IMG-LOGO
Internasional

Kelompok Separatis Mulai Kudeta di Yaman Selatan

Senin 29 Januari 2018 9:7 WIB
Bagikan:
Kelompok Separatis Mulai Kudeta di Yaman Selatan
foto: Al Jazeera
Aden,  NU Online
Perdana Menteri Yaman Ahmed bin Dagher menuduh pasukan separatis selatan yang didukung Uni Emirat Arab (UEA) telah mulai melakukan kudeta setelah mereka menyita beberapa kantor pemerintah dalam bentrok mematikan di kota pelabuhan Aden.  

“Di Aden, legitimasi sedang dijatuhkan,” kata Ahmed bin Dagher seperti dikutip Aljazeera, Ahad (28/1).

Ahmed menyebutkan, apa yang terjadi di Aden adalah sesuatu yang sangat berbahaya bagi keamanan dan stabilitas nasional. Bahkan, kesatuan Yaman secara keseluruhan dipertaruhkan. Baginya, apa yang terjadi di Aden tidak jauh beda dengan apa yang terjadi di Sana’a.

“Apa yang terjadi sangat berbahaya dan mempengaruhi keamanan, stabilitas dan kesatuan Yaman,” katanya.

“Pelanggaran ini tidak berbeda dengan kejahatan yang dilakukan oleh Houthi di Sanaa,” tambahnya.

Bentrokan meletus di Kota Aden pada pagi hari Ahad setelah tentara Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi, yang didukung oleh Arab Saudi, berusaha mencegah kelompok separatis yang didukung oleh UEA, memasuki kota tersebut.

Bentrokan ini menyebabkan 10 orang meninggal dan 30 orang lainnya luka-luka. Dilaporkan, bandara utama kota tersebut juga ditutup. 

Sebelumnya, sebuah gerakan yang menuntut pemisahan diri untuk Yaman Selatan, Southern Transitional Council (STC) telah melayangkan ultimatum selama tujuh hari pada pekan lalu kepada Presiden Hadi untuk menolak Perdana Menteri Ahmed bin Dagher dan kabinetnya atau mereka akan menghadapi penggulingan. 

Menanggapi hal itu, Presiden Hadi menolak untuk didikte dan melarang pertemuan umum menjelang tenggat waktu hari Ahad ini. 

UEA ikut dalam perang Yaman pada Maret 2015 silam. Dilaporkan bahwa UAE telah membiayai dan melatih kelompok bersenjata di selatan Yaman. 

Perang saudara di Yaman telah menyebabkan lebih dari 10 ribu orang terbunuh, jutaan orang beresiko tinggi kelaparan, dan terkena wabah kolera. (Red: Muchlishon Rochmat) 
Bagikan:
Senin 29 Januari 2018 10:1 WIB
IHA Harap Pemerintah Indonesia Terus Dukung Program Kemanusiaan
IHA Harap Pemerintah Indonesia Terus Dukung Program Kemanusiaan
Cox’s Bazar, NU Online
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan rombongan tiba di kamp pengungsian warga Rohingya di Jamtoli, Cox’s Bazar, Bangladesh, pada Ahad (28/1). Mereka disambut langsung Ketua Indonesia Humanitarian Alliance (IHA)  atau Aliansi Kemanusiaan Indonesia, M Ali Yusuf. 

Ali menyebutkan, Jokowi sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan IHA setelah mendengar dan melihat langsung bantuan yang disalurkan IHA bagi para pengungsi Rohingya di Bangladesh. 

IHA mulai beraktifitas di kamp-kamp pengungsian Rohingya pada September tahun lalu. Hingga hari ini, berbagai macam bantuan kemanusiaan sudah disalurkan IHA untuk warga Rohingya seperti makanan pokok, pompa air, shelter, bantuan medis di kamp kesehatan, dan lain sebagainya.

“IHA mengucapkan terima kasih kepada Presiden dan rombongan yang telah mengapresiasi program IHA,” kata Ali kepada NU Online melalui pesan singkat, Senin (29/1).


Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI-NU) ini berharap, pemerintah Indonesia bisa terus mendukung program-program yang dicanangkan IHA sehingga bantuan kemanusiaan masyarakat Indonesia bisa dirasakan langsung orang di berbagai belahan dunia.

“Berharap terus dukungan dari Pemerintah RI agar peran dan kontribusi kemanusiaan Indonesia semakin diakui dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat di seluruh belahan dunia yang sedang dilanda krisis kemanusiaan,” jelasnya.

Menurut Ali, Jokowi dan rombongan melihat secara langsung kegiatan pelayanan kesehatan yang dilakukan tim medis IHA. 

“Presiden Joko Widodo berkunjung dan melihat langsung kamp kesehatan NU dan Indonesian Humanitarian Alliance (IHA),” ungkapnya. 

Dalam lawatannya kali ini, Presiden Jokowi didampingi Ibu Negara dan Iriana Jokowi, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki, Duta Besar Indonesia untuk Bangladesh Rina Soemarno, dan Ketua Indonesia Humanitarian Alliance M Ali Yusuf. (Red: Muchlishon Rochmat)
Ahad 28 Januari 2018 23:59 WIB
Presiden Jokowi Tinjau Situasi Etnis Rohingya di Kamp Pengungsian
Presiden Jokowi Tinjau Situasi Etnis Rohingya di Kamp Pengungsian
foto: BPMI
Cox’s Bazar, NU Online
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengunjungi salah satu lokasi pengungsian warga Rohingya di Kamp Jamtoli, Cox’s Bazar, Bangladesh, Ahad (28/1). Ini menjadi salah satu agenda Presiden Jokowi selama kunjungan kenegaraannya di Bangladesh.

Jokowi mengatakan, kunjungan ke tenda-tenda pengungsian warga Rohingya ini dimaksudkan untuk meninjau langsung situasi dan kondisi terkini daripada para pengungsi. Selain itu, dalam kesempatan ini Jokowi juga bisa melihat secara langsung kegiatan yang dilaksanakan pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat Indonesia.

“Saya hadir di Kamp Pengungsi Jamtoli ini di Cox's Bazar untuk pertama melihat langsung kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat kita, oleh NGO-NGO kita, dan juga oleh pemerintah," ujar Presiden Jokowi usai kunjungan seperti dilansir akun Instagram @sekretariat.kabinet, Ahad (28/1).

Jokowi mengucapkan terimakasih kepada semua pihak dari Indonesia, baik dari pemerintah ataupun lembaga swadaya masyarakat, yang selama ini telah mendukung dan memberikan bantuan nyata kepada para pengungsi Rohingya.

“Saya juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak dari Indonesia, termasuk masyarakat, LSM kemanusiaan,” lanjut Jokowi.

Jokowi sempat berinteraksi langsung dengan para pengungsi Rohingya. Pada kesempatan ini, Jokowi memberikan bantuan kemanusiaan dan kesehatan seperti pompa air, klinik pengobatan, dan sejumlah fasilitas kesehatan lainnya. 
Dia menegaskan, Indonesia akan terus membantu para pengungsi Rohingya yang ada di Bangladesh. 

“Bantuan kemanusiaan ini akan kami berikan secara berkesinambungan,” ucapnya.

Jokowi juga meninjau aktifitas dan kinerja Kamp Kesehatan Indonesia Humanitarian Alliance (IHA) dan The Dreamers. Kamp kesehatan ini merupakan salah satu fasilitas kesehatan hasil kerja sama pemerintah, LSM, dan organisasi Indonesia. Letak kamp kesehatan ini cukup strategis karena berada di salah satu lokasi kamp pengungsian dengan jumlah pengungsi 50.500 orang, yaitu Jamtoli.

Dalam lawatannya kali ini, Presiden Jokowi didampingi Ibu Negara dan Iriana Jokowi, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki, dan Duta Besar Indonesia untuk Bangladesh Rina Soemarno. (Red: Muchlishon Rochmat)
Ahad 28 Januari 2018 17:34 WIB
Presiden Bangladesh Harap Indonesia Bantu Proses Pemulangan Rohingya
Presiden Bangladesh Harap Indonesia Bantu Proses Pemulangan Rohingya
Bangabhaban, NU Online
Presiden Bangladesh Abdul Hamid meminta dukungan dari Indonesia untuk mengembalikan warga Rohingya secara aman dan bekelanjutan ke wilayah negara Bagian Rakhine Myanmar.

Hal ini disampaikan Hamid saat menerima kunjungan kenegaraan Presiden Indonesia Joko Widodo di Bangabhaban Bangladesh, Sabtu (27/1). 

Kepada Presiden Jokowi, Presiden Hamid menyebutkan bahwa saat ini ada satu juta lebih pengungsi Rohingya yang tinggal di beberapa wilayah perbatasan Bangladesh. Mereka terpaksa pindah dari Myanmar karena adanya operasi militer tentara Myanmar yang membabi-buta di desa-desa mereka. Selama ini, Bangladesh berupaya untuk menerima dan menjamu para pengungsi Rohingya tersebut dengan baik meski banyak tantangan yang menghadang.

Seperti dikutip Dhakatribune, Ahad (28/1), Presiden Jokowi berharap bahwa kesepakatan yang telah ditandatangani Pemerintah Bangladesh dan Myanmar soal repatriasi (pemulangan) pengungsi Rohingya bisa segera dilaksanakan dengan baik. 

Ia juga berharap proses pemulangan pengungsi Rohingya bisa berjalan dengan aman, bermartabat, dan berkelanjutan. 

Presiden Jokowi direncanakan mengunjungi kamp-kamp pengungsian Rohingya Ahad siang ini. 

Sekitar 650 ribu Muslim Rohingya telah meninggalkan Negara Bagian Rakhine di barat Myanmar pada Agustus tahun lalu setelah tentara Myanmar melakukan operasi militer di wilayah tersebut. Mereka mengungsi ke beberapa wilayah perbatasan Bangladesh.

Pada November tahun lalu, Pemerintah Bangladesh dan Myanmar menandatangani kesepakatan bersama terkait dengan pemulangan pengungsi Rohingya. Tahun ini, para pengungsi diharapkan bisa kembali ke Myanmar, tempat dimana mereka lahir dan tumbuh. (Red: Muchlishon Rochmat)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG