IMG-LOGO
Daerah

NU dan Ansor, Harapan Penyelamat Bangsa

Sabtu 23 Desember 2017 7:56 WIB
Bagikan:
NU dan Ansor, Harapan Penyelamat Bangsa
Sumenep, NU Online

Seluruh komponen bangsa khususnya Nahdlatul Ulama dan lebih khusus lagi yakni Gerakan Pemuda Ansor memiliki tanggungjawab besar meredam gerakan radikal. Karenanya, pemahaman terhadap sejarah bangsa harus dimiliki.

Hal tersebut disampaikan Kiai Nasa’i pada kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Dasar atau PKD) angkatan kedua yang diselenggarakan Pengurus Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Ganding Sumenep Madura. Kegiatan dilangsungkan di Aula Pondok Pesantren Al-Karomah Desa Telaga dan berlangsung sejak 21 hingga 22 Desember.  

Kiai Nasa’i yang juga sebagai Wakil Ketua MWC NU Ganding  mengingatkan peserta bahwa negara hari ini penuh dengan ancaman. “Perlu kita sadari bersama bahwa hari ini negara kita terancam oleh gerakan radikalisme dari berbagai sisi,” katanya, Kamis (21/12). Dan satu-satunya yang menjadi harapan untuk menyelamatkan bangsa ini adalah NU terutama para pemuda Ansor, lanjutnya.

Sementara Ketua PAC GP Ansor Ganding, Fauzan sangat berharap peserta mengetahui dan memahami peran NU dalam kemerdekaan Republik Indonesia yang hingga hari tetap berdiri tegak. “Saya berharap besar kepada seluruh peserta untuk mengetahui tentang sejarah Indonesia dan peran penting NU dalam kemerdekaan bangsa ini,” jelasnya.

Sedangkan M. Muhri sebagai Ketua PC GP Ansor Sumenep menyampaikan bahwa kaderisasi ditubuh Ansor harus tetap dilakukan untuk melahirkan kader militan dan mampu memperjuangkan nilai luhur dengan pola fikir ala NU. 

“Kaderisasi di tubuh Ansor ini sangat penting untuk melahirkan kader militan dan paham akan visi dan misi yang diperjuangakan GP Ansor,” kata Muhri. Baginya, mengaku diri sebagai NU hari ini tidak cukup dengan beramaliah, akan tetapi juga harus berfikrah dan berharakah an-Nahdliyah, lanjutnya. 

Kegiatan ini diikuti peserta yang merupakan perwakilan dari pimpinan Ranting NU se-Kecamatan Ganding. Pada pembukaan dihadiri Ketua PC GP Ansor Sumenep, Wakil Ketua MWC NU Ganding, Sekretaris MWC NU Ganding, Ketua PAC GP Ansor Ganding, Sekretaris Kecamatan dan perwakilan Kapolsek Ganding.  (Moh. Kholid/Ibnu Nawawi)
  
 

Tags:
Bagikan:
Sabtu 23 Desember 2017 23:50 WIB
Kampus, Medan Penguatan Kebangsaan
Kampus, Medan Penguatan Kebangsaan
Majalengka, NU Online
Saat ini dunia kampus merupakan medan untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan mengokohkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), bukan malah menjadi kawah candradimuka lahirnya kader-kader radikal dan anti-NKRI.

Hal itu diungkapkan Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor (PW GP Ansor) Jawa Barat, Deni Ahmad Haidar dalam Seminar Keagamaan bertema Modernitas dalam Presfektif Islam dalam Menciptakan Keutuhan NKRI, yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Univeritas Majalenga, di Auditorium Universitas Majalengka, Jawa Barat, Sabtu (23/12).

Didaulat sebagai narasumber, Kang Deni sapaan akrabnya, menjelaskan betapa pentingnya mencintai tanah air sebagaimana yang dikumandangankan oleh founding father bangsa ini khususnya para kiai NU.

"Hakikat cinta tanah air itu adalah cinta pada diri kita sendiri. Karena adanya kita ini yang berasal dari tanah dan air yang ada di NKRI ini. Jadi salah besar mereka yang akan merusak tanah airnya sendiri, padahal mereka dilahirkan di negeri ini," jelasnya.

Ia menambahkan NKRI sudah bersyariat Islam dan tidak harus dipaksakan untuk memformalkan dalam embel-embel NKRI Bersyariat Islam. Sejak berdirinya semua unsur pembentuk NKRI itu sudah berdasarkan syariat Islam, mulai dasar negara, sistem negara maupun perundang-undangan yang ada.

"Mana coba di negeri tercinta ini yang tidak berlandaskan syariat Islam. Jadi semuanya sudah dipikirkan matang-matang oleh pendahulu kita bahwa subtansi syariat Islam sudah ada semua di NKRI ini. Makanya para pemuda khususnya mahasiswa ini jangan terjebak pada retorika baru yang tidak berdasar dan tidak jelas. Nanti yang rugi kita sendiri lho," kata pria yang yang belum lama ini mengundurkan diri dari posisi Ketua KPU Purwakarta demi mengurusi GP Ansor Jawa Barat.

Terkait dengan modernisasi, Deni menjelaskan modern harus dimaknai bukan sekedar simbol-simbol baru yang sesuai dengan perkembangan zaman. Melainkan modern itu harus dimaknai pada konsep diri untuk memandang jauh ke depan. Dengan konsep diri yang sudah terbangun tersebut, maka kita akan terus berfikit dan berusaha bagaimana menuju kehidupan yang lebih baik dan menjadi pemain bukan sekadar penonton.

"Untuk menjadi orang modern itu gampang kok. Manakala kita sudah bisa melakukan semua hal secara efektif dan efisien maka kita dipastikan jadi orang modern dan memainkan modernisasi saat ini," imbuhnya.

Ditempat yang sama, Presiden Mahasiswa BEM (Presma BEM) Universitas Majalengka, Encu Shobari mengatakan acara yang diselenggarakan dalam rangkaian memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW ini merupakan rutinan tahunan yang digagas oleh para pengurus BEM sebagai bagian dari pengamalan ide dan kreatifvitas mahasiswa.

"Seminar ini akhir dari rangkaian kegiatan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang bejalan selama satu minggu ini," ungkapnya.

Ia menjelaskan sengaja mengadakan seminar keagamaan dengan mengangkat tema tersebut sebagai upaya dirinya dan organisasinya untuk memberikan kesadaran dan kekuatan bagi keluarga besar Unma dalam memahami dan mengaplikasikan pentingnya menjaga keutuhan NKRI walaupun dengan latar belakang yang berbeda baik dalam segi pandangan agama, sosial, ekonomi maupun budayanya.

"Dengan tema ini diharapkan kita semua paham dan mengamalkan betapa pentingnya menjaga NKRI walapun perspektif agama berbeda-beda dan dengan gaya modernitas yang berbeda. Semoga semua menjadi terbuka dan terjalin satu konsep untuh tentang kebangsaan di kampus tercinta ini," tambah pria yang juga aktivis PMII Majalengka. (Tata Irawan/Kendi Setiawan)


Sabtu 23 Desember 2017 23:25 WIB
Pagar Nusa Kudus Targetkan Juara Umum Kejurda VI Jateng-DIY
Pagar Nusa Kudus Targetkan Juara Umum Kejurda VI Jateng-DIY
Kudus, NU Online
Pimpinan Cabang Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PC IPSNU) Pagar Nusa Kabupaten Kudus mengirimkan kontingen dalam Kejuaraan Daerah (Kejurda) VI Pagar Nusa Jateng-DIY di Batang 24-28 Desember 2017. Kontingen berjumlah 58 atlet ini dilepas Ketua PCNU Kudus H Abdul Hadi di SMANU Alma'ruf, Jum'at (22/12/) malam.

Wakil Sekretaris Pagar Nusa Kudus Joni Prabowo mengatakan kontingen yang dikirim merupakan atlet terbaik hasil seleksi dalam Kejuaraan Kabupaten (Kejurkab) Kudus. Sebagai persiapan, tim memasuki
pusat latihan guna mematangkan jurus, fisik dan mental dari para pelatih.

"Pada Kejurda kali ini, kami bertekad menargetkan juara umum yang keempat kalinya," katanya  usai pelepasan kontingen.

Dalam Kejurda ini terdapat  48 kelas yang terdiri katagori tanding MI pa/pi 5 kelas, SMP/MTs 14 kelas, SMA/MA 14 kelas, dan dewasa 6 kelas. Sedangkan kategori seni Pagar Nusa, tingkat MI/SD 2 kelas, SMP/MTs  2 kelas, SMA/MA  2 kelas, seni wiraloka MI/SD  1 kelas, seni ganda IPSI Pa/Pi dan seni beregu IPSI Pa/Pi.

"Pagar Nusa Kudus bakal mengikuti seluruh kelas tanding dan seni. Mohon doa dan dukungan semoga kudus mampu menyabet semua kelas yang dilombakan," harapnya

Sementara itu, Ketua PCNU Kudus H Abdul Hadi menyampaikan pesan penting kepada kontingan agar menjaga keimanan, kebersamaan dan kesehatan. Dikatakan pendekar silat NU harus selalu ingat keimanan dengan tetap melaksanakan kewajiban shalat.

"Jangan sampai meninggalkan kewajiban ibadah shalat dan jangan memperlihatkan akhlak yang tidak baik," ujarnya.

Dalam Kejurda ini, lanjut Abdul Hadi, kebersamaan menjadi hal wajib yang harus dijaga. Bila ingin pulang membawa tropi juara umum lagi, ia mengingatkan supaya para atlit menjalankan tugas masing-masing dan menjaga komunikasi yang baik.

"Semua atlet juga harus menjaga kesehatan, jangan begadang atau tidur malam-malam. Makanlah makanan yang sehat dan bergizi tinggi untuk stamina menuju pertandingan," imbuhnya seraya mendoakan kesuksesan Kudus meraih juara umum.

Saat pelepasan hadir pula Ketua PC IPSNU Pagar Nusa Kudus H Husnul Khitam dalam pelepasan kontingen.yang diketuai Endro Rohadi. Selama Kejurda, para atlit didampingi official dan pelatih. (Qomarul Adib/Kendi Setiawan)
Sabtu 23 Desember 2017 23:15 WIB
Raih Syafaat dengan Perbanyak Shalawat
Raih Syafaat dengan Perbanyak Shalawat
Pesawaran, NU Online
Sebagai manusia biasa yang tak luput dari dosa, sudah seharusnya kita terus berusaha untuk meminta ampun kepada Allah SWT. Selain meminta ampun kepada Allah, kita juga bisa mengharap syafaat Nabi Muhammad SAW dengan bershalawat agar nantinya diakui sebagai umatnya serta mendapatkan limpahan cinta darinya. Ketika kita dicintai oleh Nabi Muhammad SAW, maka syafaat akan mengalir kepada kita dan dosa pun dapat terampuni.

"Mengapa kita memeriahkan peringatan maulid Nabi SAW? Karena dosa kita banyak. Dengan memeriahkan Maulid Nabi SAW kita berharap syafaat beliau. Dengan banyak bershalawat kita berharap bisa mencintai dan dicintai oleh Rasulullah SAW," kata salah satu pengurus Lembaga Dakwah PBNU Muhammad Nur Hayid pada Peringatan Maulid Nabi di Masjid Jami' Nurul Huda Pejambon Negrikaton Kabupaten Pesawaran Lampung, Jumat (22/12) malam.

Mengambil maqalah ulama, Sekjen HIPSI Pusat yang akrab disapa Gus Hayid ini menegaskan bahwa seseorang akan dipengaruhi oleh orang yang bergaul dengannya. Ketika mencintai orang yang baik maka ia akan menjadi baik bersamanya.

"Almar'u ma'a man ahabbahu, seseorang itu akan beserta orang yang dicintai. Kita memeriahkan maulid Nabi SAW, kita bershoaawat atas Nabi karena kita cinta nabi SAW. Kalau kita mencintai Nabi SAW insyaallah kelak kita akan beserta beliau di surga," tegas Gus Hayid yang sering mengisi acara religi di layar televisi nasional.
 
Namun, di era saat ini, tambah Pengurus Komisi Dakwah MUI Pusat ini, beberapa kelompok mulai mencoba menghilangkan amalan-amalan Nahdliyyin berupa shalawat dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Mereka berdalih tidak ada dalilnya, kelompok ini mengajak kepada umat Islam untuk mengikuti aliran mereka serta menyalahkan pemahaman di luar mereka.

"Sekarang ini orang-orang yang suka menyalahkan dan membid'ahkan amalan-amalan kaum Nahdliyyn sudah masuk ke desa-desa, jangan sampai tergoda dengan mereka, sebab kalau sampai keluarga kita ada yang tergoda maka yang timbul bukan kenyamanan hidup dan keharmonisan keluarga tapi malah keresahan dan uring-uringan yang ada," ingatnya.

Kehadiran Gus Hayid yang merupakan staf khusus Menaker juga dalam rangka doa bersama pembangunan pondok pesantren yang juga akan difungsikan sebagai Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) PCNU Kabupaten Pesawaran.

Hadir dalam acara tersebut, Ketua HIPSI Lampung H Abdul Karim, Rais Suriyah PCNU Pesawaran KH Ahmad Ma'shum Abror, Ketua Tanfidziyah PCNU Pesawaran Salamus Solikhin, dan segenap pengurus PCNU, lembaga dan banom NU Kabupaten Pesawaran. Hadir juga Kepala Desa Pejambon dan para kiai serta para ustadz setempat. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG