IMG-LOGO
Fragmen

Kisah Pengembaraan Intelektual KH Sahal Mahfudh

Selasa 16 Januari 2018 18:0 WIB
Bagikan:
Kisah Pengembaraan Intelektual KH Sahal Mahfudh
KH Sahal Mahfudh memulai pendidikan formalnya di Madrasah Ibtidaiyyah (1943-1949) dan Madrasah Tsanawiyah (1950-1953) di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM). Masa kecil Kiai Sahal penuh dengan dunia keilmuan. Ia belajar ilmu-ilmu agama seperti nahwu, shorof, tafsir, hadis, balaghah, dan sebagainya, dan ilmu-ilmu umum seperti ilmu hisab, bahasa Melayu, dan bahasa Inggris. Kiai Sahal tidak puas dengan dua bahasa tersebut, ia tertarik untuk menguasai bahasa Belanda. Kemudian, ia meminta anaknya Camat Margoyoso yang notabennya mahir berbahasa Belanda untuk mengajarinya.

Setelah menamatkan pendidikannya di Madrasah Tsanawiyah di PIM, Kiai Sahal melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke beberapa pesantren yang ada di Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan sampai ke Makkah untuk berguru kepada Syekh Yasin al-Fadani.

Kiai Sahal belajar di Pesantren Bendo Pare pada tahun 1953-1957, Kediri, di bawah asuhan Kiai Muhajir. Kiai Muhajir adalah seorang yang istiqomah mengajarkan kitab karya Imam Ghazali, Ihya Ulumuddin. Di pesantren inilah Kiai Sahal berkenalan dan mendalami ilmu tasawuf.

Di Pesantren Bendo pula Kiai Sahal pernah membuat teman-temannya murka kepadanya karena ia berlangganan koran dan membacanya di pesantren. Padahal waktu itu, santri dilarang membaca buku-buku yang selain dari kitab yang disediakan di pesantren. Setelah ia ketahuan, kemudian teman-temannya melaporkannya kepada Kiai Muhajir. Kiai Sahal dipanggil dan ditanyai Kiai Muhajir mengapa ia membaca koran – sesuatu yang dilarang di pesantren tersebut.

Kiai Sahal beralasan bahwa dengan membaca koran, santri bisa mengetahui informasi terkait dengan perkembangan zaman. Kalau seandainya santri tidak melek informasi, maka mereka akan mudah diombang-ambing oleh zaman dan perkembangan. Setelah mendengar jawaban Kiai Sahal tersebut, Kiai Muhajir malah meminta Kiai Sahal untuk bersedia membacakan berita untuknya.

Saat di Pesantren Bendo, kegiatan sehari-harinya adalah belajar, mengaji, membaca, dan mengajar kitab. Sebagaimana waktu belajar di Mathali’ul Falah, Kiai Sahal juga merasa ‘kurang puas’ dengan ilmu-ilmu agama yang diajarkan di Pesantren Bendo ini. Ia merasa perlu untuk menguasai ilmu-ilmu umum yang tidak diajarkan di pesantren. Maka dari itu, ia mengikuti beberapa kursus pelajaran seperti tata negara, administrasi, bahasa Inggris, dan lainnya yang diselenggarakan di luar pondok.

Hafsah, tutor Kiai Sahal dalam ilmu-ilmu umum tersebut, memiliki latar belakang Muhammadiyah. Meski sang murid berlatar belakang NU dan sang tutor berlatar belakang Muhammadiyah, itu tidak membuat proses belajar mengajar menjadi canggung dan ewuh pakewuh. Pola pengajarannya berlangsung dengan cair.

Setelah boyongan dari Pesantren Bendo, Kiai Sahal meneruskan pertualangan intelektualnya ke Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang –sebagaimana arahan dari sang paman KH. Abdullah Salam. Saat itu, Pesantren Al-Anwar Sarang diasuh secara kolektif kolegial. Ada tiga orang yang menjadi pengasuh, yaitu Mbah Ahmad, Mbah Imam, dan Mbah Zubair (ayahanda dari KH. Maemun Zubair). 

KH Abdullah Salam memberikan target kepada Kiai Sahal untuk menguasai ilmu ushul fikih selama ia belajar di Pesantren Sarang. Kurang lebih selama 3,5 tahun (1957-1960) Kiai Sahal belajar kepada Mbah Ahmad dan Mbah Zubair serta memperdalam ilmu ushul fikih. 

Mbah Zubair memberikan empat hari dalam seminggu kepada Kiai Sahal untuk mengaji kepadanya, dan itu tidak ditentukan waktunya. Saat Mbah Zubair memanggilnya untuk mengaji kepadanya, Kiai Sahal harus siap kapan pun itu. Sehingga dengan ini, Kiai Sahal harus stand by 24 jam.

Hubungan Kiai Sahal dan Mbah Zubair begitu dekat. Bahkan ada santri yang menyebut kalau Kiai Sahal itu santri kesayangannya Mbah Zubair. Hubungan tersebut membuat santri lain cemburu dengan Kiai Sahal. Kemudian santri tersebut meminta izin kepada Kiai Sahal untuk ikut ngaji bareng di rumahnya Mbah Zubair. Setelah sekali mengaji dengan Mbah Zubair, santri tersebut tidak pernah datang lagi. Ia kapok karena Mbah Zubair menggunakan bahasa Arab penuh saat mengajar, begitu pun Kiai Sahal juga memakai bahasa Arab saat bertanya ketika ada hal-hal yang kurang jelas. Jadi tidak menggunakan bahasa Jawa sama sekali dalam proses belajar mengajar tersebut.

Sarang benar-benar menjadi ‘kawah candradimuka’ bagi Kiai Sahal. Ia tidak hanya belajar ilmu kepada Mbah Zubair, tetapi ia juga mulai mengajar kitab kepada beberapa santri. Di Sarang inilah, ia mulai menunjukkan kapasitas keilmuan yang selama ini telah ia pelajari. Semakin hari, halaqah pengajian Kiai Sahal semakin besar. Tentu itu ia lakukan setelah mendapatkan izin mengajar dari sang paman Mbah Abdullah Salam dan sang guru Mbah Zubair.

Saat di Sarang, Kiai Sahal juga membaca beberapa karya Syekh Yasin al-Fadani, seorang alim asal Padang yang menjadi Imam di Masjidil Haram. Ia juga berkorespondensi dengan Syekh Yasin dengan menulis beberapa surat untuknya. Adapun isi suratnya adalah kritik dan argumentasi Kiai Sahal apabila ia tidak sepakat dengan pendapat Syekh Yasin yang ditulis di dalam kitab-kitabnya tersebut. 

Syekh Yasin menanggapi Kiai Sahal dengan menulis beberapa surat balasan. Apabila Kiai Sahal belum puas, ia akan mengirim surat lagi kepada Syekh Yasin untuk minta penjelasan lebih lanjut. Kiai Sahal mengaku menulis dan menerima surat balasan dari Syekh Yasin hampir setiap bulan. 

Hubungan guru-murid dengan pola pengajaran surat-menyurat ini pun berjalan semakin erat. Hal ini terbukti ketika Kiai Sahal berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Saat ia sampai di pelabuhan Jeddah, Syekh Yasin sudah berada di sana untuk menyambutnya. Ia mengajak Kiai Sahal untuk makan di sebuah restoran di pinggir pelabuhan. 

Syekh Yasin menyediakan kamar luas yang terletak di bawah rumahnya untuk Kiai Sahal tinggal. Kiai Sahal bukan hanya menunaikan ibadah haji saat berada di Makkah, ia juga memanfaatkan waktunya untuk belajar dan berguru kepada Syekh Yasin al-Fadani secara langsung. 

Selepas belajar dari Makkah, Kiai Sahal diamanati untuk menjadi pengasuh Pesantren Maslakul Huda dan juga Direktur Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen. 

Lahul fatihah. Waallhu ‘Alam

A Muchlishon Rochmat,

Bagikan:
Selasa 16 Januari 2018 15:4 WIB
Openbaar Vergadering Nahdlatoel Oelama
Openbaar Vergadering Nahdlatoel Oelama
KH Ruhiat, tokoh NU asal Tasikmalaya sedang mengajar santri-santrinya
Di dalam majalah Swara Nahdlatoel Oelama, Oetoesan Nahdlatoel Oelama dan Berita Nahdlatoel Oelama akan ditemukan openbaar vergadering. Begitu dalam majalah yang diterbitkan Cabang NU Tasikmalaya, Al-Mawaidz. 

Ini adalah cara-cara NU untuk eksistensi pada awal pertumbuhan. Hampir setiap Cabang NU melakukan hal ini. tidak hanya di Jawa, tapi mulai dari Ampenan hingga di Borneo (Kalimantan). 

Openbaar Vergadering adalah pertemuan terbuka. Sebelum paertemuan, biasanya dipublikasikan di majalah atau koran sebagai undangan terbuka tanpa batasan kalangan yang hadir. Istilah tersebut digunakan majalah NU dari 1930-an hingga 1940-an.

Sebagaimana acara-acara NU hari ini, Openbaar Vergadering dimulai dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an.  

Di dalam Openbaar Vergadering ini, seorang voorzitter (ketua) atau bestuur (pengurus) NU menjelaskan maksud dan tujuan serta cita-cita NU berdiri. Kemudian satu per satu kiai NU menjelaskan ajaran-ajaran agama Islam.  

Di dalam pertemuan itu pula NU menyangkal tuduhan-tuduhan pihak luar yang menejelek-jelekkan NU. Di Tasikmalaya misalnya Openbaar Vergadering dijadikan sarana menjelaskan kepada publik atas tuduhan NU menyebarkan agama merah.

Majalah mingguan NU Tasikmalaya Al-Mawaidz No 20 edisi 26 Desember 1933 tahun ke-1 melaporkan bahwa di sekitar daerah Citanduy ada membicarakan NU di belakang, tak berani berhadapan langsung dengan pengurus NU. Mereka menyebut NU menyebarkan agama beureum (agama merah).

Padahal ajengan-ajengan dan pengurus NU jika menjelaskan agama selalu bersumber dari Al-Qur’an dengan menyebut surat berikut ayatnya. Jika mengutip sebuah kitab, disebut pengarangnya, jilidnya, halamannya, nomornya, juga titimangsanya. Hal ini memang dipertegas kepada para ajengan NU supaya apa yang mereka katakan itu tidak dianggap mengada-ada. Dengan demikian bisa terukur dan diketahui oleh semua orang. Jika ada kekliruan juga bisa dikoreksi secara terbuka. 

Pada Openbaar Vergadering, biasanya NU mengundang wedana, camat, bupati, mantri polisi untuk hadir. Tak hanya itu, mereka juga mengundang pers. Tak heran, makanya beberapa kegiatan NU ada di surat kabar Sipatahoenan dan Shin Po dan koran-koran lain.

Dalam laporan Berita Nahdlatoel Oelama maupun Al-Mawaidz, Openbaar Vergadering NU sering dihadiri ribuan umat Islam. di Cirebon sampai dihadiri 6-7 ribu orang (lihat Berita Nahdlatoel Oelama No 24 tahun ke-6 edisi 15 Oktober 1937). 

Di Indramayu, karena dihadiri sekitar 6-7 ribu orang, Openbaar Vergadering NU hampir dibubarkan polisi. Untung Asisten Wedana Cirebon membantu meyakinkan polisi bahwa kegiatan itu aman terkendali dan jauh dari politik.

Sebagaimana diketahui, waktu itu, rapat-rapat terbuka seperti itu sebenarnya susah mendapatkan izin. Namun NU selalu meyakinkan bahwa organisasinya hanya membicarakan masalah keagaman, zonder politik. (Abdullah Alawi)

Senin 15 Januari 2018 16:30 WIB
Kisah Awal Diangkatnya Habib Luthfi Memimpin JATMAN
Kisah Awal Diangkatnya Habib Luthfi Memimpin JATMAN
Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan.
Pendiri JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah) ada 5 orang kiai. Dua di antaranya adalah KH Masykur dan KH Idham Chalid. Tiga lainnya adalah KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, dan KH Muslih Mranggen.

Al-Quthb Syekh Muhammad Amin Kutbi berpesan kepada Muassis dan Mudhir ‘Aam JATMAN KH Idham Chalid, “Idham, thariqah di Indonesia akan maju dan berkembang bila nanti dipimpin oleh seorang Habib yang bernama Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya.”

Maka sepulangnya dari Mekkah, KH Idham bertemu dengan Habib Luthfi bin Yahya dan bersalaman dengan durasi yang lama tanpa berkata-kata, tapi Habib Luthfi bersuara berulang-ulang, “Insyaallah, Pak Kiai, saya laksanakan.”

Hal ini membuat hadirin yang melihat pemandangan itu terheran-heran. Selidik punya selidik ternyata keduanya berkomunikasi batin. Kiai Idham bilang, “Habib, nanti kamu yang melanjutkan thariqah.”

Habib Luthfi bin Yahya pun menjawab, “Insyaallah, Pak Kiai, saya laksanakan.”

Saat Muktamar Thariqah, KH Idham berucap kepada ulama yang hadir bahwa dirinya dalam JATMAN diibaratkan seperti orang yang membangun rumah sakit, namun dokter spesialisnya adalah Habib Luthfi bin Yahya.

Tuan Guru Sekumpul Syekh KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani berucap kepada KH Syafriansyah, “KH Idham Chalid itu penegak kita. Beliau lebih dahulu menjadi wali quthub. Kalau menyandingkan fotoku dengan beliau, letakkan posisi beliau di kananku.” (Nur Hidayatullah Yuzarsif)

Dicuplik dari kolom Munawir Aziz, "Habib Luthfi, Jatman, dan Narasi Kebangsaan" di Geotimes.
Senin 15 Januari 2018 1:4 WIB
Jejak Kiai Saifudin Zuhri dan Gus Dur pada Stadion Gelora Bung Karno
Jejak Kiai Saifudin Zuhri dan Gus Dur pada Stadion Gelora Bung Karno
Wajah Baru Stadion Gelora Bung Karno (Foto: Youtube/World Cup Football)
Tahun ini, Indonesia kembali menjadi tuan rumah event olahraga terbesar di Asia, Asian Games. Untuk menyambut gelaran ke-18 perlombaan berbagai cabang olahraga antarnegara tersebut, Pemerintah Indonesia kembali merenovasi Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Pada Ahad, 14 Januari 2018, Presiden Joko Widodo meresmikan stadion yang selesai dibangun pertama kali pada 1962 itu.

Di balik kemegahan bangunan Gelora Bung Karno tersebut, ternyata tersimpan kontribusi dua ulama cum politisi yang berasal dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU), yaitu KH Saifuddin Zuhri dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Keduanya yang memberi nama sekaligus mempertahankan kompleks olahraga terbesar di Indonesia itu.

Saat akan diresmikan oleh Presiden Sukarno pada 1962 kawasan yang berdiri di atas lahan seluas 270 hektare itu belum memiliki nama. Pada suatu pagi di serambi belakang Istana Merdeka, Bung Karno bersama beberapa menteri sedang membicarakan hal tersebut. Hadir di antaranya Menteri Dalam Negeri Dr Soemarno, Menteri Olahraga Maladi, dan beberapa pejabat lainnya, termasuk Menteri Agama kala itu KH Saifuddin Zuhri.

Dalam perbincangan tersebut, hampir disepakati sebuah nama untuk kompleks tersebut, yaitu Pusat Olah Raga Bung Karno. Tetapi, sebagaimana tertulis dalam autobiografi KH Saifuddin Zuhri: Berangkat dari Pesantren (LKiS: 2013), usulan tersebut disanggah oleh Kiai Saifuddin, ayah Menteri Agama saat ini Lukman Hakim Saifuddin.

"Nama itu tidak cocok dengan sifat dan tujuan olahraga," komentar Kiai Saifuddin. Semua mata tertuju kepadanya seakan tampak tak senang dengan sanggahannya tersebut.

"Mengapa?" selidik Bung Karno.

"Kata 'pusat' pada kalimat 'Pusat Olah Raga' itu kedengarannya kok statis, tidak dinamis seperti tujuan kita menggerakkan olahraga," jawab Kiai Saifuddin.

"Usulkan nama gantinya kalau begitu!" sergah Bung Karno.

"Nama 'Gelanggang Olah Raga' lebih cocok dan lebih dinamis," usulnya.

"Nama Gelanggang Olah Raga Bung Karno kalau disingkat menjadi Gelora Bung Karno! Kan mencerminkan dinamika sesuai dengan tujuan olahraga," jelasnya lebih lanjut.

"Waah, itu nama yang hebat. Saya setuju!" ungkap Bung Karno.

Saat itu pula, Bung Karno memerintahkan Menpora Maladi untuk mengganti nama tempat tersebut menjadi Gelora Bung Karno. Pada kesempatan itu pula, Kiai Saifuddin mengusulkan pemerintah untuk membangun masjid di areal GBK. Usul itupun diterima oleh Bung Karno.

Tetapi, seiring dinamika politik yang mendera Indonesia, nama Gelora Bung Karno terusik. Pergantian rezim dari Orde Lama ke Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Suharto melakukan upaya massif untuk menghilangkan peran Presiden Sukarno. Proses desukarnoisasi itu pun menimpa pada penamaan Gelora Bung Karno.

Pada 1989, Presiden Suharto mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 4 yang berisi tentang pergantian nama Gelora Bung Karno menjadi Stadion Utama Senayan. Yayasan pengelolanya pun diubah dari Yayasan Gelora Bung Karno menjadi Yayasan Gelanggang Olahraga.

Tentu saja, kebijakan tersebut menghilangkan spirit sekaligus nilai historis dari kompleks olahraga tersebut. Tak banyak pihak yang berani menentang meski pada dasarnya banyak yang tak sepakat. Sikap represif pemerintah terhadap perbedaan pendapat memaksa pelbagai pihak yang keberatan untuk tutup mulut. Tak berani memprotesnya.

Suara-suara untuk mengembalikan nama Gelora Bung Karno kembali mencuat lebih dari satu dekade kemudian. Setelah Orde Baru lengser dan kepemimpinan Republik Indonesia berada di tangan seorang ulama mantan Ketua PBNU tiga periode, Gus Dur, usulan itu muncul.

Usulan pergantian nama itu, pertama kali muncul saat digelar rapat dengar pendapat antara Komisi I DPR dan Mensesneg kala itu, yang juga menjadi Ketua Badan Pengelola Gelora Senayan (BPGS) pada 24 Oktober 2000. Usulan tersebut, kemudian direspon Presiden Abdurrahman Wahid pada saat menghadiri HUT PDI Perjuangan ke-28 di Stadion Utama Senayan, pada 14 Januari 2001.

Apa yang dijanjikan oleh Gus Dur tersebut lantas ditindaklanjuti beberapa waktu kemudian. Ia mengeluarkan Keputusan Presiden No. 7 tahun 2001 tentang pengalihan nama dari Stadion Utama Senayan kembali ke nama awal, Gelora Bung Karno.

Demikianlah para ulama NU memberi nama kompleks olahraga tersebut dengan begitu hebatnya dan dipertahankan pula oleh ulama NU selanjutnya dari upaya-upaya vandalisme sejarah. Jayalah olahraga Indonesia. (Ayung Notonegoro)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG