IMG-LOGO
Internasional

Berpakaian Khas Santri, Kader NU Ini Raih Doktor Terbaik di Maroko

Kamis 8 Februari 2018 13:37 WIB
Bagikan:
Berpakaian Khas Santri, Kader NU Ini Raih Doktor Terbaik di Maroko
Nasrulloh Afandi bersama para profesor penguji.
Indramayu, NU Online
Prestasi menggembirakan kembali diraih oleh kader NU, Nasrulloh Afandi, kiai muda NU asal Indramayu, Jawa Barat itu berhasil meraih Doktor dengan predikat tertinggi, summa cumlaude atau musarrif jiddan (sangat terhormat dengan banyak pujian), Rabu (7/2) di Fakultas Syariah Universitas al-Qurawiyin Maroko.

Dalam disertasinya berjudul al-fikrul al-almaqosidi wa atsaruhu fifatawa majami' al-fiqhiyah al-mu'ashiroh (Pemikiran Maqashid Syariah dan pengaruhnya terhadap fatwa, lembaga-lembaga fatwa modern), pimpinan Pesantren asy-Syafi'iyyah Kedungwungu Krangkeng, Indramayu menawarkan berbagai solusi fleksibelitas dan moderatisme hukum Islam di tengah beragamnya problematika masyarakat modern.

Di konteks fatwa ekonomi, Gus Nasrul, panggilan akrabnya memaparkan secara detail, unsur-unsur maqashid syariah.
Dari mulai lembaga fatwa di Eropa yang memperbolehkan Muslim yang tinggal di negara muslim minoritas, bertransaksi ekonomi kredit rumah dengan transaksi unsur riba, juga analisa unsur-unsur maqashid syariah dari fatwa di negara Muslim minoritas, muslim boleh bekerja di lembaga asuransi yang menurut tinjauan fiqih adalah haram.

Dalam konteks keluarga, Gus Nasrul juga berhasil menganalisa unsur-unsur maqashid syariah secara detail. Atas fatwa, dari kasus sepasang suami Istri non-Muslim di negara-negara Muslim minoritas. Yang mendadak istrinya masuk Islam dan suaminya tetap non-Muslim.

"Dalam tinjauan Maqashid syariah, tidak jatuh talak/cerai. Padahal dalam tinjauan fiqih, kasus tersebut menyebabkan langsung jatuh talak,” tutur pria yang juga menantu KH Makmun, Pengasuh Pesantren Balekambang, Jepara itu.

Dalam konteks kedokteran, Gus Nasrul juga berhasil menjabarkan unsur-unsur maqashid syariah secara mendalam, dari fatwa yang memperbolehkan bedah jenazah untuk ambil organ tubuh, bagi orang yang mash hidup.

Hal itu boleh demi menyelamatkan jiwa orang yang masih hidup. "Padahal hal itu dilarang dalam hukum fiqih. Namun karena adanya kemaslahatan, dalam tinjauan maqashid syariah hal itu diperbolehkan,” tuturnya.

Sidang dilaksanakan dengan empat orang Profesor penguji. Para penguji menyepakati, melalui disertasi ini, Nasrulloh Afandi dengan menggunakan analisis maqashid syariah, ia berusaha memberi solusi kebuntuan hukum Islam (fiqih) di tengah semakin kompleksnya berbagai problematika kehidupan masyarakat modern.

"lni merupakan karya ilmiah yang sangat perlu untuk dibaca oleh para mufti dan mujtahid modern untuk menjawab persoalan umat sesuai perkembangan zaman dengan berbagai permasalahan hukum Islam, yang sangat butuh solusi, meski disertasi ini masih perlu adanya pembenahan,” ucap salah seorang profesor penguji.

Yang unik, dalam sidang tersebut, Gus Nasrul mengenakan pakaian khas Indonesia, baju batik, sarung, dan peci hitam serta sandal jepit. Namun, karena cuaca puncak musim dingin, ia tampak mengenakan kaos kaki. Universitas al-Qurawiyin, adalah universitas tertua didunia yang didirikan pada tahun 859. (Akfas/Fathoni)
Bagikan:
Rabu 7 Februari 2018 7:0 WIB
HARLAH KE-92 NU
Ulama Suriah Puji Pendidikan Pesantren di Indonesia
Ulama Suriah Puji Pendidikan Pesantren di Indonesia
Damaskus, NU Online
Memperingati harlah NU ke-92, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Suriah bekerjasama dengan KBRI Damaskus menggelar talkshow dan khataman serta ijazahan kitab Arba'in an-Nawawiyah denga Syekh Abdurrazaq al-Najm al-Hasani di Aula KBRI Damaskus, Ahad (4/2).

Acara yang mengambil tema Pesantren di Mata Dunia dihadiri oleh Kuasa Usaha KBRI, Priyanto Mawardi; staf KBRI Damaskus; mahasiswa, dan Nahdliyin yang berdomisili di Damaskus ini berlangsung dengan khidmat. Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Maulid Diba'i bersama, dan dilanjutkan dengan acara inti yaitu, talkshow menghadirkan Syeikh Abdurrazaq al-Najm yang baru saja selesai melakukan lawatan ilmiah di Indonesia sekitar sebulan yang lalu.

Talkshow ini sengaja digelar untuk melihat bagaimana pandangan ulama dunia terhadap pondok pesantren yang merupakan ciri khas pendidikan Islam di Indonesia. Diharapkan dari talkshow ini, para mahasiswa yang mayoritas merupakan jebolan berbagai pesantren di tanah air dapat lebih menyempurnakan sistem pendidikan di pondok pesantren yang selama ini terbukti mampu menciptakan kader-kader ulama yang mumpuni, moderat dan mampu mengiringi perjalanan bangsa ketika kembali ke tanah air nanti.

Pemilihan Syekh Abdurrazaq al-Najm al-Hasani bukanlah hal yang tanpa sebab. Pada pertengahan Desember sampai pertengahan Januari kemarin, atas prakarsa wakil Mustasyar dan Rais Syuriyah PCINU Suriah, ulama kelahiran 1979 ini menjadi pengisi program diklat di Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin, Gresik, Jawa Timur, yang berada di bawah asuhan KH Masbuhin Faqih.

Syekh Abdur Razaq menyampaikan kekaguman atas antusiasme para santri dalam menuntut ilmu agama. Pondok pesantren cukup mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Hal itu terlihat dari jumlah santri di banyak pondok pesantren bisa mencapai puluhan ribu orang.

Di samping itu, ia juga kagum atas upaya santri dalam mempelajari bahasa Arab dan tetap manjadikan kitab Alfiyah Ibnu Malik sebagai kitab pegangan dalam nahwu dan sharaf. Padahal kitab tersebut sudah jarang dipakai para akademisi di dunia Arab, bahkan di jurusan Sastra Arab sekalipun.

"Saya sampai melongo mendengar para santri melantunkan bait-bait Alfiyah Ibnu Malik dalam halaqah-halaqah kecil dengan nada yang tidak pernah saya dengar selama hidup saya," katanya dengan nada takjub.

Tetapi di sisi lain, ia menyampaikan beberapa catatan penting yang harus segera dilaksanakan agar sistem pengajaran pondok pesantren yang sudah sangat baik ini menjadi lebih sempurna.

"Ada 5 disiplin ilmu yang harus digenjot di dunia pesantren, yaitu Mushtalah Hadits, Ushul Fiqh, Mantiq, Ilmu Aqidah dan Ilmu qira'ah (Al-Qur'an) yang bersanad," ujarnya.

"Ilmu Mushthalah Hadits saya kira menduduki posisi pertama karena kemarin saya melihat banyak hadits maudhu' dikutip bukan hanya oleh para santri tetapi juga oleh sebagian para ustadz pondok pesantren. Ini hal yag sangat berbahaya. Disusul dengan ilmu Ushul Fiqh agar Fiqh yang kita pelajari tidak mati dan terus bisa menjawab segala tuntutan zaman. Kemudian Ilmu Ushul Aqa'id dan Ilmu Kalam," paparnya.

Ia mengapresiasi, kitab Jawhar al-Tawhid masih menjadi kitab pegangan di Indonesia. Hanya saja pemahaman harus diperdalam dan diperluas dengan merujuk berbagai syarah kitab tersebut.

"Kemudian ilmu Manthiq juga harus diperdalam lagi agar setiap santri mampu berfikir logis dan mampu menyampaikan ilmu yang dia pelajari kepada umat secara rasional. Yang terakhir adalah ilmu qira'at. Saya melihat banyak pondok pesantren salaf kurang memperhatikan hal ini. Padahal hal ini sangat penting karena kita bukan hanya diperintahkan untuk mempelajari kandungannya tapi juga bagaimana cara membacanya agar sesuai dengan bacaan ketika Alquran itu turun kepada Rasulullah SAW," tegasnya. 

Menurutnya solusi yang paling tepat adalah mengadakan diklat-diklat khusus untuk kelima disiplin ilmu di atas seperti yang dilakukan di masjid-masjid Damaskus. Dan hal ini harus di dukung oleh semua pihak baik dari kepemerintahan, lembaga-lembaga keagamaan dan masyarakat pada umumnya.

Ia optimis jika kelima disiplin ilmu tersebut terus digenjot, dalam kurun waktu 10-15 tahun mendatang Indonesia sudah tidak butuh lagi ulama-ulama dari luar. Bahkan Indonesia sudah menjadi pengekspor ulama ke seluruh dunia.

"Orang indonesia itu sangat fanatik sekali terhadap Madzhab Syafii. Mereka mempelajari dan mengamalkan hampir semua kitab-kitab fiqh dalam madzhab syafii, bahkan detil-detil madzhab Syafi'I pun mereka tahu. Ini juga yang membuat saya kagum dengan ulama-ulama Indonesia," ujarnya sambil tersenyum.

Seperti diketahui, Syeikh Abdur Razaq al-Najm sendiri pengikut mazhab Hanafi. Walaupun demikian, ia banyak berguru kepada ulama-ulama mazhab Syafi'I. Bahkan banyak mentahqiq kitab-kitab fiqh mazhab Syaf'I seperti Mughni al-Muhtaj, I'anah al-Thalibin dan lainnya. Tidak heran jika ia cukup mumpuni dalam dalam mazhab Syafi'i. Hal demikian bukanlah sesuatu yang aneh dalam dunia keilmuan di negeri bilad syam (Suriah).

Dan Acara talkshow ini ditutup dengan pembacaan kitab Arbain an-Anawiyah, sekaligus ijazah mata rantai sanad para ulama mazhab Syafi'I di Damaskus yang bersambung dengan Imam Nawawi. (Muhammad Ahsin Mahrus/Kendi Setiawan)
Selasa 6 Februari 2018 5:26 WIB
Syekh Abdul Rozak al-Najm Terkesan Berdakwah di Indonesia
Syekh Abdul Rozak al-Najm Terkesan Berdakwah di Indonesia
Damaskus, NU Online 
KBRI Damaskus bekerja sama dengan Pengurus Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama cabang Damaskus, Suriah menyelenggarakan acara Talk Show “Kesan-kesan Safari Da’wah Syekh Abdul Razak al-Najm di Indonesia di Aula KBRI Damaskus, Ahad (4/2) sore waktu setempat.

Syekh Abdul Razak Al-Najm adalah Koordinator Pendidikan Keagamaan pada Masjid Besar Bani Omayya (Jami’ Omawi) Damaskus yang telah melakukan kunjungan ke Indonesia sejak 19 Desember 2017 hingga 12 Januari 2018.

Salah satu kegiatannya adalah memberikan pendidikan dan pelatihan (diklat) ilmu-ilmu agama yang dipusatkan di Pondok Pesantren Mamba’us Sholihin, Gresik, Jawa Timur dan sejumlah pesantren di Jawa Timur serta di Gedung PBNU di Jakarta  

Mewakili Duta Besar RI, Kepala Kanselerai, Priyanto Mawardi, dalam sambutan pembukaan Talk Show tersebut menyampaikan terima kasih kepada Syekh Abdul Razak al-Najm atas Diklat Ilmu-ilmu Keagamaan dan ijazah (sertifikat) yang diberikan di Jawa Timur dan pesantren-pesantren sekitarnya, serta di PBNU Jakarta. 

“Suriah, khususnya Damaskus, sampai saat ini masih merupakan pusat ilmu pengetahuan di segala bidang, khususnya di bidang ilmu-ilmu agama sehingga banyak sekali pakar-pakar ilmu di bidangnya masing-masing, seperti pakar hadits, tafsir, dan fikih di Damaskus ini,” tegas Kepala Kanselerai.

Syekh al-Najm menyampaikan kekaguman atas antusiasme para santri yang sungguh-sungguh dalam mengikuti setiap pelajaran. 

Hal ini, menurut dia, berkontribusi langsung dalam meningkatkan SDM yang andal sehingga para siswa-siswi yang telah mendapatkan ijazah (sertifikat) disiplin ilmu-ilmu agama Islam seperti ilmu hadits dan ilmu fiqih pada akhir diklat, dapat selanjutnya memberikan manfaat dengan menyebarkan ilmu-ilmu yang telah dipelajari kepada murid-murid lainnya juga memberikan ijazah.

“Diklat ilmu-ilmu hadits sangat penting dilakukan untuk dapat membedakan mana hadits-hadits yang dapat diterima dan mana hadits yang ditolak, sehingga para peserta dapat menyeleksi hadits-hadits tersebut dan mengamalkannya secara baik,“ jelas Syekh al-Najm.

Diklat-diklat yang dibimbing oleh para ulama Suriah dinilai cukup efektif dan lebih membuahkan hasil dalam memberikan penyuluhan keagamaan yang murni dan rahmatan lil’alamin di Tanah Air. 

Oleh karena itu, KBRI mendorong sepenuhnya diselenggarakan diklat-diklat ilmu-ilmu agama yang diberikan oleh ulama Suriah guna memberikan pencerahan agama Islam yang moderat dan wasathiyah kepada masyarakat Indonesia terutama para santri dan pelajarnya. 

Hadir dalam acara Talk Show tersebut, seluruh staf KBRI, pengurus PCI Nahdatul Ulama dan para pelajar serta masyarakat Indonesia lainnya di Damaskus. (Red: Abdullah Alawi)

Sabtu 3 Februari 2018 15:24 WIB
Menpora Akan Kembangkan Program Pemuda Magang Hingga ke Amerika
Menpora Akan Kembangkan Program Pemuda Magang Hingga ke Amerika
Menpora bersama Simon D.I.Soekarno

Los Angeles, NU Online

Di sela-sela menghadiri Economic and Social Council (ECOSOC) Youth Forum 2018 di New York, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi melanjutkan kunjungan kerjanya ke Los Angeles untuk hadir dalam Dialog Kebangsaan yang digelar oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia Los Angeles, Kamis (1/2) malam.

Dalam dialog yang berlangsung hangat dan dihadiri mahasiswa, pelajar dan warga Indonesia di Los Angeles, Menpora juga sampaikan keinginannya untuk mengembangkan program-program unggulan yang ada di kementeriannya.

“Saat ini, kami punya Program Pertukaran Pemuda Antar Negara ke sejumlah negara untuk belajar berbagai hal terkait pendidikan, seni, budaya dan sebagainya,'' ujar Menpora.

Selain itu, lanjut dia, ada pula Program Pemuda Magang Luar Negeri dimana tahun 2017 lalu, Kemenpora mengirimkan 156 pemuda untuk bekerja magang di sejumlah perusahaan di Eropa.

“Saya ingin melebarkan sayap ke Amerika, sehingga ke depan program magang ini bisa diperluas. Pemuda Indonesia lainnya harus bisa sukses pula seperti pemuda Indonesia yang ada di sini. Tidak ada yang tidak mungkin jika kita punya kemauan,’’ tutup Menpora.

Tampak hadir mendampingi Menpora dalam dialog kebangsaan ini, Konsul Jenderal RI di Los Angeles, Simon D.I.Soekarno dan Livi Zheng, sutradara muda Indonesia yang berkiprah di Amerika, yang dalam beberapa kesempatan kerap diminta untuk menjadi Duta Pemuda Kemenpora. (Red-Zunus) 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG