IMG-LOGO
Trending Now:
Fragmen

Pesan Habib Ali Kwitang Terkait Lambang NU

Sabtu 27 Januari 2018 19:1 WIB
Bagikan:
Pesan Habib Ali Kwitang Terkait Lambang NU
Pada sebuah siang, para kiai berkumpul di Kantor Partai Nahdatul Ulama. Mereka duduk di atas karpet yang digelar di sebuah ruangan besar. Mereka bermusyawarah di dalamnya untuk menjawab sejumlah masalah sosial keagamaan dan kebangsaan yang muncul di era Sukarno.

Puluhan kitab yang diperlukan diturunkan dari lemari buku. Semuanya diletakkan di atas lekar panjang, sejenis rehal yang biasa dijadikan tempat menaruh Al-Quran. Semua ini dipakai untuk memudahkan peserta musyawarah untuk melihat rujukan akurat terkait teks yang diperlukan.

Pada musyawarah ini tampak hadir Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi atau lebih terkenal dengan Habib Ali Kwitang, Al-Habib Ali bin Husein Al-Athas atau Habib Ali Bungur, Al-Habib Muhammad bin Ali Al-Athas. Habib Ali Kwitang memenuhi undangan anak angkatnya, KH Idham Chalid yang ketika merupakan Ketua Umum PBNU.

Sebagaimana diketahui, NU saat itu merupakan partai politik, Partai Nahdlatul Ulama, yang ikut berkoalisi dengan pemerintah di Era Kepresidenan Sukarno.

Selesai musyawarah, semua hadirin tampak masih pada tempat duduk masing-masing. Mereka akan menyantap hidangan ala kadarnya yang disediakan tuan rumah.

Abdullah dan beberapa pemuda NU ketika itu terlihat keluar-masuk shaf hadirin. Ia mengantarkan makanan dan minuman yang disediakan. Pada gilirannya Abdullah berusaha duduk bersimpuh di hadapan Habib Ali. Ia pun menurunkan nampan kaleng bermotif warna-warni berisi makanan dan minuman.

Habib Ali Kwitang curiga dengan motif di balik nampan. Ia meminta Abdullah untuk mengangkat nampan tersebut. Ketika diangkat, tampaklah lambang NU di pantat nampan.

“Ini kok bisa begini. Maksudnya apa ini?” tanya Habib Ali Kwitang kepada Abdullah dengan suara pelan.

Ruangan mendadak senyap. Semua perbincangan para kiai dan segala aktivitas seisi ruangan berhenti. Semua mata tertuju pada Habib Ali Kwitang dan Abdullah.

“Iya bib, ini adalah penanda bahwa nampan ini milik Partai NU,” jawab Abdullah.

Habib Ali mengangguk. Ia kemudian memanggil anak angkatnya KH Idham Chalid.

"Jangan kalian berani-berani membuat jatuh perkumpulan ini dengan meletakannya di bawah," kata Habib Ali menasihati penuh kasih sayang layaknya orang tua dan anak.

Nasihat ini disaksikan dari dekat oleh Habib Ali bin Husein Al-Athas (Habib Ali Bungur), Habib Muhammad bin Ali Al-Athas, KH Muhammad Naim (Guru Naim Cipete), KH Falak Bogor, dan para kiai lain yang duduk dekat dengan Habib Ali Kwitang.

Menangkap isyarat tersebut, Kiai Idham Chalid kemudian meminta para pemuda untuk mengganti nampan dengan piring sebagai wadah makanan.

Setelah insiden itu ruangan kembali ramai oleh perbincangan para kiai. Semua hadirin menyantap makanan dan minuman sebelum bubar meninggalkan ruangan. Wallahu a‘lam. (cerita ini diambil dari Majelis Kwitang Habib Ali Al-Habsyi yang diakses dari http://galeriulamanusantara.blogspot.co.id/2017/03/).

Profil Singkat Habib Ali Kwitang
Habib Ali Kwitang hidup dalam rentang waktu 1870 M hingga 1968 M. Pada hampir dua dasawarsa di akhir hayatnya ia mengalami NU yang ketika juga merangkap partai politik selain sebagai ormas keagamaan.

Habib Ali Kwitang adalah pemimpin majelis taklim Kwitang. Ia dikenal dekat dengan dengan para kiai Betawi dan Kiai NU. Sebagian dari kiai Betawi adalah muridnya. Habib Ali bahkan tidak segan memberikan panggung bagi para muridnya untuk menyampaikan ceramah agama di majelis taklim Kwitang yang digelar setiap Ahad pagi.

Habib Ali Kwitang mengambil murid-muridnya sebagai anak angkat. Ia mempersaudarakan para kiai Jakarta satu sama lain sehingga ukhuwah di kalangan para kiai menjadi semakin rekat selain jalur perkawinan tetapi juga jalur persaudaraan. Ini semua berkah Habib Ali Kwitang. Al-Fatihah. (Alhafiz K)
Bagikan:
Jumat 26 Januari 2018 10:1 WIB
Sultan Hamengku Buwono IX dan Hubbul Wathan Minal Imannya
Sultan Hamengku Buwono IX dan Hubbul Wathan Minal Imannya
Sultan Hamengku Buwono IX (Dok. tirto.id).
“Dat de taak die op mij rust, moeilijk en zwaar is, daar ben ik mij tenvolle van bewust, vooral waar het hier gaat de Westerse en de Oosterse geest tot elkaar te brengen, deze beide tot een harmonische samenwerking te doen overgaan zonder de laatste haar karakter doen verliezen. Al heb ik een uitgesproken Westerse opvoeding gehad, toch ben en blijf ik in de allereerste plaats Javaan. Zo zal de adat, zo deze niet remmend werkt op de ontwikkeling, een voorname plaats blijven innemen in de traditierijke Keraton. Moge ik eindigen met de belofte dat ik de belangen van Land en Volk zal behartigen naar mijn beste weten en kunnen.”

“Sepenuhnya saya menyadari bahwa tugas yang ada di pundak saya adalah sulit dan berat, terlebih-lebih karena ini menyangkut mempertemukan jiwa Barat dan Timur agar dapat bekerjasama dalam suasana harmonis, tanpa yang Timur harus kehilangan kepribadiannya. Walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap adalah orang Jawa. Maka selama tak menghambat kemajuan, adat akan tetap menduduki tempat yang utama dalam Keraton yang kaya akan tradisi ini. Izinkanlah saya mengakhiri pidato saya ini dengan berjanji, semoga saya dapat bekerja untuk memenuhi kepentingan Nusa dan Bangsa, sebatas pengetahuan dan kemampuan yang ada pada saya.” (Api Republik: Novel Biografi Hamengku Buwono IX, Haidar Musyafa, Penerbit Imania, 2017, hal 412-413)

Kutipan pidato Hamengkubuwana IX di atas membuat semua orang yang hadir dalam acara Jumenengan Dalem berdecak kagum. Sungguh berani, antiminder dan progresif. Banyak yang tidak menyangka, lebih-lebih para pejabat Governemen yang ikut hadir dalam acara penobatan itu.

Mereka yang semula menganggap Dorodjatun sebagai lelaki muda yang sangat lugu dan polos sehingga mudah diatur-atur ternyata mengawali pemerintahannya dengan kata-kata yang menggambarkan sifatnya yang serius dan teguh dalam berpendirian. Pidatonya mencerminkan sikap Sultan yang tetap akan memegang budaya jawa, juga sebagai pribumi dan akan membaktikan dirinya demi kepentingan Nusa dan bangsa. Jowo digowo, Barat diruwat!

Hamengku Buwono IX adalah satu di antara sekian banyak anak bangsa yang memiliki peran besar dalam membangun republik ini. Hampir seluruh babak hidupnya didarmabaktikan untuk berjuang dan membangun negeri ini. Semua kiprahnya sejak awal ditabalkan menjadi Sultan Yogyakarta adalah teladan seorang penguasa yang sangat mencintai tanah air, negeri tercintanya. Hubbul wathan minal iman mendarah daging dalam sosoknya.

Hubbul wathan minal iman dalam tataran praksis ejawantah, bukan di maqam slogan dan citra. Sejak republik ini lahir, ia adalah satu di antara pejuang yang menghibahkan seluruh waktu, tenaga, dan pikirannya untuk kepentingan bangsa Indonesia. Bahkan, ia tak segan-segan mengorbankan harta pribadinya untuk menyokong perjuangan rakyat di masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Pada 17 Agustus 1945, tersiar berita mengenai Proklamasi kemerdekaan Indonesia dari siaran kantor berita Domei dari Jakarta. Siaran ini kemudian dimaklumatkan melalui khotbah Jumat di Masjid alun-alun Utara dan Masjid Paku Alaman. Jika pada sorenya Ki Hajar Dewantara berkeliling kota dengan sepedanya untuk mengabarkan berita kemerdekaan kepada masyarakat.

Esok harinya Sultan Hamengku Buwono IX menyatakan dukungan sepenuhnya terhadap proklamasi kemerdekaan Indonesia di Jakarta mengirimkan telegram pada 18 Agustus 1945 kepada Soekarno-Hatta dan kepada KRT Rajiman Wedidiningrat (mantan ketua BPUPKI) berisi ucapan selamat atas terbangunnya Negara Republik Indonesia dan terpilihnya kedua pemimpin tersebut sebagai Presiden dan wakil Presiden.

Selanjutnya, pada tanggal 19 Agustus 1945 di bangsal kepatihan sultan mengumpulkan pemimpin-pemimpin kelompok muda. Mereka antara lain dari golongan agama, nasionalis, kepanduan dan keturunan cina yang jumlahnya mencapai 100 orang. Pada pertemuan itu Sultan berpidato:

“Kita telah beratus-ratus tahun dijajah bangsa lain. Maka selama itu perasaan kita tertekan dan sekarang kita merdeka. Tentu persaaan yang lepas dari tekanan akan melonjak. Melonjaknya ini yang harus kita jaga. Biarlah melonjak setinggi-tingginya, sepuas-puasnya akan tetapi jangan sampai menyerempet yang tidak perlu, yang bisa menimbulkan kerugian. Menurut sejarah, dimana terjadi perubahan besar  dan mendadak seperti yang terjadi di tanah air kita sekarang pemuda senantiasa memegang peranan. Oleh karena itu saudara-saudara saya minta menjaga keamanan masyarakat. baik di kampung-kampung, di perusahaan-perusahaan, di toko-toko dan lain-lain jangan sampai terjadi kerusauhan, kalau terjadi sesuatu laporkan kepada saya. dan bertindak sebagai wakil saya dalam hubungannya dengan saudara-saudara adalah Pangeran Bintara."

Pada 20 Agustus 1945, Sultan Hamengku Buwono IX untuk kedua kalinya mengirim telegram kepada presiden dan wakil presiden. Isi telegram tersebut secara tegas menyatakan, “sanggup berdiri di belakang pimpinan Paduka Yang Mulia”.

Pasca kemerdekaan Indonesia, belanda tidak tinggal diam. Dengan menumpang tentara Sekutu yang dipimpin oleh tentara Inggris. mereka akan mengumpulakan bekas interniran dan tahanan tentara jepang di Jakarta. Tentara Belanda bersikukuh tetap ingin mengembalikan Indonesia sebelum tanggal 8 maret 1942.

Dapat kita bayangkan keadaan Jakarta waktu itu sangat genting. Para pemimpin negara khawatir akan ditangkap, ditahan dan diasingkan. Sehingga perlu agara para pemimpin republik menyelematkan diri dan memindahkan ibu kota negara. Melihat kenyataan itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX tidak tinggal diam. Dengan segara sultan menawarkan Yogyakarta sebagai pusat pemerintahan republik sementara.

Gayung pun bersambut pada sidang kabinet memutuskan bahwa pusat pemerintahan di pindahkan ke Yogyakarta. Sehingga Yogyakarta menjadi ibu kota sementara Republik Indonesia. Presiden dan wakil menteri dan para pemimpin kementerian pindah ke Yogyakarta. Agar roda pemerintahan republik tetap berjalan, Sultan Hamengku Buwono IX menyediakan fasilitas berupa gedung, keamanan dan lain sebagainya. Sultan berusaha menjadi “tuan rumah yang baik”.

Saat Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda, Sultan Hamengku Buwono IX tidak tinggal diam demi upaya menunjukkan kepada dunia Internasional bahwa Indonesia masih eksis. Pada bulan Feburuari 1949, dengan bantuan kurir, Sultan menghubungi Panglima Besar Sudirman untuk meminta persetujuannya melaksanakan siasat dan langsung menghubungi komandan gerilya, Letnan Kolonel Suharto, dengan segala perencanaannya untuk melancarkan serangan umum membebaskan Yogyakarta. Dalam tempo enam jam Yogyakarta bisa dikuasai.

Keberhasilan ini disiarkan melalui radio dan diteruskan ke Bukittinggi untuk kemudian diteruskan ke India dan ke Dewan PBB. Serangan ini berhasil mematahakn klaim Kerajaan Belanda yang menganggap bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada. Serangan umum 1 maret menunjukkan bawa TNI masih hidup dan NKRI masih tegak berdiri.

Belanda harus menerima resolusi dewan keamanan PBB tanggal 28 januari 1949 melalui perundingan Roem Royen. Sultan Hamengku Buwono IX bersama Panglima Besar Jenderal Sudirman adalah aktor intelektual, sang perancang strategi suksesnya Serangan Umum 1 Maret ini.

Pada saat revolusi mempertahankan kemerdekaan Indonesia keadaan ekonomi dan sosial bangsa Indonesia sangat memprihatinkan. Kekeringan dan kelangkaan pangan menerpa Yogyakarta. Harga pangan membumbung tinggi. Kelaparan di mana-mana. Sementara itu uang negara tiris.

Untuk menjamin agar roda pemerintahan tetap berjalan, Sultan Hamengku Buwono IX menyumbangkan kekayaannya untuk membiayaai pemerintahan dan kebutuhan hidup para pegawai pemerintah dan para pemimpin. Sekitar Enam Juta Gulden (± 6 miliar) disumbangkan oleh Sultan untuk membiayaai pemerintahan dan kebutuhan rakyat.

Selain itu sumbangsih sultan tersebut juga digunakan untuk membiayai pasukan geriliya.  Bahkan sultan membiarkan Rakyat mendirikan rumah di dalam tembok keraton agar terlindung dari serangan Belanda. Semuanya tanpa timbal balik, tanpa pamrih.

Sultan Republiken bergelar Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati Ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalipatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sanga adalah sosok pemimpin berjiwa profetik, menjalankan amanah kepemimimpinan bukan hanya dengan kecanggihan logika berpikir dan sikap profesional, tetapi atas petunjuk Tuhan Yang Maha Esa dan mbarakahi.

Hubbul wathan minal iman selalu menjadi pedoman dan fatsoen politiknya. Semua demi bangsa dan negara. Oleh karena itu, bagi sesiapa saja yang ‘menggugat-gugat’ Hubbul Wathan Minal Iman, cinta tanah air itu tidak ada dalilnya, tidak ada dasarnya, cukuplah Ngarso Dalem Hamengku Buwono IX sebagai cermin.

Seseorang yang memahami Sultan Hamengku Buwono IX maka akan terkoreksi dirinya. Seorang pejabat/pemimpin yang menyelami Sultan Hamengku Buwono IX akan merasakan kontribusinya untuk Indonesia masih jauh dari harapan masyarakat.

Faried Wijdan, warga NU Depok, mengelola pabrik aksara.
Kamis 25 Januari 2018 13:0 WIB
Kiai Sahal dan Beberapa Penghargaan untuknya
Kiai Sahal dan Beberapa Penghargaan untuknya
Saat kecil, KH Sahal Mahfudh tumbuh di bawah asuhan kedua orang tuanya yang terkenal disiplin dan keras, terutama dalam belajar agama. Sang ayah, Kiai Mahfudh mendidik Kiai Sahal kecil secara langsung untuk belajar Al-Quran dan menghafalkan juz amma. Kalau seandainya Sahal kecil tidak hafal, maka sang ayah tidak segan untuk memberikan hukuman kepadanya. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika Sahal kecil sudah mahir membaca Al-Quran dan menghafal beberapa surat pendek. 

Bisa dibilang masa kecil Kiai Sahal penuh dengan dunia keilmuan. Ia belajar ilmu-ilmu agama seperti nahwu, shorof, tafsir, hadis, balaghah, dan sebagainya, dan ilmu-ilmu umum seperti ilmu hisab, bahasa Melayu, dan bahasa Inggris. Namun Sahal kecil tidak puas dengan dua bahasa tersebut, ia tertarik untuk menguasai bahasa Belanda. Kemudian, ia meminta anaknya pak Camat Margoyoso yang notabennya mahir berbahasa Belanda untuk mengajarinya.  

Selain memiliki rasa penasaran yang tinggi akan ilmu, Sahal kecil juga merupakan orang yang kreatif dan memiliki semangat yang tinggi untuk hidup mandiri, terutama dalam hal ekonomi. Itu terbukti saat ia mencoba melakukan bisnis saat usianya masih terbilang belia. Ia menjajakan kacang goreng yang dibungkus plastik ke dalam toples.

Kemudian barang dagangannya tersebut ia taruh di depan rumahnya Mbah Nawawi –salah seorang kiai Kajen yang disegani dan banyak dikunjungi tamu pada saat itu- tanpa ditunggui. Ia membuat semacam kantin kejujuran. Tolpes kacang tersebut habis oleh tamu Mbah Nawawi yang datang untuk sowan ke rumahnya. Sementara mereka menaruh uang di sekitar toples.

Kiai Sahal adalah Kiai aktivis. Ia tidak hanya sibuk dengan kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas, ia juga aktif bergabung dengan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat dengan dan membuat beberapa pelatihan pemberdayaan kehidupan masyarakat sekitar. Ia bergelut pada banyak bidang, mulai dari pendidikan sampai ekonomi. Ia menjalani itu semua dengan kegigihan dan kerja keras.

Maka tidak mengherankan jika banyak pernghargaan yang Kiai Sahal dapatkan, di antaranya adalah Penghargaan Tokoh Perdamaian Dunia (1984), Manggala Kencana Kelas I (1985-1986), Bintang Mahaputra Utama (2000), Tokoh Pemersatu Bangsa (2002), dan Damandiri Award untuk kategori Pembina Usaha Mikro Terbaik (2006).

Ia juga mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa (HC) dalam bidang pengembangan ilmu fikih serta pengembangan pesantren dan masyarakat dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2003. Dan pada haulnya yang kedua, Kiai Sahal juga menerima penghargaan MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah) pada tahun 2016. Penghargaan tersebut diberikan atas kiprah dan kontribusi Kiai Sahal sebagai salah satu pendiri Masjid Agung Jawa Tengah.

Penghargaan-penghargaan tersebut merupakan buah kerja keras yang telah dilakukan oleh Kiai Sahal. Gelar-gelar tersebut lah yang mendatangi Kiai Sahal, bukan Kiai Sahal yang mencari gelar tersebut.

Empat tahun sudah jasad begawan fikih sosial itu meningalkan kita semua. Kiai Sahal Mahfudh wafat pada Jumat, 24 Januari 2014 silam pada usia 78 tahun. Ia dimakamkan di komplek pemakaman Syekh Ahmad Mutamakkin Kajen-Pati, di makam keluarga berdampingan dengan Mbah Salam (kakek KH Sahal Mahfudh dari garis bapak), Mbah Nawawi, Nyai Badi’ah (ibu Mbah Sahal), dan Mbah Abdullah sepuh. Lahul fatihah. (Muchlishon Rochmat)
Sabtu 20 Januari 2018 12:3 WIB
Kiai Idham Cholid dan Mobil Barunya
Kiai Idham Cholid dan Mobil Barunya
(via twitter.com)
Menjadi seorang pejabat setingkat anggota DPR RI memang menuntut mobilitas yang tinggi. Apalagi juga merangkap menjadi pengurus elit PBNU. Alat transportasi menjadi instrumen penting untuk mendukung kesibukan tersebut. Tetapi, di tahun 1950-an menjadi anggota DPR tak seperti saat ini. Kendaraan dinas tak ada dan alat transportasi umum pun tak banyak. Sedangkan untuk memiliki mobil sendiri, meski hanya mobil tua, sangat sulit. Gaji tak cukup untuk membelinya.

Keadaan seperti itu dialami pula oleh anggota DPR dari Partai NU. Dari delapan orang anggota DPR dari NU (1952-1955), hanya dua orang yang punya mobil pribadi, yaitu AS Bachmid dan AA Achsien. Itu pun mobil tua yang kerap kali mogok saat ditumpangi.

Untuk itu, Kiai Idham yang saat itu menjadi Ketua Lapunu (Lembaga Pemilihan Umum NU) menginginkan sebuah mobil. Ia memerlukannya untuk menunjang aktivitasnya yang sangat sibuk menjelang pemilu 1955. NU yang baru saja menjadi partai harus mempersiapkan segalanya dengan baik.

Ketika itu, Kiai Idham mendapat kiriman uang dari kampung halamannya. Uang tersebut, lantas dibelikan sebuah mobil dengan merk "Hilman" berwarna hijau tua. Ia membelinya dengan harga Rp. 18.000. Bukan mobil baru, tapi performanya masih sangat baik.

Mobil baru Kiai Idham itu dibawanya ke gedung parlemen. Ia mengabarkan hal tersebut kepada Kiai Saifuddin Zuhri, salah seorang anggota parlemen dari NU. Ia menunjukkan mobil barunya yang terparkir di bawah pohon beringin. Ia pun turut senang dengan mobil baru kawan seperjuangannya tersebut.

Sepulang dari gedung parlemen, Kiai Saifuddin berniat untuk menebeng mobil Kiai Idham. Tak lupa ia juga mengajak koleganya sesama anggota DPR dari NU, Kiai Ilyas. Ketiganya pun naik mobil berukuran kecil dengan empat tempat duduk itu.

Saat mobil mulai dinyalakan, Kiai Idham mulai memegang kemudi, ketidakberesan mulai terasa. Bukan mesin mobilnya yang tak beres, tapi sopirnya. Kiai Idham masih belum lancar mengemudi. Maklum, ia masih baru memiliki kendaraan roda empat itu.

Mobil yang dikendarai tersebut mulai keluar dari gedung parlemen menuju Jalan Pejambon. Jalannya tak lurus, tidak stabil. Pedal rem sering diinjak tiba-tiba, lalu disusul tancap gas tak kepalang tanggung. Bahkan, saat mendekati Stasiun Gambir mobilnya nyaris menyenggol pengendara sepeda.

Saat itu, sebagaimana kesaksian Kiai Saifuddin dalam buku Guruku Orang-Orang dari Pesantren, Kiai Ilyas yang duduk di sebelah sang sopir berteriak keras. Tak lama kemudian, ia meminta untuk turun.

"Ya akhi, kalau ada orang jual rokok di depan itu, berhenti!" seru Kiai Ilyas pada sang sopir.

Di depan penjual rokok itu, Kiai Idham menghentikan mobilnya. Kiai Ilyas turun. Bukannya membeli rokok sebagaimana anggapan si sopir dan penumpang lainnya, Kiai Ilyas malah ngelonyor. Ia mempercepat jalannya di atas trotoar.

"Mengapa? Hayo naiklah!" seru Kiai Saifuddin.

"Terima kasih! Jalan kaki lebih aman...!" jawab Kiai Ilyas.

Mendengar jawaban dari kawannya tersebut, Kiai Idham pun jengkel. Ia pun berteriak balik kepada Kiai Ilyas yang bergegas menuju arah Prapatan itu, "Penakut....!"

Kiai Ilyas tak peduli. Ia tetap bergegas. Kiai Saifuddin sebenarnya juga merasa takut dengan gaya menyetir Kiai Idham yang baru bisa itu. Tapi tak enak hati untuk ikut turun. Ia pun pindah ke depan menggantikan tempat yang ditinggal Kiai Ilyas. Kemudian perjalanan pun dilanjutkan dengan perasaan berdebar-debar.

Meski sampai di tujuan dengan selamat, namun membuat Kiai Saifuddin tak nyaman. Ia harus menahan pening di kepalanya karena gaya ugal-ugalan si sopir baru. Ia pun tak henti-hentinya merapal shalawat memohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah SWT.

Begitulah risikonya nebeng. Jangan hanya memperhatikan mobilnya, tapi juga sopirnya jika tak ingin dibuat pening dan kalang kabut. (Ayung Notonegoro)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG