IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Mensyukuri 92 Tahun NU, Menatap Masa Depan dengan Optimis

Jumat 26 Januari 2018 20:30 WIB
Bagikan:
Mensyukuri 92 Tahun NU, Menatap Masa Depan dengan Optimis
Pada 31 Januari 2018, NU akan merayakan hari kelahirannya yang ke-92 dalam perhitungan tahun masehi. Di lingkungan NU, peringatan hari lahir diselenggarakan selama dua kali, karena juga diselenggarakan pada perhitungan tahun hijriah, yaitu pada 16 Rajab, yang hingga kini sudah ke-94. Apa pun metode perhitungannya, usia NU sudah lumayan panjang. Sebuah pencapaian yang patut disyukuri bahwa kita masih berdiri dan terus menunjukkan peran-peran yang besar kepada negeri dan umat di Nusantara ini.

Lahir di tengah era persemaian nasionalisme dengan kondisi yang masih sangat terbatas, kini kita sudah masuk ke era desa global dengan segala kecanggihannya. NU tetap setia mengawal dan menjaga eksistensi negeri ini. Beragam tantangan selalu menghadang, bentuknya berbeda-beda sesuai dengan konteks zaman. 

Kiai Hasyim menumbuhkan kesadaran akan pentingnya nasionalisme dengan mengatakan bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari iman yang diwujudkan dalam beragam bentuk perlawanan kepada penjajah. Sampai pada bagaimana bentuk negara ini, NU terlibat secara intens dengan para pendiri bangsa ini untuk mengakomodir beragam kepentingan mengingat luasnya pluralitas negeri ini. Resolusi Jihad menunjukkan salah satu peran nyata kalangan santri dalam perjuangan kemerdekaan ini.

Menjaga Indonesia dari ideologi komunis menjadi peran NU selanjutnya. Pertarungan ideologi kala ini menjadi isu utama dan dunia secara umum dalam bentuk perang dingin. Masing-masing blok berusaha memperluas pengaruhnya di dunia. Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan partai komunis dengan pengikut terbesar di dunia yang tidak berkuasa. Sejumlah provokasi digelar oleh partai tersebut untuk memanaskan suasana. Sejumlah langkah dilakukan untuk menguasai negeri ini. Di negara-negara lain, mereka melakukan revolusi berdarah dengan banyak korban. NU, sekali lagi turut berkontribusi dalam menyelamatkan negeri ini dari ideologi yang kini sudah mengalami keruntuhan. Yang banyak negara penganutnya mengalami kegagalan-kegagalan pahit dan kemudian melepaskannya.

Era Orde Baru, ketika rezim berkuasa meminggirkan NU karena ketakutan akan potensi besarnya, NU tetap mengabdikan diri untuk bangsa. Bagi NU berbeda pendapat dengan rezim yang berkuasa bukan berarti melawan negara. NU mendidik masyarakat bawah dengan mengajarkan mereka pendidikan di pesantren-pesantren, membela masyarakat yang terintimidasi oleh kelompok modal dan militer yang berkolaborasi untuk kepentingan usaha, dan memperjuangkan kehidupan yang demokratis dan menghargai hak asasi manusia.

Upaya tak kenal lelah tersebut membuahkan era Reformasi yang memberikan keterbukaan, kebebasan, dan perlindungan kepada nilai-nilai kemanusiaan. Dari posisi pinggiran, NU masuk dalam pusat kekuasaan. Beragam posisi strategis diduduki oleh para kader NU, mulai dari bupati, gubernur, sampai dengan presiden, yang pernah diamanahkan kepada Gus Dur.

Kini, saatnya bagi kita untuk memberi perhatian lebih kepada persoalan ekonomi warga masyarakat. Kesejahteraan terus meningkat, ekonomi terus bertumbuh. Toh, sebagian besar kue ekonomi ini dinikmati oleh kelompok yang secara etnis atau secara agama minoritas. Kesenjangan sendiri sudah merupakan masalah besar yang mengancam harmoni sosial. Dan ketika kelompok minoritas tertentu menguasai sebagian besar aset ekonomi negara, sesungguhnya persoalan besar sedang menghadang negeri ini. Jangan sampai persoalan tersebut meletus menjadi kerusuhan sosial yang menghancurkan tatanan negeri ini, atau mewujud dalam beragam persoalan sosial yang meresahkan masyarakat.

Kita berharap ada distribusi kekayaan yang lebih merata atas aset bangsa ini, siapa pun mereka, dari manapun asalnya. Kemiskinan bisa disebabkan karena dua hal, karena kemalasan dan karena ketiadaan akses. Para penduduk Indonesia merupakan orang-orang yang terbukti rajin dan ulet. Pagi-pagi buta, mereka telah pergi ke sawah dan beraktifitas sampai siang hari. Toh, secara mereka tetap miskin karena kebijakan negara yang tidak berpihak pada mereka. 

Konglomerasi yang tumbuh era Orde Baru yang merupakan hasil kongkalikong antara penguasa dan penguasa kini terus membesar, melahap dengan serakah apa saja potensi yang mereka lihat, menyisakan remah-remah kepada jutaan rakyat yang tersisa. Menghisap keringat buruh sampai tak tersisa. Ketimpangan seperti itu tentu tak bisa diselesaikan dalam semalam, tetapi kebijakan-kebijakan yang memberi afirmasi kepada kelompok-kelompok yang tertinggal akan mengubah tangis menjadi tawa, mengubah duka menjadi suka.

Inilah tugas besar yang menunggu kita. Di bawah bimbingan para ulama, kita optimis bisa melaksanakan tugas besar ini, sebagaimana kita berhasil melewati tantangan-tantangan di masa lalu. Selamat harlah ke-92. Semoga keberkahan selalu bersama kita. (Achmad Mukafi Niam)

Tags:
Bagikan:
Jumat 19 Januari 2018 15:41 WIB
Bertarekat untuk Menjernihkah Jiwa
Bertarekat untuk Menjernihkah Jiwa
null
Manusia kini hidup semakin mudah dengan segenap peralatan canggih yang membantu melaksanakan beragam tugas. Mobil, pesawat, telepon cerdas adalah di antara perangkat yang kini jamak digunakan oleh masyarakat. Sayangnya, kemudahan hidup bukan berarti ketenangan jiwa. Alat-alat yang seharusnya untuk membantu kemudahan hidup telah berubah menjadi tujuan hidup. Bahwa kepemilikan barang-barang tertentu menunjukkan tingkat kesuksesan seseorang. 

Mereka yang telah memiliki barang tertentu pun berhasrat untuk memiliki barang yang sama tetapi lebih baik, lebih baru. Para produsen dan pengiklan berusaha menciptakan kesan bahwa orang-orang yang memiliki produk terbaru adalah yang paling keren, paling update, dan segala macam nilai-nilai yang disematkan kepada pembeli. Yang tidak memiliki, berarti para pecundang. Dan untuk memiliki produk terbaru, segala kemudahan diberikan seperti pembayaran cicilan, pembelian secara daring dan diantar sampai ke rumah. Itulah konsumerisme yang telah menjadi nilai banyak orang.

Persaingan hidup pun semakin keras. Mereka yang masih sekolah dituntut belajar keras karena nilai bagus akan menentukan masa depan. Yang sudah lulus kuliah bersaing dengan sengit untuk mendapatkan pekerjaan mengingat antara kesempatan kerja dan jumlah pelamar tidak seimbang. Yang sudah bekerja pun dituntut memenuhi target-target tinggi dari perusahaan mengingat perusahaan harus berkompetisi dengan perusahaan lainnya untuk merebut hati konsumen.

Bagi yang tidak terlalu banyak aktifitas, media sosial telah menghabiskan sebagian waktu mereka sehari-hari, mulai dari memperbaharui status, menonton video, membagi kiriman atau sekadar membaca-baca tulisan yang menarik. Banyak orang dalam satu ruangan, berniat untuk bertemu. Toh, masing-masing sibuk dengan gawainya. Telepon cerdas telah mendekatkan yang jauh, tetapi menjauhkan yang dekat. 

Kini, waktu untuk merenungkan apa tujuan hidup yang sebenarnya di dunia ini? Apa makna dari hidup ini menjadi sulit dicari. Apa yang kita kejar sesungguhnya hal-hal yang fana. Hari-hari yang kita jalani segala kesibukan dengan tanpa terasa sampai akhirnya baru menyadari bahwa kita telah menua tanpa memberi makna.  

Kegelisahan-kegelisahan jiwa menjadi persoalan yang jamak karena tekanan hidup yang semakin keras ini. Di beberapa negara, orang menyelesaikan persoalan dengan mengonsumsi obat penenang, narkoba atau alkohol, atau datang ke psikiater. Konsumsi obat penenang dari tahun ke tahun terus meningkat. Tidur nyenyak, bagi sebagian orang merupakan suatu kemewahan yang mahal. Yang hanya bisa diperoleh setelah berkonsultasi dengan par psikolog atau psikiater dan minum obat tertentu. 

Tasawuf merupakan salah satu cara untuk menjaga kita untuk tetap fokus dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini hanyalah sarana untuk mencapai ridha Allah. Tasawuf mempelajari tentang rahasia terdalam manusia, yaitu soal hati. Jangankan orang lain, bahkan kita sendiri pun tertipu oleh motif sebenarnya ketika kita melakukan sebuah tindakan. Atau kita sebenarnya tahu bahwa niat kita tidak tulus, seperti shalat untuk pamer, tetapi toh tidak mudah untuk meluruskan niat. Hati, merupakan sesuatu yang kondisinya tidak stabil. Rasulullah mengatakan bahwa iman bisa berubah-ubah antara pagi dan sore. Ada kalanya meningkat, dan ada kalanya menurun. 

Tarekat merupakan jalan atau metode untuk mencapai hakikat hidup yang diajarkan oleh tasawuf. Nahdlatul Ulama mengakui 40 aliran tarekat sebagai kelompok yang muktabarah, yang diakui kebenarannya, yang para guru sufinya memiliki sanad bersambung dengan Rasulullah. Mereka bergabung dalam Jamiyah Ahlut Thariqah al-Mu’tabaran an-Nahdliyah (Jatman) yang baru-baru ini menyelenggarakan kongres dan kembali memilih Habib Luthfi bin Yahya untuk menjadi pemimpin tertinggi untuk lima tahun ke depan. 

Seiring dengan perkembangan zaman, kini saatnya Jatman menyasar kelompok-kelompok urban dan generasi milenial untuk membantu mereka menata hatinya. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang secara ekonomi masuk kelompok kelas menengah, memiliki militansi agama yang cukup tinggi, tetapi pengetahuan agamanya minim. Banyak di antaranya terjerat pada pandangan agama yang tekstualis. Akhirnya berpandangan keras dan sedikit-sedikit haram atau bid’ah. Tarekat akan membantu melembutkan jiwa mereka, menghadapi tantangan-tantangan zaman yang semakin kompleks menuju tujuan sejati atau hakikat hidup.  

Kelompok itu pula yang rentan mengalami hedonisme. Setelah dari kecil dididik untuk belajar keras untuk mencapai cita-cita yang ditanamkan orang tua. Dan kemudian dewasa disibukkan dengan urusan pekerjaan dan target-target dan akhirnya secara ekonomi mapan dan memiliki kedudukan yang mamadai. Lalu, timbul pertanyaan, apa tujuan hidup ini ketika semuanya sudah tercapai. Dengan bekal ilmu agama yang seadanya, yaitu sekadar bisa ngaji dan shalat karena ketika masih kecil fokus ke belajar materi-materi umum, akhirnya mereka kebingungan mencari makna dan tujuan hidup. 

Ada kesalahan pandangan bahwa bertarekat berarti meninggalkan segala urusan dunia dan menghabiskan waktu hanya dengan berdzikir. Pandangan ini harus diluruskan bahwa bertarekat ini adalah bagaimana menata hati. Bisa saja miskin, tetapi yang dipikirkan adalah urusan dunia saja. Sebaliknya kaya, tetapi hatinya tidak terikat dengan harta yang dimiliki. Semuanya diarahkan untuk mencapai hakikat hidup, yaitu mencari ridha Allah. 

Tasawuf dan tarekat, menjadi semakin penting perannya di zaman yang secara materi semakin mudah tetapi sesungguhnya hidup semakin kompleks. Mari menyejukkan jiwa dan menata hati. (Achmad Mukafi Niam)

Jumat 12 Januari 2018 19:18 WIB
Menggiatkan Perjuangan NU untuk Keadilan Ekonomi Warga
Menggiatkan Perjuangan NU untuk Keadilan Ekonomi Warga
Nahdlatul Ulama memiliki empat prinsip dasar yang meliputi tawasuth wa i’tidal (sikap moderat dan menjunjung tinggi keadilan), tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), dan amar  ma’ruf  nahi  munkar (menyeru kebaikan, mencegah kemungkaran). Karena prinsip itulah, NU dikenal sebagai organisasi yang memperjuangkan toleransi, moderasi, dan keseimbangan. Dari keempat prinsip tersebut, prinsip i’tidal yang tampaknya perlu mendapat perhatian lebih serius. Prinsip keadilan merupakan prinsip paling penting yang menjadi dasar berjalan baiknya prinsip-prinsip lain. Bagaimana kita bisa menjaga toleransi dan kedamaian jika ada kesenjangan ekonomi yang menganga. 

Energi para pegiat NU banyak yang dicurahkan untuk mengawal persoalan-persoalan toleransi beragama atau radikalisme. Mereka aktif dalam berbagai lembaga swadaya masyarakat yang menangani masalah toleransi dan moderasi beragama, tapi gaung perjuangan terhadap kesenjangan ekonomi atau nasib warga NU yang berprofesi sebagai petani, buruh, atau mereka yang masih dalam dalam posisi sebagai kelompok miskin atau sangat miskin perlu diperdengarkan dengan lebih nyaring. Jika kita juga kurang menaruh perhatian kepada mereka, lalu kepada siapa lagi para mustad‘afin meminta pertolongan?

Persoalan ekonomi dan ketimpangan sosial sesungguhnya sejak dahulu telah menjadi kesadaran bersama. Tiga program prioritas hasil muktamar ke-33 NU di Jombang adalah  bidang ekonomi selain kesehatan dan pendidikan sebagai yang utama. Munas dan Konbes NU di Lombok 2017 juga mengambil tema ekonomi sebagai bahasan penting seperti upaya redistribusi lahan. Beragam diskusi dan pertemuan di lingkungan NU juga membicarakan isu ekonomi. Organisasi seperti Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) atau Himpunan Pengusaha Santri (Hipsi) juga telah dibentuk. NU telah memperjuangkan kredit supermikro dengan suku bunga sangat murah, yang lebih murah dari KUR. Tapi tampaknya perlu upaya lebih keras menjadikan persoalan ekonomi sebagai gerakan bersama yang mengakar sampai ke tingkatan paling bawah. 

Sebagian besar para aktivis NU memiliki latar belakang pendidikan agama dan sosial-humaniora. Tak heran jika minat mereka lebih banyak tercurahkan pada persoalan-persoalan bagaimana menjaga toleransi dan keberagaman di Indonesia. Sayangnya, bangunan kedamaian bisa hancur jika sewaktu-waktu kesenjangan sosial ini meletus menjadi kerusuhan. Ekonomi Indonesia saat ini dikuasai oleh kelompok yang secara etnis dan agama merupakan kelompok minoritas. Distribusi kekayaan yang lebih merata perlu mendapat perhatian serius. Karena itu penting untuk mendesain bagaimana aktivis NU yang memiliki minat dalam bidang advokasi isu-isu ekonomi mendapat ruang yang lebih besar. Juga perlunya melibatkan para pelaku usaha untuk mengabdikan dirinya pada NU. 

Tumbuhnya kesadaran terhadap masalah toleransi dan pluralisme banyak dipengaruhi oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menulis tema-tema tersebut, lalu diikuti dengan diskusi anak-anak muda NU yang kini sudah menduduki posisi kunci di lingkungan NU. Gus Dur pula yang menginisiasi agar anak-anak muda terlibat dalam berbagai aktivitas sosial melalui lembaga swadaya masyarakat. Apa yang terjadi saat ini adalah buah dari visi besar Gus Dur akan Indonesia sebagai negara majemuk yang memegang teguh prinsip toleransi dan moderasi. 

Kini ketimpangan menjadi persoalan utama. Wacana dan program pemberdayaan ekonomi telah banyak dilakukan, tetapi hasilnya belum tampak nyata. Dalam tingkat nasional, Rasio Gini atau tingkat ketimpangan dari tahun ke tahun terus meningkat. Kita tidak boleh berpuas diri bahwa kita telah memperjuangkan toleransi dan moderasi di Indonesia. Permasalahan yang lebih besar masih menghantui kita. Dan itu jauh lebih sulit mengatasinya karena ini menyangkut kepentingan ekonomi. Kelompok-kelompok mapan yang kini berkuasa tentu tak ingin apa yang selama ini mereka nikmati hampir secara eksklusif didistribusikan kepada banyak orang. Dengan modal yang mereka miliki, hampir semua hal bisa dilakukan, mulai dari mempengaruhi pembuatan kebijakan, pembelaan di pengadilan, sampai membayar orang-orang di lapangan untuk mengamankan asetnya. 

Kita tahu bahwa kekuatan ekonomi menjadi bagian sangat penting dalam menentukan posisi sebuah bangsa atau kelompok. Singapura, Hong Kong atau Taiwan dari sisi penduduk dan geografis merupakan negara kecil, tapi kekuatan ekonominya memiliki pengaruh di dunia. Yahudi di berbagai wilayah di dunia selalu menguasai sektor ekonomi dan dengan demikian mereka membangun pengaruhnya. Kelompok besar yang tidak menguasai ekonomi hanya jadi sasaran pasar saja. 

Dari tiga program utama amanat Muktamar, maka yang paling menentukan adalah aspek ekonomi. Jika jika memiliki dana yang memadai, kita bisa membikin fasilitas pesantren yang memadai, kita bisa bisa membuat fasilitas kesehatan yang lengkap. Tak ada lagi anak-anak yang mengalami stunting atau kekurangan gizi. Alangkah bahagianya melihat warga NU sejahtera. (Achamd Mukafi Niam)

Sabtu 6 Januari 2018 13:0 WIB
Menatap 2018 dengan Sikap Optimis
Menatap 2018 dengan Sikap Optimis
Kita kini menjadi semakin cepat melupakan kejadian-kejadian sebelumnya. Teknologi dan informasi yang membanjiri kita setiap harinya memaksa kita reaktif dalam menghadapi persoalan-persoalan yang ada. Upaya melakukan perenungan-perenungan secara lebih mendalam menjadi jarang dilakukan. Akibatnya kita rentan terjebak pada kesalahan yang sama. Kita hanya disibukkan dengan persoalan-persoalan yang sudah ada, bukan mengantisipasi munculnya persoalan. 

Tahun 2017 berlalu dengan sejumlah peristiwa penting yang menjadi perhatian masyarakat luas. Dunia internasional dihadapkan pada masalah pengungsi Rohingya dan kejutan akhir tahun oleh Presiden Trump atas pengakuannya atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Kedua masalah tersebut merupakan rangkaian dari masalah lama dalam dunia Islam yang hingga kini belum menemukan penyelesaian yang komprehensif. Hal baik yang menggembirakan di tahun tersebut adalah dikalahkannya ISIS oleh pasukan Irak. Mantan pasukan ISIS yang pulang ke negaranya masing-masing masih menjadi ancaman atas kedamaian.

Dalam tataran nasional, awal tahun 2017 dibuka dengan lanjutan persoalan Pilkada DKI Jakarta yang telah berlangsung dari tahun 2016. Persoalan ini bukan hanya menjadi perhatian warga DKI yang secara langsung terkait dengan pilkada tersebut, tetapi juga menjadi perhatian masyarakat Indonesia secara umum karena tingginya muatan agama dalam kasus tersebut. Tensi politik menurun setelah Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama dihukum penjara. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) akhirnya dibubarkan setelah bertahun-tahun mengkampanyekan Islam transnasional. Hal lainnya adalah adanya konsolidasi kekuatan antara kelompok Islam konservatif dengan partai politik tertentu. Semuanya demi kepentingan politik yang memuncak pada 2019.
 
Bagi NU, persoalan yang menguras energi adalah munculnya Permendikbud No 23 tahun 2017 yang memutuskan pelaksanaan sekolah lima hari dalam seminggu. Dengan cepat para pemangku kepentingan utama madrasah diniyah menolak keputusan tersebut. Berbagai langkah dilakukan sampai akhirnya Presiden Jokowi menggantinya dengan Perpres No 87 tahun 2017.

Tahun tersebut juga diwarnai dengan banyaknya hoaks dan fitnah kepada para tokoh NU yang disebarkan melalui media sosial. Munas dan Konbes NU termasuk salah satu agenda penting organisasi yang membahas sejumlah persoalan. Acara yang berlangsung pada November itu diselenggarakan di Lombok, Nusa Tenggara Barat. NU mampu menjaga hubungan baik dengan pemerintah yang terlihat dari lebih diperhatikannya kepentingan komunitas NU dan seringnya pertemuan antara pemerintah dengan para pimpinan NU dan para ulama serta kiai pesantren. 

Persoalan laten seperti korupsi, narkoba, kriminalitas tetap saja berlangsung dengan intensitas yang tetap tinggi, hanya saja beda tokoh atau tempatnya saja. Kesenjangan ekonomi juga masih menjadi momok yang menjerat banyak sekali rakyat Indonesia. Mereka tidak memiliki modal atau akses untuk mencapai standar hidup layak. 

Pada 2018, isu internasional terkait dengan dunia Islam belum banyak berubah. Kepemimpinan Amerika di bawah Trump yang cenderung kurang ramah terhadap komunitas Muslim akan menambah rumit persoalan yang selama ini sudah pelik. Saudi Arabia di bawah upaya reformasi oleh Putra Mahkota Pangeran Salman yang masih sangat muda juga mungkin memunculkan kejutan-kejutan baru. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penganut Muslim terbesar di dunia dapat mengambil inisiatif dan peran-peran strategis untuk kepentingan dunia Islam.  Iran kini juga sedang menghadapi persoalan internal yang belum tahu sampai ke mana ujungnya.

Dalam konteks nasional, sejumlah persoalan akan muncul. Salah satu agenda yang sudah jelas adalah Pilkada serentak sejumlah sejumlah provinsi dan kabupaten/kota. Agenda ini harus diwaspadai mengingat pilkada dari dulu menyimpan berbagai persoalan. Dua hal yang harus diantisipasi adalah politik uang dan penggunaan isu SARA sebagai senjata untuk memenangkan pertarungan yang sangat keras tersebut. 

Ada kelompok dari ideologi tertentu yang dengan sengaja ingin memanfaatkan momentum pilkada tersebut untuk kepentingan ideologinya. Lalu politisi pragmatis yang ingin meraih kekuasaan memanfaatkan kondisi tersebut. Konsolidasi kekuatan melalui sejumlah acara yang digelar bersama, dukungan politik pada tokoh tertentu atau wacana yang dibangun di media sosial tampak sangat nyata. Mereka bertemu dalam satu kepentingan, sekalipun hal tersebut rentan bubar di tengah jalan mengingat sifat politik yang bersedia bekerja sama dengan siapa saja asal menguntungkan. Kelompok ideologis cenderung lebih susah untuk diajak berkompromi jika sudah menyangkut keyakinan yang dimiliki. Ini ancaman bagi harmoni keindonesiaan yang sudah dibangun sejak lama oleh para pendiri bangsa. 

Bagi internal NU, efek dari pilkada yang melibatkan tokoh-tokoh sesama NU yang bertarung dalam pilkada harus diwaspadai. Jangan sampai terdapat upaya-upaya untuk menggunakan kendaraan NU bagi pemenangan salah satu kandidat. Secara formal, sudah tegas bahwa NU tidak berpolitik praktis, tetapi NU juga jejaring kultural dengan patron para tokoh-tokoh tertentu. Di sini pentingnya kedewasaan dari pihak-pihak yang bertarung untuk memahami batas-batas dalam permainan politik tersebut. Jangan sampai hal tersebut menjadi permusuhan setelah pilkada usai. Persoalan-persoalan keumatan akan tetap menjadi fokus dan perhatian utama NU. 

Bangsa Indonesia dari tahun ke tahun terus belajar menghadapi persoalan. Kematangan sikap terlihat dalam merespon sejumlah persoalan. Upaya membangun sistem yang lebih baik harus terus dilakukan. NU juga telah menunjukkan peran yang nyata berbagai persoalan. Tantangan dan persoalan harus disikapi dengan positif dan optimis. Dari situlah kita belajar menjadi lebih matang dan lebih dewasa. (Achmad Mukafi Niam)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG