IMG-LOGO
Nasional

Kaji Keistimewaan Manajemen Pesantren, Kiai Mujib Qulyubi Raih Doktor di Uninus

Kamis 7 Desember 2017 15:47 WIB
Bagikan:
Kaji Keistimewaan Manajemen Pesantren, Kiai Mujib Qulyubi Raih Doktor di Uninus
Kiai Mujib Qulyubi sedang ujian doktor.
Bandung, NU Online
Upaya-upaya menggali khazanah dan studi tentang Pesantren terus berkembang dengan baik di Indonesia. Sejumlah penelitian serius secara konsen mengarahkan bidikan kajiannya pada institusi pendidikan Islam tertua di Nusantara ini.

Salah satunya Studi itu dilakukan oleh KH Mujib Qulyubi, Wakil Rektor Kemahasiswaan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.

Dalam studinya yang bertajuk Manajemen Pendidikan Karakter di Pesantren, Kiai yang juga Katib Syuriyah PBNU ini menemukan keistimewaan manajerial yang khas dan hanya dimiliki oleh Pesantren. 

"Di balik penampilan yang dikesankan biasa-biasa saja dan bahkan banyak kelangan memandang Pesantren tidak memiliki manajemen yang jelas, ternyata semua itu tidak benar. Saya menemukan bahwa di Pesantren Kevin Jambu Al-Islamy, juga di Pesantren-pesantren lain, Ada manajemen yang secara langsung berkorelasi dengan pembentukan akhlak dan karakter santri," jelas Kiai Mujib.

Di hadapan pengujinya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung pada Rabu (6/12), Kiai Mujib berhasil mempertahankan Disertasinya dengan sangat baik. "Insyaallah hasil kajian ini akan dikembangkan dan disempurnakan agar ada manfaatnya bagi dunia pendidikan,” terangnya.

Saat dikonfirmasi mengenai keistimewan Pesantren yang tidak dimiliki lembaga pendidikan lainnya, Mujib mengatakan bahwa kepercayaan kepada keberkahan atau barokah adalah salah satu nilai dan prinsip yang otentik yang dimiliki Pesantren. 

"Pesantren punya banyak nilai yang otentik. Salah satunya percaya pada barokah. Ini yang menyebabkan ilmu santri menjadi bermanfaat," jelasnya mengakhiri. (Red: Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Kamis 7 Desember 2017 23:15 WIB
MUI Dorong Peningkatan Kualitas Konten Keislaman
MUI Dorong Peningkatan Kualitas Konten Keislaman
Jakarta, NU Online
Ketua Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman Majelis Ulama Indonesia (LPBKI-MUI) H Endang Soetari menyampaikan, secara kuantitas di era milenial ini, perkembangan media penerbitan dan penyiaran bermuatan konten keislaman mencapai grafik menggembirakan, bahkan dapat dikatakan uar biasa. 

Ia mencontohkan dengan semakin banyak hadirnya penerbitan Mushaf Al-Quran oleh penerbit-penerbit baru yang memiliki perhatian besar di bidang ini. Bahkan, secara massif pula, mushaf-mushaf tersebut semakin lengkap dan kreatif dengan menambahkan konten tafsir, fiqih, sejarah, dan hikmah kehidupan islami di dalamnya.

Hal tersebut dia ungkapkan pada Silaturahmi Nasional Stakeholders Konten Keislaman, di Hotel Santika TMII Jakarta, Kamis (7/12).

Perkembangan produksi dan penyebaran konten keislaman berbasis cetak dan digital seperti buku-buku keislaman, film, sinetron religi, training spiritualitas, website, dan gadget serta smart phone begitu gencar.

"Ini adalah tanda bahwa media penyiaran publik yang bermuatan konten keislaman dalam produknya semakin diterima oleh publik yang mayoritas adalah umat Islam," lanjutnya.

Sementara di bidang digital lanjutnya, bisa dilihat dari semakin lengkapnya fitur smart phone yang menambahkan konten tafsir, hadis, dan hikmah islami, dan massifnya media sosial dengan jutaan follower .

Semua itu di satu sisi menunjukkan pesatnya kebutuhan umat Islam dan bangsa Indonesia akan spiritualitas keislaman. Di sisi yang lain menunjukkan semakin tak terbendungnya arus deras informasi publik yang diterima oleh publik maupun umat Islam.

"Perkembangan pesat produksi konten keislaman  harus disikapi dan dibarengi dengan regulasi dan edukasi yang progresif, akomodatif, dan solutif," harapnya.. 

Sementara di bidang perbukuan, negara sudah merespon dengan UU No 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan. Di bidang teknologi informasi sudah ada UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

"Artinya, dalam ranah regulasi dan hukum sudah ada pedoman yang menyertai progresivitas perkembanga konten," jelasnya.

Namun demikian, menurutnya belum terlihat adanya langkah nyata edukasi, advokasi, dan maturasi di sektor penghujung, yaitu para pengguna dan penikmat konten keislaman.

"Masih terlihat seolah publik tidak memiliki kode etik dalam arus bebas persebaran konten keislaman," sesal Endang.

Lebih jauh lagi, kata dia,  termasuk belum konkritnya upaya bersama multi-stakeholders konten tersebut untuk menjadikan publik sebagai subyek konten, bukan sekadar obyek atau konsumen konten semata.

Oleh karenanya Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman Majelis Ulama Indonesia (LPBKI-MUI) berupaya mengisi ruang tersebut dengan mempertemukan multi-stakeholders konten keislaman dan publik yang direpresentasikan oleh ormas Islam, perguruan tinggi Islam, pimpinan Pondok Pesantren, dan OKP berbasis Islam di bawah naungan Majelis Ulama Indonesia. 

Hal tersebut bertujuan mempertemukan kebijakan, perspektif, dan partisipasi pro aktif multi-stakeholders tersebut bersama umat untuk satu kepentingan bersama.

"Memastikan bahwa konten keislaman yang dinikmati publik selain produktif untuk memajukan produsen konten keislaman baik cetak maupun digital, juga betul-betul meningkatkan kualitas kehidupan beragama dan ber-Negara Kesatuan Republik Indonesia," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan)
Kamis 7 Desember 2017 22:45 WIB
Santri Preneur Expo 2017
Menpora Berharap Ada Santri Pengusaha
Menpora Berharap Ada Santri Pengusaha
Tulungagung, NU Online
Menpora Imam Nahrawi mengikuti senam tradisional Reog Ayem Tentrem Mulyo Lan Tinoto sekaligus membuka Santri Preneur Expo 2017 di halaman Gelanggang Olahraga Lembupeteng, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis (7/12) sore.

Menpora berharap para santri terus bangkit dalam dunia usaha dan mampu melahirkan miliuner dari santri. "Melalui ajang Santri Preneur Expo 2017 para santri mampu bangkit dan melahirkan miliunir-miliunir dari kalangan santri sesuai ajaran para kiai untuk berwirausaha dan sesuai ajaran Nabi SAW terlebih di Tulungagung banyak sumber daya alam yang perlu terus di promosikan," ujar Menpora.

"Selamat atas penyelenggaraan Santri Preneur Expo 2017 yang mengangkat tema Napak Tilas Bisnis Kanjeng Nabi Muhammad SAW semoga dengan ini menjadi langkah awal membangun jiwa santri preneur yang aktif, inovatif dan berdaya saing tinggi di kalangan pemuda santri di seluruh Indonesia," tambahnya.

Sebelumnya, Bupati Tulungagung Syahri Mulyo sampaikan atas nama masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Tulung Agung mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada Menpora dan jajaran yang telah hadir di Tulungagung.

"Terimakasih kepada peserta para Santri Preneur Expo 2017 dan seluruh panitia semoga ajang ini  menjadi ajang silaturahmi dan sebagai ajang tukar informasi dan media promosi komuditi bagi para intrepreneur santri, pemerintah dan masyarakat guna menjalin kerjasama antar elemen yang lebih dinamis dan efisien," ujar Syahri.

Pihaknya lanjutnya, terus berharap putra putri Tulungagung dapat menunjukkan peran aktifnya terhadap pergerakkan arus lingkar perekonomian di Tulungagung dan masyarakat luas.

"Santri Preneur Expo ini menjadi ajang pembuka saluran distribusi dan saluran pangsa pasar baru untuk memasarkan komuniditi yang dimilikinya sehingga membangkitkan jiwa entrepreneurship di bidang pemasaran secara islami," tutupnya. (Red-Husni Sahal)
Kamis 7 Desember 2017 21:0 WIB
Mencintai Tanah Air Indonesia, Bagaimana Caranya?
Mencintai Tanah Air Indonesia, Bagaimana Caranya?
Gorontalo, NU Online
Wakil Sekretaris Lembaga Ta’mir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM PBNU) H Muiz Ali Murtadho mengatakan, jika seseorang mengaku cinta tanah air maka mereka harus berbuat sesuatu yang baik untuk bangsa dan masyarakat Indonesia. Kemiskinan, rendahnya pendidikan, korupsi, narkoba, dan lainnya adalah sederet persoalan yang membelit bangsa Indonesia. Orang yang cinta tanah air Indonesia harus ikut serta dalam menyelesaikan berbagai persoalan tersebut. 

“Cinta tanah air ialah perasaan cinta terhadap bangsa dan negaranya sendiri,” kata H Muiz di acara Pelatihan Pemuda Pelopor di Kota Gorontalo, Kamis (7/12).

Bagi dia, orang yang cinta tanah air Indonesia juga harus siap dan rela berkorban untuk bangsa dan negara dari segala sesuatu yang mengancam kedaulatan negaranya. 

“Dalam cinta tanah air terdapat nilai-nilai kepahlawanan ialah rela dengan sepenuh hati berkorban untuk bangsa dan Negara,” terangnya.

Mengutip apa yang disampaikan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, dia mengatakan cinta tanah air adalah bagian dari iman. Orang yang mencintai Indonesia juga mencintai Islam. Begitu pun sebaliknya.

“Cinta Islam adalah cinta Indonesia. Keduanya seperti dua sisi mata koin yang tidak bisa dipisahkan,” lanjutnya.

Acara pelatihan ini merupakan hasil kerjasama antara Lembaga Ta’mir Masjid PBNU bekerjasama dengan Kementerian Pemuda dan Olah Raga RI. Tema yang diangkat adalah Revitalisasi Peran dan Fungsi Masjid sebagai Benteng dan Kedaulatan dan Pemakmuran NKRI. Di Provinsi Gorontalo, acara ini diadakan selama hari di lima kabupaten kota, yaitu Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Boalemo, Kabupaten Pohuwato, dan Kabupaten Bone Bolango. (Muchlishon Rochmat)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG