IMG-LOGO
Daerah

Kembali Pimpin NU Balikpapan, Kiai Muhlasin Targetkan Kemandirian Nahdliyin

Senin 1 Januari 2018 18:0 WIB
Bagikan:
Kembali Pimpin NU Balikpapan, Kiai Muhlasin Targetkan Kemandirian Nahdliyin
KH Muhammad Muhlasin (berdiri kiri)
Balikpapan, NU Online
Berakhirnya masa kepengurusan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Balikpapan masa khidmah 2012-2017 ditandai dengan dilaksanakannya Konferensi Cabang (Konfercab) XVII, Jumat-Sabtu, 29-30 Desember 2017. 

Konfercab bertempat di Graha NU Kota Balikpapan, Jln Soekarno Hatta KM 4 Batu Ampar, dirangkai Halaqah Kebangsaan yang medatangkan KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) dari Yogyakarta.

Gus Muwafiq menyampaikan pentingnya menjaga dan mempertahankan akidah ahlussunnah waljamaah sebagai benteng Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjadi rujukan bagi sebagian besar negara di dunia, negara-negara tetangga belajar Kebangsaan dari Indonesia,” paparnya.

Konfercab XVIII PCNU Balikpapan juga menetapkan  KH Abbas Al Fas sebagai Rais Syuriah dan KH Muhammad Muhlasin sebagai Ketua Tanfizdiyah PCNU Kota Balikpapan masa khidmah 2018-2022 setelah melalui sejumlah tahapan. 

“Rais Syuriyah, terlebih dahulu dipilih oleh AHWA yang anggotanya terdiri dari KH Muhammad Ali Kholil, KH Imam Warosy, KH Abbas Alfas dan dua kiai lainnya,” tutur Ketua Pelaksana Konfercab XVII PCNU Kota Balikpapan KH Muslih Umar.

Setelah terpilih Rais Syuriah, kemudian dilakukan pemilihan bakal calon Ketua Tanfidziyah. Dalam penjaringan bakal calon muncul dua nama yang diajukan, yakni KH Muhammad Muhlasin yang juga Ketua PCNU Balikpapan Demisioner. Ia mendapatkan lima  suara. Calon kedua adalah Ustadz Miftahul Ulum yang juga Ketua MWCNU Kecamatan Balikapan Selatan dengan perolehan satu suara. 

Dalam pembahasan kriteria calon ketua Tanfidziyah masing-masing harus mendapatkan dua suara dari jumlah enam suara. Dengan hasil perolehan suara tersebut, ditetapkan KH Muhammad Muhlasin sebagai calon tunggal sekaligus terpilih secara aklamasi menjadi Ketua PCNU Kota Balikpapan 2018-2022.

Ketua Tanfidziyah terpilih mengatakan dalam sambutannya, tantangan berikutnya dalam mengurus NU Balikpapan adalah meyelesaikan pembangunan Graha NU sampai dengan selesai 100%. Selain itu, Kiai Muhlasin  bertekad untuk mengantarkan jamiyah NU menjadi lebih mandiri.

“Program pertama akan secepatnya menyusun dan melengkapi kepengurusan bersama Rais dan formatur. Kita upayakan mencari  dan menyusun kepengurusan yang loyal dan punya himmah yang tinggi untuk berkhidmat di NU,” tambah dia. 

Konfercab dibuka Wali Kota Balikpapan, HM Rizal Effendi, Jumat (29/12) pukul 20.00 WITA. Meski diguyur hujan, pembukaan berjalan lancar dan dihadiri oleh seluruh Pengurus PC NU Kota Balikpapan, lembaga, banom dan Nahdliyin Balikpapan. (Asep Ismail/Kendi Setiawan)

Bagikan:
Senin 1 Januari 2018 23:0 WIB
Waspada, Banyak Orang Merasa Jadi Ustadz Berbekal Pengetahuan Medsos
Waspada, Banyak Orang Merasa Jadi Ustadz Berbekal Pengetahuan Medsos
Mustasyar PCNU Pringsewu KH Anwar Zuhdi
Pringsewu, NU Online
Mustasyar PCNU Pringsewu KH Anwar Zuhdi mengingatkan masyarakat khususnya umat Islam agar waspada dan senantiasa berpegang teguh kepada apa yang telah disampaikan oleh para kiai dan ulama tempat mereka menuntut ilmu, baik pesantren maupun Madrasah Diniyah.

Hal itu sampaikan menanggapi informasi yang ditemui di berbagai media saat ini, yang kemungkinan seseorang akan dengan gampang terpengaruhi, terprovokasi, dan terombang-ambing sehingga akhirnya terjerumus kepada pemahaman yang salah. Apalagi informasi tersebut terkait dengan permasalahan agama yang disampaikan oleh orang-orang yang tidak jelas silsilah keilmuannya.

"Pegang teguh apa kata Kiai saat mondok. Tidak mungkin para kiai menjerumuskan kita ke jurang kerusakan. Jangan sampai pesan kiai yang sudah mendidik kita bertahun-tahun, kita campakkan begitu saja karena ikut ustadz baru di media sosial yang tak jelas sanad keilmuannya dan baru kita kenal," imbaunya, Ahad (31/12).

Saat ini, lanjutnya, umat Islam harus juga waspada dan cerdas dalam membaca, mencari, dan memahami akar permasalahan khususnya tentang agama khusus media sosial. Jangan sampai asal comot dari sumber atau situs internet yang tidak memiliki kredibilitas.

"Lihat saja saat ini, kita bisa menilai pola pikir seseorang dari situs internet apa yang sering dibaca dan di-share. Kalau yang di-copy paste itu dari situs yang radikal sudah bisa pastikan pola pikirnya juga radikal," kata kiai yang akrab disapa Abah Anwar ini.

Dengan demikian, menurutnya, sudah menjadi keharusan bagi siapa saja yang belum paham untuk menanyakan dan berkonsultasi kepada yang lebih paham situs internet apa saja yang patut untuk dijadikan referensi dan situs mana saja yang hobi menyebar pemahaman radikal, hoaks ataupun ujaran kebencian.

Abah Anwar menambahkan, rentannya masyarakat saat ini terpengaruh oleh paham transnasional tidak terlepas dari pola pikir yang melulu mengedepankan akal dan rasio. Generasi muda saat ini sangat rentan terpapar kondisi tersebut, karena merekalah pengguna media sosial terbanyak.

"Sedikit-sedikit harus ada dalilnya. Kalau tidak ada dalilnya, tidak boleh alias haram. Giliran sudah dikasih tahu dalilnya masih ngeyel dan tidak dikerjakan," ujarnya.

Ia menyayangkan hal itu diperparah dengan banyaknya orang yang tiba-tiba menjadi ustadz ataupun merasa ustadz walaupun tidak belajar dari guru, dan hanya bermodal pemahaman dari media sosial. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan)

Senin 1 Januari 2018 22:49 WIB
Menengok Masjid Syekh Ja'far Shidiq Garut yang Berusia Ratusan Tahun
Menengok Masjid Syekh Ja'far Shidiq Garut yang Berusia Ratusan Tahun
Garut, NU Online
Salah seorang tokoh penyebar Islam di Garut, Jawa Barat adalah Syaikh Muhammad Ja'far Shidiq Cibiuk yang hidup satu perjuangan dengan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan Tasikmalaya dan Syaikh Maulana Mansur Banten.

Hingga saat ini banyak masyarakat yang datang berziarah ke makam Syekh Ja'far Sidiq yang terletak di Gunung Haruman Cibiuk dan nama Haruman ini kemudian jadi nama lain Syekh Ja'far Sidiq, Sunan Haruman, namun masyarakat setempat sering menyebutnya dengan Embah Wali Cibiuk.

Menurut riwayat, Syekh Ja'far Sidiq ini bersahabat baik dengan Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan dan Syekh Maulana Mansur Banten, bahkan persahabatan Syekh Ja'far Sidiq dengan Syekh Maulana Mansur tergambar jelas dari gaya arsitektur bangunan masjid yang bernama Masjid Agung Syaikh Ja'far Shiddiq.

Masjid yang sudah beberapa kali mengalami renovasi tersebut diperkirakan sudah berusia lebih dari 400 tahun dan sampai hari ini 'pataka' yang terbuat dari ukiran batu dan dipasang di pucuk atap bangunan masjid tersebut masih terlihat utuh.

"Pada saat membangun masjid Agung tersebut Embah Wali mendatangkan arsitek dari Banten, makanya bentuk masjidnya mirip sekali dengan bentuk masjid Banten," papar H Rd Imam Abdurrachman di Pesantren As-Sa'adah Limbangan,Garut. Jumat (29/12) lalu.

Dikatakan Imam, masjid tersebut berlokasi beberapa KM dari kaki gunung Haruman, tepatnya di jalan Pesantren Tengah, Desa Cibiuk Tengah, Kecamatan Cibiuk dan masyarakat setempat sering menyebutnya dengan Masjid Agung, Masjid Keramat atau masjid Embah Wali.

"Syaikh Syaikh Muhammad Ja'far Shiddiq Cibiuk ini adalah putera Kyai Mas Mas'ud Dipakusumah dan merupakan generasi ke 8 dari Sunan Pancer Limbangan," tambah Katib Syuriah MWCNU Limbangan ini.

Berdasarkan pantuan NU Online, konstruksi bangunan Masjid Syaikh Ja'far Shidiq yang berbentuk bujur sangkar berukuran 6x6 meter ini masih berdiri kokoh dan konstruksi bangunan yang didominasi oleh kayu jati tersebut berbentuk panggung, sedangkan bangunan baru yang ada di belakangnya berukuran lebih luas dan sudah menggunakan lantai keramik.

Selain mewariskan masjid, ada juga peninggalan lain dari puteri Syekh Ja'far Shidiq yang bernama Nyimas Siti Fatimah, ia mewariskan resep kuliner Sambel Cibiuk yang sampai hari ini masih terkenal hingga ke beberapa kota besar di Indonesia. (Aiz Luthfi/Fathoni)
Senin 1 Januari 2018 21:30 WIB
Puluhan Mercon Meledak di Tangan Mbah Tarjo
Puluhan Mercon Meledak di Tangan Mbah Tarjo
Pekalongan, NU Online
Mbah Tarjo, Banser senior dari Pekalongan Timur unjuk kebolehan lagi. Mbah Tarjo memperagakan keterampilannya dalam memegang rangkaian mercon yang jumlahnya puluhan.

Tak sekadar dipegang. Mercon itu disulut, dan terus menerus meledak di sekitarnya. Tentu saja tak seperti manusia kebanyakan yang mungkin langsung melepuh terkena letusan mercon. Mbah Tarjo tetap tenang memegang rangkaian mercon yang satu per satu meletus di sekitarnya.

Aksi itu Mbah Tarjo lakukan saat pembukaan Diklat Terpadu Dasar (DTD) Banser PAC GP Ansor Pekalongan Timur, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (29/12) lalu.

DTD berlangsung di Madrasah Aliyah Salfiyah Pekalongan selama tiga hari hingga Ahad (31/12). Peserta DTD mencapai 150 orang dengan perincian 13 perempuan dan 137 laki-laki. 

Pada apel pembukaan Wali Kota Pekalongan, Saelany Mahfudz, membuka DTD secara resmi. Dalam sambutannya Wali Kota mengapresiasi PC GP Ansor Pekalongan Timur yang melaksanakan DTD, sehingga kaderisasi dalam tubuh Nahdlatul Ulama (NU) berlanjut.

Ia menekankan pentingnya mengabdi di NU dan akan mendapatkan keberkahan karenanya.

”Mengabdi di NU penuh keberkahan, sehingga jangan segan mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh NU, khususnya GP Ansor,” kata Saelany.

Ia mengatakan pelaksanaan DTD diharapkan bisa menjaring kader-kader NU yang militan sehingga mampu menjadi penyangga berjalannya roda organisasi di tubuh GP Ansor, khusunya PAC GP Ansor Pekalongan Timur.

"Kader militan sangat dibutuhkan oleh NU demi berjalannya roda organisasi," tandas Saelany.

Diperlukan Kader Gila
Ribut Achwandi pemateri Keorganisasian juga berharap betul, DTD dapat memunculkan kader-kader yang bisa berbuat banyak untuk regenerasi GP Ansor.

“Butuh kader gila dalam mengurus organisasi, karena mengabdi di GP Ansor tidak ada uangnya, namun dituntut dengan loyalitas,” ujar dia.

Kata gila yang dimaksud Ribut adalah kader yang mempunyai keikhlasan yang kuat dalam menjalankan program-program organisasi.

Pada malam penutupan, peserta juga diberikan ijazah Asmaul Husna 99 oleh Banser Densus. Jika ijazah tersebut diamalkan, akan berguna untuk penjagaan diri saat menghadapi bahaya. (Red: Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG