IMG-LOGO
Nasional

Muhasabah Kebangsaan 2018, PBNU Soroti Sejumlah Problem Terkini

Rabu 3 Januari 2018 15:35 WIB
Bagikan:
Muhasabah Kebangsaan 2018, PBNU Soroti Sejumlah Problem Terkini
Jakarta, NU Online
Memasuki tahun baru 2018, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar muhasabah atau renungan kebangsaan untuk menyoroti sejumlah problem bangsa di bidang demokrasi, politik, dan radikalisme. Persoalan ini tidak terlepas karena 2018 merupakan tahun politik di mana pemilu serentak di berbagai akan berlangsung.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan, demokrasi merupakan pilihan terbaik sebagai sistem penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara yang majemuk. Namun demikian, menurutnya, dampak dari praktik berdemokrasi saat justru memunculkan problem sosial seperti politik uang dan isu SARA.

“Jika politik uang merusak legitimasi, maka politik SARA merusak kesatuan sosial melalui sentimen primordial yang mengoyak kehidupan berbangsa yang sudah susah payah dirajut oleh para pendiri bangsa,” ujar Kiai Said, Rabu (3/1) di lantai 8 Gedung PBNU Jakarta.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini, pergelaran Pilkada DKI 2017 masih menyisakan noktah hitam bahwa perebutan kekuasaan politik dapat menghalalkan segala cara yang merusak demokrasi dan menggerogoti pilar-pilar NKRI.

Pengalaman ini harus menjadi bahan refleksi untuk mawas diri. Demokrasi harus difilter dari ekses-ekses negatif melalui literasi sosial dan penegakan hukum. 

Masyarakat perlu dilibatkan secara aktif dalam penyelenggaraan demokrasi yang sehat tanpa politik uang dan sentimen primordial. Aparat penegak hukum harus kredibel dan andal dalam penegakan hukum terkait kejahatan politik uang dan penggunaan sentimen SARA. 

“Ini penting karena pada tahun 2018 dan 2019, Indonesia memasuki tahun-tahun politik,” jelas Kiai Said dalam acara bertajuk Muhasabah Kebangsaan: Doa, Harapan, dan Optimisme di Tahun 2018 ini.

Selain menyoroti problem kebangsaan di bidang demokrasi dan politik, PBNU juga menyotoroti persoalan upaya menangkal radikalisme dan menemukan solusi dari ketimpangan kehidupan rakyat di bidang ekonomi.

Dalam kegiatan yang menghadirkan sejumlah awak media tersebut, Kiai Said didampingi Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini, Waketum PBNU H Maksum Mahfoedz, Ketua PBNU Robikin Emhas, dan sejumlah pengurus lain.

Dalam kesempatan muhasabah ini, hadir Habib Sayid Umar Hafidz dan sejumlah habaib lain untuk menyelenggarakan pengajian kitab kuning. Adapun kitab yang akan dikaji adalah Adabul 'Alim wal Muta'alim karangan Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari. (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Rabu 3 Januari 2018 23:50 WIB
Beri Beasiswa kepada Mahasiswa Asing, Cara Efektif Duniakan Islam Nusantara
Beri Beasiswa kepada Mahasiswa Asing, Cara Efektif Duniakan Islam Nusantara
(foto: lpminstitut.com/Ayuba Jorbateh mahasiswa UIN Jakarta asal Gambia Afrika Barat)
Tangerang Selatan, NU Online
Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Masykuri Abdillah mengatakan, cara yang efektif untuk menduniakan Islam Nusantara adalah dengan memberikan beasiswa kepada mahasiswa asing untuk kuliah di perguruan tinggi Islam yang ada di Indonesia.

“Kalau kita ingin menduniakan Islam Nusantara, kita harus banyak memberikan beasiswa kepada mahasiswa asing untuk belajar di perguruan tinggi Islam yang ada di Indonesia,” kata Prof Masykuri di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Ciputat Tangerang Selatan, Rabu (3/1).

Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menyebutkan, banyak sekali mahasiswanya yang mengatakan kepadanya akan menyebarkan Islam Nusantara ke negara asalnya setelah mereka mengetahui betapa masyarakat Indonesia sangat toleran dan Islam Nusantara bisa menerima baik demokrasi dan nasionalisme.

“Ketika pulang mereka akan menjadi juru bicara tentang Islam di Indonesia,” ucap lulusan Pesantren Tebuireng itu.

Prof Masykuri menuturkan, sudah sepatutnya Islam Nusantara diekspor ke luar mengingat karakter Islam di Indonesia tersebut begitu rahmatan lil ‘alamin, moderat, toleran, dan menghargai budaya lokal. Baginya, untuk mengekspor Islam Nusantara adalah dengan cara memberikan beasiswa kepada mahasiswa asing.

“Bukan malah kita mengimpor paham keagamaan dari luar yang justru menimbulkan kekerasan dan konflik,” ujarnya.

Kalau perlu, imbuhnya, Indonesia bisa mendirikan universitas di luar negeri untuk menyebarkan Islam yang ramah dan damai ala Islam Nusantara.

“Kalau misalnya Arab Saudi bisa mendirikan pendidikan di tempat kita, kenapa kita tidak,” tukasnya. (Muchlishon Rochmat)
Rabu 3 Januari 2018 20:30 WIB
PBNU Dorong Pemerintah Perhatikan Ketimpangan Harga Hasil Pertanian
PBNU Dorong Pemerintah Perhatikan Ketimpangan Harga Hasil Pertanian
Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj.
Jakarta, NU Online
Salah poin penting dalam Muhasabah Kebangsaan 2017 dan Resolusi Tahun 2018 yang disampaikan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) adalah mengatasi ketimpangan di bidang ekonomi dan harga hasil pertanian.

Menurut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, ketimpangan yang terjadi selama petani sebagai subjek utama yang telah bekerja keras mengalami pencekikan harga.

Ia memandang, harga hasil pertanian di tingkat petani di desa berbeda jauh ketika hasil panen tersebut sudah terdistribusi ke kota.

Kiai Said mencontohkan ketika harga bawang merah di Brebes tidak pernah mencapai 10.000 per kilogram. Begitu pun dengan harga hasil pertanian seperti cabe, tomat, dan lain-lain. Bahkan harga di bawah cenderung sangat rendah.

“Tapi kenapa setelah sampai di Jakarta harganya melambung tinggi. Ini yang harus menjadi perhatian pemerintah,” jelas kiai asal Kempek, Cirebon ini.

Lebih jauh, Kiai Said melihat, Pemerintah Jokowi-JK punya niat baik mengatasi ketimpangan yang menjadi semacam penyakit kanker dalam pembangunan dan ancaman nyata bagi kesatuan dan persatuan bangsa. 

“Ketimpangan itu menjelma dalam ketimpangan distribusi kesejahteraan antar-individu, ketimpangan pembangunan antar-wilayah, dan ketimpangan pertumbuhan antar-sektor ekonomi,” tuturnya.

Menurut Kiai Said, ketimpangan antar-sektor ekonomi harus diterobos dengan pengarusutamaan pembangunan pertanian dan industrialisasi pertanian berbasis rakyat dengan langkah yang dimulai dengan pembagian lahan pertanian dan pencetakan sawah baru, peningkatan produktivitas lahan, perbaikan dan revitalisasi infrastruktur irigasi, proteksi harga pasca panen, perbaikan infrastruktur pengangkutan untuk mengurangi biaya logistik, dan pembatasan impor pangan. (Fathoni)
Rabu 3 Januari 2018 19:0 WIB
Komunikasi di Media Sosial Penuh Kepalsuan
Komunikasi di Media Sosial Penuh Kepalsuan
Ilustrasi: tribunnews
Sudah sejak lama saya menyukai gaya komunikasi langsung; berbicara secara tatap muka dan mata. Sebab dengan begitu, kita akan mudah mendeteksi sebuah kejujuran. Mimik wajah akan tersorot dengan spontan manakala ada kebohongan yang menyergap obrolan. 

Komunikasi langsung dengan tatap muka dan mata, di era milenial ini kurang mendapat perhatian serius. Massifnya keberadaan media sosial, membuat orang enggan atau malas bertemu untuk membicarakan sesuatu. Semua dilakukan melalui layar smartphone. 

Lambat laun, muncul sebuah ketakutan untuk berbicara secara langsung. Terlebih tema yang akan dibahas merupakan persoalan yang sangat serius. Saya menduga, orang-orang zaman now punya penyakit yang cukup aneh, yakni merasa takut bertemu orang. Atau, merasa tidak pede untuk mengemukakan pendapat secara langsung.

Media sosial, menurut hemat saya, mulai menggerus keberanian banyak orang. Kemudian perlahan telah mematikan semangat hidup untuk terus bersilaturahim atau bertemu, saling menyambangi dan mengunjungi satu sama lain. Dunia sudah berubah. Kita akan menemukan suatu tatanan dunia baru yang sepi kala di kehidupan nyata, tetapi riuh-gaduh di maya.

Kita menjadi pengecut. Menjadi serba takut menghadapi orang lain. Padahal, tidak demikian yang diajarkan agama. Dalam Islam, atau mungkun pada setiap agama, yang dimaksud silaturrahim adalah bertemu wajah dan fisik. Bukan teks dalam pesan singkat aplikasi yang terdapat di smartphone.

Penegasan itu disampaikan pula oleh salah seorang Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Adib Rofiuddin Izza, saat menghadiri Temu Alumni Buntet Pesantren Cirebon di Hotel Ayong, Linggarjati, Kabupaten Kuningan, Ahad (31/12).

"Yang namanya silaturahim itu ya ketemu. Bukan lewat hape. Enggak bener itu kalau silaturahim via hape. Santri sekarang, banyak gaya kalau di dunia maya. Kalau ketemu kiai, bukannya minta nasihat tapi malah minta foto. Diposting di media sosial, ditulis seolah-olah merasa paling dekat dengan ulama," kata Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Buntet Pesantren Cirebon (YLPI-BPC) itu.

Dari keterangan KH Adib di atas, kita bisa simpulkan bahwa melakukan komunikasi melalui smartphone atau berselancar di media sosial hendaknya dibarengi dengan keaktifan di kehidupan nyata. Kalau tidak, maka akan timbul keberanian semu.

Dalam bahasa sehari-hari, "Di medsos galak, aslinya penakut".

Hal itu menjadi penyakit anak-anak muda zaman sekarang.

Tahun 2018 hingga 2019, menjadi tahun politik. Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) serentak dan Pemilihan Presiden (Pilpres) menjadi bayang-bayang keriuhan di media sosial. Parahnya, keriuhan di media sosial menjadi percikan permusuhan yang terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari.

Hampir seluruh hidup kita dipengaruhi media sosial, sehingga saat permusuhan tercipta, kita menjadi lebih enggan bertemu dengan orang lain. Terlebih bersua dengan orang yang berbeda pilihan politik.

Lantas, bagaimana? Saya berpesan agar anak-anak muda NU; baik santri, pelajar, maupun pemuda NU, baik yang berada dalam struktur maupun kultur, untuk mampu memberi pemahaman yang sejuk kepada warganet di media sosial. Jangan justru memperkeruh dengan mengimbuh perkara yang mestinya tidak perlu diangkat.

Sedari dulu, kita tahu bahwa NU menjadi ladang fitnah, tuduhan, dan pemecah-belahan; tetapi para kiai NU tetap sabar mengelola argumentasi yang bertubi-tubi menyergap keharmonisan di tubuh NU. Lebih-lebih, di era digital ini. Fitnah dan tuduhan datang melalui media sosial, tidak jelas siapa pelaku dan pembuatnya. Padahal tidak tabayun atau bahkan belum pernah bersentuhan langsung dengan NU.

Maka, itulah pentingnya berkomunikasi langsung secara tatap muka dan mata. Kita bakal tahu seberapa jujur dan bohongnya lawan bicara. Seperti itu, menurut saya, silaturrahim. Saling memberi senyum keindahan yang menjadi penyejuk jiwa. Sebab, semudah-mudahnya sedekah ialah memberi senyum kepada saudara sendiri.

Kalau di media sosial, memang ada emoticon senyum. Tetapi mungkinkah pemberian emoticon senyum juga berbarengan dengan senyum yang kita sama sekali tidak tahu? Bisa saja tidak demikian.

Maka, media sosial lebih berkecenderungan melahirkan banyak kepalsuan dari komunikasi yang dilangsungkan dengan pertemuan fisik. (Aru Elgete)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG