IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Dunia Bersatu Bela Palestina

Sabtu 23 Desember 2017 12:30 WIB
Bagikan:
Dunia Bersatu Bela Palestina
Ilustrasi (© Reuters)
Sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berlangsung pada Kamis (21/12) menghasilkan resolusi yang menolak keputusan Presiden Donald Trump yang menyatakan bahwa Yerusalem merupakan ibu kota Israel. PBB memutuskan, klaim apa pun atas status Yerusalem tidak diakui oleh PBB, dan Amerika Serikat diminta membatalkan keputusan yang telah dibuat sebelumnya. 

Sebanyak 128 negara mendukung resolusi tersebut, 35 negara abstain, 21 negara tidak hadir dalam pemungutan suara, dan hanya 9 negara yang menolak. Resolusi ini didukung oleh empat anggota tetap dewan keamanan PBB (China, Rusia, Perancis, dan Inggris). Sembilan negara yang menolak resolusi adalah AS, Israel, Guatemala, Honduras, Kepulauan Marshall, Nauru, Mikronesia, Palau, dan Togo. Di luar AS dan Israel, negara pendukung kebijakan Trump tersebut adalah negara-negara kecil. Sebelumnya, Trump mengancam akan mengurangi bantuan kepada negara yang tidak setuju atas kebijakan Amerika Serikat tersebut.

Ada pesan penting dari hasil resolusi tersebut bahwa klaim Israel atas Yerusalem tidak diakui oleh mayoritas negara di dunia. Wilayah tersebut diduduki Israel setelah perang enam hari pada 1967. Kemudian, Isreal membuat pemukiman di wilayah-wilayah yang diduduki secara tidak sah. Dan semua hal tersebut bisa berjalan karena dukungan Amerika Serikat, baik secara diplomatik maupun secara militer. 

Ada upaya sistematis yang dilakukan secara jangka panjang untuk membuat daerah pendudukan secara de fakto maupun secara de yure menjadi milik sah Israel. Upaya menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota merupakan hasil lobby pada kongres Amerika Serikat pada era 80an. Kebijakan Trump saat untuk memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem ini merupakan hasil dari politik menunggu momentum. Bisa saja, ke depan ada negara-negara tertentu, yang karena adanya ancaman atau iming-iming, ikut mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. 

Sekalipun tidak mengikat, resolusi ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Amerika Serikat tidak memiliki legitimasi di dunia Internasional. Bahwa penguasaan secara militer atas suatu wilayah dan ancaman yang dilakukan tidak serta merta menakutkan sejumlah negara untuk mengekor Amerika Serikat. Hanya negara miskin dan rentan yang mungkin tunduk pada keinginan AS. Negara yang menolak keinginan negeri Paman Sam tersebut juga telah mampu menunjukkan harga dirinya di hadapan kekuatan yang ingin menghegemoni. Amerika Serikat yang selama ini mengklaim diri sebagai penjaga HAM dan pendekar demokrasi di dunia dituntut untuk mampu menunjukkan apakan nilai-nilai yang dikampanyekan ke seluruh dunia ini juga bisa dilaksanakannya sendiri dengan baik, ketika kepentingan domestiknya bertentangan dengan kehendak masyarakat internasional.

Resolusi ini juga bisa menjadi modal untuk memperkuat posisi Palestina dan solusi dua negara untuk memperjuangkan perdamaian di wilayah tersebut. Jika sebelumnya posisi Palestina adalah entitas, lalu meningkat menjadi negara pemantau non-anggota pada 2012 dalam sebuah veto yang disetujui oleh 138 negara, 9 menolak dan 41 abstain. Kini saatnya memperjuangkan Palestina sebagai anggota penuh PBB.

Palestina dan para pendukung kemerdekaannya, tampaknya perlu mulai berpikir untuk mencari mediator alternatif di luar Amerika Serikat yang sudah jelas-jelas keberpihakannya kepada Israel. Buat apa menyandarkan diri kepada pihak yang kita tahu sudah jelas-jelas berbuat tidak adil dalam perundingan. Poros kekuatan baru dunia kini terus berkembang di luar Amerika Serikat. Memberikan kesempatan kepada pihak yang lebih independen terhadap kepentingan di Timur Tengah akan memberikan hasil yang lebih baik. Lembaga-lembaga internasional sejauh ini juga memberikan kepentingan kedua belah pihak dibandingkan dengan AS.

Tak kalah pentingnya adalah memperkuat soliditas rakyat Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaannya. Selalu ada faksi yang memiliki agenda atau cara yang berbeda dalam sebuah perjuangan. Persatuan antara Fatah dan Hamas, dua kelompok terbesar di Palestina layak diapresiasi dan kerjasama tersebut harus terus digalang untuk meraih tujuan bersama, dibandingkan dengan tujuan masing-masing kelompok yang kadang kala saling bersaing. 

Kita bangsa Indonesia, dapat membantu dengan berbagai cara. Perjuangan diplomatik Palestina dalam berbagai forum dunia sudah sejak lama didukung oleh Indonesia. Banyak upaya bersama yang bisa dilakukan seperti kerjasama ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lainnya. Perjuangan besar memang membutuhkan kerjasama, kecerdikan, ketangguhan, pengorbanan, dan napas jangka panjang. Tak ada yang mudah untuk mencapai kemuliaan. (Ahmad Mukafi Niam)

Bagikan:
Jumat 15 Desember 2017 17:0 WIB
Palestina, Yerusalem, dan Perjuangan yang Tiada Henti
Palestina, Yerusalem, dan Perjuangan yang Tiada Henti
Kabar buruk terkait dengan proses perdamaian Palestina-Israel terjadi dengan adanya pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh Presiden Donald Trump. Persoalan Yerusalem merupakan salah satu inti dari konflik yang terjadi di wilayah tersebut. Dengan berpihaknya Amerika Serikat yang selama ini memposisikan diri sebagai mediator dari dua pihak yang berkonflik, maka AS telah memposisikan diri sebagai pihak yang mengutamakan kepentingan satu pihak, bukan kepentingan bersama.

Para pemimpin dunia mengutuk, mengecam, menyesalkan, atau menyatakan keprihatinan yang mendalam atas situasi seperti ini. Yerusalem merupakan wilayah yang dikuasai oleh Israel dalam perang tahun 1967. Keputusan itu pun menyalahi sejumlah resolusi internasional yang selama ini menegaskan bahwa Yerusalem adalah bagian integral dari wilayah Palestina. Karena wilayah yang diduduki perang, maka komunitas internasional tidak mengakuinya sebagai wilayah milik Israel. Sejumlah mitra dekat AS seperti Inggris, Perancis, dan Jerman tidak mengikuti jejaknya mengakui dan memindahkan ibu kota Israel ke Yerussalem.
Umat Islam menghargai sikap negara-negara yang secara tegas tidak mengikuti langkah Amerika Serikat untuk memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem. Ini menunjukkan mereka masih mengakui prinsip-prinsip kedaulatan, bahwa wilayah yang direbut melalui mekanisme perang tak akan diakui sebagai wilayah yang sah dalam hukum internasional.

Pembatalan keputusan tersebut merupakan langkah bijak yang bisa dilakukan oleh Amerika Serikat demi menghargai prinsip-prinsip hukum internasional dan aspirasi komunitas internasional. Dalam posisi sebagai mediator antara Palestina dan Israel, AS harus mampu mengambil sikap yang adil atas kepentingan kedua belah pihak. Kecuali AS akan kehilangan legitimasi sebagai mediator.

Bangsa Palestina tidak dapat mengharapkan kemurahan hati Amerika Serikat. Mereka memiliki kepentingannya domestiknya sendiri terkait dengan kebijakan luar negeri yang diambil. Perubahan kebijakan dari satu presiden ke presiden AS lainnya menunjukkan kadang, mereka berusaha berimbang tetapi tak jarang sangat pro-Israel. Menggalang kekuatan diplomasi yang lebih luas merupakan upaya yang harus dilakukan untuk memperjuangkan kepentingan Palestina.

Bagi umat Islam di seluruh dunia, hal ini perlu disikapi dengan tindakan cerdas, jangan sampai melakukan demo-demo yang tidak konstruktif yang sampai merusak harta benda milik pihak lain, sampai-sampai harus berhadapan dengan polisi yang menjaga ketertiban. Kita harus mengekspresikan diri bahwa kita menolak keputusan tersebut dengan cara-cara yang santun. 

Langkah pemerintah Indonesia yang merespon cepat situasi tersebut menunjukkan sensitifitas yang tinggi akan psikologi umat Islam yang sangat peka terhadap isu terkait dengan Palestina. Presiden Joko Widodo mengecam keras tindakan tersebut. Ia juga menggalang dukungan internasional dan menghadiri sidang istimewa OKI di Turki untuk membicarakan masalah ini. 

Umat Islam di seluruh dunia dengan jumlah total pemeluk 1.7 miliar jiwa harus mampu menunjukkan bahwa kami satu kata dalam soal Palestina. Bahwa prinsip-prinsip keadilan harus ditegakkan. Dengan demikian, akan tercipta solusi damai.

Masalah palestina adalah masalah kemanusiaan. Sudah lebih dari lima puluh tahun, bangsa itu menderita karena perang. Sebagai pihak yang dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan besar dunia, Palestina tidak berdaya. Mereka hanya bisa melawan dengan lemparan batu dan senjata-senjata sederhana dibandingkan dengan Israel. Mereka tertinggal jauh dalam bidang pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dan teknologi dibandingkan Israel. Sesungguhnya pertarungan menjadi semakin tidak imbang.

Keyakinan dan kebenaran bahwa mereka merupakan pemilik sah atas wilayah-wilayah yang diduduki Israel merupakan modal kuat untuk tetap bertahan dengan segala keterbatasan. Sudah seharusnya jika negara-negara Muslim dan negara-negara yang mencintai keadilan dan kedaulatan untuk membantu Palestina memperoleh haknya. Saatnya meningkatkan bantuan ekonomi dan berbagai kerjasama lainnya untuk memberdayakan Palestina.

Memperjuangkan keadilan untuk Palestina butuh napas panjang. Entah sampai kapan keadilan tersebut dapat ditegakkan, tak ada yang tahu. Ada saat-saat ketika situasi memanas dan harus disikapi secara cepat sebagaimana yang terjadi pada hari-hari ini. Upaya pemberdayaan rakyat Palestina secara jangka panjang juga harus dilakukan, dengan memberikan mereka pendidkan yang memadai, akses ekonomi, bantuan diplomasi, dan hal-hal lain yang hasilnya tidak tampak seketika, tetapi mampu menguatkan posisi tawar dalam perundingan. (Ahmad Mukafi Niam)

Sabtu 9 Desember 2017 16:33 WIB
Menata Ulang Strategi Dakwah NU
Menata Ulang Strategi Dakwah NU
ilustrasi (ist)
Baru-baru ini, sebuah stasiun televisi swasta menyatakan permintaan maaf kepada publik karena terdapat kekeliruan pada tulisan ayat Al-Qur’an yang akhirnya menjadi viral di dunia maya. Masih terdapat silang pendapat apakah hal ini merupakan kesalahan teknis dalam penulisan ayat tersebut atau karena kapasitas ustadzah memang lemah dalam menulis huruf Arab. Sejauh ini, keluhan terhadap kapasitas keilmuan penceramah di tv sudah seringkali diungkapkan ke publik, toh tetap saja, penceramah dengan kapasitas ilmu agama minimal masih menghiasi layar kaca. Kita menginginkan stasiun tv menampilkan tokoh sekualitas KH Quraish Shihab atau Gus Mus yang memiliki kemampuan agama sangat dalam dalam bidangnya membawakan ajaran Islam dengan jernih. 

Beragamnya siaran dakwah yang dikemas dengan berbagai bentuk harus diapresiasi. Ini tentu hal yang baik bahwa siaran dakwah menjangkau masyarakat yang lebih luas. Dai-dai yang sebelumnya tidak dikenal, menjadi favorit publik ketika sudah muncul di layar kaca dan kemudian sibuk sekali berceramah dari panggung ke panggung karena memiliki kemampuan retorika yang sangat baik yang menyenangkan jamaah.

Kebanyakan seleksi ustadz yang masuk ke TV adalah kemampuan mereka dalam beretorika atau menghibur jamaah. Karena itu, kemudian, muncul dakwahtainment, memposisikan dakwah dengan gaya sebuah entertainment atau hiburan, yaitu unsur hiburannya lebih dominan daripada dakwahnya sendiri. Karena kemampuannya dalam menghibur yang ditonjolkan, maka tak jarang kapasitas keilmuannya menjadi nomor dua. Sudah berulangkali, penceramah di tv harus minta maaf kepada publik karena kesalahan dalam ceramah. Belum lagi penjelasan yang janggal dan berputar-putar atas tema tertentu yang sesungguhnya menunjukkan penguasaan atas khazanah keislaman yang belum memadai.

Kelompok Nahdliyin, dengan puluhan ribu pesantren telah menghasilkan para ahli agama dengan kemampuan yang sangat mumpuni. Di banyak pesantren, juga ada materi khitabah atau berpidato yang mengajarkan pada santri bagaimana berdiri di depan publik dan menyampaikan ceramah keagamaan, baik dalam khutbah atau dalam ceramah umum. Sudah seharusnya kita mampu melahirkan para dai yang kompeten, bukan hanya di panggung atau majelis, tetapi juga menjangkau pemirsa di lingkungan yang lebih luas. 

Soal kapasitas melucu, jangan ditanya lagi, kalangan pesantren memiliki keahian dalam membuat lelucon. Kehidupan sehari-hari mereka dipenuhi dengan guyon-guyon segar di antara para teman sesama santri. Saat di panggung, mereka tahu kapan jamaah sudah mengantuk dan perlu mengeluarkan leluconnya. Toh, bagi mereka, pesan keagamaan tetap menjadi nomor satu. 

Sudah selayaknya jika dai-dai Nahdliyin mampu menjangkau ruang yang lebih besar. Pencapaian mereka saat ini masih jauh dari potensi yang sebenarnya ada. Sayangnya, ruang-ruang publik yang ada tidak diberikan dengan gratis karena ada banyak orang atau kelompok yang ingin menguasainya. Ada kelompok, yang secara jumlah kecil, tetapi militan dan vokal. Mereka ingin menguasai panggung untuk memperluas jangkauan pengaruhnya. Sementara itu, budaya yang hidup di kalangan santri jika tidak diminta, belum tentu mau. Jika ada yang lebih tua, mempersilakan guru atau orang yang lebih tua terlebih dahulu. Kerendahan hati merupakan bagian dari sikap keagamaan yang telah mendarah daging. 

Dengan adanya pihak-pihak yang secara keilmuan pas-pasan tetapi ingin merebut ruang dakwah ini, tentu sudah selayaknya jika para dai NU mulai memikirkan ulang sikap saat berkontetasi dengan pihak luar. Harus dibedakan mana saat saling mempersilakan di antara sesama dai dalam komunitas yang sama, dengan ideologi yang sama, dan dengan kelompok lain yang akan menggunakan ruang-ruang dakwah untuk memperjuangkan ideologi, yang bisa merupakan bagian dari penyebaran Islam transnasional, dengan segala kamuflasenya.

Selanjutnya, kita juga harus memperluas ruang dakwah seiring dengan adanya media sosial yang kini menjadi sarana komunikasi dan interaksi. Tak ada pilihan selain ikut menguasai ruang-ruang tersebut atau pada akhirnya area tersebut menjadi ajang persebaran ideologi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam rahmatan lil alamiin sebagaimana yang terjadi saat ini. Semakin lama, masyarakat semakin tergantung pada internet, termasuk ketika mencari materi-materi keagamaan.

Dakwah via internet ini yang tampaknya belum disiapkan di lingkungan pesantren karena sebagian besar pusat pendidikan Islam khas Indonesia ini masih melarang para santri mengakses internet. Para santri perlu diajari bagaimana memproduksi konten-konten produktif dan ramah, juga belajar soal literasi digital. Kini, sudah mulai ada kiai yang menyiarkan pengajiannya melalui kanal Facebook. Ke depan, mereka yang memanfaatkan ruang ini diharapkan semakin bertambah. 

Kita dapat mengisi internet dengan rujukan-rujukan keislaman yang otoritatif dengan berbagai sudut pandang yang mampu membuat masyarakat memahami keragaman pandangan keislaman, dan kemudian memilih salah satu yang menurutnya paling benar, tetapi tidak menyalahkan pandangan lainnya. Kita memiliki pakar dalam bidang fiqih, qur’an dan hadits, tasawuf, dan bidang-bidang kajian keislaman lainnya. Tinggal bagaimana memberi ruang bagi mereka untuk berekpresi. Mereka yang menguasai internet, menguasai masa depan dari pikiran umat Islam Indonesia. (Achmad Mukafi Niam) 
Sabtu 2 Desember 2017 16:0 WIB
Mereplikasi Keberhasilan Program NU di Daerah
Mereplikasi Keberhasilan Program NU di Daerah
Inovasi program yang dilakukan struktur NU di sejumlah daerah dalam bidang ekonomi menunjukkan hasil yang bagus. Di antara yang cukup sukses adalah program penggalangan dana di PCNU Sragen Jawa Tengah yang berhasil mendapat miliaran rupiah dari donasi masyarakat. Dengan kreativitas yang dilakukan, mereka berhasil memberdayakan masyarakat sekitarnya. Kisah sukses program tersebut ditampilkan di arena munas dan konbes NU 2017 di Lombok.

Keberhasilan program tersebut sangat penting untuk dapat direplikasi ke NU di daerah lainnya. Dengan demikian, akan terjadi kemajuan NU secara serentak di seluruh Indonesia. NU di wilayah Indonesia lainnya tidak perlu mengalami kegagalan karena sudah ada model yang bisa mereka terapkan. 

Model bisnis waralaba kini sudah marak di seluruh dunia. Contoh yang paling gampang dan terlihat sehari-hari adalah gerai minimarket yang menjamur di seluruh pelosok Indonesia atau restoran siap saji dengan merk internasional yang menggurita di berbagai kota besar di seluruh dunia. Dengan sistem ini, terdapat sistem baku yang bisa diterapkan di mana saja. Jika kita pergi ke minimarket atau restoran berjejaring, kita akan mendapatkan pelayanan standar. Semuanya terkelola dengan baik.

Untuk melakukan koordinasi antar-wilayah yang sangat kuat kini sudah relatif mudah. Kini sudah tersedia teknologi yang mampu secara real time dan mengolah data-data tersebut dengan beragam bentuk analisis untuk mengetahui dan mengevaluasi perkembangan program-program yang dijalankan itu.

Sesungguhnya, banyak PWNU, PCNU, atau MWCNU telah berusaha membuat sejumlah program untuk memberdayakan masyarakat. Salah satu yang sering dicanangkan tetapi gagal dalam pelaksanaan adalah program penggalian dana ke masyarakat. Hitung-hitungan di atas kertasnya adalah, ada sekian banyak warga NU dan hanya dengan iuran seribu atau dua ribu per bulan, akan terkumpul sekian banyak uang, yang kemudian bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan. Toh, realitas di lapangan tak semudah dengan apa yang direncanakan di atas kertas. 

Program yang terbukti sukses tersebut tentu telah melewati berbagai kesulitan yang mungkin telah dihadapi oleh cabang-cabang NU lainnya yang kurang berhasil. Karena itu, jika ada standar manajemen yang bisa dibuat baku dalam program-program penggalangan dana, kemudian ada mekanisme pendampingan dan kontrol, akan ada peningkatan peluang keberhasilan. 

Yang penting untuk diperhatikan adalah sumber daya manusia yang akan mengelola unit-unit usaha tersebut. Kebanyakan aktivis NU adalah orang-orang yang pola pikirnya adalah mengabdikan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk pemberdayaan masyarakat. Mereka terbiasa mengelola dana yang didapat dari donatur dan kemudian menghabiskannya untuk tujuan-tujuan sosial. 

Orang-orang yang bisa mengelola program penggalian dana yang sifatnya berkelanjutan membutuhkan pola pikir yang berbeda. Mereka harus memiliki kreatifitas bagaimana mengelola sebuah usaha, mengembangkan usaha tersebut sehingga kapasitasnya semakin besar dan jika memungkinkan, mampu mendorong daerah di sekitarnya melakukan hal yang sama. Aktivis yang seperti ini, kualitasnya jauh lebih tinggi daripada mereka yang kemampuannya hanya bisa sekadar menjalankan program yang sudah ada dananya.

Program pemberdayaan ekonomi yang berhasil umumnya berangkat dari kapasitas yang kecil. Dari hal tersebut, ada proses pembelajaran sampai akhirnya mencapai sebuah kematangan. Ibarat bayi, sebelum bisa berlari kencang, harus bisa berjalan, merangkak, bahkan sekadar belajar berguling. Tak ada yang mudah untuk bisa berhasil dalam program ekonomi. Hanya orang-orang dengan kapasitas istimewa yang mampu meraihnya.

Nahdlatul Ulama akhirnya harus memberi ruang dan menciptakan orang-orang dengan kapasitas seperti ini untuk kemandirian organisasi. NU tidak cukup hanya diisi oleh orang-orang yang pintar dalam ilmu agama saja. Para wirausaha sosial perlu mengisi ruang-ruang yang selama ini masih kosong untuk mensinergikan dakwah NU. (Ahmad Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG