IMG-LOGO
Wawancara

Kemerdekaan Jadi Resep Produktif Menulis

Kamis 25 Januari 2018 15:38 WIB
Bagikan:
Kemerdekaan Jadi Resep Produktif Menulis
KH A Mustofa Bisri (Foto via Facebook Kays Mukhollad)
KH A Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus mendapat penghargaan di bidang Hak Asasi Manusia, Yap Thiam Hien Award, Rabu (24/1) malam. Meski selama ini tidak terlibat secara langsung ataupun bersuara lantang terkait isu-isu Hak Asasi Manusia di Indonesia, namun Gus Mus banyak menyuarakan penegakan HAM, di antaranya lewat karya tulisan.

Melalui sebuah kesempatan wawancara kala bersua Gus Mus di Kartasura Sukoharjo Jawa Tengah, belum lama ini (11/12), kontributor NU Online Ajie Najmuddin mendapatkan sekelumit kisah tentang awal mula Gus Mus mulai menulis. 

Kiai, apa resepnya sehingga dapat menghasilkan banyak karya?
Kemerdekaan! Alhamdulillah, saya memiliki guru yang banyak memberikan saya kemerdekaan, yang penting prinsip mereka kita laksanakan, yang lainnya bebas. Seperti Kiai Maksum dan Kiai Bisri. Saya banyak dididik dari mereka berdua. Beliau memiliki prinsip yang mesti saya tegakkan, misal prinsip saya kepada Tuhan, kemudian prinsip bahwa belajar itu tidak boleh saya tinggalkan sampai sekarang.

Di pesantren juga diajarkan sastra?
Alhamdulillah, di pesantren saya juga diajarkan selain gramatika ada pula ilmu balaghah, sebetulnya balaghah itu ilmu sastra. Ilmu balaghah ini juga digunakan untuk mengapresiasi keindahan Al-Qur’an. Jadi, kalau yang tidak belajar balaghah hanya membaca terjemahan bisa keliru memahami Al-Qur’an.

Karena Al-Qur’an itu justru keistimewannya di sastra itu. Disebut mukjizat, salah satunya karena ahli sastra pun tidak bisa mengungguli Al-Qur’an, bahkan menyebut Al-Qur’an di atas sastra. Kalau kita hanya melihat terjemahan Al-Qur’an akan kacau, lebih kacau lagi kalau menggunakannya untuk sastra.

Kembali pada ilmu balaghah, banyak kiai yang menggunakan balaghah tidak hanya untuk mengapresiasi keindahan Al-Qur’an, tapi juga untuk memproduksi karya sastra. Cuma karena kiai lebih akrab dengan bahasa Arab, maka kiai banyak memproduksi karya dengan bahasa arab.

Kita lihat Kiai Hasyim Asy’ari punya karya prosa dan puisi dalam bahasa Arab. Kiai Abdul Hamid Pasuruan sejak di Tremas dijuluki adib artinya satrawan, beliau punya antologi puisi dalam bahasa Arab. Kakak saya Kiai Cholil memiliki ta’lif dalam bahasa Arab, belum Kiai Mahfud Shiddiq, Kiai Mahfud Tremas.

Bukankah banyak kiai yang menulis kitab berbahasa Jawa (pegon)?
Belakangan ini saja banyak yang bahasa Jawa. Kalau yang akrab dengan bahasa Jawa, mereka akan produksi dalam bahasa Jawa, misal ayah saya (KH Bisri Musthofa, red) banyak karya dengan bahsa Jawa. Kiai Ali Maksum juga karya puisi yang sangat bagus dalam bahasa Jawa. Karena saya agak akrab dengan bahasa Indonesia, maka saya tulis dengan bahasa Indonesia, dan itu saya lakukan sejak di pesantren.

Sejak kapan kiai gemar menulis?
Sewaktu saya remaja, saya bersaing dengan Kiai Cholil (kakak Gus Mus, red). Kalau Kiai Cholil menulis di sebuah koran lokal, terus (karyanya) digunting ditempel di kamar kami di pondok, itu untuk manas-manasi saya saja, nama dia termuat di koran. Kemudian gantian, kalau saya yang dimuat saya tempel, dia terpacu lagi.

Ketika saya di Mesir saya diajak Gus Dur untuk membuat majalah HPPI. Majalah itu praktis hanya kami berdua saja yang buat, apakah cari berita, ngetik, jilid, sebarkan kami berdua terutama Gus Dur. Kalau tidak ada narasumber yang nulis, Gus Dur tulis sendiri. Kadang kalau masih ada yang kosong, saya isi dengan puisi, lukisan, ilustrasi, dan begitu berlangsung terus sampai ketika pulang (Indonesia).

Apa pentingnya menulis (di awal berkeluarga)?
Sewaktu saya pulang (dari Mesir) ke pesantren, tidak banyak keahlian yang saya miliki. Pun sewaktu sudah berkeluarga, yang saya pikirkan yang tersirat ya hanya menulis! Waktu itu pertama kali berkeluarga, hanya nyagerno (mengandalkan) tulisan.

Ayah saya pekerjaannya menulis, maka saya harus menulis! Karena tidak punya keahlian yang lain. Mau jadi pegawai tidak bisa, karena ijazah SR saya hilang. Habis itu saya tidak pernah sekolah, hanya mondok di Lirboyo, di Krapyak sekolah juga dropout. Jadi tidak ada instansi yang mau menerima ijazah hanya S-1 saja.

Saya tanya kepada paman saya Kiai Misbah, kalau saya menggunakan nulis sebagai maisyah bagaimana? Ya, bisa saja, jawab beliau. Saya begitu, ayah kamu juga menulis!

Bisa cerita pengalaman awal menulis di media?
Saya dulu aktif (menulis) di Intisari. Bukan apa-apa, karena waktu itu honornya paling tinggi, gambarannya kalau Suara Merdeka 1 artikel masih Rp. 2.500, intisari sudah Rp. 7.500. Kalau anak saya minta apa-apa, ya tunggu tulisan dimuat.

Sampai, ayah saya pernah bawakan tulisan di Intisari, tanya ini dapat berapa? Kemudian suatu hari minta saya menerjemahkan kitab kecil. Setelah saya terjemahkan, sebulan kemudian saya dikasih uang Rp. 50.000, sambil berkata: “ini honor terjemahan, banyak mana dengan Intisari? Sejak itu, saya terus berusaha menulis sendiri, saya terjemahkan kitab-kitab.

Di awal tahun ini, mungkin kami bisa mendengar nasihat ringkas dari kiai?
Saya selalu kalau dimintai nasihat, nasihat saya satu, jangan pernah berhenti belajar. Terutama, belajar tentang agama itu sendiri. Boleh berhenti sekolah tapi jangan berhenti belajar!

Sebab terbukti di dalam masyarakat yang banyak bikin masalah itu orang yang berhenti belajar, terutama mereka yang berhenti belajar karena merasa sudah pandai, lalu berfatwa dan kemudian menyalahkan orang lain.

Kalau mereka mau rendah hati untuk terus belajar, insya Allah hal itu tidak akan terjadi. Kita mesti ingat perintah Nabi, menuntut ilmu itu minal mahdi ila lahdi yakni sejak dalam ayunan hingga liang lahat.

(Red: Syaifullah)
Tags:
Bagikan:
Kamis 18 Januari 2018 20:30 WIB
Santri, Pesantren, dan Entrepreneurship
Santri, Pesantren, dan Entrepreneurship
Santri dikenal sebagai orang yang memiliki sifat mandiri dalam hidup. Tidak bergantung kepada orang lain. Mereka jauh dari orang tua dan sanak famili, sehingga semuanya dikerjakan sendiri di pesantren. Disebutkan pula bahwa santri adalah pengambil resiko (risk taker). Ia meninggalkan kenyamanan yang ada di rumah dan tinggal di pesantren yang fasilitasnya seadanya. 

Dari beberapa sumber yang ada, dua sifat tersebut di atas adalah sifat dasar daripada seorang entrepreneur atau pengusaha. Jika memang seperti itu, sebetulnya santri sudah memiliki modal awal untuk menjadi seorang entrepreneur, tapi di lapangan kita bisa hitung berapa santri yang menjadi seorang entrepreneur? Pasti lebih banyak yang tidak.  

Data tahun 2014 menyebutkan kalau jumlah santri aktif atau yang masih belajar di pondok pesantren adalah 3,65 juta. Jika dikalkulasi dengan mereka yang sudah lulus, tentu jumlahnya puluhan juta. Jumlah pondok pesantren kita juga tidak kalah banyak, ada sekitar 28 ribu pesantren di Indonesia sebagaimana yang tercatat oleh Kementerian Agama RI. 

