: UNU Jogja adalah perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem blok pada semua program studi daftar sekarang di www.pmb.unu-jogja.ac.id atau 0822 3344 9331 :: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Dikit-dikit Penistaan Islam, Lakpesdam PBNU: Gejala Masyarakat Over Sensitif

Rabu, 10 Januari 2018 16:00 Nasional

Bagikan

Dikit-dikit Penistaan Islam, Lakpesdam PBNU: Gejala Masyarakat Over Sensitif
Tangerang Selatan, NU Online
Akhir-akhir ini, tidak sedikit orang yang dilaporkan ke polisi dengan tuduhan penghinaan atau penistaan agama Islam. Mulai dari politisi, publik figur, selebritis, hingga komika dilaporkan sekelompok umat Islam karena dianggap telah menistakan Islam. Apakah mereka memang benar-benar telah menistakan Islam? 

Menanggapi hal itu, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lakpesdam PBNU) Rumadi Ahmad menilai, umat Islam Indonesia saat ini mengalami keberagamaan yang terlalu sensitif. 

“Sensitif yang terlalu berlebihan,” kata Rumadi kepada NU Online di Tangerang Selatan, Rabu (10/1).

Menurut Rumadi, efek dari sikap sensitif yang berlebihan dalam beragama diantaranya adalah mudah tersinggung, marah, reaksioner, menyerang siapa saja yang berbeda dengan pemahamannya, dan lain sebagainya. Sehingga hal itu menyebabkan ruang sosial menjadi sangat terbatasi. 

“Tidak ada ruang dimana dulu orang bisa bercanda, ruang orang untuk berbeda pendapat itu semakin sempit,” jelasnya.

“Jadi candaan, berbeda pendapat kemudian dianggap menistakan agama dan dilaporkan polisi. Menurut ku, itu gelaja over sensitif yang gak sehat, ” lanjutnya.

Rumadi menyebutkan, sebaiknya umat Islam menyikapi segala sesuatu dengan wajar dan seimbang. Kalau seandainya orang tersebut tidak memiliki niatan untuk menistakan Islam seperti merusak simbol-simbol kesucian Islam, maka hal itu tidak perlu disikapi dengan berlebihan.  

“Tidak usah terlalu berlebihan. Yang wajar-wajar saja,” ucapnya. (Muchlishon Rochmat)