IMG-LOGO
Tokoh

Depati Amir dan Dakwah Islam Ramah di Tanah Pengasingan Kupang

Rabu 10 Januari 2018 15:1 WIB
Bagikan:
Depati Amir dan Dakwah Islam Ramah di Tanah Pengasingan Kupang
Lukisan Depati Amir (Dok. Istimewa).
Kupang merupakan wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang cukup jauh dari jangkauan sejarah. Jarang sekali kisah-kisah yang dipublikasikan mengenai kondisi apa saja yang terjadi di wilayah tersebut. Pada masa Belanda, yang tampak dari tempat tersebut adalah sebagai tempat pembuangan orang yang dianggapnya sebagai pemberontak.

Dengan kondisi perbedaan budaya dan agama, seakan-akan Belanda memang berencana untuk mengobrak-abrik psikis orang-orang Muslim kriminal yang diasingkan di tempat tersebut.

Depati Amir (1805-1885) merupakan tokoh lokal Muslim dari Bangka Belitung yang memiliki peran besar dalam melakukan resistensi terhadap hegemoni Belanda. Karena pergerakannya yang dianggap membahayakan eksistensi kolonial, ia diasingkan di daerah Air Mata, Kupang.

Ketika eksploitasi dan monopoli timah di wilayah Bangka dilakukan oleh Belanda secara besar-besaran, ia menjadi garda terdepan dalam melakukan perlawanan untuk menuntut kesejahteraan rakyat Bangka yang direbut oleh penjajah. 

Ketika strategi perlawanan yang ia lakukan akhirnya dicurigai oleh Belanda, ia pun menjadi buronan yang dianggap menghalang-halangi misi monopolinya. Selama dua tahun ia berjuang, hingga titik yang paling akhir, kekuatannya pun menurun dan perjuangannya pun berakhir di suatu hutan di Mendo Timur pada tahun 1851.

Ia ditangkap dan menjadi tawanan pemerintah Belanda. Dengan penangkapan tersebut, ia pun dijatuhi hukuman dengan diasingkan bersama keluarganya ke Kampung Air Mata, Kupang, wilayah yang begitu jauh dari Bangka, yang mana tempat tersebut merupakan tempat pembuangan para pemberontak dalam penilaian Belanda.

Sejak diasingkan ke Kupang, terputuslah hubungannya dengan Pulau Bangka, baik dakwah Islamnya, maupun hubungan dengan kerabat lainnya. Jika di Bangka ia lebih aktif dalam mengangkat senjata, sejak di Kupang ia lebih banyak melakukan kegiatan-kegiatan sosial, seperti pembangunan jalan, renovasi rumah warga, sampai perbaikan jembatan.

Bahkan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan juga diserahkan kepada penduduknya, sedangkan pemerintah kolonial yang berada di sana hanya mengawasi. Meskipun begitu, masyarakat yang ada di sana adalah bekas para pemberontak, sehingga harus terus diawasi.
 
Kebiasaan Depati Amir yang gemar bergaul dengan orang lain, tidaklah menyulitkanya dalam menghadapi keadaan yang baru ketika diasingkan di Kupang. Apalagi di sana ia berdampingan dengan orang-orang yang bernasib sama. Bersama dengan warga, ia segera melibatkan diri dan melakukan pembangunan di kampung pembuangannya mata air.
 
Ia terus berlibat dalam penanaman nilai-nilai spiritual di kampung tersebut. Tak heran, meskipun di kampung kanan kirinya adalah para pemeluk Katolik, di kampung tersebut justru Islam berkembang dengan baik. Terbangunnya masjid Air Mata menjadi tempat terlaksananya kegiatan-kegiatan keagamaan. (Dien Madjid, dkk, Masa Internir Depati Amir di Kupang 1851-1869)

Ia juga terus membina hubungan baik dengan suku-suku bangsa pribumi yang kebanyakan beragama Katolik, terus menunjukkan bahwa dirinya adalah Muslim dengan prinsip rahmatan lil 'alamin yang mampu berinteraksi dengan antar suku maupun ras sehingga mampu mewujudkan dakwah Islam ramah di tanah pengasingan. 

Di pengasingannya, ia juga  mendapat kepercayaan pemerintah kolonial dalam melakukan program vaksinasi massal yang diadakan Belanda untuk masyarakat Kupang. Penunjukan ini dilakukan karena kewibawaan Depati Amir terhadap masyarakat supaya tergerak dalam menciptakan kehidupan yang sehat. 

Sebagai orang Melayu, ia juga memperkenalkan kebudayaannya pada masyarakat Air Mata. Budaya tersebut dengan sendirinya berkembang seiring dengan perkembangan Islam di sana. Ditambah lagi banyaknya orang Melayu yang menikah dengan penduduk setempat, sehingga budaya hibrid antar Melayu dan Kupang melalui pernikahan-pernikahan tersebut menimbulkan bentuk budaya yang endemik. 

Hal lain mengenai hubungan dengan antar suku bahkan antar umat beragama, ia membina hubungan baik dengan orang-orang non-Muslim. Dalam catatan Belanda dikemukakan bahwa Depati Amir adalah figur yang memiliki toleransi yang tinggi.

Ia tidak hanya mementingkan segolongan agama semata, namun juga mengajak secara bersama umat agama lain, atau suku bangsa lain dalam upaya berjuang melawan Belanda, seperti kasus sebelumnya ketika ia berjuang bersama para buruh Cina di Bangka melawan pemerintah kolonial. 

Mencermati keadaan yang kini rentan dengan krisis toleransi antargolongan, maka wacana kesejarahan yang bertema memperteguh integritas bangsa berbasis keragaman perlu dihadirkan. Agar masyarakat lebih bijak dalam menghadapi hal-hal yang sebenarnya terus diulang-ulang dari dulu hingga masa sekarang.

Keteladanan Depati Amir dalam memposisikan diri sebagai umat Islam yang toleran, perlu dicontoh agar kita semua terus menjalani kehidupan yang rukun dalam bingkai keberagaman bangsa yang berbeda-beda. Putra dari tokoh bernama Depati Bahrin ini meninggal di tanah pengasingan Kupang pada 1885 dalam usia 80 tahun. (Nuri Farikhatin)
Tags:
Bagikan:
Senin 8 Januari 2018 20:35 WIB
Sejarah Hidup KH Ngali Hasyim
Sejarah Hidup KH Ngali Hasyim
KH Ngali Hasyim adalah kiai kharismatik asal Lampung Tengah, Mursyid Thariqah An-Naqsyabandiyah Al-Kholidiyah di provinsi Lampung. Ia adalah pendiri pondok pesantren Baitul Mustaqim, Punggur Lampung Tengah Lampung.

KH Ngali Hasyim adalah putra pertama dari lima bersaudara, ia merupakan putra dari pasangan Mbah Hasyim dan Siti Khofiyah. KH Ngali Hasyim dilahirkan dan dibesarkan di desa Kelutan, kecamatan Ngrongkot, kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Mengenai usianya, terdapat beberapa pendapat dari keterangan narasumber. Sebagian berpendapat mencapai usia 105 tahun. Dalam keterangan lain, ia pernah mengatakan sebaya dengan Presiden Soekarno.

Untuk mendekati data yang akurat, dalam buku Agenda Santri TA 2015/2016 Istihsan pondok pesantren Baitul Mustaqim, dilakukan perhitungan mundur, yang dimulai dari Abah KH Muchtar Ghozali. Perhitungan ini menggunakan asumsi jarak kelahiran anak pertama dengan jarak tahun pernikahan setelah dua tahun.

Abah KH Muchtar Ghozali lahir tahun 1968 
Mbah Was Menikah tahun ± 1966 (Saat berumur 17 tahun), mbah Was adalah anak keenam (lahir ± 1949)
Anak kelima bernama Maslikhatun (lahir ± 1946)
Anak keempat bernama Haris (lahir ± 1943)
Anak ketiga bernama Khoiriyah (lahir ± 1940)
Anak kedua bernama Siti Mutamimmah (lahir ± 1937)
Anak Pertama bernama Siti Komariyah (lahir ± 1934)
KH Ngali Hasyim menikah pada tahun ± 1932 (saat beliau berumur 30 tahun)
KH Ngali Hasyim lahir ± 1932 dikurangi umur beliau ketika menikah yakni 30 tahun, maka hasilnya tahun 1901

Dengan perhitungan di atas, bahwa KH Ngali Hasyim sebaya dengan Soekarno lebih mendekati kebenaran, karena Presiden Soekarno lahir pada tahun 1901. Kemudian diperoleh informasi dari Usman, menggunakan kalender komputer bahwa KH. Ngali Hasyim lahir pada hari Sabtu Wage 5 Oktober 1901. Dengan demikian sampai saat ini umur beliau sudah mencapai 108 tahun (dalam buku yang ditulis tahun 2016).

Riwayat Pendidikan dan Keluarga
KH Ngali Hasyim pertama kali menimba ilmu agama di pesantren yakni di Pondok Pesantren Tremas. Di situ ia banyak dipercaya menangani berbagai urusan. Ketika pulang kampung, tak lama kemudian, ia membina rumah tangga dengan menikahi seorang wanita bernama Siti Khalimah. 

Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya, ia berjualan bumbu dapur yang dibawa dari desanya untuk dijual ke kota Surabaya. Perjalanan menuju Surabaya dengan melalui sungai Brantas. Perjalanan melewati sungai ini biasanya ditempuh selama tiga hari tiga malam, bahkan bisa lebih, dengan menggunakan perahu rakit bambu yang dihanyutkan.

Selama membina rumah tangga dengan Ibu Nyai Siti Khalimah. Beliau dikaruniai 7 anak diantaranya dua putra dan 5 putri.

Hijrah ke Lampung
KH Ngali Hasyim hijrah ke Lampung ± tahun 1955. Daerah yang pertama kali dituju adalah desa Banjarsari Metro. Setahun kemudian beliau berpindah ke Sido Rahayu Punggur. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, ia membuat usaha home industry yakni pembuatan tempe. 

Pada masa G 30S PKI, suasana yang sangat amat mencekam membuat masyarakat sangat membutuhkan perlindungan para alim ulama, salah satunya KH Ngali Hasyim. Saat itu, ia cukup aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan. Bahkan, ia pernah ditangkap aparat saat memimpin pembacaan Shalawat Nariyah.

Setelah peristiwa itu ia kembali ke pulau Jawa untuk mencari bekal di pondok pesantren Mbaran. Saat itu pondok pesantren Mbaran di asuh oleh KH Umar Sofyan. Niat awal yang hanya 10 hari menjadi 40 hari. Ia diminta KH Umar Sofyan untuk memperdalam ilmu thoriqoh hingga diangkat sebagai mursyid. 

Setelah selesai, ia kembali ke Lampung. Saat itu kegiatan pesantren dipimpin oleh KH Abdillah. Setelah ia wafat, KH Ngali Hasyim menggantikan posisinya sekitar tahun 1970-an. (Muhammad Candra Syahputra)

Sumber: 
Muhtar Al-Maksum, Istihsan Agenda Santri TA 2015/2017. PP Baitul Mustaqim, Lampung Tengah

  

Rabu 3 Januari 2018 5:1 WIB
Al-Battani, Ulama Ahli Astronomi
Al-Battani, Ulama Ahli Astronomi
Al-Battani adalah ilmuwan Irak yang hidup pada tahun 850-923 M . Dia adalah ahli astronomi terbesar di kalangan orang Arab. Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad ibn Jabir ibn Sinan al-Raqqa al-Harrani al-Sabiʾ al-Battani. Dia lahir di Harran dekat Urfa. Salah satu pencapaiannya yang terkenal adalah tentang penentuan tahun matahari sebagai 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik.

Al-Battani mendalami astronomi sejak berusia 20 tahun hingga akhir hayatnya. La Lande, ahli Astronomi dari Perancis mengatakan bahwa Al-Battani termasuk salah seorang dari 20 orang besar ahli astronomi dalam sejarah manusia. Ia juga mengatakan dalam bukunya yang berjudul Sejarah Alam Semesta bahwa Al-Battani merupakan ahli astronomi paling besar pada bangsa dan zamannya, selain salah seorang ilmuwan besar Islam. 

Para ilmuwan astronomi sebelumnya banyak merujuk kajian astronomi kepada ilmu astronomi Yunani terutama kepada karya-karya Ptolomeus dan ilmu astronomi India. Naskah teoritis dan mendasar mereka adalah buku Ptolomeus yang dikenal oleh orang Arab dengan judul Al-Majesty.

Para ahli astronomi Arab banyak yang mengikuti Ptolomeus yang berpendapat bahwa bumi dian dan dikitari oleh delapan planet: Matahari, bulan, 5 planet dan bintang. Untuk membuktikan kesesuaian antara tatanan seperti itu dan kenyataan yang ada, dia meletakkan aturan perputaran dan hitungan matematisnya. Akan tetapi dengan berlalunya waktu tahu, Bangsa Arab tahu mengenai kelemahan Ptolomeus sehingga mereka mengkritiknya tanpa memberikan jalan keluar.

Kegiatan Al-Battani tercurahkan kepada yang dinamakan al-zayj atau kalender astronomi yang dia buat pada tahun 900 masehi dengan sangat cermat dan akurat. Pengamatannya yang sangat akurat mengenai gerhana matahari menjadi dasar yang pasti bagi pengamatan sejenis hingga tahun 1749 Masehi.

Bukunya Al-Zayj berisi hasil-hasil peneropongannya terhadap bintang-bintang tetap. Buku tersebut telah diterjemahkan juga ke dalam bahasa Latin dan bahasa Spanyol. Namun buku-bukunya yang jumlahnya 4 jilid tidak sampai ke tangan kita.

Pengaruhnya sangat besar bukan saja dalam bidang ilmu astronomi untuk kalangan bangsa Arab saja, melainkan juga dalam ilmu astronomi dan hitungan segitiga lingkaran pada bangsa Eropa pada abad pertengahan dan awal renaissance. Dia telah menetapkan hitungan yang sangat akurat mengenai panjang hitungan tahun dan pembagian musimnya serta peredaran yang pasti untuk Matahari.

Al-Battani juga membenarkan ucapan Ptolemeus mengenai tetapnya posisi bumi yang berjauhan dengan matahari, dengan membangun dalil atas perubahan yang terjadi pada teori yang ditemukan Ptolomeus dan dengan mengikuti gerakan rata-rata planet tersebut. Akhirnya Al-Battani mendapatkan kesimpulan bahwa penyesuaian waktu berubah sangat lamban. Al-Battani juga memastikan perubahan sudut tampak matahari, dan kemungkinan terjadinya gerhana matahari total. 

Selain itu, Al-Battani juga meluruskan sejumlah pengetahuan mengenai gerakan bulan dan bintang bergerak. Dia membuat teori baru yang menunjukkan tingkat kecerdasan dan keluasan wawasannya, yang menjelaskan kondisi dimana bulan bisa terlihat, dan memantapkan gerakan rata-rata yang ditemukan oleh Ptolemeus.

Dia juga memiliki hasil peneropongan gerhana bulan dan gerhana matahari yang dijadikan patokan oleh Dantrhone pada tahun 1749 M tentang batas kecepatan bulan dalam satu abad. Dia memberikan pemecahan yang sangat bagus melalui pencarian titik tengah bagi segitiga lingkaran.

Dalam bidang ilmu pasti Al-Battani adalah orang yang pertama kali memasukkan sinus dan cosinus dalam ilmu pasti. Dia menggunakan sinus dan cosinus sebagai ganti hypotenuse yang banyak digunakan oleh orang Yunani. Lalu dia menyempurnakan definisi bayangan semu dan bayangan inti, selain membuat daftar untuk dua hal tersebut.

Penemuan hukum segitiga sama sisi yang sempurna pun dinisbatkan kepadanya. Selain itu dia juga memecahkan berbagai persoalan hitungan ala Yunani dengan menggunakan cara ilmu ukur untuk mengetahui detail ukurannya.

Hasil yang dicapai oleh Al-Battani dalam ilmu Astronomi mendapatkan tempat dalam sejarah ilmu pengetahuan. Dia adalah seorang ahli ilmu astronomi yang brilian tanpa menggunakan peralatan yang canggih yang baru ditemukan pada abad ke-17. Kesuksesannya kembali kepada dua hal berikut.

Pertama dia menggunakan metode dan alat teropong yang jauh lebih maju daripada yang dimiliki oleh orang Yunani. Bahkan sebagian peralatan yang ada yang tidak diketahui sama sekali oleh mereka. 

Kedua, dia menggunakan hitungan yang akurat dalam menghitung persoalan-persoalan yang dihadapinya dalam ilmu astronomi. Hitungan yang dipergunakan jauh lebih maju daripada yang dipergunakan oleh orang Yunani, termasuk hitungannya dalam berbagai segitiga yang juga belum dikenal oleh mereka.

Yang membuat mereka gagal dalam kajian di bidang ilmu astronomi dan geografi adalah karena mereka mengandalkan cara hitung yang konvensional. (Rizal Mubit)
Jumat 29 Desember 2017 12:1 WIB
KH Cucu Komarudin Sukabumi dan Pesantren Taman Surga
KH Cucu Komarudin Sukabumi dan Pesantren Taman Surga
KH Cucu Komaruddin.
Hampir sebelas tahun saya mengajar di Yayasan Riyadlul Jannah, Cikundul sejak tahun 2007. Yayasan ini didirikan oleh almarhum KH Cucu Komarudin. Pada tahun 2007 itu, saya diajak oleh Kang Jihad untuk mengajar matematika di PKBM Riyadlul Jannah. Sudah tentu, ada perbedaan signifikan antara sekolah formal dengan PLS seperti PKBM terutama dalam waktu pelaksanaan kegiatan belajar dan mengajar. 

Bagi para siswa PKBM diberikan keleluasaan, kegiatan belajar dan mengajar diselenggarakan hanya 3 (tiga) hari; Kamis, Jumat, dan Sabtu. Waktu kegiatan pun dilaksanakan pukul 13.00-17.00 WIB. Kecuali membuka PKBM, sejak yayasan ini didirikan, KH Cucu Komarudin telah membuat divisi atau pembagian pengelolaan yayasan yang bergerak di bidang pendidikan ini antara lain; (1) Pengelolaan Pondok Pesantren, (2) Kegiatan Majlis Taklim, (3)Madrasah Ibtidaiyah, dan (4) Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Masing-masing divisi dikelola oleh pihak keluarga, pondok pesantren dan PKBM dikelola langsung oleh KH Cucu Komarudin. Kegiatan majlis taklim dikelola oleh Samsul Puad sedangkan Madrasah Ibtidaiyah dikelola oleh H. Abdullah Amin. KH Cucu Komarudin sebagai salah seorang tokoh ulama sekaligus Rais Syuriyah Nahdlatul Ulama Kota Sukabumi telah menempuh langkah-langkah akomodatif dengan mendahulukan sikap al-mashalah al-ammah (kebaikan untuk semua) di dalam mengelola yayasan tersebut, salah satunya dengan melibatkan orang-orang luar untuk bersama-sama mengembangkan yayasan ke arah kemajuan.

Di awal tahun 1980, Madrasah Ibtidaiyah didirikan. Menurut penuturan salah seorang pengelola, pendirian Madrasah Ibtidaiyah merupakan salah satu upaya membangun karakter religius anak-anak setempat. Di tahun 1980-an, pemerintah sedang gencar-gencarnya membangun lembaga-lembaga pendidikan dasar seperti SD Inpres dan lembaga-lembaga lain, Yayasan Riyadlul Jannah, dulu masih berupa pondok pesantren membuka cakrawala baru dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat.

Dibangunnya Madrasah Ibtidaiyah merupakan sejarah baru bagi lembaga ini, bahwa latar belakang dan motivasi pembangunan karakter religious bagi masyarakat menjadi modal dari kegiatan lembaga ini.

Pendidikan Luar Sekolah (PLS) untuk tingkat SMP dan SMA di Kota Sukabumi berjalan tidak semeriah sekolah-sekolah formal. Pasang surut Pendidikan Luar Sekolah ini disebabkan oleh: motivasi siswa masih belum maksimal dalam melakukan kegiatan belajar (karena PLS dianggap relatif bebas), stimulasi dana terhadap kegiatan PLS tidak sebaik pendidikan-pendidikan formal, tenaga pendidik masih kurang dalam segi jumlah, bahkan penambahan kuantitas tenaga pendidik untuk PLS ini kurang diimbangi olehkualitas tenaga pendidik tersebut. Pada akhirnya, anggapan sederhana terhadap PLS dan PKBM ini adalah: sekolah gratis dan bebas waktu.

Demi alasan-alasan di atas, pada tahun 2010, Yayasan Riyadlul Jannah memokuskan kegiatan pendidikan pada sektor formal. Hamzah mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Riyadlul Jannah. Di awal pendiriannya, sebanyak 34 siswa menjadi peserta didik di MTs Riyadlul Jannah. Mayoritas dari mereka adalah anak-anak lulusan MI dan SD Negeri Cikundul. Maka semakin jelas, pendirian MTs ini merupakan langkah kedua setelah pondok pesantren Riyadlul Jannah mendirikan Madrasah Ibtidaiyah di awal tahun 1980.

Setelah tiga tahun berdiri, ruang kelas baru dibangun. Jumlah siswa sebanyak 83 orang mengisi ruang-ruang kelas baru dari kelas I sampai kelas III. Satu hal baik, karena pendidikan tingkat dasar ini masih didanai oleh Bantuan Operasional Siswa (BOS), MTs Riyadlul Jannah memberikan pelayanan pendidikan tanpa biaya kepada para peserta didiknya. Jelas sekali, ini begitu jauh berbeda dengan sekolah-sekolah formal lain yang masih memberikan beban biaya kepada para siswa meski pun telah mendapatkan Bantuan Operasional Siswa (BOS) dari pemerintah.
Peran KH Cucu Komarudin tersebut tidak terlepas dengan adanya koneksi yang dilatarbelakangi oleh hubungan dekat antara dirinya dengan keluarga besar Pondok Pesantren Al-Mashturiyah, Cisaat. Pandangannya terhadap pentingnya mengembangkan pendidikan - salah satunya - dipengaruhi oleh wasiat KH Muhammad Masthuro, "Ulah pagirang-girang dina ngamajukeun pasantren” (Jangan berebut jabatan di dalam memajukan pondok pesantren).

Enam Wasiat (Washaya Sittah) KH Muhammad Masthuro secara khusus telah dibahas secara lengkap oleh Abdul Jawad di dalam tesisnya "Washaya Sittah KH Muhammad Masthuro (1901-1968) dalam Pembentukan Islam Lokal di Sukabumi Jawa Barat”. Wasiat pertama KH Muhammad Masthuro, menurut Abdul Jawad dimaksudkan agar setiap anggota keluarga dan anak cucu KH Muhammad Masthuro benar-benar memusatkan perhatian pada kemajuan pendidikan, terutama pesantren.

KH Cucu Komarudian menyadari benar pentingnya mengejawantahkan wasiat tersebut sebab secara personal, istri beliau Hj Oom Hasanah merupakan cucu dari KH Muhammad Masthuro, sudah tentu wasiat-wasiat yang disampaikan oleh kakek mertua sekaligus sebagai gurunya wajib dilaksanakan. Pengamalan dan aplikasi wasiat KH Muhammad Masthuro di Cikundul ini merupakan intisari dari ajaran-ajaran KH Muhammad Masthuro yang terdapat di dalam Washaya Sittah butir keenam, "Kudu mapay torekat Abah", artinya harus mencari jejak dan menempuh jalan yang telah ditempuh oleh KH Muhammad Masthuro.

Abdul Jawad (2017:164) menyebutkan Tarekat Abah sebagaimana yang tercantum dalam butir keenam dari Washaya Sittah KH Muhammad Masthuro merupakan jalan hidup yang telah ditempuh oleh para kiai. Aplikasi nyata darinya adalah penerapan akhlak al-kariimah seperti; saling menyayangi, mencintai, tidak dengki, dan menutupi kelemahan serta kekurangan orang lain. Ketika masih hidup, menurut penuturan Hamzah, salah seorang putera KH Cucu Komarudin, beliau selalu memperlihatkan raut muka soméah (berseri-seri), sering ingin membahagiakan orang lain meskipun hanya melalui raut wajah.

Sebagai salah seorang kiai di Sukabumi, KH Cucu Komarudin biasa menjadi pemateri dan pendakwah dalam berbagai pengajian baik di lingkungan masyarakat juga pemerintahan. Suatu hari, seseorang menyapa beliau, meskipun -bisa saja, beliau tidak mengenal atau lupa kepada orang yang menyapanya, tetapi dari diri beliau tidak keluar pertanyaan; “Siapa ini, saya lupa?” Baginya, meskipun hanya dengan mengeluarkan kalimat seperti itu -padahal dalam bentuk pertanyaan- takut akan melukai hati penanya.

Semangat KH Cucu Komarudin di dalam mengembangkan Islam dan pendidikan yang bercorak Islam ini tidak pernah lepas dari peran keluarga beliau secara turun-temurun, jika melihat kepada perkembangan Islam di Cikundul didapati benang merah, kakek buyut hingga kepada ayahnya merupakan orang-orang yang telah berjasa di dalam menyebarkan dan mengembangkan Islam di daerah ini.
Proses penyebaran dan perkembangan Islam di Cikundul –sama sekali – belum diteliti secara serius dan utuh oleh para ahli. Berdasarkan beberapa obrolan dengan beberapa tokoh, dapat diperkirakan pintu masuk penyebaran Islam ke Cikundul ini melalui daerah Bangbayang dengan alasan, pada abad ke-15 daerah di lereng pegunungan merupakan sebuah pasar tradisional dan perdagangan masyarakat.  Penyebaran Islam di Sukabumi tentu berbanding lurus dengan semakin kokohnya Kekuasaan Kerajaan Islam di Banten, Sundakelapa dan Cirebon. Untuk mengetahui bagaimana proses penyebaran dan perkembangan Islam di daerah Cipeueut, Bangbayang, Cikundul, dan daerah sekitarnya  dapat terhubung oleh keberadaan beberapa orang antara lain; Abah Acin (1820-1902), KH Yunus (1843-1950), dan KH Sayuthi (1864-1988).

Abah Acin, seorang tokoh sentral di kampung Jeruk dipercaya masih menganut ajaran leluhur. Dia memiliki ilmu kanuragan, memang keajaiban atau kata yang merujuk terhadap keajaiban ini kurang diterima secara ilmiah dan sulit untuk dimasukkan ke dalam obyek penelitian. Tetap berdasarkan cerita yang tersebar di masyarakat, keajaiban atau keistimewaan tentang orang-orang terdahulu seperti sebuah fakta yang sulit dibantah. Dengan tidak mengurangi keilmiahan dan bisa disebut pseudoilmiah, kesaktian Abah Acin tergambar dari beberapa penuturan sebagian masyarakat yang dibahasakan secara turun-temurun.

Sebuah peristiwa, banjir bandang pernah terjadi di sungai Cimandiri, air meluap hingga memenuhi bantaran, sebagai seseorang yang memiliki beberapa kerbau akan menjumpai kesulitan bagaimana cara menyeberangkan kerbau dari bagian bantaran sungai ke bantaran sebelahnya. Cukup dengan melambaikan tangan, kerbau-kerbau itu seolah menurut kepada si pemiliknya, kemudian mereka menyeberangi melawan arus sungai Cimandiri dan bisa melintas dengan selamat.

Abah Acin tetap memegang teguh ajaran yang diterima dari leluhurnya hingga lanjut usia. Kepada Yunus, anak sulungnya, dia sering mewasiatkan – meskipun dirinya masih memegang teguh keyakinan leluhur – agar sang anak bersikeras dan bersungguh-sungguh menimba ilmu ke luar kampung. Wasiat Abah Acin diterima baik oleh Yunus. Di usia remaja, Yunus pergi ke Banten – sumber mengenai dimana Yunus mengenyam pendidikan keislaman masih belum tepat pasti-. Setelah mendapatkan ilmu keislaman yang cukup, Yunus kembali ke kampung halamannya. Tidak langsung menyebarkan Islam kepada masyarakat terutama di tempat keramaian seperti pasar tradisional tempat perdagangan.

Abah Acin sendiri - meskipun beberapa sumber masih meragukan apakah dia memeluk Islam atau tidak- tetapi saat kepulangan anaknya melakukan kebiasaan: mandi atau beberesih, sebagai simbol atau tanda penerimaan seseorang sebelum meyakini atau mempelajari sebuah ilmu. Keyakinan masyarakat yang berkembang saat itu, ketika mereka akan mempelajari sebuah ilmu sudah bisa dipastikan akan melakukan ritual mandi terlebih dahulu.

Salah satu alasan Abah Acin memerintahkan agar Yunus menuntut ilmu keislaman disebabkan oleh cara pandang orangtua tersebut terhadap gejala umum yang sedang terjadi di wilayah lain seperti Banten dan Sunda Kelapa. Di usia remaja, Abah Acin pernah melakukan perjalanan sampai ke Pelabuhan Sundakelapa, disana dia melihat bagaimana penyebaran Islam dan perkembangannya yang dilakukan oleh para pedagang begitu pesat hingga terbentuk masyarakat baru bernama komunitas muslim di Banten dan Sundakelapa. Sebuah keniscayaan yang tidak akan terbendung adalah konversi keyakinan lama ke keyakinan atau agama baru. Konversi keyakinan ini bersifat masif selama abad ke 7 hingga abad ke-18.

Abah Acin dengan tanpa banyak cerita memberikan harta miliknya kepada Yunus untuk melakukan Ibadah Haji ke Tanah Suci pada tahun 1893. Pulang dari Mekah, KH Yunus mulai membuka pengajian dan pengajaran keislaman di Cikundul , tidak dalam bentuk lembaga, melainkan secara personal atau individual. Islam menyebar di Cikundul memiliki kemiripan dengan proses penyebaran Islam di Nusantara melalui berbagai pendekatan terutama secara personal dan kultural. Tradisi-tradisi lama sama sekali tidak pernah dijadikan penghalang oleh KH Yunus untuk meyampaikan ilmu keislaman. Masyarakat Cikundul dan sekitarnya masih tetap melakukan tradisi leluhur seperti; nyekar, ngembang, puasa mati geni, mencuci benda pusaka, dan kebiasaan lain yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Penyebaran dan perkembangan Islam di Cikundul terlembagakan saat anak sulung KH Yunus, yaitu KH Sayuthi mendirikan masjid dan pondok pesantren berukuran kecil tepat di sebelah utara Sungai Cimandiri setelah menunaikan ibadah haji pada tahun 1930. Sikap KH Sayuthi dalam menyebarkan Islam melalui jalur pendidikan ini mendapatkan tanggapan kurang baik dari Pemerintah Kolonial. Menurut Schrieke, dalam teori balapan antara Islam dan Kristen dalam proses penyebaran kedua agama ini telah membawa pemikiran perang sabil dan perang salib yang terjadi di abad pertengahan ke daerah koloni baru. KH Sayuthi ditangkap dan dipenjarakan oleh pemerintah Hindia Belanda selama sembilan bulan. Teori balapan sebagai salah satu teori penyebaran Islam di Nusantara diyakini sebagai teori konflik yang dilandasi semangat dendam dua imperium Islam dan Kristen, namun bernuansa politis. Teori ini mendapatkan sanggahan dari beberapa ahli, misalkan Syed Naquib Al-Attas menyebutkan, terlalu gegabah jika penyebaran Islam dikaitkan dengan perang salib yang telah berlalu lima abad ketika Islam disebarkan oleh para sufi pengembara dari Persia melalui pendekatan kultural dan individual.

Sikap dan peran yang telah dilakukan oleh para leluhurnya tersebut diikuti oleh KH Cucu Komarudin dengan cara mengembangkan Islam melalui cara-cara yang santun dan menghargai tradisi yang telah lama berlangsung di masyarakat Cikundul. Sebagai salah seorang sesepuh Nahdlatul Ulama, KH Cucu Komarudin memahami dengan benar persoalan kaidah-kaidah kemaslahatan bagi umat. Salah satu jasa beliau di bidang kemasyarakatan yaitu terwujudnya Jalan Merdeka saat Kota Sukabumi dipimpinan oleh H. Udin Koswara. Masyarakat diajak duduk bersama, memusyawarahkan pelebaran jalan, sebab pelebaran jalan oleh pemerintah itu pada akhirnya berdampak baik juga bagi kemajuan masyarakat Cikundul.

KH Cucu Komarudin merupakan tipikal kiai atau ajengan yang memusatkan perhatiannya kepada keluarga terutama kepada istrinya, Hj. Oom Hasanah. Pemerintah memberikan penghargaan kepada beliau dan istrinya sebagai keluarga sakinah teladan. Kecintaan kepada keluarga telah dibuktikannya, beberapa tahun sebelum meninggal dunia, beliau telah menyampaikan wasiat agar pendidikan dan melayani umat dilanjutkan oleh keluarga. Dalam sebuah perbincangan dengan beliau, penulis pernah diberi nasihat, mengajar itu ibarat jimat atau pusaka sakti, jangan sampai dilepaskan meskipun kita mengahadapi kesibukan. Artinya, kepada siapa saja yang berusaha mengamalkan ilmu yang dimiliki oleh orang tersebut, KH Cucu Komarudin akan menganggapnya sebagai bagian dari keluarga yang harus diberi nasihat.

Setelah mengabdikan diri untuk kemajuan pendidikan dan kemasyarakatan di Kota Sukabumi dan kampung halamannya, KH Cucu Komarudin wafat pada tahun 2013. Rumah duka dilawat oleh tokoh-tokoh penting di Sukabumi. Tokoh-tokoh yang hadir bukan hanya dari kalangan ulama dan kiai, para tokoh dari lintas agama seperti; Kristen, Katholik, dan Buddha juga mengikuti prosesi pemakaman beliau. Ade Munhiar, ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Sukabumipernah berkata kepada penulis, KH Cucu Komarudin sangat menjunjung tinggi sikap toleran kepada siapapun. Untuk hal tersebut saat prosesi pemakamannya ada kalimat yang keluar dari beberapa tokoh agama, jika diibaratkan, KH Cucu Komarudin sangat layak mendapatkan julukan “Gus Dur”-nya Sukabumi. (Warsa Suwarsa)


Penulis guru MTs Riyadlul Jannah, anggota PGRI Kota Sukabumi

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG