IMG-LOGO
Pustaka

Jalan untuk Penghafal Al-Qur’an

Kamis 18 Januari 2018 6:0 WIB
Bagikan:
Jalan untuk Penghafal Al-Qur’an
Tidak ada kitab suci suatu agama yang dihafal jutaan orang kecuali Al-Qur’an. Sejak diturunkan -15 abad lalu- hingga hari ini, penghafal Al-Qur’an tidak surut namun malah terus bertambah. Sehingga andaipun Al-Qur’an yang ada di dunia ini hilang atau dihilangkan, maka otentisitas Al-Qur’an akan terjamin karena itu sudah tertanam di dalam memori setiap penghafal Al-Qur’an.

Ada yang mengatakan kalau menghafal Al-Qur’an itu gampang-gampang susah. Gampang kalau hanya menghafalnya saja, susahnya adalah menjaganya. Sebetulnya, menghafal Al-Qur’an juga tidak gampang-gampang amat –apalagi mereka yang tidak memiliki kekuatan menyimpang ingatan yang kuat, setidaknya butuh waktu bertahun-tahun untuk menghatamkan 30 juz Al-Qur’an. Pasti ada banyak rintangan selama menghafalkan kitab suci tersebut, mulai dari malas, tidak konsisten, hingga ragu dengan niatnya menghafal Al-Qur’an di ‘tengah jalan.’

Ditambah, sulitnya menjaga Al-Qur’an. Butuh konsistensi dan komitmen yang kuat untuk menjaga Al-Qur’an. Tidak semua orang bisa melakukannya. Hanya orang-orang yang diberikan anugerah saja yang mampu menjaga Al-Qur’an hingga akhir hayatnya dan mengamalkannya. Orang yang tidak memiliki komitmen kuat pasti akan ciut duluan. Mereka yang hanya sebatas ikut-ikutan atau mengikuti tren menghafal Al-Qur’an tentu akan terpental dengan sendirinya. 

Banyak yang hafal Al-Qur’an, namun apakah semuanya memahami isi, mempraktikkan, dan mengamalkannya? Mereka yang hanya ‘mempraktikkan’ Al-Qur’an di bibir saja juga tidak sedikit. Sementara tindak-tanduknya masih jauh dari Al-Qur’an, bahkan bertentangan dengan Al-Qur’an. Ini yang seharusnya menjadi ironi.

Di dalam bukunya ini, Ulin Nuha Mahfudhon berupaya untuk memaparkan liku-liku perjuangan menghafal Al-Qur’an. Pun dijelaskan pula upaya, langkah, atau tips menjaga Al-Qur’an agar terus ada di hati. Pemaparan yang ada tidak hanya didasarkan kepada pengalaman penulis semata, tapi ia juga mengutip dari beberapa referensi yang terkait dengannya sebagai penguat daripada apa yang ia alami.

Buku setebal 197 halaman ini berisikan lima bab. Bab pertama membahas tentang proses penjagaan Al-Qur’an hingga hari kiamat. Pada bagian ini, penulis banyak mengutip sumber-sumber yang ada, baik dari Al-Qur’an itu sendiri atau pun hadist. Bab kedua mendiskusikan tentang menghafal Al-Qur’an sejak usia dini. Pada bagian ini, penulis banyak menceritakan pengalaman menghafal Al-Qur’an sewaktu ia masih kecil. Di bagian ini, ia juga mengulas bagaimana pentingnya peran keluarga dan lingkungan bagi seorang anak dalam menghafal Al-Qur’an. 

“Selain melarang tidur setelah salat Subuh Ayah juga mewajibkan kami ber-talaqqi (mengaji) Al-Qur’an kepada beliau setelah salat Subuh.” (hal. 32)

Bab ketiga mengkaji tentang cara dan strategi menghafal Al-Qur-an. Di dalam menghafal Al-Qur’an, penulis mengingatkan bahwa yang utama dan pertama adalah niat. Mereka yang hendak menghafalkan Al-Qur’an harus memiliki niat yang lurus dan tulus karena Allah. Bukan untuk pamer, apalagi untuk menghasilkan uang. Di samping itu, penulis juga menekankan pentingnya belajar agama, terutama menghafal Al-Qur’an, kepada seorang guru sehingga sanad keilmuannya tersambung kepada Nabi Muhammad. Jangan sampai menghafal Al-Qur’an tanpa bimbingan seorang guru. 

Bab keempat mengupas tentang suka duka dalam proses menghafal Al-Qur’an. Menghafal Al-Qur’an tidak semudah yang dibayangkan. Ada masanya -di tengah-tengah proses menghafal Al-Qur’an- dimana orang merasa bosan, tidak sabar ingin cepat selesai, putus asa, konsistensinya menurun, dan lainnya. Suka duka tersebut dijelaskan secara cukup komprehensif dalam bagian ini.

Bab terakhir menelaah tentang keutamaan bagi penghafal Al-Qur’an. Pada bagian ini, penulis mengingatkan agar mengamalkan apa yang ada dalam Al-Qur’an, setelah dibaca dan dipahami isinya. Membaca Al-Qur’an seharusnya bukan dimaksudkan untuk mencari pembenaran atas tingkah laku kita, namun membaca Al-Qur’an semestinya untuk memperbaiki perbuatan kita. 

Buku ini bisa menjadi semacam 'jalan' bagi orang-orang yang hendak menghafal Al-Qur'an. Mereka tidak akan bimbang lagi mau memulai darimana atau bingung  ketika 'persoalan-persoalan' dalam proses menghafal Al-Qur'an menderanya, karena jawabannya tersaji dalam buku ini. Selamat membaca.  

Identitas buku:

Judul : Jalan Penghafal Al-Qur’an
Penulis : Ulin Nuha Mahfudhon
ISBN : 717101894
Tebal : 197 halaman
Terbit : November 2017
Peresensi : A Muchlishon Rochmat
Bagikan:
Senin 15 Januari 2018 15:1 WIB
‘Kitab Suci’ Gerakan Nasional Revolusi Mental
‘Kitab Suci’ Gerakan Nasional Revolusi Mental
Tanggal 10 Januari, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus lewat akun twitter pribadinya @gusmusgusmu mencuit: “Revolusi Mental, menurutku, mesti dimulai dari 'mental para pemimpin.” Twit ini diretwit 4480 followers-nya, dan disukai 6729 nettien di twitter land. Gus Mus seperti ingin ‘mengingatkan kembali’ soal pentingnya Revolusi Mental ini. Sampai sejauh mana diejawantahkan oleh Bangsa Indonesia, terutama para pejabat publik di republik ini. 

Istilah “revolusi mental”seolah bangkit kembali setelah sekian lama terkubur,“mati suri”, dan tidak pernah diperdengarkan kembali. Istilah “revolusi mental” kembali bergema dan mendapat momentum barunya, yaitu saat dimulainya pemerintahan baru Joko Widodo pada awal tahun 2014.

Dalam sebuah pidatonya, ia kembali menggelorakan semangat revolusi mental sebagai bagian agenda penting pemerintahannya. Semua seolah tergagap,berusaha ingat kembali dalam kilas sejarah,bahwa dua kata sakti ini telah lama ada dan berkali-kali tanpa lelah dikumandangkan oleh bapak bangsa “Sukarno,” sang penyambung lidah rakyat Indonesia.
Berbagai ikhtiar dilakukan oleh anak bangsa saat ini untuk membahas dan memahami kembali arti kontekstual dan esensi “revolusi mental. Termasuk menjawab pertanyaan mengapa, bagaimana  dan relevansi “revolusi mental” dan konteks kekiniannya. Perubahan mentalitas yang pernah dikumandangkan Bung Karno penting dimunculkan, terus digali termasuk dihubungkan relevansinya dengan konteks kekinian dalam segala matra, baik politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. 

Sebagai contoh, ada satu pesan Bung Karno yang ‘mak jleb’ dan sangat kontekstual untuk para pihak/ partai yang akan berkompetisi di Pemilukada di tahun politik ini, yakni di bab 2, Total Untuk Negeri, Bukan Partai.

"Demokrasi adalah alat. Alat untuk mencapai masyarakat adil-makmur yang sempurna. Pemilu adalah alat yang menyempurnakan demokrasi itu. Pemilu adalah dus sekadar alat untuk menyempurnakan alat. Kalau hantu kebencian dan hantu panas-panasan lahir dan merajalela karena pemilihan umum itu, kalau keutuhan bangsa berantakan karena Pemilu itu, kalau tenaga bangsa remuk redam karena Pemilu itu, maka benarlah apa yang kukatakan tempo hari, bahwa di sini “alat lebih jahat daripada penyakit yang hendak disembuhkannya.” 

Masih ada di antara anak bangsa hingga kini belum memahami, bahkan salah mengartikan revolusi mental yang dikumandangkan Bung Karno. Beberapa pandangan bahkan menyebut revolusi mental atau “Gerakan Hidup Baru” sebagai jiplakan dari New Life Movement yang berasal dari negeri luar. Revolusi mental dituduh sebagai komunisme, seperti hasil pemikiran Karl Marx dalam karyanya Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte tahun 1869. 

Tuduhan-tuduhan tersebut jauh-jauh hari telah dibantah keras oleh Sukarno. Dalam pidatonya tanggal 17 Agustus 1957, Bung Karno menyerang balik pandangan tersebut. “Alangkah piciknya ucapan demikian itu. Alangkah piciknya pula ucapan bahwa Gerakan Hidup Baru itu adalah inspirasi dari RRT,” kata Bung Karno. 

Revolusi mental dalam konteks historis jelas tidak dapat dipisahkan dengan sang konseptornya, Bung Karno. Ia pada tahun 1950-an ia telah melihat berbagai bibit penyakit mentalitas yang mengerogoti mentalitiet anak bangsa, baik di masyarakat dan pemerintahan yang dianggapnya kontra revolusi. Untuk itu, ia kemudian memunculkan sebuah gagasan perubahan mentalitas, sebuah gaya hidup baruuntuk mengatasi kemandegan dari sebuah revolusi yang menurutnya belum selesai. 

Bung Karno memimpikan bangsanya bersemangat elang perkasa, ia mencita-citakan rakyatnya menjadi manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, berjiwa api yang menyala-nyala. Sang Putera Fajar seolah-olah juga tidak pernah mengenal lelah untuk membangunkan, menyadarkan kembali, menggembleng manusia Indonesia agar bangun, tegak berdiri, tegap melangkah mewujudkan Indonesia jaya, yang salah satunya dengan menggelorakan suatu perubahan besar mentalitas, sebuah Gerakan Hidup Baru yang disebutnya sebagai “Revolusi Mental.”
 
Revolusi mental pada hakikatnya adalah sebuah ajakan perubahan, perbaikan menuju kebaikan dan meninggalkan segala penyakit mentalitas yang mengerogoti mentalitiet anak bangsa, baik di masyarakat maupun kalangan  pemerintahan. Revolusi mental menurut Bung Karno menghendaki manusia Indonesia untuk meninggalkan kemalasan, korupsi, individualisme, ego-sentrisme, ketamakan, keliaran, kekoboian, kemesuman, keinlanderan dan menjadi manusia Indonesia yang seutuhnya, menjadi Manusia Pembina.
 
Jauh sebelum menggelorakan revolusi mental, Bung Karno telah melakukan revolusi mental untuk dirinya sendiri. Ia telah menggembleng jiwa dan raganya terlebih dahulu untuk menjadi manusia Indonesia yang seutuhnya, pemimpin bagi rakyatnya, nasionalis unggul, dan penyambung lidah rakyat Indonesia. Kemudian, ia berupaya keras membangun dan menggembleng mentalitas bangsanya agar menjadi manusia paripurna, sebaliknya tidak menjadi bangsa kuli atau menjadi kuli bangsa-bangsa lain “een natie van koelies, en een koelie onder de naties.”
 
Revolusi mental harus dilakukan. Bahkan, Sukarno telah meramalkan munculnya masalah maha besar jika rakyat Indonesia tidak segera menyelenggarakannya. Bung Karno menyebut dan bahkan mewanti-wanti, bahwa bangsa Indonesia dapat menjadi“bangsa kuli” diantara bangsa-bangsa dunia lain, menjadi bangsa yang kembali mengalami eksploitasi, bahkan saling menindas antar sesame anak bangsanya jika tidak menyegerakan perubahan mentalitas yang disebutnya “revolusi mental.”

Dalam pidatonya tahun 1957, Bung Karno secara jelas dan gamblang  telah mewanti-wanti bangsanya agar segera bergegas melakukan revolusi mental. Dan diberbagai pidatonya, Bung Karno juga telah mengingatkan agar bangsa Indonesia jangan sudi menjadi bangsa kuli atau menjadi kuli bangsa-bangsa lain “a nation of coolies and a collies amongst nations.”

Bung Karno juga berkata, “Dan sejarah akan menulis: Di sana, antara benua Asia dan Benua Australia, antara benua Lautan Teduh dan Lautan Indonesia, adalah hidup satu bangsa, yang mula-mula mencoba untuk hidup kembali sebagai Bangsa, akhirnya kembali menjadi satu kuli di antara bangsa-bangsa, - kembali menjadi “een natie van koelies, en een koelie onder de naties.” 

Bung Karno menyebut revolusi mental sebagai prasyarat utama dalam membentuk national building. Pembentukan national building gagal jika tanpa revolusi mental, atau sebaliknya. Keduanya saling melengkapi. “National building membutuhkan bantuan Revolusi Mental! Karena itu, adakanlah Revolusi Mental! Bangkitlah!" kata Sukarno. 

Karakter bangsa harus dipupuk agar rakyat tidak bermalas-malasan, meninggalkan egoisme, membuang rasa tamak, menghindari kemewah-mewahan, membuang jauh-jauh sifat ke inlanderan. Dengan membuang jauh-jauh karakter negatif tersebut, Sukarno yakin rakyat dapat menjadi manusia Indonesia yang seutuhnya. 

Revolusi Mental tentu saja tidak akan selesai dalam hitungan jam, hari, bulan atau tahun. Namun sebagai proses berkelanjutan, dibutuhkan sebuah komitmen bersama dan harus dilakukan serentak oleh seluruh anak bangsa, terutama bagi para pemimpin-pemimpinnya. Revolusi mental harus didorong oleh bangsa Indonesia sendiri dan bukan karena dorongan pihak luar. 

Mengutip kalimat Sukarno, “Membaharui mentalitet satu bangsa bukan seperti orang ganti baju.” Gerakan hidup baru dalam revolusi mental tidak hanya suatu kebiasaan yang sekedar hanya tidak meludah di sembarang tempat, tidak membuang puntung rokok di sembarang tempat, namun gerakan yang menggembleng manusia Indonesia yang baru yang berhati nurani, bermental baja, bersemangat dan berjiwa api yang menyala-nyala. 

Buku ini membedah “revolusi mental” dalam bahasa sederhana, memotret perkataan, ucapan, tindakan, karakter, dan kehidupan keseharian Bung Karno, sang Putra Fajar. Tentu saja, buku ini tidak dimaksudkan untuk mengkultuskan, mendewa-dewakan dan menggambarkan Sukarno seolah-olah sebagai manusia paling sempurna. 

Karena Bung Karno adalah manusia biasa yang multidimensi, tidak luput dari salah dan khilaf. Hal inipun secara terang benderang ia sebutkan. “Saya adalah manusia biasa. Saya dus tidak sempurna. Sebagai manusia biasa saya tidak luput dari kekurangan dan kesalahan,” kata Sukarno. Dan tidak ada salahnya jika kita dapat dapat mengali nilai-nilai luhur masa lalu dari ajaran “revolusi mental”. Nilai tersebut dapat menjadi pembelajaran saat ini dan bagi generasi mendatang. 

Seperti yang juga pernah diharapkan oleh Sukarno, “Harapan saya ialah, hendaknya riwayat hidup dan perjuangan saya itu dapat diambil sebanyak mungkin pelajaran serta dapat menjadi suri tauladan segi-segi positifnya, dan buanglah segi-segi negatifnya, karena saya adalah manusia biasa.”

Namun, ia berharap dari riwayat hidup dan perjuangannya  dapat diambil sebanyak mungkin pelajaran yang dapat menjadi suri tauladan, namun sebalinya membuang segi yang negatifnya. Buku ini adalah ikhtiar untuk memahami arti “revolusi mental” dalam konteks sisi-sisi kemanusiaan “humanisme” Sukarno dan sosial-historisnya.

Identitas buku:

Judul: Bung Karno dan Revolusi Mental
Penulis: Sigit Aris Prasetyo
Format: 14 X 21 cm
ISBN: 978-602-7926-37-0
Tebal: 378 halaman
Terbit: November 2017
Peresensi: Faried Wijdan, buruh di sebuah pabrik aksara.
Kamis 11 Januari 2018 5:3 WIB
Mendakwahkan Islam ke Dunia Global
Mendakwahkan Islam ke Dunia Global
“Saya sungguh bersyukur kepada Tuhan karena sempat menemukan Islam sebelum sempat bertemu dengan orang-orang Islam.” Syekh Hamzah Yusuf, seorang Imam Amerika keturunan Irlandia dan juga Presiden Zaituna Institute.

Islam adalah agama yang damai dan mengajarkan kedamaian, toleran dan mengajarkan toleransi, dan sesuai dengan perkembangan zaman. Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah sebagai rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil ‘alamin), bukan hanya untuk manusia saja.   

Disebutkan juga bahwa Islam adalah agama yang di atas dan tidak ada agama yang ‘di atas’ Islam. Di Al-Qur’an disebutkan bahwa umat Islam adalah sebaik-baiknya umat (khoiru ummah) diantara umat manusia lainnya. Islam juga sangat menghargai peran seorang wanita dan menjunjung tinggi kehormatannya. Dalam Islam, yang paling mulia di hadapan Allah adalah orang yang bertakwa kepada-Nya, bukan didasarkan pada status sosial atau ras dan etniknya. Singkatnya, Islam adalah agama yang komplit, yang semuanya diatur di dalamnya.

Tapi, apakah nilai-nilai Islam tersebut sesuai dengan realita yang ada di lapangan? Apakah hal-hal tersebut di atas berbanding lurus dengan situasi dan kondisi yang terjadi di komunitas atau negara-negara mayoritas umat Islam?

Lebih tragis lagi, banyak masyarakat Barat yang menganggap Islam sebagai sumber dari segala permasalahan, terorisme, kemiskinan, keterbelakangan, kesemrawutan, dan stigma negatif lainnya. Bahkan, ada yang menyangka kalau Islam itu adalah ancaman dari peradaban Barat.

Lalu, bagaimana seharusnya umat Islam merespon hal itu?

Melalui bukunya ini, Imam Shamsi Ali mengutarakan pengalaman-pengalamannya saat mendakwahkan Islam di negeri Barat, Amerika Serikat. Di sini, dia juga merespon tuduhan-tuduhan negatif tentang Islam dengan jawaban-jawaban yang cerdas dan mengena. Sehingga tidak sedikit orang ‘yang menyerangnya’ tersebut kemudian masuk Islam, tentunya tidak langsung namun membutuhkan waktu.

Buku yang terdiri dari kumpulan artikel pendek ini lebih banyak membahas bagaimana strategi dan acara mendakwahkan Islam ke dunia global seperti Amerika Serikat. Dia memaparkan banyak trik dan tips bagaimana seharusnya dakwah itu di jalankan. Pertama kali sekali ia menekankan bahwa dakwah itu mengajak. Dakwah jangan dipahami sebagai upaya untuk mengislamkan orang. Bukan kah Nabi Muhammad juga hanya sebatas menyampaikan ajaran Islam. Adapun orang tersebut masuk Islam atau tidak, itu adalah hak prerogatif Allah.

Agar dakwah Islam itu diterima dimanapun berada, Imam Shamsi Ali membagikan beberapa resep. Diantaranya adalah dakwah harus menggunakan bahasa kaum (bi lisaani qaumih). Maksudnya, di dalam dakwah yang terpenting adalah bagaimana menggunakan metode dakwah yang kekinian dan inovatif, di samping konten dakwah yang bernas.

Terkait hal ini, ia mencontohkan salah seorang bule yang hendak masuk Islam. Namanya Jennifer, seorang remaja keturunan Kolombia. Ia tertarik dan cinta dengan Islam namun tak kunjung memeluk Islam karena ketakutan. Iya, Jennifer takut karena dia tidak bisa merubah gaya pakaiannya seperti perempuan Arab. Awalnya, ia memahami bahwa orang Islam harus berpakaian seperti orang Arab, menggunakan jubah bagi laki-laki dan gamis bagi perempuan. Setelah mendapatkan penjelasan dari Imam Shamsi Ali bahwa kriteria pakaian seorang Muslim itu adalah menutup aurat, sedangkan model, gaya, warna, dan lainnya itu bisa disesuaikan dengan budaya setempat, maka kemudian Jennifer mantap memeluk Islam. 

Dakwah juga harus mengedepankan akhlak yang mulia (akhlaqul karimah). Dakwah tidak melulu dengan ucapan, bisa dengan menunjukkan akhlak yang mulia dan biasanya ini lebih efektif. Seandainya Islam diserang, maka umat Islam harus tetap mengedepankan akhlak. Jangan malah membalasnya dengan hal-hal yang jauh dari nilai-nilai Islam.  

Selanjutnya, membangun narasi agama yang benar. Para pendakwah harus membuat narasi bahwa agama itu sumber perdamaian, harmoni, keadilan, kemakmuran, persaudaraan, peradaban, dan kerja sama. Hal ini untuk meng-counter narasi agama yang ada saat ini, yaitu agama dianggap sebagai sumber kekerasan, terorisme, aksi pengrusakan peradaban, dan lainnya. 

Karena hanya kumpulan artikel-artikel pendek, maka pembahasan di dalam buku ini kurang begitu komprehensif dan banyak repetisi. Terlepas dari itu semua, buku ini cocok dibaca bagi setiap Muslim agar mereka tahu bagaimana seharusnya berdakwah. Bukankah Nabi Muhammad mengatakan; sampaikan lah dariku walau hanya satu ayat (ballighuu ‘anni walau ayat)?

Identitas buku
Judul : Telling Islam to the World
Penulis : Imam Shamsi Ali
Penerbit         : Quanta
Cetakan         : 2017 
ISBN : 978-602-04-3164-2
Tebal : 186 halaman
Peresensi : A Muchlishon Rochmat
Selasa 9 Januari 2018 11:1 WIB
Pesantren, dari Wangi Parfum Kiai hingga Ngaji
Pesantren, dari Wangi Parfum Kiai hingga Ngaji
Dengan gagasan kreatif para penulis, telah lahir banyak literatur bertemakan pesantren bertebaran di tanah air. Terlepas dari beragam label negatif yang seringkali disandangkan, keberadaan pesantren justru telah memberi energi positif bagi dunia literasi negeri ini yang cenderung lesu dan tertinggal.

Bermacam genre buku telah menghiasi ruang baca, tinggal kita pilih mana yang disukai. Dari buku hasil penelitian semisal Pesantren Studies hingga cerita fiksi macam Negeri Lima Menara, semua tersedia.

Tapi bagi anda yang ‘alergi’ dengan buku-buku tebal, atau malas bertele-tele membaca karya fiksi, buku ini mungkin dapat menjadi alternatif. Ditulis oleh alumni pesantren, buku berjudul Lost in Pesantren ini berisi kisah-kisah inspiratif yang mengurai segala dinamika kehidupan di penjara suci.

Dengan bahasa yang renyah dan sederhana, pembaca dapat dengan rileks memilih topik mana yang ingin dibaca. Meski membahas tentang pesantren, buku ini layak dinikmati semua kalangan.

Saeful Bahri membagi buah penanya ini ke dalam tiga bagian. Bagian pertama berisikan fragmen kehidupan pesantren dan laku hidup santri. Dari bab ini kita bisa tahu bahwa meski terjal, perjalanan menjadi santri tak melulu soal duka cita. Baca saja artikel berjudul Elegi Santri di Terungku Suci, anda dapat melihat betapa kreatifnya mereka mengisi waktu.

Selain itu tersaji pula kisah pribadi sang penulis tentang hari pertama di pesantren, perjumpaan dengan sang kiai yang terkenal dengan aroma parfumnya, bahkan sampai detik terakhir perpisahan semua ada. Sangat cocok untuk memancing kenangan masa lalu bagi para alumni.

Pada bagian selanjutnya, Saeful Bahri mengulas dengan detail beberapa nilai kehidupan yang tersemai dan tumbuh subur di rahim pesantren. Tak hanya itu, ia juga mengungkap fakta bahwa nilai kearifan tersebut amatlah selaras dengan teori penemuan para intelektual barat.

Soal  kecerdasan adversitas misalnya, buah pemikiran dari Paul G. Stoltz ini menyatakan bahwa kecerdasan seseorang juga bisa dilihat sewaktu menghadapi kesulitan dalam hidup. Lebih lanjut, Paul membagi manusia ke dalam tiga tipe ketika punya masalah, quitter (penyerah), camper (pekemah), climber (pemanjat).

Pesantren sebagai salah satu model pendidikan yang ada di Indonesia memiliki karakter yang dapat menunjang proses pembentukan kecerdasan di atas. Kita tahu, sistem kehifupan pesantren mengajarkan kemandirian, kedisiplinan, daya tahan, dan tempaan untuk hidup siap susah bukan siap senang.

Di pesantren, anak-anak usia belasan tahun tinggal tanpa ada pengawasan dan bantuan orang tua (hal. 95). Kondisi inilah yang kemudian membuat kecerdasan adversiatas santri terasah hingga membentuk pribadi climber (pemanjat) sebagaimana dalam teori Stoltz di atas.

Bagian terakhir sungguh di luar dugaan. Alih-alih bicara soal kepesantrenan, alur berubah drastis menjadi cerita penuh hikmah seperti di buku dongeng. Sebagian diambil dari kisah-kisah tempo dulu, sedangkan sisanya adalah catatan perjalanan sang penulis ketika mengikuti pelatihan di benua Afrika. Tapi mengingat muatannya yang positif dan memotivasi, kekecewaan akibat tragedi ganti alur ini bisa sedikit terobati. 

Dan penting diketahui bahwa sebagai intermezzo, masing-masing artikel dalam buku terbitan Republika ini dipisah dengan kata-kata bijak. Pembaca bisa mengambilnya sebagai motivasi, atau sekadar pamer status di dunia maya.

Seperti yang dikatakan sejak awal, buku ini amat sederhana. Andai dikembangkan sedikit saja, saya yakin hasilnya akan jauh lebih memuaskan. Jika mau, prnulis bisa menggarap buku susulan yang pembahasannya lebih luas dan mendalam. Tak harus bersifat ilmiah, novel perjalanan hidup juga boleh. Itupun jika Kang Saeful Bahri selaku penulis mau.

Identitas buku:

Judul: Lost in Pesantren
Penulis: Saeful Bahri
Penerbit: Republika
Cetakan: I, Agustus 2017
Tebal Buku: xiv+195 hal.
ISBN: 978-602-0822-81-5
Peresensi: Ach. Khalilurrahman, penikmat buku asal Sumenep. Juru kunci di terlanjurnulis.blogspot.co.id.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG