IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Menata Ulang Strategi Dakwah NU

Sabtu 9 Desember 2017 16:33 WIB
Bagikan:
Menata Ulang Strategi Dakwah NU
ilustrasi (ist)
Baru-baru ini, sebuah stasiun televisi swasta menyatakan permintaan maaf kepada publik karena terdapat kekeliruan pada tulisan ayat Al-Qur’an yang akhirnya menjadi viral di dunia maya. Masih terdapat silang pendapat apakah hal ini merupakan kesalahan teknis dalam penulisan ayat tersebut atau karena kapasitas ustadzah memang lemah dalam menulis huruf Arab. Sejauh ini, keluhan terhadap kapasitas keilmuan penceramah di tv sudah seringkali diungkapkan ke publik, toh tetap saja, penceramah dengan kapasitas ilmu agama minimal masih menghiasi layar kaca. Kita menginginkan stasiun tv menampilkan tokoh sekualitas KH Quraish Shihab atau Gus Mus yang memiliki kemampuan agama sangat dalam dalam bidangnya membawakan ajaran Islam dengan jernih. 

Beragamnya siaran dakwah yang dikemas dengan berbagai bentuk harus diapresiasi. Ini tentu hal yang baik bahwa siaran dakwah menjangkau masyarakat yang lebih luas. Dai-dai yang sebelumnya tidak dikenal, menjadi favorit publik ketika sudah muncul di layar kaca dan kemudian sibuk sekali berceramah dari panggung ke panggung karena memiliki kemampuan retorika yang sangat baik yang menyenangkan jamaah.

Kebanyakan seleksi ustadz yang masuk ke TV adalah kemampuan mereka dalam beretorika atau menghibur jamaah. Karena itu, kemudian, muncul dakwahtainment, memposisikan dakwah dengan gaya sebuah entertainment atau hiburan, yaitu unsur hiburannya lebih dominan daripada dakwahnya sendiri. Karena kemampuannya dalam menghibur yang ditonjolkan, maka tak jarang kapasitas keilmuannya menjadi nomor dua. Sudah berulangkali, penceramah di tv harus minta maaf kepada publik karena kesalahan dalam ceramah. Belum lagi penjelasan yang janggal dan berputar-putar atas tema tertentu yang sesungguhnya menunjukkan penguasaan atas khazanah keislaman yang belum memadai.

Kelompok Nahdliyin, dengan puluhan ribu pesantren telah menghasilkan para ahli agama dengan kemampuan yang sangat mumpuni. Di banyak pesantren, juga ada materi khitabah atau berpidato yang mengajarkan pada santri bagaimana berdiri di depan publik dan menyampaikan ceramah keagamaan, baik dalam khutbah atau dalam ceramah umum. Sudah seharusnya kita mampu melahirkan para dai yang kompeten, bukan hanya di panggung atau majelis, tetapi juga menjangkau pemirsa di lingkungan yang lebih luas. 

Soal kapasitas melucu, jangan ditanya lagi, kalangan pesantren memiliki keahian dalam membuat lelucon. Kehidupan sehari-hari mereka dipenuhi dengan guyon-guyon segar di antara para teman sesama santri. Saat di panggung, mereka tahu kapan jamaah sudah mengantuk dan perlu mengeluarkan leluconnya. Toh, bagi mereka, pesan keagamaan tetap menjadi nomor satu. 

Sudah selayaknya jika dai-dai Nahdliyin mampu menjangkau ruang yang lebih besar. Pencapaian mereka saat ini masih jauh dari potensi yang sebenarnya ada. Sayangnya, ruang-ruang publik yang ada tidak diberikan dengan gratis karena ada banyak orang atau kelompok yang ingin menguasainya. Ada kelompok, yang secara jumlah kecil, tetapi militan dan vokal. Mereka ingin menguasai panggung untuk memperluas jangkauan pengaruhnya. Sementara itu, budaya yang hidup di kalangan santri jika tidak diminta, belum tentu mau. Jika ada yang lebih tua, mempersilakan guru atau orang yang lebih tua terlebih dahulu. Kerendahan hati merupakan bagian dari sikap keagamaan yang telah mendarah daging. 

Dengan adanya pihak-pihak yang secara keilmuan pas-pasan tetapi ingin merebut ruang dakwah ini, tentu sudah selayaknya jika para dai NU mulai memikirkan ulang sikap saat berkontetasi dengan pihak luar. Harus dibedakan mana saat saling mempersilakan di antara sesama dai dalam komunitas yang sama, dengan ideologi yang sama, dan dengan kelompok lain yang akan menggunakan ruang-ruang dakwah untuk memperjuangkan ideologi, yang bisa merupakan bagian dari penyebaran Islam transnasional, dengan segala kamuflasenya.

Selanjutnya, kita juga harus memperluas ruang dakwah seiring dengan adanya media sosial yang kini menjadi sarana komunikasi dan interaksi. Tak ada pilihan selain ikut menguasai ruang-ruang tersebut atau pada akhirnya area tersebut menjadi ajang persebaran ideologi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam rahmatan lil alamiin sebagaimana yang terjadi saat ini. Semakin lama, masyarakat semakin tergantung pada internet, termasuk ketika mencari materi-materi keagamaan.

Dakwah via internet ini yang tampaknya belum disiapkan di lingkungan pesantren karena sebagian besar pusat pendidikan Islam khas Indonesia ini masih melarang para santri mengakses internet. Para santri perlu diajari bagaimana memproduksi konten-konten produktif dan ramah, juga belajar soal literasi digital. Kini, sudah mulai ada kiai yang menyiarkan pengajiannya melalui kanal Facebook. Ke depan, mereka yang memanfaatkan ruang ini diharapkan semakin bertambah. 

Kita dapat mengisi internet dengan rujukan-rujukan keislaman yang otoritatif dengan berbagai sudut pandang yang mampu membuat masyarakat memahami keragaman pandangan keislaman, dan kemudian memilih salah satu yang menurutnya paling benar, tetapi tidak menyalahkan pandangan lainnya. Kita memiliki pakar dalam bidang fiqih, qur’an dan hadits, tasawuf, dan bidang-bidang kajian keislaman lainnya. Tinggal bagaimana memberi ruang bagi mereka untuk berekpresi. Mereka yang menguasai internet, menguasai masa depan dari pikiran umat Islam Indonesia. (Achmad Mukafi Niam) 
Bagikan:
Sabtu 2 Desember 2017 16:0 WIB
Mereplikasi Keberhasilan Program NU di Daerah
Mereplikasi Keberhasilan Program NU di Daerah
Inovasi program yang dilakukan struktur NU di sejumlah daerah dalam bidang ekonomi menunjukkan hasil yang bagus. Di antara yang cukup sukses adalah program penggalangan dana di PCNU Sragen Jawa Tengah yang berhasil mendapat miliaran rupiah dari donasi masyarakat. Dengan kreativitas yang dilakukan, mereka berhasil memberdayakan masyarakat sekitarnya. Kisah sukses program tersebut ditampilkan di arena munas dan konbes NU 2017 di Lombok.

Keberhasilan program tersebut sangat penting untuk dapat direplikasi ke NU di daerah lainnya. Dengan demikian, akan terjadi kemajuan NU secara serentak di seluruh Indonesia. NU di wilayah Indonesia lainnya tidak perlu mengalami kegagalan karena sudah ada model yang bisa mereka terapkan. 

Model bisnis waralaba kini sudah marak di seluruh dunia. Contoh yang paling gampang dan terlihat sehari-hari adalah gerai minimarket yang menjamur di seluruh pelosok Indonesia atau restoran siap saji dengan merk internasional yang menggurita di berbagai kota besar di seluruh dunia. Dengan sistem ini, terdapat sistem baku yang bisa diterapkan di mana saja. Jika kita pergi ke minimarket atau restoran berjejaring, kita akan mendapatkan pelayanan standar. Semuanya terkelola dengan baik.

Untuk melakukan koordinasi antar-wilayah yang sangat kuat kini sudah relatif mudah. Kini sudah tersedia teknologi yang mampu secara real time dan mengolah data-data tersebut dengan beragam bentuk analisis untuk mengetahui dan mengevaluasi perkembangan program-program yang dijalankan itu.

Sesungguhnya, banyak PWNU, PCNU, atau MWCNU telah berusaha membuat sejumlah program untuk memberdayakan masyarakat. Salah satu yang sering dicanangkan tetapi gagal dalam pelaksanaan adalah program penggalian dana ke masyarakat. Hitung-hitungan di atas kertasnya adalah, ada sekian banyak warga NU dan hanya dengan iuran seribu atau dua ribu per bulan, akan terkumpul sekian banyak uang, yang kemudian bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan. Toh, realitas di lapangan tak semudah dengan apa yang direncanakan di atas kertas. 

Program yang terbukti sukses tersebut tentu telah melewati berbagai kesulitan yang mungkin telah dihadapi oleh cabang-cabang NU lainnya yang kurang berhasil. Karena itu, jika ada standar manajemen yang bisa dibuat baku dalam program-program penggalangan dana, kemudian ada mekanisme pendampingan dan kontrol, akan ada peningkatan peluang keberhasilan. 

Yang penting untuk diperhatikan adalah sumber daya manusia yang akan mengelola unit-unit usaha tersebut. Kebanyakan aktivis NU adalah orang-orang yang pola pikirnya adalah mengabdikan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk pemberdayaan masyarakat. Mereka terbiasa mengelola dana yang didapat dari donatur dan kemudian menghabiskannya untuk tujuan-tujuan sosial. 

Orang-orang yang bisa mengelola program penggalian dana yang sifatnya berkelanjutan membutuhkan pola pikir yang berbeda. Mereka harus memiliki kreatifitas bagaimana mengelola sebuah usaha, mengembangkan usaha tersebut sehingga kapasitasnya semakin besar dan jika memungkinkan, mampu mendorong daerah di sekitarnya melakukan hal yang sama. Aktivis yang seperti ini, kualitasnya jauh lebih tinggi daripada mereka yang kemampuannya hanya bisa sekadar menjalankan program yang sudah ada dananya.

Program pemberdayaan ekonomi yang berhasil umumnya berangkat dari kapasitas yang kecil. Dari hal tersebut, ada proses pembelajaran sampai akhirnya mencapai sebuah kematangan. Ibarat bayi, sebelum bisa berlari kencang, harus bisa berjalan, merangkak, bahkan sekadar belajar berguling. Tak ada yang mudah untuk bisa berhasil dalam program ekonomi. Hanya orang-orang dengan kapasitas istimewa yang mampu meraihnya.

Nahdlatul Ulama akhirnya harus memberi ruang dan menciptakan orang-orang dengan kapasitas seperti ini untuk kemandirian organisasi. NU tidak cukup hanya diisi oleh orang-orang yang pintar dalam ilmu agama saja. Para wirausaha sosial perlu mengisi ruang-ruang yang selama ini masih kosong untuk mensinergikan dakwah NU. (Ahmad Mukafi Niam)

Jumat 24 November 2017 17:0 WIB
Sumbang Solusi Bangsa melalui Munas dan Konbes
Sumbang Solusi Bangsa melalui Munas dan Konbes
Ilustrasi (Foto: Romzi Ahmad/NU Online)
Dalam struktur organisasi NU, forum permusyawaratan tertinggi disebut dengan muktamar yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali. Forum lain yang sangat penting adalah musyawarah nasional dan konferensi besar (munas dan konbes) yang diselenggarakan minimal selama dua kali dalam satu periode kepengurusan. Dua forum ini biasanya mendapat perhatian publik karena biasanya terdapat keputusan atau rekomendasi penting yang menyangkut sikap NU terhadap sebuah persoalan bangsa atau pandangan NU dalam sebuah permasalahan keagamaan. 

Keputusan penting dalam muktamar adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban pengurus setelah lima tahun bekerja dan pemilihan mandataris baru, yaitu rais aam dan ketua umum yang akan memimpin NU lima tahun selanjutnya. Nahkoda baru, selalu memiliki gaya tersendiri dalam mengendalikan NU terkait bagaimana menjalankan visi, misi, dan program yang telah ditetapkan sehingga selalu menarik perhatian pihak luar yang memiliki kepentingan dengan NU.

Acara munas berisikan pembahasan masalah-masalah kebangsaan yang dilihat dari perspektif keagaman atau persoalan-persoalan keagamaan kekinian yang belum  terpecahkan yang terbagi dalam tiga forum bahtsul masail waqi’iyah (membahas kasus-kasus aktual), maudluiyah (membahas isu-isu tematik), dan qanuniyah (membahas masalah yang berkaitan dengan perundang-undangan). Pada forum itu, para kiai dan alim ulama yang tidak masuk dalam struktur kepengurusan Nahdlatul Ulama turut diundang untuk mendiskusikan berbagai persoalan tersebut. Semantara itu konferensi besar membahas persoalan internal organisasi, seperti evaluasi program dan penyusunan program baru.

Forum munas dan konbes telah berkontribusi menyelesaikan sejumlah persoalan bangsa seperti penerimaan NU atas asas Pancasila, masalah KB, bunga bank, atau hukum tidak membayar pajak karena maraknya kasus penggelapan dana pajak. Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesaia dengan pengikut yang mengakar sampai ke desa-desa, apa yang diputuskan oleh NU memiliki dampak yang signifikan dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara karena menjadi panduan para pengikut NU dalam bersikap.

Nusa Tenggara Barat (NTB) sudah dua kali menjadi tempat munas dan konbes, pertama pada tahun 1997 dan dua puluh tahun kemudian, 2017 ini, pulau seribu masjid ini terpilih kembali menjadi tempat penyelenggaraan acara. Terdapat dua isu pokok yang mengemuka, yaitu soal radikalisme dan kesenjangan ekonomi. Era kebebasan setelah berakhirnya rezim Orde Baru membuat ideologi transnasional tumbuh dan berkembang cepat di Indonesia. Setelah dua puluh tahun, eksistensi mereka semakin mengakar, sekalipun masih dalam taraf kecil. Upaya pemerintah untuk menghambat perkembangan mereka layak diapresiasi karena kalau terlambat, akan menimbulkan permasalahan terhadap harmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Forum ini berusaha mencari solusi agar ajaran-ajaran radikal dan transnasional ini tidak berkembang di Indonesia.

Persoalan kesenjangan ekonomi juga menjadi perhatian dari para ulama NU ketika ada sekelompok kecil orang yang menguasai aset negeri ini sangat besar, dan komposisinya dari tahun ke tahun semakin membesar sementara di sisi lain, banyak warga negara yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya. Dalam pertemuan kali ini, isu yang dibahas adalah rencana redistribusi lahan guna meningkatkan kesejahteraan para petani. Isu kesenjangan kepemilikan tanah merupakan permasalahan paling krusial mengingat ada konglomerat yang menguasai lahan lebih dari satu juta hektar sementara rata-rata petani hanya memiliki lahan 0.3 hektar. Redistribusi juga tidak dimaknai sebatas pembagian lahan saja, tetapi banyak aspek yang terkait. Upaya redistribusi diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan para petani. Tetapi yang harus diingat adalah bahwa redistribusi bukanlah hal yang gampang karena banyak sekali pihak yang berkepentingan. Jangan sampai timbul moral hazard terkait dengan niat baik mensejahterakan para petani ini.  

Media sosial, selain menghubungkan orang-orang yang sebelumnya terpisah dan sebagai sarana ekpresi diri, juga menimbulkan persoalan ketika menjadi ruang untuk menyebarluaskan ujaran kebencian dan hoaks. Sejumlah peristiwa telah memberi pelajaran bahwa jika dampak negatif tersebut tidak dikelola, akan menimbulkan persoalan dalam harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara. Isu SARA bisa dengan mudah “digoreng” untuk kepentingan politik kelompok tertentu. Keputusan munas dan konbes ini diharapkan mampu memberi panduan bagaimana berperilaku yang baik di media sosial dan bagaimana negara mengatur ujaran kebencian ini. 

RUU KUHP yang sudah dibahas setiap periode DPR sejak tahun 1960an, tetapi hingga kini belum kelar padahal keberadaannya sangat penting untuk mengatur masyarakat. KUHP yang dibuat era kolonial itu tentunya sudah tidak sesuai dengan konteks masyarakat kini. PBNU akan memberikan masukan pada isu-isu tertentu yang sangat penting. NU memiliki ahli-ahli yang sangat menguasai masalah fiqih dan hukum nasional. Dengan demikian, KUHP versi kolonial tersebut bisa disesuaikan dengan konteks kekinian dan kondisi sosial di mana masyarakat Indonesia sebagian besar adalah Muslim. 

Total terdapat 18 isu yang dibahas yang merupakan turunan dari tema besar soal radikalisme dan kesenjangan ekonomi ini. Sejumlah isu merupakan isu berat yang tidak selalu populer dalam wacana publik sebagaimana isu-isu politik sesaat yang kemudian hilang dalam seminggu-dua minggu ditelan isu baru lainnya, tetapi keberadannya sangat penting untuk memajukan bangsa ini. 

Jokowi dalam sambutan pada pembukaan acara menyatakan menunggu rekomendasi dari pertemuan para alim ulama NU ini. Hal tersebut tentu harus kita apresiasi bahwa niat baik NU ini mendapat sambutan dari pemerintah dan menunjukkan kesadaran bahwa persoalan-persoalan bangsa tidak dapat diselesaikan sendiri oleh pemerintah. Peran ormas Islam dan kelompok masyarakat lainnya sangat penting dalam mendukung perjalanan bangsa ini menuju situasi yang lebih baik. (Ahmad Mukafi Niam)
 

Jumat 17 November 2017 18:40 WIB
Saatnya Kita Perluas Akses pada Kelompok Difabel
Saatnya Kita Perluas Akses pada Kelompok Difabel
Ilustrasi (via news.de)
Kelompok difabel merupakan mereka yang tidak memiliki kesempurnaan anggota tubuh. Ketidaksempurnaan yang ada pada diri mereka bukanlah sebuah keinginan. Hal tersebut terjadi di luar kemampuan untuk menghindarinya. Ada yang terjadi sejak lahir, ada pula yang karena faktor kecelakaan atau karena penyakit yang dialami saat dewasa. Ketika kejadian tersebut menimpa mereka, terutama yang sebelumnya menjalani kehidupan normal, lazimnya penderita akan mengalami beban fisik bahkan mental yang luar biasa. 

Sejauh ini tempat-tempat publik belum memberikan akses yang memadai untuk mereka. Akibatnya, mobilitas mereka sangat terbatas. Sebagian telah menyediakan fasilitas khusus seperti di bus Transjakarta yang menyediakan kursi khusus untuk mereka. Sayangnya akses untuk mencapai bus Transjakarta masih sangat susah karena untuk mencapai halte atau di haltenya sendiri sarana yang ramah bagi difabel belum memadai. Otomatis, fasilitas yang tersedia tersebut dimanfaatkan oleh siapa saja, penumpang yang berebutan mencari tempat duduk saat angkutan dalam kondisi penuh ketika pulang kerja. 

Hal yang sama juga terjadi di taman-taman kota. Memang ada jalan khusus bagi mereka, karena kesulitan kelompok difabel untuk naik tangga. Tapi, untuk mencapai akses ke taman kota ini sendiri juga merupakan masalah besar. Akibatnya, kelompok difabel menjadi tereksklusi dari kehidupan sosial masyarakat. Sebagian besar dari mereka tidak bisa mengekspresikan pikirannya secara luas kepada publik. Potensi besar yang mereka miliki juga tidak bisa tereksplorasi dengan baik karena keterbatasan aksesnya. 

Demikian pula, akses mereka ke tempat ibadah, seperti masjid dan mushalla juga belum memadai. Belum ada tempat wudhu yang dikhususkan untuk mereka, masjid yang biasa posisinya lebih tinggi dari tanah tidak menyediakan jalur khusus untuk mereka. Juga tidak tersedia shaf paling depan bagi mereka saat shalat berjamaah, padahal dalil-dalil agama menyatakan bahwa jamaah yang ada di barisan paling depan memperolah pahala yang paling besar. Al-Qur’an, hadits, dan buku-buku rujukaan keislaman dalam versi braile yang bisa diakses oleh orang yang memiliki masalah penglihatan juga sangat kurang. 

Masyarakat sesungguhnya memiliki empati yang sangat besar untuk membantu mereka dengan membukakan pintu, menuntun mereka di jalanan atau hal-hal lainnya. Tetapi pendekatan tersebut tidak membuat mereka mandiri karena tergantung pada belas kasihan pihak lain. Situasi yang ideal adalah bagaimana mereka bisa mengakses ke tempat-tempat publik tanpa perlu bantuan orang lain. 

Yang lebih mengenaskan lagi, karena sikap adanya sikap kasihan dari masyarakat tersebut, ada orang, bahkan dari pihak keluarga yang mengeksploitasi mereka menjadi peminta-peminta di jalanan. 

Dalam kultur Islam di Nusantara, orang-orang difabel diarahkan untuk menghafal Qur’an. Toh itu sesuatu yang baik. Tetapi tidak semua orang memiliki kecenderungan yang sama untuk menjadi penghafal Qur’an. Jika dipaksakan, ini akan menjadi penderitaan yang semakin berlipat-lipat, penderitaan fisik dan mental akibat pemaksaan yang mereka alami.

Jika memiliki akses yang memadai, kelompok difabel juga memiliki kesempatan untuk memberi kontribusi yang besar bagi masyarakat. Salah satu perawi hadits yang difabel adalah Hafsh bin Umar al-Basri. Selain itu, ia juga ahli dalam bidang ilmu waris, astronomi, puisi, dan sejarah Arab kuno. Di lingkungan NU sendiri, Gus Dur juga dalam beberapa tahun menjelang akhir hayatnya juga menghadapi masalah penglihatan, tetapi beliau mampu memberikan kontribusi luar biasa kepada bangsa Indonesia, bahkan jauh lebih besar daripada orang-orang pada umumnya. Sayangnya banyak orang difabel tetapi potensi yang mereka miliki tidak bisa tereksplorasi karena keterbatasan aksesnya. 

Untuk memberi kesadaran lebih guna memperhatikan akses bagi kelompok difabel, Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2017 ini membahas tema fiqih disabilitas. Diharapkan dengan pembahasan ini, muncul kesadaran lebih besar dari umat Islam untuk memperhatikan kepentingan mereka.

Sejauh ini, pembelaan publik terhadap masalah ini hanya sayup-sayup. Sosialisasi bahwa kelompok difabel membutuhkan akses yang lebih memadai akan dipahami secara lebih luas. Diharapkan juga ada kebijakan yang lebih mengakomodasi kebutuhan kelompok ini. Sejarah telah membuktikan, sekalipun mereka memiliki sejumlah keterbatasan, banyak kontribusi yang diberikan. Jangan sampai potensi mereka terabaikan. (Ahmad Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG