IMG-LOGO
Nasional

Dengan Teknologi Informasi, Kualitas Pembelajaran Lebih Terukur

Ahad 21 Januari 2018 22:52 WIB
Bagikan:
Dengan Teknologi Informasi, Kualitas Pembelajaran Lebih Terukur
Surabaya, NU Online
Proses belajar mengajar serta capaian yang akan diraih hendaknya dapat dirancang sejak awal. Hal tersebut antara lain dapat dilakukan dengan media atau washilah yakni teknologi informasi.

Hal ini disampaikan Agus Zainal Arifin saat menerima rombongan dari Madrasah Aliyah Unggulan KH Abdul Wahab Hasbulloh atau MAUWH Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Sabtu (20/1).  Mereka mendapat penjelasan seputar pemanfaatan teknologi bagi kemudahan serta terukurnya proses belajar mengajar di ruang rapat Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi (FTIK) gedung rektorat Institut Teknologi Sepuluh Nopember atau ITS.

Awalnya, rombongan yang merupakan guru senior dan pejabat di MAUWH menyampaikan berbagai kesulitan yang kerap dialami dan harapan yang ingin diraih saat proses belajar mengajar selama ini. “Dari mulai keterbatasan sarana dan prasarana, sumber daya manusia, hingga kecenderungan peserta didik yang kebablasan dalam menggunakan media sosial dan sejenisnya,” kata Ustadz Abdul Haris. 

Usai mendengar sejumlah problem yang dihadapi rombongan, Agus Zainal Arifin menjelaskan strategi pemanfaatan teknologi informasi dalam peningkatan kualitas pembelajaran, perluasan akses pendidikan, dan pengaturan tata kelola yang baik.

Dekan FTIK ITS tersebut juga mendemonstrasikan penggunaan e-learning atau sistem maupun konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar. Uniknya, Pak Agus, sapaan akrabnya juga menjelaskan sekaligus menunjukkan bagaimana e-learning berbasis moodle digunakan untuk keperluan mengajar selama ini di ITS. 

Moodle memiliki kemampuan dalam menampilkan capaian pembelajaran, menyimpan bahan belajar, merekap nilai tugas dan ujian, serta mengelola asesmen melalui kuis daring atau online,” kata mantan Rais Syuriyah PCINU Jepang tersebut.  Dan semuanya dijelaskan Pak Agus dengan baik.

Tidak berhenti sampai di situ, alumnus program doktor di Universitas Hirosyhima Jepang ini juga memberikan berbagai kemudahan dengan memanfaatkan teknologi tersebut. “Pembelajaran fiqih, nahwu, sharaf, dan mata pelajaran lainnya dapat dilakukan melalui penggunaan aplikasi berbasis android yang dapat diintegrasikan dengan berbagai bahan belajar digital di madrasah,” terangnya.

Sehingga selama pertemuan yang berlangsung kurang lebih tiga jam tersebut, rombongan juga belajar cara penggunaan aplikasi penjadwalan kelas. Termasuk aplikasi teka-teki silang untuk latihan perbendaharaan kosa kata atau mufradat, aplikasi sistem informasi madrasah dan perpustakaan, serta berbagai perangkat lunak lain yang berhubungan dengan tata kelola pendidikan.

Di ujung penjelasannya, Pak Agus sangat terbuka bagi berbagai kalangan untuk melakukan perbaikan rencana, layanan, hingga evaluasi yang harus dilakukan bagi pengelola lembaga pendidikan di pesantren. “Kuncinya adalah komitmen dan istikomah,” tandasnya. (Ibnu Nawawi)
Bagikan:
Ahad 21 Januari 2018 19:36 WIB
Kiai Pesantren Lakukan Tata Ulang Wacana Khilafah
Kiai Pesantren Lakukan Tata Ulang Wacana Khilafah
Yogyakarta, NU Online 
Hizbut Tahrir Indonesia yang sudah dibubarkan oleh pemerintah beberapa bulan silam, sepertinya masih berusaha untuk terus menggapai cita-citanya menegakkan khilafah di bumi Indonesia. Memang, penegakkan khilafah itu juga terdapat dalam kitab-kitab yang dikaji oleh para santri di pesantren.

Pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Mlangi Irwan Masduqi mengatakan bahwa dalam Fathul Muin ada bab tentang iqamatul khilafah. Begitupun dalam kitab Fathul Qarib. Terlebih dalam kitab Al-Ahkam al-Sulthaniyah yang banyak sekali membahas penegakan khilafah Islamiyah.

“Pemahaman Hizbut Tahrir juga ada dalam kitab-kitab pesantren,” katanya saat mengisi Halaqah Kepesantrenan di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, Sabtu (20/1). “Kenapa rujukannya itu sama, konsep khilafahnya sama, tetapi dalam bernegaranya berbeda?” tanya Gus Irwan.

Menurutnya, para kiai telah melakukan kontekstualisasi, bahkan telah mendekonstruksi (menata ulang) wacana khilafah.

“Ternyata kiai ini dalam bahasa kritisnya sudah melakukan kontekstualisasi. Bahkan dalam bahasa yang lebih radikal, sudah melakukan dekonstruksi wacana terhadap konsep-konsep khilafah,” katanya. “Kita hidup di Indonesia harus ada aktualisasi, harus ada kontekstualisasi”

Wakil Sekretaris Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PP Lakpesdam) itu menyatakan, oleh karena itu, khilafah hanya cocok untuk Islam dulu, tetapi tidak untuk masa dan tempat bangsa Indonesia sekarang.

“Bahkan Imam Ibnu Taimiyah dalam fatawanya menyatakan, sekarang ini sudah tidak mungkin lagi mendirikan khilafah dengan satu khalifah. Makanya, Ibnu Taimiyah menyatakan, yajuzu ta’addudu al-aimmah,” katanya.

Gus Irwan mengatakan bahwa khilafah adalah produk politik masa lalu. Ulama Indonesia berhak melakukan ijtihad siyasi untuk membangun negara bangsa, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Ini tidak bertentangan dengan Islam,” ujarnya.

Selain Gus Irwan, hadir juga Pembina Pesantran Muhammadiyah di Gunung Kidul Muhammad Chirzin. Ia menegaskan bahwa orang Islam itu harus lemah lembut. Hal ini mengingat kalimat tengah Al-Qur;an, berbunyi walyatalatthaf.

“Jantung Al-Qur’an adalah walyatalatthaf. Itu kata-kata yang ada di tengah-tengah Al-Qur’an. Artinya maka berlaku lemah lembutlah,” ujarnya.

Sementara itu, Pengurus Persatuan Islam Yogyakarta Indra Fajar Nurdin menyampaikan bahwa pesantren selalu mencarikan solusi atas problematika bangsa. 

“Pesantren menjadi pusat yang membentengi masyarakat dari radikalisme dan terorisme,” katanya.

Melengkapi pernyataan Indra, Wakil Rektor Universitas Cokroaminoto Nasruddin menyatakan bahwa pesantren harus memberikan sosialisasi ke masyarakat melalui pengabdian-pengabdiannya.

“Ada pengabdian di daerah-daerah sembari memberikan sosialisasi tentang paham yang benar,” katanya.

Halaqah yang mengambil tema “Peran Pesantren dalam Menangkal Radikalisme dan Terorisme” ini dihadiri oleh ratusan santri dan pengurus pesantren se-wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan kerja sama Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Daerah Istimewa Yogyakarta, Ikatan Alumni Annuqayah DIY, dan Harakatuna Media. (Syakirnf/Abdullah Alawi)

Ahad 21 Januari 2018 19:2 WIB
Di Depan 5000 GP Ansor, Gus Yaqut: Pegang Teguhlah Empat Karakter Banser
Di Depan 5000 GP Ansor, Gus Yaqut: Pegang Teguhlah Empat Karakter Banser
Brebes, NU Online
Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengajak Ansor dan Banser Kabupaten Brebes untuk memegang teguh empat karakter. Karakter ini harus dilaksanakan oleh seluruh anggota Banser dan Ansor dari lini organisasi tanpa terkecuali demi tercapainya tujuan organisasi.

“Sebagai kader Ansor-Banser, harus memegang teguh empat karakter Banser,” demikian ditegaskan Yaqut Cholil Qoumas saat memimpin Apel Banser se Kabupaten Brebes di Alun-alun Brebes, Sabtu (20/1).

Gus Yaqut menjelaskan keempat karakter tersebut yakni pertama, karakter kepemudaan. Sebagai kader Banser dan Ansor harus memiliki jiwa muda meskipun potonganya tua. Meskipun rambutnya tidak lagi hitam tapi bila semangatnya masih muda layak menjadi Banser dan Ansor.

Karakter kedua, yakni karakter kerakyatan. Banser-Ansor harus bermanfaat bagi rakyat sekitar. Untuk itu, ia harus bekerja sama dengan pemerintah, bantu program-program pemerintah demi kesejahteraan rakyat. Bila menemui orang yang susah, Banser dan Ansor harus menjadi orang yang pertama kali turun untuk menolong mereka.

Ketiga, lanjutnya, karakter keislaman. Kader Banser dan Ansor harus mengawal para kiai, ulama, selain mengawal NKRI.

Mengawal ulama, dengan cara turut mendakwahkan agama Islam yang menebarkan kedamaian bukan Islam yang mengajak permusuhan. Di luar negeri, contoh Suriah dan Irak menjadi kacau balau karena mereka salah memahami nilai keislaman.

“Harus kita ikuti para ulama dan kiai yang membawa nilai Islam yang sejuk, yang damai, yang rahmatan lil alamin,” ajaknya penuh semangat.

Keempat, karakter kebangsaan. Kader Ansor dan Banser tidak boleh mundur sejengkal pun bila ada ancaman ada di hadapannya yang mau menghancurkan NKRI. Harta, jiwa dan raga, kita pertaruhkan untuk NKRI.

“Jangan mundur sejengkalpun, jangankan hanya jiwa, raga, nyawapun harus kita korbankan untuk NKRI. Harga diri kita sudah diinjak-injak oleh mereka yang mau mendirikan agama Islam di Indonesia, maka apapun harus kita pertaruhkan untuk NKRI,” tegasnya.

Usaha mempertahankan NKRI, lanjutnya, bukan hanya tugas TNI dan Polri tapi tugas kita semua sebagai kader Banser dan Ansor. Karena NKRI didirikan atas andil juga para ulama Nahdlatul Ulama seperti mbah Hasyim Asy'ari, Mbah Bisyri Samsuri, dan ulama lain serta para santri. “Maka apabila ada kelompok-kelompok yang ingin mengubah ideologi Pancasila, harus kita lawan.” tegas Gus Yaqut.

Ketua GP Ansor Brebes Ahmad Munsip menjelaskan, Apel kesetian NKRI Banser-GP Ansor di alun-alun Kabupaten Brebes diikuti lebih dari 5000 peserta. Apel kesetian yang mengusung tema Pemuda Kini Jaga NKRI digelar sebagai bentuk kesiapsiagaan GP Ansor untuk melawan kelompok-kelompok yang ingin mengganggu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Apel diwarnai pula dengan berbagai atraksi kanuragan, marching band, baris berbaris serta kesenian tradisional.

Tampak hadir, Ketua GP Ansor Jawa Tengah Sholahudin, Rais Syuriyah PCNU Brebes KH Aminudin Mashudi, Ketua PCNU Brebes KH Athoillah Syatori, Bupati Brebes Hj Idza Priyanti, Wakil Bupati Brebes, Dandim 0713/Brebes Letkol Inf Ahmad Hadi Hariono, Wakapolres Brebes Kompol Wahyudi, para anggota DPRD dan undangan lainnya. (Wasdiun/Alhafiz K)
Ahad 21 Januari 2018 18:1 WIB
Sewindu Haul Gus Dur, Saatnya Melanjutkan Keteladanan
Sewindu Haul Gus Dur, Saatnya Melanjutkan Keteladanan
Yogyakarta, NU Online
Sudah delapan tahun KH Abdurrahman Wahid berpulang. Bangsa Indonesia sangat merindukan sosok kiai penuh humor itu. Masyarakat Yogyakarta yang tergabung dalam kepanitiaan bersama 60 organisasi, jaringan, dan komunitas bersama menggelar acara peringatan Sewindu Haul Gus Dur di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sabtu (20/1).

Gus Dur sebagai seorang tokoh bangsa telah memberikan teladan kepada bangsa Indonesia. Dengan acara haul Gus Dur, bukan suatu pengkultusan, tetapi dalam rangka mengambil hikmah dan pelajaran penting dari sosoknya.

“Gus Dur telah meneladankan. Kita tinggal melanjutkan,” kata Fahrur Rifai, Ketua Panitia Tahlil Kebangsaan dan Parade Shalawat Sewindu Haul Gus Dur.

Katib Syuriyah PWNU Yogyakarta KH Hasan dalam sambutannya bercerita bahwa ia pernah mencari dalil dawuhnya Gus Dur. Ketua Umum PBNU 1984-1999 itu pernah ngendika, “Orang yang mencintai manusia adalah mencintai penciptanya. (Orang) yang merendahkan dan menistakan manusia adalah merendahkan dan menistakan penciptanya,” katanya.

Setelah lima tahun berlalu usai dawuh yang diucapkan sekitar mula Reformasi itu, Kiai Hasan menemukan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bazza, tidak akan masuk surga kecuali orang yang memiliki kasih sayang. Lalu para sahabat Nabi menjawab, “Kami semua adalah penyayang.”

Nabi pun langsung menimpali, bahwa kasih sayang itu bukan sekadar ditujukan kepada saudara ataupun istri dan anak, tetapi terhadap seluruh manusia.

“Yang aku maksudkan Anda memberikan kasih sayang bukan kasih sayang kepada saudara Anda, istri anda, anak anda. Sesungguhnya kasih sayang adalah menyayangi semua manusia,” kata Kiai Hasan menerjemahkan haditsnya.

Kiai Hasan mengutip kitab Al-Futuhat Al-Madaniyah. Di dalamnya, Syekh Nawawi mengomentari hadits tersebut, bahwa “Manusia wajib menyayangi semua makhluk karena mereka adalah hamba-hamba Allah, meskipun mereka durhaka,” katanya.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita meneladani amal baik yang sudah terbukti baik karena ia sudah menutup buku perjuangannya dengan ditandai sowan beliau ke hadirat Allah SWT,” katanya.

Ketika banyak orang menggunakan agama untuk memecah belah bangsa, Gus Dur sebaliknya, ia menjadikan agama untuk menyatukan bangsa.

“Gus Dur berhasil merealisasikan fungsi agama sebagai pemersatu bangsa,” kata Syahiran mewakili Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kegiatan ini juga diisi oleh Ketua Lesbumi Yogyakarta Awaluddin Muallif dan Ketua PW Fatayat Yogyakarta Rindang Fariha. Keduanya didaulat untuk membacakan puisi.

Putri Pertama Gus Dur Alisa Wahid sebelum menyampaikan testiominya juga membacakan puisi karya adiknya, Inayah Wahid. Dalam testimoninya, ia bercerita banyak hal. Salah satunya, kisah biduk rumah tangga ayah dan ibunya.

Haul Gus Dur tahun ini diawali pembacaan maulid dan shalawat. Di tengah kegiatan juga diisi tahlil yang dipimpin oleh Rais Syuriyah PWNU DI Yogyakarta KH Masud Masduqi. (Syakirnf/Alhafiz K)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG