Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kelompok Separatis Mulai Kudeta di Yaman Selatan

Kelompok Separatis Mulai Kudeta di Yaman Selatan
foto: Al Jazeera
foto: Al Jazeera
Aden,  NU Online
Perdana Menteri Yaman Ahmed bin Dagher menuduh pasukan separatis selatan yang didukung Uni Emirat Arab (UEA) telah mulai melakukan kudeta setelah mereka menyita beberapa kantor pemerintah dalam bentrok mematikan di kota pelabuhan Aden.  

“Di Aden, legitimasi sedang dijatuhkan,” kata Ahmed bin Dagher seperti dikutip Aljazeera, Ahad (28/1).

Ahmed menyebutkan, apa yang terjadi di Aden adalah sesuatu yang sangat berbahaya bagi keamanan dan stabilitas nasional. Bahkan, kesatuan Yaman secara keseluruhan dipertaruhkan. Baginya, apa yang terjadi di Aden tidak jauh beda dengan apa yang terjadi di Sana’a.

“Apa yang terjadi sangat berbahaya dan mempengaruhi keamanan, stabilitas dan kesatuan Yaman,” katanya.

“Pelanggaran ini tidak berbeda dengan kejahatan yang dilakukan oleh Houthi di Sanaa,” tambahnya.

Bentrokan meletus di Kota Aden pada pagi hari Ahad setelah tentara Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi, yang didukung oleh Arab Saudi, berusaha mencegah kelompok separatis yang didukung oleh UEA, memasuki kota tersebut.

Bentrokan ini menyebabkan 10 orang meninggal dan 30 orang lainnya luka-luka. Dilaporkan, bandara utama kota tersebut juga ditutup. 

Sebelumnya, sebuah gerakan yang menuntut pemisahan diri untuk Yaman Selatan, Southern Transitional Council (STC) telah melayangkan ultimatum selama tujuh hari pada pekan lalu kepada Presiden Hadi untuk menolak Perdana Menteri Ahmed bin Dagher dan kabinetnya atau mereka akan menghadapi penggulingan. 

Menanggapi hal itu, Presiden Hadi menolak untuk didikte dan melarang pertemuan umum menjelang tenggat waktu hari Ahad ini. 

UEA ikut dalam perang Yaman pada Maret 2015 silam. Dilaporkan bahwa UAE telah membiayai dan melatih kelompok bersenjata di selatan Yaman. 

Perang saudara di Yaman telah menyebabkan lebih dari 10 ribu orang terbunuh, jutaan orang beresiko tinggi kelaparan, dan terkena wabah kolera. (Red: Muchlishon Rochmat) 
BNI Mobile