::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Puluhan Banser Datangi Mapolsek Arut Selatan, Ada Apa?

Ahad, 24 Desember 2017 21:01 Daerah

Bagikan

Puluhan Banser Datangi Mapolsek Arut Selatan, Ada Apa?
Kotawaringin Barat, NU Online
Kasus yang menimpa Warioboro (53) warga Karang Mulya Pangkalan Banteng, Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah bersama tiga rekannya ini dinilai banyak pihak makin berbelit-belit.

Pasalnya, meski sudah ditahan selama 25 hari dan pihak keluarga sudah mengajukan Surat Permohonan Penangguhan Penahanan per tanggal 6 Desember 2017 bahkan baru dikabulkan pada Kamis, (21/12).

Tapi nyatanya sampai tanggal 23 Desember 2017 yang bersangkutan masih di dalam jeruji besi Mapolsek Arut Selatan yang merupakan titipan Polsek Pangkalan Banteng.

"Hari ini pernyataan dikirim ke Polres," ujar Sri Lestari anggota DPRD Kotawaringin Barat kepada Online melalui telepon selulernya, Jum'at (22/12).

Menanggapi perkembangan kasus yang dinilai makin hari makin aneh, puluhan anggota Barisan Serbaguna (Banser) dan GP Ansor dipimpin langsung Kasatkorcab Muhammad Rozikin dan para penggede lainnya, Kamis (21/12) menyambangi Mapolsek Arut Selatan untuk memberikan dukungan moril kepada sahabatnya yang sedang meringkuk di sel tahanan.

"Persahabatan anggota Banser itu hanya maut yang bisa memisahkan. Satu sakit yang lain ikut merasakan. Sahabat Warioboro ini anggota Banser, wajar jika kami semua memberikan dukungan," ucapnya.

Hal senada juga disampaikan Wasekjen Ansor, Muhammad Sulthon. Ia mengatakan, asus yang menimpa Warioboro dinilai terlalu dini. Karena tidak ada peringatan terlebih dahulu, apalagi ia sudah mengantongi izin resmi dari Kecamatan setempat.

"Ada kesan buru-buru dalam penangkapan ini. Ini kan sudah punya Izin, jika ada yang kurang kan diarahkan, bukannya langsung ditangkap," tandasnya.

Meskipun Warioboro sudah mempunyai IUMK dengan Nomor: 503.5/442/PB-IUMK/XI/2017, namun pihak kepolisian menjerat dengan Pasal 197 Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda Rp 1,5 miliar. (Suhud Mas'ud/Fathoni)