IMG-LOGO
Wawancara
HARLAH KE-92 NU

Katib ‘Aam: Dunia Berharap NU Beri Solusi Masalah Peradaban

Selasa 30 Januari 2018 19:23 WIB
Bagikan:
Katib ‘Aam: Dunia Berharap NU Beri Solusi Masalah Peradaban
Sejak awal berdiri, NU tidak hanya berperan dalam permasalahan tingkat lokal, nasional, tapi juga internasional. NU berperan dalam upaya kebebasan bermazhab di Arab Saudi dengan membentuk Komite Hijaz. Upaya itu berhasil. Upaya-upaya lain, ketika menjadi partai, NU berperan aktif dalam Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA). Peran-peran internasional masih dilakukan hingga hari ini. 

Pada tahun 1931, salah seorang pendiri NU, KH Wahab Hasbullah dalam catatannya di Swara Nahdlatoel Oelama mengatakan, keanggotaan NU melintasi batas negara, asal beragama Islam dan mengikuti salah satu mazhab empat, yaitu Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali. Anggota NU juga tunduk kepada hukum-hukum negara di mana ia hidup. Tidak berupaya meruntuhkan ideologi dan menghancurkan negara di mana ia tinggal.  

Karena itulah, sejak awal berdiri, NU telah memiliki Cabang di Singapura yang hadir pada muktamar 1937 di Malang. Cabang Singapura berdiri ketika KH Wahab Hasbullah hendak menyampaikan Komite Hijaz. Beberapa ulama, misalnya dari India, Mesir, Timur Tengah, salah seorang di antaranya Syekh Ali Thayib pernah hadir di muktamar NU keempat tahun 1929 di Semarang. Ia mengikuti majelis-majelis bahtsul masail kiai NU.  

Jika kita buka pemberitaan NU di Swara Nahdlatoel Oelama, Berita Nahdlatoel Oelama, dan Oetoesan Nahdlatoel Oelama, akan ditemukan rubrik yang berisi pemberitaan dunia internasional. Isinya tidak melulu masalah agama, tapi politik, ekonomi, dan kebudayaan. Sejak awal, kiai-kiai NU telah melek dunia. Itu di tingkat pusat. Majalah Al-Mawaidz milik Cabang NU Tasikmalaya (terbit tiap minggu pada 1933-1935) memiliki rubrik Dunia Islam. Sejak awal mata kiai NU menjangkau dunia.

Tak usah jauh-jauh, lihat saja lambang NU. Bola dunia, bukan? Itu artinya, sejak awal memang memiliki orientasi internasional. Namun, seperti dinyatakan Kiai Wahab tadi, NU tidak bercita-cita meruntuhkan batas-batas negara. 

Nah, untuk mengetahui peran-peran NU di dunia internasional setelah 92 tahun berdiri, Abdullah Alawi dari NU Online mewawancarai Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf di ruangannya, Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (25/1). Berikut petikannya:       

Bulan ini, berdasarkan penanggalan Masehi, NU akan genap harlah 92 tahun. Bisa cerita bagaimana peran internasional NU?

Dunia internasional sebetulnya sudah melihat track record NU dalam dekade terakhir, dan telah berkembang opini bahwa masyarakat dunia bahwa NU punya potensi untuk meyediakan solusi bagi masalah-masalah peradaban yang sedang dihadapi dunia saat ini. Maka sekarang, bagaimana NU berupaya untuk merealisasikan harapan masyarakat dunia itu. Masyarakat dunia sudah berharap bahwa NU memberikan solusi terhadap masalah-masalah peradaban. 

Harapan mereka itu ditunjukkan dengan apa? 

Coba perhatikan pemberitaan googling dengan kata kunci Nahdlatul Ulama semua yang keluar adalah statement-statement (pernyataan), ekspresi berharap kepada NU. Googling saja. Apakah media Barat, Timur Tengah, semuanya isinya ekspresi harapan bahwa NU memberikan jalan keluar masalah dunia hari ini, yaitu masalah konflik yang berlarut-larut, bukan hanya yang terkait dengan Islam, tapi terkait dengan benturan-benturan peradaban pada umumnya. Googling saja. Dan kedua, coba liat, semua orang tamu yang datang ke sini (gedung PBNU), dengarkan pendapatnya, semua orang berharap pada NU. 

Bisa disebutkan contohnya? 

Kemarin malam LDNU juga. Dengarkan omongan setiap orang. Semua berharap kepada NU. Kamu dengarkan orang-orang yang datang ke JATMAN itu dari seluruh dunia, semua berharap kepada NU. Dari mana mereka berharap kepada NU? Karena mereka melihat track record NU selama sekian puluh tahun terakhir, sepanjang sejarah, sekian puluh tahun terakhir, karena semuanya ada. Mulai dari awal berdirinya NU sampai sekarang, track recordnya jelas, bahwa NU ini memang berjuang dengan cita-cita peradaban. Nah, maka sekarang, bagaimana kita berupaya mewujudkan harapan dunia ini. Dunia sudah berharap. Yang tidak berharap silakan saja. Tapi yang lain berharap, Jerman, Amerika, Belgia, Inggris, semuanya ekspresi harapan. Jepang, berharapa kepada NU. Bagaimana kita menjadikan harapan ini nyata, memenuhi harapan dunia ini, kita menyodorkan solusi dunia ini.

Nah, dari mana solusi itu? Dari track record kita sendiri. Jadi, enggak usah ngarang. Tidak usah mencari-cari dalil baru. Sudah ada semua. Cuma kalian sendiri tak mau baca. Kenapa kalian tidak ingat pidato KH Ahmad Shiddiq di Situbondo tentang ukhwan insaniyah (persaudaraan sesama umat manusia), ukhwah wathoniyah (persaudaraan sesama warga negara), ukhwah islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam); kenapa kalian tidak ingat khittah, kenapa kalian tidak ingat Mukadimah UUD 1945.

Sekarang mau nyari dalil sendiri, mau dilurus-luruskan supaya gimana caranya sama dengan KH Hasyim Asy’ari, tidak begitu caranya. Caranya adalah melihat perjalanan NU dari seluruh perjalanan, tidak hanya dari KH Hasyim Asy’ari. Karena ini pergulatan yang tidak terjadi di negara mana pun. Itu sudah ada dalil yang jelas bahwa NU tidak boleh dipakai untuk politik praktis. Tiba-tiba nemu dalil baru, yang ini mau dilupakan; bagaimana ceritanya ini. Ini merusak sejarah NU. Tak boleh begitu. Pulang dari Timur Tengah, terus qaulnya KH Ahmad Shiddiq tak dipakai, qaulnya kiai Ali Ma’shum tidak dipakai, gimana ceritanya itu. Enak saja, dianggap tidak mu’tabar, dikiranya dia saja yang ngaji, orang yang dulu-dulu tidak ngaji apa atau gimana? 

Untuk memenuhi pemintaan masyarakat dunia itu, apa dan bagaimana yang dilakukan NU? 

Kita tidak bisa memenuhi harapan itu kalau kita enggak paham track recordnya NU. Kalian tidak paham, mau gimana? Kalau kalian tidak paham, kalian sama dengan orang Pakistan itu.

Jadi, upaya-upayanya NU bagaimana? 

Sebetulnya tidak perlu ngos-ngosan mencari peluang internasional. Undangan itu sudah tidak karu-karuan. Orang-orang itu ingin mendengar apa yang dikatakan NU. Semakin lama, kantor ini semakin sepi. Apa tidak terasa? Rais ‘Aam kemana-mana, ke luar negeri. Ketua Umum diundang ke mana-mana ke luar negeri. Semua ingin mendengar tentang NU. Bukan cuma itu, ada Pak Marsudi ke mana-mana, Savic Ali ini sekarang ke London. Sekarang ini kita tidak perlu ngos-ngosan mencari platform (rencana kerja; program), panggung untuk internasional. Nah, sekarang tinggal bagaimana kita konsisten dengan artikulasi tentang NU. Jangan bolak-balik, ke sana ke mari; sudah, NU adalah Khittah Nahdliyah, Pembukaan UUD 45, Pancsila, Bhineka Tunggal Ika, itu sudah. Jangan ngomong yang enggak-enggak. 

Apakah ini artinya NU sedang menyelesaikan internal dulu sebelum memenuhi permintaan dunia?

Sebetulnya sih sekarang posisinya sudah tidak begitu. Kalau orang sekarang mengaku NU, ngomongnya tidak sama dengan track record NU, tidak akan dianggap. Lihat saja. Dunia sudah tahu. Sudah tahu logikanya NU kayak apa. Sudah menjadi persepsi dunia. Jadi, misalnya, ada orang yang mengaku NU di sana, kemudian bilang, orang kafir itu tidak boleh jadi pemimpin, itu pasti tidak akan dianggap. Orang sudah punya frame NU itu bagaimana. 

Peran PCINU untuk memuluskan cita-cita NU memenuhi keinginan dunia itu bagaimana? 

PCINU harus sumbangkan sisi NU ini. PCINU di Yaman harus ngomong apa yang visinya NU di PBNU dong. Kalau PCINU ini yang kita butuhkan adalah PCI berfungsi sebagai kedutaan. Jadi dia membawakan visinya NU kepada orang Yaman. Jangan maksa-maksain pikirannya orang Yaman ke NU, tidak boleh. Di Mesir juga harus membawakan visinya orang NU ke Mesir. Di Sudan, visinya NU kepada orang Sudan. Turatsnya begini. Orang NU bukan cuma turats pegangannya. NU itu mendialogkan teks dengan konteks. Bukan cuma teks. Jadi enggak bisa cuma gaya-gayanan ngafalin teks, tak ada gunanya. 

Faktor apa yang bisa menyebabkan kiai-kiai NU mampu mendialogkan teks dengan realitas? 

Karena ada tradisi riayah (memimpin dalam arti ngemong, red.) di sini. Kiai-kiai kita, sejak berabad-abad yang lalu, punya tradisi untuk melakukan fungsi riayah, ngemong kepada umat, dan ini hanya ada di sini. Di timur Tengah tidak ada ulama riayah, yang ada sulthan, ulamanya tidak mau tahu, nasibnya bagaimana, tidak mau tahu. Hanya di sini, di Nusantara ini, ulamanya melakukan riayah, hanya di Nusantara. Hanya di Nusantara. Tak ada di tempat lain.

Lalu, kenapa hanya ada di Nusantara?

Karena memang ulama yang datang ke sini berdakwah dengan visi membangun peradaban baru di sini. Kenapa? Karena elemen-elemen ysang fundamental di dalam peradaban yang tumbuh di Timur Tengah dan di tempat-tempat lain sudah dianggap tidak punya energi cukup besar untuk besar. Maka itu riwayatnya Kiai As’ad tentang Raden Rahmatullah; Kiai As’ad mengatakan, Raden Rahmatullah ketika bermukim di Mekkah, beliau dirawuhi Kanjeng Nabi. Kanjeng Nabi mengatakan, kamu bawalah Islam ke Jawa sana. Tanah Arab ini sudah tidak kuat menyangganya. Kiai As’ad Syamsul Arifin yang mengatakan. Perintahnya Rasululllah kepada Raden Rahmatullah, bawa Islam ini bawa ke Tanah Jawa karena Tanah Arab ini tidak kuat menyangganya. Raden Rahmatullah dan lain-lain datang ke sini ingin membangun peradaban. Membangun peradaban itu apa? Bergulat dengan realitas, bukan cuma mikir teks, manthiqnya bagaimana, metodologi, enggak, realitasnya kayak apa. Sampai saat ini tidak ada kiai NU yang meminta hukuman potong tangan. Mereka melihat realitas. Padahal di dalam ktab isinya potong tangan kabeh (semua). Bergulat dengan realitas. Karena bergulat dengan realitas, akan tumbuh peradaban. 

Apakah itu mungkin watak dasar orang Nusantara? 

Ya, watak dasar orang Nusantara karena memiliki basis peradaban yang kuat kenapa Kanjeng Nabi nunjuk, bawalah ke Jawa tidak bawalah ke Amerika misalnya, saya kira ada sesek-melek dengan Jawa. Karena ada peradaban Jawa yang sangat kuat dan kompatibel (serasi) dengan ruh Islam, dengan ruh Islam, ruhnya. Kompatibel. Makanya sangat cepat. Masak dalam 40 tahun Islam semua sak Nusantara. Padahal Islam sudah datang di sini sekian abad sebelumnya. Ada yang bilang, bahkan generasi pertama sahabat itu sudah ada yang sampai ke Nusantara, tapi tidak terjadi islamisasi. 

Fitnah terhadap NU dan kiai-kiainya yang belakangan marak di medsos, apakah itu upaya untuk menggerogoti agar NU tak mampu memainkan perananannya, termasuk memenuhi peran dunia? 

Jelas, itu orang-orang hasud aja. Dan dimana-mana, gimana, penyakit kita obatnya. Ya sudah wajar penyakit ya musuhnya obat di mana-mana. Apa sekarang modal mereka? Tak ada. Mereka tak ada pikiran alternatif kok. Adanya fitnah tok. Apa pikiran alternatifnya untuk solusi dunia? Tak ada. Mereka teriak Palestina, Palsetina, Palestina. Terus Palestina disuruh apa? Mana ada yang ngerti. Mereka teriak ayo perjuangkan Islam bersatu, terus ngapain? Orang Yaman itu, tanya, mereka bagaimana mmenyelesaikan konflik mereka? Tak ada yang ngerti. Aku ngerti. Sini tak ajarin kalau mau. Aku ngerti caranya. Sini tak ajari kalau mau. Tanya orang Syiria bagaimana caranya berhenti? Tak mengerti mereka. Tanya orang Libya bagaimana caranya menjadi damai? Enggak ngerti. Aku ngerti. Saya tahu dari mana akar konfliknya. Saya tahu siapa saja yang terlibat. Saya tahu kepentingan masing-masing. Saya tahu bagaimana mengakses mereka. Tapi mau enggak. Golekno ayat, tak ketemu. Golekno ayat ketemune suwuk. Geopolitik ini. 

Terkait memenuhi keinginnan dunia itu, supaya ini tercapai dengan cepat, apa yang ingin Anda sampaikan kepada Nahdliyin secara umum, PCINU, terutama kepada anak-anak muda NU?

Pertama sikap. Sikap kita harus juajur kepada realitas apa adanya tentang kenyataan. Apa yang menjadi masalah harus kita aku sebagai masalah. Tak boleh ditutup-tutupi. Masalaha ya masalah, karena masalah kalau tidak diakui, tidak ada jalan keluarnya. Harus jujur, itu satu. Kedua, motivasi. Motivasi kita jelas. Kita mewarisi cita-cita peradaban dunia. Sebagai bangsa Indonesia ini, kita mewarisi cita-cita peradaban dunia. Bapak-bapak kita dahulu mendirikan bangsa ini sebagai titik tolak untuk memperjuangakan untuk peradaban umat manusia secara keseluruhan di masa depan. Apa gagasannya? Tentang kemerdekaan. Tentang penghapusan penjajahan di seluruh dunia. Dan untuk memperjuangkan satu tata dunia yang berdasarkan ketertiban dunia itu kan tata dunia; berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sangat jelas itu. Unsurnya kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan. Ini cita-cita bangsa yang jadi motivasi kita.

Lalu apa konsep solusi yang bisa kita tawarkan? Pertama-tama harus kita pahami realitasnya bahwa kita di dalam dunia ini penuh dengan pertentangan di mana-mana. Kalau kita sekarang melihat bahwa Timur Tengah kacau-balau, bukan cuma Timur Tengah; seluruh dunia kacau-balau. Di mana akar dari kekacauan itu? konflik-konflik yang terjadi di mana-mana itu? Akarnya adalah karena setiap golongan ingin merebut dominasi dengan menindas yang lain. Itu terjadi di mana-mana. Terjadi di Amerika, terjadi di Eropa, dengan alasan macam-macam, dengan alasan ras, dengan alasan agama; terjadi di India, terjadi di mana-mana. Satu golongan ingin menjadi dominan dengan menindas yang lain. Termasuk orang Islam di mana-mana; ingin mendominasi, ingin menindas non-Muslim di mana-mana. Ini yang menimmbulkan konflik yang tidak punya jalan keluar.

Maka jalan keluarnya kita harus punya platform bersama. Kita harus akui bahwa perbedaan itu ada. Bagaimana perbedaan itu diolah supaya tidak terjadi kekerasan. Platform bersama itu harus memuat elemen. Pertama, harus ada empat elemen konsensus. Elemen pertama, bahwa sesama manusia adalah setara tanpa permusuhan; warga yang setara tanpa permusuhan. Lepas dari berbagai macam-macam perbedaan agama, ras dan sebagainya. Yang kedua, tidak boleh menggunakan agama sebagai sebagai alat, sebagai senjata untuk mencapai tujuan-tujuan politik. Yang ketiga, harus menerima negara sebagai sistem politik yang mengikat semua warga. Yang keempat, harus menerima dan menaati hukum negara yang sah, yang dihasilkan oleh proses yang sah menurut tatanan negara yang bersangkutan dan tidak menjadikan agama sebagai alasan untuk melawan hukum dan atau memberontak kepada pemerintah yang sah.
Empat konsensus dari mana atau dari siapa?

Dari kita. Muncul dalam Konferensi Internasional Ansor dalam deklarasi Ansor tentang Islam untuk kemanusiaan. Dalilnya mana? Cari! Yang ahli dalil, muter-muter, pokoknya ini. Kalau enggak pakai ini, enggak selamat. Gitu aja. Dalilnya mana, cari! Yang ahli dalill, silakan cari dalilnya. Tapi realitas membutuhkan konsensus itu untuk keselamatan peradaban. Kalau enggak, enggak selamat, peradaban runtuh. Artinya apa? Ini adalah tradisi riayah ulama kita yang melihat realitas dan kebutuhan masyarakat yang riil, makanya kita tidak bicara ayatnya begini, haditsnya begini, kita tidak hanya bicara itu saja; kebutuhan mereka itu apa? Bagaimana sebaiknya supaya maslahah; kan peradaban itu realitas. Kita bukan hanya butuh nulis kitab. Kita ini butuh mencari jalan keluar dari masalah nyata yang terjadi.  

Bagikan:
Kamis 25 Januari 2018 15:38 WIB
Kemerdekaan Jadi Resep Produktif Menulis
Kemerdekaan Jadi Resep Produktif Menulis
KH A Mustofa Bisri (Foto via Facebook Kays Mukhollad)
KH A Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus mendapat penghargaan di bidang Hak Asasi Manusia, Yap Thiam Hien Award, Rabu (24/1) malam. Meski selama ini tidak terlibat secara langsung ataupun bersuara lantang terkait isu-isu Hak Asasi Manusia di Indonesia, namun Gus Mus banyak menyuarakan penegakan HAM, di antaranya lewat karya tulisan.

Melalui sebuah kesempatan wawancara kala bersua Gus Mus di Kartasura Sukoharjo Jawa Tengah, belum lama ini (11/12), kontributor NU Online Ajie Najmuddin mendapatkan sekelumit kisah tentang awal mula Gus Mus mulai menulis. 

Kiai, apa resepnya sehingga dapat menghasilkan banyak karya?
Kemerdekaan! Alhamdulillah, saya memiliki guru yang banyak memberikan saya kemerdekaan, yang penting prinsip mereka kita laksanakan, yang lainnya bebas. Seperti Kiai Maksum dan Kiai Bisri. Saya banyak dididik dari mereka berdua. Beliau memiliki prinsip yang mesti saya tegakkan, misal prinsip saya kepada Tuhan, kemudian prinsip bahwa belajar itu tidak boleh saya tinggalkan sampai sekarang.

Di pesantren juga diajarkan sastra?
Alhamdulillah, di pesantren saya juga diajarkan selain gramatika ada pula ilmu balaghah, sebetulnya balaghah itu ilmu sastra. Ilmu balaghah ini juga digunakan untuk mengapresiasi keindahan Al-Qur’an. Jadi, kalau yang tidak belajar balaghah hanya membaca terjemahan bisa keliru memahami Al-Qur’an.

Karena Al-Qur’an itu justru keistimewannya di sastra itu. Disebut mukjizat, salah satunya karena ahli sastra pun tidak bisa mengungguli Al-Qur’an, bahkan menyebut Al-Qur’an di atas sastra. Kalau kita hanya melihat terjemahan Al-Qur’an akan kacau, lebih kacau lagi kalau menggunakannya untuk sastra.

Kembali pada ilmu balaghah, banyak kiai yang menggunakan balaghah tidak hanya untuk mengapresiasi keindahan Al-Qur’an, tapi juga untuk memproduksi karya sastra. Cuma karena kiai lebih akrab dengan bahasa Arab, maka kiai banyak memproduksi karya dengan bahasa arab.

Kita lihat Kiai Hasyim Asy’ari punya karya prosa dan puisi dalam bahasa Arab. Kiai Abdul Hamid Pasuruan sejak di Tremas dijuluki adib artinya satrawan, beliau punya antologi puisi dalam bahasa Arab. Kakak saya Kiai Cholil memiliki ta’lif dalam bahasa Arab, belum Kiai Mahfud Shiddiq, Kiai Mahfud Tremas.

Bukankah banyak kiai yang menulis kitab berbahasa Jawa (pegon)?
Belakangan ini saja banyak yang bahasa Jawa. Kalau yang akrab dengan bahasa Jawa, mereka akan produksi dalam bahasa Jawa, misal ayah saya (KH Bisri Musthofa, red) banyak karya dengan bahsa Jawa. Kiai Ali Maksum juga karya puisi yang sangat bagus dalam bahasa Jawa. Karena saya agak akrab dengan bahasa Indonesia, maka saya tulis dengan bahasa Indonesia, dan itu saya lakukan sejak di pesantren.

Sejak kapan kiai gemar menulis?
Sewaktu saya remaja, saya bersaing dengan Kiai Cholil (kakak Gus Mus, red). Kalau Kiai Cholil menulis di sebuah koran lokal, terus (karyanya) digunting ditempel di kamar kami di pondok, itu untuk manas-manasi saya saja, nama dia termuat di koran. Kemudian gantian, kalau saya yang dimuat saya tempel, dia terpacu lagi.

Ketika saya di Mesir saya diajak Gus Dur untuk membuat majalah HPPI. Majalah itu praktis hanya kami berdua saja yang buat, apakah cari berita, ngetik, jilid, sebarkan kami berdua terutama Gus Dur. Kalau tidak ada narasumber yang nulis, Gus Dur tulis sendiri. Kadang kalau masih ada yang kosong, saya isi dengan puisi, lukisan, ilustrasi, dan begitu berlangsung terus sampai ketika pulang (Indonesia).

Apa pentingnya menulis (di awal berkeluarga)?
Sewaktu saya pulang (dari Mesir) ke pesantren, tidak banyak keahlian yang saya miliki. Pun sewaktu sudah berkeluarga, yang saya pikirkan yang tersirat ya hanya menulis! Waktu itu pertama kali berkeluarga, hanya nyagerno (mengandalkan) tulisan.

Ayah saya pekerjaannya menulis, maka saya harus menulis! Karena tidak punya keahlian yang lain. Mau jadi pegawai tidak bisa, karena ijazah SR saya hilang. Habis itu saya tidak pernah sekolah, hanya mondok di Lirboyo, di Krapyak sekolah juga dropout. Jadi tidak ada instansi yang mau menerima ijazah hanya S-1 saja.

Saya tanya kepada paman saya Kiai Misbah, kalau saya menggunakan nulis sebagai maisyah bagaimana? Ya, bisa saja, jawab beliau. Saya begitu, ayah kamu juga menulis!

Bisa cerita pengalaman awal menulis di media?
Saya dulu aktif (menulis) di Intisari. Bukan apa-apa, karena waktu itu honornya paling tinggi, gambarannya kalau Suara Merdeka 1 artikel masih Rp. 2.500, intisari sudah Rp. 7.500. Kalau anak saya minta apa-apa, ya tunggu tulisan dimuat.

Sampai, ayah saya pernah bawakan tulisan di Intisari, tanya ini dapat berapa? Kemudian suatu hari minta saya menerjemahkan kitab kecil. Setelah saya terjemahkan, sebulan kemudian saya dikasih uang Rp. 50.000, sambil berkata: “ini honor terjemahan, banyak mana dengan Intisari? Sejak itu, saya terus berusaha menulis sendiri, saya terjemahkan kitab-kitab.

Di awal tahun ini, mungkin kami bisa mendengar nasihat ringkas dari kiai?
Saya selalu kalau dimintai nasihat, nasihat saya satu, jangan pernah berhenti belajar. Terutama, belajar tentang agama itu sendiri. Boleh berhenti sekolah tapi jangan berhenti belajar!

Sebab terbukti di dalam masyarakat yang banyak bikin masalah itu orang yang berhenti belajar, terutama mereka yang berhenti belajar karena merasa sudah pandai, lalu berfatwa dan kemudian menyalahkan orang lain.

Kalau mereka mau rendah hati untuk terus belajar, insya Allah hal itu tidak akan terjadi. Kita mesti ingat perintah Nabi, menuntut ilmu itu minal mahdi ila lahdi yakni sejak dalam ayunan hingga liang lahat.

(Red: Syaifullah)
Kamis 18 Januari 2018 20:30 WIB
Santri, Pesantren, dan Entrepreneurship
Santri, Pesantren, dan Entrepreneurship
Santri dikenal sebagai orang yang memiliki sifat mandiri dalam hidup. Tidak bergantung kepada orang lain. Mereka jauh dari orang tua dan sanak famili, sehingga semuanya dikerjakan sendiri di pesantren. Disebutkan pula bahwa santri adalah pengambil resiko (risk taker). Ia meninggalkan kenyamanan yang ada di rumah dan tinggal di pesantren yang fasilitasnya seadanya. 

Dari beberapa sumber yang ada, dua sifat tersebut di atas adalah sifat dasar daripada seorang entrepreneur atau pengusaha. Jika memang seperti itu, sebetulnya santri sudah memiliki modal awal untuk menjadi seorang entrepreneur, tapi di lapangan kita bisa hitung berapa santri yang menjadi seorang entrepreneur? Pasti lebih banyak yang tidak.  

Data tahun 2014 menyebutkan kalau jumlah santri aktif atau yang masih belajar di pondok pesantren adalah 3,65 juta. Jika dikalkulasi dengan mereka yang sudah lulus, tentu jumlahnya puluhan juta. Jumlah pondok pesantren kita juga tidak kalah banyak, ada sekitar 28 ribu pesantren di Indonesia sebagaimana yang tercatat oleh Kementerian Agama RI. 

Sebuah jumlah yang tidak sedikit, andaikan saja semuanya –atau setengahnya- menjadi seorang entrepreneur maka santri dan pesantren bisa saja lebih makmur. Akan tetapi sepertinya sifat dasar entrepreneur yang dimiliki seorang santri tersebut –mandiri dan berani mengambil resiko- tidak berbanding lurus dengan pekerjaan yang ditekuni. Mungkin lebih banyak santri yang masuk dunia partai politik daripada dunia entrepreneurship.

Terkait hal ini, Jurnalis NU Online A Muchlishon Rochmat berhasil mewawancarai Presiden Direktur Benhokk Property yang juga Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Tangerang Selatan (PCNU Tangsel) Nurul Yaqin pada Rabu, (17/1) di kediamannya di Ciputat Tangerang Selatan. Dulu, dia pernah nyantri di Perguruan Islam Mathali’ul Falah selama 6 tahun. Saat ini, ia aktif di berbagai organisasi asosiasi real estate, seperti Ketua Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) dan Ketua Kompartemen di Real Estate Indonesia (REI). Berikut hasil wawancaranya:

Menurut Anda, dari jutaan bahkan puluhan juta santri yang ada, berapa prosentase santri yang betul-betul menjadi seorang entrepreneur?

Mungkin tidak sampai 20 persen santri yang menjadi seorang entreprneur.

Mengapa bisa demikian. Bukan kah santri itu memiliki sifat mandiri? Dan sifat mandiri itu merupakan sifat dasar daripada seorang entrepeneur?

Pertama, karena ada anggapan kalau entrepreneur atau dagang itu bersifat keduniaan. Kedua, entrepeneur itu bukan sesuatu yang given (yang diberikan). Di dalam entrepreneur, yang dominan itu bukan knowledge (pengetahuan), namun insting. Asal-muasal insting adalah dari interaksi sosial di dalam komunitas. Dari interaksi sosial, ia kemudian beradaptasi dan mengikuti hingga akhirnya tumbuh lah insting. Jika interaksi sosialnya dipenuhi dengan hal-hal yang berkaitan dengan entrepeneur, maka ia akan memiliki insting menjadi seorang entrepeneur.

Apa relevansinya dengan santri dan pesantren?

Di pesantren tidak diciptakan tradisi atau budaya menjadi seorang entrepeneur. Santri-santrinya tidak memiliki kebiasaan akan hal itu. Ketika keluar pesantren, maka mereka lebih cenderung terjun ke sektor-sektor keagamaan sebagaimana yang ditekankan dalam dunia pesantren. Di pesantren, seorang santri dilatih membaca tahlil, manaqib, dan pidato. Sehingga insting yang mereka miliki cenderung ke arah keagamaan.

Aktifitas-aktifitas tersebut harus memiliki pondasi, yaitu ekonomi. Karena segala aktifitas itu tidak bisa lepas dari ekonomi. Ini yang miskin di pesantren. Sangunya (saku) tidak dibicarakan di pesantren, tapi perjalanannya dibicarakan dan didiskusikan. Sehingga santri tergopoh-gopoh ketika keluar. Mereka mengalami mental shock. 

Jadi apa yang mestinya dilakukan supaya santri tidak mengalami mental shock ketika mereka selesai belajar di pesantren?

Mestinya erntrepreneur menjadi kurikulum utama agar lulusan pesantren memiliki kompetensi untuk pemberdayaan ekonomi. Hal itu bisa dimulai dengan membangun suatu kebiasaan dalam berbagai bentuk dan model, seperti aplikasi langsung atau dibangun sekolahan kejuruan di pesantren. Mestinya, membangun pengetahuan dan keterampilan itu harus sama dan berbanding lurus. Jangan pengetahuannya saja yang diperkaya, sementara keterampilannya minim.

Tidak sedikit pesantren yang menyelenggarakan workshop atau seminar dengan tema entrepreneurship. 

Berbicara entrepreneur itu bukan berbicara knowledge (pengatahuan). Kalau kebanyakan seminar, maka mereka yang dilatih akan menjadi trainer. Jadi men-training orang untuk menjadi trainer, bukan men-training orang untuk menjadi entrepreneur. Yang terjadi sekarang adalah seperti itu. Yang nular adalah ilmunya saja, padahal tujuan utamanya adalah bagaimana orang tersebut memulai kegiatan entrepreneurship. Yang saat ini perlu dilakukan adalah bagaimana membuat orang mulai mencoba terjun untuk menjadi entrepreneur.

Kunci pertama pada level awal untuk menjadi seorang entrepreneur adalah memulai, bukan pengetahuan. Meski tidak memiliki pengetahuan, entrepreneurship bisa jalan. Hal ini juga sudah dipraktikkan di pesantren. Jika kita survei, rata-rata anak yang mondok disuruh orang tuanya. Anaknya sendiri takut untuk mondok karena keterbatasan yang ada. Dalam jangka waktu satu tahun atau dua tahun, ketakutan tersebut hilang dengan sendirinya. Kenapa praktik itu tidak disubsitusikan dalam membangun persepsi tentang entrepreneurship.

Jangan di-training terus. Training itu kan suplemen, jika orang dikasih suplemen terus maka lama-lama ia akan sakit. Padahal memutuskan untuk memulai itu jauh lebih penting daripada pengetahuan yang banyak namun tidak dimulai-mulai. Semakin banyak pengetahuan, maka ia akan semakin takut untuk memulai. Pengetahuannya bisa didapat setelah memulai.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa santri itu adalah orang yang sangat berani dalam mengambil resiko? Namun lagi-lagi mengapa itu tidak bisa di-copy paste-kan dalam dunia entrepreneurship?

Sebetulnya dari segi mental, santri itu adalah risk taker (pengambil resiko). Anak lulusan sekolah dasar kemudian nyantri di pesantren. Otomatis dia harus mengontrol sendiri semua kebutuhannya. Artinya, karakter independensi mental itu dibangun di pesantren. Ini yang menjadi karakter seorang entrepreneur. Pesantren sudah membangun mentalitas menjadi seorang entrepreneur, namun tidak disalurkan. 

Semuanya sudah ada di pesantren; risk taker, independensi, belajar memanaj. Ini mestinya dibangun dan dikembangkan.  

Di pesantren, nilai-nilai yang ditanamkan adalah kesederhanaan. Mereka juga disuguhi cerita-cerita Nabi Muhammad, sahabat, dan ulama-ulama dari sisi yang miskinnya. Padahal Nabi Muhammad dan banyak sahabat yang kaya. Apakah ini juga yang membentuk mental santri sehingga seolah-olah ‘menjauh’ dari dunia wirausaha?

Saat kanak-kanak, Nabi Muhammad menjadi seorang pengembara. Remajanya menjadi pedagang. Dewasanya menjadi pengusaha. Tuanya menjadi rasul. Sedangkan, umatnya malah terbalik. Belum apa-apa langsung menjadi ustadz, sementara tuanya ingin menjadi pengusaha. Pada dasarnya, para sahabat berdakwah dengan menggunakan kendaraan berdagang. 

Santri didik untuk menjadi seorang yang berpengaruh di tengah-tengah masyarakatnya. Ini semestinya menjadi modal yang berharga bagi santri karena orang yang memiliki pengaruh itu lebih mudah mengatur dan menjalankan suatu bisnis. 

Dulu kiai dan pesantren juga mengembangkan wirausaha pertanian, perkebunan, dan berdagang, tapi ke belakang jarang elemen pesantren yang menekuni itu lagi. Apakah ini ada kaitannya dengan penjajahan Belanda di Indonesia, misalnya?

Dulu kiai melakukan perlawanan kepada penjajah secara total. Di sektor pendidikan, kiai tidak mau ikut Belanda dan mendirikan pesantren. Dalam sektor perekonomian, kiai berdagang dan membangun basis-basis ekonomi di kalangan umat Islam sendiri. Pada wilayah perjuangan, kiai dan santri juga berjuang total melawan penjajah dengan jiwa raganya.

Saat ini kita kehilangan orientasi karena program kita diacak, di-hijact sama Belanda, mungkin oleh Snouck Hurgronje. Ia menanamkan di kalangan santri bahwa santri semestinya meneladani kesalehan ritual daripada sahabat dan ulama-ulama terdahulu, bukan jiwa entrepreneurship atau kayanya. Sehingga yang diteladani hanya ritualistik para sahabat saja.    
Saat ini adalah dunia ekonomi. Dengan demikian, seharusnya kita meneladani sahabat yang entrepreneur dan kaya seperti Ustman bin Affan, Abu Bakar As Siddiq, Abdurrahman bin Auf, dan lainnya.

Di kalangan santri ada dogma bahwa banyak harta menyebabkan mudahnya orang untuk cinta dunia atau hubbud dunya. 

Dunia ini adalah jembatan menuju akhirat. Kalau jembatannya tidak dibangun, bagaimana orang bisa lewat. Sudahlah, kita harus bersantri dan berparadigma santri ala Rasulullah, para sahabat, dan tabit tabiin. Jangan ala Belanda. Karena Belanda lah  yang membuat pembedaan-pembadaan ini dunia, ini akhirat. Bukankan dalam Islam disebutkan bahwa semuanya adalah bersifat akhirat jika diniatkan untuk akhirat. Pola pikir kita terjerumus di situ.
Jumat 12 Januari 2018 9:49 WIB
Penenggelaman Kapal Diatur dalam UU sebagai 'Tindakan Khusus'
Penenggelaman Kapal Diatur dalam UU sebagai 'Tindakan Khusus'
Zaki Mubarok Busro.
Polemik di dalam kabinet kerja Presiden Jokowi kembali terjadi. Kali ini yang dijadikan persoalan adalah kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti tentang penenggelaman kapal pencuri ikan di laut Indonesia.

Polemik tersebut berawal dari permintaan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan kepada Menteri Susi Pudjiastusi untuk menghentikan kebijakannya. Luhut menawarkan cara lain, yaitu kapal pencuri ikan diberikan kepada nelayan melalui koperasi. Sementara Menteri Susi berpendapat bahwa kebijakannya merupakan perintah Presiden Jokowi dan hanya menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan.
 
Untuk mengetahui sejauh mana dampak kebijakan Menteri Susi terhadap kedaulatan kelautan dan perikanan di Indonesia hingga penting tidaknya tawaran Menteri Luhut, wartawan NU Online Husni Sahal mewawancarai Ahli Kelautan Zaki Mubarok Busro yang saat ini sedang menempuh studi doktoral di Australia National Centre for Ocean Resources and Security (ANCORS), University of Wollonggong melalui sambungan handphone, Kamis (11/1).

Menurut Anda, seberapa efektif kebijakan penenggelaman kapal dalam upaya menjaga kedaulatan kelautan dan perikanan di Indonesia?

Sejauh ini tindakan Menteri Susi cenderung efektif dalam menjaga kedaulatan wilayah dan menjaga stok ikan di perairan kita karena tindakan tersebut telah menciptakan detterrence effect atau efek jera bagi para pencuri ikan yang memasuki wilayah perairan Indonesia. Cara ini dianggap ampuh untuk memberikan pelajaran bagi para kriminal  yang tidak mempan dihukum dengan cara-cara konvensional.

Apakah ada dampak dari kebijakan penenggelaman kapal tersebut bagi pendapatan nelayan Indonesia?

Tindakan penenggelaman kapal tentu saja memberikan dampak terhadap meningkatnya pendapatan nelayan karena stok ikan secara nasional dan global mengalami penurunan.
 
Menurut penelitian Food and Agriculture Organization (FAO), stok ikan dunia mengalami penurunan dari tahun 1974 sebesar 90 persen menjadi 71,2 persen pada tahun 2011 dimana 28,2 persen diantaranya mengalami tangkap lebih. Tren ini juga terjadi di Indonesia. 

Komunitas internasional telah melakukan berbagai cara untuk mengembalikan stok ikan dan meningkatkan pendapatan para nelayan melalui instrumen hukum namun usaha tersebut belum menampakkan hasil yang signifikan.

Dengan tindakan yang tegas tersebut, tentu saja pendapatan nelayan menjadi meningkat karena stok ikan kembali naik karena kapal kapal yang ditenggelamkan tersebut juga menggunakan destructive fishing gears untuk melancarkan aksinya. Namun yang perlu diingat, secara internal, nelayan kecil juga perlu diedukasi untuk melakukan penangkapan ikan secara ramah lingkungan agar stok ikan diwilayah mereka tidak depleted atau habis.

Apa pendapat Anda terkait permintaan Menteri Luhut kepada Menteri Susi untuk menghentikan kebijakan penenggelaman kapal?

Barangkali yang perlu diluruskan adalah Menteri Luhut meminta agar penenggelaman kapal dilakukan secara sementara. Artinya, kebijakan tersebut bisa dilakukan lagi di masa yang akan datang setelah mempertimbangkan berbagai aspek. 

Namun, menurut hemat saya, moratorium penenggelaman kapal dalam praktiknya susah untuk dihentikan dalam kondisi tertentu karena menurut UU 45/2009 sebagai perubahan dari UU 31/2004 tentang Perikanan, pengawas atau penyidik perikanan bisa melakukan "tindakan khusus" berupa penenggelaman kapal apabila dianggap membahayakan jiwa petugas tersebut atau melakukan kejahatan perikanan dengan bukti awal yang cukup.
 
Namun begitu, penenggelaman kapal sebaiknya juga bersinergi dengan upaya diplomasi yang sedang dilakukan pemerintah sebagai upaya untuk membujuk agar flag state (negara bendera) tempat asal pemilik kapal dapat melakukan upaya yang efektif melalui perangkat legal and policy mereka agar memberikan sanksi tegas bagi kapal mereka yang melakukan pencurian ikan. Jadi, sebaiknya negara yang melakukan protes peneggelaman kapal tersebut juga secara tegas menghukum kapal-kapal berbendera negaranya.

Menurut Luhut, sebaiknya kapal-kapal dari pencuri ikan dibagikan kepada nelayan melalui koperasi. Bagaimana Anda melihat tawaran gagasan tersebut?

Hanya perintah pengadilan yang bisa menyatakan seperti itu. Kalau kapal sudah di ad hoc atau ditarik ke dermaga, maka kapal tersebut sudah pro justitia atau sudah menjadi barang bukti pengadilan. Pengadilan yang akan memutuskan apakah kapal tersebut di tenggelamkan atau dirampas oleh negara untuk diberikan kepada nelayan.

Bagaiamana untuk gagasan sendiri?

Gagasan untuk pemberian kapal kepada nelayan saya kira bagus-bagus saja. Namun KKP sekarang pun telah memberikan bantuan berupa kapal kepada para nelayan kecil agar hasil tangkapan mereka meningkat sekaligus meningkatkan kesejahteraan para nelayan. Perlu juga dihitung cost and benefit-nya, apakah kapal yang ditangkap untuk dihibahkan ke nelayan lebih banyak manfaat atau mudharatnya dibandingkan dengan ditenggelamkan. Namun sekali lagi, itu tergantung pengadilan yang putusannya berdasarkan ketentuan yang ada sekarang.

Saya kira kita perlu mencontoh Norwegia yang menurut FAO pada tahun 2008 menjadi negara terbesar kedua eksportir ikan dan produk-produk perikanan, namun sangat concern terhadap sustainability stok ikan dan environment.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG