IMG-LOGO
Pustaka

Sketsa Kebangsaan Gus Dur

Rabu 7 Februari 2018 11:48 WIB
Bagikan:
Sketsa Kebangsaan Gus Dur
Malam itu sekitar tahun 1980-an, gadis kecil bernama Zannuba Arifah Chafsoh Rahman dipangku ayahnya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Bukan sedang menikmati suasana malam atau pun rekreasi, tetapi sedang mengomandani amal bakti berupa penggalangan dana untuk rakyat Palestina.

Gadis kecil yang saat ini akrab disapa Yenny Wahid itu mengungkapkan, saat itu ayahnya mengenakan kaos bertuliskan “Palestina”. Kala itu, Gus Dur menggelar pengumpulan dana dan aksi simpati terhadap warga Palestina bersama para tokoh dan sejumlah seniman, di antaranya Sutardji Calzoum Bachri.

Simpati kemanusiaan terhadap sebuah bangsa, terutama kelompok tertindas dan lemah (mustadh’afin) adalah salah satu persoalan pokok yang menjadi perhatian Gus Dur. Apapun agama, keyakinan, bangsa, etnis, rasnya bukan menjadi pembatas bagi Gus Dur untuk melindungi mereka, baik yang di dalam negeri maupun peran kebangsaannya di luar negeri.

Peran dan pergaulannya yang luas membuat setiap orang mempunyai kesan mendalam terhadap Gus Dur. Bahkan, kasih sayangnya yang tercurah kepada semua manusia membuatnya terus dikenang oleh setiap elemen bangsa ketika dirinya telah tiada. Bahkan, Soka University Tokyo milik Soka Gakkai yang didirikan Daisaku Ikeda hingga saat ini masih menjadikan Gus Dur sebagai ikon penggerak kebudayaan modern.

Pengalaman, testimoni, dan kesaksian terhadap pribadi Gus Dur memang sudah banyak dibicarakan para tokoh nasional dan lokal, bahkan internasional. Tetapi dalam buku berjudul Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa terbitan Elex Media Komputindo berupaya menghadirkan sebuah sketsa berbeda yang coba dihadirkan para tokoh dari berbagai bidang dan kalangan untuk memberikan testimoni yang selama ini belum banyak terungkap mengenai pribadi Gus Dur dari berbagai sudut pandang.

Ada 20 orang dalam buku ini yang menuliskan pengalamannya dengan apik sehingga pembaca dibawa larut ke dalam kisah-kisah Gus Dur berdasarkan interaksi langsung (direct interaction) dengan sang guru bangsa.

Mitsuo Nakamura misalnya. Profesor Emeritus bidang Antropologi pada Universitas Chiba Jepang yang banyak menekuni isu-isu kontemporer Indonesia ini mengungkapkan, saat dirinya mengajak jalan Gus Dur bersama istrinya Shinta Nuriyah berkeliling ke Kota Kamakura di Jepang. 

Dalam perjalanan tersebut, Mitsuo Nakamura yang tidak lain orang Jepang sendiri merasa kalah dengan pengetahuan Gus Dur tentang sejarah kota kuno yang pernag menjadi ibu kota Kerajaan Jepang pada abad ke-12 itu, dan diancam oleh invasi tentara Mongol. Selain itu, Gus Dur ingat betul detail-detail novel Shogun dan film Kurosawa Ran. “Kebanyakan pertanyaan Gus Dur tentang dua karya seni itu melampui kemampuan saya untuk menjawab,” ungkap Nakamura.

Testimoni pribadi Gus Dur juga datang dari Habib Saggaf bin Mahdi, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Iman Parung, Bogor, Jawa Barat. Habib Saggaf pernah berinteraksi langsung dengan Gus Dur ketika dirinya diminta bantuan oleh Yenny Wahid untuk membujuk dan menaihati Gus Dur agar mau melakukan proses cuci darah.

Misi tersebut berupaya dibawa Habib Saggaf dengan sejumlah jurus agar dapat meyakinkan Gus Dur untuk mau cuci darah. Singkat cerita, Habib Saggaf yang disapa Gus Dur dengan sebutan Habib Parung ini berhasil membujuk. Namun, di tengah-tengah obrolan di kediaman Gus Dur tersebut, Habib Saggaf terkesan dengan sikap hangat dan lontaran humor-humor segar dari mulut Gus Dur.

Selain itu, Habib Saggaf juga menceritakan pengalamannya bertemu dengan Gus Dur dalam mimpi dan sosok Gus Dur yang menurutnya adalah salah satu contoh orang yang dicintai Allah SWT dan manusia dari berbagai kalangan. Dalam mengelola pesantren dan aktivitas sosialnya, Habib Saggaf juga banyak mengambil pelajaran dari Gus Dur sebagai manusia yang dekat dengan siapa saja.

Ketika disarikan satu per satu, tentu ruang resensi ini terlalu panjang untuk dibaca. Termasuk pengalaman bersama Gus Dur dari seorang Dorce Gamalama, Inul Daratista, KH Imam Ghazali Said, Don Bosco Selamun, Acep Zamzam Noor, Ahmad Tohari, Franz Magnis Suseno, Jaya Suprana, Al-Zastrouw Ngatawi, dalan lain-lain yang diungkapkan dalam buku setebal 202 halaman ini.

Semakin banyak terungkap sikap, pemikiran, dan hal-hal lain terkait Gus Dur, semakin banyak pula pundi-pundi kebijaksanaan (wisdom) dari sang guru bangsa yang perlu diungkap, ditulis, dan diterapkan secara luas. Hal ini berangkat dari sketsa Gus Dur dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara yang cakupannya tidak hanya para tataran lokal dan nasional, tetapi juga pada ranah global.

Karena Gus Dur juga aktif merajut benang-benang perbedaan yang masih tercecer di setiap belahan dunia untuk mewujudkan persatuan kemanusiaan dalam kain perdamaian. Saat masih aktif sebagai pelajar dan santri di Indonesia, Gus Dur kecil sudah mampu melahap sejumlah buku-buku bacaan tidak ringan bagi anak seumurannya. Begitu juga dengan kajian berbagai kitab kuning karya para ulama yang menurutnya mempunyai daya bahasa dan sastra yang luar biasa.

Saat aktif menjadi mahasiswa di Kairo dan Baghdad, pengembaraan ilmunya tidak hanya ia dapat dari buku, tetapi juga berusaha memahami kehidupan sosial, budaya, dan sejarah yang melingkupinya. Yang turut menciptakan kuatnya Gus Dur adalah pergaulannya yang sangat luas ketika itu. Turut aktif di dunia luar dan bertemu banyak orang bagi Gus Dur tidak akan ia dapatkan ketika hanya belajar di dalam kampus.

Gerakan sosialnya antara lain ia goreskan ke dalam tulisan demi tulisan yang beredar di sejumlah koran, jurnal, seminar-seminar, dan pertemuan ilmiah lainnya. Bahkan, tidak sedikit pemikirannya yang dituangkan dalam bahasa Inggris ketika ia mengisi di sejumlah forum internasional. Bagi Gus Dur, gerakan nyata untuk mengubah tatanan sosial, agama, budaya, dan lain-lain ke arah yang lebih baik akan tersampaikan dengan lengkap ketika gerakan tersebut juga diiringi dengan aktivitas menuangkan pemikiran dalam bentuk tulisan.

Gerakan-gerakan Gus Dur berlanjut ketika dirinya diamanahi menjadi Presiden Republik Indonesia pada 1999. Gerakan merajut kebangsaan diperluas oleh Gus Dur ke dalam ranah global. Hal itu ia upayakan dengan melakukan diplomasi budaya. Bukan diplomasi politik yang ndakik-ndakik, njlimet, dan formalistik, tetapi diplomasi yang penuh humor dan kopi. Hal itu ia lakukan dengan sejumlah pemimpin besar dunia.

Gus Dur adalah sebuah sketsa. Jika setiap orang mampu melihat kasih sayang, agama yang ramah, persatuan yang kokoh, kebersamaan dalam berbangsa, membela yang lemah dan tertindas, menegakkan hak-hak kemanusiaan, beragama secara substansial, kejeniusan, penuh humor cerdas, serta  kepemimpinan yang kokoh mengayomi, maka goresan-goresan itu akan tertuju pada sketsa yang jelas bernama KH Abdurrahman Wahid, Gus Dur. Selamat membaca!

Idenitas buku:

Judul: Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa
Editor: Alamsyah M. Djafar dan Wiwit R. Fatkhurrahman
Penerbit: Elex Media Komputindo (Kompas Gramedia)
Cetakan: Pertama, 2017
ISBN: 978-602-04-4729-2
Tebal: 202 + xvii halaman
Peresensi: Fathoni Ahmad
Bagikan:
Rabu 24 Januari 2018 18:30 WIB
Membentengi Negeri dari Perusak Bangsa Berjubah Agama
Membentengi Negeri dari Perusak Bangsa Berjubah Agama
“Menjaga gereja pada momen-momen tertentu yang ditengarai akan terjadi gangguan keamanan, seperti terancamnya keselamatan jiwa yang jelas-jelas dilindungi oleh negara, hukumnya boleh, sebagaimana kebolehan menjaga stabilitas keamanan negara pada umumnya, apalagi bila dilakukan atas permintaan dari pemerintah (aparat kepolisian). Menjaga gereja yang dilakukan dengan misi mengamankan stabilitas negara serta menjaga keharmonisan sosial bukan termasuk upaya membantu kemaksiatan (i’anah ‘ala al-ma’shiyyah). Kalaupun ada anggapan demikian, maka tidak dapat menjadi kebenaran tunggal. Sebab, tanpa dijaga ritual keagamaan non-Muslim di dalam gereja tetap berjalan, sehingga penjagaan bukan merupakan pemicu dalam terjadinya kemaksiatan non-Muslim”.

“Di antara siyasah Rasulullah SAW adalah menyatukan keberagaman dari berbagai suku dan agama menjadi satu kesatuan bangsa. Meski dalam beberapa perjanjian, Islam kelihatan dirugikan, namun sejatinya justru menjadi strategi jitu. Dengan kesepakatan bersama, Islam dapat melindungi segenap bangsa dan berdakwah secara santun seluas-luasnya, tanpa sibuk dengan berbagai polemik yang destruktif dan kontra produktif”.

Demikian salah satu kutipan buku “Fikih Kebangsaan, Merajut Kebersamaan di Tengah Kebinekaan”, karya HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) yang dijadwalkan launching pada awal Februari 2018 mendatang. Buku ini mengangkat ide-ide keislaman dan kebangsaan secara ideal, sebagaimana sikap keistiqamahan khas para kiai NU dan pesantrennya.

Pesantren Lirboyo sebagaimana pondok pesantren berbasis Nahdlatul Ulama lainnya memiliki komitmen yang kuat untuk menjaga dan merawat empat pilar bangsa: Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945.

Seperti dikatakan banyak pengamat, negara ini memang sedang diuji eksistensi persatuannya oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Keberhasilan mereka memporak-porandakan Timur Tengah dengan teori adu dombanya rupanya ingin diterapkan di negeri ini. Membenturkan rakyat dengan pemerintah, pemerintah dengan ulama, ulama dengan ulama dan lain-lain adalah cara mereka untuk meruntuhkan negara ini.

Gejolak-gejolak politik yang terjadi akhir-akhir ini menimbulkan masalah besar untuk negara. Propaganda para pejuang khilafah yang menuduh pancasila sebagai sistem thaghut telah banyak menginfeksi pemuda-pemuda bangsa. Ditambah lagi provokasi yang didengungkan atas nama agama untuk menyerang pemerintah semakin memperkeruh suasana. Ironisnya, pihak yang terinfeksi radikalisme ini tidak hanya dari kalangan masyarakat awam, namun juga melanda santri dan alumni pondok pesantren, tidak terkecuali Pesantren Lirboyo.

Berangkat dari keprihatinan di atas, para masyayikh dan sejumlah alumni senior pesantren Lirboyo merasa sangat perlu untuk menyuarakan pandangan kebangsaannya untuk menjaga eksistensi empat pilar bangsa di negeri ini di kalangan para santrinya secara khusus serta masyarakat luas secara umum. Maka, melalui Lajnah Bahtsul masailnya, pesantren Lirboyo menggelar Bahtsul Masail kebangsaan yang dihadiri Himpunan alumni di seluruh Indonesia yang diselenggarakan pada Rabu-Kamis 23-24 Jumada al-Akhirah 1438 H/22-23 Maret 2017 M.

Dari hasil Bahtsul masail kemudian berlanjut hingga beberapa kali pertemuan internal yang dihadiri sejumlah masyayikh dan alumni senior untuk menggodok dan menyempurnakan, hingga pada akhirnya tersusunlah buku “Fikih Kebangsaan, Merajut Kebersamaan di Tengah Kehinekaan”.

Buku ini secara gamblang mengarusutamakan wawasan kebangsaan khas para kiai NU. Dalam bab II misalkan, dijelaskan bagaimana urgensi menjaga keutuhan NKRI, dalil nasionalisme, penegasan bahwa pancasila tidak bertentangan dengan Islam, dan penerapan syariat yang ideal di negara semajemuk Indonesia.

Bab III mengurai tentang bagaimana mengawal pemerintahan yang sah, kewajiban menghormatinya, larangan memberontak hingga urgensi menyampaikan kritikan kepada pemerintah secara konstitusional.

Dalam bab IV dijelaskan bagaimana mengatur hubungan toleransi antarpemeluk agama, menghormati perbedaan di antara sesama Muslim, termasuk di antaranya menyebutkan isu-isu yang ramai diperbincangkan setiap tahun seperti pro kontra hukum menjaga gereja, mengucapkan selamat natal dan lain sebagainya. Semuanya dijelaskan secara ilmiyah dan bijaksana.

Dalam bab V , buku ini menjelaskan bagaimana provokasi bukanlah ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah. Ini sangat krusial untuk dipahamkan, mengingat bertebarannya berita hoaks di media sosial yang kian hari semakin sulit dikendalikan, sehingga masyarakat mudah terprovokasi oleh isu-isu berkedok agama yang berakibat terancamnya stabilitas nasional. 

Di bagian akhir, disampaikan beberapa rekomendasi untuk alumni Lirboyo secara khusus dan masyarakat secara umum yang di antaranya berisikan tentang bagaimana pentingnya menebarkan dakwah Islam dengan hikmah dan mauizhah hasanah, komitmen menjaga empat pilar bangsa dan paham Aswaja al-Nahdliyyah, menolak paham radikalisme, Menolak segala bentuk caci maki, berita hoaks dan provokasi terhadap sesama warga Negara Indonesia, utamanya kepada ulama NU dan pemerintah, menghormati, mematuhi dan mengawal pemerintahan Republik Indonesia yang sah secara konstitusi dengan tetap melakukan kontrol sesuai prosedur amr ma’ruf nahi munkar dan perundang-undangan yang berlaku, serta mengajak seluruh elemen bangsa untuk senantiasa menjaga persatuan nasional dan keharmonisan hidup beragama, berbangsa dan bernegara, sehingga tercapai negeri damai dan penuh berkah, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Walhasil, buku setebal 100 halaman ini sangat direkomendasikan untuk dibaca sebagai upaya pemantapan dan pembentengan nilai-nilai kebangsaan khas kiai NU yang semakin hari semakin mendapat ancaman serius dari kelompok perusak bangsa berjubah agama.


Peresensi adalah M. Mubasysyarum Bih, pegiat Komunitas Literasi Pesantren (KLP), tinggal di Kediri


Data Buku

Judul buku : Fikih Kebangsaan, Merajut Kebersamaan di Tengah Kehinekaan
Pengantar : KH. Maimun Zubair
Mushahih : KH. Athoillah Sholahuddin Anwar, dkk.
Penyusun : Tim Bahtsul Masail HIMASAL
Editor : Ahmad Muntaha AM
Tebal : xvi + 100 halaman
Penerbit         : Lirboyo press dan LTN Himasal
ISBN : 978-602-1207-99-0

Kamis 18 Januari 2018 6:0 WIB
Jalan untuk Penghafal Al-Qur’an
Jalan untuk Penghafal Al-Qur’an
Tidak ada kitab suci suatu agama yang dihafal jutaan orang kecuali Al-Qur’an. Sejak diturunkan -15 abad lalu- hingga hari ini, penghafal Al-Qur’an tidak surut namun malah terus bertambah. Sehingga andaipun Al-Qur’an yang ada di dunia ini hilang atau dihilangkan, maka otentisitas Al-Qur’an akan terjamin karena itu sudah tertanam di dalam memori setiap penghafal Al-Qur’an.

Ada yang mengatakan kalau menghafal Al-Qur’an itu gampang-gampang susah. Gampang kalau hanya menghafalnya saja, susahnya adalah menjaganya. Sebetulnya, menghafal Al-Qur’an juga tidak gampang-gampang amat –apalagi mereka yang tidak memiliki kekuatan menyimpang ingatan yang kuat, setidaknya butuh waktu bertahun-tahun untuk menghatamkan 30 juz Al-Qur’an. Pasti ada banyak rintangan selama menghafalkan kitab suci tersebut, mulai dari malas, tidak konsisten, hingga ragu dengan niatnya menghafal Al-Qur’an di ‘tengah jalan.’

Ditambah, sulitnya menjaga Al-Qur’an. Butuh konsistensi dan komitmen yang kuat untuk menjaga Al-Qur’an. Tidak semua orang bisa melakukannya. Hanya orang-orang yang diberikan anugerah saja yang mampu menjaga Al-Qur’an hingga akhir hayatnya dan mengamalkannya. Orang yang tidak memiliki komitmen kuat pasti akan ciut duluan. Mereka yang hanya sebatas ikut-ikutan atau mengikuti tren menghafal Al-Qur’an tentu akan terpental dengan sendirinya. 

Banyak yang hafal Al-Qur’an, namun apakah semuanya memahami isi, mempraktikkan, dan mengamalkannya? Mereka yang hanya ‘mempraktikkan’ Al-Qur’an di bibir saja juga tidak sedikit. Sementara tindak-tanduknya masih jauh dari Al-Qur’an, bahkan bertentangan dengan Al-Qur’an. Ini yang seharusnya menjadi ironi.

Di dalam bukunya ini, Ulin Nuha Mahfudhon berupaya untuk memaparkan liku-liku perjuangan menghafal Al-Qur’an. Pun dijelaskan pula upaya, langkah, atau tips menjaga Al-Qur’an agar terus ada di hati. Pemaparan yang ada tidak hanya didasarkan kepada pengalaman penulis semata, tapi ia juga mengutip dari beberapa referensi yang terkait dengannya sebagai penguat daripada apa yang ia alami.

Buku setebal 197 halaman ini berisikan lima bab. Bab pertama membahas tentang proses penjagaan Al-Qur’an hingga hari kiamat. Pada bagian ini, penulis banyak mengutip sumber-sumber yang ada, baik dari Al-Qur’an itu sendiri atau pun hadist. Bab kedua mendiskusikan tentang menghafal Al-Qur’an sejak usia dini. Pada bagian ini, penulis banyak menceritakan pengalaman menghafal Al-Qur’an sewaktu ia masih kecil. Di bagian ini, ia juga mengulas bagaimana pentingnya peran keluarga dan lingkungan bagi seorang anak dalam menghafal Al-Qur’an. 

“Selain melarang tidur setelah salat Subuh Ayah juga mewajibkan kami ber-talaqqi (mengaji) Al-Qur’an kepada beliau setelah salat Subuh.” (hal. 32)

Bab ketiga mengkaji tentang cara dan strategi menghafal Al-Qur-an. Di dalam menghafal Al-Qur’an, penulis mengingatkan bahwa yang utama dan pertama adalah niat. Mereka yang hendak menghafalkan Al-Qur’an harus memiliki niat yang lurus dan tulus karena Allah. Bukan untuk pamer, apalagi untuk menghasilkan uang. Di samping itu, penulis juga menekankan pentingnya belajar agama, terutama menghafal Al-Qur’an, kepada seorang guru sehingga sanad keilmuannya tersambung kepada Nabi Muhammad. Jangan sampai menghafal Al-Qur’an tanpa bimbingan seorang guru. 

Bab keempat mengupas tentang suka duka dalam proses menghafal Al-Qur’an. Menghafal Al-Qur’an tidak semudah yang dibayangkan. Ada masanya -di tengah-tengah proses menghafal Al-Qur’an- dimana orang merasa bosan, tidak sabar ingin cepat selesai, putus asa, konsistensinya menurun, dan lainnya. Suka duka tersebut dijelaskan secara cukup komprehensif dalam bagian ini.

Bab terakhir menelaah tentang keutamaan bagi penghafal Al-Qur’an. Pada bagian ini, penulis mengingatkan agar mengamalkan apa yang ada dalam Al-Qur’an, setelah dibaca dan dipahami isinya. Membaca Al-Qur’an seharusnya bukan dimaksudkan untuk mencari pembenaran atas tingkah laku kita, namun membaca Al-Qur’an semestinya untuk memperbaiki perbuatan kita. 

Buku ini bisa menjadi semacam 'jalan' bagi orang-orang yang hendak menghafal Al-Qur'an. Mereka tidak akan bimbang lagi mau memulai darimana atau bingung  ketika 'persoalan-persoalan' dalam proses menghafal Al-Qur'an menderanya, karena jawabannya tersaji dalam buku ini. Selamat membaca.  

Identitas buku:

Judul : Jalan Penghafal Al-Qur’an
Penulis : Ulin Nuha Mahfudhon
ISBN : 717101894
Tebal : 197 halaman
Terbit : November 2017
Peresensi : A Muchlishon Rochmat
Senin 15 Januari 2018 15:1 WIB
‘Kitab Suci’ Gerakan Nasional Revolusi Mental
‘Kitab Suci’ Gerakan Nasional Revolusi Mental
Tanggal 10 Januari, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus lewat akun twitter pribadinya @gusmusgusmu mencuit: “Revolusi Mental, menurutku, mesti dimulai dari 'mental para pemimpin.” Twit ini diretwit 4480 followers-nya, dan disukai 6729 nettien di twitter land. Gus Mus seperti ingin ‘mengingatkan kembali’ soal pentingnya Revolusi Mental ini. Sampai sejauh mana diejawantahkan oleh Bangsa Indonesia, terutama para pejabat publik di republik ini. 

Istilah “revolusi mental”seolah bangkit kembali setelah sekian lama terkubur,“mati suri”, dan tidak pernah diperdengarkan kembali. Istilah “revolusi mental” kembali bergema dan mendapat momentum barunya, yaitu saat dimulainya pemerintahan baru Joko Widodo pada awal tahun 2014.

Dalam sebuah pidatonya, ia kembali menggelorakan semangat revolusi mental sebagai bagian agenda penting pemerintahannya. Semua seolah tergagap,berusaha ingat kembali dalam kilas sejarah,bahwa dua kata sakti ini telah lama ada dan berkali-kali tanpa lelah dikumandangkan oleh bapak bangsa “Sukarno,” sang penyambung lidah rakyat Indonesia.
Berbagai ikhtiar dilakukan oleh anak bangsa saat ini untuk membahas dan memahami kembali arti kontekstual dan esensi “revolusi mental. Termasuk menjawab pertanyaan mengapa, bagaimana  dan relevansi “revolusi mental” dan konteks kekiniannya. Perubahan mentalitas yang pernah dikumandangkan Bung Karno penting dimunculkan, terus digali termasuk dihubungkan relevansinya dengan konteks kekinian dalam segala matra, baik politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. 

Sebagai contoh, ada satu pesan Bung Karno yang ‘mak jleb’ dan sangat kontekstual untuk para pihak/ partai yang akan berkompetisi di Pemilukada di tahun politik ini, yakni di bab 2, Total Untuk Negeri, Bukan Partai.

"Demokrasi adalah alat. Alat untuk mencapai masyarakat adil-makmur yang sempurna. Pemilu adalah alat yang menyempurnakan demokrasi itu. Pemilu adalah dus sekadar alat untuk menyempurnakan alat. Kalau hantu kebencian dan hantu panas-panasan lahir dan merajalela karena pemilihan umum itu, kalau keutuhan bangsa berantakan karena Pemilu itu, kalau tenaga bangsa remuk redam karena Pemilu itu, maka benarlah apa yang kukatakan tempo hari, bahwa di sini “alat lebih jahat daripada penyakit yang hendak disembuhkannya.” 

Masih ada di antara anak bangsa hingga kini belum memahami, bahkan salah mengartikan revolusi mental yang dikumandangkan Bung Karno. Beberapa pandangan bahkan menyebut revolusi mental atau “Gerakan Hidup Baru” sebagai jiplakan dari New Life Movement yang berasal dari negeri luar. Revolusi mental dituduh sebagai komunisme, seperti hasil pemikiran Karl Marx dalam karyanya Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte tahun 1869. 

Tuduhan-tuduhan tersebut jauh-jauh hari telah dibantah keras oleh Sukarno. Dalam pidatonya tanggal 17 Agustus 1957, Bung Karno menyerang balik pandangan tersebut. “Alangkah piciknya ucapan demikian itu. Alangkah piciknya pula ucapan bahwa Gerakan Hidup Baru itu adalah inspirasi dari RRT,” kata Bung Karno. 

Revolusi mental dalam konteks historis jelas tidak dapat dipisahkan dengan sang konseptornya, Bung Karno. Ia pada tahun 1950-an ia telah melihat berbagai bibit penyakit mentalitas yang mengerogoti mentalitiet anak bangsa, baik di masyarakat dan pemerintahan yang dianggapnya kontra revolusi. Untuk itu, ia kemudian memunculkan sebuah gagasan perubahan mentalitas, sebuah gaya hidup baruuntuk mengatasi kemandegan dari sebuah revolusi yang menurutnya belum selesai. 

Bung Karno memimpikan bangsanya bersemangat elang perkasa, ia mencita-citakan rakyatnya menjadi manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, berjiwa api yang menyala-nyala. Sang Putera Fajar seolah-olah juga tidak pernah mengenal lelah untuk membangunkan, menyadarkan kembali, menggembleng manusia Indonesia agar bangun, tegak berdiri, tegap melangkah mewujudkan Indonesia jaya, yang salah satunya dengan menggelorakan suatu perubahan besar mentalitas, sebuah Gerakan Hidup Baru yang disebutnya sebagai “Revolusi Mental.”
 
Revolusi mental pada hakikatnya adalah sebuah ajakan perubahan, perbaikan menuju kebaikan dan meninggalkan segala penyakit mentalitas yang mengerogoti mentalitiet anak bangsa, baik di masyarakat maupun kalangan  pemerintahan. Revolusi mental menurut Bung Karno menghendaki manusia Indonesia untuk meninggalkan kemalasan, korupsi, individualisme, ego-sentrisme, ketamakan, keliaran, kekoboian, kemesuman, keinlanderan dan menjadi manusia Indonesia yang seutuhnya, menjadi Manusia Pembina.
 
Jauh sebelum menggelorakan revolusi mental, Bung Karno telah melakukan revolusi mental untuk dirinya sendiri. Ia telah menggembleng jiwa dan raganya terlebih dahulu untuk menjadi manusia Indonesia yang seutuhnya, pemimpin bagi rakyatnya, nasionalis unggul, dan penyambung lidah rakyat Indonesia. Kemudian, ia berupaya keras membangun dan menggembleng mentalitas bangsanya agar menjadi manusia paripurna, sebaliknya tidak menjadi bangsa kuli atau menjadi kuli bangsa-bangsa lain “een natie van koelies, en een koelie onder de naties.”
 
Revolusi mental harus dilakukan. Bahkan, Sukarno telah meramalkan munculnya masalah maha besar jika rakyat Indonesia tidak segera menyelenggarakannya. Bung Karno menyebut dan bahkan mewanti-wanti, bahwa bangsa Indonesia dapat menjadi“bangsa kuli” diantara bangsa-bangsa dunia lain, menjadi bangsa yang kembali mengalami eksploitasi, bahkan saling menindas antar sesame anak bangsanya jika tidak menyegerakan perubahan mentalitas yang disebutnya “revolusi mental.”

Dalam pidatonya tahun 1957, Bung Karno secara jelas dan gamblang  telah mewanti-wanti bangsanya agar segera bergegas melakukan revolusi mental. Dan diberbagai pidatonya, Bung Karno juga telah mengingatkan agar bangsa Indonesia jangan sudi menjadi bangsa kuli atau menjadi kuli bangsa-bangsa lain “a nation of coolies and a collies amongst nations.”

Bung Karno juga berkata, “Dan sejarah akan menulis: Di sana, antara benua Asia dan Benua Australia, antara benua Lautan Teduh dan Lautan Indonesia, adalah hidup satu bangsa, yang mula-mula mencoba untuk hidup kembali sebagai Bangsa, akhirnya kembali menjadi satu kuli di antara bangsa-bangsa, - kembali menjadi “een natie van koelies, en een koelie onder de naties.” 

Bung Karno menyebut revolusi mental sebagai prasyarat utama dalam membentuk national building. Pembentukan national building gagal jika tanpa revolusi mental, atau sebaliknya. Keduanya saling melengkapi. “National building membutuhkan bantuan Revolusi Mental! Karena itu, adakanlah Revolusi Mental! Bangkitlah!" kata Sukarno. 

Karakter bangsa harus dipupuk agar rakyat tidak bermalas-malasan, meninggalkan egoisme, membuang rasa tamak, menghindari kemewah-mewahan, membuang jauh-jauh sifat ke inlanderan. Dengan membuang jauh-jauh karakter negatif tersebut, Sukarno yakin rakyat dapat menjadi manusia Indonesia yang seutuhnya. 

Revolusi Mental tentu saja tidak akan selesai dalam hitungan jam, hari, bulan atau tahun. Namun sebagai proses berkelanjutan, dibutuhkan sebuah komitmen bersama dan harus dilakukan serentak oleh seluruh anak bangsa, terutama bagi para pemimpin-pemimpinnya. Revolusi mental harus didorong oleh bangsa Indonesia sendiri dan bukan karena dorongan pihak luar. 

Mengutip kalimat Sukarno, “Membaharui mentalitet satu bangsa bukan seperti orang ganti baju.” Gerakan hidup baru dalam revolusi mental tidak hanya suatu kebiasaan yang sekedar hanya tidak meludah di sembarang tempat, tidak membuang puntung rokok di sembarang tempat, namun gerakan yang menggembleng manusia Indonesia yang baru yang berhati nurani, bermental baja, bersemangat dan berjiwa api yang menyala-nyala. 

Buku ini membedah “revolusi mental” dalam bahasa sederhana, memotret perkataan, ucapan, tindakan, karakter, dan kehidupan keseharian Bung Karno, sang Putra Fajar. Tentu saja, buku ini tidak dimaksudkan untuk mengkultuskan, mendewa-dewakan dan menggambarkan Sukarno seolah-olah sebagai manusia paling sempurna. 

Karena Bung Karno adalah manusia biasa yang multidimensi, tidak luput dari salah dan khilaf. Hal inipun secara terang benderang ia sebutkan. “Saya adalah manusia biasa. Saya dus tidak sempurna. Sebagai manusia biasa saya tidak luput dari kekurangan dan kesalahan,” kata Sukarno. Dan tidak ada salahnya jika kita dapat dapat mengali nilai-nilai luhur masa lalu dari ajaran “revolusi mental”. Nilai tersebut dapat menjadi pembelajaran saat ini dan bagi generasi mendatang. 

Seperti yang juga pernah diharapkan oleh Sukarno, “Harapan saya ialah, hendaknya riwayat hidup dan perjuangan saya itu dapat diambil sebanyak mungkin pelajaran serta dapat menjadi suri tauladan segi-segi positifnya, dan buanglah segi-segi negatifnya, karena saya adalah manusia biasa.”

Namun, ia berharap dari riwayat hidup dan perjuangannya  dapat diambil sebanyak mungkin pelajaran yang dapat menjadi suri tauladan, namun sebalinya membuang segi yang negatifnya. Buku ini adalah ikhtiar untuk memahami arti “revolusi mental” dalam konteks sisi-sisi kemanusiaan “humanisme” Sukarno dan sosial-historisnya.

Identitas buku:

Judul: Bung Karno dan Revolusi Mental
Penulis: Sigit Aris Prasetyo
Format: 14 X 21 cm
ISBN: 978-602-7926-37-0
Tebal: 378 halaman
Terbit: November 2017
Peresensi: Faried Wijdan, buruh di sebuah pabrik aksara.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG