. Tahun 1953 itu adalah momentum disahkannya sebagai Pengurus Wilayah NTB. Sebelumnya cabang NU Lombok, karena dulu (1935) Kiai Muhammad Dahlan yang diutus dari Jawa Timur untuk membuka cabang di Ampenan. 

Dulu, awal-awalnya PUIL (Persatuan Ulama Islam Lombok) ada juga yang bilang PIL (Persatuan Islam Lombok), itu konsul NU Lombok. Nah, kemudian berubah menjadi Cabang NU Lombok. Nah, setelah itu, tahun 1953, disahkan sebagai Pengurus Wilayah. Nah, wilayah itulah yang dianggap secara resminya itu, barulah Rais Syuriyahnya yang TGH Muhammad Shaleh Hambali. 

Nanti dibaca di buku saya, saya mengusahkan memperiodisasai dari tahun 1934, Rais Syuriyahnya Ahmad Al-Kaf, Mustofa Basri. Lalu tahun 1953 barulah TGH Shaleh dan Ahsid Muzhar, itu ada dasarnya SK-SK-nya. Itu berdasarkan kopian SK yang terarsif di sini. 

Dari 1934 sampai sebelum 1953, kenapa Tuan Guru Bengkel belum masuk NU? 

Kalau kita hitung, dia pulang ke Lombok 1916 (setelah belajar di Mekkah), NU muncul setelah sepuluh tahun kemudian. Ada pergerakan Nahdlatul Wathan KH Wahab Hasbullah sebelum berdirinya NU. Pasti dia (Tuan Guru Bengkel) tahu. Tapi dia mungkin ke sininya itu belum sampai secara resmilah (mengikuti NU). Nah, pergerakan yang dekat dengan pelabuhan, dekat dengan pasar, sehingga di Ampenan (berkembang) pergerakannya, kampung Melayu, Arab di sini itu, saya tidak tahu dengan pasti. 

Pada 1953, hanya dia yang punya otoritas keulamaan bagi orang NU. Ketika resmi ini, tak ada perdebatan menetapkan dia (sebagai Rais Syuriyah) sampai akhir hayatnya, tahun 1968.

Kenapa dia mau ikut di organisasi NU?

Menurut penuturan Tuan Guru Bagu, TGH Turmudzi Badarudin, penuturannya itu, kalau kamu masuk NU, kamu bisa lewati laut. Itu sederhannya. 

Penjelasannya bagaimana? 

Jadi, pandangannya, wawasannya nanti lebih luas. Kalau masuk organisasi lokal, ya cuma di sini. 

Itu secara eksplisit, ada mana implisitnya? 

Kalau melewati laut akan memiliki cakrawala luas, karena NU itu besar, tidak lokal. Kamu masuk NU, kamu akan bermanfaat luas, di situlah kontribusi nasionalnya. Saya temukan banyak data tertulis misalkan seperti apa siapa dia ikuti muktamar NU, belum saya temukan, walaupun dalam tutur lisan, murid-muridnya katakan, dia ikut, wajib ikut, dan dari Tuan Guru Bagu, terutama, dia mengatakan, dia tetap ikut. 

Apakah ada, misalnya pertemuan fenomenal antara Tuan Guru Bengkel dengan tokoh NU nasional, misalnya dengan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari atau yang lainnya?  

Kalau dengan Mbah Hasyim, tidak saya temukan. Tapi selain itu, banyak, malah mereka yang datang, KH Wahab Hasbullah, Saifuddin Zuhri, Idham Chalid, AH Nasution (tokoh tentara), mereka datang sendiri, dan bukan sehari mereka datang, nginep, mingguan. Itu penuturan dari Tuan Guru Bagu. KH Wahab Hasbullah seminggu di Bengkel. 

Bahkan, saya dengar Kiai Bisri Mustofa, ayahnya Gus Mus pernah sebulan di situ? 

Benar itu. Begitulah kekutannya. Cuma itu belum tertulis ya, masih secara lisan.

Salah seorang yang datang adalah Bung Karno dan Bung Hatta meski berbeda waktu. Khusus pertemuan dengan Bung Karno, mengapa Tuan Guru Bengkel  begitu yakin Bung Karno akan datang ke pesantrennya? 

Entahlah. Dia punya pengawal dlahir dan batin kan. Pengawal secara lahiriah manusia dan jin. Setahu saya dari manuskrip, jinnya itu, dia memerintahkan jinnya itu berkirim surat ke Jakarta, dan itu yang bawa itu jin, yang menyampaikannya ke sana. Di manuskripnya ada. Dari keyakinan itulah, dan dari basyirah dan karomahnya, dia yakin Soekarno akan mampir. Saya tidak tulis itu karena tidak ilmiah kan. Sehingga ketika datang, tertulis sepanduk, papan, gambar kedatangannya Bung Karno, di mobil Soekarno, sore waktunya datang. 

Apa betul, pengawalnya Bung Karno udah lewat 1 km? 

Betul itu. Atau mungkin juga setengah kilo. Berhenti langsung Soekarno. Mobilnya disuruh berhenti. Santri berjajar plus anak yatim. Dia tulis di plakatnya itu, waammal yatima fala taqhar, wa aammas saila fala tanhar, itu di plakat. Plakatnya masih ada, saya simpan. 

Apa betul dia punya sekretaris atau semacam tim penulis? 

Betul itu. 

Bagaimana dia bisa tercipta jadi penulis dan produktif? 

Dia punya kekuatan tradisi di Mekkah yang terbiasa mensyarah, menerjemahkan dari kitab-kitab kecil. Sehingga ketika dia melihat kondisi masyarakat masih buta sekali, masa penjajahan, dia ciptakanlah itu. Dan itu yang pertama kali kitab tahun 1935, itu yang pertama yang saya dapatkan, entah yang sebelumnnya, tidak tahu saya. Karena kekuatan di beliau itu ada katibnya yang menulis. Dan beliau menulis itu, biasanya malam. Suruh bangun sekretarisnya, santrinya, kemudian dia diktekan. Dan itu pasti setelah shalat dan dia berwudulu, termasuk katib, menggunakan tinta celup.

Pondok pesantren beliau, Darul Qur’an, saat ini masih berlangsung?

Iya, tapi formal saja. 

Rabu 8 November 2017 12:0 WIB
Menerka Lika-Liku Reformasi Arab Saudi
Menerka Lika-Liku Reformasi Arab Saudi
Pada 21 Juni 2017 Muhammad bin Salman diangkat menjadi putera mahkota.Usianya masih sangat muda, 32 tahun. Ini menjadi sejarah baru bagi Negara Kerajaan Arab Saudi. Biasanya posisi putera mahkota diisi oleh pangeran yang sudah berusia senja. 

Setelah menjabat sebagai putera mahkota, Muhammad bin Salman langsung ‘tancap gas.’ Ia membuat kebijakan-kebijakan yang reformis, radikal, dan ‘melawan arus’ di dalam segala sektor. Mulai dari birokrasi hingga paham keagamaan. Yang terbaru dan membuat heboh dunia adalah ditangkapnya sebelas pangeran, empat menteri aktif, dan puluhan mantan menteri pada Sabtu lalu (4/11). 

Sebelumnya, Muhammad bin Salman juga menegaskan akan mengembangkan Islam moderat di Arab Saudi, memperbolehkan wanita untuk menyetir mobil sendiri, dan memperbolehkan wanita untuk menonton pertandingan sepak bola dan masuk bioskop.

Di sektor birokrasi, Muhammad bin Salman juga berupaya untuk menciptakan sistem good government. Muhammad bin Salman yang juga Ketua Nazaha, lembaga anti korupsi Arab Saudi, memerintahkan untuk menangkap puluhan elit Arab Saudi tersebut dengan tuduhan korupsi. Ini disinyalir sebagai upaya Muhammad bin Salman untuk memberantas praktik-praktik korupsi yang terjadi di pemerintahan Arab Saudi yang selama ini memang tidak terjamah dan menjadikan hukum di atas segalanya. 

Hal itu dilakukan untuk menyukseskan Visi Saudi 2030 menjadi agenda besar Arab Saudi. Target dari ‘proyek’ ini diantaranya melepaskan ketergantungan pada minyak tahun 2020, meningkatkan ekspor non-minyak 50 persen, menurunkan pengangguran dari 11,6 persen menjadi 7 persen, meningkatkan kontribusi sektor swasta dari 40 persen menjadi 65 persen, dan meningkatkan partisipasi wanita di ruang-ruang publik dari 20 persen menjadi 35 persen.

Untuk mengetahui tentang apa yang sedang terjadi dan direncanakan oleh Arab Saudi lebih mendalam, Jurnalis NU Online A Muchlishon Rochmat berkesempatan mewawancarai Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (UI) Abdul Mutaali. Berikut petikan wawancaranya:


Arab Saudi ingin kembali ke Islam moderat sebagaimana yang disampaikan oleh Putera Mahkota Muhammad bin Salman di Riyadh beberapa waktu lalu. Bagaimana tanggapan anda soal ini?

Pidato Muhammad bin Salman di Riyadh beberapa waktu lalu bahwasanya Saudi tidak akan memberikan tempat bagi gerakan ekstremis, radikalis, dan teroris. Saudi hanya akan memberikan tempat bagi yang moderat. 

Saya kira pidato ini bukan hanya keinginan Muhammad bin Salman, tetapi juga dikaitkan dengan Visi Saudi 2030. Kata Muhammmad bin Salam, selama ini hukum Saudi hanya tiga yaitu Al-Qur’an, hadis, dan minyak. Dengan misi 2030, Saudi dari negara minyak menjadi negara industri. Industri itu terkait dengan investasi dan adanya inverstor. Investor mau ke Arab Saudi kalau ada jaminan keamanan, toleransi, dan keberagaman. Oleh karena itu, ada reformasi paham keagamaan.

Ketika mendengar pidatonya Muhammad bin Salman, kelompok Wahabisme agak cukup kaget. Tapi kalau kita merujuk guru-guru utama Wahabi seperti Bin Baz dan Utsaimin di akhir hayatnya cenderung agak moderat. Mereka menerima dzikir berjamaah, tidak mudah menyalahkan yang lain, diakomodasi putera Sayyid Maliki menjadi dewan penasehat raja. Artinya, ada pakem keagamaan yang sudah mulai mencair. 

Tetapi ada ulama moderat Saudi, Salman Al-Audah dan kelompoknya, yang juga ditangkap karena men-twit agar masyarakat Saudi dan Qatar mendapatkan perdamaian. Jadi sebetulnya, Islam moderat seperti apa yang hendak diwujudkan sang putera mahkota?

Saya kira tujuannya dua yaitu bukan hanya membangun image bahwa Saudi bukan eksportir ekstremisme, radikalisme, dan terorisme, tetapi juga membangun Visi Saudi 2030. Dia cari orang, dia bangun lembaga keulamaan yang kondusif dan yang ramah lingkungan dengan visi Saudi.  

Jadi bukan hanya ulama yang moderat, tetapi juga ulama yang paham dengan Visi Saudi 2030. Dalam kerangka itu, itulah Islam yang hendak dibangun. Islam yang maju dan modern. 250 ribu hektar NEOM, megaproyek Saudi yang dibangun mulai Jedah hingga Riyadh bukan hanya diperlukan kekuatan finansial, tetapi juga kelegaan hati bagaimana investasi industri mungkin tidak idealis islami seperti sekarang seperti laki dan perempuan dipisah. Akan terjadi dinamisasi keagamaan yang cukup cair. Jika ada ulama moderat yang dituduh, saya kira bukan karena radikalnya tetapi ulama tersebut belum bisa berakselerasi dengan visi Saudi 2030.

Apakah bisa dikatakan kalau bendungan sudah mulai Wahabi jebol dengan ini?

Kalau dibilang jebol sih tidak, tetapi sudah banyak bolong-bolong. Intinya adalah moderat dan modern. Ini yang sedang dibangun Muhammad bin Salman. 

Apa saja yang sudah dilakukan Muhammad bin Salman?

Sampai saat ini, Muhammad bin Salman sudah membuat lima karya. Pertama, agresi militer ke Yaman. Kedua, penggantian kalender dari Hijriyah ke Masehi. Ulama Saudi marah, lalu bisa dipahamkan. Kenapa? karena kalender Hijriyah itu waktunya lebih pendek. Artinya karyawan lebih cepat mendapat gaji sedangkan kondisi ekonomi lagi kronis. Ketiga, pemutusan diplomatik dengan Qatar. Keempat, wanita dibolehkan mengemudi mobil. Kelima, sebagai ketua lembaga anti korupsi Muhammad bin Salman menangkap sebelas pangeran, empat menteri aktif, dan puluhan mantan menteri. 

Dari sudut penindakan pemberantasan korupsi, ini adalah sesuatu yang harus diapresiasi. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa uang kerajaan dan uang rakyat itu beda-beda tipis. Tidak ada peraturan yang secara jelas mengatur segregasi antara dua sistem keuangan itu sehingga para pangeran memiliki interpretasi tersendiri soal keuangan kerajaan.

Namun, kenapa ‘pemisahan sistem keuangan’ baru dilakukan saat ini?

Ekonomi Saudi sedang sangat kronis. Jadi diperlukan ketentuan dan tata aturan yang jelas. Ini uang negara, ini uang rakyat. Ini yang boleh digunakan, ini yang tidak. Pertama, Muhammad bin Salman ingin menerapkan good government. Karena untuk menjadi industri, maka diperlukan tata kelola yang baik.  

Kedua, selama ini pangeran berada di atas hukum. Sekarang, semua sama di mata hukum. Muhammad bin Salam memberikan pesan bahwa semuanya harus tunduk kepada hukum. Karena untuk menjadi industri, maka panglimanya adalah hukum bukan keluarga. 

Apakah anda melihat bahwa dibalik penangkapan elit Saudi oleh Muhammad bin Salam ada muatan politisnya? Dan bagaimana dinamika politik Saudi ke depan?

Saya memandang memang agak sulit gebrakan Muhammad bin Salman sebagai ketua lembaga anti korupsi terlepas dari motif politis. Dimana motif politisnya. Pertama, biasanya raja-raja Saudi itu diangkat pada usia sunset atau senja. Sekarang, putera mahkota usianya dua puluh tiga tahun. Akan terjadi gejolak yang luar biasa di keluarga kerajaan. 

Dia ingin unjuk kekuatan di hadapan keluarganya, masyarakat Saudi, dan dunia internasional. Muhammad bin Salman ingin berkata bahwa jangan lihat usia saya. Saya bisa menangkap Alwaleed bin Talal dan Mit’ab bin Abdullah. Keduanya bukan orang sembarangan. Alwaleed adalah orang terkaya di kerajaan. Sedangkan, Mit’ab adalah ketua garda nasional. Kalau di Indonesia, Mit’ab itu Panglima TNI yang merangkap Menhan. Artinya, kapan pun dia ingin melakukan kudeta itu mudah.   

Kedua, jika Raja Salman mangkat, Muhammad bin Salman akan jadi raja. Namun, di saat yang bersamaan pamannya masih ada. Saudi akan masuk sejarah baru, bukan anak yang memimpin tetapi cucu. Ini akan melahirkan dinamika yang luar biasa. 
Ketika, terjadi de-Abdullahi-sasi. Seluruh keturuan Abdullah dihabisi. Ada tiga orang yaitu Mit’ab, Turki, dan Iyas bin Abdullah. Abdullah menjadi bendera koalisi keluarga non-Sudairi. Biasanya yang menjadi raja adalah anak-anak yang berasal dari ibu Sudairi. Abdullah itu bukan berasal dari Sudairi. Abdullah menjadi tempat berkumpulnya koalisi non-Sudairi. 

Dengan demikian, Muhammad bin Salman berupaya untuk mengamankan posisi.

Saya baru membaca berita yang dikeluarkan oleh kantor berita Rusia bahwa Mit’ab bin Abdullah akan melakukan kudeta. Mungkin isu yang dijual ke publik adalah tindak pidana korupsi tetapi apa yang terjadi di internal adalah kudeta. 
Dalam sistem monarki, kudeta itu sesuatu yang lazim. Karena oposisi itu tidak mungkin karena tidak memiliki ruang. Jadi musuh terbesar seorang raja adalah keluarganya. Mungkin yang paling aman dijual keluar adalah tindak pidana korupsi.

Lalu, mengapa itu dilakukan?

Langah politis selanjutnya adalah 70 persen warga Saudi adalah generasi milenial. 50 persen dari generasi milenial tersebut adalah mahasiswa magister dan doktoral di Eropa dan Amerika jurusan filsafat. Tahun ini mereka akan pulang. Sedangkan di saat yang sama, kondisi ekonomi Saudi sedang kronis. Namanya filosof; kalau tidak bisa memberi kami makan, biar kami yang jadi raja.  Maka dari itu, diperlukan sosok pemimpin yang berani dan muda. Jadi langkah politis ini adalah gebrakan yang luar biasa.  

Soal waktu penangkapan, mengapa itu dilakukan pada 4 November? Apakah ada pesan khusus atau seperti apa?

Ada pengaruhnya dalam geopolitik internasional. Mengapa pilihan waktunya Sabtu 4 November, kenapa bukan Jumat atau Minggu saja. Penangkapan sebelas pangeran, empat menteri, dan puluhan mantan menteri pada Sabtu malam itu bersamaan ketika Iran sedang merayakan tiga puluh delapan tahun pengambil alihan Kedubes Amerika di Iran. 

Artinya, berbicara Timur Tengah itu berbicara soal pengaruh. Siapa yang paling berpengaruh. Tahun delapan puluhan perang Irak-Iran berbicara siapa yang paling berpengaruh. Tahun sembilan puluhan ada perang Teluk. Siapa yang paling berpengaruh Arab Saudi Kuwait atau Irak. Saat ini, Timur Tengah bisa dikata yang berpengaruh itu tiga negara saja yaitu Iran dengan sekutunya, Arab Saudi dengan sekutunya, Qatar dan Turki. 

Jadi penangkapan 4 November itu sudah hasil istikhoroh. Kenapa 4 November? Karena 4 November 1979 terjadi Revolusi Islam Iran dan merebut Kedubes Amerika di Teheran. Pada saat yang sama, Saudi melakukan reformasi birokrasi radikal. Dunia internasional, khususnya dunia Islam sedang dijamu; mau lihat yang mana Arab Saudi atau Iran. Di pemberitaan, Saudi yang paling ramai. Dalam hal ini Saudi berhasil membuat media internasional memberitakannya daripada Iran.

Apakah yang dilakukan Saudi juga ada hubungannya dengan mundurnya Perdana Menteri Lebanon, Saad Hariri, yang terjadi pada 4 November?

Geopolitik selanjutnya adalah mundurnya Hariri. Yang menarik, setelah mundur Hariri berada di Riyadh. Kita tahu Lebanon memiliki sistem kenegaraan yang cukup unik. Perdana Menteri harus dari Islam, Presidennya Kristen, Ketua DPR nya harus dari Syiah. Perdana menteri lebih banyak mengambil ruang di Lebanon. Dan sulit ditepis bahwa Hariri adalah kawan dekat atau bisa dibilang muridnya Saudi. 

Dalam kondisi ini, tanpa Saudi di Lebanon coba lihat. Terjadi disintegritas dan instabilitas. Jadi sekali mendayung, tiga pulau terlampaui. Satu tindak pidana korupsi, kedua Lebanon, dan yang ketiga Iran. 

Ada tudingan bahwa lembaga anti korupsi, Nazaha, hanya dijadikan alat untuk menghabisi orang yang dianggap membahayakan kekuasaan Muhammad bin Salam dan Raja Salman?

Memang sulit ditepis kalau ini langkah politis. Namun untuk menciptakan good government maka harus ada tata kelola yang modern terkait keuangan. Penangkapan sebelas pangeran dan seterusnya itu dilakukan beberapa bulan setelah Saudi menandatangi kucuran dana dari IMF. Cukup ironis, negara minyak dengan cadangan 220 miliar barel sampai pinjam uang ke IMF, lemabag ribawi terbesar di dunia.

Artinya, Arab Saudi dengan rezim Salman tidak bisa mengendalikan gurita bisnis para pangeran. Kalau saja terjadi persuasi atau komunikasi yang baik antara klan Salman dengan pangeran-pangeran yang kaya itu, saya kira Saudi tidak perlu pinjam uang ke IMF. 

Saudi mencanangkan Visi 2030. Menurut anda, apakah ini akan berhasil? Dan apa saja hambatan dan tantangannya?

Saya kira dalam pertarungan ini Muhammad bin Salman akan memenangkan game ini dengan syarat dia melakukan persuasi kepada lembaga ulama. Karena ulama adalah pilar kedua di Arab Saudi. Kita tahu Arab Saudi bisa menjadi negara merdeka itu ketika berkoalisi dengan ulama.

Namun, ulama yang seperti apa? lembaga seperti apa? artinya harus ada reformasi di tingkat ulama. Islam yang lebih inklusif, Islam yang modern, Islam yang paham statistika. Kalau saya mengutip Muhammad bin Salman: Saudi itu bukan sekedar ayat, tapi implementasi ayat, dan strategi ayat. Karena Saudi hanya berbicara ini dalilnya, bagaimana implementasi dalil itu. Itu yang penting. 

Reformasi radikal, megaproyek NEOM, dan Visi Saudi 2030 akan berhasil dengan syarat. Pertama, reformasi pemikiran di lembaga ulama Arab Saudi. Kedua, good government. Semua masyarakat, khususnya keluarga kerajaan tidak ada yang kebal hukum. Ketiga, masih menjalin hubungan intensif dengan Paman Sam. 

Tetapi juga ada masalah dengan ulama, kalau Muhammad bin Salman sampai gagal melakukan komunikasi dengan ulama, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi koalisi yang dahsyat antara kubu non-Sudairi dengan lembaga ulama. Kalau ini terjadi, Saudi hanya sejarah saja.
Kamis 2 November 2017 16:0 WIB
Pendudukan Israel atas Palestina, Sampai Kapan?
Pendudukan Israel atas Palestina, Sampai Kapan?
Hingga tahun 2017 ini pendudukan Israel atas Palestina sudah berlangsung selama lima puluh tahun. Pelanggaran demi pelanggaran terus dilakukan oleh Israel. Warga Palestina dipersekusi, diusir, bahkan dibunuh. Semua aktifitas warga Palestina diawasi oleh Israel hingga detik ini. Semuanya diatur oleh Israel: suplai air, makanan, dan kebutuhan lainnya. Bahkan untuk pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya pun warga Palestina harus mengantongi izin dari Israel.

Dunia internasional mengecam dan mengutuk apa yang dilakukan Israel. Meski demikian, Israel sepertinya tidak menghiraukannya. Ia terus saja melakukan ‘kejahatan kemanusiaan’ dan perampokan hak asasi manusia warga Palestina.
Perhatian dan dukungan dunia untuk Palestina seolah tak pernah surut. Palestina memiliki wilayah yang sangat strategis: pusat tiga agama Abrahamik (Islam, Kristen, dan Yahudi), pusat wisata dunia, dan pusat peradaban dunia. Selain itu, konflik Palestina-Israel bukan hanya soal agama, tetapi juga kemanusiaan.

Ada banyak negara yang mengecam Israel dan mendukung Palestina. Indonesia adalah salah satunya. Sikap Indonesia tegas terhadap Israel. Yaitu menutup hubungan diplomasi dengan Israel selama Palestina belum merdeka. 

Namun yang menjadi pertanyaan adalah sampai kapan konflik Palestina-Israel akan berakhir? Untuk menciptakan perdamaian di sana harus dimulai mana? Dan apakah yang sudah dilakukan Indonesia untuk Palestina sudah cukup? 

Untuk menjawab itu, Jurnalis NU Online A Muchlishon Rochmat berkesempatan mewawancarai Direktur Sekolah Kajian Ilmu Stratejik dan Global Universitas Indonesia (UI) Muhammad Luthfi Zuhdi.

Hingga hari ini, konflik Palestina dan Israel masih berlarut-larut dan tidak kunjung usai. Apa sebetulnya penyebab konflik Palestina dan Israel?

Ada banyak faktor. Pertama, Israel sendiri memiliki ambisi untuk menjadi negara besar di situ. Selalu merasa tidak cukup dengan tanah yang mereka miliki. Israel bukan hanya mencaplok wilayah Palestina, tetapi juga mencaplok negara-negara di sekitarnya. Bahkan, pendudukan Israel seharusnya sampai Madinah dan Irak. 

Kedua, negara-negara besar belum memiliki minat untuk mendukung Negara Palestina yang merdeka. Kunci-kunci hubungan internasional yang ada di muka bumi ini adalah negara-negara besar. Pengakuan mereka sangat menentukan di PBB. Kalau mereka tidak menyetujui, maka Negara Palestina tidak akan berdiri. 

Israel seringkali melanggar kesepakatan-kesepakatan internasional, namun sepertinya Israel tidak mendapat hukuman. Bagaimana itu?

Banyak orang yang melakukan protes, tetapi itu seperti orang yang teriak di gurun pasir. Apapun protes yang ditujukan kepada Israel, tetapi Israel terus jalan terus. Dan Israel didukung oleh negara-negara besar, khususnya Amerika. Sehingga protes tersebut tidak membuahkan hasil apapun. 

Selama negara-negara besar tidak memiliki iktikad untuk memberikan hak kemerdekaan kepada Palestina, maka Negara Palestina tidak akan pernah terwujud karena hak veto dikuasai oleh negara-negara besar.
 
Bagaimana Anda membaca situasi dan kondisi Palestina kini terutama setelah Fatah dan Hamas berdamai?

Saya menghimbau agar mereka belajar Indonesia. Bagaimana berdemokrasi, bagaimana menyikapi perbedaan pendapat. Timur Tengah tidak terbiasa dengan demokrasi. Katakan mereka berdemokrasi, pemilihan umum di Mesir. Ketika menang, mereka mengambil seluruhnya. Lalu, kemudian ada upaya untuk saling menghilangkan posisi orang lain. Ini bahaya kalau itu yang terjadi. 

Kalau misalnya mereka melakukan pemilihan umum. Kemudian satu kelompok Hamas menang, lalu ia meniadakan yang lain dengan tidak memberikan posisi mesti akan terjadi sebuah konflik yang lebih besar lagi. Jadi harus dibagi posisinya. Yang menang jangan mengambil semuanya, tetapi harus berbagi kepada yang lain. Seperti di Indonesia bahwa yang menang tidak mengambil semuanya.  

Hingga saat ini Indonesia tetap konsisten mendukung dan membantu Palestina –baik dalam tataran diplomasi ataupun bantuan logistik, kesehatan, dan pendidikan- serta menentang Israel. Menurut Anda, apakah yang dilakukan Indonesia sudah cukup?

Untuk ukuran tertentu sudah cukup baik, tetapi artinya bukan cukup. Namun Pemerintah Indonesia perlu didorong terus. Indonesia tidak boleh berhenti di tempat. Indonesia harus jalan terus. Apa yang sudah dilakukan hingga saat ini sudah bagus, meskipun harus dilakukan peningkatan-peningkatan. Seperti pelatihan capacity building terhadap warga Palestina. Ini sudah bagus tetapi harus ditingkatkan. Sehingga ketika mereka merdeka nanti mereka siap untuk bekerja.

Jika dibandingkan dengan negara lain, Indonesia adalah negara yang tidak menyukai hal-hal provokatif. Indonesia tidak suka ngomong kesana kemari. Tetapi terus konsisten mendukung Palestina. Ini dirasakan oleh pejabat Palestina sendiri dan mereka menganggap Indonesia sebagai negara yang paling konsisten mendukungnya baik di lapangan maupun di dunia diplomatik serta dalam perjanjian-perjanjian. 

Kalau belum cukup, apa lagi yang seharusnya dilakukan Indonesia?

Pertanyaan saya apakah Indoensia sudah waktunya untuk mencoba masuk ke wilayah yang lebih dalam bagaimana terlibat dalam menciptakan perdamaian di Timur Tengah tersebut. Namun itu tidak mudah karena masalah Palestina itu seperti blackhole, apapun yang masuk hilang di situ.  Indonesia harus hati-hati dalam hal ini. 

Namun demikian, Indonesia memiliki pengalaman untuk mendamaikan beberapa negara seperti Kambodia dan Filipina Selatan. Bahkan mendamaikan konflik yang ada di Indonesia sendiri. Kita berhasil menyelesaikan konflik di Ambon, Poso, dan Aceh. Tidak banyak yang memiliki pengalaman ini sebagaimana yang Indonesia miliki. Dengan modal itu, Indonesia diharapkan bisa memberikan masukan kepada mereka.

Apakah Indonesia terkena dampak langsung dari konflik Palestina-Israel itu?

Dalam hal-hal tertentu ada. Indonesia sudah seharusnya mendukung Palestina. Pertama, di dalam konstitusi kita bahwa Indonesia anti penjajahan. Kedua, sejarah membuktikan bahwa orang yang pertama mengakui dan mendukung kemerdekaan Indonesia adalah Palestina. Ketiga, ini adalah bukan hanya masalah agama saja, tetapi juga masalah kemanusiaan. 

Kalau Indonesia kurang mendukung Palestina, maka ini dijadikan sebagai alat politik oleh oposisi untuk menjatuhkan pemerintahan. Atau paling tidak memojokkan pemerintah karena kurang mendukung Palestina. Artinya, ini bisa menjadi isu politik. Itu dampak langsungnya bagi Indonesia.

Sedangkan dampak lainnya adalah ada puluhan ribu orang Indonesia yang berkunjung ke Yerussalem. Menurut perhitungan yang saya baca, lebih dari enam puluh ribu orang Indonesia pergi ke Yerussalem setiap tahunnya. Ini berdampak langsung kepada ekonomi pariwisata Israel. Semakin banyak yang datang ke Yerussalem, maka semakin banyak yang didapat Israel. 

Kalau dampak ekonomi Israel kepada Indonesia?

Mungkin tentang perdagangan yang jumlahnya belum tahu persis karena itu tidak terbuka. Produk-produk Israel sendiri masuk ke Indonesia bisa melalui negara ketiga. Seperti produk Indonesia dulu saat diekspor ke Amerika dan Eropa juga melalui Singapura. Banyak produk Israel yang bagus dan unggul seperti alat-alat pertanian. Indonesia sebagai negara pertanian tidak bisa lepas dari itu. 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG