::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tumbal

Ahad, 14 Januari 2018 20:01 Cerpen

Bagikan

Tumbal
Tumbal Indonesia Baru, lukisan Sri Harjanto Sahid
"Den, apa yang Aden perhatikan?"

Yang ditanya, Raden Wirayudha kaget. Bagaimana Kiai Kabir bisa ada di tempat yang sama. Rasanya sudah lama, Wirayudha menyaksika  orang-orang yang dulu dikenalnya sekarang menjadi budak dari raja Iblis peranakan. Mereka menderita luar biasa menjalani kehidupan di alam ini. Wirayudha memang sengaja memasuki alam kematian, ia ingin membuktikan bahwa manusia-manusia bisa menjadi tumbal bagi kekuasaan.

"Kok, kiai ada di sini?", sahut Wirayudha. Sebenarnya Kiai Kabir sudah lama di situ memperhatikan Wirayudha. 

"Kiai, aku kasihan kepada mereka. Dulu mereka orang-orang baik, tapi mengapa mereka bisa diseret ke alam ini? bukankah seharusnya orang jahat yang pantas di sini?".

Lebih dari setengah hari Wirayudha memperhatikan para budak. Memang banyak orang jahat, tetapi banyak juga orang baik, bahkan para tokoh agama. Bagaimana mereka bisa terjebak dalam tumbal penguasa yang hanya mengejar kekuasaan.

"Den, tumbal itu bukan biaya, bukan modal. Seseorang dalam mengejarnya mungkin mau mengeluarkan uang, kelak dia berharap mendapatkan lebih banyak uang," Kiai Kabir mulai menerangkan apa yang ditanyakan Wirayudha. 

Para pemburu kuasa sering gelap mata. Apa pun dijadikan modal, uang, tenaga, perempuan, tanah dan sebagainya. Tetapi itu semua diharapkan mendatangkan hasil serupa kelak, jauh lebih banyak. Sepeti berbisnis. Sedangkan tumbal tidak demikian.

Tumbal adalah mereka menjadi alat barter dengan para peranakan Iblis dengan manusia gila kuasa. Siapa saja bisa jadi tumbalnya. Iblis peranakan jauh lebih suka mereka adalah ahli agama. Orang-orang biasa yang dijadikan tumbal tidak akan mendapatkan pengharagaan dari raja Iblis. Jika yang jadi tumbal adalah tokoh agama, akan besar nilai hadiahnya. Semakin banyak, maka semakin besar yang didapat.

Wirayudha menyela,"berarti, janji iblis di awal penciptaan manusia benar-benar dipenuhi?"
"Begitulah, Den. Selama dunia berjalan para peranakan iblis berloma mengejar hadiah besar", tambah Kiai Kabir.

===

Kiai Kabir benar-benar sedih. Ada saja warga Kalimaya yang dibantai oleh segerombol pasukan. Hari ini dari daerah utara, besok dari selatan, kemudian dari timur, barat. Begitu terus. Yangmenambah kesedihan Kiai Kabir adalah korban banyak dari tokoh agama, bahka  para keturunan orang-orang suci masa lampau. 

Pembantaian yang dilakukan kelompok pemberontak telah sukses menggulongkan Raja Kalimaya, Prabu Tunggul Wesi. Pemimpin pemberontak segera mengumumkan penobatan dirinya menjadi raja. Semua tokoh agama diundang, termasuk Kiai Kabir.

Mendekati singgasana raja, Kiai Kabir benar-benar terkejut. Lidahnya loyo, bibirnya tersegel rapat, tak mampu berucap bahkan sekalimat. Ia melihat Raden Wirayudha sudah duduk di singgasana raja dengan atribut raja yang wibawa.

Kiai Kabir mendekat penuh hormat. "Maaf paduka", sebelum ia tuntaskan Raja Mahareksa Jiwa, gelar sebagai raka Wirayudha, menyauti,"Kiai kaget? mengapa aku di sini? Mengapa aku  bisa jadi raja?"

Kiai Kabir terdiam dan membatin. Bagaimana Wirayudha bisa menjadi raja. Tapi kemudian dia benar-benar kaget dengan penjelasan Wirayudha."Ketika dulu aku masuk alam kematian aku justru memperoleh ilmu paling dahysat, ya ilmu berkuasa".

Wirayudha menjelaskan bukan para kiai dan keturunan orang suci yang mati yang menjadi tumbal, tetapi justru ketika mereka membantai tokoh agama lain atau orang suci lainlah ia menjadi tumbalku berkuasa. Meski mereka masih hidup di dunia, tetapi jiwa mereka sudah berada di alam kematian ciptaan iblis. Mereka dikurung selamanya. 

Kiai Kabir benar-benar bingung. Bagaimana itu semua terjadi. Wirayudha yang dulu kasihan korban tumbal malah melakukan kebengisan menumbalkan orang lain. "Bagaimana itu terjadi Den?", tanya Kiai Kabir. "Ha ha ha ... aku ingin menguasai dunia dan alam kematian sekaligus. Aku bernegosiasi sendiri dengan iblis, bukan peranakan. Aku berikan manusia-manusia suci,aku perdayai mereka untuk mendukungku. Di dunia mereka menjadi pengikut setiaku, di alam kematian mereka akan menjadi pasukanku menguasai alam kematian para peranakan iblis itu".

Kiai Kabir hampir pingsan mendengar jawaban Wirayudha, ya Prabu Mahareksa Jiwa. Edian, sangat sangat kejam. Rakus. "Siapa yang mengajari raden masuk ke alam kematian?" tanya Kiai Kabir. 

"Kakekku, sebelum mati aku diajari. Kakemku dulu dibunuh oleh Prabu Wirangga. Aku bertemu kakekku di alam kematian itu, ia memintaku untuk membalaskan dendamnya. Karena kakekku mencari Wirangga tidak ada di situ. Lalu menyarankanku menemui iblis agar aku bisa mempunyai kekuatan dan kekuasaan besar untuk mengejar dan menghukum Wirangga".

"Oh ...begitu. Tahukah anda Den, Prabu Wirangga kemarin bertemu denganku, kabarnya ia merdeka, bisa menemuiku di dunia dan menikmati kehidupan yang nyaman".

"Jancuuuuuuk...!!!".