Pelajar Kota Bekasi Isi Malam Tahun Baru dengan Dzikir

Pelajar Kota Bekasi Isi Malam Tahun Baru dengan Dzikir
Bekasi, NU Online
Pergantian tahun, selama ini, identik dengan perilaku yang berlebihan, pesta dan senang-senang. Tradisi dari tahun ke tahun pada malam itu biasanya cenderung bermuatan hura-hura utamanya di kalangan anak muda. Mereka berkumpul, menghiasi jalanan dan berakibat kemacetan. 

Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Kota Bekasi Adi Prastyo sangat menyayangkan hal tersebut. Oleh karenanya, dia mengajak anak-anak muda untuk tidak berlebihan dalam menyambut tahun baru.

"Mestinya dilakukan dengan kegiatan yang positif," kata Tio, demikian ia akrab disapa, Jumat (29/12).

Ia berharap generasi zaman now mengisi malam pergantian tahun dilakukan dengan berkumpul tetapi tidak hura-hura atau berlebihan. Salah satu hal positifnya yaitu dzikir bersama.

"Karena berdzikir dapat menjadi renungan untuk diri kita. Berdoa bersama supaya lebih baik lagi," ucap Tio, begitu dia akrab disapa.

Dikatakan Tio PCNU Kota Bekasi memiliki program tahunan yakni dzikir dan maulid bersama pada malam pergantian tahun. Hal tersebut sangat baik untuk mengajak masyarakat agar tidak melakukan hal buruk. Dalam hal ini, bukan berarti PCNU merayakan pergantian tahun. Hanya saja, warga diberi pilihan baru, yakni agar tidak melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat.

"Karenanya (dzikir dan maulid di malam pergantian tahun), mengintruksikan kepada seluruh pengurus PC IPNU Kota Bekasi, PAC se-Kota Bekasi, hingga pengurus komisariat untuk sama-sama hadir dalam kegiatan yang akan diselenggarakan oleh PCNU itu," katanya.

(Baca: Bersama Pemkot, PCNU Bekasi Luncurkan Pemutihan IMB di Malam Tahun Baru)

Di lain pihak, Ketua PC Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kota Bekasi, Yuni Febriani menyatakan, masyarakat Indonesia memiliki dua kalender. Pertama, kalender Hijriyah yang didasarkan pada perputaran bulan untuk menentukan tata peribadatan. Kedua, kalender Masehi yang berakar dari tradisi barat dan untuk menentukan berbagi aktivitas tata pemerintahan.

"Karena itu, di Indonesia ada dua kali peringatan tahun baru. Pertama 1 Muharram. Kedua, 1 Januari. Keduanya merupakan hari libur nasional. Namun, sayang. Masyarakat menyikapi dua peringatan itu dengan cara yang sangat jauh berbeda," kata Yuni.

Hijriyah, lanjutnya, diperingati dengan menggelar berbagai pawai keagamaan, dzikir, atau doa bersama. Sementara Masehi, selalu identik dengan segala macam perbuatan yang hura-hura.

"Dengan begitu, menjadi tugas para ulama, tokoh masyarakat, dan pemangku kebijakan untuk menjadikan perayaan malam tahun baru agar berlangsung secara positif," ucapnya.

Indonesia sebagai masyarakat yang mayoritas beragama Islam, kata Yuni, tentu harus memasukkan nilai-nilai keislaman di tahun baru ini kepada berbagai kalangan masyarakat, khususnya pelajar. Hal tersebut mesti dilakukan guna terhindar dari huru-hara pergaulan dan perilaku negatif.

"Kami, segenap Pengurus IPPNU Kota Bekasi sangat memberi apresiasi atas kegiatan yang dilaksanakan oleh PCNU Kota Bekasi pada malam pergantian tahun nanti, yakni dzikir bersama dan Maulid Nabi Muhammad SAW," tutupnya. (Aru Elgete/Kendi Setiawan)

BNI Mobile