Sebuah jumlah yang tidak sedikit, andaikan saja semuanya –atau setengahnya- menjadi seorang entrepreneur maka santri dan pesantren bisa saja lebih makmur. Akan tetapi sepertinya sifat dasar entrepreneur yang dimiliki seorang santri tersebut –mandiri dan berani mengambil resiko- tidak berbanding lurus dengan pekerjaan yang ditekuni. Mungkin lebih banyak santri yang masuk dunia partai politik daripada dunia entrepreneurship.

Terkait hal ini, Jurnalis NU Online A Muchlishon Rochmat berhasil mewawancarai Presiden Direktur Benhokk Property yang juga Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Tangerang Selatan (PCNU Tangsel) Nurul Yaqin pada Rabu, (17/1) di kediamannya di Ciputat Tangerang Selatan. Dulu, dia pernah nyantri di Perguruan Islam Mathali’ul Falah selama 6 tahun. Saat ini, ia aktif di berbagai organisasi asosiasi real estate, seperti Ketua Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) dan Ketua Kompartemen di Real Estate Indonesia (REI). Berikut hasil wawancaranya:

Menurut Anda, dari jutaan bahkan puluhan juta santri yang ada, berapa prosentase santri yang betul-betul menjadi seorang entrepreneur?

Mungkin tidak sampai 20 persen santri yang menjadi seorang entreprneur.

Mengapa bisa demikian. Bukan kah santri itu memiliki sifat mandiri? Dan sifat mandiri itu merupakan sifat dasar daripada seorang entrepeneur?

Pertama, karena ada anggapan kalau entrepreneur atau dagang itu bersifat keduniaan. Kedua, entrepeneur itu bukan sesuatu yang given (yang diberikan). Di dalam entrepreneur, yang dominan itu bukan knowledge (pengetahuan), namun insting. Asal-muasal insting adalah dari interaksi sosial di dalam komunitas. Dari interaksi sosial, ia kemudian beradaptasi dan mengikuti hingga akhirnya tumbuh lah insting. Jika interaksi sosialnya dipenuhi dengan hal-hal yang berkaitan dengan entrepeneur, maka ia akan memiliki insting menjadi seorang entrepeneur.

Apa relevansinya dengan santri dan pesantren?

Di pesantren tidak diciptakan tradisi atau budaya menjadi seorang entrepeneur. Santri-santrinya tidak memiliki kebiasaan akan hal itu. Ketika keluar pesantren, maka mereka lebih cenderung terjun ke sektor-sektor keagamaan sebagaimana yang ditekankan dalam dunia pesantren. Di pesantren, seorang santri dilatih membaca tahlil, manaqib, dan pidato. Sehingga insting yang mereka miliki cenderung ke arah keagamaan.

Aktifitas-aktifitas tersebut harus memiliki pondasi, yaitu ekonomi. Karena segala aktifitas itu tidak bisa lepas dari ekonomi. Ini yang miskin di pesantren. Sangunya (saku) tidak dibicarakan di pesantren, tapi perjalanannya dibicarakan dan didiskusikan. Sehingga santri tergopoh-gopoh ketika keluar. Mereka mengalami mental shock. 

Jadi apa yang mestinya dilakukan supaya santri tidak mengalami mental shock ketika mereka selesai belajar di pesantren?

Mestinya erntrepreneur menjadi kurikulum utama agar lulusan pesantren memiliki kompetensi untuk pemberdayaan ekonomi. Hal itu bisa dimulai dengan membangun suatu kebiasaan dalam berbagai bentuk dan model, seperti aplikasi langsung atau dibangun sekolahan kejuruan di pesantren. Mestinya, membangun pengetahuan dan keterampilan itu harus sama dan berbanding lurus. Jangan pengetahuannya saja yang diperkaya, sementara keterampilannya minim.

Tidak sedikit pesantren yang menyelenggarakan workshop atau seminar dengan tema entrepreneurship. 

Berbicara entrepreneur itu bukan berbicara knowledge (pengatahuan). Kalau kebanyakan seminar, maka mereka yang dilatih akan menjadi trainer. Jadi men-training orang untuk menjadi trainer, bukan men-training orang untuk menjadi entrepreneur. Yang terjadi sekarang adalah seperti itu. Yang nular adalah ilmunya saja, padahal tujuan utamanya adalah bagaimana orang tersebut memulai kegiatan entrepreneurship. Yang saat ini perlu dilakukan adalah bagaimana membuat orang mulai mencoba terjun untuk menjadi entrepreneur.

Kunci pertama pada level awal untuk menjadi seorang entrepreneur adalah memulai, bukan pengetahuan. Meski tidak memiliki pengetahuan, entrepreneurship bisa jalan. Hal ini juga sudah dipraktikkan di pesantren. Jika kita survei, rata-rata anak yang mondok disuruh orang tuanya. Anaknya sendiri takut untuk mondok karena keterbatasan yang ada. Dalam jangka waktu satu tahun atau dua tahun, ketakutan tersebut hilang dengan sendirinya. Kenapa praktik itu tidak disubsitusikan dalam membangun persepsi tentang entrepreneurship.

Jangan di-training terus. Training itu kan suplemen, jika orang dikasih suplemen terus maka lama-lama ia akan sakit. Padahal memutuskan untuk memulai itu jauh lebih penting daripada pengetahuan yang banyak namun tidak dimulai-mulai. Semakin banyak pengetahuan, maka ia akan semakin takut untuk memulai. Pengetahuannya bisa didapat setelah memulai.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa santri itu adalah orang yang sangat berani dalam mengambil resiko? Namun lagi-lagi mengapa itu tidak bisa di-copy paste-kan dalam dunia entrepreneurship?

Sebetulnya dari segi mental, santri itu adalah risk taker (pengambil resiko). Anak lulusan sekolah dasar kemudian nyantri di pesantren. Otomatis dia harus mengontrol sendiri semua kebutuhannya. Artinya, karakter independensi mental itu dibangun di pesantren. Ini yang menjadi karakter seorang entrepreneur. Pesantren sudah membangun mentalitas menjadi seorang entrepreneur, namun tidak disalurkan. 

Semuanya sudah ada di pesantren; risk taker, independensi, belajar memanaj. Ini mestinya dibangun dan dikembangkan.  

Di pesantren, nilai-nilai yang ditanamkan adalah kesederhanaan. Mereka juga disuguhi cerita-cerita Nabi Muhammad, sahabat, dan ulama-ulama dari sisi yang miskinnya. Padahal Nabi Muhammad dan banyak sahabat yang kaya. Apakah ini juga yang membentuk mental santri sehingga seolah-olah ‘menjauh’ dari dunia wirausaha?

Saat kanak-kanak, Nabi Muhammad menjadi seorang pengembara. Remajanya menjadi pedagang. Dewasanya menjadi pengusaha. Tuanya menjadi rasul. Sedangkan, umatnya malah terbalik. Belum apa-apa langsung menjadi ustadz, sementara tuanya ingin menjadi pengusaha. Pada dasarnya, para sahabat berdakwah dengan menggunakan kendaraan berdagang. 

Santri didik untuk menjadi seorang yang berpengaruh di tengah-tengah masyarakatnya. Ini semestinya menjadi modal yang berharga bagi santri karena orang yang memiliki pengaruh itu lebih mudah mengatur dan menjalankan suatu bisnis. 

Dulu kiai dan pesantren juga mengembangkan wirausaha pertanian, perkebunan, dan berdagang, tapi ke belakang jarang elemen pesantren yang menekuni itu lagi. Apakah ini ada kaitannya dengan penjajahan Belanda di Indonesia, misalnya?

Dulu kiai melakukan perlawanan kepada penjajah secara total. Di sektor pendidikan, kiai tidak mau ikut Belanda dan mendirikan pesantren. Dalam sektor perekonomian, kiai berdagang dan membangun basis-basis ekonomi di kalangan umat Islam sendiri. Pada wilayah perjuangan, kiai dan santri juga berjuang total melawan penjajah dengan jiwa raganya.

Saat ini kita kehilangan orientasi karena program kita diacak, di-hijact sama Belanda, mungkin oleh Snouck Hurgronje. Ia menanamkan di kalangan santri bahwa santri semestinya meneladani kesalehan ritual daripada sahabat dan ulama-ulama terdahulu, bukan jiwa entrepreneurship atau kayanya. Sehingga yang diteladani hanya ritualistik para sahabat saja.    
Saat ini adalah dunia ekonomi. Dengan demikian, seharusnya kita meneladani sahabat yang entrepreneur dan kaya seperti Ustman bin Affan, Abu Bakar As Siddiq, Abdurrahman bin Auf, dan lainnya.

Di kalangan santri ada dogma bahwa banyak harta menyebabkan mudahnya orang untuk cinta dunia atau hubbud dunya. 

Dunia ini adalah jembatan menuju akhirat. Kalau jembatannya tidak dibangun, bagaimana orang bisa lewat. Sudahlah, kita harus bersantri dan berparadigma santri ala Rasulullah, para sahabat, dan tabit tabiin. Jangan ala Belanda. Karena Belanda lah  yang membuat pembedaan-pembadaan ini dunia, ini akhirat. Bukankan dalam Islam disebutkan bahwa semuanya adalah bersifat akhirat jika diniatkan untuk akhirat. Pola pikir kita terjerumus di situ.
Jumat 12 Januari 2018 9:49 WIB
Penenggelaman Kapal Diatur dalam UU sebagai 'Tindakan Khusus'
Penenggelaman Kapal Diatur dalam UU sebagai 'Tindakan Khusus'
Zaki Mubarok Busro.
Polemik di dalam kabinet kerja Presiden Jokowi kembali terjadi. Kali ini yang dijadikan persoalan adalah kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti tentang penenggelaman kapal pencuri ikan di laut Indonesia.

Polemik tersebut berawal dari permintaan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan kepada Menteri Susi Pudjiastusi untuk menghentikan kebijakannya. Luhut menawarkan cara lain, yaitu kapal pencuri ikan diberikan kepada nelayan melalui koperasi. Sementara Menteri Susi berpendapat bahwa kebijakannya merupakan perintah Presiden Jokowi dan hanya menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan.
 
Untuk mengetahui sejauh mana dampak kebijakan Menteri Susi terhadap kedaulatan kelautan dan perikanan di Indonesia hingga penting tidaknya tawaran Menteri Luhut, wartawan NU Online Husni Sahal mewawancarai Ahli Kelautan Zaki Mubarok Busro yang saat ini sedang menempuh studi doktoral di Australia National Centre for Ocean Resources and Security (ANCORS), University of Wollonggong melalui sambungan handphone, Kamis (11/1).

Menurut Anda, seberapa efektif kebijakan penenggelaman kapal dalam upaya menjaga kedaulatan kelautan dan perikanan di Indonesia?

Sejauh ini tindakan Menteri Susi cenderung efektif dalam menjaga kedaulatan wilayah dan menjaga stok ikan di perairan kita karena tindakan tersebut telah menciptakan detterrence effect atau efek jera bagi para pencuri ikan yang memasuki wilayah perairan Indonesia. Cara ini dianggap ampuh untuk memberikan pelajaran bagi para kriminal  yang tidak mempan dihukum dengan cara-cara konvensional.

Apakah ada dampak dari kebijakan penenggelaman kapal tersebut bagi pendapatan nelayan Indonesia?

Tindakan penenggelaman kapal tentu saja memberikan dampak terhadap meningkatnya pendapatan nelayan karena stok ikan secara nasional dan global mengalami penurunan.
 
Menurut penelitian Food and Agriculture Organization (FAO), stok ikan dunia mengalami penurunan dari tahun 1974 sebesar 90 persen menjadi 71,2 persen pada tahun 2011 dimana 28,2 persen diantaranya mengalami tangkap lebih. Tren ini juga terjadi di Indonesia. 

Komunitas internasional telah melakukan berbagai cara untuk mengembalikan stok ikan dan meningkatkan pendapatan para nelayan melalui instrumen hukum namun usaha tersebut belum menampakkan hasil yang signifikan.

Dengan tindakan yang tegas tersebut, tentu saja pendapatan nelayan menjadi meningkat karena stok ikan kembali naik karena kapal kapal yang ditenggelamkan tersebut juga menggunakan destructive fishing gears untuk melancarkan aksinya. Namun yang perlu diingat, secara internal, nelayan kecil juga perlu diedukasi untuk melakukan penangkapan ikan secara ramah lingkungan agar stok ikan diwilayah mereka tidak depleted atau habis.

Apa pendapat Anda terkait permintaan Menteri Luhut kepada Menteri Susi untuk menghentikan kebijakan penenggelaman kapal?

Barangkali yang perlu diluruskan adalah Menteri Luhut meminta agar penenggelaman kapal dilakukan secara sementara. Artinya, kebijakan tersebut bisa dilakukan lagi di masa yang akan datang setelah mempertimbangkan berbagai aspek. 

Namun, menurut hemat saya, moratorium penenggelaman kapal dalam praktiknya susah untuk dihentikan dalam kondisi tertentu karena menurut UU 45/2009 sebagai perubahan dari UU 31/2004 tentang Perikanan, pengawas atau penyidik perikanan bisa melakukan "tindakan khusus" berupa penenggelaman kapal apabila dianggap membahayakan jiwa petugas tersebut atau melakukan kejahatan perikanan dengan bukti awal yang cukup.
 
Namun begitu, penenggelaman kapal sebaiknya juga bersinergi dengan upaya diplomasi yang sedang dilakukan pemerintah sebagai upaya untuk membujuk agar flag state (negara bendera) tempat asal pemilik kapal dapat melakukan upaya yang efektif melalui perangkat legal and policy mereka agar memberikan sanksi tegas bagi kapal mereka yang melakukan pencurian ikan. Jadi, sebaiknya negara yang melakukan protes peneggelaman kapal tersebut juga secara tegas menghukum kapal-kapal berbendera negaranya.

Menurut Luhut, sebaiknya kapal-kapal dari pencuri ikan dibagikan kepada nelayan melalui koperasi. Bagaimana Anda melihat tawaran gagasan tersebut?

Hanya perintah pengadilan yang bisa menyatakan seperti itu. Kalau kapal sudah di ad hoc atau ditarik ke dermaga, maka kapal tersebut sudah pro justitia atau sudah menjadi barang bukti pengadilan. Pengadilan yang akan memutuskan apakah kapal tersebut di tenggelamkan atau dirampas oleh negara untuk diberikan kepada nelayan.

Bagaiamana untuk gagasan sendiri?

Gagasan untuk pemberian kapal kepada nelayan saya kira bagus-bagus saja. Namun KKP sekarang pun telah memberikan bantuan berupa kapal kepada para nelayan kecil agar hasil tangkapan mereka meningkat sekaligus meningkatkan kesejahteraan para nelayan. Perlu juga dihitung cost and benefit-nya, apakah kapal yang ditangkap untuk dihibahkan ke nelayan lebih banyak manfaat atau mudharatnya dibandingkan dengan ditenggelamkan. Namun sekali lagi, itu tergantung pengadilan yang putusannya berdasarkan ketentuan yang ada sekarang.

Saya kira kita perlu mencontoh Norwegia yang menurut FAO pada tahun 2008 menjadi negara terbesar kedua eksportir ikan dan produk-produk perikanan, namun sangat concern terhadap sustainability stok ikan dan environment.
Rabu 10 Januari 2018 10:0 WIB
Menggerakkan Kemandirian melalui Pacarpeluk Bersedekah
Menggerakkan Kemandirian melalui Pacarpeluk Bersedekah
Upaya mewujudkan kemandirian, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Pacarpeluk, Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur menggulirkan Gerakan Pacarpeluk Bersedekah. Bernaung di bawah Unit Pengelolaan Zakat Infak dan Sedekah (UPZIS) NU Pacarpeluk, program dilakukan dengan menempatkan kaleng-kaleng sedekah di rumah warga dan menyarankan agar setiap harinya penduduk setempat menyisihkan koin senilai 500 ke dalam kaleng tersebut. 

Kini dalam setiap bulan berhasil dikumpulkan tak kurang dari 5 juta rupiah dari 600 kaleng koin NU tersebut dengan beragam pemanfaatan yaitu santuan duka, jaminan pengobatan rawat jalan dengan Kartu Pacarpeluk Sehat, santunan persalinan bagi keluarga kurang mampu, jenguk keluarga sakit berupa sumbangan dana bagi keluarga yang sakit, dan program peduli bencana. 

Keberhasilan program tersebut tidak lepas dari kerja sama seluruh pihak dan dorongan pengurus PRNU Pacarpeluk dalam menggerakkan semangat berzakat, infak, dan sedekah warga Pacarpeluk. Selain itu ada prinsip-prinsip yang terus dijaga untuk memperkuat program. Tak luput sejumlah tantangan juga harus dihadapi terutama di awal digulirkannya program.

Berikut wawancara wartawan NU Online Kendi Setiawan dengan Ketua PRNU Pacarpeluk Nine Adien Maulana terkait program yang juga menjadi unggulan PRNU Pacarpeluk tersebut.

Apa yang sebenarnya mendasari program tersebut?
Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya informasikan bahwa kepengurusan ranting NU Pacarpeluk selama ini vakum. Ada kepengurusannya, namun tidak ada kiprahnya dalam masyarakat secara nyata. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan saya menggerakkan organisasi dari sisi yang mana untuk mengawalinya.

Saya tidak percaya diri menggerakkan organisasi ini, karena selama ini masyarakat awam mengenal organisasi ini sebatas iuran dan iuran. Bagi saya ini adalah citra yang tidak mengenakkan. Masyarakat belum pernah merasakan manfaat nyata yang diperoleh dari organisasi ini.     

Keterpurukan ini mengalami titik balik, setelah NU Care-LAZISNU Jombang mengadakan sosialisasi ke MWCNU Megaluh tentang pendirian UPZISNU di tingkat MWC dan Ranting. Berangkat dari forum itulah saya selaku Ketua PRNU Pacarpeluk merasa ada semacam ‘ilham’ untuk menggerakkan organisasi ini secara nyata melalui pengelolaan Zakat, Infak dan Sedekah (ZIS). 

ZIS adalah potensi ekonomi umat Islam. Ini adalah potensi kemandirian yang nyata. Jika NU bisa mengelolanya secara kreatif, amanah dan profesional maka kemandirian jamaah dan jamiyah NU pasti bisa diupayakan dengan segera. Saya meyakini hal ini menjadi pintu awal mengerakkan jamaah dan jamiyah NU secara simultan-mutual.

Saya segera mengumpulkan pengurus PRNU Pacarpeluk untuk yang pertama kali setelah lebih dari tiga setengah tahun turunnya SK kepengurusan PRNU Pacarpeluk. Kami sepakat menggerakkan jamiyah warisan para kiai ini dengan cara mendirikan, membuat kepengurusan dan mengoperasikan UPZISNU serta merancang program-program penyalurannya. 

Penggalian dan pengelolaan dana sedekah sukarela dari masyarakat Pacarpeluk adalah gerakan pertamanya. Kami menawarkan dan mengajak masyarakat Pacarpeluk untuk menyisihkan uang koin Rp500, (lima ratus rupiah) tiap hari untuk dimasukkan dalam kaleng koin sedekah yang kami berikan kepada mereka secara cuma-cuma. Kaleng-kaleng itu kami beli dari NU Care-LAZISNU Jombang seharga Rp10.000, (sepuluh ribu rupiah) per kaleng.

Agar menarik perhatian dan minat, serta keingintahuan masyarakat, kami melabeli aksi perdana ini dengan Gerakan Pacarpeluk Bersedekah (GPB). Dengan demikian GPB sebenarnya merupakan upaya branding terhadap UPZISNU Pacarpeluk yang baru lahir dan beroperasi. 

Seberapa penting menggerakkan program tersebut?
Sebagaimana yang telah saya sampaikan tadi, ZIS adalah potensi ekonomi umat Islam yang nyata. Ini adalah potensi kemandirian yang nyata. Sayangnya selama ini potensi itu belum dikelola dan dimanfaatkan secara nyata oleh NU. ZIS di kalangan masyarakat NU hanya dilaksanakan secara individual atau kelompok terbatas. Jika NU bisa mengelolanya secara kreatif, amanah dan profesional maka kemandirian jamaah dan jamiyah NU pasti bisa diupayakan dengan segera. Ini bukan retorika, tapi benar-benar menjadi aksi nyata yang benar-benar bisa dirasakan manfaatnya.  

Tanggapan masyarakat seperti apa?
Masyarakat Pacarpeluk itu majemuk. Memang mayoritas adalah warga dengan kultur Nahdliyin. Namun, ada juga jamaah LDII, Shidiqiyyah, Muhammadiyah, kelompok awam abangan dan warga yang beragama Kristen. 

Pada awalnya mereka juga menanggapi aksi Gerakan Pacarpeluk Bersedekah melalui Kaleng Koin Sedekah ini secara beragam. Ada yang langsung menerimanya dengan sukarela setelah mendapat penjelasan tentang rancangan penyaluran dana sedekah itu. Ada yang meragukannya karena trauma dengan program jimpitan yang dulu pernah dilakukan, namun tidak jelas pengelolaannya hingga akhirnya berhenti tanpa ada pertanggungjawaban publik.

Ada juga yang khawatir jika hasil sedekah ini hanya digunakan secara eksklusif untuk organisasi NU saja. Ada juga yang mencibir dan memprovokasi masyarakat untuk tidak ikut serta menjadi donator (munfiq) Gerakan Pacarpeluk Bersedekah. Biasaya mereka menebarkan cibiran dan provokasi ini di warung-warung kopi dan di tempat-tempat tongkorongan.

Kendala apa yang dihadapi?
Keragaman tanggapan masyarakat itu tentu menjadi kendala bagi PRNU Pacarpeluk dan UPZISNU-nya dalam merintis Gerakan Pacarpeluk Bersedekah. Dengan telaten para pengelola, menjelaskan berbagai keraguan yang disampaikan masyarakat yang beragam itu. Kami terus membangun citra positif untuk meraih kepercayaan (trust) masyarakat dengan menempatkan orang-orang yang ‘terpandang’ sebagai pengelolanya.

Selain itu upaya sosialisasi melalui pendekatan agama juga dilakukan. Mimbar khutbah Jumat, Idul Fitri, majelis talim dan dzikir serta penampilan virtual melalui internet menjadi media yang sangat efektif menjawab keraguan masyarakat dan mengokohkan citra positif itu. 

Terhadap masyarakat yang mencibir dan memprovokasi negatif, kami tidak meresponsnya melalui retorika, namun kami buktikan secara nyata melalui program-program penyaluran. Ketika kami merealisasikannya, apalagi yang menerima dan merasakannya adalah anggota keluarga mereka, maka akhirnya mereka pun bungkam dengan sendirinya.       

Target jangka panjang atau target besarnya seperti apa?
Kami telah beroperasi selama enam bulan. Kami telah meraih kepercayaan dari masyarakat. Dalam kurun waktu itu kami telah mampu mengumpulkan koin sedekah lebih dari empat puluh dua juta. Kami juga telah menyalurkannya sesuai dengan program-program penyaluran yang telah dirancang.

Kini di tahun 2018 ini kami ingin mengajak masyarakat merintis upaya pengelolaan zakat maal. Kami mulai mengampayekan kewajiban mengeluarkan zakat maal. Kami mengajak masyarakat untuk menyalurkannya kepada UPZISNU Pacarpeluk.

Bagi kami infak dan sedekah yang telah berjalan adalah latihan berzakat yang berhukum wajib. Kami tidak ingin berhenti hanya pada upaya fundring infak dan sedekah yang berhukum sunah. Apa yang telah kami lakukan adalah bagian dakwah dengan sasaran untuk melaksanakan kewajiban berzakat. 

Kami tidak ingin hanya berhenti pada ranah ekonomi semata, karena bagaimanapun juga ZIS adalah bagian dari syariat yang harus didakwahkan dan dilaksanakan sebagai bentuk peribadatan kepada Allah SWT.  

Selain itu, kami sedang merancang pengelolaan ZIS itu untuk pengembangan ekonomi produktif pada sektor riil. Dengan cara itu kemandirian NU baik secara jamaah maupun jamiyah tidak sekadar menerima, mengadministrasi dan menyalurkan. Kami juga ingin bisa memproduksi dan mereproduksi secara aktifi dalam sektor ekonomi riil. Perdagangan dan pertanian menjadi rancangan pengembangannya. 

Untuk meralisasikannya kami masih mematangkan konsep sambil terus mencari referensi best practice. Kami tidak ingin berspekulasi yang terlalu tinggi dalam hal ini sebab kami sadar bahwa ini bukan dana biasa. Ini adalah dana umat melalui ZIS yang diamanahkan kepada UPZISNU Pacarpeluk dengan niat ibadah. 

Prinsipnya kami ingin mengembangkannya secara halal, aman, dan cepat perputaran modalnya. Jika hal ini bisa dilakukan maka upaya saling menghidupi jamaah dan jamiyah benar nyata, bukan sekadar retorika. Akhirnya, kebangkitan kembali NU secara jamaah dan jamiyah tinggal menunggu waktu secara pasti, karena ini bukanlah ilusi. 
    


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG