IMG-LOGO
Opini

Gus Dur dan Pluralisme Agama

Rabu 7 Februari 2018 22:0 WIB
Bagikan:
Gus Dur dan Pluralisme Agama
Oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Bersama teman-teman Gusdurian Purworejo, Senin (5/2) kemarin saya menghadiri puncak peringatan sewindu haul Gus Dur di Universitas Sanata Dharma (USD), Yogyakarta. Disebut puncak karena semenjak awal Januari lalu lalu ada 4 negara, 66 kota dan 99 titik peringatan dengan beragam kegiatan keagamaan maupun kebudayaan. Dan yang di kampus USD ini, adalah puncaknya.

Ada beberapa hal menarik di acara itu. Pertama, adalah peringatannya yang tak monoton atau melulu tahlilan dan pengajian. Sebagaimana kita ketahui bersama, tradisi haul merupakan tradisi-keagamaan NU untuk memperingati jasa, peran dan keteladanan tokoh tertentu. Haul biasanya diadakan setahun sekali, dengan pembacaan doa (tahlilan, yasinan) dan pengajian umum. Namun, agak berbeda untuk haul Gus Dur, sang Guru Bangsa.

Dan haul Gus Dur kali ini sedikit berbeda, tak hanya tahlil kebangsan dan pengajian seperti pada haul-haul pada umumnya. Ada pentas kesenian, bernyanyi, stand up comedy, doa lintas agama, pameran foto dan lukisan.  Di Purworejo sendiri, beberapa waktu lalu, selain dengan doa, peringatan sewindu Gus Dur diadakan dengan pameran lukisan, pentas musik akustik, pembacaan puisi dan talkshow kebangsaan yang membedah sosok Gus Dur. Ini tak lepas dari sosok Gus Dur yang juga dianggap sebagai budayawan.

Kedua, adalah tempat penyelenggaraan. Tempat penyelenggaraan puncak acara haul Gus Dur bertajuk “Ziarah Budaya: Menjadi Gus Dur, Menjadi Indonesia” ini pun  sangat unik dan diluar kebiasaan: Universitas Sanata Dharma, sebuah kampus yang dikenal milik “Yayasan Katholik”. Ini menunjukkan, betapa Islam yang diterjemahkan Gus Dur dapat diterima oleh agama lain, tanpa saling mencampuradukkan. 

Tak heran jika USD menerima teman-teman Gusdurian yang menginisiasi acara, oleh karena di USD pun toleransi berkembang cukup baik. Misalnya, yang saya lihat dan gunakan sendiri, adalah adanya mushalla di sana. Meskipun kecil, namun adanya mushala di “Kampus Khatolik” ini adalah bukti nyata toleransi telah mengakar kuat di Indonesia.

Ketiga, adanya kolaborasi pemuda-pemudi Paduan Suara GKI Gejayan dengan Seni Hadrah para santri yang menampilkan Syi’ir Tanpo Waton. Betapa, dua hal yang selama ini dianggap kontras, bisa bersatu mendendangkan syair dengan apik dan kompak. Ini membuktikan bahwa perbedaan bukanlah hal yang melemahkan, justru perbedaanlah yang dapat menjadi kekuatan dan bahkan keindahan, jika disatukan dalam konteks kebangsaan.

Ketiga hal itu, saya kira, cukup mewakili sedikit dari nilai-nilai yang telah Gus Dur ajarkan. Perbedaan tak menjadikan satu sama lain bertengkar dan menebar kebencian. Toleransi yang Gus Dur ajarkan adalah nilai-nilai s yang menempatkan agama sebagai pilihan dan pegangan hidup, sekaligus paham universalita yang dapat membela kemanusian yang Nabi Muhammad ajarkan, yaitu mengayomi dan mengasihi semua umat manusia, apapun suku dan agamanya. Dalam term lain disebut sebagai rahmatan lil alamin.

Pluralisme Ala Gus Dur
Mengapa umat non-muslim di Indonesia begitu terbuka dengan umat Islam? Salah satu sebabnya, menurut saya, adalah peran dari Gus Dur. Sebagai seorang tokoh pluralisme, Gus Dur banyak bergaul dengan berbagai tokoh lintas agama, budaya, aktivis, etnis dan golongan. Dalam terminologi politik, Gus Dur mengakrabi dari yang paling kiri sampai paling kanan. Wajarlah kalau tindak-tanduknya sering disalah artikan, seperti soal Pluralisme, misalnya. Banyak yang gagal-faham.

Dalam puncak acara malam itu, Prof Mahfud MD yang di daulat sebagai pembicara menyampaikan pluralisme Gus Dur. Soal pluralisme, kata Mahfud, diibaratkan Gus Dur sebagai tinggal di rumah besar yang memiliki banyak kamar.

Gus Dur mengibaratkan setiap kamar dihuni oleh pemeluk masing-masing agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia. Di kamar itu, tutur Mahfud, setiap orang bebas bertindak sesuai aturan kamar masing-masing. Namun, begitu keluar dari kamar dan berkumpul di ruang keluarga, semua harus tunduk pada kesepakatan bersama.

“Indonesia adalah ruang besar itu, yang telah dibentuk oleh pendahulu bangsa dengan kebesaran hati. Indonesia tidak bisa diubah tata kehidupannya dengan aturan dari satu kamar saja. Ada kamar Islam, kamar Hindu, kamar Katolik, kamar Kejawen, biarkan saja. Tetapi ketika kita ketemu di lapangan perjuangan, politik, kenegaraan bernama Indonesia, kita harus bersama. Itulah yang disebut Gus Dur sebagai pluralisme,” kata Mahfud, disambut tepuk tangan hadirin.

Kita bisa menangkap, bahwa dalam hal doktrin dan internal umat bergama, kita meyakini dan mengamalkan ajaran agama masing-masing. Namun, begitu keluar dalam bingkai Indonesia dengan beraneka warna, suku, budaya dan agama, kita mesti saling menghargai dan mendekatkan persamaan-persamaan yang ada. Misalnya, persamaan bahwa semua agama mengutuk korupsi, mencintai lingkungan hidup, menolak kekerasan dll. Ruang keluarga dalam gambaran Gus Dur itu, adalah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Demikianlah, banyak sekali warisan Gus Dur yang ditinggalkan kepada kita semua, khususnya para generasi muda.  Baik perupa tulisan, ucapan maupun perilaku yang kian hari kian dibutuhkan ditengah maraknya intoleransi dan ujaran kebencian. Upaya Mbak Alissa Wahid dengan Gusduriannya untuk terus menebar paham keberislaman yang diajarkan Gus Dur layak diacungi jempol. Jika virus itu menular pada generasi muda, persatuan dan kerukunan di Indonesia tentu takkan menjadi masalah lagi. Di masa depan, Indonesia siap memetik bonus demografi dengan karya dan pembangunan yang kongkret untuk membangun negeri.


Jurnalis NU Online.
Bagikan:
Rabu 7 Februari 2018 15:1 WIB
Menengok Masa Depan Manuskrip Nusantara
Menengok Masa Depan Manuskrip Nusantara
Oleh Fathurrochman Karyadi

Seorang jurnalis sekaligus reporter sepak bola di sebuah kantor berita pernah meminjamkan penulis sebuah buku berjudul Indonesian Manuscripts in Great Britain. Penulis agak heran, apa hubungannya dunia jurnalistik olahraga dengan katalog naskah kuno. Ia bercerita, leluhurnya memiliki beberapa manuskrip di kampungnya, Solo, Jawa Tengah, dan ia sendiri kuliah di UI mengkaji naskah-naskah Jawa. Setelah lulus S1 ia lebih menekuni hobinya di bidang olahraga dan fotografi. Hingga akhirnya berkarier di dunia jurnalistik. 

Penulis yakin, tak hanya dia yang memiliki perjalanan seperti itu. Banyak di antara kita yang sebenarnya memiliki keterkaitan dengan cagar budaya bangsa Indonesia—dalam hal ini manuskrip kuno—namun tidak fokus pada “warisan” tersebut. Tentunya banyak hal yang melatarbelakangi. Dalam hal ini pula kita tidak pantas untuk men-judge siapa yang benardan siapa yang salah. Yang terpenting ialah melestarikannya untuk kejayaan bersama.

Baru-baru ini, di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI diluncurkan “Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia” (Dreamsea). Program ini akan memprioritaskan digitalisasi manuskrip yang terancam punah khususnya di daerah Asia Tenggara. Dalam pelaksanaannya, Dreamsea dinakhodai oleh dua filolog, Prof. Dr. Jan van der Putten, Centre for the Study of Manuscript Cultures (CSMC), University of Hamburg; dan Prof. Dr. Oman Fathurahman, Pusat Pengkajian Islam danMasyarakat (PPIM), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 

Kita patut berbangga karena hal ini akan sangat membantu terutama dalam hal  alih media digital, atau digitalisasi; dan juga pengembangan open access database of Southeast Asian manuscripts. Dengan adanya digitalsasi, kita tak perlu lagi khawatir jika fisik naskah rusak atau bahkan hilang sebab teks sudah abadi dalam rekam teknologi. Sedangkan untuk database sangat dibutuhkan untuk para peneliti apalagi jika disajikan dalam sebuah portal yang terintegrasi dan diproyeksikan menghimpun keragaman manuskrip Asia Tenggara.

Pada 28 Januari 2018, bersama Handoko F Zainsam dan Muhammad Daud Bengkulah, penulis juga meluncurkan WARNA Nusantara (Warisan Naskah Nusantara). Lembaga ini dibuka dengan acara kajian naskah Syaikh Abdul Shamad al-Falimbani (1737-1839) dan dihadiri oleh para peminat kajian naskah, pemikiran Islam, dan kenusantaraan. Ke depan, kami juga akan menerbitkan jurnal dan buku, mengadakan penelusuran manuskrip, serta mendirikan pendidikan dan museum. Tentunya, rencana  luhur ini butuh dukungan dari berbagai pihak. 

26.000 Manuskrip Kita
Melalui Memory of the World (MOW), UNESCO telah mendaftarkan beberapa manuskrip sebagai kekayaan tak benda milik dunia yang berasal dari Indonesia. Keempat manuskrip itu ialah Nāgarakěrtāgama, I La Galigo, Babad Diponegoro, dan Panji Tales. 

Sri Sulasih pernah menyebutkan bahwa jumlah manuskrip kuno Indonesia di luar negeri mencapai angka 26.000. Itu belum ditambah dokumen bersejarah lain yang ada di Inggris, Malaysia, dan negara-negara lain. Perpusnas hanya memiliki 10.300 manuskrip kuno. Maka bisa dikatakan, dokumen penting yang berada di Leiden Belanda 2,5 kali lipat lebih banyak daripada di Indonesia.

Bahkan, Peter BR Carey, sejarawan asal Inggris yang juga Profesor Emeritus Oxford University, mengatakan bahwa banyak naskah kuno yang memuat sejarah Indonesia masih tersebar di berbagai negara. Jumlahnya bisa mencapai ribuan, dan tersimpan di berbagai museum di dunia. Di Inggris saja, diperkirakan terdapat 500-600 jenis naskah kuno yang tersebar di sejumlah kota, antara lain di London, Manchester, dan Oxford.

Kabar baiknya, meski manuskrip kita banyak di luar negeri, Perpusnas di bawah kendali Syarif Bando sudah mengambil langkah. Ia menuturkan, Leiden pernah memberikan duplikat naskah sebanyak 20.000 kopi ke Indonesia. Tapi setelah diseleksi, hanya butuh 4.000 kopi karena 16.000 sisanya sudah ada di Perpusnas. Kini, Perpusnas sudah punya kurang lebih 4.300-an naskah bentuk digital. Duplikat naskah manuskripnya 11.409 judul naskah, dan microfilm dalam berbagai tema sebanyak 4.329 naskah.  

Ia menjelaskan bahwa naskah itu jenisnya ada dua, yakni microfilm yang sudah di-scan, dimasukkan microfilm dan dibaca dengan microreader. Juga ada naskah kuno yang total 14.300 naskah. Sebanyak 10.300 naskah sudah dimiliki Perpusnas sejak awal, sedangkan 4.000 naskah dari Leiden. Dibandingkan yang ada di Leiden sebanyak 26.000, Perpusnas sudah punya separuhnya.
Dalam wawancaranya di tirto.id, pria asal Sulawesi Selatan ini mengatakan, “Semua guru besar dan peneliti di Indonesia mengatakan, data di Perpusnas lengkap. Kita harus menghilangkan mitos kalau naskah kuno Indonesia di Belanda lebih lengkap sehingga kita harus belajar ke sana. Untuk menghindari biaya yang besar belajar di sana, cukup di Perpusnas saja dan tidak perlu ke Belanda. Jadi ke depan, berapa pun naskah kuno yang kami miliki, hal penting yang dibutuhkan masyarakat adalah subjek bahasanya”.

Tantangan ke Depan
Sampai hari ini, kita masih mendengar adanya oknum jual beli naskah kepada pihak asing. Juga raibnya beberapa naskah di sejumlah museum seperti di Solo. Serta minimnya “gereget” generasi muda untuk mengkaji dan mengembalikan khazanah intelektual bangsa, hal ini ditandai dengan jurusan pernaskahan yang sepi peminat.

Pemerintah sudah selayaknya menggelontorkan beasiswa kepada para mahasiswa yang konsen megkaji ilmu pernaskahan, filologi, kodikologi, dan ilmu-ilmu terkait lainnya. Selain itu, juga memberikan apresiasi tinggi kepada mereka yang merawat cagar budaya bangsa, baik perseorangan, maupun lembaga, dan komunitas, sebagaimana amanat UUD 1945, pasal 32 ayat 1.

Jika hal ini tak diperhatikan, maka dikhawatirkan negeri ini akan kehilangan jatidirinya sendiri. Jangan sampai manuskrip Nusantara yang menjadi bukti otentik sejarah, kekayaan alam, batas wilayah, falsafah hidup, hukum adat, dan buah pikir para leluhur justru dimiliki negeri lain atau mati suri karena tak pernah dikaji.


Penulis adalah mahasiswa magister filologi di SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan bergiat di WARNA (Warisan Naskah) Nusantara, Jagakarsa. Email atunk.oman@gmail.com

Selasa 6 Februari 2018 23:46 WIB
Asmat Saya Belum Teruji
Asmat Saya Belum Teruji
Oleh Moh. Agus Fuat
Hari-hari ini hampir di semua media sosial tengah membincangkan persoalan #KartuKuningJokowi. Bejibun komen sanjungan hingga seloroh kata "goblag goblog"  bersahut-sahutan di setiap kolom komentar.

Tetapi izinkanlah saya bicara soal Kejadian Luar Biasa (KLB) di Asmat.

Akhir Januari tahun ini, saya tergabung dalam tim NU Peduli Kemanusiaan untuk Asmat. Tim ini adalah bagian dari PBNU yang kali ini terdiri dari Dokter Makky dari Lembaga Kesehatan (LK PBNU), M Wahib dari Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI PBNU), dan saya sendiri mewakili NU Care-LAZISNU.

Tak pernah terbayangkan bahwa saya dapat turut andil mengemban tugas ini. Hal yang tergambar di benak saya adalah bagaimana susahnya menuju Asmat. Lebih-lebih ancaman penyakit malaria maupun campak yang saya dengar sebelumnya membuat bulu kuduk saya berdesir setiap kali membayangkannya.

Kamis (25/1) bermodal nekad dan tawakal, dan mengingat bahwa ini adalah tugas mulia dari NU, saya siapkan mental dan segala keperluan.

Seminggu sebelum keberangkatan, saya dan tim yang akan diberangkatkan ke Asmat harus menjalani vaksin campak dan minum obat antimalaria—obat ini masih harus diminum sampai sekarang—supaya tubuh kita kebal. 

Kami berangkat naik pesawat dari Jakarta menuju Surabaya-Makassar-Timika. Dari Timika menuju Asmat kami harus mengendarai pesawat kecil seperti capung. Itu pun dengan jadwal penerbangan yang tak menentu.

Beruntung Tim NU Lokal Timika dengan segala upaya berhasil membantu kami untuk mendapatkan tiket keberangkatan pada keesokan harinya. Di jadwal awal kami berangkat jam lima pagi. Namun, tiba di bandara subuh-subuh, seperti belum ada tanda-tanda ‘kehidupan’.

Hujan deras menemani waktu fajar kami hingga petugas bandara menyampaikan bahwa keberangkatan pesawat diundur menjadi jam 10 pagi.

Perjalanan Timika-Asmat kami tempuh dengan durasi 45 menit. Setiba di bandara Ewer, Kabupaten Asmat, kami disambut oleh PCNU Kabupaten Asmat dan beberapa tokoh masyarakat. Untuk menuju lokasi KLB, kami naik speedboat. Itu pun kita tak disediakan pelampung. Ketika ombak datang menghantam kapal, seketika itu pula jantung saya berdentum.

Perasaan saya sedikit lega ketika speedboat tiba di Distrik Agast. Distrik adalah kecamatan bila kita di Jawa. Di sini kami beruntung karena salah satu pengurus NU setempat adalah salah satu tetua adat di kampungnya. Ia bernama Leo Rahamtulloh Piripas. Pak Leo adalah juga Ketua Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam).

Kehadiran beliau membuat kami bisa disambut hangat oleh masyarakat Asmat. Hambatan komunikasi dan memahami kultur warga setempat yang dialami oleh beberapa NGO lain setidaknya tidak terlalu kami pusingkan.

Untuk meninjau bagaimana kondisi anak-anak Asmat, Pak Leo mengajak kami untuk silaturahmi terlebih dahulu dengan tetua adat di Kampung Syuru. Kami diterima oleh para tetua di rumah adat. Mereka menyebut itu Jew. Di tempat inilah kami mengutarakan kedatangan kami. 

Pak Leo sudah otomatis jadi penyambung lidah di antara kami. Perbincangan berlangsung semakin gayeng (akrab) dan akhirnya forum tetua adat mempersilahkan kami untuk menjalankan program di Kampung Syuru.

Di sepanjang jalan kami menyusuri rumah-rumah. Banyak sekali anak-anak Asmat yang ingin di foto dengan segala tingkah lucu mereka. Saya mengira tampaknya mereka pun merasa sangat bahagia atas kedatangan kami. 

Hanya saja ada sedikit pemandangan yang ganjil menurut saya. Anak-anak balita di sini seringkali makan buah kedondong dengan dicampur micin dan juga penyedap rasa lainnya. Kata ibu-ibu mereka, makanan itu sudah menjadi cemilan anak-anak. 

Hal ganjil lainnya yang saya lihat adalah ingus anak-anak seolah tak pernah berhenti keluar dari hidung mereka. Kemudian saya tahu, itu disebabkan karena setiap hari mereka minum air mentah. Ketersedaiaan air bersih di Asmat hanya mengandalkan turunnya air hujan.
*

Keesokan harinya kami bersama Tim Lokal mengumpulkan anak-anak untuk diikutkan pada screening. Ada sekitar 300 anak yang menjalani screening bersama Dokter Makky. Selain itu, anak-anak juga mendapatkan vitamin, susu, dan biscuit. Dari hasil screening sekitar 14 anak terindikasi kekurangan gizi. Jumlah ini kemungkinan akan terus bertambah karena ini baru screening yang dilakukan hanya di satu kampung. 

(Baca: 300 Anak Kampung Syuru Asmat Terima Bantuan dan Screening Tim NU)

Salah satu anak yang masuk dalam daftar kami adalah Susana. Umurnya 1,5 tahun. Namun, Susana hanya memiliki berat badan 4 kilogram. Dalam sehari Susana hanya makan nasi atau sagu dua kali. Di waktu pagi ia hanya minum teh atau kopi. Waktu kami beri susu dan biscuit, tangan Susana gemetar. Kata dokter ia sangat kekurangan protein.

Untuk memonitor anak-anak ini NU Peduli Kemanusiaan bersama tim lokal berinisiatif mendirikan rumah gizi. Dalam bahasa lokal mereka sebut Cem Gizi. Cem Gizi ini akan menjadi tempat anak-anak diberikan asupan gizi. Setiap minggu dalam 4 kali mereka akan datang di Cem Gizi untuk diberikan asupan makanan bergizi.

Cem Gizi akan menjadi rumah bagi anak-anak Asmat supaya tetap bisa sehat seperti anak-anak di wilayah Indonesia lainnya. Oleh karena itu, NU Care-LAZISNU juga melakukan penggalangan dana untuk anak-anak Asmat melalui NU Peduli Asmat.

Banyak cerita yang belum bisa saya tuliskan tentang pengalaman berharga di Asmat. Ini adalah kali pertama saya menginjakan kaki di tanah Asmat yang kenangan dan kesannya akan terus tertancap dalam lembaran hidup saya. 

Orang bilang Asmat adalah penyingkatan dari Asal Mau Tahan. Sepertinya saya belum teruji sepenuhnya untuk menjadi Asmat. 
*
Penulis adalah Ketua BEM FIB UI 2016, bergiat di PMII, staf NU Care-LAZISNU, dan anggota Tim NU Peduli Kemanusiaan.

Baca tulisan Moh. Agus Fuat lainnya DI SINI


Selasa 6 Februari 2018 13:3 WIB
HARLAH KE-92 NU
Mengapa NU (Tetap) Penting?
Mengapa NU (Tetap) Penting?
Oleh Iip D Yahya

KH A Wahid Hasyim menulis artikel Mengapa Saya Memilih NU? Pertanyaan ini menarik karena muncul dari anak pendiri NU. Sepulang dari pengembaraan intelektualnya pada pertengahan 1930-an, Wahid belia menimbang-nimbang, organisasi mana yang layak ia pilih. Sebagai kaum muda yang haus dengan kemajuan, ia lihat mana yang radikal dan revolusioner. Ia cermati juga mana yang dipenuhi kaum terpelajar dan intelektual. 

Pada 1938 pilihannya jatuh pada Nahdlatul Ulama. Pilihan ini bukan semata karena NU didirikan oleh ayahandanya. Bahkan ia sadar bahwa NU merupakan perhimpunan dari orang-orang tua yang geraknya lambat, tidak terasa dan tidak revolusioner. Tetapi dari amatannya, yang penting itu bukanlah kegagahan di dalam berjuang, melainkan hasil yang dicapai dalam perjuangan itu sendiri. NU berhasil membentuk cabang di 60 % wilayah Indonesia hanya dalam waktu satu dasawarsa. Di mata Wahid, kekuatan jejaring ini tak bisa ditandingi oleh organisasi lain. Sebuah pilihan dengan kesadaran yang penuh.

Sekalipun NU, waktu itu, tidak dipenuhi oleh kaum intelektual lulusan sekolahan Hindia Belanda, tetapi pijakan perjuangannya dalam pergerakan nasional sangat kokoh. Bagi Wahid, pada akhirnya bukan hanya otak yang menyebabkan majunya organisasi, melainkan juga mentalitas. Di sinilah fokus para kiai NU, menggembleng santri agar bermental baja, bergelora dalam semangat, mengabdi dalam khidmat. Menjunjung hormat para ulama, selalu menanti restu para kiai.   

Wahid melihat para ulama yang dikiranya sebagai rintangan bagi kemajuan, malah sebaliknya, justru menjadi faktor yang mempercepat kemajuan. Pada dasarnya para ulama itu terbuka pada perubahan asalkan agen perubahan itu mampu menyampaikan argumentasi yang masuk akal. Wahid membuktikan soal ini dalam pemakaian dasi yang menurutnya akan membuat kiai NU lebih berwibawa dan dihormati. Sebelumnya memakai dasi diharamkan karena meniru cara berpakaian orang kafir. Setelah Indonesia merdeka, memakai jas, pantalon, dan dasi adalah kebutuhan. Para kiai pesantren bukan hanya menerima argumen Wahid bahkan menirunya. Seperti yang dilakukan Ajengan Ruhiat Cipasung, berjas dan berdasi sekalipun ke bawah tetap bersarung. Menurut mereka, memakai dasi adalah “sunnahnya” Wahid Hasyim.

Perubahan di dalam NU memang tidaklah radikal, tetapi ketika ide tersebut diterima, maka perubahan akan berlangsung secara masif. Diperlukan keteladanan yang kuat dari seorang pembawa perubahan itu, dan tidak semua tokoh NU yang menawarkan perubahan memiliki kekuatan personal yang layak diteladani. Memahami bahasa kiai dan kode budaya pesantren, bukan hal yang mudah bagi pembawa perubahan yang tergesa-gesa, apalagi tidak dibekali adab yang memadai. 

Kisah menarik dituturkan oleh aktivis perempuan Neng Dara Affiah. Ketika isu kesetaraan gender menguat dan hendak dibawa ke tengah pesantren, KH Abdurrahman Wahid mengingatkan para aktivis itu agar menggunakan istilah yang lebih mudah diterima para kiai dan nyai. Gus Dur meminta agar istilah Pelatihan Gender diganti Halaqah Kepemimpinan Perempuan. Kemasan luar harus diterima terlebih dahulu, selanjutnya terkait materi yang disampaikan, bisa diatur lebih lanjut dan biasanya tidak dipersoalkan lagi. Kiai-kiai itu pada dasarnya tidak mempersoalkan ide pembaharuan tetapi mempermasalahkan caranya disampaikan. 

Ide-ide segar pun singgah ke pesantren-pesantren NU dan diadaptasi sesuai kebutuhan masing-masing. Pesantren salaf tetap bertahan hingga diakui oleh negara melalui Ma'had Aly Mu'adalah yang setara S1. Perguruan tinggi berdiri di berbagai pesantren. Para gus dan ning tidak hanya lulus dari universitas Timur Tengah tetapi juga dari universitas di Eropa, Amerika, dan Australia. Pelan tapi pasti Universitas NU berdiri di berbagai kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Dengan kombinasi al-muhafazhah dan al-akhdzu, tidak mengherankan jika di era digital sekarang portal nu.or.id muncul sebagai website terbesar dan terbaik di lingkungan ormas Islam, bahkan dibandingkan dengan ormas agama non-Islam. Ketika Ulil Abshar Abdalla yang mengusung Islam liberal sudah mengaji Ihya Al-Ghazali secara online dan offline, para kiai sepuh bisa bernapas lega. Begitu pula ketika M Imam Aziz yang dianggap kiri sudah bandungan kitab Al-Jalalain, masa depan NU dilihat semakin optimistik. Ide boleh “liar” kemana saja, tetapi akhlak dan adab tetaplah dinomorsatukan, karena itulah inti risalah kenabian, menyempurnakan kemuliaan budi pekerti.  

Pertanyaan Kiai Wahid Mengapa saya memilih NU? itu diajukan sebelum Indonesia merdeka. Kini setelah kemerdekaan diraih, masa revolusi dilalui, dan berjalan di era reformasi, mengapa NU tetap penting? NU yang disangka jumud dan kolot oleh kaum intelektual zaman old, ternyata tampil sebagai organisasi zaman now dengan jumlah cendekiawan yang kian hari semakin banyak dalam beragam keahlian. Kajian keislaman NU lebih hidup dan kontekstual, sementara di tengah organisasi Islam lain yang mengklaim sebagai modernis malah cenderung men-jumud dan kolot.  

NU yang dulu dinilai tidak radikal/revolusioner justru berdiri paling depan ketika ada rongrongan terhadap ideologi negara NKRI. Banser jauh lebih sigap mengawal Pancasila dibandingkan organisasi pemuda yang memakai nama dasar negara itu. Walhasil, dengan penuh kesadaran kita akui bahwa hari ini, NU tetap penting dan relevan. 

Pentingnya NU itu bukan hanya bagi Nahdliyyin, tetapi dirasakan pula oleh warga non-NU dan non-Muslim. Lagu Syubbanul Wathon bergema tidak hanya di acara-acara NU, tapi kini kalangan gereja pun menyanyikannya dengan heroik, “Siapa datang mengancammu kan binasa di bawah dulimu.”

Menjelang seabad NU, rasanya tuturan Hadratussyeikh semakin relevan, "Siapa yang mengurus NU, aku anggap santriku. Siapa yang menjadi santriku, aku doakan husnul khotimah beserta keluarganya."


Penulis adalah Pemimpin Redaksi nujabar.or.id


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG