IMG-LOGO
Pesantren

Gandeng Ahlul Qohwah, Pesantren An-Nasyiin Galang Dana untuk Palestina

Rabu 20 Desember 2017 19:2 WIB
Bagikan:
Gandeng Ahlul Qohwah, Pesantren An-Nasyiin Galang Dana untuk Palestina
Pamekasan, NU Online
Pesantrem An-Nasyiin, Grujugan Larangan, Kabupaten Pamekasan bersama komunitas Ahlul Qohwah Pesantren Queen Al-Falah, Ploso Mojo, Kediri, melakukan bakti sosial penggalangan dana untuk Palestina, Rabu (20/12).

Para santri tersebut tampak menyisir jalan raya. Gerimis tak membuat surut semangat mereka.

R Kholil Mubarok Fauzi selaku Korlap Komunitas Ahlul Qohwa menyampaikan, bakti sosial tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian komunitas Ahlul Qohwa kepada saudara se-Muslim di Palestina.

"Arus hujan pun tidak menjadi kendala untuk memaksimalkan penggalangan dana yang kita lakukan demi saudara kita. Alhamdulillah mencapai kurang lebih Rp. 5.000.000. Jumlah yang lumayan cukup untuk kita sumbangkan," imbuhnya.

Bakti sosial ini merupakan bentuk sumbangsih kecil komunitas Ahlul Qohwa bersama santri Pesantren An-Nasyiin. Pihaknya berharap semoga besar manfaatnya kepada saudara kita di Palestina.

Moh Helmi sebagai korlap dari Pesantren An-Nasyiin juga menyampaikan, penggalangan dana merupakan bentuk partisipasi santri Pesantren An-Nasyiin yang peduli sesama, pun juga memberikan pendidikan moral sosial kepada kita semua sebagai kaum santri, untuk mengaktualisasikan salah satu visi dan misi pesantren, mengamalkan sunah Rasulullah Muhammad SAW.

"Yakni, selalu peduli terhadap orang yang membutuhkan," tukasnya. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Bagikan:
Rabu 20 Desember 2017 9:2 WIB
Alumni Pesantren Turut Mencerdaskan Anak Bangsa Bersama Pemerintah
Alumni Pesantren Turut Mencerdaskan Anak Bangsa Bersama Pemerintah
Surabaya, NU Online
Sekitar dua puluh lima ribu santri berkumpul di Masjid Al-Akbar Surabaya. Tercatat sekitar 450 bus terparkir di area Masjid. Para santri yang didampingi orang tuanya mengikuti acara Maulid Nabi Muhammad SAW dan Istighotsah Kubro ke 8 TPQ An-Nahdliyah dan madrasah diniyah se-Cabang Pondok Langitan Tuban.

Acara dihadiri Wakil Gubenur Jawa Timur H Saifullah Yusuf, KH Sholeh Qosim, KH Agoes Ali Masyhuri, KH Abdullah Faqih, KH Muhammad Ali Marzuqi, KH Munif Marzuqi, dan segenap Pengasuh Pesantren Langitan Tuban.

Wakil Gubenur Jawa Timur mengapresiasi peran alumni Pesantren Langitan Kabupaten Tuban. Selama ini, ribuan alumni Pesantren Langitan dinilai sukses menjadi tokoh dan teladan bagi masyarakat di berbagai bidang.

"Saya gembira dan senang sekali. Alumni Pesantren Langitan telah berkiprah di tempat masing-masing. Mereka menjadi tokoh, panutan dan guru. Semuanya itu diakui keilmuannya," kata Saifullah Yusuf di Masjid Al-Akbar, Surabaya (19/12).

Alumni Pesantren Langitan yang tersebar di seluruh Jawa Timur dan provinsi lain merupakan aset bangsa. Mereka bersama pemerintah telah berkontribusi meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) terutama di usia dini.

"Pada usia satu sampai delapan tahun menentukan perkembangan anak. Untuk itu, perlu ditanamkan pendidikan karakter," ujarnya.

Menurut Ketua PBNU ini, terkadang alasan pertama menjadi seorang santri ingin mencari ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Ketika santri ingin mencari keberkahan, maka ia harus hormat dan takzhim kepada muassis atau gurunya.

"Kesuksesan alumni menjadi tolok ukur dari seorang santri yang akan menimba ilmu di sebuah pesantren, kondisi inilah yang akhirnya diikuti oleh santri lainnya untuk terus belajar dan mengembangkan diri di pesantren," pungkas Gus Ipul.

Para tamu undangan dan para santri disambut langsung oleh Direktur Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya Endro Siswantoro. Endro menyampaikan terima kasih pada Pesantren Langitan yang telah memercayakan Masjid Nasional Al-Akbar sebagai tempat penyelenggaraan Peringatan Maulid Nabi dan Istighatsah Kubro ke-8.

"Masjid Nasional Al-Akbar merupakan masjid terbesar kedua se-Indonesia, setelah Masjid Istiqlal Jakarta. Kami senang sekali apabila acara seperti ini dilaksanakan kembali di Masjid Nasional Al-Akbar," kata Endro. (Rofi’I Boenawi/Alhafiz K)

Rabu 20 Desember 2017 8:5 WIB
Pesantren Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani Khitan Ratusan Anak Yatim
Pesantren Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani Khitan Ratusan Anak Yatim
Probolinggo, NU Online
Pondok Pesantren (PP) Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani (SAQA) Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo menggelar khitanan massal secara gratis bagi anak yatim piatu, Senin (18/12).

Kegiatan yang rutin digelar setiap tahun pada bulan Rabiul Awal ini diikuti oleh ratusan anak dari keluarga kurang mampu atau anak yatim piatu. Setelah dikhitan mereka mendapatkan sarung dan obat-obatan antibiotik untuk mencegah infeksi.

Salah satu pengurus Pesantren SAQA Gus H Ahmad Abdul Qodir (Gus Qodir) mengatakan kegiatan khitanan masal ini merupakan agenda rutin tahunan sejak 21 tahun yang lalu dan selalu disambut antusias masyarakat. “Khitanan massal ini merupakan salah satu bentuk kepedulian pesantren terhadap masyarakat kurang mampu terutama terhadap yatim piatu,” katanya.

Menurut Gus Qodir, khitanan massal ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat. Khitan adalah untuk mengikuti suri tauladan Nabi Ibrahim yang telah disyariatkan oleh Nabi Muhammad SAW. Untuk ini Gus Qodir mengutip sebuah hadits Nabi yang mengatakan khitan merupakan suatu kesunahan bagi para lelaki dan merupakan suatu kemuliaan bagi para wanita.

“Secara medis khitan ini akan membuang banyak kotoran dan najis yang terdapat pada ujung kemaluan lelaki. Alhasil dengan terbuangnya kotoran dan najis Insya Allah badan akan menjadi sehat dan tidak mudah sakit,” katanya.

Untuk mendukung kegiatan ini pihak panitia telah menyiapkan jajaran panitia yang memadai agar dalam pelaksanaanya bisa berjalan lancar. Di antaranya adalah tim medis dan paramedis sebanyak 90 orang yang berasal dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, RSUD Waluyo Jati Kraksaan serta Puskesmas Kraksaan.

Alhamdulillah kami bisa bersinergi dengan baik, semua berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan sedikitpun. Kami juga sajikan atraksi Marching Band SMK dan SMA Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani (SAQA) untuk menghibur anak yang akan dikhitan hari ini. Paling tidak kami berharap semua ini bisa sedikit meredakan perasaan takut mereka,” kata ketua panitia Supanut. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Jumat 8 Desember 2017 12:1 WIB
Jihad Literasi ala Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep
Jihad Literasi ala Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep
Tradisi penguatan literasi di pesantren telah lama dipraktikkan oleh para ulama dan kiai melalui kajian kitab kuning. Namun, seiring berkembangnya dunia keilmuan, tidak sedikit pesantren yang mengembangkan literasi buku-buku umum yang bersumber dari kitab-kitab klasik.

Ha ini dilakukan Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep, Madura, Jawa Timur di tengah kecenderungan instan masyarakat dalam mengakses bacaan di dunia maya. Namun, pesantren yang didirikan pada 1887 oleh KH Muhammad Asy-Syarkawi ini terus berkomitmen mengembangkan literasi pesantren melalui tradisi membaca dan menulis.

Menurut salah seorang Dewan Pengasuh Pesantren Annuqayah Nyai Hj Fadhilah Khunaini, Kiai Muhammad Asy-Syarkawi merupakan seorang penulis produktif. Ia lahir di Kudus, Jawa Tengah dan mampu menurunkan tradisi literasinya kepada para santri hingga kini.

“Pengembangan pendidikan dilakukan oleh KH M. Ilyas bin Muhammad Asy-Syarqawi (1889-1959) yang mendirikan madrasah dengan sistem kelas pada tahun 1933 dengan nama Annuqayah. Kiai Ilyas juga penulis,” ujar Nyai Fadhilah saat mengisi Halaqah Kiai dan Nyai pada 4-6 Desember 2017 di Bogor yang digelar Pusat Studi Pesantren (PSP).

Nama Annuqayah, kata Fadhilah menunjukkan visi pesantren bahwa tidak hanya ilmu agama, tapi juga ilmu umum. Kiai Ilyas yang pertama kali memperkenalkan bahasa Indonesia kepada santri-santri, namun masih menggunakan huruf Pegon untuk menjembatani santri-santri.

Setelah kemerdekaan, Pesantren Annuqayah menjadikan bahasa Indonesia sebagai pengantar, juga mengajarkan matematika, ilmu bumi, bahasa Inggris, dan ilmu-ilmu lainnya.

Adik Kiai Ilyas, KH Abdullah Sajad juga pendidik dan penulis (Mandzumatul Masa’il fi Ilmit Tauhid). Beliau gugur pada Agresi Militer Belanda II. Pesantren Annuqayah  sudah melahirkan ratusan penulis. Ada tradisi di Annuqayah yang mewarisi tradisi penulisan dari para santri ke adik-adik kelasnya.

Menurut Nyai Fadhilah, terkait radikalisme, kata kuncinya satu, kebodohan. Jadi sederhananya peran pesantren adalah memerangi kebodohan melalui tradisi membaca dan menulis yang kuat. Tradisi ini akan mencetak generasi yang tidak mudah percaya begitu saja terkait informasi yang beredar.

Media literasi yang  paling cocok selama ini di Pesantren Annuqaqyah adalah buku. Karena alat elektronik tidak diizinkan. Internet dibolehkan, tapi dibatasi.  Sementara ini, di komplek pesantren, santri-santri tidak diperbolehkan memiliki akun media sosial sebelum memiliki kemampuan literasi yang memadai atau dianggap pendidikannya selesai.

Pesantren Annuqayah mewajibkan santri membaca buku, targetnya 30 buku dalam satu tahun. Menurut Taufiq Ismail, anak SMA di Amerika Serikat membaca 30 buku, tapi di Indonesia 0 buku.

Bukti mereka membaca buku, pihak pesantren mewajibkan mereka membuat resensi. Mereka juga tiap bulan diawasi oleh guru. Kalau tidak memenuhi target yang ditunjukkan dengan bukti resensi, izin pulang mereka akan dikurangi.

Saat ini, Pesantren Annuqayah telah banyak memproduksi buku yang bersumber dari kitab-kitab kuning maupun karya-karya sastra. Kitab dan buku tersebut disadur menjadi cerita ringan dan menarik dalam bentuk buku bergambar dan berwarna sebagai bahan ajar di sekolah. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG