IMG-LOGO
Opini

Menulis Sejarah Secara Cermat

Kamis 8 Februari 2018 10:25 WIB
Bagikan:
Menulis Sejarah Secara Cermat
Abdul Mun'im DZ
Oleh Abdul Mun'im DZ

Belum lama ini KH Hairuman Nadjib (Gus Heru), cucu Kiai Wahab Chasbullah, Tambakberas menghubungi saya untuk mengonfirmasi kebenaran tulisan anonim yang menjelaskan tentang lahirnya lambang NU.

Beliau konfirmasi kepada saya karena tulisan itu berbeda dengan tulisan sejarah lambang NU yang saya tulis dalam buku Fragmen Sejarah NU. Dalam buku saya tersebut, penggagas lambang NU adalah KH Hasyim Asy'ari. Dari sumber KH Sholahuddin Azmi dari KH Mujib Ridwan dari KH Ridwan Abdullah.

Sementara dalam tulisan ini penggagasnya adalah Kiai Wahab. Dengan sumber Kiai Ridwan dan Kiai Mujib. Ini yang saya sarankan agar Gus Heru menyelidiki kesahihannya.

Di situ juga ada kekeliruan, bahwa pidato Bung Karno tentang kecintaan kepada NU itu bukan disampaikan dalam Muktamar NU di Purwokerto tahun 1946, melainkan disampaikan Bung Karno saat Muktamar NU di Solo tahun 1962.

Ketika masih dalam pengecekan tulisan itu, ternyata sudah menyebar di berbagai grup Whatsapp (WA) dan media sosial lainnya. Hal ini bisa menimbulkan khilaf berkepanjangan.

Sejarah adalah sumber informasi dalam mengambil sikap dan tindakan. Karena itu, para pimpinan NU dan penulis sejarah NU harus cermat dalam menulis. Sebab kita telah beberapa kali melakukan ketidakcermatan, di antaranya:

Pertama, saat NU menggunakan foto Haji Hasan Gipo, kemudian diprotes oleh keluarga karena foto tersebut ternyata foto Kiai Mas Manshur.

Kedua, NU memasang foto KH Cholil Bangkalan, ternyata itu bukan foto pendiri NU. Karena saat ini keluarga sedang mencari foto yang sesungguhnya.

Ketiga, gambar KH Hasyim Asy'ari yang muncul belakangan dengan serban hijau serta berjenggot.

Ternyata belum ada di antara sembilan kiai sepuh santri Mbah Hasyim yang menerima kebenaran gambar tersebut. Mereka semua menegaskan bahwa wajah Mbah Hasyim Asy'ari persis seperti gambar yang lama.

Mengingat terjadinya penyimpangan sejarah seperti itu, maka kembali kita dituntut untuk lebih cermat dalam menulis sejarah NU dan pesantren. Untuk menjaga integritas dan martabat organisasi.

Penulis adalah peminat sejarah NU.
Tags:
Bagikan:
Kamis 8 Februari 2018 9:0 WIB
Islam dan Pembebasan; Distribusi Zakat untuk Pengentasan Kemiskinan
Islam dan Pembebasan; Distribusi Zakat untuk Pengentasan Kemiskinan
Oleh Adetya Pramandira
Islam merupakan salah satu agama samawi yang ada di Indonesia dengan jumlah pemeluk terbanyak. Sebagai agama samawi, Islam tidak hanya membahas urusan manusia dengan Tuhannya, namun juga membahas urusan manusia dengan sesamanya.

Islam merupakan sebuah agama pembebasan, yang turun untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di dunia, dari ketidkadilan, perselisihan, hingga permasalahan kemiskinan. 

Tulisan ini tidak akan membicarakan semua dinamika Islam yang menjadi anutan terbesar masyarakat Indonesia. Akan tetapi bagaimana Islam sebagai agama pembebasan dapat mengentaskan persoalan kemiskinan yang ada di Indonesia, mengingat mayoritas penduduknya beragama Islam. 

Kaitannya dengan hal tersebut, zakat sebagai salah satu rukun Islam memainkan peran penting dalam pengentasan masalah kemiskinan. Hal ini dikarenakan alokasi dana zakat sebagian besar menjadi pembiayaan program penanggulangan kemiskinan. Hal tersebut dilatar belakangi oleh Al-Qur'an surah At-Taubah ayat 60.
 
Namun demikian, bentuk pendistribusian dana zakat belum jelas disebutkan dalam Al-Qur'an. Hal ini menjadikan munculnya ijtihad-ijtihad para ulama untuk menentukan dalam bentuk apa pendistribusian dana zakat. Seperti fatwa Imam Syafi'i, yang terkesan sedikit kaku apabila kita terapkan di Indonesia, mengingat kebutuhan manusia bermacam-macam dan tujuan adanya zakat itu sendiri.

Misalnya saja, pendistribusian zakat pertanian berupa beras, apabila didistribusikan dalam wujud beras juga maka ketika beras itu habis maka keadaan si penerima akan kembali seperti semula. Berbeda dengan apabila pendistribusian zakat berdasarkan kepada hal yang dibutuhkan dan dapat bermanfaat untuk jangkan panjang. 

Zakat
Pada umumnya zakat bermakna mengeluarkan sebuah harta tertentu untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya (mustahik) sesuai syarat-syarat yang di tentukan oleh syariat Islam. Secara terminologis zakat merupakan nama bagi ukuran yang dikeluarkan dati harta atau badan menurut peraturan yang akan datang. 

Mazhab Maliki, mendefinisikan zakat dengan mengeluarkan sebagian yang khusus yang telah mencapai nisab (batas kuantitas yang mewajibkan zakat) kepada orang yang berhak menerimanya. Dengan catatan, kepemilikan itu penuh dan mencapai hawl (setahun), bukan barang tambang dan juga bukan barang pertanian, (Wahbah Alzuhaili, 2008).

Menurut Yusuf Al-Qhardawi, seorang ulama fikih, menyatakan bahwa salah satu upaya mendasar untuk mengentaskan atau memperkecil persoalan kemiskinan adalah dengan cara mengoptimalkan pelaksanaan zakat. Hal ini dikarenakan zakat adalah sumber daya yang tidak akan pernah kering dan habis. Dengan kata lain selama umat Islam mempunyai kesadaran untuk berzakat dan selama dana zakat mampu dikelola dengan baik, maka dana zakat akan selalu ada serta bermanfaat untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat. 

Oleh karena itu, zakat memiliki peranan yang sangat strategis dalam upaya pengentasan kemiskinan atau pembangunan ekonomi. Dalam perkembangannya, para pemikir Islam banyak menerangkan terkait tujuan dan fungsi zakat, baik berhubungan dengan tatanan ekonomi, sosial dan kenegaraan yang ditinjau dari tujuan-tujuan Nash Al-Qur'an, yaitu, mengangkat derajat fakir dan miskin, menyucikan harta dan jiwa muzzaki, membantu menyelesaikan masalah para gharimin, ibnu sabil dan mustahik lainnya. 

Dalam pandangan Kiai Sahal, umat Islam sekarang membutuhkan fikih baru yang disusun berlandaskan epistemologi pengetahuan yang baru. Hal ini mengingat mazhab-mazhab fikih yang selama ini disusun berdasarkan sistem pengetahuan yang ada saat itu dan merupakan bagian dari interaksi antara Islam dan lokalitas histori tertentu yang dialami para fuqaha dengan berbagi faktor sosial, politik dan ekonomi. 

Begitu juga dengan pendistribusian dana zakat yang dianggap kaku untuk diterapkan di Indonesia, Kiai Sahal dengan konsep Fikih Sosial-nya menawarkan sebuah gagasan baru mengenai zakat untuk mengentaskan permasalahan kemiskinan yang tak kunjung usai. 

Zakat dipandang sebagai institusi untuk mencapai keadilan sosial, dalam arti sebagai mekanisme penekanan akumulasi modal sekelompok kecil masyarakat. Metode pengelolaan dana zakat yang dilakukan oleh Kiai Sahal, pertama kali yang dilakukan adalah menginventarisir atau menyensus ekonomi umat Islam. Cara ini untuk mengidentifikasi siapa diantara umat Islam yang mampu dan tidak, (Sumanto Al-Qurtuby, 2017).
 
Dana zakat yang diberikan kepada kaum fakir miskin adalah berdasarkan kepada kebutuhan dasar dan latar belakang penyebab kemiskinan tersebut. Tak hanya bantuan berupa dana, pelatihan ketrampilan dan juga pemberian motivasi juga di terpakan, hal tersebut dilakukan agar masyarakat fakir miskin  tak hanya berpangku tangan menuggu uluran bantuan dari orang lain. 

Seperti disebutkan di atas, bahwa pemberian zakat sesuai dengan kebutuhan dasar fakir miskin. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam buku Era Baru Fiqih Indonesia, Kiai Sahal menuturkan:

"Pernah suatu kali saya mencobanya terhadap seorang pengemudi becak di Kabupaten Pati, saya lihat dia tekun mangkal di pasar untuk bekerja sebagai tukang becak. Pada saat pembagian zakat tiba, saya zakati dia. Hasil zakat bulan Syawal itu berupa zakat mal, zakat fitrah, dan infaq. Semua saya kumpulkan dan sebagian saya belikan becak untuknya. Sebelumnya ia hanya mengemudikan becak milik orang non-pribumi, namun sekarang dia telah memiliki dua buah becak. Usahanya itu berkembang dan sehari-harinya ia tidak harus mengemudi becak dengan mengejar setoran. Dengan mengemudi becak sampai jam tiga sore, hasilnya sudah cukup untuk makan dan untuk menjaga kesehatan, setelah itu ia bisa kumpul mengikuti pengajian. Dengan cara ini, meskipun ia tidak menjadi kaya, tetapi jelas ada perubahannya." 

Penuturan Kiai Sahal di atas, sebagai gambaran bahwa dana zakat akan lebih berdayaguna apabila diberikan sesuai dengan kebutuhan. Pendistribusian dana zakat tidak harus didistribusikan sesuai dengan barang yang dizakati, namun didistribusikan sesuai kebutuhan yang diperlukan. Dengan demikian menjadi lebih tepat guna dan dapat mencapai maksud dari adanya zakat itu sendiri. 
*
Penulis adalah mahasiswa  UIN Walisongo Semarang, bergiat di PMII Rayon Syariah, Komisariat Walisongo Semarang dan LPM Justisia


Rabu 7 Februari 2018 22:0 WIB
Gus Dur dan Pluralisme Agama
Gus Dur dan Pluralisme Agama
Oleh: Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Bersama teman-teman Gusdurian Purworejo, Senin (5/2) kemarin saya menghadiri puncak peringatan sewindu haul Gus Dur di Universitas Sanata Dharma (USD), Yogyakarta. Disebut puncak karena semenjak awal Januari lalu lalu ada 4 negara, 66 kota dan 99 titik peringatan dengan beragam kegiatan keagamaan maupun kebudayaan. Dan yang di kampus USD ini, adalah puncaknya.

Ada beberapa hal menarik di acara itu. Pertama, adalah peringatannya yang tak monoton atau melulu tahlilan dan pengajian. Sebagaimana kita ketahui bersama, tradisi haul merupakan tradisi-keagamaan NU untuk memperingati jasa, peran dan keteladanan tokoh tertentu. Haul biasanya diadakan setahun sekali, dengan pembacaan doa (tahlilan, yasinan) dan pengajian umum. Namun, agak berbeda untuk haul Gus Dur, sang Guru Bangsa.

Dan haul Gus Dur kali ini sedikit berbeda, tak hanya tahlil kebangsan dan pengajian seperti pada haul-haul pada umumnya. Ada pentas kesenian, bernyanyi, stand up comedy, doa lintas agama, pameran foto dan lukisan.  Di Purworejo sendiri, beberapa waktu lalu, selain dengan doa, peringatan sewindu Gus Dur diadakan dengan pameran lukisan, pentas musik akustik, pembacaan puisi dan talkshow kebangsaan yang membedah sosok Gus Dur. Ini tak lepas dari sosok Gus Dur yang juga dianggap sebagai budayawan.

Kedua, adalah tempat penyelenggaraan. Tempat penyelenggaraan puncak acara haul Gus Dur bertajuk “Ziarah Budaya: Menjadi Gus Dur, Menjadi Indonesia” ini pun  sangat unik dan diluar kebiasaan: Universitas Sanata Dharma, sebuah kampus yang dikenal milik “Yayasan Katholik”. Ini menunjukkan, betapa Islam yang diterjemahkan Gus Dur dapat diterima oleh agama lain, tanpa saling mencampuradukkan. 

Tak heran jika USD menerima teman-teman Gusdurian yang menginisiasi acara, oleh karena di USD pun toleransi berkembang cukup baik. Misalnya, yang saya lihat dan gunakan sendiri, adalah adanya mushalla di sana. Meskipun kecil, namun adanya mushala di “Kampus Khatolik” ini adalah bukti nyata toleransi telah mengakar kuat di Indonesia.

Ketiga, adanya kolaborasi pemuda-pemudi Paduan Suara GKI Gejayan dengan Seni Hadrah para santri yang menampilkan Syi’ir Tanpo Waton. Betapa, dua hal yang selama ini dianggap kontras, bisa bersatu mendendangkan syair dengan apik dan kompak. Ini membuktikan bahwa perbedaan bukanlah hal yang melemahkan, justru perbedaanlah yang dapat menjadi kekuatan dan bahkan keindahan, jika disatukan dalam konteks kebangsaan.

Ketiga hal itu, saya kira, cukup mewakili sedikit dari nilai-nilai yang telah Gus Dur ajarkan. Perbedaan tak menjadikan satu sama lain bertengkar dan menebar kebencian. Toleransi yang Gus Dur ajarkan adalah nilai-nilai s yang menempatkan agama sebagai pilihan dan pegangan hidup, sekaligus paham universalita yang dapat membela kemanusian yang Nabi Muhammad ajarkan, yaitu mengayomi dan mengasihi semua umat manusia, apapun suku dan agamanya. Dalam term lain disebut sebagai rahmatan lil alamin.

Pluralisme Ala Gus Dur
Mengapa umat non-muslim di Indonesia begitu terbuka dengan umat Islam? Salah satu sebabnya, menurut saya, adalah peran dari Gus Dur. Sebagai seorang tokoh pluralisme, Gus Dur banyak bergaul dengan berbagai tokoh lintas agama, budaya, aktivis, etnis dan golongan. Dalam terminologi politik, Gus Dur mengakrabi dari yang paling kiri sampai paling kanan. Wajarlah kalau tindak-tanduknya sering disalah artikan, seperti soal Pluralisme, misalnya. Banyak yang gagal-faham.

Dalam puncak acara malam itu, Prof Mahfud MD yang di daulat sebagai pembicara menyampaikan pluralisme Gus Dur. Soal pluralisme, kata Mahfud, diibaratkan Gus Dur sebagai tinggal di rumah besar yang memiliki banyak kamar.

Gus Dur mengibaratkan setiap kamar dihuni oleh pemeluk masing-masing agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia. Di kamar itu, tutur Mahfud, setiap orang bebas bertindak sesuai aturan kamar masing-masing. Namun, begitu keluar dari kamar dan berkumpul di ruang keluarga, semua harus tunduk pada kesepakatan bersama.

“Indonesia adalah ruang besar itu, yang telah dibentuk oleh pendahulu bangsa dengan kebesaran hati. Indonesia tidak bisa diubah tata kehidupannya dengan aturan dari satu kamar saja. Ada kamar Islam, kamar Hindu, kamar Katolik, kamar Kejawen, biarkan saja. Tetapi ketika kita ketemu di lapangan perjuangan, politik, kenegaraan bernama Indonesia, kita harus bersama. Itulah yang disebut Gus Dur sebagai pluralisme,” kata Mahfud, disambut tepuk tangan hadirin.

Kita bisa menangkap, bahwa dalam hal doktrin dan internal umat bergama, kita meyakini dan mengamalkan ajaran agama masing-masing. Namun, begitu keluar dalam bingkai Indonesia dengan beraneka warna, suku, budaya dan agama, kita mesti saling menghargai dan mendekatkan persamaan-persamaan yang ada. Misalnya, persamaan bahwa semua agama mengutuk korupsi, mencintai lingkungan hidup, menolak kekerasan dll. Ruang keluarga dalam gambaran Gus Dur itu, adalah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Demikianlah, banyak sekali warisan Gus Dur yang ditinggalkan kepada kita semua, khususnya para generasi muda.  Baik perupa tulisan, ucapan maupun perilaku yang kian hari kian dibutuhkan ditengah maraknya intoleransi dan ujaran kebencian. Upaya Mbak Alissa Wahid dengan Gusduriannya untuk terus menebar paham keberislaman yang diajarkan Gus Dur layak diacungi jempol. Jika virus itu menular pada generasi muda, persatuan dan kerukunan di Indonesia tentu takkan menjadi masalah lagi. Di masa depan, Indonesia siap memetik bonus demografi dengan karya dan pembangunan yang kongkret untuk membangun negeri.


Jurnalis NU Online.
Rabu 7 Februari 2018 15:1 WIB
Menengok Masa Depan Manuskrip Nusantara
Menengok Masa Depan Manuskrip Nusantara
Oleh Fathurrochman Karyadi

Seorang jurnalis sekaligus reporter sepak bola di sebuah kantor berita pernah meminjamkan penulis sebuah buku berjudul Indonesian Manuscripts in Great Britain. Penulis agak heran, apa hubungannya dunia jurnalistik olahraga dengan katalog naskah kuno. Ia bercerita, leluhurnya memiliki beberapa manuskrip di kampungnya, Solo, Jawa Tengah, dan ia sendiri kuliah di UI mengkaji naskah-naskah Jawa. Setelah lulus S1 ia lebih menekuni hobinya di bidang olahraga dan fotografi. Hingga akhirnya berkarier di dunia jurnalistik. 

Penulis yakin, tak hanya dia yang memiliki perjalanan seperti itu. Banyak di antara kita yang sebenarnya memiliki keterkaitan dengan cagar budaya bangsa Indonesia—dalam hal ini manuskrip kuno—namun tidak fokus pada “warisan” tersebut. Tentunya banyak hal yang melatarbelakangi. Dalam hal ini pula kita tidak pantas untuk men-judge siapa yang benardan siapa yang salah. Yang terpenting ialah melestarikannya untuk kejayaan bersama.

Baru-baru ini, di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI diluncurkan “Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia” (Dreamsea). Program ini akan memprioritaskan digitalisasi manuskrip yang terancam punah khususnya di daerah Asia Tenggara. Dalam pelaksanaannya, Dreamsea dinakhodai oleh dua filolog, Prof. Dr. Jan van der Putten, Centre for the Study of Manuscript Cultures (CSMC), University of Hamburg; dan Prof. Dr. Oman Fathurahman, Pusat Pengkajian Islam danMasyarakat (PPIM), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 

Kita patut berbangga karena hal ini akan sangat membantu terutama dalam hal  alih media digital, atau digitalisasi; dan juga pengembangan open access database of Southeast Asian manuscripts. Dengan adanya digitalsasi, kita tak perlu lagi khawatir jika fisik naskah rusak atau bahkan hilang sebab teks sudah abadi dalam rekam teknologi. Sedangkan untuk database sangat dibutuhkan untuk para peneliti apalagi jika disajikan dalam sebuah portal yang terintegrasi dan diproyeksikan menghimpun keragaman manuskrip Asia Tenggara.

Pada 28 Januari 2018, bersama Handoko F Zainsam dan Muhammad Daud Bengkulah, penulis juga meluncurkan WARNA Nusantara (Warisan Naskah Nusantara). Lembaga ini dibuka dengan acara kajian naskah Syaikh Abdul Shamad al-Falimbani (1737-1839) dan dihadiri oleh para peminat kajian naskah, pemikiran Islam, dan kenusantaraan. Ke depan, kami juga akan menerbitkan jurnal dan buku, mengadakan penelusuran manuskrip, serta mendirikan pendidikan dan museum. Tentunya, rencana  luhur ini butuh dukungan dari berbagai pihak. 

26.000 Manuskrip Kita
Melalui Memory of the World (MOW), UNESCO telah mendaftarkan beberapa manuskrip sebagai kekayaan tak benda milik dunia yang berasal dari Indonesia. Keempat manuskrip itu ialah Nāgarakěrtāgama, I La Galigo, Babad Diponegoro, dan Panji Tales. 

Sri Sulasih pernah menyebutkan bahwa jumlah manuskrip kuno Indonesia di luar negeri mencapai angka 26.000. Itu belum ditambah dokumen bersejarah lain yang ada di Inggris, Malaysia, dan negara-negara lain. Perpusnas hanya memiliki 10.300 manuskrip kuno. Maka bisa dikatakan, dokumen penting yang berada di Leiden Belanda 2,5 kali lipat lebih banyak daripada di Indonesia.

Bahkan, Peter BR Carey, sejarawan asal Inggris yang juga Profesor Emeritus Oxford University, mengatakan bahwa banyak naskah kuno yang memuat sejarah Indonesia masih tersebar di berbagai negara. Jumlahnya bisa mencapai ribuan, dan tersimpan di berbagai museum di dunia. Di Inggris saja, diperkirakan terdapat 500-600 jenis naskah kuno yang tersebar di sejumlah kota, antara lain di London, Manchester, dan Oxford.

Kabar baiknya, meski manuskrip kita banyak di luar negeri, Perpusnas di bawah kendali Syarif Bando sudah mengambil langkah. Ia menuturkan, Leiden pernah memberikan duplikat naskah sebanyak 20.000 kopi ke Indonesia. Tapi setelah diseleksi, hanya butuh 4.000 kopi karena 16.000 sisanya sudah ada di Perpusnas. Kini, Perpusnas sudah punya kurang lebih 4.300-an naskah bentuk digital. Duplikat naskah manuskripnya 11.409 judul naskah, dan microfilm dalam berbagai tema sebanyak 4.329 naskah.  

Ia menjelaskan bahwa naskah itu jenisnya ada dua, yakni microfilm yang sudah di-scan, dimasukkan microfilm dan dibaca dengan microreader. Juga ada naskah kuno yang total 14.300 naskah. Sebanyak 10.300 naskah sudah dimiliki Perpusnas sejak awal, sedangkan 4.000 naskah dari Leiden. Dibandingkan yang ada di Leiden sebanyak 26.000, Perpusnas sudah punya separuhnya.
Dalam wawancaranya di tirto.id, pria asal Sulawesi Selatan ini mengatakan, “Semua guru besar dan peneliti di Indonesia mengatakan, data di Perpusnas lengkap. Kita harus menghilangkan mitos kalau naskah kuno Indonesia di Belanda lebih lengkap sehingga kita harus belajar ke sana. Untuk menghindari biaya yang besar belajar di sana, cukup di Perpusnas saja dan tidak perlu ke Belanda. Jadi ke depan, berapa pun naskah kuno yang kami miliki, hal penting yang dibutuhkan masyarakat adalah subjek bahasanya”.

Tantangan ke Depan
Sampai hari ini, kita masih mendengar adanya oknum jual beli naskah kepada pihak asing. Juga raibnya beberapa naskah di sejumlah museum seperti di Solo. Serta minimnya “gereget” generasi muda untuk mengkaji dan mengembalikan khazanah intelektual bangsa, hal ini ditandai dengan jurusan pernaskahan yang sepi peminat.

Pemerintah sudah selayaknya menggelontorkan beasiswa kepada para mahasiswa yang konsen megkaji ilmu pernaskahan, filologi, kodikologi, dan ilmu-ilmu terkait lainnya. Selain itu, juga memberikan apresiasi tinggi kepada mereka yang merawat cagar budaya bangsa, baik perseorangan, maupun lembaga, dan komunitas, sebagaimana amanat UUD 1945, pasal 32 ayat 1.

Jika hal ini tak diperhatikan, maka dikhawatirkan negeri ini akan kehilangan jatidirinya sendiri. Jangan sampai manuskrip Nusantara yang menjadi bukti otentik sejarah, kekayaan alam, batas wilayah, falsafah hidup, hukum adat, dan buah pikir para leluhur justru dimiliki negeri lain atau mati suri karena tak pernah dikaji.


Penulis adalah mahasiswa magister filologi di SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan bergiat di WARNA (Warisan Naskah) Nusantara, Jagakarsa. Email atunk.oman@gmail.com

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG