IMG-LOGO
Nasional
RAKORNAS NU CARE-LAZISNU 2018

Pameran LPNU Meriahkan Rakornas

Kamis 1 Februari 2018 0:30 WIB
Bagikan:
Pameran LPNU Meriahkan Rakornas
Sragen, NU Online
Lembaga Perekonomian Nahldatul Ulama (LPNU) Kabupaten Sragen turut memeriahkan gelaran Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) NU Care-LAZISNU, 29-31 Januari 2018 dengan memamerkan sejumlah produk yang dikelola LPNU Sragen.

“Semua usaha di bawah LPNU PCNU Sragen yang ikut dalam kegiatan pameran tersebut, siap dimitrakan bisnisnya  di seluruh Indonesia,” kata Agung Praksoso, Ketua LPNU Sragen di lokasi pameran, Pesantren Walisongo, Sragen, Jawa
Tengah, Senin (29/1).

Pembukaan pameran ditandai dengan pemotongan pita disaksikan perwakilan NU Care-LAZISNU, LPNU Sragen, sejumlah peserta yang sudah tiba di lokasi Rakornas.

Beberapa stand pameran yang ikut meramaikan pameran adalah Agung BH (produk pakaian dalam), Imam Utomo (pengusaha beragam jenis alat rumah tangga), Hendrik Bares Group (pengusaha berbagai macam jenis kain), Gito sentra grafika (pengusaha percetakan), Wijanarko (furniture), Khoirul Ma’ruf (pengusaha berbagai macam pakaian batik Solo), Sutardi (pengusaha percetakan buku), Hendro (pengusaha berbagai atribut NU), Bahrul Mustawa (pengusaha sukses kaset CD/DVD dan berbagai macam jamu herbal).

Agung berharap dari kegiatan tersebut, nantinya semua bisnis yang dipamerkan dalam bisa merambah jaringan pemasaran yang lebih luas, mampu memiliki daya saing secara nasional, serta memberikan dampak positif terhadap pengusaha nahdliyyin untuk pemberdayaan umat. 

“LPNU Sragen  siap melakukan pendampingan strategi bisnis serta membantu jaringan akses pemasaran dan penguatan manajemen bisnis warga Nahdliyyin di Kabupaten Sragen,” tandas Agung. (Kendi Setiawan)

Bagikan:
Kamis 1 Februari 2018 22:16 WIB
As'ad Said Ali: Gus Dur Jadi Presiden Karena Khittah NU
As'ad Said Ali: Gus Dur Jadi Presiden Karena Khittah NU
Gus Dur, KH Ahmad Shiddiq, KH As'ad Syamsul Arifin ketika bertemu Soeharto
Jember, NU Online
Pemikiran KH Ahmad Shiddiq sosal wawasan kebangsaan dibedah di Pondok Pesantren Ash-Shiddiqi Putera, Talangsari, Jember, Jawa Timur, Rabu (31/1). Acara yang betanjuk "Halaqah Aktualisasi Pemikiran KH Ahmad Shiddiq tentang Wawasan Kebangsaan" tersebut, antara lain menghadirkan narasumber H. As'ad Said Ali.


Waketum PBNU 2010-2015 itu menyatakan betapa luasnya wawasan KH Ahmad Shiddiq terkait dengan masalah kebangsaan. Pemikirannya meliputi aqidah, syari'ah, tasawuf, Khittah NU 1926, hubungan agama dan Pancasila, sarat dengan nilai-nilai kebangsaan. 

"Karena itu, sangat penting bagi kiai dan kader NU untuk membaca dan memahami pemikiran Kiai Ahmad Shiddiq," jelasnya.

Menurutnya, KH Ahamd Shiddiq banyak berperan dalam "menetralisir" berbagai persoalan kebangsaan yang menyeret dua kekuatan dalam posisi berhadap-hadapan secara radikal. 

Dengan konsep tawassuthnya, KH Ahmad Shiddiq mampu menjadi penengah dalam perseteruan dua kelompok yang berbeda. 

"Ketika kelompok kiri dan kanan bertikai, maka negara pasti butuh tawassuth," lanjutnya.

Yang cukup fenomenal, kata As'ad, adalah pemikiran KH Ahmad Shiddiq terkait Khittah NU 1926. 

Dikatakannya, Khittah NU 1926 telah mampu mereposisi NU dalam bingkai yang benar. Semula, NU bagaikan kue yang selalu menjadi rebutan kekuatan partai politik, hingga membuat NU tak fokus pada tugas tanggungjawab sosialnya. Tapi berkat kembali ke khittah NU 1926, posisi NU kembali diperhitungkan. 

"Salah satu buah Khittah NU, Gus Dur bisa jadi Presiden RI," ungkapnya. (Aryudi A Razaq/Abdullah Alawi)

Kamis 1 Februari 2018 21:1 WIB
Tercerabut dari Akar Sejarah Penyebab Diskriminasi terhadap Madrasah
Tercerabut dari Akar Sejarah Penyebab Diskriminasi terhadap Madrasah
Jakarta, NU Online 
Ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif Pengurus Besar Nahdlatul Ulama H. Arifin Junaidi menilai pemerintah mendiskriminasi pendidikan madrasah. Dengan demikian, sistem pendidikan yang ada saat ini tercerabut dari akar sejarah. 

Demikian dikatakan Arifin di tengah-tengah Focus Group Discussion yang diselenggarakan LP Ma'arif PBNU di lantai delapan Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (1/2).

Ia menjelaskan, pada zaman Hindu dan Budha lembaga pendidikan disebut karsan yang berasal dari bahasa Sansekerta. Sementara zaman Hindu disebut asram, dan oleh Budha disebut patapan. Di tempat lembaga pendidikan tersebut antara guru dan murid hidup bersama dalam satu tempat. 

Menurutnya, ketika Islam masuk ke Indonesia, lembaga pendidikan yang diterapkan Hindu-Budha tersebut tetap dipertahankan, hanya terjadi perbedaan penamaan. Setelah Islam masuk, lembaga pendidikan disebut pasastrian yang sekarang menjadi pesantren. 

Seiring berjalannya waktu, pasastrian mulai bersentuhan dengan lembaga pendidikan sekolah yang masuk ke Indonesia sekitar tahun 1810 dan menghasilkan madrasah. 

"Itulah kenapa kita sebut pendidikan kita sekarang tercerabut dari sejarahnya. Karena, akar sejarahnya pendidikan kita itu pesantren. Pesantren yang sekarang adalah madrasah diniyah dan madrasah formal yang merupakan anak kandung pesantren," jelasnya. 

Sistem pendidikan mulai tercerabut dari akar sejarah pesantren ketika Indonesia merdeka. Saat itulah mulai sistem pendidikannya tidak melanjutkan ala pesantren, tapi dengan mengambil dari Barat. 

"Inilah mengapa lembaga pendidikan yang berakar sejarah itu tidak mendapat perhatian yang cukup. Itulah kemudian kenapa terjadi diskriminasi terhadap pendidikan madrasah," terangnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Kamis 1 Februari 2018 20:30 WIB
ISNU Kembali Gelar Pelatihan Penulisan Jurnal Internasional
ISNU Kembali Gelar Pelatihan Penulisan Jurnal Internasional
Surabaya, NU Online
Menempati Kafe Fastron, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Tower diselenggarakan kembali pelatihan penulisan proposal penelitian dan publikasi di jurnal internasional bereputasi. Hadir pada kegiatan yang berlangsung Rabu (31/1) tersebut, Ketua LPPM Unusa, Istas Pratomo.  

Pada kegiatan itu dilanjutkan pendatanganan kerjasama antara Unusa dan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Surabaya. Bidang garapan adalah peningkatan penelitian, publikasi ilmiah, pelatihan keahlian dan keterampilan, pengabdian masyarakat melaui bakti sosial kesehatan dan lainnya.

"Dengan adanya kesepakatan ISNU dan LPPM Unusa akan memberikan kontribusi positif terutama dalam pengembangan penelitian dan pengabdian masyarakat,” kata Sunanto mewakili ISNU Surabaya. 

Dirinya berharap Unusa nantinya memberikan pengabdian kesehatan pada masyarakat terpencil misalnya pengobatan gratis dan bimbingan pendidikan. “Semoga dengan adannya kesepakatan ini memberikan wadah bagi ISNU untuk terus berkarya di kalangan kampus NU yang ada di Surabaya,” tandasnya. Hal tersebut tentunya juga akan memberika reputasi yang baik untuk organisasi, lanjutnya.

Kegiatan ini sebagai kelanjutan dari pelatihan penulisan proposal penelitian minggu lalu. Para peserta kemudian memperoleh sejumlah materi pelatihan terkait penulisan jurnal internasioanal bereputasi.  

“Para dosen Unusa tidak cukup melakukan pembelajaran, tetapi juga harus melakukan penelitian dan publikasi untuk menuju perguruan tinggi berkelas dunia atau world class university,” kata Sunanto. 

Selama pelatihan, peserta menerima penjelasan bagaimana menerjemahan jurnal berbahasa Indonesia ke Bahasa Inggris.  Juga cara mudah mempublikasikannya dalam jurnal internasional yang terindeks scopus.

Narasumber yang dihadirkan adalah Agus Rubiyanto dan Setiyo Gunawan dari ITS. Sedangkan peserta, selain dari Unusa juga ada dari dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel atau Uinsa, pengurus ISNU, serta dari sejumlah kampus NU sekitar Surabaya. 

Setelah pelatihan ini dilanjutkan gelombang berikutnya yang akan dilaksanakan di Poltekes Surabaya dan pesertanya ditambah terutama dari kampus NU di Jatim. “Insyaallah kegiatan serupa akan selalu dilakukan sebagai tugas ISNU yang menaungi bidang kecendikiawanan," pungkas Sunanto. (Ibnu Nawawi)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG