IMG-LOGO
Tokoh

KH Cucu Komarudin Sukabumi dan Pesantren Taman Surga

Jumat 29 Desember 2017 12:1 WIB
Bagikan:
KH Cucu Komarudin Sukabumi dan Pesantren Taman Surga
KH Cucu Komaruddin.
Hampir sebelas tahun saya mengajar di Yayasan Riyadlul Jannah, Cikundul sejak tahun 2007. Yayasan ini didirikan oleh almarhum KH Cucu Komarudin. Pada tahun 2007 itu, saya diajak oleh Kang Jihad untuk mengajar matematika di PKBM Riyadlul Jannah. Sudah tentu, ada perbedaan signifikan antara sekolah formal dengan PLS seperti PKBM terutama dalam waktu pelaksanaan kegiatan belajar dan mengajar. 

Bagi para siswa PKBM diberikan keleluasaan, kegiatan belajar dan mengajar diselenggarakan hanya 3 (tiga) hari; Kamis, Jumat, dan Sabtu. Waktu kegiatan pun dilaksanakan pukul 13.00-17.00 WIB. Kecuali membuka PKBM, sejak yayasan ini didirikan, KH Cucu Komarudin telah membuat divisi atau pembagian pengelolaan yayasan yang bergerak di bidang pendidikan ini antara lain; (1) Pengelolaan Pondok Pesantren, (2) Kegiatan Majlis Taklim, (3)Madrasah Ibtidaiyah, dan (4) Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Masing-masing divisi dikelola oleh pihak keluarga, pondok pesantren dan PKBM dikelola langsung oleh KH Cucu Komarudin. Kegiatan majlis taklim dikelola oleh Samsul Puad sedangkan Madrasah Ibtidaiyah dikelola oleh H. Abdullah Amin. KH Cucu Komarudin sebagai salah seorang tokoh ulama sekaligus Rais Syuriyah Nahdlatul Ulama Kota Sukabumi telah menempuh langkah-langkah akomodatif dengan mendahulukan sikap al-mashalah al-ammah (kebaikan untuk semua) di dalam mengelola yayasan tersebut, salah satunya dengan melibatkan orang-orang luar untuk bersama-sama mengembangkan yayasan ke arah kemajuan.

Di awal tahun 1980, Madrasah Ibtidaiyah didirikan. Menurut penuturan salah seorang pengelola, pendirian Madrasah Ibtidaiyah merupakan salah satu upaya membangun karakter religius anak-anak setempat. Di tahun 1980-an, pemerintah sedang gencar-gencarnya membangun lembaga-lembaga pendidikan dasar seperti SD Inpres dan lembaga-lembaga lain, Yayasan Riyadlul Jannah, dulu masih berupa pondok pesantren membuka cakrawala baru dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat.

Dibangunnya Madrasah Ibtidaiyah merupakan sejarah baru bagi lembaga ini, bahwa latar belakang dan motivasi pembangunan karakter religious bagi masyarakat menjadi modal dari kegiatan lembaga ini.

Pendidikan Luar Sekolah (PLS) untuk tingkat SMP dan SMA di Kota Sukabumi berjalan tidak semeriah sekolah-sekolah formal. Pasang surut Pendidikan Luar Sekolah ini disebabkan oleh: motivasi siswa masih belum maksimal dalam melakukan kegiatan belajar (karena PLS dianggap relatif bebas), stimulasi dana terhadap kegiatan PLS tidak sebaik pendidikan-pendidikan formal, tenaga pendidik masih kurang dalam segi jumlah, bahkan penambahan kuantitas tenaga pendidik untuk PLS ini kurang diimbangi olehkualitas tenaga pendidik tersebut. Pada akhirnya, anggapan sederhana terhadap PLS dan PKBM ini adalah: sekolah gratis dan bebas waktu.

Demi alasan-alasan di atas, pada tahun 2010, Yayasan Riyadlul Jannah memokuskan kegiatan pendidikan pada sektor formal. Hamzah mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Riyadlul Jannah. Di awal pendiriannya, sebanyak 34 siswa menjadi peserta didik di MTs Riyadlul Jannah. Mayoritas dari mereka adalah anak-anak lulusan MI dan SD Negeri Cikundul. Maka semakin jelas, pendirian MTs ini merupakan langkah kedua setelah pondok pesantren Riyadlul Jannah mendirikan Madrasah Ibtidaiyah di awal tahun 1980.

Setelah tiga tahun berdiri, ruang kelas baru dibangun. Jumlah siswa sebanyak 83 orang mengisi ruang-ruang kelas baru dari kelas I sampai kelas III. Satu hal baik, karena pendidikan tingkat dasar ini masih didanai oleh Bantuan Operasional Siswa (BOS), MTs Riyadlul Jannah memberikan pelayanan pendidikan tanpa biaya kepada para peserta didiknya. Jelas sekali, ini begitu jauh berbeda dengan sekolah-sekolah formal lain yang masih memberikan beban biaya kepada para siswa meski pun telah mendapatkan Bantuan Operasional Siswa (BOS) dari pemerintah.
Peran KH Cucu Komarudin tersebut tidak terlepas dengan adanya koneksi yang dilatarbelakangi oleh hubungan dekat antara dirinya dengan keluarga besar Pondok Pesantren Al-Mashturiyah, Cisaat. Pandangannya terhadap pentingnya mengembangkan pendidikan - salah satunya - dipengaruhi oleh wasiat KH Muhammad Masthuro, "Ulah pagirang-girang dina ngamajukeun pasantren” (Jangan berebut jabatan di dalam memajukan pondok pesantren).

Enam Wasiat (Washaya Sittah) KH Muhammad Masthuro secara khusus telah dibahas secara lengkap oleh Abdul Jawad di dalam tesisnya "Washaya Sittah KH Muhammad Masthuro (1901-1968) dalam Pembentukan Islam Lokal di Sukabumi Jawa Barat”. Wasiat pertama KH Muhammad Masthuro, menurut Abdul Jawad dimaksudkan agar setiap anggota keluarga dan anak cucu KH Muhammad Masthuro benar-benar memusatkan perhatian pada kemajuan pendidikan, terutama pesantren.

KH Cucu Komarudian menyadari benar pentingnya mengejawantahkan wasiat tersebut sebab secara personal, istri beliau Hj Oom Hasanah merupakan cucu dari KH Muhammad Masthuro, sudah tentu wasiat-wasiat yang disampaikan oleh kakek mertua sekaligus sebagai gurunya wajib dilaksanakan. Pengamalan dan aplikasi wasiat KH Muhammad Masthuro di Cikundul ini merupakan intisari dari ajaran-ajaran KH Muhammad Masthuro yang terdapat di dalam Washaya Sittah butir keenam, "Kudu mapay torekat Abah", artinya harus mencari jejak dan menempuh jalan yang telah ditempuh oleh KH Muhammad Masthuro.

Abdul Jawad (2017:164) menyebutkan Tarekat Abah sebagaimana yang tercantum dalam butir keenam dari Washaya Sittah KH Muhammad Masthuro merupakan jalan hidup yang telah ditempuh oleh para kiai. Aplikasi nyata darinya adalah penerapan akhlak al-kariimah seperti; saling menyayangi, mencintai, tidak dengki, dan menutupi kelemahan serta kekurangan orang lain. Ketika masih hidup, menurut penuturan Hamzah, salah seorang putera KH Cucu Komarudin, beliau selalu memperlihatkan raut muka soméah (berseri-seri), sering ingin membahagiakan orang lain meskipun hanya melalui raut wajah.

Sebagai salah seorang kiai di Sukabumi, KH Cucu Komarudin biasa menjadi pemateri dan pendakwah dalam berbagai pengajian baik di lingkungan masyarakat juga pemerintahan. Suatu hari, seseorang menyapa beliau, meskipun -bisa saja, beliau tidak mengenal atau lupa kepada orang yang menyapanya, tetapi dari diri beliau tidak keluar pertanyaan; “Siapa ini, saya lupa?” Baginya, meskipun hanya dengan mengeluarkan kalimat seperti itu -padahal dalam bentuk pertanyaan- takut akan melukai hati penanya.

Semangat KH Cucu Komarudin di dalam mengembangkan Islam dan pendidikan yang bercorak Islam ini tidak pernah lepas dari peran keluarga beliau secara turun-temurun, jika melihat kepada perkembangan Islam di Cikundul didapati benang merah, kakek buyut hingga kepada ayahnya merupakan orang-orang yang telah berjasa di dalam menyebarkan dan mengembangkan Islam di daerah ini.
Proses penyebaran dan perkembangan Islam di Cikundul –sama sekali – belum diteliti secara serius dan utuh oleh para ahli. Berdasarkan beberapa obrolan dengan beberapa tokoh, dapat diperkirakan pintu masuk penyebaran Islam ke Cikundul ini melalui daerah Bangbayang dengan alasan, pada abad ke-15 daerah di lereng pegunungan merupakan sebuah pasar tradisional dan perdagangan masyarakat.  Penyebaran Islam di Sukabumi tentu berbanding lurus dengan semakin kokohnya Kekuasaan Kerajaan Islam di Banten, Sundakelapa dan Cirebon. Untuk mengetahui bagaimana proses penyebaran dan perkembangan Islam di daerah Cipeueut, Bangbayang, Cikundul, dan daerah sekitarnya  dapat terhubung oleh keberadaan beberapa orang antara lain; Abah Acin (1820-1902), KH Yunus (1843-1950), dan KH Sayuthi (1864-1988).

Abah Acin, seorang tokoh sentral di kampung Jeruk dipercaya masih menganut ajaran leluhur. Dia memiliki ilmu kanuragan, memang keajaiban atau kata yang merujuk terhadap keajaiban ini kurang diterima secara ilmiah dan sulit untuk dimasukkan ke dalam obyek penelitian. Tetap berdasarkan cerita yang tersebar di masyarakat, keajaiban atau keistimewaan tentang orang-orang terdahulu seperti sebuah fakta yang sulit dibantah. Dengan tidak mengurangi keilmiahan dan bisa disebut pseudoilmiah, kesaktian Abah Acin tergambar dari beberapa penuturan sebagian masyarakat yang dibahasakan secara turun-temurun.

Sebuah peristiwa, banjir bandang pernah terjadi di sungai Cimandiri, air meluap hingga memenuhi bantaran, sebagai seseorang yang memiliki beberapa kerbau akan menjumpai kesulitan bagaimana cara menyeberangkan kerbau dari bagian bantaran sungai ke bantaran sebelahnya. Cukup dengan melambaikan tangan, kerbau-kerbau itu seolah menurut kepada si pemiliknya, kemudian mereka menyeberangi melawan arus sungai Cimandiri dan bisa melintas dengan selamat.

Abah Acin tetap memegang teguh ajaran yang diterima dari leluhurnya hingga lanjut usia. Kepada Yunus, anak sulungnya, dia sering mewasiatkan – meskipun dirinya masih memegang teguh keyakinan leluhur – agar sang anak bersikeras dan bersungguh-sungguh menimba ilmu ke luar kampung. Wasiat Abah Acin diterima baik oleh Yunus. Di usia remaja, Yunus pergi ke Banten – sumber mengenai dimana Yunus mengenyam pendidikan keislaman masih belum tepat pasti-. Setelah mendapatkan ilmu keislaman yang cukup, Yunus kembali ke kampung halamannya. Tidak langsung menyebarkan Islam kepada masyarakat terutama di tempat keramaian seperti pasar tradisional tempat perdagangan.

Abah Acin sendiri - meskipun beberapa sumber masih meragukan apakah dia memeluk Islam atau tidak- tetapi saat kepulangan anaknya melakukan kebiasaan: mandi atau beberesih, sebagai simbol atau tanda penerimaan seseorang sebelum meyakini atau mempelajari sebuah ilmu. Keyakinan masyarakat yang berkembang saat itu, ketika mereka akan mempelajari sebuah ilmu sudah bisa dipastikan akan melakukan ritual mandi terlebih dahulu.

Salah satu alasan Abah Acin memerintahkan agar Yunus menuntut ilmu keislaman disebabkan oleh cara pandang orangtua tersebut terhadap gejala umum yang sedang terjadi di wilayah lain seperti Banten dan Sunda Kelapa. Di usia remaja, Abah Acin pernah melakukan perjalanan sampai ke Pelabuhan Sundakelapa, disana dia melihat bagaimana penyebaran Islam dan perkembangannya yang dilakukan oleh para pedagang begitu pesat hingga terbentuk masyarakat baru bernama komunitas muslim di Banten dan Sundakelapa. Sebuah keniscayaan yang tidak akan terbendung adalah konversi keyakinan lama ke keyakinan atau agama baru. Konversi keyakinan ini bersifat masif selama abad ke 7 hingga abad ke-18.

Abah Acin dengan tanpa banyak cerita memberikan harta miliknya kepada Yunus untuk melakukan Ibadah Haji ke Tanah Suci pada tahun 1893. Pulang dari Mekah, KH Yunus mulai membuka pengajian dan pengajaran keislaman di Cikundul , tidak dalam bentuk lembaga, melainkan secara personal atau individual. Islam menyebar di Cikundul memiliki kemiripan dengan proses penyebaran Islam di Nusantara melalui berbagai pendekatan terutama secara personal dan kultural. Tradisi-tradisi lama sama sekali tidak pernah dijadikan penghalang oleh KH Yunus untuk meyampaikan ilmu keislaman. Masyarakat Cikundul dan sekitarnya masih tetap melakukan tradisi leluhur seperti; nyekar, ngembang, puasa mati geni, mencuci benda pusaka, dan kebiasaan lain yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Penyebaran dan perkembangan Islam di Cikundul terlembagakan saat anak sulung KH Yunus, yaitu KH Sayuthi mendirikan masjid dan pondok pesantren berukuran kecil tepat di sebelah utara Sungai Cimandiri setelah menunaikan ibadah haji pada tahun 1930. Sikap KH Sayuthi dalam menyebarkan Islam melalui jalur pendidikan ini mendapatkan tanggapan kurang baik dari Pemerintah Kolonial. Menurut Schrieke, dalam teori balapan antara Islam dan Kristen dalam proses penyebaran kedua agama ini telah membawa pemikiran perang sabil dan perang salib yang terjadi di abad pertengahan ke daerah koloni baru. KH Sayuthi ditangkap dan dipenjarakan oleh pemerintah Hindia Belanda selama sembilan bulan. Teori balapan sebagai salah satu teori penyebaran Islam di Nusantara diyakini sebagai teori konflik yang dilandasi semangat dendam dua imperium Islam dan Kristen, namun bernuansa politis. Teori ini mendapatkan sanggahan dari beberapa ahli, misalkan Syed Naquib Al-Attas menyebutkan, terlalu gegabah jika penyebaran Islam dikaitkan dengan perang salib yang telah berlalu lima abad ketika Islam disebarkan oleh para sufi pengembara dari Persia melalui pendekatan kultural dan individual.

Sikap dan peran yang telah dilakukan oleh para leluhurnya tersebut diikuti oleh KH Cucu Komarudin dengan cara mengembangkan Islam melalui cara-cara yang santun dan menghargai tradisi yang telah lama berlangsung di masyarakat Cikundul. Sebagai salah seorang sesepuh Nahdlatul Ulama, KH Cucu Komarudin memahami dengan benar persoalan kaidah-kaidah kemaslahatan bagi umat. Salah satu jasa beliau di bidang kemasyarakatan yaitu terwujudnya Jalan Merdeka saat Kota Sukabumi dipimpinan oleh H. Udin Koswara. Masyarakat diajak duduk bersama, memusyawarahkan pelebaran jalan, sebab pelebaran jalan oleh pemerintah itu pada akhirnya berdampak baik juga bagi kemajuan masyarakat Cikundul.

KH Cucu Komarudin merupakan tipikal kiai atau ajengan yang memusatkan perhatiannya kepada keluarga terutama kepada istrinya, Hj. Oom Hasanah. Pemerintah memberikan penghargaan kepada beliau dan istrinya sebagai keluarga sakinah teladan. Kecintaan kepada keluarga telah dibuktikannya, beberapa tahun sebelum meninggal dunia, beliau telah menyampaikan wasiat agar pendidikan dan melayani umat dilanjutkan oleh keluarga. Dalam sebuah perbincangan dengan beliau, penulis pernah diberi nasihat, mengajar itu ibarat jimat atau pusaka sakti, jangan sampai dilepaskan meskipun kita mengahadapi kesibukan. Artinya, kepada siapa saja yang berusaha mengamalkan ilmu yang dimiliki oleh orang tersebut, KH Cucu Komarudin akan menganggapnya sebagai bagian dari keluarga yang harus diberi nasihat.

Setelah mengabdikan diri untuk kemajuan pendidikan dan kemasyarakatan di Kota Sukabumi dan kampung halamannya, KH Cucu Komarudin wafat pada tahun 2013. Rumah duka dilawat oleh tokoh-tokoh penting di Sukabumi. Tokoh-tokoh yang hadir bukan hanya dari kalangan ulama dan kiai, para tokoh dari lintas agama seperti; Kristen, Katholik, dan Buddha juga mengikuti prosesi pemakaman beliau. Ade Munhiar, ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Sukabumipernah berkata kepada penulis, KH Cucu Komarudin sangat menjunjung tinggi sikap toleran kepada siapapun. Untuk hal tersebut saat prosesi pemakamannya ada kalimat yang keluar dari beberapa tokoh agama, jika diibaratkan, KH Cucu Komarudin sangat layak mendapatkan julukan “Gus Dur”-nya Sukabumi. (Warsa Suwarsa)


Penulis guru MTs Riyadlul Jannah, anggota PGRI Kota Sukabumi

Bagikan:
Rabu 20 Desember 2017 12:0 WIB
Yaqut Al-Hamawi, Ahli Geografi dari Anatolia
Yaqut Al-Hamawi, Ahli Geografi dari Anatolia
Yaqut Al-Hamawi (1179-1229 M) lahir di Anatolia adalah penulis ensiklopedia (mu’jam) geografi terpenting dalam Sejarah Peradaban Islam. Dia dilahirkan dari seorang budak berkebangsaan Romawi lalu dibeli oleh seorang pedagang dari kota Hamah pada saat dia masih kecil.

Dia diberi nama Yaqut bin Abdullah. Meskipun Bapak angkatnya memberikan kesempatan kepadanya untuk belajar Islam dengan baik dan bahasa Arab menjadi bahasa sehari-harinya, kemampuannya dalam seni prosanya tidak bernilai tinggi karena dia adalah orang asing.

Sejak muda Yaqut adalah orang yang suka pada pengetahuan. Dalam proses perjalanan ilmiahnya, Yaqut berhasil mengarang dua kitab penting yang sudah pasti bisa ditemukan di perpustakaan Arab manapun, yaitu Mu’jam Al-Udaba’, sebuah ensiklopedia yang mencakup materi sejarah peradaban dunia Islam dan tentang para pengarang besar bangsa Arab pada zamannya. Buku keduanya adalah Mu'jam Al-Buldan yang dikategorikan sebagai buku ensiklopedia geografi yang paling utama dalam sejarah manusia.

Yaqut membuat sebuah buku rujukan umum yang berisi tentang materi geografi yang dikenal pada zamannya khususnya setelah penjarahan tentara Mongol terhadap sebagian besar kekayaan dunia Islam, pembakaran buku yang sangat dahsyat termasuk diantaranya buku-buku geografi yang sangat penting pada waktu itu. Itulah dia akhirnya menulis buku Mu'jam Al-Buldan, buku Ensiklopedia Geografi berbahasa Arab yang paling bagus pada abad pertengahan.

Karena dia dapat melepaskan diri dari batasan geografi yang sangat sempit. Dalam buku ini Yaqut menggunakan pendekatan ilmu Falak, ilmu bumi dan bahasa. Isi buku ini berupa kisah perjalanan sehingga konsep penulisannya seperti buku geografi historis yang memuat agama, peradaban, ilmu ras manusia, kelebihan manusia, sastra rakyat dan seni sastra.

Ketika Yaqut telah menulis buku yang bernilai tinggi, Eropa masih terbelakang dan bergantung sepenuhnya kepada dua buku Al-Idrisi dan Abu Al-Fida hingga akhirnya manuskrip Mu'jam Al-Buldan masuk ke Eropa sedikit demi sedikit pada abad ke-19. Karyanya secara sempurna dicetak pada tahun 1866 sampai 1873.

Pada saat itulah Yaqut mendapatkan tempat yang terhormat di kalangan ahli geografi bangsa Arab berkat mu’jamnya dibuat dengan penuh ketelitian dan kejujuran berkat pengembaraannya selama 16 tahun di negara-negara dunia Islam dan lain-lain. Ia telah mengunjungi hampir semua negara yang ditulis dalam jamnya sehingga bahasanya cukup panjang.

Tatkala dia berbicara tentang negara kota atau desa yang telah dikunjungi disebutkan ayat Alquran atau Hadis yang berkaitan dengan kota tersebut. Dia menafsirkan nama dan asal penamaan kota tersebut, menjelaskan ucapan pelafalan nama kota itu yang paling betul, kemudian memaparkan sejarah berdirinya kota, suasana yang terjadi pada saat itu, lalu memberikan penjelasan mengenai peranan yang dimainkan oleh kota tersebut dalam sejarah, disertai pula dengan cerita-cerita yang berkaitan dengannya.

Dalam buku yang sama, dia juga menyebutkan sejarah penaklukan yang dilakukan kaum muslim dan cara menaklukannya, nama-nama ulama yang muncul di kota tersebut atau kota yang pernah dikunjungi khususnya para ahli fiqih dan ahli hadis, nama guru guru dan murid mereka. Yaqut juga memberikan penjelasan rinci mengenai gedung-gedung pelabuhan dan banteng yang pernah dia kunjungi.

Dia singgah cukup lama di sana agar dapat mengetahui adat istiadat dan perilaku kabilah-kabilah di tempat itu. Yaqut juga tidak lupa menyelipkan selingan berupa cerita-cerita aneh dari negeri yang sedang dibicarakan, disamping menyantumkan syair untuk negeri tersebut sehingga panjang tulisan untuk satu negeri atau satu desa bisa mencapai 10 atau 15 halaman. Oleh sebab itu materinya sangat beragam.

Dia tidak mempersingkat pembicaraan mengenai dunia Islam seperti yang dilakukan oleh ahli geografi bangsa Arab sebelumnya. Dia berbicara tentang Timur jauh Eropa Timur dan Utara serta sebagian negara Eropa Barat lainnya. Pengetahuannya tentang dunia timur lebih banyak dibandingkan tempat-tempat yang lain. Tulisannya tentang Italia, Corsica Malta, Kalibria banyak mengalami kesalahan.

Dalam mu’jam-nya, Yaqut menulis mukadimah yang sangat panjang yang terdiri atas 5 bab yang lebih menyerupai pengantar. Pada mulanya dia berbicara tentang berbagai teori mengenai bentuk bumi berdasarkan ilmu bumi pasti. Dia menyebutkan kecenderungannya bahwa bentuk bumi ini bulat dan tidak datar. Di setiap kutubnya terdapat daya tarik yang paling saling menarik seperti halnya magnet.

Pada bab kedua dia berbicara tentang tatanan pembagian wilayah dan cara-cara praktis untuk memperbarui letak wilayah tersebut. Pada bab ketika dia berbicara tentang arti istilah-istilah yang disebutkan dalam buku Geografi seperti pos, farsakh dan mil begitu pula istilah-istilah geografi-astronomi seperti panjang, lebar dan derajat serta istilah-istilah khusus seperti pajak, eksploitasi tanah, rampasan perang dan lain-lain.

Pada bab empat, dia mengulas secara singkat negara-negara yang telah ditaklukkan oleh kaum muslim dan pajak yang mesti dipungut dari daerah tersebut Sedangkan bab lima lebih merupakan mukadimah bagi uraian Negara, penduduk dan pembagian kekuasaan yang sesuai dengan tempat dan kondisinya. Setelah mukadimah panjang yang menghabiskan 50 halaman, dia menulis mu’jam-nya dengan penuh ketelitian dan menyusun judulnya sesuai urutan abjad.

Walaupun setelah periode Yaqut muncul berbagai pengetahuan tentang geografi dengan cakupan yang sangat luas, karya Yaqut merupakan sebuah bukti terpenting dan masih dipergunakan hingga zaman kita sekarang ini. Bukunya memainkan peranan yang sangat penting sebagai sebuah rujukan dan dokumentasi sejarah yang tidak dapat dilakukan oleh setiap orang yang hendak menulis sejarah Islam atau yang ingin mengkaji tentang peradaban Islam. (Rizal Mubit)
Senin 18 Desember 2017 14:12 WIB
Inilah Para Politisi Perempuan NU Generasi Awal
Inilah Para Politisi Perempuan NU Generasi Awal
Foto repro dari Parlaungan
Nahdlatul Ulama (NU) memberi ruang yang cukup luas untuk kalangan perempuan. Ketika ada badan otonom yang khusus laki-laki, misalnya, pasti juga dibentuk badan otonom yang khusus perempuan. NU memiliki keyakinan bahwa kaum ibu memiliki peran tak kalah pentingnya dengan kaum bapak, baik dalam membangun bangsa dan negara, maupun dalam bidang agama. 

Pemahaman NU yang akomodatif terhadap kaum perempuan tersebut, juga tercermin dalam ranah politik. Saat NU menjadi partai politik pada 1952 dan terlibat langsung dalam pemilihan umum 1955, kaum perempuan diberi ruang yang cukup luas untuk terlibat. Hal ini terbukti dari jumlah anggota DPR hasil Pemilu 1955 tersebut. 

Dari tiga partai yang memperoleh suara terbanyak pada Pemilu 1955 itu, Partai NU memiliki jumlah terbesar dalam keikutsertaan perempuan. PNI dan Masyumi yang sama-sama mengantarkan 57 tokohnya sebagai anggota, hanya empat orang perempuan yang ikut. Sedangkan NU yang mengantarkan 45 orang di parlemen, lima di antaranya adalah perempuan. 

Kelima perempuan tersebut, merupakan generasi pertama para politisi perempuan di kalangan NU. Siapa saja mereka? 

1. Asmah Sjachrunie
Asmah Sjachrunie merupakan politisi kelahiran Rantau, Kalimantan Selatan, 28 Februari 1928. Sejak muda ia telah aktif dalam kegiatan sosial. Lulusan Kjoin Joseidjo itu, terlibat dalam dunia pendidikan sejak era Jepang. Mulai dari menjadi guru bantu di Futsu Tjo Gakko di Rantau I, hingga dipercaya menjadi Wakil Kepala Futsu Tjo Gakko di Rantau III. 

Aktivitas Asmah di dunia pendidikan terus berlanjut saat Indonesia telah merdeka. Ia tercatat ikut membantu mengajar di Sekolah Rakyat VI, mulai Rantau III, Batu Kulur Kandangan sampai Ulin Kandangan. Aktivitas mengajar ini, berlangsung hingga 1954.

Selain berkecimpung di dunia pendidikan, Asmah juga aktif dalam dunia militer. Di era Jepang, ia ikut dalam barisan Fujinkai (para militer perempuan). Sedangkan di era kemerdekaan, tepatnya tahun 1948-1949, ia juga tercatat sebagai anggota Angkatan Laut Republik Indonesia. Meski saat itu, ALRI belum menjadi kesatuan yang resmi. 

Di NU sendiri, Asmah terlibat aktif dalam Konsulat NU wilayah Kalimantan Selatan. Ia aktif sejak tahun 1952 dalam naungan Nahdlatoel Oelama Muslimat (NOM) yang sekarang dikenal dengan Muslimat NU di Kalimantan Selatan. Aktivitasnya di NU inilah, yang mengantarkannya menjadi politisi di parlemen. Ia terpilih menjadi anggota parlemen dari dapil Kalimantan Selatan dengan nomor anggota 239. Tak hanya itu, ia juga tiga kali berturut-turut menjadi ketua umum Muslimat. 

2. Mahmudah Mawardi
Nama Mahmudah Mawardi erat kaitannya dengan Muslimat NU. Ia terpilih menjadi Ketua Umum Muslimat NU hasil kongres Ke-IX 1967. Pengabdiannya sendiri dalam gerakan perempuan di lingkungan NU, telah dirintisnya sejak Muslimat NU belum didirikan. Perempuan kelahiran Solo, 1912 itu, aktif sejak usianya belum genap 20 tahun. 

Pada 1931 ia mendirikan organisasi wanita lokal di Solo. Organisasi tersebut diberi nama Nahdlatul Muslimat. Salah satu gerakannya adalah mendirikan lembaga pendidikan. Mulai dari TK, Madrasah Ibtidaiyah hingga Madrasah Nahdlatul Muslimat. Di sekolah terakhir ini, Mahmudah terdaftar menjadi tenaga pengajar sejak 1953.

Sebelum terlibat di dunia politik, Mahmudah juga pernah berkarir di dunia birokrasi. Pada 1952 ia menjadi pegawai Penerangan Agama Provinsi Jawa Tengah. Lalu, dua tahun kemudian, ia menjadi pegawai Kementerian Agama di Jakarta. 

Setelah terpilih menjadi anggota parlemen dengan nomor anggota 85, Mahmudah terlibat aktif dalam penyusunan RUU Perkawinan. Ia menjadi juru bicara fraksi NU. Dalam RUU yang diajukan oleh Nyonya Sumari dari fraksi PNI tersebut, dikritisi habis-habisan oleh politisi lulusan Madrasah Sunnayah dan Pesantren Keprabon, Solo itu. 

NU dan Masyumi menolak RUU Perkawinan yang dinilai banyak menyimpang dari aturan syara' tersebut. Sedangkan PNI dan PKI berada di pihak yang mendukung. Setelah melalui perdebatan sengit di sidang parlemen, akhirnya RUU tersebut dinyatakan tertolak. 

3. Mariam Kanta Sumpena
Selain Mahmudah Mawardi, dari Dapil Jawa Tengah juga mengantarkan Mariam Kanta Sumpana sebagai anggota Fraksi NU pada Pemilu 1955 itu. Meski terpilih dari Jawa Tengah, namun ia sebenarnya banyak berkiprah di Jawa Barat. 

Mariam lahir di Tasikmalaya di penghujung Agustus, 1927. Ia menempuh pendidikan mulai dari Sekolah Rakyat Gadis, Perguruan Muchtariah hingga Tamhidul Mu'allimin.

Setelah menyelesaikan masa belajarnya, Mariam mengajar di Bandung. Pada 1941 - 1945, ia mengajar agama di Sekolah Rakyat Nomor 39. Kemudian pada 1951 - 1956, ia pindah mengajar agama Sekolah Rakyat Raden Dewi. Di sela-sela aktivitasnya di sekolah, Mariam juga menjadi ketua di organisasi wanita. Pada 1942 - 1946, menjadi ketua umum Gerakan Pemuda Islam Indonesia Puteri di Bandung. Sekaligus juga menjadi ketua umum Pemudi NU Cabang Bandung. 

Kegiatannya dalam dunia politik, telah dirintis Mariam sejak era NU gabung Masyumi. Pada 1947 - 1951, ia menjabat sekretaris Masyumi daerah Priangan. Di saat yang sama ia juga menjadi sekretaris Muslimat NU Cabang Bandung. Pada 1951, ia naik menjadi wakil ketua konsul Muslimat Jawa Barat. Jabatan terakhir tersebut, dijabat hingga ia terpilih menjadi anggota parlemen dengan Nomor 195.

4. Marjamah Djunaidi
Tak banyak data yang tercatat tentang sosok Marjamah Djunaidi ini. Anggota parlemen dengan nomor urut 207 tersebut, lahir di Jember pada 15 September 1922. Pendidikannya ia rengkuh hanya dari pengajian langgaran di kampung halamannya dan juga di Taman Siswa. 

Sebenarnya, Marjamah telah terlihat sebagai perempuan aktif sejak muda. Di masa Belanda, ia menjadi anggota KBI. Selain itu juga masuk dalam organisasi Indonesia Muda. Di NU sendiri, ia aktif di Muslimat. Saat terpilih dari Dapil Jawa Timur, ia merupakan mantan Ketua Konsul Muslimat Jawa Timur. 

5. Hadinijah Hadi Ngabdulhadi
Sebenarnya, Hadinijah Hadi Ngabdulhadi tidak terpilih secara langsung dalam Pemilu 1955. Ia menggantikan Haji Fatah Jasin yang berhalangan tetap sebagai anggota parlemen. Ia terpilih dari Dapil Jawa Timur. 

Meski terpilih dari Dapil Jatim, Hadinijah memiliki pengalaman yang lintas daerah. Ia sendiri terlahir di Purwokerto, 5 Januari 1928. Kemudian menempuh pendidikan di Muallimat dalam Sekolah Guru Puteri Islam. Kemudian, ia pindah ke Barabai, Kalimantan Selatan. 

Di Barabai tersebut, Hadinijah aktif mengajar di Sekolah Rakyat Islam Haruyan sejak 1945 hingga 1947. Kemudian pindah mengajar di Muallimat Barabai hingga 1949. Selain sibuk mengajar, Hadinijah juga terlibat dalam organisasi kewanitaan. Ia pernah menjabat Ketua Cabang Perwani (Persatuan Wanita Indonesia) Barabai. Ia juga pernah menjadi Wakil Ketua Cabang Gappika (Gerakan Pemuda Pemudi Kalimantan) Barabai. 

Pada 1950, Hadinijah pindah ke Desa Balong, Kecamatan Kandat, Kediri, Jawa Timur. Di tempat baru ini, ia kembali mengajar di Sekolah Rakyat Islam di kampung barunya tersebut. Pada saat yang bersamaan ia juga aktif dalam kepengurusan Konsul Muslimat NU Jawa Timur. Sebenarnya, pada Pemilu 1955, Hadinijah justru menjadi Panitia Pemilu sebagai Wakil Ketua PPS Kecamatan Kandat, Kediri sebagai utusan dari Partai NU. Pada saat itu, memang diperbolehkan utusan partai untuk terlibat dalam kepanitiaan. Namun, justru ia yang menjadi anggota parlemen saat terjadi pergantiaan. Posisinya sebagai Ketua Konsul Muslimat NU Jatim itulah, yang menjadi pertimbangannya. 

Sebenarnya, selain kelima anggota DPR di atas, pada masa awal NU menjadi partai politik tersebut, ada juga beberapa politisi perempuan di kalangan NU yang berkiprah di tingkat Nasional. Mereka adalah orang-orang yang terpilih sebagai anggota konstituante. Ada enam politisi perempuan NU yang terpilih. 

Keenam anggota konstituante dari perempuan nahdliyin tersebut antara lain: Ny. H. Saifuddin Zuhri (wakil Jawa Tengah), Ny. Adiani Kertodirdjo (wakil Jawa Timur), Ny. Ratu Fatimah (wakil Jawa Barat), Ny. Abidah Mahfudz (wakil Jawa Timur), Ny. Nihayah Maksum (wakil Jawa Timur), dan Ny. Zamrud Ya'la (wakil Sulawesi Selatan).

Merekalah para politisi perempuan nahdliyin generasi awal. Kehadirannya tak sekadar melengkapi struktur, tapi juga memiliki peran yang cukup signifikan. Ia turut mewarnai kancah politik guna membangun bangsa dan negara. (Ayung Notonegoro) 

Sumber: 
1. Parlaungan, Hasil Rakjat Memilih; Tokoh-Tokoh Parlemen (Hasil Pemilu Pertama - 1955), CV. Gita, Jakarta: 1956.

2. ---, Sejarah Muslimat Nahdlatul Ulama, PP Muslimat NU, Jakarta: 1979.

3. ---, Ensiklopedia Nahdlatul Ulama: Sejarah, Tokoh dan Khazanah Pesantren. 


Penulis adalah penggiat sejarah pesantren dan NU di Banyuwangi, aktif di Komunitas Pegon

Kamis 7 Desember 2017 22:0 WIB
KH Ahmad Hanafiah, Ulama Pejuang dari Lampung
KH Ahmad Hanafiah, Ulama Pejuang dari Lampung
KH Ahmad Hanafiah adalah seoang pejuang kemerdekaan sekaligus ulama berpengaruh dari Kota Sukadana, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung.

Ia lahir pada tahun 1905 di Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Tengah. Wilayah tersebut sekarang dimekarkan menjadi Kabupaten Lampung Timur. KH Ahmad Hanafiah adalah putra sulung KH Muhammad Nur, pimpinan Pondok Pesantren Istishodiyah di Sukadana yang menjadi pondok pesantren pertama di Provinsi Lampung.

Semasa hidupnya, KH Ahmad Hanafiah telah berjuang mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari cengkeraman penjajah di tanah Lampung. Ia pernah mengenyam pendidikan pemerintahan di daerahnya, Sukadana.

Ia belajar agama Islam kepada ayahnya. Juga pernah belajar di sejumlah pondok pesantren di luar negeri, seperti di Malaysia dan Mekah maupun Madinah. Semenjak umur lima tahun, KH Ahmad Hanafiah sudah khatam membaca al-Qur'an.

Ayahandanya adalah sosok ulama besar yang lama menimba ilmu di Tanah Suci. Kegemaran menuntut ilmu sang ayah rupanya menurun kepada sosok Ahmad Hanafiah. 

Hal ini terbukti pada jejak kehidupan selanjutnya. Setelah sempat mengabdi menjadi guru Agama Islam dari tahun 1920-1925, Ahmad Hanafiah melanjutkan pendidikan ke Pesantren Kelantan Malaysia, dari tahun 1925-1930.

Tidak cukup di Kelantan, usai menuntaskan pelajarannya di negeri jiran, dia pun melanjutkan perjalanan menuntut ilmu ke Mekah. Namun, Ahmad Hanafiah tidak langsung mencapai Mekah. Dalam perjalanan menuju Tanah Suci, ia singgah di India dan mendalami Ilmu tarekat.

Ia sampail di Tanah Suci pada tahun 1930. Selanjutnya ia menuntut ilmu di Masjidil Haram hingga tahun 1936.

Ahmad Hanafiah telah menunjukkan kepemimpinannya sejak belia. Jiwa itu terus ada dan berkembang dalam dirinya, bahkan saat belajar di Tanah Suci. Hal itu dibuktikan dengan kemampuannya selama dua tahun menjadi Ketua Himpunan Pelajar Islam Lampung di kota Melah, Arab Saudi.

Di Mekah, Ahmad Hanafiah tidak hanya kuliah, tetapi juga mengajar ilmu pengetahuan agama Islam di Masjidil Haram pada tahun 1934-1936.

Sekembalinya ke Indonesia, ia aktif sebagai mubaligh di Lampung dan menjadi Ketua Serikat Dagang Islam (SDI)  di wilayah Kawedanan Sukadana (1937-1942). Kepiawaiannya mengatur organisasi bukan hanya di tingkatan konsep, melainkan juga manajemen yang rapi hingga ke akar rumput. 

Konsep Sarikat Dagang Islam diterapkannya bersama umat Islam di Sukadana dengan mengelola usaha-usaha akar rumput. Usaha mebel, home industry sabun, bahkan rokok kretek pun digalakkannya. Selain itu, Ahmad Hanafiah juga mengelola lembaga pendidikan. 

Dia adalah seorang ulama yang bukan hanya sibuk di bidang keillmuan, melainkan diterapkan dalam praktik dengan mendampingi masyarakat sekitar menumbuhkan ekonomi. Berbagai upaya membuat teknologi pertanian-pun dilakukan.

Selain itu KH Ahmad Hanafiah juga sosok ulama yang produktif dalam menghasilkan karya-karya yang abadi hingga kini masih terjaga, yaitu kitab Al-Hujjah dan kitab tafsir Ad-Dohri. Kedua kitab ini adalah bukti intelektualitas sang ulama yang diwariskan untuk generasi selanjutnya. 

Perjuangan Melawan Penjajah
Agresi Belanda tahun 1947 dengan melancarkan serangan serentak kepada sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Provinsi Sumatera Selatan. Saat itu, Belanda pun mulai menyerang Lampung yang menjadi bagian dari Karesidenan Sumatera Selatan melalui jalur darat dari Palembang. Mereka sempat mendapat perlawanan dari kesatuan TNI, meskipun akhirnya Kota Baturaja dapat dikuasai Belanda.

Agresi tersebut memicu perlawanan laskar rakyat bersama TNI terhadap Belanda dalam pertempuran di Kemarung. Kemarung adalah suatu tempat hutan belukar yang terletak di dekat Baturaja ke arah Martapura, Sumatera Selatan. Di sinilah terjadi pertempuran hebat antara laskar rakyat melawan Belanda.

Perlawanan laskar rakyat tergabung dalam barisan Hizbullah dan Sabilillah yang bersenjatakan golok. TNI dan Laskar Hizbullah yang berencana menyerang Baturaja telah dibocorkan mata-mata, sehingga personel TNI mundur ke Martapura; sedangkan pasukan Laskar Hizbullah yang tengah beristirahat di Kemarung disergap Belanda dan terjadilah pertempuran hebat.

Anggota Laskar Hizbullah banyak yang gugur dan tertawan. Sementara KH Ahmad Hanafiah ditangkap hidup-hidup, kemudian dimasukan ke dalam karung dan ditenggelamkan di sungai Ogan. Karena itu hingga sekarang makamnya tidak diketahui.

Catatan peristiwa sejarah lainnya mengungkapkan bahwa KH Ahmad Hanafiah dikenal pemberani, ditakuti, dan disegani lawan. Ia dikabarkan kebal peluru. Ia juga sosok komandan Laskar Hizbullah yang rendah hati dan tidak mau menonjolkan diri. Ia selalu berjuang tanpa pamrih.

Ia diakui juga sebagai tokoh agama, ulama, pejuang, politisi, dan komandan perang yang dikenal sebagai laskar bergolok karena mereka selalu bersenjatakan golok ciomas saat bertempur.

KH Ahmad Hanafiah memiliki sejumlah pengalaman, di antaranya pada masa penjajahan Jepang, ia menjadi anggota Chuo sangi kai di Karesidenan Lampung tahun 1945-1946. Ia pun menjadi Ketua partai Masyumi dan pimpinan Hizbullah Kewedanan Sukadana.

Ia lalu menjadi anggota DPR Karesidenan Lampung  pada tahun 1946-1947. Ia Wakil Kepala merangkap Kepala Bagian Islam pada kantor Jawatan Agama Karesidenan Lampung sejak awal 1947.

Puncaknya, KH. Ahmad Hanafiah gugur di medan perang dalam upaya mempertahankan kemerdekaan RI dari aggressor Belanda menjelang malam 17 Agustus 1947 di Front Kamerung, Baturaja, Sumatera Selatan. 

(Muhammad Candra Syahputra/diolah dari berbagai sumber) 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG