IMG-LOGO
Opini

Di Balik Upaya Arab Saudi Mendekati NU

Jumat 2 Februari 2018 13:2 WIB
Bagikan:
Di Balik Upaya Arab Saudi Mendekati NU
Oleh Mulawarman Hannase
Ada sebuah catatan yang sangat menarik untuk diungkap dalam peringatan Hari Lahir Ke-92 Nahdhatul Ulama, Rabu 31 Januari lalu. Catatan ini adalah perihal kehadiran Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Syekh Osama bin Abdullah As-Suabi dalam haflah yang dihadiri sekitar tiga puluh ribu Nahdhiyyin tersebut.

Kehadiran Duta Besar Arab Saudi di Masjid  Raya KH Hasyim Asy'ari, tempat perhelatan harlah, bukanlah sebuah kehadiran biasa, atau sekadar memenuhi undangan PBNU. Dalam hemat penulis, kedatangan Duta Besar Negara Haramain ini mempunyai misi besar dan agenda tertentu yang begitu serius.

Secara jelas, Arab Saudi lewat duta besarnya menunjukkan sebuah perhatian besar kepada PBNU. Dalam acara harlah yang dirangkai dengan shalat gerhana bulan ini, duta besar yang didampingi oleh empat orang stafnya sejak jam 17.00 sore sudah tiba di Masjid Raya Jakarta. Ia adalah tamu VIP pertama yang dating. Padahal acara inti dijadwalkan jam 20.00 WIB. Meskipun harus menunggu lama, dubes negara kaya minyak ini tetap sabar menanti kedatangan para tamu undangan terutama para ulama dan kiai sepuh dari PBNU.

Tidak seperti di masjid besar lainnya di Jakarta, semisal Istiqlal, Jakarta Islamic Centre, atau Masjid Sunda Kelapa. Fasilitas Masjid Raya Jakarta (MRJ) KH Hasyim Asy'ari masih sangat jauh dari standar. Tidak ada ruangan tamu  VIP dengan sofa empuk dan karpet lembut yang nyaman bagi tamu sekelas duta besar, menteri apalagi presiden. Udaranya terasa panas dan banyak nyamuk yang mengganggu di malam hari. Tapi dubes ini tetap santai menikmati suasana tropis Cengkareng yang cenderung panas itu, menantikan Harlah NU dimulai.

Dalam rangkaian acara, tidak ada porsi waktu yang diperuntukkan kepada Duta Besar Arab Saudi untuk menyampaikan sambutan. Tetapi, pada saat acara berlangsung, melalui H Marsudi Syuhud, ia meminta kesempatan untuk menyampaikan ucapan selamat Hari Lahir NU di depan ribuan jamaah Nahdhiyyin. Tidak hanya menyampaikan sambutan, ia pun juga memberikan cendera mata berupa miniatur Burj Zamzam (Zamzam Tower) yang kelihatan sangat prestisius tersebut kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Ada tiga pesan penting yang disampaikan oleh Syekh Osama As-Suaibi. Pertama, ia menyampaikan pujian kepada Jam'iyyah Nahdhatul Ulama yang telah berjasa dalam berjuang menegakkan Islam di Indonesia dan sangat dicintai jamaahnya.

Kedua, ia menyatakan, "NU adalah jam'iyyah yang mengajarkan Islam wasathiyyah (moderat), mencintai negaranya, mengajak kepada Islam dengan perkataan yang thayyibah (lembut). Saya sangat senang mengenal NU karena mengajarkan kehidupan toleransi dan bisa bekerja sama dengan semua golongan termasuk non-Islam". Selanjutnya ia menegaskan bahwa yang disampaikannya itu bukanlah basa-basi (mujamalah).

Ketiga, bahwa keinginan Arab Saudi untuk bermitra dengan NU bukanlah main-main. Beberapa kali dalam lima bulan terakhir ia ingin bertemu dengan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj, tetapi selalu gagal karena padatnya jadwal sang kiai, termasuk bulan lalu di mana ia berkunjung ke Korea Selatan.

Kemudian muncul pertanyaan yang menggelitik, ada apa di balik upaya-upaya Dubes Arab Saudi mendekati NU saat ini? Apakah ada agenda politik, ekonomi, atau agenda ideologis?

Agenda politik dan ekonomi mungkin terlalu jauh karena NU bukanlah lembaga Negara, bukan pula lembaga politik yang memiliki otoritas untuk membangun kerja sama politik dan ekonomi. Lagi pula, jamaah NU mayoritas kalangan menengah ke bawah, yang dalam bahasa Anis Baswedan dalam sambutannya di acara yang sama, "NU mengakomodasi rakyat marjinal". Jamaah haji Indonesia yang memberikan devisa besar bagi Pemerintahan Saudi juga tidak berada dalam kewenangan NU secara organisasi.

Patut diduga bahwa agenda besar Arab Saudi terhadap NU adalah agenda ideologis. Penegasan Syekh Osama atas moderatisme NU, yang selama ini tidak pernah disampaikan oleh dubes-dubes sebelumnya menunjukkan bahwa selama ini Arab Saudi salah kaprah dengan aqidah yang dianut oleh NU. Salah kaprah itu bisa terjadi karena dua kemungkinan. Mungkin Arab Saudi tidak tahu aqidah Aswaja yang dianut NU. Mungkin juga Arab Saudi tahu bangunan dan struktur doktrin NU, akan tetapi karena hegemoni doktrin Wahabi-Salafi yang sangat mendominasi Kerajaan Arab tersebut sehingga NU malah dianggap kelompok sesat. Yang kedua inilah yang benar. Selama ini, mayoritas alumni Saudi dengan pemahaman salafis-tekstualis yang dianut begitu gencar menyerang amaliah Nahdhiyyin sebagai ahli bid'ah dan penganut khurafat.

NU adalah ahli bid'ah bagi kelompok yang mengklaim dirinya sebagai pewaris salafus saleh. Lalu kenapa perwakilan Negara Arab Saudi yang banyak mencetak ulama ekslusif-tekstualis betah berlama-lama bersama kiai-kiai dan jamaah NU yang kerap dianggap menyimpang? Dalam pembacaan istighotsah dan tahlil Haul Walisongo sebagai rangkaian acara Harlah Ke-92 NU, mereka juga tidak mempermasalahkannya. Padahal itu jelas-jelas bid'ah dalam doktrin Wahabi. Apakah telah terjadi perbedaan pandangan keagamaan antara pihak kerajaan dan ulama-ulama Saudi saat ini?

Kita juga patut menduga bahwa kemelut yang dihadapi masyarakat Timur Tengah saat ini dengan konflik yang terus berkecamuk juga sangat merepotkan Kerajaan Arab Saudi. Fakta ini bisa saja membuka kesadaran mereka bahwa doktrin Islam moderat yang dianut oleh umat Islam di Indonesia, dan NU sebagai ormas terbesarnya, sebagai doktrin ideologis yang ideal dalam kehidupan beragama dan berbangsa. Terbukti, umat Islam di Indonesia bisa hidup damai dalam keberagaman, saling menghormati satu sama lain, sebagaimana diakui sendiri oleh Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Syekh Osama As-Suabi.

Tentunya, NU harus merespon dan menyikapi secara bijak dan tegas langkah-langkah pendekatan yang dilakukan oleh Arab Saudi. Selama dokrin tawasut, tasamuh, dan tawazun NU bisa diterima dan dikembangkan oleh Arab Saudi, maka NU harus terus membagun kerja sama dan hubungan baik dengan negara pelayan Haramain tersebut. Tetapi, kalau NU terus diserang, dibid'ahkan, bahkan dikafirkan oleh kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Arab Saudi, maka NU harus tegas melawan dan menolak upaya kerja sama yang ditawarkan. Jam'iyyah sebesar NU akan terus berdiri kokoh selama teguh dalam memelihara prinsip dan doktrinya tanpa ada unsur pragmatisme.


*) Penulis adalah Wakil Sekretaris PWNU DKI Jakarta.
Tags:
Bagikan:
Kamis 1 Februari 2018 14:0 WIB
Nahdlatul Ulama dan Pesantren di Era Milenial
Nahdlatul Ulama dan Pesantren di Era Milenial
Oleh Abdul Ghoffar Rozin

Nahdlatul Ulama dapat diibaratkan layaknya sebuah pesantren besar. Ada beratus ulama dan berjuta santri di dalamnya yang saling terhubung satu sama lain. Dawuh kiai menjadi kekuatan organisasi terbesar di dunia ini. Karenanya, dalam pemaknaan lebih luas, semua Nahdliyyin disebut juga sebagai santri. Santri KH Hasyim Asy'ari, santri KH Wahab Hasbulloh, santri KH Bisri Sansuri, dan santri para pendiri serta masyayikh Nahdlatul Ulama.

Nahdlatul Ulama sendiri pada awalnya didirikan oleh para ulama dan segera diikuti oleh masyarakat pesantren (kiai, santri, alumni, walisantri, dsb.) yang tersebar di seluruh Indonesia, bahkan hingga di berbagai negara. Karena itulah, pesantren dan Nahdlatul Ulama adalah dua hal yang tak dipisahkan. Melalui pesantren dan jaringan yang dimilikinya, Nahdlatul Ulama sebagai sebuah jam'iyyah, terus memperjuangkan cita-citanya. Menjadi pendulum bagi terciptanya Islam yang membawa rahmat bagi semesta. Tentu saja hal ini tak mudah, apalagi menghadapi tantangan era milenial dengan tipe masyarakat muda yang sangat berbeda dengan saat ketika NU didirikan.

Dalam perjalanan panjang Nahdlatul Ulama semenjak berdiri hingga saat ini, dapat dikatakan bahwa orang-orang pesantrenlah yang senyatanya menjadi penggerak lembaga ini. Karenanya, sangat wajar jika kemudian, Nahdlatul Ulama memandang penting adanya sebuah lembaga yang diberi amanah dalam mengkoordinasi dan komunikasi dengan pesantren. Di sinilah kemudian Rabitah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU) atau dikenal dengan asosiasi pesantren-pesantren NU memiliki peranan penting untuk ikut menyangga setiap gerakan yang dimotori oleh Nahdlatul Ulama.

Beberapa Tugas Penting 

RMI-NU yaitu terciptanya masyarakat pesantren yang mempunyai kemampuan dalam melakukan tata kelola pesantren yang maju, berkeadilan dan demi kemaslahatan semua, kemudian terciptanya masyarakat pesantren yang mempunyai kemampuan sebagai agen transformasi dan perubahan sosial berdasarkan nilai-nilai luhur kepesantrenan. Serta terciptanya jaringan dan kerjasama antar pesantren. Untuk melaksanakan tugas tersebut, RMI-NU perlu melakukan pembacaan mendalam demi menemukan strategi baru menjawab tantangan era generasi milenial ini.

Era generasi milenial harus diakui memiliki potensi sekaligus tantangan. Pergeseran cara pandang masyarakat dalam melihat pesantren merupakan salah satu tantangan yang mesti dijawab. Salah satu contohnya misalnya dengan banyak orang tua zaman yang memondokkan anaknya berorientasi kepada kenyamanan pesantrennya. Mereka bertanya tentang pertanyaan-pertanyaan baru yang mungkin tidak terpikirkan oleh para walisantri era sebelumnya. Pertanyaan seperti, bagaimana dengan gizi makanannya, bagaimana dengan kamarnya apakah ada AC-nya, ada kasurnya, ada laundry-nya dst. Ini berbeda dengan pertanyaan orang tua zaman dulu ketika mau memondokkan anaknya yang ditanyakan adalah kitab-kitab apa yang dikaji di pesantren, sanad keilmuan kiainya dan seterusnya.

Untuk menghadapi hal tersebut RMI-NU menyiapkan beberapa langkah-langkah strategis yang dimulai dengan Gerak AyoMondok. Launching gerakan nasional AyoMondok sendiri sesungguhnya sesuai dengan visi ketua umum PBNU KH Said Aqil Siradj yaitu “back to pesantren”. 

Gerakan AyoMondok yang awalnya lahir karena keprihatinan terhadap kondisi beberapa pesantren yang mengalami kesulitan menghadapi persoalan-persoalan kekinian. Karenanya gerakan AyoMondok merupakan sebuah aksi nyata untuk mengembalikan kebanggaan orang untuk kembali ke pesantren. Agar para alumni tak segan memondokkan anak-anaknya ke Pesentren. Dan agar orang tua yang bukan alumni pesantren, tak ragu untuk memilih pesantren sebagai tempat belajar bagi anak-anaknya. Gerakan AyoMondok merupakan sebuah aksi nyata untuk mendorong masyarakat pesantren bangga menjadi santri dan bagi yang belum nyantri, tak ragu untuk belajar ke pesantren.

Gerakan AyoMondok didesain sedemikian rupa untuk mengajak orang kembali ke pesantren. Bahwa pesantren bukanlah lembaga tempat "pembuangan anak". Tapi pesantren adalah lembaga pendidikan utama. Pilihan pertama dalam membangun karakter generasi muda yang membuat meraka lebih siap dalam menghadapi tantangan pada era milenial ini. Karakter yang membuat anak-anak kita dapat dengan sigap menghindari hal-hal yang bisa merusak masa depan mereka.

Salah satu langkah penting untuk mendorong para alumni pesantren dan orang tua yang belum pernah nyantri tak ragu memilih pesantren untuk anak-anaknya adalah dengan memberikan informasi yang benar tentang pesantren. Untuk itu, RMI-NU memenuhi kebutuhan masyarakat yang ingin mengetahui segala hal tentang pesantren dengan aplikasi berbasis android “Ayo Mondok”. Aplikasi ini terintegrasi dengan website ayomondok.net yang menyediakan database pesantren di seluruh Indonesia. Dengan aplikasi tersebut masyarakat dapat lebih mudah mengakses informasi tentang pesantren. Misalnya mengenai spesialisasi keilmuannya, kitab-kitab yang dikaji, foto-foto pesantren serta kegiatan-kegiatannya. 

Selain itu RMI NU mengoptimalkan media sosial, baik melalui twitter @ayomondok, FanPage @Ayo Mondok dan Instagram @gerakannasionalayomondok sebagai upaya untuk hadir dan menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat mengenai pesantren.

Tantangan pesantren dan Nahdlatul Ulama dalam menghadapi generasi milenial tentu tidak cukup hanya memberikan informasi tentang pesantren melalui web-web yang tersedia. Baik yang dikelola oleh RMI-NU maupun oleh kaum muda NU secara umumnya. Kesiapan masing-masing pesantren untuk menerjemahkan setiap tantangan zaman tetaplah menjadi kata kunci. Dalam hal ini, saling support dan mempererat kerjasama serta memperluas jaringan pesantren adalah keharusan. Karena hanya dengan demikianlah, pesantren sebagai kekuatan inti Nahdlatul Ulama dapat terus saling menguatkan dan menjawab tantangan era milenial. 

Banyak hal yang harus dikerjakan dan banyak hal yang bisa dilakukan. Tinggal pilihan kita apakah pesantren akan mengikuti tren yang ada atau pesantren mampu membuat tren baru, sembari tetap menjaga tradisi lama yang baik seperti kaidah kita “al-muhafadhah ‘alal qadimis shalih wal akhdzu biljadidil aslah”. Wallahu a’lam bish shawab.


Penulis adalah Ketua Rabitah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI) PBNU

Kamis 1 Februari 2018 10:1 WIB
REFLEKSI HARLAH KE-92 NU
Api Perjuangan NU yang Tak Kunjung Padam (2)
Api Perjuangan NU yang Tak Kunjung Padam (2)
Oleh Al-Zastrouw Ngatawi

Sikap ideologis NU terhadap Pancasila dan NKRI juga tercermin dalam penerimaan asas tunggal Pancasila pada Muktamar ke-27 NU di Situbondo. Meski sebelumnya juga menimbulkan perdebatan panjang di kalangan ulama NU. Sikap ini pun medapat cemoohan dari beberapa kalangan karena menganggap NU oportunis dan politis. Bahkan ada sebagian umat Islam yang mencurigai NU dibayar oleh pemerintah.

Kecurigaan ini sempat terlontar saat Gus Dur menjadi narasumber pada diskusi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) awal tahun 1990-an. Sebagaimana diceritakan oleh sahabat Makmun Murod pada penulis, dimana saat itu dia menjadi panitia, dalam diskusi itu ada peserta yang tanya, kompensasi apa yang diterima NU sehingga dengan mudah menerima asas tunggal Pancasila? Apakah ada deal politik dan ekonomi atau imbalan material? Demikian kira-kira pertanyaan salah seorang peserta.

Mendapat pertanyaan ini Gus Dur dengan santai menjawab: "justru karena NU menerima asas tunggal duluan maka tidak ada kompensasi, karena tidak terjadi proses negosiasi yang alot. Yang perlu kompensasi itu yang negosiasinya alot. Kalau NU ingin kompensasi ya akan melakukan tawar menawar dulu, kalau perlu yang belakangan menerimanya supaya dapat kompensasinya banyak”.

Ketika muncul tirani pemerintah Orde Baru, sehingga terjadi hegemoni negara atas rakyat, maka NU tampil menjadi kekuatan kritis terhadap negara. Oleh Nakamura (1982) sikap NU ini disebut sebagai "Tradisionalisme Radikal". Sikap ini dilakukan NU sebagai bentuk menjaga NKRI dan Pancasila sekaligus upaya agar Pancasila tidak menjadi alat kekuasan yang tiran.

Hal ini secara tegas dinyatakan Gus Dur: "Tanpa Pancasila, negara akan bubar. Pancasila adalah seperangkat asas dan ia akan ada selamanya. Ia adalah gagasan tentang negara yang harus kita miliki dan kita perjuangkan. Dan Pancasila ini akan saya perjuangkan dengan nyawa saya, tidak peduli apakah dia akan dikebiri oleh Angkatan Bersenjata atau dimanipulasi oleh umat Islam." (Doglas E. Remage, 2002: 80)

Pasca reformasi, tantangan NU tidak semakin berkurang. Keterbukaan iklim sosial politik yang membuka arus kebebasan dihampir semua sektor telah menjadikan Indonesia sebagai medan pertarungan bebas (free battle field) berbagai kepentingan politik, ekonomi dan ideologi. 

Akibatnya muncul berbagai anomali sosial yang menimbulkan keretakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini telihat dalam gerakan radikal, munculnya kelompok intoleran di satu sisi dan di sisi lain munculnya gerakan pasar bebas yang melakukan eksploitasi sumber ekonomi dengan mengabaikan rasa keadilan.

Dalam kondisi demikian, secara instingtif NU merasa terpanggil untuk bergerak membela dan mepertahankan NKRI dan Pancasila. Sikap ini mincul secara spontan, tanpa ada yang memerintah apalagi memfasilitasi. Meskipun sendirian, NU terutama Banser, tetap bergerak melawan provokasi dan berbagai tindakan anarki yang menggunakan simbol agama untuk kepentingan politik. Karena menurut NU gerakan seperti ini bisa mengancam integrasi bangsa.

Sebagaimana yang pernah dialami oleh para pendahulunya, ketika melakukan tindakan tersebut, saat ini NU juga mendapat caci maki dan fitnah dari kelompok Islam garis keras. NU dituduh membubarkan pengajian, anti ulama, penjaga gereja bayaran, liberal, sok nasionalis dan sejenisnya. 

Dulu tudingan seperti ini datang dari orang luar. Sekarang tudingan seperti ini bahkan datang dari beberapa kalangan NU sendiri yang sudah terkontaminasi oleh paham dan budaya kaum radikal sehingga tega menista para ulama dan sesepuh NU

Di sisi lain NU juga melakukan kritik tajam terhadap sistem ekonomi kapitalis yang eksploitatif. Sikap kritis ini tidak hanya dilakukan dalam bentuk keputusan organisasi (lihat Keputusan Munas Cirebon), juga berbagai gerakan advokasi yang dilakukan oleh umat NU (kasus Kendeng, Bandara Yogya, dan sebagainya).

Meskipun demikian, harus diakui, berbagai tarikan kepentingan dan godaan materi sempat membuat gocangan bahkan menumbulkan keretakan di beberapa bagian dari tubuh NU. Namun demikian kuatnya bingkai dan tali pengikat NU yang longgar itu tetap bisa menjaga keutuhan, sehingga serpihan-serpihan yang retak itu tidak sampai lepas dari tali pengikat.

Sejarah panjang NU dalam menghadapi gempuran badai fitnah, intrik, manuver politik dan caci maki merupakan modal dalam menghadapi berbagai goncangan situasi yang bakal terjadi akibat menguatnya kontestasi dan pertarungan ideologi yang sarat kepentingan. Hal ini menunjukkan bahwa api perjuangan NU terus menyala hingga sekarang.

Selamat ulang tahun NU, semoga api perjuanganmu bisa membakar semangat kelompok lain sehingga menggerakkan mereka untuk bangkit mempertahankan Pancasila dan NKRI. Semoga NU tidak kesepian dan sendirian lagi saat menerima fitnah, caci maki dan hinaan saat menjaga keutuhan bangsa. Yang terpenting, semoga NU makin kokoh dan tegar menghadapi keadaan yang makin terjal dan berliku.

Penulis adalah pegiat budaya, dosen Pascasarjana UNUSIA Jakarta.
Rabu 31 Januari 2018 15:51 WIB
REFLEKSI HARLAH KE-92 NU
Api Perjuangan NU yang Tak Kunjung Padam (1)
Api Perjuangan NU yang Tak Kunjung Padam (1)
Al-Zastrouw Ngatawi

Hari ini 31 Januari 92 tahun yg lalu Nahdlatul Ulama (NU) didirikan oleh para ulama di bawah pimpinan KH Hasyim Asy'ari. Pendirian NU bisa dikatakan sebagai respon para ulama dan umat Islam Nusantara atas kondisi sosial politik yang terjadi pada saat itu.

Berdirinya NU tidak bisa lepas dari peran Mbah Wahab Chasbullah sebagai operator lapangan yang membentuk tiga organisasi pergerakan sebagai embrio NU yaitu Nahdlatul Wathon (NW), Tashwirul Afkar atau Nahdlatul Fikr dan Nahdlatul Tujjar.

NW didirikan oleh Mbah Wahab bersama dengan Kiai Mas Mansur (tokoh Muhammadiyah) pada tahun 1916 (Anam, 2010). Menurut Martin Van Bruinessen (1994: 35) NW merupakan lembaga pendidikan agamis bercorak nasionalis modernis yang pertama di Nusantara.

Sebelumnya, pada tahun 1914 sepulang dari Makkah, Mbah Wahab mendirikan Tashwirul Afkar yang sering juga disebut Nahdlatul Fikr. Perkumpulan ini merupakan wahana pendidikan politik santri, terutama yg terkait dengan gerakan pemikiran untuk mendialogkan antara agama (Islam) dan kebangsaan.

Meski sudah ada SDI dan SI namun sebagai langkah taktis dan strategis mbah Wahab mendirikan Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan para pedagang) pada tahun 1918. Selain untuk menghimpun para pedagang santri yang tdk terakomodir dalam SDI dan SI, pembentukan Nahdlatut Tujjar juga dimaksudkan untuk mengantisipasi jika terjadi sesuatu hal yang dilakukan oleh pemerintah kolonial terhadap SDI maupun SI karena langkahnya yang terlalu politis.

Untuk membangkitkan spirit kebangsaan, Mbah Wahab juga mengarang lagu yang berjudul Subbanul Wathan yang syairnya berisi rasa bangga dan cinta tanah air serta spirit merebut kemerdekaan. Dalam lagu tersebut dinyatakan, Indonesia Negeriku, engkau Panji martabatku. Syair lagu ini dibuat dalam bahasa Arab sebagai siasat agar pemerintah Belanda tidak paham artinya. Lagu ini dinyanyikan para santri setiap memulai melakukan kegiatan.

Jelas di sini terlihat sebelum peristiwa Sumpah Pemuda yang menyatakan bertanah air Indonesia, kaum santri sudah lebih dulu mendeklarasikan Indonesia sebagai tanah air sebagaimana tertulis dalam syair lagu Syubbanul Wathan karya Mbah Wahab Chasbullah.

Sayangnya para sejarawan Barat-Modern kurang banyak mengeksplorasi peran kaum santri dalam gerakan Nasional, padahal ini merupakan momentum penting karena menjadi akar terbentuknya integrasi antara Islam dan Nasionalisme di Indonesia. Dalam penelitiannya, Kahin pernah menyebut peran agama dalam pembentukan spirit nasionalisme di Indonesia, namun hanya sekilas dan tidak ditujukan pada gerakan kaum santri atau pesantren (Kahin, 1952/2013)

Selain respon terhadap kondisi sosial politik di Hindia Belanda, berdirinya NU juga untuk melawan gerakan puritanisme dan fundamentalisme agama kaum Wahabi yang mengancam tradisi keagamaan paham Alussunnah wal Jamaah yang dianut oleh mayoritas umat Islam Nusantara.

Untuk membendung gerakan Wahabi yang puritan dan antitradisi ini, para ulama membentuk tim yang disebut Komite Hijaz, diketuai oleh KH Wahab Chasbullah. Tim ini bertugas melakukan lobi dan negosiasi dengan Raja Arab yang melakukan persekusi terhadap ulama-ulama yang tidak sepaham dan berencana menghancurkan beberapa situs penting dalam sejarah Islam.

Sejarah singkat ini menunjukkan spirit perjuangan NU adalah melawan tirani, baik tirani negara yang dicerminkan oleh pemerintah kolonial maupun tirani agama yang tercermin dalam gerakan puritanisme agama kaum Wahabi. Spirit ini yang membentuk cara pandang dan pemahaman ulama dan ummat NU yang kemudian menjadi habitus karena tertanam secara otomatis (built in) dalam kesadaran umat NU.

Inilah yang menyebabkan ulama dan umat NU bisa menerima NKRI dengan Pancasila sebagai dasar negara, setelah melalui perdebatan panjang dan pertimbangan mendalam dari perspektif Islam. Artinya penerimaan ini tidak semata langkah taktis politis, tetapi merupakan ekspresi ideologis-teologis. Bagi NU Pancasila dan NKRI adalah hasil ijtihad para ulama agar umat Islam bisa menjalankan syariah secara aman, nyaman dan damai.

Sikap ideologis NU terhadap Pancsila dan NKRI ini dibuktikan dengan keteguhan NU dalam menjaga dan mempertahankan Pancasila meski harus menerima fitnah, caci maki bahkan ancaman fisik terhadap para ulama dan umat NU.

Ketegasan dan sikap istiqomah NU dalam melawan tirani dan mempertahankan Pancasila dan NKRI bisa dilacak sejak peristiwa Resolusi Jihad mengjadapi gempuran sekutu, melawan rongrongan PKI dan memberikan fatwa bughot (makar) kepada kelompok yang memgancam kedaulatan NKRI sekalipun hal itu dilakukan atas nama Islam dan menggunakan simbol Islam (DI/TII, PRRI, Permesta). Bersambung...

Penulis adalah pegiat budaya, dosen Pascasarjana UNUSIA Jakarta.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG