IMG-LOGO
Daerah

Mengapa Tauhid Uluhiyyah, Rububiyah, dan Asma was Sifat Ditolak?


Sabtu 27 Januari 2018 10:01 WIB
Bagikan:
Mengapa Tauhid Uluhiyyah, Rububiyah, dan Asma was Sifat Ditolak?
Malang, NU Online
Buku Khazanah Aswaja dibedah di STAINU Malang pada Kamis (25/01) dengan dua narasumber Ketua STAINU Malang Ustadz Pujiono dan salah satu tim penulis buku, Ustadz Yusuf Suharto.

Yusuf Suharto banyak berbicara tentang pengantar sejarah Aswaja dan pertarungan ideologi yang masih berasa hingga saat ini.

"Aswaja itu di tengah, menengahi ekstrem kanan yang radikal dalam makna negatif, dan menengahi estrem kiri, yang serba membebaskan dalam pengertian negatif."

Salah satu contoh produk praktis dan penting yang dimiliki Aswaja adalah Aqaid Seket (aqidah lima puluh) yang di dalamnya ada aqidah dua puluh sifat wajib Allah.

"Kita ajarkan aqidah ini. Dan tidak perlu memakai tiga macam kategori tauhid, yaitu tauhid Rububiyah, Uluhiyyah, dan asma was sifat. Pengkategorian ini bermasalah karena bagaimana mungkin seorang kafir musyrik seperti Abu Jahal misalnya disebut bertauhid dengan salah satu kategori tiga tauhid ini. Bukankah tauhid itu pengesahan Allah, dan kaum musyrikin tidak bertauhid. Juga, rububiyah dan uluhiyyah itu saling berkaitan."

Yusuf mengimbau, agar peserta bedah buku dari perwakilan madrasah, pesantren, mahasiswa, lembaga dan banom di NU, dan masyarakat luas untuk menyerahkan pemahaman keagamaan kepada para ulama.

"Konsepsi peneguhan tauhid ala Aswaja, sifat duapuluh diterima para ulama. Lain halnya dengan kategori tauhid Rububiyah, Uluhiyyah dan asma washifat. Karena itu kita ikut ulama Aswaja saja," kata Ustadz Yusuf.

Dalam konteks Indonesia, ia juga menekankan untuk mencukupkan diri bernegara bangsa, ber-NKRI.

"Ber-Aswaja itu sudah cukup dengan NU yang menyatakan bahwa NKRI adalah upaya final komponen bangsa. Ikut para ulama," kata Dewan Pakar Aswaja NU Center PCNU Jombang ini di hadapan lebih dari seratus peserta yang memadati Aula STAINU Malang.

Yang menarik, dalam bedah buku yang berlangsung dari pkl 09.00 hingga Dzuhur ini, ada pembagian 100 buku Khazanah untuk peserta.

"Kami ingin memberi oleh-oleh untuk peserta. Silahkan dibawa buku ini, dibaca dan dipahami", ujar Ustadz Pujiono.

STAINU juga memberikan undian berhadiah bagi tiga peserta yang mampu menjawab kuis. Tiga peserta dengan cepat mampu menjawab pertanyaan keaswajaan yang dilontarkan narasumber dan mereka berhak mendapatkan voucher belanja dan uang saku.

Di samping itu juga ada penandatangan kerja sama antara STAINU Malang dan beberapa stakeholder.

Ustadz Pujiono membahas tentang tiga pendekatan dalam memahami Aswaja, yaitu pendekatan historis, doktrinal, dan kultural. Melihat sedemikian pentingnya Aswaja, Ustadz Pujiono menekankan bahwa materi Aswaja harus ada di lembaga-lembaga pendidikan berbasis NU.

"Dua belas ribu lembaga pendidikan di bawah LP Ma'arif se-Indonesia, limapuluh sembilan persen berada di Jatim. Sementara itu guru Aswaja harus benar-benar Aswaja. Buku Aswaja juga harus selektif," kata Ustadz Pujiono.

Untuk kepentingan ini, alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya ini mengajak dosen-dosen hadir dalam seminar dan bedah buku Khazanah Aswaja. (Red Alhafiz K)
Bagikan:
IMG
IMG